Wednesday, May 25, 2011

UTUSAN DAMAI DI KEMELUT PERANG



Judul : Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang Toba
Pengarang : Uli Kozok
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor, Jakarta
Tahun : 2010, Desember
Tebal : 210 hal

Agama yang dianut oleh suatu suku bangsa berkaitan erat dengan sejarah bangsa tersebut. Suku Batak misalnya, sebagian besar beragama Kristen Protestan, sedangkan suku Minang dan Aceh beragama Islam. Bagaimana bisa demikian, padahal ketiganya berdekatan?
Buku ini tidak saja menguraikan sejarah penyebaran agama Kristen di Sumatera Utara oleh Misi Protestan Jerman pada tahun 1860 – 1897, namun juga ideologi yang mendasari misi tersebut dan hubungan antara zending dengan pemerintah kolonial, yang saling mendukung satu sama lain.
Jerman tidak memiliki jajahan di wilayah Nusantara, namun mengirim misionaris ke wilayah tersebut. Mengapa?
Setelah Perang Padri berakhir pada 1837, Belanda memperluas wilayahnya ke Barus, Tapus dan Singkil, namun belum sampai ke Tanah Batak. Meskipun demikian, Belanda ingin mengetahui kondisi di wilayah tersebut, sehingga dikirimlah F.W. Junghuhn untuk melakuka penelitian pada tahun 1840. Junghuhn – seorang pemikir bebas yang anti Kristen – menyarankan agar dilakukan penginjilan seperlunya di Tanah Batak, antara lain untuk mencegah mereka menjadi Islam, dengan harapan apabila mereka memiliki agama yang sama tidak akan melawan pemerintah kolonial. Selanjutnya lembaga alkitab Belanda (NBG) mengirim Van der Tuuk – seorang ateis - untuk menerjemahkan alkitab dalam bahasa Toba pada tahun 1851, dilanjutkan dengan penginjilan oleh H.W. Witteveen pada tahun 1859.
Penginjilan oleh misionaris Jerman yaitu Rheinische Missiongesellschaft (RMG) dimulai sesudah sembilan misionarisnya terbunuh dalam Perang Banjar. Direktur RMG yang berkunjung ke Amsterdam untuk menjajaki pemindahan misionarisnya dari Kalimantan tertarik untuk bekerja sama setelah melihat terjemahan injil Van der Tuuk di kantor NBG. Demikianlah, maka pada bulan Oktober 1861 dikirim tiga misionaris dari RMG ke Bunga Bondar, Sipirok dan Pangaloan, menyusul tiga misionaris Belanda yang telah ada sebelumnya. Setelah ini Nommensen, misionaris paling berhasil yang dianggap pendiri HKBP, turut bergabung.

Penulis buku ini berusaha mengungkapkan, bahwa tujuan dan aktivitas zending ini tidak sungguh-sungguh mulia atau sejalan dengan perjuangan bangsa. Untuk itu diuraikan ideologi yang mendasari RMG (dan Eropa pada umumnya) pada waktu itu terhadap bangsa kulit berwarna, yaitu rasisme dan nasionalisme, yang menganggap semua bangsa non kulit putih primitif, malas, kafir dan lebih rendah sehingga harus dikuasai dan dididik oleh bangsa kulit putih yang lebih unggul dalam segalanya melalui penginjilan dan kolonialisme. Yang menarik, laporan dari peneliti Belanda menyebutkan bahwa bangsa Batak lebih mirip bangsa Eropa dibandingkan bangsa Melayu lainnya. Meskipun demikian, karena mereka menganggap semua yang dimiliki pribumi primitif, maka kebudayaan asli berusaha dilenyapkan, sehingga tarian atau alat musik tradisional Batak pun dilarang. Sebagaimana kita ketahui, hal ini terjadi di seluruh dunia terhadap semua suku bangsa yang mendapat penginjilan.

Perjuangan Singamangaraja untuk mempertahankan kemerdekaan Tanah Batak juga tidak sejalan dengan aktivitas zending yang ternyata mendukung penaklukan Belanda atas wilayah Toba pada tahun 1878.
Untuk mendukung pernyataan di atas, penulis meneliti surat-surat asli para misionaris yang berasal dari laporan rutin mereka kepada RMG, termasuk surat Nommensen pada saat terjadi Perang Toba. Pihak zending pada umumnya merasa lebih aman apabila melakukan misi di daerah yang telah dikuasai atau ditaklukkan oleh pemerintah kolonial, sehingga mereka sering menyarankan pemerintah untuk segera menguasai daerah-daerah tersebut. Dalam perang Toba bahkan mereka berperan sebagai penghubung kedua belah pihak, antara lain mendekati pihak pribumi agar tunduk kepada Belanda apabila ingin selamat dan tidak mencegah Belanda untuk melakukan pembakaran atas kampung-kampung yang melawan penaklukan.
Uraian penulis mungkin kurang menyenangkan untuk diterima bagi mereka yang selama ini menganggap zending dan para misionaris hanya memiliki kebaikan semata, sehingga penulis sejarah lainnya tidak menyinggung keterlibatan zending sebagai partner pemerintah kolonial. Oleh karena itu buku ini juga merupakan kritik terhadap buku mengenai perjuangan Singamangaraja, misalnya, yang tidak menyebut peran zending dalam membantu penaklukan wilayah Toba. Meskipun demikian penulis juga mengakui bahwa berkat zending, yang banyak mendirikan sekolah di Tanah Batak dan juga pemerintah kolonial yang membangun infrastruktur, maka suku Batak mendapatkan pendidikan dan kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dari rekan sebangsanya di Jawa.

Membaca buku ini akan menambah pengetahuan kita tentang sebagian sejarah Sumatera Utara yang cukup menarik, yang diuraikan dengan ringkas dan jelas, antara lain disertai dengan terjemahan beberapa surat para misionaris saat perang Toba.
Penulis buku ini, Profesor Uli Kozok adalah ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawaii.



Wednesday, March 16, 2011

AYAH ANAK BEDA WARNA



Judul : Ayah Anak Beda Warna - Anak Toraja Kota Menggugat
Pengarang : Tino Saroengalo
Penerbit : Tembi Rumah Budaya, Yogya
Tahun : 2010, cet. II
Tebal : 319 hal

Haruskah tradisi terus dipertahankan jika hal itu tidak sesuai lagi dengan zaman, atau membebani generasi penerus tradisi tersebut? Tradisi atau adat apakah yang perlu untuk dipertahankan? Apakah gotong royong benar-benar ada, ataukah itu hanya tindakan yang bersifat timbal balik (reciprocal) murni yang penuh perhitungan?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kisah pribadi Saroengalo yang “dipaksa” meneruskan adat Toraja.
Menjadi keturunan bangsawan terkemuka Toraja ternyata menyandang beban harus mengikuti keluarga besar, yang menetapkan aturan yang harus diikuti dalam memakamkan orang yang mereka hormati, yaitu upacara pemakaman yang layak sesuai adat.
Hal ini dimulai dengani serangkaian rapat persiapan pemakaman yang memakan biaya cukup besar, pembuatan lantang atau rumah sementara untuk persiapan upacara, penyembelihan 32 kerbau, beberapa babi, dan pembuatan tau-tau atau patung kayu orang yang dimakamkan. Menurut kepercayaan Aluk Todolo, kerbau diperlukan oleh orang yang meninggal untuk kendaraan ke alam berikutnya.
Pembuatan lantang dilakukan oleh masyarakat tanpa bayaran, namun mereka harus mendapatkan makanan, rokok, minuman tuak, dan kelak sepotong daging kerbau. Keluarga juga ada yang menyumbang kerbau, namun ini tidak berarti hadiah, karena dihitung sebagai hutang. Artinya harus dibayar dengan kerbau berkualitas sama jika terdapat keluarga penyumbang yang meninggal dunia. Demikian seterusnya sehingga seseorang dapat terus menerus berhutang kerbau atau babi. Oleh karena itu setiap sumbangan dicatat dengan rapi, karena semua ini harus dibalas dengan sepadan, sehingga meskipun tampak seperti kegiatan yang dilakukan secara gotong royong, sebenarnya pelaksanaan upacara ini berdasarkan kalkulasi timbal balik yang cermat.
Adat ini demikian kuat, sehingga konon banyak masyarakat Toraja yang harus menjual sawah, tanah atau harta lain yang dimiliki untuk melaksanakan adat tersebut, karena jika tidak, akan dikucilkan oleh keluarga besar. Demikian pula penulis buku ini, ia terpaksa harus menjual sebgian tanah milik ayahnya, karena dana yang ia miliki bersama keempat saudaranya tidak cukup untuk membiayai upacara yang sangat mahal, yang mencapai lebih dari satu miliar rupiah.
Saroengalo memang menulis buku ini untuk menyampaikan kritik dan kemarahannya terhadap adat dan keluarga besarnya, namun demikian, banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh tentang adat istiadat Toraja, misalnya peran keluarga besar, pembagian kasta yang menentukan jenis upacara pemakaman seseorang, jenis-jenis kerbau untuk upacara, perbedaan dengan adat di Bali, dan rincian upacara itu sendiri.
Secara rasional, memang adat pemakaman Toraja tidak sesuai lagi dengan zaman, karena mengandung kekejaman terhadap binatang serta menghabiskan banyak waktu dan biaya, yang dapat digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Apalagi adat tersebut sebenarnya berkaitan dengan kepercayaan lama yaitu Aluk Todolo, sedangkan masyarakat Toraja telah menjadi pemeluk Kristen, sehingga tidak seperti di Bali, keterkaitan antara adat dengan kepercayaan tidak ada lagi.
Pertanyaan berikut, jika adat ini hilang, haruskah disesali? Haruskah segalanya diputuskan berdasarkan perhitungan rasional? Hal ini tentunya harus diputuskan oleh masyarakat Toraja sendiri, yang memiliki adat tersebut, dengan memperhitungkan manfaat dan kerugiannya
.

Sunday, February 27, 2011

GOD THE FAILED HYPOTHESIS



Judul : God: The Failed Hypothesis – How Science Shows that God Does Not Exist
Pengarang : Victor J. Stenger
Penerbit : Promotheus Books
Tahun : 2008, cet. kedua
Tebal : 300 hal

Banyak yang berpendapat bahwa sains dan agama merupakan area yang berbeda, dan memiliki kebenaran sendiri-sendiri. Antara lain bahwa agama adalah mengenai moralitas dan hal-hal supernatural, sedangkan sains mengenai hal yang bersifat natural. Sains tidak dapat membuktikan kebenaran hal-hal yang bersifat supernatural, seperti ada tidaknya Tuhan. Namun sejumlah ilmuwan, antara lain Stenger berpendapat, bahwa ada tidaknya Tuhan dapat dibuktikan, khususnya Tuhan menurut agama Yahudi, Kristen dan Islam, karena Tuhan ketiga agama tersebut digambarkan aktif menciptakan alam semesta, manusia, memelihara ciptaannya, berfirman melalui nabi dan kitab suci, dan mengabulkan doa-doa. Oleh karena itu tentu bukti-buktinya dapat dilihat secara obyektif.

Penulis membagi pembahasannya dalam 10 bab. Bab pertama menjelaskan tentang metode ilmiah dan metode yang digunakannya dalam membuktikan ketiadaan Tuhan. Pertama harus dibuat model ilmiah tentang Tuhan, yang memiliki sejumlah atribut. Disini digunakan atribut Tuhan sebagaimana dipahami pemeluk tiga agama monoteis, sehingga dapat disusun hipotesis bahwa Tuhan adalah:
1. Pencipta dan pemelihara alam semesta
2. Penyusun struktur dan pembuat hukum alam semesta
3. Terlibat dalam urusan dunia bila perlu, misalnya mengabulkan doa manusia
4. Pencipta dan pemelihara manusia, yang memiliki kedudukan istimewa dibandingkan makhluk lainnya
5. Pemberi jiwa yang abadi kepada manusia
6. Sumber moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kebebasan, keadilan, demokrasi
7. Menunjukkan kebenaran melalui kitab suci dan nabi-nabi, dan
8. Tuhan yang tidak menyembunyikan diri bagi mereka yang membuka diri terhadapnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka ketiadaan bukti-bukti obyektif atribut di atas dapat menjadi bukti ketidakberadaannya.

Bab dua membahas kebenaran atribut pertama. Merujuk pada teori evolusi, maka hipotesis bahwa alam semesta merupakan hasil rancangan tidak dapat dibuktikan.
Mengenai kekekalan jiwa manusia dan kemanjuran doa manusia dibahas dalam bab tiga. Berdasarkan ilmu syaraf (otak) dan penelitian mengenai keampuhan doa yang dilakukan beberapa universitas selama hampir sepuluh tahun, tidak terdapat bukti bahwa jiwa terpisah dari otak dan doa memiliki pengaruh terhadap kesembuhan pasien yang didoakan.

Dua bab selanjutnya berkaitan dengan kosmologi dan fisika membahas mengenai apakah alam semesta memiliki asal mula (yang berarti diciptakan) atau tidak (abadi). Disini penulis merujuk pada penemuan terakhir kosmologi antara lain inflationary universe dan keahliannya dalam fisika partikel, yaitu bahwa alam semesta tidak memerlukan pencipta karena tidak ada asal mulanya (infnitively old).
Selanjutnya mengenai keistimewaan manusia di alam semesta, penulis menguraikan tentang kaidah antropik (anthropic principle) yang sering digunakan untuk membuktikan bahwa alam semesta diciptakan sedemikian agar manusia dapat eksis, yang menyebutkan, bila salah satu dari parameter-parameter fisika diubah sedikit saja, kehidupan yang memungkinkan munculnya manusia tidak akan ada. Namun penulis mengingatkan, hal tersebut karena parameter yang diubah hanya satu, sedangkan lainnya tetap.
Merujuk pada penelitian fisikawan Anthony Aguire, maka jika enam parameter diubah, bintang-bintang, planet dan kehidupan cerdas kemungkinan muncul. Sebaliknya, penulis menguraikan kondisi alam semesta yang tidak ramah, dan dengan demikian tidak sesuai dengan gambaran akan pentingnya manusia di alam sebagaimana tertulis dalam kitab suci, sebagaimana ditulis Stenger,”If God created a universe with at least one major purposes being the development of human life, then it is reasonable to expect that the universe should be congenial to human life. Now, you might say that God may have had other purposes besides humanity. …One certainly can imagine a god for whom humanity is not very high on the agenda and who put off in a minuscule, obscure corner of the universe. However, this is not the God of Judaism, Christianity, and Islam, who places great value on the human being and supposedly created us in his image.” (hal 154)
Fakta menunjukkan bahwa luas alam semesta tidak terbayangkan oleh manusia; jarak antar bintang sangat jauh, kekosongan merupakan sesuatu yang dominan, keberadaannya telah demikian lama, dan triliunan bintang-bintang memancarkan energi yang sedemikian besar, yang kesemuanya menampakkan kesia-siaan, waste.
”On the distance scale of human experience, the solar system is immense. Earth is one hundred and fifty million kilometers from the sun. Pluto is some six billion kilometers away. The Oort cloud of comets, which marks the edge of the solar system, extends to thirty trillion kilometers from the sun. Although the space between the planets contains smaller asteroids, comets, and dust, the solar system consists mainly of empty space that seems to serve no purpose…. On this distance place, the planets are tiny points.”
Selanjutnya mengenai luas alam semesta, Stenger menulis,” The next closest star (after the sun), Proxima Centauri, is 40 trillion kilometers. This is part of the triple-star system called Alpha Centauri. The Alpha Centauri system is 4.22 light-years away (one light-year is 9.45 trillion kilometers). …Our sun and its planetary systems are…of a galaxy containing an estimated 200 – 400 billion other stars. Called the Milky Way…is but one of perhaps a 100 billion galaxies in the visible universe. The next galaxy nearest to us, Andromeda is 2.44 million light-years away….. How big is the universe? The farthest observed galaxy at this writing, Abell... this galaxy is now about 40 billion light years away. The farthest distance we can ever hope to see, our horizon, is 13,7 billion years away.”
Selain luas yang tak terkira, umur alam semesta juga demikian lama, “Instead of six days, He took nine billion years to make earth, another biilion years or so to make life, and then another four billion years to make humanity.”
Dibandingkan semua itu, maka manusia menjadi tampak tidak berarti,”Humans have walked for less than one hundredth of one percent of earth history. ….0,0002 the mass of the universe is carbon (the main element of life). Yet we are supposed that God specially designed the universe so it would have the ability to manufacture carbon in its stars, the carbon needed for life?” (hal 157).
Demikian luas dan kerasnya alam semesta sehingga mustahil pula bagi manusia untuk menjelajahinya,”Suppose we were able to build a spaceship that could accelerate at a constant g, that is, at the acceleration of gravity on earth…..In eleven years’ ship-time it coud reach the center of our galaxy. But during that time, almost 27.000 years would have passed on earth. … Even if they traveled to the center of the Milky Way and back, aging forty-four years in the process, they would return to an Earth 104,000 years in the future as measured on Earth clocks…..space travelers would have to travel tens of thousands of light years, at the minimum, before finding a planet they coud live without a massive life support. …Our species is probably marooned in space, on spaceship Earth, and likely to go extinct before the sun burns its last hydrogen atom.”
Kesimpulannya,”It seems inconceivable that a creator exist who has a special love for humanity, and then just relegated it to a tiny point in space and time. … the universe looks very much like it was produced with no attention whatsoever paid to humanity.”

Gambaran ini memang sangat berbeda dengan kitab suci. Dalam Qur’an misalnya, tertulis,”Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. (6:97).... Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya (15:16). Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya (16:12). Dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (16:16).
Mengenai kebenaran nabi-nabi dan isi kitab suci serta sumber moralitas, yang semuanya dinyatakan berasal langsung dari Tuhan, dibahas dalam dua bab selanjutnya dengan mencocokkannya dengan tulisan sejarah yang dibuat pada masa itu serta bukti-bukti fisik yang dapat ditemukan dari penggalian arkeologi, yang kesemuanya ternyata tidak ada.

Selain membahas dari sisi sains dan sejarah, penulis juga membahas mengenai problem of evil. Dalam bab tersendiri juga diuraikan bukti atau fakta-fakta apa yang harus diperoleh untuk membuktikan bahwa kesimpulannya salah, atau bahwa Tuhan itu eksis.
Secara keseluruhan, buku ini adalah yang terlengkap dalam mencoba membuktikan ada tidaknya Tuhan, karena dibahas dari sisi biologi, kosmologi, fisika, sejarah dan filsafat dalam bab-bab ringkas dan dengan bahasa yang cukup mudah, tidak seperti buku Stenger lainnya yang cenderung teknis. Namun karena cukup ringkas, akan lebih mudah dimengerti bagi pembaca yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang teori-teori yang dibahas. Meskipun demikian bagi pembaca yang belum mengenal sedikitpun teori evolusi atau kosmologi akan menimbulkan keinginan untuk mempelajari lebih dalam hal-hal yang disebutkan penulis.

Friday, February 12, 2010

SELIMUT DEBU



Judul : Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: GPU
Tahun : 2010, Januari
Tebal : 468 hal
* * * *

Apa yang membuat seseorang bepergian ke tempat-tempat baru atau membahayakan?
Atau mencintai negeri lain yang alamnya lebih keras atau peradabannya jauh berbeda?
Membaca kisah Agustinus Wibowo menjelajahi Afghanistan dengan berpakaian tradisional Afghan dan menyusuri kota-kota Afghanistan yang sedang dilanda perang selama tiga tahun akan mengingatkan kita pada para penjelajah Barat yang mengunjungi wilayah-wilayah berbahaya yang belum banyak diketahui atau terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah dan intoleran, seperti Richard Burton yang menjelajah Arab dan Afrika Utara dengan berpakaian dan berbahasa Arab, atau Thesiger yang menjelajahi Empty Quarter dan merasakan kerasnya hidup suku Badui atau suku Kurdi di Irak.

Agustinus tidak hanya menceritakan kerasnya alam Afghanistan beserta kemiskinan, keterbelakangan dan kefanatikan penduduknya, namun juga sejarah setiap tempat yang dikunjunginya, sehingga menambah pengetahuan pembaca. Kita mendapat banyak pengetahuan mengenai kehidupan di negara yang selama ini hanya kita ketahui sebagai pusat pelatihan teroris, Taliban, perempuan berburqa, dan latar belakang novel The Kite Runner.

Kisah perjalanan Agustinus beserta interaksinya dengan masyarakat Afghanistan yang ditemuinya memberi informasi bagaimana sistem patriarki yang sangat kuat di Afghanistan ditambah dengan kemiskinan dan kebodohan yang merata membuat agama sangat mudah dijadikan pembenaran untuk segala hal, dari penindasan terhadap perempuan sampai penolakan terhadap hal-hal baik yang dapat memajukan kehidupan masyarakat. Hal tersebut ditambah dengan sifat sukuisme yang saling merendahkan satu sama lain dan prinsip kehormatan yang masih kuat dengan unsur balas dendam dan perempuan sebagai barang penentu kehormatan. Di sisi lain, dikurungnya perempuan di rumah membuat hubungan sesama jenis (laki-laki) menjadi lumrah meskipun meraka taat beragama.

Hal yang menggelikan sekaligus menyedihkan adalah ketika Agustinus menceritakan perjalanannya menumpang bus ke Iran dengan berpakaian Afghanistan. Di luar dugaannya, Iran sangat maju dibandingkan Afghanistan, sehingga untuk pertama kali ia merasa sangat malu berpakaian tradisional Afghanistan – yang menurutnya bagai pakaian Aladin, namun menjadikannya percaya diri ketika di Afghanistan karena ia meyukai Afghanistan - apalagi ketika rakyat Iran mengira ia sungguh-sungguh orang Afghanistan dan memperlakukannya dengan buruk, yang menurut Agustinus, seperti perlakuan salah satu negara di Asia Tenggara terhadap negara tetangganya.

Agak menyedihkan juga perbandingan ini, karena membaca kondisi Afghan dari penuturan Agustinus, Indonesia jauh lebih baik dalam segala hal. Di Afghanistan tidak ada listrik, air bersih, makanan yang pantas, rumah dan jalan yang bagus, hujan dan tanaman hijau, kecuali di satu sudut kota Kabul yang baru dibangun oleh Barat. Yang ada hanya debu, rumah lempung coklat tanpa perabot, keledai atau truk tua, dan debu… (mungkin hampir seperti India, yang selalu seperti berkabut dan berdebu?) Tapi nasib Indonesia seperti Afghanistan dibandingkan negeri tetangganya…
Banyak lagi hal-hal menarik yang ditulis, seperti bantuan Barat yang tampak kurang menyentuh rakyat Afghan, sejarah salah satu suku yang berbeda tampilan fisiknya dari suku lainnya, atau adanya sesama penganut Islam yang merasa tertekan dengan fanatisme mayoritas.

Wednesday, January 20, 2010

THEY POURED FIRE ON US FROM THE SKY



Judul : They Poured Fire on Us From the Sky
Pengarang: Benyamin Ajak, Benson Deng, Alephonsian Deng, Judy Bernstein
Penerbit: Public Affairs, NY
Tahun : 2006
Tebal : 336 hal
* * * * *

Perang saudara di negara-negara Afrika tidak pernah banyak menarik perhatian dunia. Mungkin karena terlalu sering terjadi, sehingga Afrika selalu identik dengan perang, atau karena negara-negara tersebut dianggap tidak penting.

Perang di Sudan - salah satu negara besar di Afrika – terutama disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga perebutan sumberdaya alam yang langka menjadi sumber konflik. Daerah bagian utara yang kurang subur dan sebagian besar berupa padang pasir tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan penduduk dan ternak yang pesat, sehingga penduduk berbangsa Arab yang mendominasi pemerintahan dan wilayah utara mendesak penduduk asli di bagian selatan yang wilayahnya lebih subur. Kebangkitan gerakan pemurnian agama dari wilayah sekitarnya menjadi penyulut konflik etnis dan agama antara penduduk asli Afrika dengan penduduk bangsa Arab, yang kemudian menjadikan Sudan negara Islam. Perang di Sudan membuat ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi, dan belum berakhir sampai kini.

Buku ini tidak menceritakan tentang sejarah peperangan di Sudan, hanya mengisahkan perjalanan tiga orang anak laki-laki berumur antara tujuh hingga sembilan tahun melarikan diri dari medan perang, melewati desa-desa yang hancur, padang pasir dan hutan ke negara tetangga: Kenya dan Ethiopia saat perang saudara pada tahun 1980-an.

A Long Way Gone, kisah seorang anak Afrika yang terperangkap perang di Nigeria dan dipaksa menjadi tentara anak-anak, telah menggambarkan kekejaman perang dengan mengesankan. Namun They Poured Fire.. lebih menyentuh, karena dialami oleh anak-anak yang jauh lebih kecil, sehingga penulisannya juga masih bernada anak-anak yang sederhana dan apa adanya. Mungkin karena buku tersebut ditulis tak lama setelah mereka tiba dari kamp pengungsian di Afrika, meskipun saat itu mereka telah berusia sekitar dua puluh tahun dan berada di Amerika.

Kita dapat membaca bagaimana desa mereka diserang pada suatu malam sehingga orang tua mereka menyuruh mereka melarikan diri ke hutan. Namun mereka tak dapat kembali lagi ke desa dan mengetahui nasib orang tua mereka dan harus mulai berjalan ke desa lain. Namun setiap desa yang mereka datangi juga tidak lama kemudian diserang, sehingga mereka harus terus dan terus berjalan. Tanpa makanan, tempat berteduh atau pakaian, mereka harus melewati hutan yang masih banyak dihuni binatang buas, padang pasir yang berserakan tulang-belulang pengungsi lain yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, sungai, kota yang penuh ranjau, hingga akhirnya tiba di tempat pengungsian yang tidak mengenal belas kasihan. Penjaga mereka hanyalah tentara pemberontak yang juga masih muda dan juga tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit senjata.

Menakjubkan membaca bagaimana seorang anak berumur tujuh tahun dapat memiliki semangat hidup begitu besar meskipun telah kehilangan segalanya dan dapat memaksa diri sendiri untuk ”tidak menangis, tidak menurutkan rasa sedih, pikirkan hanya cara bertahan hidup: tumbuhan apa yang dapat dimakan, alat apa yang dapat dipakai memasak, bagaimana supaya bisa terus kuat berjalan apapun yang terjadi...”

Membaca kisah Deng dkk akan membuat kita kagum akan keberanian dan semangat hidup mereka, sekaligus sedih. Bagaimana mungkin anak-anak tersebut memiliki keberanian dan kekuatan demikian besar?
Buku ini menegaskan kebenaran arti survival of the fittest: hanya yang kuat dan mampu beradaptasi yang dapat bertahan, dan nasib baik juga penting. Namun kekejaman perang yang luar biasa dan tiada akhir yang digambarkan dalam buku ini kembali memunculkan pertanyaan lama: mengapa demikian banyak kejahatan dan kesedihan di bumi; mengapa anak-anak harus menderita, dan tak ada pertolongan dari manapun?

Friday, October 02, 2009

SOCIETY WITHOUT GOD



Judul : Society Without God – What The Least Religious Nations Can Say About Contentment
Pengarang: Phil Zuckerman
Penerbit: NYU Press
Tahun : 2008
Tebal : 227 hal

Banyak yang berpendapat bahwa tanpa landasan agama, suatu masyarakat akan menjadi tidak bermoral, bahkan negara akan mengalami kemerosotan, sehingga hal ini sering menjadi alasan favorit bagi banyak pihak untuk memaksakan penerapan agama yang lebih keras. Benarkah demikian?

Buku ini mencoba untuk membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Berdasarkan data-data statistik dan penelitian dengan metode in-depth interview terhadap sekitar 150 responden dari dua negara Skandinavia yaitu Denmark dan Swedia yang dilaksanakan penulis selama 14 bulan menetap di Denmark, sosiolog Zuckerman memperoleh kesimpulan bahwa negara-negara dengan tingkat kesejahteraan dan keamanan terbaik di dunia adalah negara-negara yang kadar keagamaan masyarakatnya paling rendah. Sebaliknya, dari data statistik tampak bahwa negara-negara yang paling religius adalah negara-negara yang paling tidak sejahtera dan tidak aman.

Membandingkan Swedia dan Denmark yang relatif kecil dengan negara besar seperti Amerika Serikat atau Indonesia mungkin kurang sesuai, namun Zuckerman juga memberikan data bahwa negara berpenduduk besar yang kurang religius seperti Jepang Korea atau Inggris juga relatif lebih baik kondisinya.

Tampaknya, hal yang mendorong penulis melakukan penelitiannya adalah keprihatinannya terhadap kondisi negerinya yaitu Amerika Serikat, yang masyarakatnya semakin religius hingga sering menjadi irasional. Dari sisi ini, maka keprihatinan Zuckerman relevan dengan kondisi yang terjadi di banyak negara, yang cenderung semakin religius, misalnya Indonesia. Namun, AS adalah satu-satunya negara maju demokratis yang religius.

Mencoba menemukan penyebab yang menjadikan AS berbeda dengan negara-negara Eropa, penulis mengemukakan bahwa faktor kurangnya keamanan karena tidak terjaminnya ketersediaan pekerjaan dan perumahan, pelayanan kesehatan yang terjangkau, pendidikan, dan lebarnya perbedaan antara kaum kaya dan miskin serta adanya berbagai jenis etnis dan agama dalam satu masyarakat membuat agama menjadi tempat berpaling untuk menghadapi ketiadaan kemananan tersebut dan “pemasaran” yang agresif dari masing-masing agama untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa rakyat Skandinavia tidak pernah sungguh-sungguh religius, karena sejarah agama Kristen disana berasal dari tekanan raja kepada rakyatnya, namun hal ini tidak dapat diketahui dengan pasti karena tidak ada data.

Zuckerman membandingkan hal ini dengan dua negara Skandinavia yang ditelitinya, dimana negara kesejahteraan (welfare state) telah terwujud sehingga rakyat merasa aman karena kesejahteraannya terjamin, baik pekerjaan, perumahan maupun kesehatan, pendidikan rata-rata warganya cukup tinggi, suku bangsa sama, dan agama yang homogen, yaitu Kristen serta disubsidi oleh negara dengan pajak dari rakyat sehingga gereja tidak perlu melakukan berbagai “strategi pemasaran” untuk menarik pengikut guna memperoleh dana operasional. Sebagai akibatnya, rakyat kehilangan minat tidak saja terhadap gereja bahkan terhadap agama dan Tuhan itu sendiri. Namun sebagian besar warga Denmark dan Swedia menganggap diri mereka Kristen, meskipun mereka tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, Yesus sang penyelamat maupun surga dan neraka. Bagi mereka, agama Kristen adalah suatu tradisi yang harus dipelihara, untuk acara pernikahan, pembaptisan bayi, pemakaman, serta nilai-nilai seperti menghargai orang lain dan perbuatan baik lainnya. Namun mereka tidak mempercayai sama sekali keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam Injil. Mereka telah sangat rasional dan lebih mempercayai sains. Penyakit, kematian, kemalangan dianggap sesuatu yang alami, yang dapat dialami setiap makhluk hidup dan karenanya perlu dihadapi dengan baik tanpa perlu meminta pertolongan kepada atau menyalahkan Tuhan. Ketidak religiusan bangsa Skandinavia demikian ekstrim, hingga seseorang yang mengaku sebagai penganut Kristen dan percaya kepada keberadaan Tuhan, Yesus, surga dan neraka akan dianggap menyedihkan dan patut dikasihani. Seperti seseorang yang mengaku ateis di AS atau Indonesia.

Penulis juga mencatat keberatan bahwa rakyat di negara sekuler cenderung lebih kesepian dan mudah bunuh diri, namun ia menemukan bahwa di negara yang ditelitinya tingkat kejadiannya tidak melebihi kejadian di negara-negara yang lebih religius.

Penelitian Zuckerman sungguh menarik, karena membuktikan bahwa ada masyarakat yang tidak terobsesi oleh agama bahkan tidak pernah memikirkan/ tidak mengenal agama atau Tuhan dan dapat berfungsi lebih baik dari masyarakat yang religius.
Jadi, benarkah teori bahwa agama diperlukan oleh masyarakat yang berada di lingkungan yang tidak aman atau karena rasa takut dan khawatir serta kurang ilmu pengetahuan?

Bila kesimpulan Zuckerman benar, maka sulit mengharapkan negara-negara lain dapat berkurang religiusitasnya, karena tidak mudah mewujudkan negara sejatera yang masyarakatnya sadar sains dan mencegah “pemasaran” agresif kaum religius garis keras yang justru mendapatkan kesempatan besar di negara demokrasi, kecuali ada kemauan politik dari pemerintah negara tersebut.



GOD AGAINST THE GODS



Judul : God Against the Gods - The History of the War between Monotheism and Polytheism
Pengarang : Jonathan Kirschtof
Penerbit : Viking Compass
Tahun : 2004
Tebal : 336 hal

Darimanakah asalnya intoleransi dan perang agama? Monoteisme.
Melalui penelitian terhadap sejarah Mesir, penulis mengemukakan bahwa monoteisme bukanlah dimulai dari munculnya agama yahudi-kristen-islam. Firaun Anekhaton adalah orang pertama yang menganut monoteis, dengan menyingkirkan dewa-dewa lain dan hanya menyembah satu dewa yaitu Aton, dewa matahari. Bahkan ia memindahkan istananya ke tempat baru dan mengajak rakyatnya menyembah satu dewa saja. Namun Anekhaton tidak berhasil. Setelah kematiannya, istananya ditinggalkan dan rakyatnya kembali menyembah banyak dewa.


Hal yang menarik, meskipun polytheisme selalu diasosiasikan dengan kekejaman, pengurbanan manusia, dan kurangnya moralitas, namun prinsip dasarnya adalah toleransi. Merujuk pada kekaisaran Romawi sebelum berkuasanya Constantine, penulis menunjukkan, prinsip dasar dari kekaisaran tersebut adalah setiap orang bebas untuk menjadi pemuja dewa manapun atau tidak sama sekali. Semua kepercayaan dianggap benar, oleh karena itu semua dewa dihargai dan dipuja – dibuatkan patungnya dan diberi persembahan. Menghormati dewa-dewa juga dianggap merupakan kewajiban sosial sebagai warga negara. Masyarakat Romawi juga memiliki standar moral tertentu yang tidak jauh berbeda dengan moralitas yang kita anggap wajar, dan ritual yang berlebihan dan bersifat menyimpang juga dikendalikan pelaksanaannya oleh kaisar.

Keadaan di atas berubah setelah muncul agama Kristen yang bersifat monoteis. Penganut Kristen yang pertama menganggap politeisme salah dan sama sekali tidak menghormati kepercayaan tersebut, sehingga bagi Romawi mereka dianggap tidak memiliki kepatutan sebagai warga negara yang baik dan karenanya merupakan ancaman bagi negara.

Sifat monoteis yang merasa paling benar dan menganggap lainnya salah berkaitan dengan sifat totaliarisme, yang hanya mengakui satu Tuhan, satu raja, disertai dengan kehendak untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain, jika perlu dengan menunjukkan diri sebagai martir, dan selanjutnya dengan kekerasan. Semua ini sesuatu yang baru dan asing bagi politeis dan masyarakat Romawi.
Keadaan di atas semakin memburuk ketika Constantine dan keturunannya menjadikan Kristen sebagai agama negara dan berusaha melenyapkan politeisme dengan menutup dan menghancurkan patung dan kuil-kuil serta melarang pengajaran sastra Yunani seperti karya-karya Homer yang menurut mereka bersifat politeis.

Mengenal sastra Yunani bagi masyarakat Romawi merupakan ukuran keberadaban seseorang dan salah satu sumber pelajaran untuk pembentukan karakter. Bagaimana mungkin penguasa Kristen melarang peradaban tinggi mereka sendiri? Masyarakat Romawi tidak percaya kitab suci saja dapat menghasilkan masyarakat yang baik sebagaimana telah berhasil dilakukan karya sastra dan filsafat mereka.
Konflik antara kedua hal di atas mencapai puncaknya dengan pembunuhan terhadap Hypathia – filsuf pagan terakhir – dan pembakaran perpustakaan Alexandria. Setelah itu mulailah pemaksaan dengan kekerasan untuk menganut satu agama tertentu dan lenyapnya pemikiran Yunani serta toleransi yang menjadi dasar budaya Romawi, yang kemudian dikenal dengan abad kegelapan.
Barat baru kembali bangkit setelah mempelajari kembali pemikiran Yunani dari buku-buku yang dipelihara oleh peradaban Islam setelah perang salib.

Membaca sejarah ini mengingatkan saya pada keadaan di Jawa. Mengapa Islam di Indonesia, khususnya Jawa, sangat berbeda dengan Islam di negara-negara lain, yaitu sangat toleran? Mungkin karena ia tidak disebarkan hanya dengan kekerasan. Sebelum Islam masuk, masyarakat yang beragama Hindu – seperti halnya masyarakat Romawi dengan mitologinya – telah memiliki mitologi sendiri (yang tercermin dalam budaya wayang) yang berfungsi sebagai pembentuk karakter dan moralitas, dan tidak seperti di Romawi, mitologi ini tidak dilarang atau dilenyapkan ketika muncul agama baru. Dengan demikian sifat monoteis yang keras dan tanpa kompromi masih didampingi oleh budaya lama, dalam hal ini sastra dan filsafat yang bersifat politeis, sehingga yang muncul adalah penganut agama yang toleran dan berbudaya.
Bandingkanlah hal ini dengan daerah lain di Indonesia yang tidak memiliki dasar budaya ini, tampak bahwa sifat beragamanya cenderung lebih keras atau fanatik.

Mungkinkah ini dapat menjelaskan mengapa kini fanatisme tampak lebih mudah bangkit? Apakah semakin jauhnya generasi masa kini dari budaya Jawa yang dididik dengan kearifan dari mitologi lama (misalnya wayang) tanpa ada pengganti – misalnya sastra Yunani – membuat mereka kehilangan kearifan, kebijaksanaan dan toleransi sehingga mudah menjadi fanatik?




Saturday, May 09, 2009

POSREALITAS



Judul : Posrealitas – Realitas Kebudayaan Dalam Era Posmetafisika
Pengarang : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Jalasutra
Tahun : 2009, Maret, cet. kedua
Tebal : 483 hal

Buku ini terdiri dari 17 bab yang dibagi dalam 4 bagian:
1. Pososial, terdiri dari :
- Pososial: Menuju Kematian Sosial,
- Posekonomi:Berpacu dalam Konsumerisme
- Posmedia: Simbiosis Realitas dan Fantasi,-
- Posestetik: Antara Realitas dan Seni.

2. Poshorosisme - Poskriminalitas: Ketika Kejahatan Begitu Sempurna,
- Posrealitas Perang: Simbiosis Realitas dan Fantasi Perang
- Posteror: Theatrum Simulacrum-
- Poshororisme: Ketika Horor Menjadi Hiburan.

3. Posdemokrasi
- Posdemokrasi:Bersatunya Demokrasi dan Anarki
- Posotonomi: Egopolitik dan Mikrofasisme
- Posrealitas Hukum: Fatamorgana Hukum dan Ilusi Kebenaran

4. Posmoralitas.
- Pospiritualitas: Simbiosis Hasrat dan Kesucian
- Posmoralitas: Simbiosis Kebenaran dan Kepalsuan
- Poseksualitas
- Pospornografi: Melampaui Batas-batas Hasrat
- Poshumanitas: Homo Sapiens Electronicus
- Posfeminitas: Teknopolitik dan Masa Depan Relasi.

Sebagai kajian kebudayaan, penulis berusaha melakukan tinjauan kritis terhadap berbagai aspek budaya kini, terutama berdasarkan filsafat posmodern, sehingga banyak mengutip Jean Baudriliard, Michel Foucault, J. Lacan, P. Virilio dan lainnya.
Pembahasan pada bagian pertama, yaitu pososial cukup menarik, dimana penulis melakukan analisa terhadap beralihnya ruang sosial dari ruang fisik ke ruang maya, yang mengakibatkan keterbukaan dan kebebasan namun menurunkan kontrol, sehingga dapat mengarah pada anarki; konsumerisme dan kapitalisme yang menimbulkan halusinasi ruang, yaitu tercabutnya kebudayaan dari ruangnya; terlalu banyaknya informasi sampah, sementara masyarakat tidak memiliki daya kritis, sehingga menjadi massa yang diam; dan meluasnya ekspresi seni dalam cyberspace.
Bagian kedua membahas bagaimana kejahatan menjadi sempurna jika dilakukan oleh negara, dan realitas dibentuk oleh simulasi yang dibuat oleh pemerintah/negara tertenu beserta media yang dikuasai, untuk membentuk opini publik sesuai yang dikehendaki penguasa, melalui simulasi, sehingga kejahatan tersebut tersembunyi dari masyarakat, apalagi jika masyarakatnya kurang kritis.
Bagian ketiga menganalisa bagaimana demokrasi dan otonomi menimbulkan anarki dan fasisme di daerah-daerah, sehingga bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri.
Posrealitas cukup menarik untuk dibaca pada awalnya, karena dapat membuat pembaca lebih menyadari dan memahami fenomena budaya yang ada di sekitarnya dengan lebih kritis. Namun struktur buku ini yang membahas setiap topik dengan cara yang sama sebanyak 17 bab, membuat pembaca seperti mengulang hal-hal yang mirip sepanjang sekitar 400 halaman, apalagi hampir pada setiap bab terdapat kutipan dari Baudriliard.
Selain itu meskipun di setiap akhir bab penulis menguraikan sedikit saran mengenai cara mengatasi permasalahan yang diungkapkan di depan, namun tidak mendalam, mungkin karena tekanannya adalah pada kritik atau analisis budayanya. Disamping itu, sudut pandang yang hanya berdasarkan pemikiran postmodern, kurang memberikan tempat untuk sudut pandang lainnya, seperti rasionalisme atau humanisme.
Setelah menguraikan panjang lebar tentang berbagai hal, bagaimanakah kesimpulan dan saran penulis? Tanpa analisis mendalam, penulis hanya menyarankan untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan atau agama, tanpa uraian mengapa dan bagaimana caranya.
Suatu kesimpulan dan saran yang terasa klise dan cukup mengecewakan setelah membaca analisis dan tinjauan penulis sepanjang lebih dari 400 halaman.

Wednesday, April 08, 2009

Books and Me

I always love books since I was very young. When I was nine, we lived in a small town in Kalimantan close to the beach. It was a great time. The world was not as busy as now. After school, I spent my time looking for small fish and shell, trying the the fisherman’s boat, and enjoying the beach view from the bedroom window in the evening. In the small road beside the house, Dayak’s women with long big earrings and traditional hats used to walk to the market... There was only one channel tv in the night, but we found life was wonderful around the beach, wide grass yard, pinus trees, and in the way to the market were oil pipes, tanker ships, beautiful houses and trees in the hill … The town was quiet, only be broken by some cars or children carnavals in the main street several times a year.


There are many questions I always ask to myself. What is the meaning of this life ? School never gives me the answer. I turn to books.

When I was a child, I used to see butterflies, grasshoppers around the house and caught them to see their response. I made them a house from pieces of small branches, put them in the water, and released them, wondering .. would they tell their friends about the experience ? How did they feel about it ?

Then, in the quietness of nature, the endless life cycle, I found emptiness. What is life; is that only to repeat life endlessly, without clear purpose ? Why is everybody happy and never ask this question ?

Some people said that 90% of our life are boring things. We do almost the same things every day; working in the same building, passing the same street, seeing the same person, even in the week end shopping only in certain plaza or shopping center. Let’s count how many times in a month we spend time in new places that we never visit before, and what a really new experience we have. Our life is full of routine and routine. That’s why we often shocked to realize that one more year has passed, ‘though it seems yesterday that we celebrate a new year..

Book is the only escape from routinity. We get new experience and new thought from good book. It renews our life. Because reading is like having a journey. It opens your mind, your places, your time, without leaving your home.

Several years ago, I had a good friend. He was so friendly and helpful. He asked me, ”how many friends do you have ?” I count my friends, but he said, ”I don’t have friends. I don’t trust other person,” then he told his experience of having been betrayed by many whom he thought was his friends. I didn’t believe that would happen to everyone. My friends are different, they can be trusted.

Two years ago, I found that he was right. Of course, I do not lose all my close friends, but I really could not predict whom I would lose. My closest friend. And I never really know what made her went away.. Was it jealousy ? Am I so lucky that could make my best friend so jealous ? Because we are almost the same, I think.
It is not easy to find the right friends. Friends who really understand you, person you could spend time for hours even with no news or topic to talk about.. But I have lost one. That reminds me to my other friend. He is right. We will never know what other person’s heart, how close our relationship is. And other person could hurt us so deeply.

Books always make me happy. When I remember my life, much of its time was cheered up by books. I always turn to books when I was in sadness or depression. It seems like having many wise friends, but they will not hurt you or leave you in sadness. You can always reach them every time you need …

Monday, January 26, 2009

PARALLEL WORLDS



Judul : Parallel Worlds - A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos
Pengarang : Michio Kaku
Penerbit : Anchor Books
Tahun : 2006, Agustus
Tebal : 401 hal.

Kisah mengenai asal mula alam semesta atau penciptaan merupakan pertanyaan dasar manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan menjadi tema sentral ribuan mitologi dan agama.

Kosmologi (dan fisika) menjadi menarik, karena berusaha menjawab pertanyaan mendasar tersebut. Jawaban pertanyaan tersebut bagi banyak orang juga dianggap dapat menentukan arti hidup ini.

Menurut penulis, adanya satelit baru yaitu WAMP (Wilkinson microwave anisotropy probe) dan peralatan ilmiah lainnya semakin meyakinkan para ilmuwan akan adanya dunia paralel (parallel universe). WAMP berhasil merekam kondisi alam semesta pada waktu berumur 380 ribu tahun (usia alam semesta kini 13,7 miliar tahun) setelah ledakan besar (big bang) atau penciptaan. Gambar yang dihasilkan WAMP sesuai dengan teori selama ini karena menampilkan fluktuasi kuantum atau irregularity yang muncul tidak lama setelah big bang yang tampak berupa titik-titik yang menyebar. Titik-titik ini merupakan asal mula dari galaksi dan kluster galaktika yang ada saat ini.
Satelit WAMP juga mengungkapkan bahwa material yang tampak hanya menyusun 4% dari alam semesta (sebagian besar berupa hidrogen dan helium), sisanya terdiri dari material yang tidak tampak dan tidak kita ketahui, namun 73% berupa dark matter.
Selain itu, WAMP juga mengkonfirmasi teori inflationary, yaitu bahwa alam semesta terus menerus melahirkan alam semesta baru. Ada banyak big bang yang lahir dari alam semesta yang abadi, sehingga ada banyak dunia parallel (multiverse), yang terpisah dan tidak dapat bertemu. Dengan demikian, alam semesta kita mungkin lahir dari alam semesta lain yang lebih lama atau bahkan abadi.
Hal di atas kemudian membuat para fisikawan semakin menekuni teori string dan teori M, yang diharapkan dapat mengungkap sifat/nature multiverse.
Temuan penting lain dari WAMP adalah bahwa dark matter mendorong percepatan mengembangnya alam semesta, sehingga diperkirakan dalam 150 miliar tahun yad, dari sekitar 100 miliar galaksi hanya beberapa yang dapat terlihat, dan jika ini terus berlanjut alam semesta akan mati dalam kebekuan besar. Jika manusia masih eksis dan ingin tetap mempertahankan keberadaannya, maka jalan satu-satunya adalah pindah ke alam semesta lain, yaitu melalui wormhole.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar: The Universe, The Multiverse, dan Escape into Hyperspace, yang menjelaskan rincian hal-hal di atas. Agar lebih jelas, penulis juga menguraikan sedikit mengenai sejarah kosmologi.

Bagi pembaca awam, uraian Michio Kaku relatif lebih mudah diikuti daripada buku sejenis lainnya (misalnya buku Brian Greene yang uraiannya lumayan rinci), namun dapat memberikan gambaran yang lebih luas.

Di akhir buku dibahas, apa yang dapat diberikan pengetahuan kosmologi yang kita miliki saat ini mengenai arti hidup ini? Hal ini dijelaskan dalam uraian tentang anthropic principle dan Copernican principle, dikaitkan dengan kuantum dan multiverse. Menurut penulis, masing-masing memiliki kebenaran, dan kita belum tahu persis hal yang sebenarnya. Kosmologi atau fisika tak dapat memberi petunjuk. Maka manusia harus memberi arti sendiri bagi hidupnya, yaitu dengan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan memberi manfaat bagi orang lain atau masyarakat.


Tuesday, December 30, 2008

ARUS BARU ISLAM RADIKAL

Judul : Arus Baru Islam Radikal – Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia
Pengarang : M. Imdadun Rahmat
Penerbit : Erlangga
Tahun : 2007, Agustus
Tebal : 166 hal

Seberapa besarkah kebangkitan Islam di Indonesia dipengaruhi dari luar? Apakah tujuan akhirnya? Bagaimana kemungkinan perkembangannya di masa mendatang?

Penulis mendefinisikan revivalisme Islam sebagai kebangkitan Islam dalam segala bentuk, dari moderat hingga radikal dan apolitis hingga politis, meskipun dari pembahasan tampak bahwa pada dasarnya semua adalah radikal.

Bagian pertama membahas sebab timbulnya revivalisme di Timur Tengah, yaitu karena negara-negara di wilayah tersebut merasa berada dalam krisis akibat tekanan budaya Barat, yang menimbulkan pencarian identitas dan otentisitas bangsa Arab, antara lain dengan kembali kepada nilai-nilai agama yang murni.

Terdapat tiga organisasi/aliran utama, yaitu:
Ikhwanul Muslimin, didirikan di Mesir pada tahun 1928
Hizbut Tahir, didirikan di Palestina tahun 1952
Salafi, yang kemudian condong menjadi seperti Wahabi

Pada prinsipnya, ketiganya memiliki tujuan sama, yaitu pemurnian agama berupa kembali kepada Qur’an dan Sunah, penerapan syariat Islam, menentang sekularisasi dan hukum Barat lainnya, ketaatan total kepada hukum Tuhan.

Penulis menjelaskan bahwa penyebaran ketiga aliran pemikiran di atas dari Timur Tengah dilakukan oleh alumni lulusan Timteng khususnya Mesir ke kampus-kampus di Indonesia, dimulai dari ITB pada tahun 1974 (Ikhwanul Muslimin) di mesjid Salman, IPB pada tahun 1982 (Hizbut Tahir), yang kemudian secara sistematis disebarkan ke seluruh kampus di Indonesia sehingga kelak melahirkan Partai Keadilan Sejahtera pada tahun 1998. Sedangkan aliran Salafi/Wahabi disebarkan oleh Lembaga Ilmu Islam dan Sastra Arab (LIPIA), yaitu cabang Univ. Islam Muh. Ibnu Saud Univ. di Riyadh.
Menurut penulis, keadaan di atas terutama berkat upaya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), khususnya oleh M. Natsir (tokoh Masyumi). Peran DDII adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Mengusahakan pengiriman mahasiswa ke Timteng
2. Menjadi penggagas dan mediator berdirinya LIPIA
3. Meletakkan landasan awal gerakan dakwah kampus
4. Mendorong penerjemahan pemikiran Ikhwanul Muslimin

Target dari dakwah DDII adalah pesantren (a.l. Gontor, Ngruki), masjid (bantuan Timteng) dan kampus.
Penyebaran ini semakin kuat dengan munculnya banyak penerbit Islam yang menerbitkan buku-buku terjemahan karya para pemikir fundamentalis IM, a.l. Sayyid Qutb, yang kemudian dilanjutkan dengan penerbitan majalah seperti Sabili dll. Bahkan menurut penulis, penerbit umum pun menerbitkan karya para fundamentalis ini karena demikian larisnya. Gerakan revivalisme ini tidak berhenti sampai disini, karena mereka masih dan akan terus berdakwah sampai tujuannya tercapai.
Demikianlah, maka tanpa benar-benar disadari banyak pihak, selama dua puluh tahun lebih dalam kampus-kampus kita telah disemai bibit-bibit fundamentalisme asli dari Timteng. Selama sepuluh tahun Orba dengan penanaman slogan salah arah atheisme sama dengan komunisme dan sensor ketat bacaan, serta sepuluh tahun reformasi tanpa arah, maka kampus tidak menjadi tempat yang tercerahkan dengan rasionalitas dan pemikiran kritis, tetapi sebaliknya, semakin menjauh ke belakang, menuju irasionalitas dan dogma, dan bermaksud membawa seluruh rakyat bersamanya.
Isn’t it ironic, that our universities fail in nurturing reason and critical thinking, but very successful in spreading religion fundamentalism?
Buku ini – hasil penelitian untuk tesis S2 - memberi informasi yang cukup baik dan lumayan lengkap, sehingga membacanya cukup menimbulkan rasa khawatir akan masa depan keberagaman dan sekularisme di negeri ini.

Sunday, December 28, 2008

OVER THE EDGE OF THE WORLD



Judul : Over the Edge of the World - Magellan's Terrifying Circumnavigation of the Globe
Pengarang : Laurence Bergreen
Penerbit : Harper Perrenial
Tahun : 2004
Tebal : 430 halaman


Over the Edge of the World adalah kisah tentang keberanian, kepemimpinan dan kekerasan hati Magellan dalam usaha mencari rute baru ke pulau rempah-rempah, atau Maluku, yang berakhir cukup tragis bagi para awak kapalnya, namun membuka sejarah baru bagi dunia.

Magellan adalah perwira Portugis yang semula sangat loyal pada raja, namun karena merasa tidak dihargai dengan semestinya, ia kemudian mengabdi raja Spanyol, dan menawarkan ekspedisi mencari pulau rempah untuk berdagang dan mendapatkan koloni bagi Spanyol, namun melalui rute timur, yaitu melewati selat di Amerika Selatan yang belum jelas keberadaannya, agar tidak melalui wilayah kekuasaan Portugis.
Dengan lima kapal dan 257 awak kapal, selama tiga tahun (1519 – 1522) Armada de Molucca berlayar dari Seville, Spanyol, menemukan selat Magellan, menjadi kapal Eropa pertama yang menyeberangi Samudra Pasifik, sampai ke Filipina, Maluku, kemudian menyusuri Samudra Hindia dan Tanjung Harapan kembali ke Spanyol. Melewati badai, suku-suku kanibal, pemberontakan tiga kapten kapal, pembantaian dari penduduk asli, pengkhianatan, kelaparan, penyakit, dan kejaran kapal Portugis, ekspedisi Magellan berakhir dengan kembalinya satu kapal beserta 18 awak kapal yang membawa rempah-rempah dari Tidore dan Ternate ke Seville.
Magellan sendiri terbunuh sewaktu bertempur dengan kepala suku Mactan (Filipina) yang tidak bersedia dipaksa dikonversi menjadi Katolik. Sesuatu yang disayangkan awak kapal lainnya, karena Magellan seharusnya tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun semangat religius serta keberhasilan-keberhasilan sebelumnya mengatasi maut dan bahaya membuat Magellan terlalu berani, yang justru berakhir dengan tragis tidak saja bagi dirinya namun juga bagi awak kapal yang ditinggalkannya.
Pelayaran Magellan merupakan pelayaran penting, karena saat itu Eropa mengira bahwa Hindia tidak jauh dari sebelah timur Amerika. Dengan demikian Magellan tidak mengira bahwa Samudra Pasifik sangat luas sehingga harus dilayari selama beberapa bulan sebelum sampai ke Asia. Ini juga pelayaran pertama yang membuktikan bahwa dunia itu bulat, meningkatkan kesadaran untuk mengandalkan pada fakta dan pengalaman serta menandai awal dominasi Eropa di lautan, karena pelayaran armada China telah dihentikan sejak tahun 1431 dan kapal Arab tidak bersedia beranjak lebih jauh dari sekitar Samudra Hindia. Padahal dibandingkan dengan Cina, armada Eropa sangat kecil dan tidak memadai, sementara teknologinya sebagian dicontoh dari kapal Arab.

Buku ini sangat menarik karena penulis membawa kita seolah berada dalam kapal Magellan dan mengalami bermacam hal seru, kejam maupun menyedihkan yang tidak mungkin lagi terjadi di masa kini.

Wednesday, October 08, 2008

NOVEL NIGERIA












Judul : Half of a Yellow Sun
Pengarang : Chimamanda Ngozi Adichie, penerjemah Rika Affiti
Penerbit : Hikmah
Tahun : 2008, Agustus
Tebal : 761 hal.

Judul : Things Fall Apart
Pengarang : Chinua Abebe, penerjemah Cahya Wiratama
Penerbit : Hikmah
Tahun : 2007, Juli
Tebal : 267 hal.

Nigeria kerap disamakan dengan Indonesia: negeri yang kekayaan alamnya seolah menjadi kutukan, karena sebagian besar rakyatnya tetap sangat miskin dan para pemimpinnya gemar korupsi. Bahkan Jared Diamond dalam bukunya Collapse menyamakan kota Lagos dengan Jakarta. Jadi, membaca novel Nigeria tentu sesuatu yang menarik.

Things Fall Apart mengisahkan hancurnya adat istiadat asli suku Ibo ketika misionaris dan kolonialis memasuki Nigeria.
Tersebutlah Okonwo, seorang pria yang berusaha keras mempertahankan tradisi suku Ibo dan meraih kebesaran sesuai adat sukunya, antara lain dengan menjadi juara gulat, mengerjakan ladang untuk menghasilkan sebanyak mungkin ubi rambat, mengalahkan musuh dalam perang suku, bersikap keras terhadap istri-istrinya, dan mempertahankan kepercayaan lama.
Usahanya cukup berhasil, sehingga Okonwo menjadi orang yang terpandang dalam sukunya, meskipun kemudian ia diasingkan selama delapan tahun karena suatu ketika secara tidak sengaja menembak salah seorang anggota sukunya.
Selama pengasingannya ke rumah kerabat ibunya – sesuai adat sukunya tersebut - masuklah misionaris dan pemerintah asing ke desanya, sehingga ketika ia kembali, keadaan sudah jauh berubah. Pemimpin suku kehilangan kekuasaan, anak laki-lakinya masuk Kristen, anggota suku tidak dapat dipersatukan seperti dulu, bahkan ia dan beberapa pemimpin suku yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap kondisi tersebut ditahan dan dihinakan pemerintah baru yang kini lebih berkuasa. Tak dapat menahan perlakuan tersebut, Okonwo membunuh petugas yang memintanya menghentikan pertemuan yang sedang dipimpinnya untuk mempersatukan kembali sukunya.
Kisah ini berakhir tragis, karena kejadian diatas mengakibatkan Okonwo mengakhiri hidupnya. Hal ini diungkapkan dengan baik sekali pada akhir novel, ketika sahabatnya berkata kepada Komisaris Wilayah, “Lelaki itu salah seorang lelaki terbesar di Umuofia. Kau membuatnya bunuh diri; dan sekarang dia akan dikubur seperti anjing…”
Adat menganggap bunuh diri adalah suatu aib sehingga mereka tidak dapat menyentuhnya, karena itu mereka meminta Komisaris sebagai orang asing untuk mengurus dan menguburkannya.

Half of a Yellow Sun menceritakan masa ketika terjadi perang saudara antara Nigeria Utara dan Selatan (Biafra) pada tahun 1967-70.
Tokoh-tokohnya terdiri dari keluarga pengusaha yang dekat dengan penguasa dan sering memberi suap, kedua anak keluarga tersebut yang masing-masing menjadi dosen dan pengusaha serta kedua suaminya – satu diantaranya orang kulit putih dari Inggris – dan teman-teman mereka, kerabat keluarga tersebut yang menjadi pedagang miskin, pembantu laki-laki dari desa, dan pejabat militer.
Novel ini menggambarkan perjalanan hidup mereka menghadapi perubahan kondisi yang diakibatkan oleh perang saudara.
Perang tersebut bermula dari adanya pemberontakan oleh suku Ibo di selatan terhadap pemerintahan yang dikuasai suku Hausa dan Fulani di utara. Namun pemberontakan berhasil diatasi dan terjadi pembalasan dendam berupa pembantaian terhadap suku Ibo, yang kemudian menyatakan diri merdeka menjadi Negara Biafra. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh pemerintah, sehingga diperangi sampai akhirnya menyerah, kembali berada di bawah Nigeria.
Keadaan di atas tidak dapat dilepaskan dari sejarah Nigeria sejak masa kolonial. Inggris mempercayakan pemerintahan ke suku Hausa dan Fulani di utara karena mereka feudal dan muslim, sedangkan suku di selatan beragam, yaitu Kristen dan bermacam animisme sehingga lebih sulit diatur. Namun pendidikan yang diperoleh suku di selatan kemudian, membuat mereka tidak puas terhadap pemerintah yang mayoritas dikuasai orang utara yang dianggap kurang pandai dan korup, sehingga menimbulkan perang saudara.
Membaca novel ini memberkan gambaran kehidupan kelas bawah hingga kelas atas Nigeria dan keadaan negara di Afrika jika terjadi perang saudara: masalah etnis/klan/suku dan agama serta pembagian kekuasaan yang tidak merata selalu merupakan sumber masalah utama, dan perang disana merupakan sesuatu yang dilakukan dengan sangat kejam.

Novel ini dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama terdiri dari 6 bab (Awal Tahun Enam Puluhan) berjalan agak lamban, lebih banyak menggambarkan kehidupan tokoh-tokohnya. Bagian kedua terdiri dari 12 bab (Akhir Tahun Enam Puluhan) menggambarkan keadaan saat awal terjadinya kudeta dan perang yang berlangsung kemudian. Bagian ketiga, bab 19 s.d. 24 (Awal Tahun Enam Puluhan) menggambarkan kehidupan keluarga tokoh dalam novel sebelum perang. Bagian empat, bab 25 s.d. 35 kembali menggambarkan keadaan perang sampai selesai, yaitu takluknya Biafra atau Nigeria selatan, dan bagaimana keluarga dalam novel ini mempertahankan hidup hingga akhir perang.
Secara keseluruhan , novel ini cukup menarik.

Wednesday, July 16, 2008

Bilangan Fu



Judul : Bilangan Fu
Pengarang : Ayu Utami
Penerbit : KPG
Tahun : 2008, Juni
Tebal : 536 hal.

Berbeda dengan trend novel saat ini – novel religius - Bilangan Fu menawarkan sikap sebaliknya. Novel ini merupakan kritik terhadap fundamentalisme agama, televisi, kedangkalan pikiran, dan ajakan untuk memelihara kelestarian alam serta budaya asli. Tiga tokoh yang terdapat disini masing-masing mewakili sikap fundamentalisme, yang diwakili oleh tokoh Kupukupu alias Farisi, rasionalisme yang diwakili tokoh Yuda, dan postmodernisme yang diwakili tokoh Parang Jati.

Yuda, yang menjadi tokoh utama, adalah pemanjat tebing, yang kemudian bertemu Parang Jati, ketika akan membeli peralatan memanjat. Yuda yang sangat rasional dan semula menganggap remeh Parang Jati, menjadi terkesan ketika Parang Jati dapat menerangkan lokasi pemanjatan dengan menggabungkan ilmu pengetahuan (geologi) dan legenda rakyat, sehingga Yuda kelak menjadikannya sahabat.
Parang Jati, yang bermaksud akan belajar memanjat tebing kepada Yuda dan sebelas orang kawannya sesama pemanjat, juga membuat Yuda berjanji hanya akan melakukan clean climbing, yaitu pemanjatan tanpa merusak tebing dengan bor, paku dan sejenisnya demi menghargai alam.Di tengah semua ini, mereka bertemu dengan Kabur bin Sasus, seorang penganut mistik yang kemudian digigit anjing gila bersama dengan teman Yuda, Pete. Kabur tidak bersedia dibawa ke rumah sakit, sehingga meninggal dunia. Ketika hendak dimakamkan, terjadi keributan karena tiba-tiba muncul Kupukupu, yang melarang Kabur dimakamkan di makam desa dengan alasan ia musrik. Orang-orang desa mengalah, sehingga Kabur dimakamkan di luar desa, dekat tebing lokasi pemanjatan. Namun terjadi kehebohan selanjutnya, karena makamnya kemudian terbuka dan orang desa mengatakan bahwa Kabur bangkit dari kubur.Yuda kemudian menginap di rumah orang desa dan Parang Jati tinggal di rumah pamannya di wilayah tersebut, namun ia seperti merahasiakan sesuatu.
Rahasia itu baru diketahui Yuda ketika ia kembali ke Bandung dan menonton pertunjukan paranormal untuk mengejek irasionalitas. Ia melihat Parang Jati yang berjari enam menjadi bintang pertunjukan diantara orang-orang cacat, yang membuka rahasia Parang Jati selama ini.Parang Jati dan Farisi tidak mengetahui kedua orang tua masing-masing. Keduanya ditemukan oeh Mbok Manyar – yang memiliki kearifan desa – di sendang terakhir yang tidak pernah dikunjungi orang desa, dalam sebuah keranjang. Parang Jati yang tampan dipelihara oleh Suhubudi, orang terkaya di desa yang mengumpulkan orang-orang cacat dan kemudian menjadikan mereka pertunjukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya memelihara alam.Kupukupu, yang terlambat sehari ketika ditemukan oleh Mbok Manyar, dipelihara oleh penduduk desa biasa.
Sejak kecil Kupukupu merasa iri hati dengan Parang Jati dan berusaha menyainginya, hingga suatu hari ia memperoleh beasiswa belajar ke luar negeri. Namun Kupukupu tidak mampu menyelesaikan pelajaran dan sejak pulang berubah nama menjadi Farisi serta menjadi orang fanatik yang mencela adat istiadat penduduk desa yang mengadakan upacara tradisional sebagai dosa.Puncak dari tindakan Kupukupu adalah ketika ia merusak sesajen yang dibuat penduduk dalam suatu upacara adat, sehingga menimbulkan kemarahan penduduk.Sementara itu, Parang Jati berusaha membela penduduk desa dalam melawan perusahaan tambang yang akan menguasai desa tersebut, antara lain dengan menghidupkan kembali adat lama yang menghormati lingkungan, bahkan dengan membentuk aliran kepercayaan baru – hal yang dianggap Kupukupu sebagai dosa tak termaafkan, sehingga ia menghancurkan Parang Jati.
Apakah Kupukupu bekerja sama dengan perusahaan pertambangan? Apa yang sebenarnya terjadi pada Kabur?
Novel ini merupakan kritik terhadap kondisi Indonesia saat ini: kondisi dimana kaum fundamentalis agama monoteis dengan kasar berusaha memaksakan pendapatnya dan menghinakan kepercayaan serta adat lokal yang telah ratusan tahun, kapitalisme yang dibiarkan merusak lingkungan dengan segala cara, lemahnya kekuatan para pecinta lingkungan dan toleransi, dan diamnya massa karena ketiadaan pengetahuan yang memadai serta rasa takut dianggap tidak beriman.

Tidak mengherankan bahwa penulis sebagai orang Jawa berusaha memunculkan kembali kearifan budaya Jawa, antara lain melalui penjelasannya tentang wayang (yang dilengkapi dengan gambar yang dibuat sendiri), legenda, cerita Babad Tanah Jawi, dan seruan perlunya memelihara kepercayaan lokal berdampingan dengan agama monoteis, namun dengan sikap kritis. Hal ini disuarakan oleh tokoh Parang Jati, yang mungkin mewakili pendapat penulis, yaitu “dimana spiritualitas menampung sikap kritis akan kebenaran, sekaligus tahan memanggul kebenaran yang tertunda itu.” Namun “kebenaran jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.”

Spiritualitas yang dirujuk penulis adalah agama-agama Timur, di buku ini dilambangkan dengan bilangan fu, atau nol tetapi tak terhingga, sebagai lawan dari satu, yaitu Tuhan agama monoteis. Dikisahkan bahwa Parang Jati membentuk kepercayaan baru yang bersifat Jawa tapi bukan Kejawen, karena tidak seperti Kejawen yang "tidak merumuskan daya kritis, mengabaikan logika dan tidak analisa sama sekali," kepercayaan ini “milik orang yang rasional tapi kritis pada rasionya.” Namun Parang Jati menolak rasionalisme, karena menganggap rasionalisme identik dengan modernisme dan kapitalisme, yaitu menguasai alam untuk kekuasaannya sendiri, sehingga cenderung merusak.Benarkah agama-agama Timur kritis? Memang tidak ada Tuhan monoteis disana, tapi apakah ada kritik terhadap hal-hal yang biasa dipercaya, seperti reinkarnasi? Bagaimana dengan rasionalisme para ilmuwan, yang justru karena kedalaman pengetahuannya akan alam semesta menjadi sangat menghargai alam dan merasakan spiritualitas darinya? Bagi mereka rasionalisme tidak berarti perusakan alam melainkan sebaliknya dan karena itu pemahaman cara bekerja alam berdasarkan ilmu pengetahuan sangat perlu bagi masyarakat - meski pengetahuan tersebut selalu terbuka untuk revisi dan tidak sempurna serta bisa mengarah kepada bilangan nol: atheisme. Sikap yang diambil Parang Jati memang lebih mudah untuk diterapkan pada masyarakat, meskipun di novel ini hal itupun harus diperjuangkan.

Cukup banyak yang ingin diutarakan penulis dalam satu novel, sehingga terlalu banyak dan di beberapa bagian seperti pelajaran yang terlalu rinci, misalnya uraian panjang tentang legenda, wayang, Babad Tanah Jawi, dan kondisi zaman Orde Baru mungkin hanya perlu bagi yang belum mengenal legenda tersebut atau tidak pernah hidup di zaman Orba. Selain itu banyaknya penjelasan yang cukup rinci kadang membuat saya lupa bahwa yang sedang memikirkan hal tersebut adalah Yuda, karena seolah pikiran penulis sendiri melalui tokoh Yuda.Hal lain, asal usul Parang Jati dan Kupukupu dari keranjang yang ditemukan di sungai merupakan kisah yang terasa klise, demikian pula kematian Parang Jati.
Hal baru yang dilakukan penulis dalam novelnya adalah menghiasinya dengan beberapa ilustrasi yang digambar sendiri, dan menyertakan beberapa kliping berita surat kabar sebagai pelengkap cerita.
Secara keseluruhan novel ini cukup menarik, meskipun bergaya lebih populer namun banyak yang dapat disampaikan, dan mungkin dapat mengubah para pembaca Indonesia agar lebih menghargai lingkungan dan budaya lokal.

Sunday, July 06, 2008

A Portrait of the Brain



Pengarang : Adam Zeman
Penerbit : Yale University Press
Tahun : 2008
Tebal : 246 hal.

Sudah lama diketahui, bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui cara bekerja otak adalah dengan meneliti kelainan atau kerusakan otak yang dialami para pasien yang mengalami hal tersebut.
Ditulis dengan gaya seorang dokter yang menerangkan kasus-kasus yang pernah ditanganinya, Prof. Zeman menguraikan bagaimana penyimpangan sedikit saja pada satu molekul, sel, atau gen yang membentuk otak bisa memberikan pengaruh yang sangat berarti kepada emosi, pikiran, dan kesehatan, yang dapat mengakibatkan penyakit berat hingga kematian.
Betapa satu jenis molekul saja dapat berpengaruh besar pada hidup seseorang diuraikan penulis melalui kisah seorang pasiennya yang mengalami kelelahan setiap pagi sehingga hampir tidak bisa bangun dari tidurnya, bahkan akhirnya menjadi koma. Ternyata hal tersebut disebabkan adanya disorder pada serat otot yang mengakibatkan kekurangan supply oksigen ke otak ketika tidur. Tidak mudah menemukan hal ini, karena kekurangan hormon adrenal - yang dibutuhkan ketika sedang stress -, dan narcolepsy, yang memerlukan tidur sangat banyak juga tampak seperti kelelahan kronis atau bahkan kemalasan.

Penulis juga menguraikan bagaimana satu molekul dapat mengakibatkan kematian
Penghapusan satu molekul, satu base nukleotida dari gen yang biasanya memungkinkan sel arah merah memproduksi protein untuk sandaran protein lain di dinding sel darah merah mengacaukan produksi protein, sehingga dinding sel darah merah menjadi tidak stabil, sehingga mengubah bentuk sel dalam darah. Gen yang sama juga aktif di otak, sehingga hilangnya protein ini memperpendek hidup sel-sel di bangsal ganglia yang diperlukan untuk menjaga kemampuan gerak dan pikiran sebagaimana seharusnya. Mereka yang mengalami kelainan ini akan kehilangan kemampuan mengendalikan gerakan dan pikirannya sehingga tidak dapat duduk tenang dan terus bergerak/bepergian serta berbicara sehingga kepribadian aslinya hilang, dan setelah bangsal ganglia semakin menyusut, terjadi kematian.
Kelainan protein lainnya yang dapat menyebabkan kematian adalah scrapie agent, yang menyebabkan spongiform disorder. Hal ini disebabkan prion protein. Protein ini terletak di selaput berlemak yang menutup setiap sel di otak, dan dikendalikan oleh gen prion, Sebagaimana protein lainnya, setiap waktu tertentu terjadi pergantian. Namun molekul protein ini tidak begitu stabil, karena bentuk tiga dimensinya dapat berubah menjadi tidak tercerna ketika waktunya tiba bagi sel untuk melepasnya.. Proses ini merupakan suatu proses berantai sehingga makin banyak molekul yang bentuknya tidak normal, sehingga ketika molekul baru disintesis dan ditransformasikan, akumulasinya akhirnya kekacauan di otak. Pengaruh hal ini terhadap penderita mula-mula adalah pada emosi: yaitu merasakan kekhawatiran tanpa dasar, paranoia, dan hilangnya memori serta pikiran secara bertahap. Hal yang menyebabkannya tidak begitu jelas. Namun kemungkinan berasal dari makanan hewani yang diproses, yang berasal dari sapi yang diberi makanan berupa sisa sapi potong (bagian otak dll yang dihancurkan) yang diolah untuk makanan sapi. Berdasarkan penelitian di Afrika, diketahui bahwa otak manusia atau binatang yang mengandung virus kuru dapat menimbulkan kelainan ini kepada yang memakannya.
Penulis juga menguraikan tentang narcolepsy, yang disebabkan oleh hilangnya satu neurotransmitter.

Hal lain yang menarik adalah penjelasan tentang epilepsy dan déjà vu.
Epilepsi disebabkan adanya sekumpulan sel otak yang tidak mampu mencapai tempatnya dengan benar sehingga mengelompok di suatu tempat yang tidak seharusnya. Sebagaimana diketahui, saat pertumbuhan awalnya, cortex dibentuk dari sel-sel induk yang berada pada dinding ventricles, yang kemudian mengisi ruangan yang menempati pusat otak. Sel (neuron) yang tumbuh disana harus merambat ke cortex menuju tempatnya masing-masing, dipandu oleh sel radial yang meluas seperti tali pemanjat, melalui bidang yang terdiri dari axon yang juga selalu berubah karena pertumbuhan. Dan sel yang tumbuh belakangan harus mencapai tempat yang lebih jauh. Tidak heran kadang neuron tidak mencapai tempat yang seharusnya, sehingga menyampaikan sinyal listrik tanda distress, meminta pertolongan, yang mengakibatkan serangan epilepsi.
Mengenai kondisi epilepsy sendiri, penulis mengutip uraian novelis Fyodor Dostoevsky – yang menderita partial epilepsy – bahwa serangan epilepsy menimbulkan ”kebahagiaan yang tidak mungkin (dapat dialami) dalam keadaan biasa, dan konsepsinya tidak dapat diketahui orang lain. Saya merasa penuh harmoni dalam diri sendiri dan seluruh dunia, dan perasaan tersebut sangat kuat dan manis sehingga untuk beberapa detik kebahagiaan (bliss) seseorang dapat menyerahkan sepuluh tahun kehidupan, bahkan seluruh hidup.” Demikian pula perasaan yang dialami pasiennya.

Bagaimana dengan déjà vu?
Sebagian besar orang pernah mengalami deja vu. Berdasarkan penelitian, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak seseorang bermimpi, semakin tinggi kemungkinan mengalami deja vu. Namun semakin tua hal ini akan semakin berkurang. Penderita epilepsy juga mengalami hal ini lebih daripada lainnya.
Apakah penyebabnya? Bagian otak yang berkaitan dengan penciuman terletak di limbic lobe, berdekatan dengan amygdala, yang berkaitan dengan emosi, dan sekitar hippocampus, yang berkaitan dengan memori. Dengan demikian aroma parfum tertentu misalnya, dapat menimbulkan kenangan dan emosi tertentu. Limbic sistem juga merupakan sumber dari serangan epilepsi.
Benarkah deja vu berkaitan dengan memori? Terdapat tiga teori mengenai hal ini. Namun teori yang diyakini adalah sebagai berikut. Sebagian dari jaringan memori di limbic lobe diperuntukkan untuk pengenalan, yaitu untuk menentukan apakah hal yang sedang dialami tersebut familier (biasa) atau tidak. Jika sistem memori menjadi aktif secara spontan, seperti dalam serangan epilepsi, apapun pengalaman yang dialami akan ditandai secara salah dan dianggap biasa. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa mereka yang mengalami deja vu tidak dapat menemukan kejadian sebelumnya (previous encounter) dengan sekumpulan keadaan yang menurut kita telah dikenal dengan baik.
Teori ini didukung oleh eksperimen terhadap sekelompok anak yang mengalami luka pada hippocampusnya sewaktu mereka kecil. Ketika dewasa, mereka sulit mengingat hal-hal rinci mengenai kehidupannya dari hari ke hari, akan tetapi tidak mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah. Dengan demikian disimpulkan bahwa mereka menggunakan sistem memori yang terdapat di luar hippocampus, yaitu bagian yang memberikan kita rasa pengenalan dan familiarity, dalam ketiadaan mengingat kembali (recall). Bagian ini, disebut parahippocampal, adalah juga sumber pengalaman deja vu.

Masih terdapat penjelasan penulis yang menarik lainnya, misalnya tentang front temporal dementia, yang diawali dengan hilangnya kemampuan berbahasa secara bertahap, yang disebabkan menyusutnya otak kiri, yang bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa dan logika. Hilangnya dominasi otak kiri dapat menyebabkan munculnya kemampuan otak kanan, misalnya dalam bentuk peningkatan kemampuan atau kreativitas seni. Namun gangguan dalam pembagian kerja ini juga memberikan sumbangan pada gangguan fungsi pada penderita schizophrenia, dan jika terjadi di usia lanjut dapat mengakibatkan kematian. Jika penyusutan neuron terjadi pada otak kanan (yang lebih jarang terjadi) , maka yang terjadi adalah perubahan perilaku dan kepribadian, antara lain tidak memperhatikan pakaian dan kebersihan, kehilangan kesopanan, penurunan perhatian pada keluarga dan teman, penarikan diri, yang diawali dengan kesulitan mengenai wajah dan orang lain.

Uraian yang terdapat dalam buku ini cukup sederhana dan tidak terlalu terinci sehingga mudah dipahami, namun demikian tidak memberikan penjelasan yang lebih menyeluruh dan lengkap tentang cara bekerja otak, hanya penemuan-penemuan terakhir mengenai disfungsi otak yang dapat membantu kita memahami betapa besar peran otak terhadap emosi, pikiran, kesehatan tubuh, dan betapa satu penyimpangan kecil saja dapat mengubah kepribadian, perilaku, hingga mengakibatkan kematian.
Kesimpulannya, otak disusun dari atom, yang secara bertingkat membentuk molekul, organelle, sel dan selaput yang terdiri dari jaringan milyaran neuron (sel otak). Otak adalah seperti sebuah mesin, dan daripadanya muncul pikiran. Oleh karena itu pikiran (mind) tidaklah terpisah dari otak (materi): mind is at home with matter.

Adam Zeman adalah guru besar neurology kognitif dan perilaku di Peninsula Medical School, dan penulis buku Consciousness: A User’s Guide.

Sunday, April 13, 2008

FOOD IN HISTORY



Judul : Food in History
Pengarang : Reay Tannahil
Penerbit : Folio Socety
Tahun : 2007
Tebal : 381 hal.

Buku ini menguraikan tentang sejarah makanan dalam peradaban manusia, dan bagaimana makanan mempengaruhi pembentukan masyarakat, pertumbuhan penduduk dan ekspansi urban, menentukan teori ekonomi dan politik, memperluas wawasan perdagangan, mengilhami perang dan dominion dan mempercepat penemuan dunia baru.
Makanan juga memainkan peranan dalam agama, untuk menentukan keterpisahan antara satu aliran dengan lainnya dalam bentuk tabu makanan; dalam sains, dimana observasi koki prasejarah memberikan dasar terhadap awal mula kimia; dalam teknologi, dimana water milling kincir air kemudian menjadi alat revolusi industri; dalam kesehatan, dimana sebagian besar berdasarkan prinsip pengaturan makanan sampai dengan abad 18, dalam perang, dimana pertempuran ditunda sampai masa penen, dalam pembedaan kelas, yang terlihat dari makanan yang disajikan, dan hubungan antar manusia, antara vegetarian dan pemakan daging..

Uraian dibagi dalam enam bagian, yaitu:
1. Zaman prasejarah
2. Asia, Mesir dan Eropa 3000 SM s.d. 1000M
3. Asia sampai dengan Zaman Pertengahan dan Dunia Arab
4. Eropa 1000 – 1492 M
5. Dunia yang Meluas 1492 – 1789
6. Dunia Modern 1789 sampai Saat Ini

Banyak hal-hal menarik dalam buku ini. Misalnya, mengapa orang India pantang memakan sapi bahkan memujanya? Dilihat dari sejarahnya, pada masa kebudayaan Indus, mereka memakan segala jenis binatang termasuk kerbau. Namun dari peninggalan arkeologi, banyak terdapat gambar sapi pada lempeng yang mungkin digunakan untuk perdagangan, sehingga kemungkinan besar sapi adalah lambang kelompok pendatang yang dalam proses asimilasi dengan kebudayaan India; mungkin pedagang atau gelombang awal bangsa Indo Eropa. Oleh karena tidak semua sapi tidak tahan dengan iklim India, maka sapi harus dilindungi. Selanjutnya kedatangan bangsa Arya yang gemar mengkonsumi daging sapi dan susu membuat perlindungan terhadap sapi semakin diperlukan, sehingga akhirnya dilarang sama sekali atas nama agama.

Lalu darimana muncul prinsip vegetarian? Vegetarian banyak terdapat di India karena berkaitan dengan kepercayaan Budha dan Jain yang mempercayai reinkarnasi, yaitu setiap orang setelah mati akan hidup kembali dalam bentuk bermacam binatang, tergantung karmanya. Dengan demikian binatang dihindari sebagai makanan. Sedangkan agama Hindu membuat penganutnya percaya bahwa memakan makanan yang disiapkan oleh kasta yang lebih rendah akan membuat kasta mereka menurun menjadi sama rendah.
Selanjutnya, mengapa ada tabu memakan babi? Berdasarkan bukti sejarah, sampai dengan tahun 1800 S.M, babi belum merupakan tabu. Namun kemudian datang suku pengembara yang menyapu wilayah Eropa Timur dan Asia Barat sejak tahun 200 S.M. Suku ini terbiasa dengan domba, dan membenci babi karena sulit digembalakan, berstamina rendah dan tidak mampu berada di rumput. Bangsa Indo Eropa ini beserta budayanya turut mempengaruhi penolakan terhadap babi. Selain itu, tabu makanan juga dibuat lebih untuk kepentingan doktrin daripada pola makan, yaitu sebagai lambang ekslusivitas, untuk membedakan diri dari pihak yang tidak sefaham. Termasuk disini larangan akan binatang amfibi, darah dan burung yang tidak bisa terbang.

Tekanan populasi pada sekitar abad ke 5 M menyebabkan bangsa-bangsa barbar (Goth, Vandal.Frank) berusaha mencari wilayah baru untuk ternak mereka, sehingga mereka terus menerus menyerbu wilayah Romawi hingga akhirnya menyerbu Roma. Penyerbuan terhadap kota mengakibatkan meningkatnya populasi yang kembali ke desa, karena ternyata kota menarik penyerbu. Namun penurunan populasi kota turut menurunkan peradaban - karena kota dibentuk oleh penduduknya – hingga akhirnya perekonomian kembali ke sistem barter.

Berdasarkan sejarah juga diketahui bahwa sejak zaman Yunani, ketika terjadi perang Pelopponesian, mereka yang tinggal di kota Athena dapat memperoleh makanan yang memadai, namun di pedesaan petani yang ladangnya hancur mengalami kelangkaan pangan sehingga hanya memakan sayuran, lobak, yang mengakibatkan mereka pergi ke kota mengadu nasib, karena perbaikan pertanian memerlukan waktu tiga empat tahun utnuk mendapatkan hasil memadai. Untuk membantu kaum miskin, maka pemerintah membuat usaha sporadis. Usaha ini terus berlanjut sampai di zaman Romawi.
Sejak 6000 S.M Roma mengalami kekurangan pangan dan kelaparan, namun baru pada tahun 123 S.M, ketika biaya hidup meningkat pada tingkat yang membahayakan, Kaisar Gaius membuat kebijakan bahwa semua penduduk dapat membeli padi dari lumbung/cadangan pemerintah dengan harga lebih rendah dari pasar.
Pada tahun 72 S.M. grain gratis dibagikan kepada empat puluh ribu laki-laki di Roma dan pada dekade-dekade berikutnya jumlah orang yang menerima meningkat, sehingga Julius Caesar merasa hebat ketika bisa memotong jumlahnya hingga menjadi hanya 150 ribu orang. Namun lima puluh tahun kemudian jumlahnya meningkat lagi menjadi 320 ribu atau sepertiga jumlah penduduk dalam sedekah Roma. Makanan ini diimpor dari Mesir, Sisilia dan Afrika Utara.
Di lain pihak, kegemaran akan rempah, yang ketika itu dimonopoli pedagang Arab sampai dengan tahun 100 M – yang menyembunyikan asal-usul daerah penghasil rempah - membuat bangsa Romawi kemudian berlayar sampai ke Malabar, India untuk membeli rempah-rempah. Kelak hal ini juga akan mendorong bangsa Eropa lainnya berlayar jauh ke Asia dan selanjutnya melakukan kolonisasi.

Zaman dahulu menyiapkan makanan sendiri bukanlah hal yang mudah, karena peralatan masih primitif, bahan bakar sulit dan tempat tinggal sempit sehingga tidak ada tempat memadai untuk membuat makanan. Oleh karena itu di zaman Romawi telah ada pihak yang khusus mengolah grain menjadi tepung dan selanjutnya roti, juga toko yang menjual makanan seperti babi panggang, ikan asin, keju, olive, dll. .
Keterbatasan teknologi juga membuat penyediaan makanan bagi pelaut yang harus berlayar berbulan-bulan cukup sulit, yang baru mengalami kemajuan cukup pesat setelah muncul teknologi pengalengan makanan dan pendingin.

Abad 8 dan 9 merupakan masa gelap. Kelangkaan pangan membuat bangsa Skandinavia menyerbu Eropa, menghancurkan gereja,biara,dan merampas hasil panen dan ternak. Sementara di lembah Rhine jamur beracun pada rye (sejenis gandum) mengakibatkan kelaparan selama beberapa tahun, dan di selatan, kedatangan bangsa Arab membawa tanaman yang menghancurkan pertanian. Pada zaman itu, banyaknya kelaparan memunculkan kanibalisme.
Sementara itu, sepanjang sebagian besar sejarah, minuman yang diolah dari tumbuh-tumbuhan merupakan minuman pokok, karena sebelum teknologi cukup maju, air putih rentan terhadap adanya kuman, terutama jika populasi cukup padat.

Selanjutnya perkembangan teknologi membuat kini setiap orang dapat memperoleh makanan apapun pada saat musimnya, dimanapun ia berada. Namun demikian, sebagaimana kita lihat pada masa kini, betapapun majunya teknologi, penyediaan makanan masih merupakan masalah penting dan pokok bagi banyak negara. Masih banyak bangsa yang miskin dan penduduknya sulit memperoleh makanan, harga pangan terasa mahal, pemerintah masih harus memberikan subsidi, dan mengolah makanan merupakan hal sulit karena bahan bakar tidak mudah diperoleh. Ternyata, masalah makanan di zaman kini - bagi negara miskin terutama – masih tidak jauh berbeda dengan di zaman Romawi. Lebih mengerikan lagi, jika diingat bahwa pada tahun 2050 jumlah penduduk dunia akan menjadi 7,5 miliar, 90%nya akan berada di negara dunia ketiga (negara miskin), dan lebih dari 50% tinggal di kota, yang berarti tuntutan konsumsinya lebih tinggi, sementara lahan pertanian terus menyusut dan terdapat perubahan iklim yang cukup drastis. Maka pangan masih akan terus menjadi masalah utama bagi manusia.

Buku ini cukup menarik, memberikan banyak pengetahuan baru tentang makanan sepanjang sejarah, di berbagai tempat di dunia, termasuk gambaran bagaimana cara memasak dan menu di zaman dulu serta perkembangan tata cara makan.