Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Friday, November 16, 2018

Kelana



Judul                   :   Kelana – Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika
Pengarang           :  Famega
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   250 halaman
Tahun                  :   2018, Juli


 Saat ini sudah banyak buku perjalanan ditulis oleh traveler Indonesia yang bepergian ke berbagai belahan dunia, namun sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan melalui udara, atau jika pun melalui darat, masih dalam satu benua, seperti Trinity dan Jasmine yang mengelilingi Amerika Latin.  Famega, yang menulis buku ini melakukan perjalanan sendirian hanya melalui darat dan laut, dengan moda transportasi kapal, kereta api dan bus umum.


Penulis memulai perjalanannya dari pelabuhan Dumai, Riau dengan menyeberang ke Malaka menggunakan kapal ferry. Saya baru tahu bahwa kita dapat menyeberang ke Malaysia melalui Riau. Sebagian besar dari kita mungkin juga hanya mengetahui bahwa penyeberangan ke negara lain hanya dari Batam ke Singapore.  Selanjutnya dari Malaka Famega meneruskan perjalanan dengan bus dan kereta ke Bangkok, Hanoi, Vientine, dan Beijing. Dari Beijing ia ke Mongolia menggunakan kereta trans Mongolia, selanjutnya ke Rusia dengan kereta trans Siberia menuju Eropa Timur, mengunjungi Praha, Bulgaria, dan selanjutnya ke Spanyol dan Maroko.


Banyak hal menarik yang diuraikan Famega dalam buku ini. Misalnya kebaikan penumpang kereta ekonomi Cina yang bergantian memberinya tempat duduk dan makanan selama 24 jam - meskipun ia tidak paham Bahasa Cina dan mereka tidak bisa Bahasa Inggris - karena ia penumpang kereta berdiri. Mega kehabisan karcis kereta lainnya sehingga ia terpaksa membeli karcis kereta berdiri karena  mengejar waktu agar tiba di Rusia sesuai dengan tanggal visa yang diperolehnya.


Bagian pertama buku tidak banyak menceritakan tentang interaksinya dengan penduduk lokal, karena perjalanan dari Malaka ke China dilakukan non-stop, sedangkan dari Cina ke Mongolia dan Rusia terkendala oleh keterbatasan bahasa, sehingga tidak banyak terdapat percakapan dengan penduduk lokal atau orang lain yang ditemuinya, meskipun di Mongolia ia sempat mengikuti tour beberapa hari dengan beberapa turis Barat.  Baru setelah di Eropa Timur dan seterusnya terdapat kisah tentang penduduk lokal.
Selain menginap di hostel, Famega tinggal di rumah-rumah penduduk lokal dengan bantuan couchsurfing, aplikasi yang memungkinkan seorang pelancong menghubungi penduduk kota yang akan dikunjungi sebelum ia tiba dan menginap gratis di rumahnya. Melalui cara ini ia mendapatkan teman-teman baru yang mengajaknya berkeliling kota-kota yang dikunjungi. Disamping couchsurfing, penulis mengenal penduduk lokal melalui hitchhiking, atau menumpang mobil secara gratis, yang merupakan hal baru baginya.


Perjalanan sendirian melalui darat dengan kendaraan umum kereta api dan bus mengingatkan saya pada Paul Therox, yang selalu melakukan perjalanan melalui darat sendirian. Namun Famega telah mendapat banyak kemudahan dengan adanya internet beserta segala aplikasi di dalamnya. Disamping itu Famega tidak mencatat setiap dialog atau keadaan alam dengan rinci maupun bertemu orang-orang berpengaruh di daerah yang dikunjunginya sebagaimana Theroux, yang memiliki pengamatan sangat tajam terhadap hal-hal yang ditemuinya. Mungkin karena tujuan Theroux bepergian adalah memang untuk menulis buku, sedangkan tujuan Famega tidak sejauh itu, sehingga bukunya lebih merupakan catatan harian selama perjalanan. Meskipun demikian, buku ini cukup menarik, karena memberikan informasi bahwa sebagai bangsa Indonesia yang kemana-mana harus mengurus visa terlebih dulu dengan banyak persyaratan, seseorang tetap dapat bepergian ke tiga benua dalam waktu lama – asalkan bersedia mempersiapkan empat visa terlebih dulu dengan segala urusannya. Selain itu, buku ini juga memberi pengetahuan kepada perempuan muda lainnya, bahwa adalah cukup aman bagi seorang perempuan untuk pergi kemana pun sendirian pada zaman ini melalui jalan darat. 


Pelajaran yang didapat oleh penulis – dan  pembaca – adalah bahwa selama kita cukup berhati-hati dan berani, banyak orang baik yang akan bersedia membantu, dan di balik perbedaan ras dan iklim, pada dasarnya masih banyak orang baik di bumi ini.

Sayangnya ukuran buku ini sangat kecil, covernya kurang menarik, dan gambar peta yang menunjukkan rute perjalanan Famega berwarna, sehingga membuatnya tidak jelas dibaca, demikian pula beberapa foto yang terdapat di dalamnya kurang tajam, padahal harga buku ini cukup mahal. Mungkin karena biaya percetakan sekarang semakin tinggi?   

Friday, October 14, 2016

Dark Star Safari & The Last Train to Zona Verde



Judul    :       Dark Star Safari: overland from Cairo to Cape Town 
                    The Last Train To Zona Verde: my ultimate African safari
Penerbit:       Houghton Mifflin Company & Mariner Books, USA
Pengarang:   Paul Theroux
Tahun   :       2003 & 2014
Tebal    :       472 & 353 halaman



Salah satu manfaat buku perjalanan adalah, kita dapat bepergian kemana pun, bahkan ke tempat-tempat yang paling berbahaya hanya dengan membaca buku di rumah yang nyaman. Bagi pembaca yang berjiwa petualang namun tidak memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia – baik karena kendala waktu, dana maupun kekuatan fisik - maka membaca buku perjalanan nyaris seperti melakukan petualangan itu sendiri.

Bahkan di abad 21, benua Afrika masih seperti heart of darkness – meminjam judul novel Joseph Conrad – karena dibandingkan benua lainnya yang mengalami kemajuan pesat dan relatif aman, Afrika masih terasa berbahaya dan tertinggal: minim infrastruktur, didera banyak penyakit, kemiskinan parah, dan perang berkepanjangan, sehingga tidak banyak orang berani melakukan perjalanan biasa kesana, dan tidak banyak informasi yang dapat kita ketahui tentang wilayah tersebut. Padahal benua tersebut dihuni satu miliar jiwa atau sepertujuh penduduk dunia dan pertumbuhan populasinya tergolong yang paling pesat di dunia. Kita pada umumnya  hanya tahu bahwa disana banyak terdapat  padang-padang savanna dan  taman-taman nasional yang menjadi atraksi turis untuk melihat alam dan binatang liar seperti singa, jerapah, gajah, burung-burung, dan sejenisnya.  Atau bahwa disana banyak terdapat anak-anak kelaparan dan berbagai epidemi.

Paul Theroux, yang terkenal dengan buku perjalanannya melintasi Asia dengan kereta The Great Railway Bazaar menjadi anggota Peace Corps pada tahun 1970-an di wilayah Uganda dan Malawi, dengan menjadi guru dan kemudian mengajar di universitas selama beberapa tahun sebelum meninggalkan Afrika menjelang Idi Amin berkuasa. Sebagai pemuda yang baru lulus sekolah dan idealis, pengalaman mengajar di Afrika turut membentuk karakternya dan meninggalkan kenangan indah, membuatnya ingin selalu kembali untuk melihat perkembangan Afrika.
Tiga puluh tahun sesudahnya,  yaitu pada 2002 Theroux kembali mengunjungi Afrika melalui perjalanan darat, khususnya kereta api, dari Kairo menuju Cape Town melewati Sudan, Ethiopia, Kenya, Uganda,  Tanzania, Mozambique, Zimbabwe, dan berakhir di Afrika Selatan. Perjalanan ini menjadi buku Dark Star Safari.
Sepuluh tahun kemudian, pada 2012 Theroux mencoba melintasi Afrika melalui darat dari arah selatan ke utara  melalui bagian barat, yaitu dari Cape Town ke Namibia, Angola, Kongo, Gabon, Kamerun, Nigeria, dan berakhir di  Timbuktu, Mali. Namun minimnya infrastruktur dan kondisi kota-kota Afrika yang dilihatnya semakin memburuk dan berbahaya – Nigeria mirip dengan Angola dalam hal korupsi dan kemiskinannya, ditambah adanya Boko Haram, Lagos dan Kinshaha (Kongo) hanya versi besar Luanda (ibu kota Angola) yang kumuh, dan wilayah pedesannya hanya berisi “idle youth, ailing villagers, beggars, rappers”, Mali dikuasai Al Qaeda, membuat Theroux merasa perjalanannya hanya suatu kesia-saan, sehingga ia membatalkan rencananya dan mengakhiri perjalanannya hanya sampai di Zona Verde, Angola. Stasiun kereta terakhir di utara, namun setelahnya tidak ada kereta atau jalan darat ke Kongo.  

Apa yang membuat penulis merasa sedih? Kota-kota yang semakin besar namun kehilangan ciri khasnya karena kini dipenuhi perumahan kumuh yang kemiskinannya tiada duanya di dunia, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, yang melenyapkan padang-padang savanna atau daerah hijau, pemerintahan yang luar biasa korup dan tak peduli pada rakyat, dan penduduk yang apatis, sangat pemalas dan agresif terhadap orang asing.

Dalam Dark Star Safari kita bisa mengetahui bahwa pada tahun 2000-an Sudan masih belum begitu berbahaya; penulis bisa menjelajah padang pasir berhari-hari dan mengunjungi lokasi dimana terdapat banyak pyramid mini, kemudian ke Malawi yang masih mnejadi bagian dari Ethiopia, bertemu teman-teman lama dan murid-murid yang telah menjadi orang sukses di Uganda yang telah relatif aman, hingga ke Zimbabwe yang kala itu belum bangkrut dan tampaknya masih ada harapan. Namun dalam buku ini pun pembaca dapat mulai merasakan kemunduran jika tidak bisa dibilang keruntuhan Afrika: sekolah dan universitas tempat Theroux mengajar dulu gedungnya telah hancur, perpustakaannya kosong karena bukunya habis dicuri, dan pasangan Inggris yang dahulu mendirikan sekolah dan mengabdikan sisa hidupnya untuk mengajar disana seperti tidak pernah berada disana - tidak seorangpun mengingatnya lagi, sekolahnya hancur dan makamnya terlupakan.

Theroux selalu melakukan perjalanan dengan transportasi umum seperti kereta dan bus serta berbicara dengan setiap orang yang ditemuinya di perjalanan dan menuliskan dialognya dengan orang-orang tersebut secara detil, serta melakukan kunjungan kepada penulis atau orang berpengaruh setempat untuk mengumpulkan informasi tentang wilayah yang dikunjunginya. Informasi dan pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan penduduk setempat ini ditulis dengan sangat jujur, sesuatu yang mungkin membuatnya disebut sebagai penulis arogan atau sinis. Ia menulis dengan jujur ketidak-sukaannya pada lembaga-lembaga donor Barat yang membantu negara-negara Afrika dengan jip mewahnya, karena menurut penulis kehadiran mereka bertahun-tahun tidak mengubah apa-apa, sebab sumber permasalahan adalah pemimpin-pemimpin Afrika yang sangat korup dan mengkhianati rakyatnya sendiri, sementara rakyatnya yang putus asa demikian pemalasnya sehingga tidak melakukan apa pun, bahkan membersihkan rumah dan halaman sendiri pun tidak, sehingga kota-kota Afrika sangat kotor.
Penulis juga mengungkapkan kekhawatirannya akan kehadiran imigran Cina di Afrika. Selama ini Cina dikenal tidak mempedulikan etika para pemimpin Afrika; selama perdagangan dengan Afrika menguntungkan, mereka akan melakukan transaksi tidak peduli pemerintahnya otoriter atau korup. Demikian pula para imigran Cina, mereka tidak peduli dengan penduduk setempat asalkan bisnisnya menguntungkan, dan penduduk Afrika tampaknya tidak akan bisa bersaing dan akan kalah dari imigran Cina. Hal ini tidak disadari para pemimpin Afrika yang tidak peduli rakyat. 

Membaca kedua buku ini saya mendapat gambaran bahwa mungkin tidak hanya Afrika, tapi  sebagian besar wilayah dunia mengalami beberapa masalah yang sama: pertumbuhan penduduk yang terlalu pesat, degradasi lingkungan cukup parah, meningkatnya derajat kemiskinan karena penduduk miskin berpindah ke kota-kota yang menjadi mega city, dan menurunnya tingkat keamanan antara lain karena meningkatnya radikalisme, dengan tingkat terparah terdapat di Afrika.
     
Pengamatan penulis yang mendalam baik terhadap alam sekitar maupun penduduk lokal, simpatinya terhadap rakyat biasa yang harus berjuang keras untuk hidup atau dikhianati pemerintahnya sendiri, dan kritiknya yang jujur dan tajam terhadap hal-hal yang menurutnya tidak adil membuat buku-buku perjalanan Theroux bagi saya merupakan yang terbaik di antara buku-buku perjalanan yang pernah saya baca.
Seperti membaca sebuah novel yang mengharukan.
 

Thursday, May 30, 2013

The Naked Traveler 3 dan 4



Judul : The Naked Traveler 3 dan 4
Pengarang: Trinity
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun : Mei 2011 dan September 2012
Tebal : 324 dan 260 hal



Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca Naked Traveler 1, namun tidak meneruskan membaca serial lanjutannya maupun blognya. Baru beberapa hari terakhir mencoba membaca kembali buku serial ini ketika sedang malas membaca apapun karena sudah terlalu banyak kesibukan di kantor. Ternyata sangat ringan dan menghibur, seperti mendengar kisah teman lama yang menyenangkan. Mungkin karena umur penulisnya yang tidak jauh berbeda dengan saya sendiri, dan gaya bertuturnya yang mengingatkan pada teman-teman dekat saya.

Berbeda dengan tulisan perjalanan Agustinus Wibowo yang bernada serius – sehingga penulisnya sampai pada kesimpulan: bukan destinasi lagi yang penting, tapi yang lebih penting adalah pengalaman dengan dan pemahaman akan orang-orang yang ditemui selama perjalanan, yang kemudian turut memperkaya dan membentuk sang penulis (traveler) - maka tulisan Trinity lebih banyak berisi kesan-kesan singkat di banyak tempat dan sebagian lagi berisi tips atau panduan praktis melakukan perjalanan, yang dapat diikuti siapa saja yang berminat. Jadi selain mendapatkan cerita tentang keadaan di suatu tempat, pembaca juga mendapatkan panduan cukup rinci bagaimana cara mencapai kesana serta perbandingan antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Dalam buku 4, artikel di dalamnya dibagi atas beberapa bagian, antara lain perjalanan ke wilayah di Indonesia, Afrika, ziarah ke Israel dan Petra, serta beberapa wilayah di Asia, antara lain Cina, Malaysia, Singapura dan Jepang, selain beberapa artikel khusus tentang pantai dan laut.

Yang menarik dari perjalanannya di Indonesia mungkin kisahnya ketika ke Raja Ampat, yang menurutnya sangat indah, sehingga,”…baru kali ini pula saya bisa menitikkan air mata saking kagumnya melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Ya, indahnya alam Indonesia itu bak surga, tapi Raja Ampat itu adalah surga lantai kesembilan!” Meskipun untuk kesana usaha yang dilakukan cukup berat dan pengarang sempat harus naik kapal perintis yang parah kondisinya, sebelum menjelajahi kembali pulau-pulau disana yang lebih terpencil.

Kisah perjalanannya di Namibia ketika diundang kedubes RI juga menarik, karena tentu tidak banyak dari pembaca yang mengenal negeri tersebut. Pengarang merekomendasian Namibia sebagai negara Afrika yang dapat dikunjungi traveler pemula, karena aman dan indah, sedangkan Cape Town, meskipun kotanya sangat indah, tidak aman untuk dikunjungi sendirian atau tanpa ikut rombongan tur.

Sebagai penggemar pantai, salah satu tulisan yang saya sukai adalah artikel mengenai kriteria pantai ideal dan 9 pantai terbaik untuk berenang di Indonesia, yang akan sangat membantu untuk memutuskan pantai mana yang patut dikunjungi. Menurut pengarang, kesembilan pantai itu adalah: pulau Jaam distrik Misool di Raja Ampat, pantai Ngurbloat kepulauan Kei di Maluku, pulau Nda’a di Wakatobi, pantai Ratanggero Sumba Barat, Pink Beach pulau Komodo, pulau Peucang Banten, dan pantai Tanjung Tinggi Belitung. Sedang pantai paling indah yang pernah dikunjungi pengarang adalah Maldives, sehingga ia merasa menyesal pernah kesana, karena pantai itu kemudian menjadi standar untuk membandingkan dengan pantai-pantai lainnya – yang tentu saja tidak ada yang sebanding. Jadi Maldives ternyata benar-benar indah!

Sebagian besar kesan yang ditampilkan dari tempat-tempat yang dikunjungi adalah hal-hal yang menyenangkan, misalnya pemandangan yang indah, pengalaman yang unik dan menarik, sehingga membuat pembaca ingin bepergian ke tempat-tempat tersebut. Beberapa perkecualian adalah kesan tentang Cape Town dan Beijing, dimana pengarang merasa tidak nyaman karena penduduk kota-kota tersebut tidak menyenangkan.

Buku 3 banyak berisi tips dan pengalaman melakukan perjalanan, sedangkan kisah mengenai tempat-tempat yang dikunjungi tidak sebanyak di buku 4. Yang menarik antara lain kesannya ketika berenang di Laut Mati, naik unta ke gunung Sinai, dan beberapa tempat romantis – Taj Mahal, Petra, Venice dan danau Tekapo Selandia Baru - yang membuatnya sedih karena cocoknya dikunjungi bersama pasangan. Sementara itu pengalamannya mengunjungi dan menginap di rumah teman-teman sekolahnya di India membuat kita mengetahui betapa sederhana dan susahnya kehidupan disana.

Sebagai pencinta pulau dan laut, buku Trinity dapat mendorong pembacanya untuk menjelajahi pulau-pulau dan pantai Indonesia yang sangat indah namun ironisnya sebagian besar dikelola oleh orang asing, sehingga orang Indonesia sendiri jika ingin kesana terasa sulit karena hampir semua lokasi terbaik telah dimiliki oleh mereka sehingga menjadi sangat mahal untuk ukuran Indonesia. Kadang saya juga tak habis pikir, apa sih yang dilakukan oleh pemda-pemda kita itu? Mengapa mereka tidak melakukan sesuatu pun untuk membangun wisata di daerahnya dan membiarkan semuanya dikelola oleh asing? Bahkan yang dekat dan mudah dicapai seperti Lombok saja sudah dikuasai asing, apalagi wilayah-wilayah yang lebih jauh dan terpencil. Mungkin juga karena orang Indonesia yang memiliki dana tidak ada yang menyukai laut, pantai dan pulau-pulau indah, sehingga tidak ada yang berminat berinvestasi disana, semuanya hanya menumpuk di kota-kota besar, sedangkan orang Indonesia yang menyukai laut dan pulau pada tidak mempunyai uang…..

Tulisan dalam buku-buku ini memang beraneka ragam, mungkin karena asalnya dari blog. Jadi meskipun dibagi dalam beberapa tema atau bab, tetap terasa keragamannya, terutama di buku 3, dimana selain ada 8 artikel berisi tips melakukan perjalanan, juga ada pendapat penulis tentang berbagai hal, dari menurunnya toleransi beragama hingga nasihat untuk mengikuti minat (follow your passion) agar mendapatkan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan minat.

Secara keseluruhan kedua buku ini sangat menyenangkan, sekaligus bikin sirik karena rasanya tidak mungkin punya waktu dan teman untuk melakukan semua perjalanan menyenangkan yang dilakukan pengarang!

Sunday, March 17, 2013

Titik Nol



Judul : Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: GPU
Tahun : 2013
Tebal : 552 hal



Setelah menjelajah hingga Afghanistan dan Asia Tengah serta menulis dua buku perjalanan, barulah Agustinus justru menulis kisah perjalananya yang pertama. Namun karena perjalanannya yang pertama ditulis bertahun-tahun sesudahnya, dan setelah perjalanan lebih jauh, maka bukunya yang terakhir menjadi bersifat lebih pribadi dan mulai berbicara tentang makna perjalanan itu sendiri. Destinasi tidak lagi merupakan sesuatu yang penting, tulis Lam Li – yang pernah menjadi teman seperjalanannya - , dalam pengantar buku, tetapi seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan..

Berbeda dengan dua buku sebelumnya, dalam buku ini terdapat kisah ibu pengarang selama menderita sakit hingga meninggal, berseling dengan cerita perjalanan ke Mongolia, Nepal, Tibet, India, Pakistan dan Afghanistan. Kisah ibu Agustinus membuat pembaca lebih mengenal latar belakang kehidupan pengarang sekaligus membuat depresi, karena saya membaca tulisan mengenai ibunya dahulu sampai habis – yang penderitaannya diceritakan demikian rinci - baru kemudian membaca kisah perjalanannya. Ibunya, meskipun kurang berpendidikan, gigih bekerja keras menjual telur di tokonya tanpa pernah berlibur agar dapat menyekolahkan Agustinus ke sekolah yang baik di negeri Cina.

Titik Nol sebenarnya adalah perjalanan awal pengarang, yaitu sebelum ia ke Afghanistan dan Asia Tengah, namun ditulis belakangan karena ia ingin mengambil jarak dengan peristiwa saat itu, yang bersifat pribadi. Disini dapat kita temukan mengapa ia melakukan perjalanan,dan tidak mencari kerja untuk hidup mapan atau meneruskan sekolah setelah lulus kuliah di Beijing, ”Apa artinya hidup kita yang semua mengikuti pola yang sama: lahir-lalu-kerja-cari-uang-sampai-mati?...Aku mau menulis tentang kisah hidup manusia yang sering dilupakan, kisah hidup di tempat terpencil, kisah tentang kemanusiaan! Aku mau keliling dunia!” Ia merencanakan untuk ke Afrika Selatan dengan jalan darat dari Beijing, melintasi Asia, Timur Tengah, Afrika Timur.

Sebagaimana biasa, perjalanannya dikisahkan dengan cukup menarik. Pembaca mendapat gambaran tentang Tibet yang telah menjadi sangat komersial seperti kota-kota Cina lainnya, Nepal yang telah menjadi daerah wisata obralan, India yang masih belum dapat menghilangkan kemiskinan, sifat curang, dan perilaku tidak sopan para prianya, Pakistan yang penduduknya dalam membahas masalah apapun selalu dikaitkan dengan agama. Selain bersifat lebih sentimental karena ada riwayat pribadi, ada pula sebagian kisah perjalanan dikisahkan dengan nada humor.

Membaca pengalaman pengarang di Tibet dan Nepal, yang wilayahnya sudah diobral untuk turisme mengingatkan pembaca bahwa sebaiknya Indonesia tidak perlu terlalu giat menjual semua obyek wisatanya, karena turisme massal dapat bersifat sangat destruktif dan hanya dapat ditanggung oleh beberapa wilayah saja.

Sementara itu membaca pengalamannya di India, pembaca yang pernah kesana tentu akan menyetujui bahwa kejujuran sangatlah susah dicari dalam transaksi di tempat-tempat umum dan kemiskinan serta kesederhanaan sangatlah terasa.

Pengalaman pengarang di Pakistan hampir seperti di Afghanistan: tidak ada perempuan di tempat umum, dan jika mereka keluar rumah harus tertutup rapat dari kepala sampai kaki. Memang, dalam bahasa Urdu, kata perempuan berarti aurat, sesuatu yang memalukan. Tidak heran jika seluruh tubuh perempuan, bahkan matanya sekalipun, harus ditutup. Anehnya, para perempuan disana tidak ada yang merasa terhina disamakan dengan sesuatu yang memalukan dan harus ditutup rapat seluruhnya. Mereka justru merasa beruntung tidak perlu bekerja atau ke luar rumah karena kehidupannya dijamin oleh suami atau kerabat laki-laki, meskipun tidak boleh ke luar dari rumah dan jika terpaksa keluar rumah dan berada di tempat umum harus menutup seluruh tubuh dan wajah, karena jika tidak, akan dianggap rendah oleh laki-laki yang bagi mereka merupakan makhluk menakutkan. Kehidupan yang menyedihkan sebenarnya, namun tidak mereka sadari karena mereka tidak pernah melihat kehidupan lain yang dapat dijalani perempuan di belahan dunia lainnya, sehingga mereka malah bersyukur. Sementara itu, akibat pengekangan dan pemisahan gender yang berlebihan, para prianya terobsesi akan seks.

Setelah sampai di Afghanistan, pengarang kembali ke tanah air karena ibunya meninggal. Kembali ke rumah, pulang. Kembali ke titik nol. Pengarang menutup buku ini dengan tulisan untuk ibunya yang telah tiada.

Setelah menyatakan bahwa destinasi tidak lagi sesuatu yang penting, kita tidak tahu apakah pengarang masih akan meneruskan perjalanannya hingga ke Afrika Selatan, atau ke tempat-tempat lain dan menulis kisah perjalanannya. Namun kisah-kisahnya selama ini telah membuat kita lebih memahami kondisi dan pikiran rakyat di berbagai belahan dunia yang kondisinya lebih buruk atau lebih miskin dari Indonesia, wilayah-wilayah yang tidak ingin atau tidak mungkin kita kunjungi karena kondisinya yang sulit atau tidak menyenangkan. Dengan buku-bukunya, Agustinus telah menghubungkan kita dengan rakyat negara-negara tersebut.

Sunday, August 12, 2012

The Geography of Bliss


Judul : The Geography of Bliss
Pengarang: Eric Weiner
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita
Tahun : 2012, Maret (Cet 2)
Tebal : 512 hal

Apakah yang membuat seseorang bahagia? Apakah kebahagiaan itu hanya tergantung pada cara seseorang menghadapi kehidupan saja ataukah juga tergantung kepada lingkungan atau budaya tempat ia tinggal?

Eric Weiner percaya bahwa lingkungan juga mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Oleh karena itu ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan penduduk suatu negara lebih bahagia dibanding tempat lain dan sebaliknya. Untuk itu ia mengunjungi sepuluh negara, yaitu Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Inggris, India, dan negerinya sendiri, AS.

Berdasarkan indeks kebahagiaan yang disusun oleh peneliti Belanda Ruut Veenhoven, dari sepuluh negara di atas, Islandia adalah yang negara yang penduduknya paling bahagia, dengan nilai 8.3, sedangkan Moldova adalah yang paling tidak bahagia, dengan nilai 4.9, disusul India (5.5).

Kebahagiaan rakyat Islandia agak mengherankan Weiner, karena negara tersebut bersuhu dingin yang langitnya hampir selalu gelap. Namun di Islandia orang tidak terlalu ditekan untuk selalu sukses, karena apabila kurang berhasil di satu bidang, mereka dapat berpindah ke bidang lainnya dengan mudah. Spesialisasi belum sepenuhnya berlaku disini. Selain itu, hubungan antar masyarakat cukup dekat karena negaranya sangat kecil.

Rakyat Moldova tidak bahagia karena mereka sangat miskin sepeninggal Soviet, tidak memiliki identitas dan budaya tersendiri yang jelas, dan memiliki sifat iri hati yang negatif. Qatar meskipun kaya raya namun kurang bahagia dibanding Singapura karena susunan masyarakatnya masih tradisional, yaitu sukuisme, hampir tidak memiliki kebebasan, tidak memiliki kebudayaan, dan hampir seluruh kegiatan kerja dilakukan orang asing. Sedangkan Thailand lumayan berbahagia karena bersikap santai dan tidak pernah berpikir berat.

Sepanjang buku Eric menulis dengan nada humor yang mengalir dengan lancar, sehingga tulisannya menyenangkan untuk dibaca. Di setiap negara Ia bertemu dan bertanya pada banyak orang untuk meminta pendapat mereka tentang arti kebahagiaan dan merasakan kehidupan di negara tersebut.

Indeks kebahagiaan yang dibuat Ruut Veenhoven disusun melalui survey dengan menanyakan kepada responden tingkat kebahagiaan mereka secara keseluruhan dalam nilai 0-10, sehingga memang jawaban menjadi bersifat subyektif dan tergantung keadaan responden pada saat survey. Namun demikian, data yang dihasilkan survey ini menunjukkan adanya korelasi positif antara kemakmuran, kebebasan dan kestabilan suatu negara dengan tingkat kebahagiaan penduduknya.

Berdasarkan hasil survey, negara-negara Afrika dan eks Soviet adalah yang paling tidak bahagia, disusul oleh negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan. Negara ASEAN berada di urutan selanjutnya dengan nilai 5.9 (Filipina) sampai 6.9 (Singapore), sedang Indonesia hanya 6.3. Yang paling bahagia adalah penduduk negara-negara Skandinavia – negara yang juga paling stabil dan sekuler – dan Amerika Latin, baru kemudian Eropa Barat, Kanada, Australia dan AS.

Melihat nilai indeks tersebut, disayangkan mengapa penulis tidak ke Amerika Latin, karena muncul pertanyaan, mengapa negara-negara tersebut lebih bahagia dibandingkan Eropa Barat, meskipun tidak semakmur Eropa. Selain itu, negara-negara bersuhu dingin tampaknya juga lebih bahagia.

Eric Weiner sendiri menulis bahwa untuk bahagia, suatu masyarakat perlu rasa saling percaya. Hal ini tentunya hanya bisa dimiliki oleh masyarakat di negara maju, bukan di negara-negara miskin yang pemerintahannya korup, seperti di Afrika atau sebagian Asia, misalnya.

Membaca buku ini seperti melakukan perjalanan yang menarik ke berbagai negara, sekaligus membuat kita menanyakan kembali arti kebahagiaan.

Friday, January 27, 2012

Jalan-Jalan ke Antartika



Judul : Jalan-jalan ke Antartika – Kisah Peneliti Indonesia Pertama di Antartika
Pengarang: Agus Supangat
Penerbit: KPG
Tahun : 2011, Nov.
Tebal : 203 hal



Jalan-jalan ke Eropa atau Amerika merupakan hal biasa, namun tidak semua orang dapat menginjakkan kaki di daratan Antartika atau kutub Selatan, apalagi bagi orang Indonesia yang berasal dari negeri tropis.

Agus Supangat, peneliti dari ITB yang tampaknya gemar bertualang, mengisahkan perjalanannya mengikuti penelitian oseanografi dan biologi laut di Antartika bersama Muhamad Lukman dan tujuh puluhan peneliti lainnya dari berbagai negara menggunakan kapal peneliti Australia, Aurora Australis pada bulan Februari hingga Maret 2002. Selain mereka berdua, terdapat tiga peneliti Indonesia lainnya dalam misi ini, namun mereka hanya sampai di Hobart, Tasmania.

Australia memiliki tiga pusat penelitian di Antartika. Sedangkan negara Asia yang memiliki pusat penelitian disana adalah Cina, Jepang, Korea Selatan dan India. Peneliti Indonesia diikutsertakan karena ketika itu Indonesia ingin menjadi anggota Antartic Treaty, dan penulis adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti ekspedisi kesana.

Selain mengisahkan kegiatannya selama perjalanan tersebut, Agus Supangat juga menjelaskan tentang kondisi alam di kutub Selatan dan sedikit latar belakang penelitian yang dilakukan. Misalnya, mengapa Antartika merupakan benua yang paling dingin, kering dan berangin, kaitan antara kondisi arus Sirkumpolar Antartika dengan arus lintas Indonesia. dan pengaruh kelancaran arus tersebut terhadap kestabilan atau perubahan iklim dunia.
Dikisahkan juga tentang permintaan presiden Indonesia ketika itu, yaitu Megawati, untuk membawa prasasti yang ditanda-tangani oleh presiden, guna ditempatkan di pusat penelitian Australia di Antartika, sebagai tanda persahabatan kedua negara, dan keharuan penulis melihat bendera merah putih berkibar disana untuk pertama kali.

Ketika pertama kali menaiki kapal, penulis terkejut melihat kemewahan dan besarnya kapal tersebut, yang berukuran lima kali kapal penelitian Indonesia Baruna Jaya, namun setelah mengalami sendiri bahwa di masa kini pun perjalanan ke Antartika merupakan sesuatu yang sulit dan berbahaya, ia dapat mengerti mengapa diperlukan kapal yang besar dan fasilitas seperti hotel berbintang. Agus Supangat juga menceritakan kerja sama dan kerendah hatian para peneliti yang mengikuti ekspedisi, antara lain mereka tidak segan-segan membantu pekerjaan para awak kapal.
Semua kisah selama pelayaran dan beberapa hari tinggal di daratan Antartika tersebut diuraikan dengan ringan, dilengkapi sejumlah foto.
Di akhir buku, penulis kembali mengingatkan pembaca akan pentingnya mencegah pemanasan global.

Buku ini ditulis dengan sederhana, namun dapat mendorong minat pembaca muda yang menyukai laut dan alam bebas untuk menjadi peneliti. Akan lebih menarik jika penulis juga sedikit memasukkan sejarah penjelajahan ke Antartika dan hasil penelitian lain yang terkait wilayah tersebut, yang berkaitan dengan penurunan kondisi lingkungan di wilayah Antartika.

Thursday, October 27, 2011

ALL THINGS MUST FIGHT TO LIVE


    
    Judul : All Things Must Fight To Live –  Kisah
    tentang perang  dan pembebasan di Kongo 
    Pengarang : Bryan Mealer
    Penerjemah: Utti Setiawati
    Penerbit : Elex Media Komputindo
    Tahun : 2011, Juli
    Tebal : 430 hal


Bagaimanakah kehidupan reporter di medan-medan perang yang jauh, brutal dan terlupakan oleh dunia? Apa yang menarik mereka menempuh bahaya tinggal berbulan-bulan di wilayah yang hanya bersedia dikunjungi oleh pengamat dan pasukan PBB? Bagaimana kondisi negara tersebut saat ini, masihkah diliputi kegelapan? Semua pertanyaan tersebut dikisahkan oleh reporter perang Bryan Mealer dengan sangat menarik dalam buku ini.

Mealer mengunjungi Kongo antara tahun 2003 hingga pertengahan 2007 untuk meliput perang saudara di negara tersebut yang terus menerus terjadi sejak kemerdekaannya pada tahun 1962 dan mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan korban jutaan jiwa. Negara dengan penduduk 72 juta jiwa dan luas 1,3 juta ha tersebut mewarisi kebrutalan perdagangan budak oleh Afro Arab serta penjajahan Raja Leopold dan Belgia dengan praktek perdagangan karet dan gading pada abad 19, kemudian perebutan pengaruh AS dan Soviet saat perang dingin, dan terakhir perebutan sumber daya alam berupa emas dan mineral lainnya disertai konflik antar etnis yang melibatkan beberapa negara tetangga seperti Uganda, Rwanda, Angola, serta korupsi akut yang menghancurkan negeri tersebut ke titik nadir.
Jumlah penduduk di wilayah Afrika lebih kurang satu miliar, sekitar seperempat hingga sepertiganya terlibat perang saudara berkepanjangan.  

Kisah dimulai dengan uraian Mealer saat meliput perang di timur Kongo (Bunia) pada tahun 2003 ketika terjadi pemberontakan suku Lendu melawan suku Hema. Ia mnguraikan dengan rinci kekejaman tak terperikan dari perang tersebut, namun tak pernah dapat memahami tujuannya. Apakah hanya untuk merebut emas yang tak seberapa? Mengapa tidak memerangi penguasa yang korup? Mengapa kelimpahan sumberdaya alam seolah selalu menjadi kutukan bagi pemiliknya? Mengapa manusia bisa demikian saling membenci? Darimana kekejaman dan kebrutalan yang demikian dalam itu muncul, bahkan pada anak-anak? Bagaimana manusia (para korban perang) bisa sedemikian menderita? Rincian liputannya tentang perang ini bisa membuat kita kembali teringat akan the problem of evil dalam filsafat.

Selanjutnya Mealer meliput wilayah barat, yaitu di ibukota, Kinshasha pada tahun 2004 untuk melihat pelaksanaan pemilu. Tahun 2006 ia kembali ke Bunia meliput upaya penyerahan diri pemmpin pemberontak terkejam bernama Cobra bersama pasukan perdamaian PBB dari Afrika Selatan dan Bangladesh.

Setelah perang mulai mereda, pada tahun itu juga bersama seorang pemuda Kinshasha dan reporter Italia ia naik kapal menyusuri sungai Kongo dari Kinshasha ke pedalaman sepanjang 1.734 kilometer hingga kota Kinsangani, tempat agen Crutz dalam novel Heart of Darkness (telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) mendirikan rumahnya yang dihiasi kepala manusia. Namun perjalanan 400 kilometer terakhir terpaksa dilalui dengan sepeda melewati desa-desa yang berada di dalam hutan.

Petualangan Mealer di Kongo diakhiri dengan naik kereta api di wilayah selatan menuju utara selama berhari-hari. Suatu perjalanan yang menimbulkan rasa frustrasi, karena hampir seluruh kereta tidak beroperasi disebabkan korupsi akut, demikian pula pabrik-pabrik tidak berjalan karena sebab yang sama, sehingga para pegawai mendambakan kembalinya orang kulit putih. Namun Mealer tidak hanya menceritakan kehancuran, pada akhir perjalanan ini ia mencoba untuk melihat harapan bagi negeri tersebut: dari para pedagang kecil yang gigih berusaha menembus pedalaman melalui sungai dengan kapal rakyat atau melalui jalan hutan, rakyat yang mulai pulang ke kampung halamannya setelah terpisah oleh perang, mulai dioperasikannya satu kereta penumpang, meskipun tersendat-sendat...

Tulisan Mealer mengesankan karena selain liputannya cukup rinci, ia juga melukiskan kehidupan sehari-hari para reporter di medan perang, dan bagaimana akhirnya kondisi tersebut mempengaruhi cara hidup dan perasaan penulis, seolah ia sendiri turut menjadi korban.
Hal menarik lainnya, entah kenapa, keruntuhan kondisi Kongo yang diuraikan penulis banyak mengingatkan saya pada negeri sendiri... seolah sedang menuju ke arah kehancuran yang sama, namun tanpa peperangan...

Monday, October 10, 2011

MERABA INDONESIA

Judul : Meraba Indonesia – Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Pengarang : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi
Tahun : 2011, Juli
Tebal : 370 hal



Jika membaca surat kabar dan berlibur ke daerah-daerah di luar Jakarta belum cukup untuk membuat anda prihatin dengan kondisi Indonesia, bacalah buku ini, yang nyaris seluruhnya hanya laporan mengenai meratanya kemiskinan akut, korupsi, transportasi laut dan darat yang menyedihkan, kerusakan alam, perampokan kekayaan alam, pengabaian kepentingan rakyat oleh penyelenggara negara, keputus-asaan rakyat yang akhirnya berjuang sendiri untuk mengatasi kesulitan hidup, dan gugatan akan peristiwa tahun 1965.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah Redmond O’Hanlon menembus pedalaman Republik Kongo belasan tahun silam: tentang kapal rakyat yang tidak memenuhi syarat keselamatan dan kebersihan, korupsi yang tertanam demikian dalam, penyelenggara negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, sumber daya alam yang dirusak dan dijual murah untuk kepentingan segelintir orang. Tidak heran jika ada yang menyamakan Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan buku Tepian Tanah Air yang menceritakan kondisi pulau-pulau terluar Indonesia dengan nada optimis dan gambar-gambar indah, penulis Meraba Indonesia lebih menekankan pada permasalahan yang dihadapi di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya. Selain itu, disamping pulau-pulau terluar, penulis, yaitu Ahmad Yunus dan rekannya sesama wartawan Farid Gaban juga menyusuri pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, baik dengan motor maupun mobil. Perjalanan dilakukan berdua pada tahun 2009 selama hampir setahun dengan menggunakan motor bekas.

Buku ini seperti penegasan akan hal-hal buruk yang selama ini telah kita lihat atau rasakan di Indonesia. Misalnya, jika anda sering berlibur ke pulau atau pantai, tentu sering mengalami bahwa tidak ada kapal yang bisa disewa selain kapal nelayan, bahwa liburan selalu membawa sedikit aura kesedihan karena dimana-mana kita akan menemukan rakyat miskin yang hidupnya seperti tersia-sia, bahwa kadang tempat ibadah dibangun terlalu megah dibandingkan kondisi penduduk sekitarnya, atau bahwa alam yang dulu indah kini telah rusak atau direncanakan akan dibuat pertambangan. Uraian Ahmad Yunus naik kapal perintis yang tidak layak dan tidak tentu jadwalnya menegaskan pengalaman kita akan sulitnya menemukan kapal yang layak di Indonesia. Demikian pula pengalamannya bertemu dengan rakyat yang harus bersusah payah mencari nafkah dengan merusak alam atau tubuh mereka sendiri seolah tidak ada penyelenggara negara menegaskan apa yang selama ini telah kita lihat dan rasakan.

Kelemahan dari buku ini ialah tidak adanya peta rinci perjalanan mereka dan foto-foto yang minim serta tidak menarik. CD yang merupakan lampiran dari buku juga tidak menolong, karena sama tidak menariknya; keduanya terlalu sering muncul (dengan latar belakang sebuah ruangan) untuk menguraikan apa yang sudah tertulis di buku, sedangkan pulau-pulau atau wilayah yang mereka kunjungi hanya ditampilkan sekilas dengan sudut pengambilan yang buruk dan tidak lengkap.

Memandang Indonesia memang bisa dari berbagai sisi, tergantung mana yang lebih disukai. Tepian Tanah Air cenderung melihat sisi positif sehingga bernada optimis, Meraba Indonesia cenderung melihat hanya sisi negatif, sampai-sampai pengarang menulis,”Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi samudera Pasifik yang bergemuruh.”
Mungkin harus ditulis buku lain yang bisa melihat kedua sisi secara seimbang?

Sunday, September 18, 2011

TEPIAN TANAHAIR

Judul : Tepian Tanahair – 92 Pulau Terdepan Indonesia, Indonesia Bagian Tengah
Pengarang : Wanadri dan Rumah Nusantara
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2011, Mei
Tebal : 412 hal



Belasan tahun yang lalu, ketika menyusuri Kalimantan Barat yang sunyi sepi, hingga Sumatera Utara yang indah, seorang teman merasa sangat bersyukur, karena dapat melihat sisi lain Indonesia (selain kota-kota besarnya) dan tiba-tiba menyadari, betapa indah dan luas tanah airnya.

Mungkin juga banyak orang yang akan mengalami hal yang sama, jika mereka sempat menjelajah banyak wilayah Indonesia dan masih mampu menghargai keindahan alam. Namun demikian, menjelajahi 92 pulau-pulau terluar Indonesia tentu memerlukan usaha yang luar biasa, mengingat luasnya wilayah dan terbatasnya sarana transportasi laut, sehingga Tepian Tanah Air sangat menarik untuk memenuhi rasa ingin tahu dan hasrat bertualang yang tidak mungkin dilakukan sendiri.

Melanjutkan buku pertama, yaitu Tepian Tanah Air Indonesia Bagian Barat yang meliputi 40 pulau di sekitar Sumatera, Tepian Tanahair Indonesia Bagian Tengah mencakup 24 pulau terluar yang berada di enam provinsi, dari provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur, yang ditempuh sejauh 9.181 km dengan menggunakan kapal perintis, perahu nelayan dan perahu sewaan berukuran kecil. Selanjutnya akan diterbitkan buku ketiga, yang akan meliputi 28 pulau di Indonesia bagian timur.

Sebagai catatan ekspedisi yang dilandasi semangat nasionalisme - dilakukan Wanadri dan Rumah Nusantara dalam rangka memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional – maka Tepian Tanah Air setidaknya akan membangkitkan optimisme pembacanya, karena nadanya nyaris seperti iklan televisi Kompas baru-baru ini, yang demikian optimis menyatakan bahwa wilayah-wilayah Indonesia memiliki potensi yang demikian besar dan beragam, sehingga kita bisa berharap besar pada kemajuan bangsa ini. Namun demikian data rinci mengenai masing-masing pulau misalnya data demografi dan ekonomi seperti jumlah penduduk, pendapatan, atau bahkan luas wilayah dalam bentuk angka tidak ada, sehingga kita tidak mendapatkan informasi cukup mengenai seberapa besar potensi yang ada yang membuat penulis buku ini demikian optimis.
Paling tidak, membaca buku ini akan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga pulau-pulau terluar dari gangguan negara tetangga dan membuat kita lupa sejenak bahwa pulau-pulau yang terindah telah disewakan atau dijual kepada asing, sementara bangsa sendiri tidak pernah tertarik dengan keindahan pulau-pulau yang dimilikinya.

Selain dokumentasi dalam bentuk buku, film dan lainnya, tim juga menancapkan penanda berupa patung kedua proklamator dan logam tahan karat pada setiap pulau yang dikunjungi, yang diisi kertas bertuliskan antara lain,”...Ekspedisi Garis Depan Nusantara berhasrat mengingatkan kita bersama untuk menghayati kebesaran negeri tercinta, Ibu Pertiwi, Indonesia.”
Buku ini dilengkapi banyak foto-foto pulau dan pantai yang indah dalam ukuran besar, sehingga menyenangkan untuk dilihat dan cocok untuk diletakkan di meja kopi. Namun demikian, karena kertasnya bagus dan banyak gmbar berwarna, maka harganya lumayan mahal, sehingga misi untuk menjangkau sebanyak mungkin masyarakat, khususnya kaum muda, mungkin agak kurang tercapai.

Sunday, September 11, 2011

NO MERCY



Judul: No Mercy – A Journey Into the Heart of the Congo
Pengarang: Redmond O’Hanlon
Penerbit: Vintage
Tahun: 1997
Tebal : 450 hal


Membaca kisah perjalanan ke belantara Afrika bagi saya merupakan sesuatu yang menarik, karena tidak mungkin dapat saya lakukan dan tidak banyak yang mampu melakukannya, mengingat kondisi negara-negara di benua tersebut yang minim infrastruktur dan cukup berbahaya, sebagaimana digambarkan penjelajah Inggris HM Stanley lebih seratus tahun yang lalu atau novelis Joseph Conrad.

Setelah menjelajah Amazon, Redmond O’Hanlon menjelajah Republik Congo untuk mencari danau Moleke Mbembe, yang konon masih dihuni makhluk sejenis dinosaurus. Untuk itu penulis ditemani oleh Marcellin, ahli biologi setempat, dan Lary, ahli biologi AS, serta beberapa saudara sepupu Marcelin.

Perjalanan ke danau Mokele Mbembe tidak mudah. Pertama, untuk mendapat izin ke pedalaman O’Hanlon harus menyuap pejabat kementrian, yang ternyata menipunya. Untunglah di saat-saat terakhir, ketika kapal akan berangkat, Marcellin membantunya untuk mendapatkan izin. Selanjutnya perjalanan dengan kapal rakyat membuat Lary sedih, karena harus melihat betapa kemiskinan membuat rakyat Congo tidak menghargai nyawa manusia, sehingga penumpang kapal atau pendayung kano yang jatuh ke sungai dibiarkan tenggelam. Kondisi kesehatan rakyat pedalaman, khususnya suku asli yaitu suku Pigmy juga membuat Lary meneteskan air mata, karena selain masih dianggap budak atau bukan manusia, mereka harus mengalami penyakit yang mengakibatkan kematian hanya oleh karena ketiadaan antibiotik, yang di AS harganya sangat murah. Satu-satunya yang menolong suku tersebut adalah misionaris AS, yang sempat bertemu dengan mereka di sebuah kota kecil. Mengapa sampai terjadi hal demikian, karena petugas yang ditugaskan ke daerah terpencil biasanya menjual obat tersebut ke apotik, atau menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadi.
Guru di daerah terpencil hanya mengajarkan marxisme, kadang tidak digaji, dan diancam oleh kepala desa, sehingga banyak anak di pedalaman tidak bersekolah.
Banyak hal menarik dari buku ini, karena selain menggambarkan keadaan alam dan fauna yang dilewati, penulis juga memasukkan pembicaraannya dengan Lary maupun dengan para pemandunya yang berasal dari Afrika, sehingga kita dapat mengetahui perasaan, sifat dan permasalahan yang dihadapi mereka, yang kadang mengingatkan pada kondisi di Indonesia. Misalnya kuatnya sifat korup, ketidakpedulian dan kurangnya tanggung jawab pelaksana negara, sifat keluarga besar yang rajin mendekati kerabat yang sukses, kurangnya kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak, hubungan bebas, dan masih kuatnya tahyul. Namun semua ketidakberesan tersebut tampak jelas bersumber dari kepemimpinan yang korup.

Republik Congo berpenduduk hanya dua juta lebih, dan pendapatan utamanya berasal dari minyak bumi dan mineral lainnya. Semula dijajah Prancis, kemudian saat penjelajahan O’Hanlon diperintah oleh partai beraliran marxis. Dengan hanya sedikit penduduk, tentu seharusnya kondisi negara tersebut jauh lebih baik apabila dikelola dengan benar.

Selama beberapa bulan O’Hanlon menelusuri sungai dan hutan rawa dengan kapal, kano dan berjalan kaki serta makan dengan menu setempat, antara lain monyet, gorilla, dan buaya. Ia juga mengikuti orang Pygmi berburu antelope, yang memotong binatang tersebut hidup-hidup setelah dijerat. Ia juga terancam dibunuh oleh suku-suku yang berseteru di pedalaman, dan mendapat ancaman apabila berani ke danau Moekele Mbembe yang dianggap keramat, sehingga ia meminta jimat kepada dukun setempat, meskipun ditertawakan oleh Marcelin.

Buku ini tidak sekedar kisah perjalanan biasa, karena selain ketegangan karena perjalanan yang menyengsarakan dan berbahaya, terdapat dialog-dialog yang dapat mewakili gambaran masyarakat negara maju dan berkembang. Misalnya dialog penulis dengan Marcelin sebagai bangsa Afrika tentang agama, kesetiaan, keluarga, atau rasa sedih O’Hanlon ketika mendengar harapan Marcellin yang sebagai ilmuwan meminta dicarikan pekerjaan sebagai dosen di Inggris. O’Hanlon lalu teringat akan melimpahnya fasilitas dan buku di negerinya, sedangkan Marcellin di kantornya hanya memiliki dua jurnal ilmiah. Bukankah ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di negara-negara berkembang lainnya, seperti Indonesia?

Dengan demikian, meskipun perjalalan ini hanya meliputi sebagian kecil dari benua Afrika, namun dapat mewakili kondisi bangsa Afrika pada khususnya dan masyarakat dunia ketiga pada umumnya.

Friday, February 12, 2010

SELIMUT DEBU



Judul : Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: GPU
Tahun : 2010, Januari
Tebal : 468 hal
* * * *

Apa yang membuat seseorang bepergian ke tempat-tempat baru atau membahayakan?
Atau mencintai negeri lain yang alamnya lebih keras atau peradabannya jauh berbeda?
Membaca kisah Agustinus Wibowo menjelajahi Afghanistan dengan berpakaian tradisional Afghan dan menyusuri kota-kota Afghanistan yang sedang dilanda perang selama tiga tahun akan mengingatkan kita pada para penjelajah Barat yang mengunjungi wilayah-wilayah berbahaya yang belum banyak diketahui atau terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah dan intoleran, seperti Richard Burton yang menjelajah Arab dan Afrika Utara dengan berpakaian dan berbahasa Arab, atau Thesiger yang menjelajahi Empty Quarter dan merasakan kerasnya hidup suku Badui atau suku Kurdi di Irak.

Agustinus tidak hanya menceritakan kerasnya alam Afghanistan beserta kemiskinan, keterbelakangan dan kefanatikan penduduknya, namun juga sejarah setiap tempat yang dikunjunginya, sehingga menambah pengetahuan pembaca. Kita mendapat banyak pengetahuan mengenai kehidupan di negara yang selama ini hanya kita ketahui sebagai pusat pelatihan teroris, Taliban, perempuan berburqa, dan latar belakang novel The Kite Runner.

Kisah perjalanan Agustinus beserta interaksinya dengan masyarakat Afghanistan yang ditemuinya memberi informasi bagaimana sistem patriarki yang sangat kuat di Afghanistan ditambah dengan kemiskinan dan kebodohan yang merata membuat agama sangat mudah dijadikan pembenaran untuk segala hal, dari penindasan terhadap perempuan sampai penolakan terhadap hal-hal baik yang dapat memajukan kehidupan masyarakat. Hal tersebut ditambah dengan sifat sukuisme yang saling merendahkan satu sama lain dan prinsip kehormatan yang masih kuat dengan unsur balas dendam dan perempuan sebagai barang penentu kehormatan. Di sisi lain, dikurungnya perempuan di rumah membuat hubungan sesama jenis (laki-laki) menjadi lumrah meskipun meraka taat beragama.

Hal yang menggelikan sekaligus menyedihkan adalah ketika Agustinus menceritakan perjalanannya menumpang bus ke Iran dengan berpakaian Afghanistan. Di luar dugaannya, Iran sangat maju dibandingkan Afghanistan, sehingga untuk pertama kali ia merasa sangat malu berpakaian tradisional Afghanistan – yang menurutnya bagai pakaian Aladin, namun menjadikannya percaya diri ketika di Afghanistan karena ia meyukai Afghanistan - apalagi ketika rakyat Iran mengira ia sungguh-sungguh orang Afghanistan dan memperlakukannya dengan buruk, yang menurut Agustinus, seperti perlakuan salah satu negara di Asia Tenggara terhadap negara tetangganya.

Agak menyedihkan juga perbandingan ini, karena membaca kondisi Afghan dari penuturan Agustinus, Indonesia jauh lebih baik dalam segala hal. Di Afghanistan tidak ada listrik, air bersih, makanan yang pantas, rumah dan jalan yang bagus, hujan dan tanaman hijau, kecuali di satu sudut kota Kabul yang baru dibangun oleh Barat. Yang ada hanya debu, rumah lempung coklat tanpa perabot, keledai atau truk tua, dan debu… (mungkin hampir seperti India, yang selalu seperti berkabut dan berdebu?) Tapi nasib Indonesia seperti Afghanistan dibandingkan negeri tetangganya…
Banyak lagi hal-hal menarik yang ditulis, seperti bantuan Barat yang tampak kurang menyentuh rakyat Afghan, sejarah salah satu suku yang berbeda tampilan fisiknya dari suku lainnya, atau adanya sesama penganut Islam yang merasa tertekan dengan fanatisme mayoritas.