Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Sunday, October 06, 2019

Lentera Batukaru





Judul                   :   Lentera Batukaru
Pengarang          :   Putu Setia
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   255 halaman
Tahun                  :   2019




Banyak sudah yang menulis tentang peristiwa 30 September. Namun sebagian besar adalah tentang kejadian di Jawa, di penjara maupun di pengasingan. Kali ini Putu Setia, wartawan yang lama bekerja di Tempo, menulis tentang peristiwa tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya di Bali.

Cukup menarik membaca kisahnya. Buku ini lebih merupakan autobiografi seorang anak Bali yang meskipun hidup berkekurangan namun senantiasa gigih bekerja, bersyukur, dan memiliki prinsip yang kuat. Mungkin itu pula sebabnya ia menulis buku ini, agar dapat menjadi contoh bagi para pembaca yang lebih muda dan hidup prihatin, bahwa apabila kita selalu berusaha dan bersyukur akan selalu ada jalan untuk hidup lebih baik.

Sewaktu remaja Putu telah menjadi kader partai PNI, dan ketika terjadi peristiwa 30 September dengan posisinya sebagai Ketua Pemuda GSNI ia melindungi teman-teman sekolahnya yang rentan dituduh simpatisan PKI dan akan diculik atau dibunuh tentara. Selain itu ia menjadi penulis drama Gong untuk partainya dan sukses. Namun setelah peristiwa G 30 S,  mereka dipaksa membubarkan PNI dan menjadi anggota Golkar serta dilarang berkesenian lagi. Sebagai aktivis partai, ia tidak bersedia, sehingga pergi ke Denpasar sebelum menyelesaikan pendidikan STM dan kemudian bekerja menjadi loper koran, instalatur listrik, dan akhirnya wartawan surat kabar. Bakat menulisnya kemudian akhirnya menuntunnya menjadi wartawan majalah. Selama masa remaja tersebut, ia menyaksikan penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh tentara bahkan terhadap mereka yang tidak tahu apa-apa tentang komunis, termasuk penculikan terhadap salah satu keluarga besarnya, yang hilang begitu saja, serta akibatnya bagi keluarga mereka.

Buku autobiografi ini memberi gambaran jelas bagaimana proses penghancuran komunis dan PNI oleh tentara sebagaimana diulas oleh sejarawan Rickfles dalam Mengislamkan Jawa, misalnya. PNI yang bersifat sekuler dan kegiatan kesenian dihancurkan oleh tentara rezim Orba secara brutal. Proses ini kemudian diikuti dengan pemilu yang penuh kecurangan serta pembangunan masjid-mesjid dan pemaksaan untuk menganut salah satu agama serta menjalankan ritualnya. Selanjutnya kita ketahui sendiri – fanatisme dan radikalisme agama menjadi masalah baru.

Sampai saat ini tidak banyak yang diketahui kaum muda tentang kekejaman ini, sehingga penerbitan buku-buku yang menjelaskan peristiwa tersebut masih terus diperlukan. Oleh karena itu otobiografi Putu Setia ini merupakan tambahan yang baik untuk  memperkaya informasi tentang sejarah gelap bangsa kita.


Thursday, April 03, 2014

Bumi Tuhan

 
Judul    :       Bumi Tuhan
Pengarang:   Soetedjo Waloejo
Penerbit:       Gramedia
Tahun   :       2013, November
Tebal    :       315  hal



Soetedjo Waloejo bercita-cita menjadi dokter yang mengabdi untuk tanah airnya setelah menyelesaikan pendidikan di Pyong Yang. Namun persitiwa 30 September 1965 mengubah seluruh jalan hidupnya, sehingga ia menjadi pengembara selama 48 tahun dan menghembuskan nafas terakhir di Paris sebagai warga negara Prancis pada tahun 2013, setelah tinggal di Korea Utara selama 10 tahun dan Uni Soviet selama 15 tahun.

Kedekatan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara sosialis membuat Soetedjo pada tahun 1960 dikirim tugas belajar ke Pyong Yang selama 8 tahun. Tidak banyak orang Indonesia yang belajar kesana atau mengetahui kondisi negara tersebut, sehingga pengalamannya selama di Korea Utara cukup menarik dan merupakan bagian terbesar dari buku ini.
Saat kedatangannya pertama kali sebagai mahasiswa yang akan belajar disana, penulis mendapat sambutan luar biasa. Selain disambut rombongan pelajar di stasiun, juga diajak mengunjungi pabrik-pabrik, pertunjukan teater, dan mendapat hadiah pakaian musim dingin dari pemimpin Korea Utara, Kim Il Sun. Meskipun demikian, ia tidak bisa mengetahui nama dan  melanjutkan persahabatan dengan dua pemuda yang menemaninya selama acara tersebut, karena mereka dilarang berteman dengan orang asing di luar tugas.
Setelah kuliah, mahasiswa asing  mendapat asrama tersendiri dan makanan yang jauh lebih baik dari mahasiswa lokal yang hanya mendapat jatah  sejenis bubur serta tinggal berdesakan dalam satu kamar. Namun mahasiswa asing harus sekamar dengan satu mahasiswa lokal, yang sekaligus bertindak sebagai mata-mata.
Sebagai pemuda dari keluarga sederhana yang merasa bangga mendapat kesempatan belajar di luar negeri, penulis semula sempat shock setelah menyadari bahwa universitas tempat belajarnya di Korea Utara sangat sederhana dan ilmu kedokteran di negara sosialis tidak semaju di negara Barat. Namun ia mengagumi keuletan rakyat Korea yang giat membangun negerinya yang hancur karena perang. Selama kuliah ia sempat membantu delegasi Indonesia yang melawat ke Korut, disamping membantu delegasi Korut yang berkunjung ke Indonesia.

Berdasarkan pengalaman pengarang di beberapa negara sosialis, Korea Utara adalah negara komunis yang paling ketat. Sebagai mahasiswa asing ia tidak boleh memiliki teman penduduk lokal, asramanya diisolasi dan dijaga oleh dua petugas piket, bahkan setelah seluruh mahasiswa asing lainnya pergi dan ia tinggal sendirian, dan ia tidak boleh pergi kemana pun kecuali ke toko khusus untuk orang asing. Seorang teman kuliah Koreanya yang bersedia ia ajak untuk makan bersama di restoran khusus orang asing harus membayar keberaniannya melanggar peraturan dengan kerja paksa dan diberhentikan dari kuliah. Sementara itu  seorang dosennya yang memainkan biola klasik di depan pengarang di ruang autopsi kemudian dipindahkan dan hilang.

Setelah peristiwa 30 September dan pemerintahan berganti, mahasiswa Indonesia di Pyong Yang diminta mengikuti skrining. Mengikuti nasihat perwakilan Indonesia disana saat itu, Soetedjo menolak melakukannya dan menyatakan tetap setia kepada Presiden Sukarno, sehingga paspornya dicabut. 
Setelah tidak memiliki kewarganegaraan, Soetedjo mencoba bekerja sebagai dokter dan mempelajari akupuntur dari dosen pembimbingnya. Namun sistem komunis yang terlalu ketat di Korut baginya terlalu kejam, sehingga ia pindah ke Uni Soviet pada tahun 1970.

Dibandingkan dengan Korea Utara, kehidupan di Uni Soviet terasa bebas, karena saat itu Soviet telah melakukan revisi dalam pelaksanaan komunisme dan mengarah ke kapitalisme. Selama di Uni Soviet Soetedjo menjadi dokter bedah dan meneruskan pendidikan S3 sehingga memperoleh gelar PhD pada tahun 1990. Selain bekerja di rumah sakit, ia praktek penyembuhan akupuntur, yang membawanya ke Beograd dan membangkitkan minatnya untuk pindah ke negara Barat.
Berkat bantuan sahabat lamanya, akhirnya pengarang pindah ke Paris. Namun kepindahan ke negara Barat tidak berarti kesulitan berakhir, karena ketidakmampuan berbahasa Prancis membuat pengarang merasa tidak mampu mengikuti ujian persamaan untuk bisa bekerja  sebagai dokter di klinik atau rumah sakit. Usia yang telah mencapai setengah abad membuatnya merasa sulit untuk belajar bahasa baru, disamping kesulitan ekonomi apabila tidak bekerja, sehingga akhirnya selama sisa hidupnya di Prancis ia hanya bekerja sebagai pembantu juru rawat sampai pensiun. Suatu akhir yang tragis, meskipun setelah menjadi warga negara Prancis ia sempat mengunjungi keluarga di Indonesia.     

Soetedjo hanyalah satu dari ratusan ribu korban peristiwa 30 September. Entah apa yang akan terjadi seandainya ia mengikuti skrining dan pulang. Apakah ia akan tetap bebas dan dapat meneruskan hidup dengan normal? Ataukah ia akan menghabiskan puluhan tahun hidupnya di pulau Buru karena dianggap sebagai komunis, seperti misalnya seorang mahasiswa kedokteran UI  simpatisan kiri (saya lupa namanya) – yang juga pernah menulis memoir sejenis?

Melukiskan pertemuan dengan kedua orang tuanya, penulis mendapat kabar bahwa seluruh teman-teman dekatnya disiksa dan dibunuh, bahkan mereka yang tidak begitu memahami arti komunisme, demikian pula keluarganya dikucilkan dari masyarakat setelah peristiwa tersebut. Mungkin hal tersebut dan pengalaman pahitnya selama di Prancis khususnya, menimbulkan rasa sedih pada akhir hidup penulis.
Hal ini berbeda dengan Ibaruri, puteri Aidit yang juga tidak bisa pulang dan akhirnya menjadi warga negara Prancis. Ibaruri, seorang dokter yang mendapat pendidikan di Cina, juga tidak dapat berpraktek di Prancis dan akhirnya bekerja di restoran. Namun tulisannya masih menyiratkan semangat bahkan kritik terhadap pemerintah Indonesia masa kini yang dianggapnya kurang nasionalis, antara lain mengobral sumber daya alam dengan murah. Mungkin latar belakang sebagai anak pemimpin Partai Komunis memberikan kekuatan tersendiri dalam menghadapi pengucilan di luar negeri.  

Membaca buku ini menyadarkan kita sekali lagi, betapa tingginya harga yang harus dibayar oleh korban ideologi marxisme dan betapa kejamnya rezim militer orde baru.
Di seluruh dunia, komunisme murni telah runtuh, namun di Indonesia, rasa takut akan gerakan tersebut masih dipelihara, meskipun banyak ancaman lain yang lebih nyata dan berbahaya.
Sebagai generasi yang jauh lebih muda, saya terkesan dengan sikap sangat rasional, konsisten, dan cinta tanah air  yang besar  dari para simpatisan kiri yang dituduh komunis ini. Suatu sikap yang kian langka ditemukan dalam masyarakat yang semakin religius dan intoleran, oportunis dan mementingkan diri sendiri, jika perlu dengan menjual tanah air.
 

Thursday, May 30, 2013

Satu Bumi


             Judul : Satu Bumi: Etika dalam Era Globalisasi
             Pengarang: Peter Singer
             Penerjemah: Pranoto Iskandar
             Penerbit: IMR Press
             Tahun : 2012
             Tebal : 197 hal






Globalisasi menuntut suatu etika baru, karena kita hidup di satu bumi. Artinya, setiap tindakan seseorang di suatu tempat secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan orang lainnya di tempat lain. Oleh karena itu penduduk atau negara kaya tidak dapat mengabaikan begitu saja kondisi penduduk atau negara-negara termiskin, apabila tindakan mereka dapat menyebabkan kehidupn penduduk negara-negara termiskin semakin sengsara. Tidak saja hal ini merupakan sesuatu yang tidak patut, namun akibat yang ditimbulkan dari buruknya kondisi mereka dapat membahayakan kehidupan mereka yang berada di negara-negara yang lebih maju, dalam bentuk kejahatan, terorisme dan sejenisnya.

Penulis mengemukakan bahwa terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan oleh semua pihak, khususnya penduduk dan negara kaya, yaitu:
a. Satu atmosfer: perlunya negara dan masyarakat kaya mempertimbangkan akibat konsumsi mereka terhadap kerusakan bumi yang dapat menghancurkan iklim maupun ekosistem, yang akibatnya terutama akan dirasakan oleh rakyat negara-negara termiskin dalam bentuk perubahan cuaca, yang dapat berupa kegagalan panen, banjir, longsor, dan lenyapnya wilayah karena meningkatnya permukaan air laut.

b. Satu ekonomi: globalisasi hendaknya tidak saja menguntungkan rakyat atau negara-negara kaya, tetapi juga meningkatkan kesempatan dan kesejahteraan rakyat dan negara-negara miskin. Rakyat negara kaya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat negara-negara termiskin dengan pengorbanan kecil saja, misalnya menyumbangkan beberapa dollar yang kurang berarti nilainya bagi mereka namun sangat berarti bagi mereka yang berada dalam kemiskinan absolut.

c. Satu hukum: kejahatan kemanusiaan seperti genosida, yang dilakukan oleh suatu negara seharusnya dapat diadili oleh pengadilan internasional. Namun masih terdapat beberapa kendala untuk pelaksanaan hal ini.

d. Satu komunitas: penduduk negara kaya hendaknya tidak hanya memikirkan bangsa atau negaranya sendiri, karena pemberian bantuan kepada mereka yang berada jauh di bawah garis kemiskinan – misalnya penduduk negara miskin di Afrika – jauh lebih berarti nilainya dibandingkan dengan memberi bantuan kepada penduduk miskin di negara maju, yang bagaimanapun lebih baik kondisinya dari mereka yang berada di negara miskin. Apabila setiap penduduk negara kaya bersedia mengorbankan sedikit saja sejumlah uang yang bagi mereka tidak berarti untuk membantu penduduk negara-negara termiskin, maka kemiskinan akan dapat dikurangi atau bahkan dilenyapkan lebih cepat. Hal ini tidak mudah, karena manusia cenderung lebih suka membantu atau mementingkan pihak-pihak yang dekat dengan dirinya, seperti keluarga, tetangga, teman dekat, sesuku, sebangsa, satu ras, dari pada pihak yang kurang dikenal atau jauh letaknya.

Sebenarnya isi buku ini cukup bagus, meskipun terutama ditujukan untuk masyarakat AS, hampir sejenis dengan Hot, Flat and Crowded.. Namun apabila yang pertama terjemahannya terasa mengalir, terjemahan Satu Bumi sangat kaku, sehingga rasanya lebih baik membaca aslinya. Tampaknya hal ini karena tidak ada editor yang menyunting terjemahan tersebut, karena penerbit demikian percaya dengan penerjemah, yang dianggap ilmuwan yang sangat menguasai topik buku maupun bahasa Inggris, sehingga dianggap bahasa Indonesianya juga bagus.

Sebagai contoh,terdapat kalimat,”Ia menemukan bila ketika sebuah negara miskin dengan manajemen yang baik diberikan bantuan yang setara dengan1 persen dari PNBnya, kemiskinan dan kematian anak turun sampai 1 persen.” Mengapa tidak menggunakan kata bahwa untuk bila, sehingga kalimat tersebut akan menjadi,”Ia menemukan bahwa ketika sebuah negara miskin dengan manajemen yang baik diberikan bantuan yang setara dengan1 persen dari PNBnya, kemiskinan dan kematian anak turun sampai 1 persen.” Bukankah kalimat terakhir lebih jelas? Namun tidak ada satu pun kalimat yang menggunakan kata bahwa, karena semua telah diganti dengan kata bila. Itu baru satu contoh.

Terdapat kalimat lainnya yang seharusnya menggunakan kata anda, menggunakan kata kamu, sehingga terkesan kasar. Selain itu terdapat kalimat yang seharusnya pasif menjadi aktif, misalnya:
”Maka dari itu kita bisa mengusulkan,…..bila tiap orang yang memiliki cukup uang untuk menghabiskan bagi berbagai kemewahan dan kekonyolan yang begitu umum di masyarakat yang berkecukupan wajib untuk memberikan setidaknya 1 sen….bagi orang yang memiliki kesulitan untuk bisa makan…”
Akan lebih tepat kiranya jika kalimat tersebut berbunyi,
”Oleh karena itu kita bisa mengusulkan,…..bahwa tiap orang yang memiliki cukup uang untuk dihabiskan bagi berbagai kemewahan dan kekonyolan yang lazim pada masyarakat yang berkecukupan, wajib memberikan setidaknya 1 sen….bagi orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan makannya.”

Masih banyak lagi kalimat-kalimat yang tidak tepat seperti di atas, sehingga sangat mengganggu dan membuat saya seperti mendapat pekerjaan mengedit sebuah buku, dan menegaskan kembali kekhawatiran saya setiap menghadapi buku terjemahan: jangan-jangan malah lebih sulit dimengerti dari aslinya, atau malah menjadi buku yang tidak menarik sama sekali (jika fiksi)?

Thursday, October 20, 2011

Saya Nujood, Usia 10

Judul : Saya Nujood, Usia 10 dan Janda
Pengarang: Dalphine & Nujood
Penerbit: Alvabet, Jakarta
Tahun : 2011 (Cet.1 th 2010)
Tebal : 210 hal

Buku ini adalah kisah seorang gadis kecil dari Yaman korban perkawinan anak-anak yang berhasil membebaskan diri dari suaminya dengan usahanya sendirii.
 

Berlainan dengan gadis-gadis lain seusianya yang menerima nasibnya dengan pasrah di tangan suami, ayah atau keluarga yang kejam, Nujood berani melarikan diri dari rumah dua bulan setelah perkawinan dan pergi ke pengadilan sendirian untuk menuntut perceraian. Beruntung ia bertemu dengan hakim-hakim yang baik serta seorang pengacara perempuan dan feminis yang pernah menangani kasus perkawinan anak-anak, yaitu Shada Nasser, sehingga usahanya untuk mendapatkan kebebasan dan kembali ke sekolah dapat berhasil. Yang unik, ia mendapatkan ongkos taksi serta nasihat untuk pergi ke pengadilan dari isteri kedua ayahnya, yang mencari nafkah sendiri dengan cara mengemis, meskipun memperoleh lima anak dari ayahnya yang sangat miskin. Sementara itu ibunya  tidak berani berbuat apapun untuk membelanya.

Keberanian dan keberhasilannya kemudian memberi inspirasi bagi gadis-gadis lain seusianya di wilayah Arab yang bernasib sama untuk turut melawan, dan membuat Nujood serta pengacaranya mendapat penghargaan sebagai Women of the Year dari majalah Glamour pada tahun 2008, karena ia gadis pertama yang berani mengajukan haknya dengan meminta cerai ke pengadilan. Namun demikian perjuangan membebaskan perempuan Yaman dari penindasan tidak mudah, karena pengacara Nujood mendapat ancaman dari kaum konservatif yang berpendapat bahwa kemenangan Nujood merupakan pengaruh buruk dari dunia Barat yang merusak moral, “kehormatan” dan agama.

Di Yaman tidak ada pembatasan usia minimum untuk menikah. Pernikahan di bawah umur biasanya disertai perjanjian bahwa si gadis tidak akan disentuh sebelum usia pubertas. Namun dalam pelaksanaannya hal tersebut seringkali dilanggar, karena gadis-gadis tersebut tidak berdaya dan keluarga mereka umumnya mendukung suami si gadis, sebagaimana halnya yang terjadi pada Nujood. Dalam kasus Nujood, maka perceraian dimungkinkan karena suaminya telah melakukan tindakan seksual, yang seharusnya belum boleh dilakukan. Namun mahar yang telah diterima harus dikembalikan.

Pernikahan di bawah umur dan tindakan seksual serta kekerasan yang menyertainya masih banyak terjadi hari ini di pedesaan negara-negara seperti Yordania, Mesir, Libya, Syria, Palestina, Aljazair, Oman, Arab Saudi dan negara Arab lainnya Usaha untuk memberantasnya tidak mudah, karena selalu mendapat tantangan dari kaum konservatif yang berpikir masih seperti ratusan tahun lalu. Misalnya di Yaman, mereka berpendapat bahwa pernikahan di bawah umur wajar karena Nabi menikahi Aisyah ketika ia berumur sembilan tahun.


Yaman adalah salah satu negara Arab yang masih memegang tradisi dengan teguh. Negeri berpenduduk dua puluh tiga juta jiwa ini masih mewajibkan perempuan memakai cadar, disunat ketika kecil, dipisahkan di ruang publik, dan menganut hukum syariah yang menilai kesaksian dan warisan bagi perempuan setengah dari laki-laki. Selain itu, dengan system patriarkat yang menilai kehormatan suatu keluarga tergantung kepada adanya anak laki-laki dan nilai seorang perempuan hanya dari kemampuannya menghasilkan anak laki-laki, maka perempuan Arab akan berusaha sekuat tenaga untuk memiliki sebanyak mungkin anak lelaki serta mempertahankan hubungan dekatnya dengan anak lelakinya dengan menindas istrinya.
Kondisi di Yaman merupakan cermin kondisi negara-negara lain di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil survey Freedom House terhadap kondisi perempuan di 16 negara Arab dan Afrika Utara, yang diukur berdasarkan lima kategori antara lain non-diskriminasi dan akses terhadap hukum, otonomi, keamanan dan kebebasan, hak ekonomis dan persamaan kesempatan, yang terburuk dalam memberikan hak-hak kepada perempuan adalah Arab Saudi, Kuwait dan UEA, sedangkan yang terbaik adalah Tunisia dan Maroko disusul Aljazair dan Mesir, meskipun di keempat negara inipun kondisi perempuan tidak sebaik negara-negara lain di luar wilayah tersebut.

Kisah Nujood memberi informasi bahwa perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan, yang disebabkan oleh kemiskinan, kebodohan dan sistem patriarkat serta ideologi yang menyertainya masih jauh dari selesai dan tidak mudah, bahkan di abad ke dua puluh satu.

Sunday, September 18, 2011

PONDOK BACA


Judul : Pondok Baca - Kembali ke Semarang
Pengarang : Nh Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Tebal : 251 hal

Sebagai kelanjutan seri Cerita Kenangan, yang terakhir yaitu Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), Pondok Baca adalah kisah kehidupan Dini sejak pulang ke Indonesia pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1998.
Dalam Pondok Baca dikisahkan bagaimana Dini memulai hidup baru setelah kembali ke Semarang – tempat tinggalnya di masa kecil, kemudian asal mula gagasan membangun Pondok Baca, yaitu taman bacaan untuk anak-anak dan pra remaja di sekitar tempat tinggalnya, usahanya dalam membangun dan mempertahankan Pondok Baca serta tempat tinggal yang layak, termasuk ketika harus menghadapi musibah bencana alam, dan kegiatan-kegiatannya yang lain.
Apabila diteliti, seluruh tulisan Dini, baik seri Cerita Kenangan maupun novel-novelnya, semuanya bersifat otobiografis, artinya bersumber dari pengalaman nyata dan kisah sehari-hari penulisnya yang diceritakan dengan lancar dan jujur. Mungkin ini yang menjadi daya tarik buku-bukunya selama ini. Kejujuran seorang perempuan yang menceritakan pengalaman dan perjuangan hidupnya yang tidak selalu beruntung, namun selalu dijalani dengan rasa syukur dan usaha keras, dan dibagikan kepada banyak orang secara terbuka.
Mungkin banyak perempuan yang mengalami hal-hal yang dialami Dini, seperti mendapatkan suami yang salah, mengalami kesulitan keuangan dan banyak masalah lainnya, walau telah bekerja atau berusaha keras hampir seumur hidup untuk mencapai apa yang diimpikan, namun tetap hidup dengan baik sehingga dapat mengatasi semua kesulitan, memberikan manfaat bagi sekelilingnya dan akhirnya berbahagia.
Namun berapa orang yang bersedia membagikan pengalaman hidupnya yang kurang menyenangkan serta perasaannya kepada banyak orang secara jujur dan terbuka dalam bentuk novel atau cerita kenangan? Padahal mungkin kisah-kisah tersebut dapat membantu perempuan lain yang mengalami hal yang hampir sama bahwa dia tidak sendirian, bahwa kadang demikianlah hidup: tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi harus tetap dijalani dan diatasi dengan kesungguhan.
Membaca buku-buku Dini kita tidak akan menemukan banyak hal yang bersifat fiksi, karena tokoh-tokoh maupun ceritanya hanya sekitar kehidupan pengarang sendiri, namun mungkin justru akan mengingatkan kita kepada diri sendiri, orang tua, keluarga, atau orang-orang yang kita kenal... hidup tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi apapun yang terjadi, tetap harus dijalani dan diatasi dengan baik....

Wednesday, January 20, 2010

THEY POURED FIRE ON US FROM THE SKY



Judul : They Poured Fire on Us From the Sky
Pengarang: Benyamin Ajak, Benson Deng, Alephonsian Deng, Judy Bernstein
Penerbit: Public Affairs, NY
Tahun : 2006
Tebal : 336 hal
* * * * *

Perang saudara di negara-negara Afrika tidak pernah banyak menarik perhatian dunia. Mungkin karena terlalu sering terjadi, sehingga Afrika selalu identik dengan perang, atau karena negara-negara tersebut dianggap tidak penting.

Perang di Sudan - salah satu negara besar di Afrika – terutama disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga perebutan sumberdaya alam yang langka menjadi sumber konflik. Daerah bagian utara yang kurang subur dan sebagian besar berupa padang pasir tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan penduduk dan ternak yang pesat, sehingga penduduk berbangsa Arab yang mendominasi pemerintahan dan wilayah utara mendesak penduduk asli di bagian selatan yang wilayahnya lebih subur. Kebangkitan gerakan pemurnian agama dari wilayah sekitarnya menjadi penyulut konflik etnis dan agama antara penduduk asli Afrika dengan penduduk bangsa Arab, yang kemudian menjadikan Sudan negara Islam. Perang di Sudan membuat ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi, dan belum berakhir sampai kini.

Buku ini tidak menceritakan tentang sejarah peperangan di Sudan, hanya mengisahkan perjalanan tiga orang anak laki-laki berumur antara tujuh hingga sembilan tahun melarikan diri dari medan perang, melewati desa-desa yang hancur, padang pasir dan hutan ke negara tetangga: Kenya dan Ethiopia saat perang saudara pada tahun 1980-an.

A Long Way Gone, kisah seorang anak Afrika yang terperangkap perang di Nigeria dan dipaksa menjadi tentara anak-anak, telah menggambarkan kekejaman perang dengan mengesankan. Namun They Poured Fire.. lebih menyentuh, karena dialami oleh anak-anak yang jauh lebih kecil, sehingga penulisannya juga masih bernada anak-anak yang sederhana dan apa adanya. Mungkin karena buku tersebut ditulis tak lama setelah mereka tiba dari kamp pengungsian di Afrika, meskipun saat itu mereka telah berusia sekitar dua puluh tahun dan berada di Amerika.

Kita dapat membaca bagaimana desa mereka diserang pada suatu malam sehingga orang tua mereka menyuruh mereka melarikan diri ke hutan. Namun mereka tak dapat kembali lagi ke desa dan mengetahui nasib orang tua mereka dan harus mulai berjalan ke desa lain. Namun setiap desa yang mereka datangi juga tidak lama kemudian diserang, sehingga mereka harus terus dan terus berjalan. Tanpa makanan, tempat berteduh atau pakaian, mereka harus melewati hutan yang masih banyak dihuni binatang buas, padang pasir yang berserakan tulang-belulang pengungsi lain yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, sungai, kota yang penuh ranjau, hingga akhirnya tiba di tempat pengungsian yang tidak mengenal belas kasihan. Penjaga mereka hanyalah tentara pemberontak yang juga masih muda dan juga tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit senjata.

Menakjubkan membaca bagaimana seorang anak berumur tujuh tahun dapat memiliki semangat hidup begitu besar meskipun telah kehilangan segalanya dan dapat memaksa diri sendiri untuk ”tidak menangis, tidak menurutkan rasa sedih, pikirkan hanya cara bertahan hidup: tumbuhan apa yang dapat dimakan, alat apa yang dapat dipakai memasak, bagaimana supaya bisa terus kuat berjalan apapun yang terjadi...”

Membaca kisah Deng dkk akan membuat kita kagum akan keberanian dan semangat hidup mereka, sekaligus sedih. Bagaimana mungkin anak-anak tersebut memiliki keberanian dan kekuatan demikian besar?
Buku ini menegaskan kebenaran arti survival of the fittest: hanya yang kuat dan mampu beradaptasi yang dapat bertahan, dan nasib baik juga penting. Namun kekejaman perang yang luar biasa dan tiada akhir yang digambarkan dalam buku ini kembali memunculkan pertanyaan lama: mengapa demikian banyak kejahatan dan kesedihan di bumi; mengapa anak-anak harus menderita, dan tak ada pertolongan dari manapun?

Sunday, March 16, 2008

INFIDEL



Judul : Infidel
Pengarang : Ayaan Hirsi Ali
Penerbit : Free Press, NY
Tahun : 2007
Tebal : 350 hal

Ayaan adalah mantan anggota Parlemen Belanda yang berasal dari Somalia. Namanya mungkin asing bagi masyarakat Indonesia, namun bagi pembela kebebasan berpikir dan berpendapat, kini ia adalah salah satu tokoh yang dikagumi karena keberaniannya melakukan kritik terhadap kaum fundamentalis Islam dan penyadaran akan hak-hak perempuan dalam masyarakat Muslim. Kini, keberaniannya harus dibayar dengan hidup dalam pengawalan ketat sepanjang waktu yang memakan biaya mahal.

Buku ini menceritakan riwayat hidup Ayaan sejak kecil. Sewaktu kecil, Ayaan berpindah-pindah tinggal di Somalia, Arab Saudi, Kenya dan Ethiopia, karena ayahnya adalah salah seorang pejuang yang berusaha membebaskan Somalia dari kekuasaan Presiden Siad Barre ketika itu, sehingga selama 10 tahun Ayaan dibesarkan di Kenya. Kemudian pada umur 22 tahun (tahun 1992), ketika akan dinikahkan dengan pria Somalia yang tinggal di Kanada, dan sedang berada di Jerman menunggu keberangkatan selanjutnya, ia melarikan diri ke kamp pengungsi di Belanda dan membuat cerita agar bisa mendapatkan status pengungsi, karena jika alasannya hanya karena dipaksa menikah, ia tidak dapat menjadi pengungsi. Setelah mendapat status pengungsi, Ayaan mempelajari bahasa Belanda, memasuki vocational college, dan akhirnya mengambil Master ilmu politik di Universitas Leiden. Ia beruntung menguasai bahasa Inggris dengan baik, sehingga bisa membiayai kuliahnya dari profesinya menjadi penerjemah lepas bagi para pengungsi dari Somalia yang cukup banyak terdapat di Belanda.

Pengalaman hidupnya di tiga negara Islam dan perjuangannya untuk mendapatkan kebebasan di negara Barat diceritakan cukup rinci, sehingga pembaca dapat mengetahui bagaimana kondisi negara-negara Islam yang pernah ditinggali Ayaan: status perempuan yang sangat rendah, infrastruktur yang buruk dan kota yang kotor serta berantakan, maraknya korupsi dan kemunafikan.
Penulis mengungkapkan bagaimana klan merupakan akar dari perseteruan dan peperangan yang terus menerus mendera Afrika, dan bahwa perempuan yang tidak memiliki suami atau keluarga/klan yang melindunginya berarti terbuka untuk diperlakukan apa saja termasuk diculik dan diperkosa beramai-ramai dan setelah itu dihinakan serta dianggap pantas untuk mati. Perempuan tidak memiliki hak apapun. Dengan mengutip ayat-ayat Qur’an, kaum lelaki di negara-negara tersebut merasa berhak memukuli istrinya setiap hari, mengganggu perempuan yang keluar rumah sendirian, dan melakukan penyunatan total yang membahayakan nyawa serta memaksa anak gadisnya menikah dengan siapa saja yang mereka kehendaki. Perlawanan akan mengakibatkan hilangnya perlindungan dari klan, dan nasib perempuan tanpa klan sangatlah rentan. Mungkin karena itu sejak masih tinggal di Ethiopia – bukan negara Islam – Ayaan telah mempersiapkan diri untuk mandiri dengan mengambil kursus agar dapat bekerja. Sifatnya yang bertanggung jawab dan ingin menjadi perempuan mandiri membuatnya ketika di Belanda tekun belajar dan bekerja serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebagian besar pengungsi dari negara-negara Muslim Afrika tidaklah demikian, yang membuat mereka tetap tertinggal dan menjadi masalah bagi negara-negara Eropa. Ayaan menjelaskan mengapa:
1. Mereka merasa superior dan menganggap rendah negara serta penduduk tempat mereka tinggal karena bukan negara Muslim, yang mereka sebut kafir, sehingga mereka tidak mau berbaur atau mencoba memahami kebudayaan negara tersebut. Ibu Ayaan juga demikian, merasa tersiksa dan rendah ketika harus tinggal di Ethiopia.
2. Oleh karena merasa superior, mereka tidak mau belajar dan bekerja dengan tekun di tempat yang baru namun bersikeras mempertahankan adat di tempat lama seperti: penyunatan perempuan, pemaksaan perkawinan, pembunuhan atas nama kehormatan, dan pemukulan terhadap istri.
3. Meluasnya gerakan Muslim Brotherhood yang menyerukan pemurnian Islam seperti 14 abad yang lalu di seluruh dunia turut mempengaruhi peningkatan konservatisme dan kebencian terhadap pihak yang tidak sefaham. Secara kasat mata, hal ini tampak dari makin banyaknya perempuan berjilbab di banyak negara yang semula relatif sekuler, seperti Kenya, Lebanon dan Turki.

Studi yang dilakukannya di Universitas Leiden untuk menjawab pertanyaan, mengapa semua negara Islam hancur (dilanda perang atau miskin/korup) membawanya mempelajari sejarah pemikiran dan perkembangan budaya Barat sampai pada tingkatnya saat ini yang maju dan sekuler. Meskipun mula-mula ia merasa berdosa mempelajari ide-ide baru tersebut, yang berdasarkan pendidikan agama yang diterimanya selama ini dapat dianggap merupakan pelajaran setan, namun akhirnya ia merasa yakin bahwa rasionalitas, sains, adalah yang terbaik dan agama Islam (di negara Muslim Arab dan Afrika) adalah sumber keterbelakangan. Keyakinan ini diperkuat ketika terjadi serangan 11 September, Ayaan menemukan bahwa ayat-ayat yang dikutip Osama bin Laden untuk membenarkan serangan tersebut semuanya terdapat di Qur’an dan Hadits. Ini menyadarkannya: kitab yang selama ini ia anggap suci dan baik itu ternyata hanya meminta satu hal: penyerahan total (submission), dan tidak menyediakan tempat untuk toleransi bagi agama lain.

Oleh karena itu, menurutnya, negara-negara Eropa seharusnya memaksa pendatang untuk berbaur dan mempelajari sejarah serta budaya Eropa, dan tidak membiarkan pendatang menerapkan adat lama atau membantu sekolah khusus yang mengajarkan kefanatikan agama serta perendahan perempuan. Bukan karena tidak menghargai budaya lain, tetapi karena budaya tersebut, yang berdasarkan Islam, bersifat terbelakang: menindas perempuan, membodohkan dan melanggengkan kebencian pada pihak yang berlainan agama atau budaya. Untuk memperjuangkan hal ini maka Ayaan menjadi anggota parlemen Belanda, menjadi pembicara pada banyak acara, dan dengan sutradara Theo van Gogh membuat film yang mengkritik sikap Islam terhadap perempuan, Submission.

Suatu hari di bulan November 2004, Theo ditemukan terbunuh di pagi hari dengan beberapa tembakan sebelum digorok lehernya oleh seorang fundamentalis Muslim. Tidak hanya itu, pembunuh meninggalkan sebilah pisau tertancap di dada korban dengan kertas berisi pesan ancaman terhadap nyawa Ayaan. Kejadian ini mengguncangkan Belanda. Dan sejak itu mulailah penjagaan ketat atas dirinya hingga kini.

Benarkah Islam sumber penindasan terhadap perempuan? Jika diteliti, maka penyunatan perempuan adalah budaya Afrika, sedangkan cadar dan pakaian tertutup adalah budaya Arab, dan pembunuhan karena kehormatan mungkin budaya Arab dan Afrika, sehingga ketiga hal di atas tidak kita temukan di Indonesia. Namun dalam budaya yang sangat bersifat patriarkis seperti di atas, Islam dapat dijadikan pembenaran untuk semakin menindas perempuan, karena dalam Qur’an (dan hadits) sendiri terdapat ayat-ayat yang cukup merendahkan, misalnya tentang dibolehkannya pemukulan terhadap istri, poligami, dst.

Kebebasan berpendapat, khususnya kritik terhadap Islam masih merupakan hal yang sulit dilakukan dimanapun, termasuk di Indonesia, yang konon katanya termasuk moderat. Ayaan mungkin tidak tahu bahwa di Indonesia dan Malaysia keadaan perempuan jauh lebih baik, sehingga seseorang tidak perlu melakukan kritik keras terhadap agama untuk memperjuangkan hak dasar perempuan, bahkan perempuan sendiri mengurangi kebebasannya secara sukarela demi agama, misalnya mengenakan busana muslim.
Namun satu hal tetap sama: agama tetap dianggap sesuatu yang sakral dan tabu untuk dikritik, kritik akan mengundang kemarahan massa yang mengerikan. Sebagai akibatnya, kini kita terus menerus membiarkan kaum garis keras mengumpulkan pengikut, menyerang pihak lain, dan mengakomodasi keinginan mereka untuk sedikit demi sedikit memasukkan hukum agama ke dalam hukum nasional, serta takut menyebarkan pendapat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan faham mereka. Benarkah keadaan ini? Tentu saja tidak. Karena meskipun keadaan disini jauh berbeda dengan Arab atau Afrika, penyebaran gerakan pemurnian agama dapat membawa pula kebudayaan negara asal agama tersebut jika kita tidak mencermatinya, sehingga setelah pengaturan terhadap pakaian dan penampilan perempuan, akan menyusul hal-hal lain yang dapat merugikan budaya kita sendiri.

Ayaan adalah seorang perempuan Muslim yang mengesankan; penuh tanggung jawab, pekerja keras, berani berpikir, dan berani membebaskan dirinya dari belenggu agama untuk memperjuangkan kebaikan yang lebih besar bagi dunia ini, khususnya bagi para perempuan Muslim yang tertindas agama beserta kebodohan dan budaya yang melingkupinya. Jika kritiknya tampak terlalu keras, itu adalah karena pengalamannya juga demikian keras. Namun ia memberi kita pengetahuan yang berharga: bahwa di tempat lain, ada banyak perempuan yang sangat menderita, yang selama ini kita biarkan dan tidak berani kita kritik, karena mereka Muslim. Ia juga mengingatkan kita bahwa Islam belum pernah mengalami reformasi (sebagaimana agama Kristen), karena itu sangat berbahaya.
Dan Ayaan memberikan kebebasannya (dari ancaman/perlindungan ketat) agar dunia menyadari hal tersebut.

Saturday, December 15, 2007

Mother Teresa: Come Be My Light



Judul : Mother Teresa : Come Be My Light – The Private Writings
of the “Saint of Calcutta”
Editor : Brian Kolodiejchuk, M.C
Penerbit : Doubleday, NY
Tahun : 2007
Tebal : 400 hal

"Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that crown in my heart - & make me suffer untold agony. So many unanswered questions live within me – I am afraid to uncover them – because of the blasphemy – If there be God, - please forgive me. "

Banyak orang mengagumi Bunda Teresa karena kepedulian dan kasihnya kepada orang-orang paling miskin dan terabaikan, sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 1983. Namun tidak banyak yang mengetahui perasaan atau pikirannya.
Buku ini disusun oleh Father Kolodiejchuk - yang mengenal Bunda Teresa selama 20 tahun dan untuk pengusulannya sebagai Santo - berdasarkan surat-surat Bunda Teresa kepada para pimpinan/penasihatnya di gereja dengan pesan agar kemudian dihancurkan. Namun gereja tetap menyimpan bahkan menerbitkannya dalam sebuah buku. Menurut Father Kolodiejchuk, tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk memberikan informasi bagi para pengagum Bunda Teresa mengenai motif tindakan, sumber kekuatan, alasan kegembiraan, dan intensitas cintanya.
Bunda Teresa dilahirkan pada tahun 1910 di Albania. Pada usia 18 tahun, ia berangkat ke Irlandia untuk memasuki kehidupan misionaris di Institut Blessed Virgin Mary (Loreto order). Ia telah tertarik bekerja untuk orang miskin sejak berumur 12 tahun, dan memikirkannya selama 6 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi misionaris,”From the age of 5,5 years – when first I received Him, the love for souls has been within, it grew with the years, until I came to India, with the hope of saving many souls.” Ia tiba di Calcutta pada tanggal 6 Januari 1929.
Pada bulan Mei 1937, Suster Teresa melaksanakan upacara pengukuhan komitmen kesetiaan kepada Yesus di sebuah kapel di Darjeeling, India dan sesuai tradisi Loreto sejak itu disebut Bunda Teresa.
Selama itu, Bunda Teresa mengajar murid-murid perempuan di sekolah St Mary dan dapat dikatakan tidak sepenuhnya hidup seperti orang India karena Ordo Loreto menjamin semua keperluan hidupnya dan berada di tempat yang relatif aman dari segala pergolakan yang tengah terjadi di India pada waktu itu. Namun, pada bulan September 1946 Bunda Teresa menyatakan mendapatkan panggilan untuk melayani orang-orang termiskin,”It was in that train, I heard the call to give up all and follow Him in the slums – to serve Him in the poorest of the poor.”
Sejak mendapatkan panggilan, Bunda Teresa berusaha untuk mewujudkan cita-citanya, namun ditolak oleh gereja. Pada tahun 1947, atas permintaan gereja, ia mengajukan bluepint Ordo barunya, yaitu misi dan penjelasan mengenai kegiatannya kelak. Bunda Teresa ingin membentuk Ordo untuk membantu orang-orang termiskin dan hidup sebagaimana orang India. Akhirnya pada bulan Januari 1948, gereja mengizinkannya membentuk Missionary Sisters of Charity, yang akan membantu orang-orang miskin.

Missionary yang dibangun oleh Bunda Teresa mengalami kemajuan cukup pesat, sebagaimana tertulis dalam suratnya,”I went visiting and nursing the people in their dark homes and holes. So many neglected poor children surrounded me everywhere. Slowly with some lay helpers I gathered the children in two slums. Then in March the first Bengali girls joined. Now we are seven. We work in five different centres.” (hal 137)


Missionary yang dibangun oleh Bunda Teresa mulai menunjukkan hasil. Sebaliknya, Bunda Teresa merasakan hal sebaliknya sejak kegiatan tersebut dimulai, sebagaimana tulisnya pada tahun 1953,”Please pray specially for me that I may not spoil His Work and that Our Lord may show Himself-for there is such terrible darkness within me, as if everything was dead. It has been like this more or less from the time I started ‘the work’.” (hal 148)

Setahun lebih berikutnya Bunda Teresa bahkan merasakan kesepian yang dalam, keterpisahan dari Yesus. “There is so much contradiction in my soul – Such deep longing for God – so deep that is painful – a suffering continual – and yet not wanted by God – repulsed – empty- no faith – no love – no zeal.- Sous hold no attraction – Heaven means nothing – to me it looks like an empty place – the thought of it means nothing to me and yet this torturing longing for God. – Pray for me please that I keep smiling at Him in spite of everything. For I am only His – so He has every right over me.” (hal. 169)
Kehampaan dan penderitaan Bunda Teresa berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya, sebagaimana surat pada tahun 1959 kepada Father Picachy “…Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that crown in my heart - & make me suffer untold agony. So many unanswered questions live within me – I am afraid to uncover them – because of the blasphemy – If there be God, - please forgive me. – Trust that all will end in Heaven with Jesus.- When I try to raise my thoughts to Heaven – there is such convicting emptiness that those very thoughts return like sharp knives & hurt my soul. – Love – the word – it brings nothing. – I am told God loves me – and yet the reality of darkness & coldness & emptiness is so great that nothing touches my soul. Before the work started – there was so much union – love – faith – trust – prayer – sacrifice.-Did I make the mistake in surrendering blindly to the call of the Sacred Heart?” Selanjutnya,”The whole time smiling - Sisters & people pass such remarks. – They think my faith, trust & love are filling my very being & that the intimacy with God and union to His will must be absorbing my heart. – Could they but know – and how my cheerfulness is the cloak by which I cover the emptiness & misery.
In spite of all – this darkness & emptiness is not as painful as the longing for God. – The contradiction I fear will unbalance me. – What are You doing My God to one so small?”

Sejak tahun itu pula Bunda Teresa tidak lagi berdoa, sebagaimana tulisnya pada bulan September, ”They say people in hell suffer eternal pain because of the loss of God – they would go through all that suffering if they had just a little hope of possessing God. – In my soul I feel jus that terrible pain of loss – of God not wanting me – of God not being God – of God not really existing (Jesus, please forgive my blasphemies – I have been told to write everything). That darkness that surrounds me on all sides – I can’t live my soul to God – no light or inspiration enters my soul. – I speak of love for souls – of tender love for God – words pass through my words – and I long with a deep longing to believe in them. – What do I labor for? If there be no God – there can be no soul. –If there is no soul then Jesus – You also are not true. – Heaven, what emptiness- not a single thought of Heaven enters my mind – for there is no hope. – I am afraid to write all those terrible things that pass in my soul. – They must hurt You.
In my heart there is no faith – no love – no trust – there is so much pain – the pain of longing, the pain of not being wanted. – I want God with all the powers of my soul – and yet there between us – there is terrible separation. – I don’t pray any longer – I utter words of community prayers – But my prayer of union is not there any longer – I no longer pray. – My soul is not one with You.”

Selanjutnya mengenai pekerjaannya, ia menulis,”The works holds no joy, no attraction, no zeal.” Meskipun demikian, ia menganggap itu adalah panggilan Jesus dan pekerjaanNya, ”That is why the work is Yours and it is You even now – but I have no faith – I don’t believe. – Jesus, don’t let my soul be deceived – nor let me deceive anyone.”
Bahkan pada hari Natal, ia menulis,”A real Christmas. – Yet within me – nothing but darkness, conflict, loneliness so terrible. I am perfectly happy to be like this to the end of life-“

Surat lainnya kepada Father Neuner, ”Darkness is such that I really do not see – neither with my mind nor with my reason. – The place of God in my soul is blank.-There is no God in me.- When the pain of longing is so great- I just long & long for God – and then it is that I feel – He does not want me – He is not there – Heaven- souls- why these are just words-which mean nothing to me.-My very life seems so contradictory. I help souls- to go where?- Why all this? Where is the soul in my very being? –Sometimes- I just hear my own heart cry out-“My God” and nothing else comes.-The torture and pain I can’t explain.-I feel nothing before Jesus.”
Selanjutnya,”I loved God with all the powers of a child’s Heart. He was the centre of everything I did & said- Now Father- it is so dark, so different and yet my everything is His- in spite of Him not wanting me, not caring as if for me.”
Dalam surat-surat selanjutnya tampak bahwa setelah mendapat nasihat Father Neuner akhirnya Bunda Teresa menerima kehampaan ini dengan pasrah, sampai akhir hayatnya.”For the first time in this 11 years- I have come to love the darkness.- For I believe now that it is a part, a very, very small part of Jesus’ darkness & pain on earth.”

Meskipun demikian hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebagaimana tampak pada surat berikutnya
,”I have realized something these days. Since God wants me to abstain from the joy of the riches of spiritual life- I am giving my whole heart and soul to helping my Sisters to make full use of it.- As for myself, I just have the joy of having nothing- not even the reality of the presence of God.- No prayer,no love, no faith – nothing but continual pain of longing for God.”
Buku ini memberi kita informasi mengenai apa yang memotivasi Bunda Teresa bekerja keras membantu orang-orang termiskin: keinginan melayani Yesus, membalas pengorbanan Yesus dengan cara hidup menderita dan menyebarkan ajarannya, dan keinginan menjadi orang suci (Santa),”I want to become a saint according to the Heart of Jesus – meek and humble.” Itu pula sebabnya, para suster yang bekerja untuknya harus melayani orang miskin dengan hidup menderita: melakukan pekerjaan berat tanpa bantuan teknologi (misalnya mesin cuci), dan hidup sangat sederhana, karena bagi Bunda Teresa mendampingi dan membantu orang miskin bukan kerja sosial, tetapi pelayanan untuk Tuhan yang harus dilakukan dengan pengorbanan atau hidup menderita. Hal ini mungkin dapat menjawab beberapa kritik yang ditujukan kepadanya oleh beberapa penulis, yang menyatakan bahwa bantuan yang diberikan oleh banyak pengagumnya tidak digunakan untuk membeli peralatan modern yang dapat memperingan pekerjaan para susternya dan bahwa mereka bekerja terlalu berat serta berada dalam kondisi yang terlalu menyedihkan.
Surat-surat Bunda Teresa tentu mengejutkan bagi banyak orang. Mengapa ia tidak merasakan kehadiran Tuhan, bahkan meragukannya, merasa hampa, hipokrit, dan berada dalam kegelapan? Bagi penganut Katolik hal tersebut dianggap salah satu tanda kesucian, karena kegelapan (interior darkness) ini juga dialami oleh beberapa Santo dan oleh St John of the Cross disebut ‘dark night’. Hal ini bahkan dianggap sebagai penyucian yang harus dialami sebelum seseorang mencapai kesatuan dengan Tuhan. Proses ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama seseorang melepaskan indrawinya dan menarik diri untuk doa kontemplasi. Pada kondisi ini ketika Tuhan menyampaikan sinarNya, jiwa yang tidak sempurna tidak dapat menerimanya dan mengalami kegelapan, sakit, dan kehampaan. Tahap selanjutnya seseorang merasa ditolak dan diabaikan oleh Tuhan, akan tetapi sangat merindukan dan mencintai Tuhan namun tidak dapat mengenalinya. Pada tahap ini iman, harapan dan charity diuji. Setelah melewati pengujian ini, seseorang kemudian menuju pemisahan dari ciptaan dan meningkat kepada union dengan Kristus, menjadi alatnya dan melayaninya tanpa pamrih. Bunda Teresa dianggap telah sampai pada tahap ini.
Di sisi lain, mereka yang rasional berpendapat sebaliknya. Tidakkah itu membuktikan bahwa Bunda Teresa adalah hasil suatu iman buta, indoktrinasi yang demikian kuat, yang kemudian mengalami konflik karena kemudian rasionalitasnya meragukan indoktrinasi tersebut? Melihat bahwa konflik tersebut timbul sejak ia membentuk Ordo Charity dan harus menghadapi segala kesulitan dan penderitaan sendiri, serta setiap saat melihat penderitaan orang-orang termiskin dan terabaikan secara langsung, mungkin hal tersebut kemudian memberikan realitas dan pemahaman baru tentang kehidupan, yang baginya tidak lagi sesuai dengan doktrin yang telah diyakininya selama ini. Ketika melihat orang-orang malang di jalanan yang tidak diinginkan, tidak dicintai, ia merasakan hilangnya kehadiran Tuhan, arti doa, bahkan meragukan keberadaanNya, dan karena ia banyak bersama mereka, ia juga merasa bahwa Tuhan meninggakannya juga.“The physical situation of my poor left in the streets unwanted,unloved unclaimed – are the true picture of my own spiritual life.” (hal 232). Tidakkah hal ini mirip dengan kaum humanis yang melihat penderitaan besar menimpa manusia tak berdosa (karena bencana alam, perang, kecelakaan atau penyakit) tanpa alasan jelas, kemudian bertanya,”Dimanakah Dia? Mengapa Dia membiarkan semua (penderitaan) ini? Benarkah Dia mencintai orang-orang malang ini? Adakah Dia?” Namun dalam diri Bunda Teresa telah tertanam iman dan doktrin yang demikian dalam sehingga tidak mungkin untuk bersikap menggunggat seperti seorang humanis, sehingga terjadi konflik yang menimbulkan perasaan hampa dan kegelapan, dan satu-satunya penyelesaian adalah meneruskan apa yang telah dijalani.

Dengan kata lain, Bunda Teresa adalah hasil dari kekuatan agama yang demikian besar, yang mampu menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal paling baik, atau menyangkal seluruh rasionalitasnya dengan segala pengorbanan, atau melakukan hal-hal terburuk dengan alasan yang sulit diterima rasio.
Bagaimanapun, Bunda Teresa telah memberikan contoh dan penghiburan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Ia adalah contoh bagaimana agama dapat membuat seseorang melakukan kebaikan yang tak terbayangkan, karena dimotivasi untuk menjadi orang suci, kekasih Tuhan.

Friday, September 22, 2006

BURNED ALIVE



Pengarang : Souad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal : 296 halaman
Tahun : Juli 2006

Setelah My Hidden Face diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Burned Alive turut menambah pengetahuan kita tentang kehidupan perempuan di negara-negara Timur Tengah, yang selama ini tidak kita ketahui benar-benar.
Burned Alive merupakan sebuah kisah nyata seorang perempuan Arab di Tepi Barat (Palestina) yang terjadi pada akhir tahun 1970-an, namun tidak mustahil kejadian serupa masih terjadi pada hari-hari ini di pedesaan negara-negara Arab dan sekitarnya seperti Jordania, Pakistan, Afghanistan, Maroko, Sudan, dll, mengingat buku tulisan jurnalis-jurnalis Barat seperti Price of Honor (1995) masih menceritakan hal yang tidak jauh berbeda.
Membaca kisah perempuan dalam buku ini seperti kembali ke zaman 1400 tahun yang lalu, dan hampir sulit dipercaya bahwa masih ada kehidupan seperti itu di abad 20.
Pembunuhan karena kehormatan merupakan hal biasa di negara-negara Arab. Perempuan yang dianggap menimbulkan aib bagi keluarga karena berteman atau memiliki hubungan dengan seorang laki-laki, diperkosa, hamil di luar nikah, bahkan hanya digosipkan dengan disebut pelacur, akan dibunuh oleh keluarganya untuk mengembalikan kehormatan keluarga itu. Bentuk pembunuhan bermacam-macam; bisa dengan pukulan, cekikan, tabrakan seolah kecelakaan, atau seperti dalam buku ini.. dibakar hidup-hidup. Biasanya hal ini dilakukan oleh saudara laki-laki, sementara orang tua sengaja bepergian agar tidak berada di rumah pada saat pembunuhan terjadi dan berpura-pura tidak tahu, namun sebenarnya hal tersebut telah direncanakan dengan rapi oleh keluarga.
Dalam buku ini kita diberitahu kehidupan penulis sejak masa kanak-kanak, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, yang empat diantaranya adalah perempuan. Sebagai anak perempuan, ia tidak pernah bersekolah, harus bekerja keras sepanjang hari menggembalakan domba, memerah susu, membuat keju, memetik buah ara dan tomat, membersihkan rumah, mencuci dan memasak namun masih mendapatkan pukulan setiap hari dari ayahnya yang kejam. Sebaliknya saudara laki-lakinya tidak perlu bekerja di rumah, disekolahkan dan dapat pergi kemana saja.
Betapa rendahnya nilai perempuan banyak digambarkan dengan cukup mengerikan; misalnya bagaimana ibunya melahirkan sebanyak empat belas kali dan sembilan diantaranya langsung dibunuh sendiri ketika lahir karena berjenis perempuan, bagaimana adik perempuannya dibunuh oleh adik laki-lakinya sendiri dengan kabel telepon, serta penyiksaan dan hinaan yang pernah diterimanya dari ayahnya, misalnya diikat kedua tangan dan kakinya pada kandang kambing sepanjang malam, ditendang, dijambak dan digunting rambutnya dengan gunting bulu domba, dipaksa menelan tomat hingga isinya berlumuran di wajahnya hanya karena ia lalai memetik sebuah tomat yang masih terlalu muda, dan siksaan lainnya. Bahkan binatang ternak lebih dihargai daripada seorang perempuan.
Penghinaan dan siksaan yang diterima setiap hari membuat penulis bertekad untuk segera menikah agar lepas dari kekejaman ayahnya, meskipun hal itu berarti akan menerima kekejaman suami. Namun ia tertipu oleh laki-laki tetangganya yang berpura-pura akan melamarnya sehingga ia hamil. Kemudian datanglah hukuman itu.. saudara iparnya membakarnya di halaman rumah. Bahkan ketika di rumah sakit ibunya masih ingin membunuhnya, karena bagi mereka ia lebih baik mati. Beruntung kisahnya didengar oleh seorang pekerja sosial Prancis, yang kemudian menolongnya serta membawanya ke Eropa untuk berobat dan memulai hidup baru dengan identitas baru pada umur 19 tahun. Dengan susah payah ia kemudian belajar bahasa baru, membaca, menulis, ketrampilan sederhana dan bekerja.
Bahkan setelah bertahun-tahun di Eropa dan memiliki keluarga, Souad masih merasa depresi. Misalnya ketika musim panas dimana semua orang dapat berenang atau berjalan-jalan dengan pakaian ringkas, ia merasa depresi karena harus selalu berpakaian tertutup rapat untuk menutupi kulitnya yang rusak. Tidak mudah meneruskan hidup yang telah dirusak kekejaman di waktu muda.
Demikianlah, buku ini penuh dengan penderitaan kaum perempuan yang sungguh tak terbayangkan, yang juga menunjukkan betapa terbelakangnya adat istiadat negara-negara Arab dan sekitarnya, seolah selama ribuan tahun waktu tak bergerak. Sistem patriarki yang dalam, kebodohan, kemiskinan dan agama yang dikuasai dan ditafsirkan oleh sistem tersebut jalin menjalin menindas perempuan, sehingga buku ini perlu dibaca oleh kaum perempuan lainnya, agar mereka lebih menyadari keberuntungannya dan waspada akan penindasan yang mungkin secara tidak disadari ikut didukungnya.
Ketika membaca buku ini saya teringat pada perempuan-perempuan di tanah air, yang telah memiliki semua kebebasan namun secara perlahan-lahan, dengan suka rela memilih jalan untuk hidup seperti wanita zaman ribuan tahun yang lalu di Arab: menutup kembali tubuhnya rapat-rapat, membatasi diri, dan berpedoman erat-erat pada hukum yang dibuat sekitar dua ribu tahun yang lalu untuk masyarakat yang digambarkan dalam buku ini.