Wednesday, April 17, 2019

Tango dan Sadimin




Judul                     :   Tango dan  Sadimin
Pengarang            :   Ramayda Akmal
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     :   272 halaman
Tahun                    :   2019, Maret





”Dalam sebuah masa, yang kita lewati dengan sadar dan rasa syukur yang paling besar sekalipun, ada sebuah tipuan dan permainan yang sedang berjalan, yang menangisi kita, karena kita menamakan kejatuhan sebagai penyelamatan dan bencana sebagai masa depan kasih. Permainan itu adalah rantai, yang memberikan kunci pada satu derita berupa derita lain.”

“Apakah nasib itu? Sebuah keputusan yang engkau ambil demi memperpanjang umur, yang saat kau lupakan, ia telah berubah menjadi kalung besi yang menggantungi sisa hidupmu.”

Tidak banyak novel Indonesia yang dapat mengisahkan kehidupan  orang-orang yang terpinggirkan dengan baik dan mencekam. Salah satunya adalah novel ini.

Kisah dalam buku ini terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah tentang kehidupan Nini Randa, seorang perempuan yang ketika bayi ditemukan terapung di sungai  Cimanduy oleh seorang perempuan tua yang  kemudian mengasuhnya selama dua tahun sebelum ia meninggal. Selanjutnya Nini Randa dibesarkan oleh alam dan para penambang pasir di sungai dekat tempat tinggalnya.  
Tanpa keluarga dan pendidikan serta dalam kemiskinan, Nini Randa memanfaatkan apapun yang dimilikinya untuk hidup. Ia menjual diri dan makanan untuk mandor dan pekerja pembangun dam di sungai, dan mendapat seorang anak yaitu Cainah yang diasuhnya sendiri. Kemudian ia membuka rumah bordil, dan digerebek warga desa dipimpin oleh Haji Misbach. Namun Haji Misbach takluk pada  Nini Randa dan menghasilkan anak gelap yaitu Sadimin, yang dibesarkan oleh Uwa Mono.   

Bagian kedua kisah tentang Sadimin dan Tango. Sadimin dengan hasutan Mono memanfaatkan kelemahan Haji Misbach untuk mendapatkan sebagian kekayaannya sehingga ia menjadi  juragan. Sadimin menikahi Tango, salah seorang perempuan penghibur dari rumah Nini Randa. 
Sementara itu Cainah yang oleh Nini Randa diharapkan bersekolah dan meneruskan usahanya, melarikan diri bersama pemuda miskin bernama Dana. Namun sebagai pasangan belasan tahun yang tidak berpendidikan, akhirnya mereka demikian miskin sehingga Dana  sempat menjadi buruh tani di sawah Tango dan Sadimin, sebelum akhirnya kembali ke rumah Nini Randa ketika tidak mampu menopang hidup sendiri.

Bagian ke empat adalah tentang kehidupan pasangan pengemis Ozog dan Sipon, yang dulu sempat menemukan Nini Randa ketika bayi namun melepaskannya kembali ke sungai. Sedangkan bagian kelima kisah tentang Haji Misbach beserta ketiga isterinya, yang meskipun dikenal alim namun masih mengejar ambisi keduniawian dengan segala cara.


Melalui kisah tokoh-tokoh di atas pembaca diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat terpinggirkan yang keras, penuh kemiskinan, kriminalitas, kesedihan, dan tanpa tuntunan pendidikan, moralitas, maupun cita-cita tinggi, yang dipadukan dengan kemunafikan tokoh agama. Suatu kehidupan yang seperti mimpi buruk dan tak terbayangkan oleh kelas menengah. Dalam melukiskan tokoh-tokohnya penulis cukup imajinatif dan dapat menggambarkan kerasnya kehidupan mereka tanpa belas kasihan. Tampaknya karena penulis juga mengenal dengan baik lokasi dan lingkungan yang menjadi setting dari  kisah dalam novelnya.  

Novel ini menjadi juara kedua lomba penulisan novel kultural Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2017.  Penulisnya, Ramayda Akmal (32 tahun) adalah pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan telah menulis beberapa buku, antara lain novel Jatisaba.   


Sunday, March 17, 2019

The Future of the Mind



Judul                   :   The Future of the Mind
Pengarang          :   Michio Kaku
Penerbit              :   Anchor Books
Tebal                   :   376 halaman
Tahun                  :   2017


Sampai saat ini, pengetahuan manusia akan dirinya sendiri, khususnya pikiran (the mind) masih sangat terbatas dibandingkan pengetahuan tentang hal lainnya. Perkembangan cukup pesat baru terjadi setelah ditemukannya Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada pertengahan 1990-an dan 2000, yang memungkinkan kita dapat melihat aktivitas otak saat seseorang sedang berpikir secara real time. Selanjutnya sinergi pengetahuan mengenai cara bekerja otak dan ilmu komputer diprediksi akan memungkinkan manusia di masa depan dapat melakukan hal-hal yang di masa lalu hanya merupakan khayalan, seperti telepati, telekinesis, pembuatan pikiran dan memori sesuai pesanan, peningkatan kecerdasan, mengubah mimpi, mengendalikan pikiran orang lain, pikiran artifisial, dan pikiran sebagai energi murni.  Untuk melihat seberapa jauh perkembangan hal-hal tersebut, Michio Kaku mewawancarai ratusan ilmuwan serta mengunjungi laboratorium mereka dan menetapkan syarat sebagai berikut untuk prediksi dalam buku ini: (1) Prediksi harus mematuhi hukum fisika secara ketat, (2) Telah terdapat prototipe untuk menunjukkan secara prinsip  terbukti dan dapat direalisasikan.

Buku ini terbagi dalam 15 bab, terdiri dari 3 bagian.

Bagian pertama menjelaskan tentang sejarah singkat neuroscience, susunan otak (yang terdiri dari reptilian brain, mammalian brain dan human brain atau prefrontal cortex) dan fungsi masing-masing, jenis-jenis peralatan untuk meneliti aktivitas otak saat bekerja (MRI, EEG, PET Scans, TES, MEG, NIRS, Deep Brain Simulation, Optogenetics), serta model terakhir tentang cara bekerja otak, yang dapat dianalogikan seperti bekerjanya sebuah perusahaan, dengan prefrontal cortex sebagai CEO yang membuat keputusan-keputusan penting secara sadar, dan reptilian serta mammalian brain sebagai organisasi di bawahnya yang bekerja sendiri secara otomatis di bawah sadar (unconscious),  serta uraian mengenai teori kesadaran, yang membagi kesadaran dalam empat tingkat, terdiri dari tingkat tanaman, reptil, mamalia, dan manusia.

Bagian kedua  mengenai hubungan antara pikiran dan benda material, yaitu telepati, telekinesis, pikiran dan memori pesanan, dan peningkatan kecerdasan atau kemampuan otak manusia.

Telepati
Otak adalah listrik. Setiap kali electron dipercepat, ia menghasilkan radiasi elektromagnetik, demikian pula elektron yang melakukan pergerakan di otak, yang memancarkan gelombang radio. Sinyal ini tidak dapat ditangkap oleh manusia, namun komputer dapat menangkapnya. Ilmuwan dapat mengetahui apa yang dipikirkan seseorang melalui EEG scans. Dalam penelitian, subyek mengenakan helm dengan EEG sensor dan diminta berkonsentrasi memikirkan suatu gambar, misalnya mobil.  Sinyal EEG kemudian direkam untuk setiap gambar hingga tercipta kamus dasar pikiran, dengan hubungan one-to-one antara sinyal atau pikiran seseorang dan gambar EEG. Kelak, apabila seseorang ditunjukkan gambar mobil lain, komputer akan mengenali pola EEG sebagai mobil. Namun kekuatan gelombang elektromagnetik jauh menurun apabila melewati tulang tengkorak, sehingga meskipun komputer dapat mengenali bahwa seseorang memikirkan mobil, namun tidak dapat memunculkan gambar mobil.

Penelitian lain yang lebih maju dilakukan di Universitas California yaitu memindahkan pikiran seseorang ke dalam sebuah video. Untuk itu subyek direbahkan di atas tandu yang kemudian dimasukkan dalam mesin MRI, lalu ditunjukkan klip film selama beberapa jam. Ketika subyek menonton film, mesin MRI membuat gambar 3 dimensi aliran darah dalam otak. Gambar tersebut menyerupai tiga puluh ribu titik atau voxel, setiap voxel mewakili pinpoint energy neural, dan warna titik berhubungan dengan intensitas sinyal dan aliran darah. Setelah beberapa tahun penelitian, tim peneliti dapat mengembangkan formula matematis yang menemukan hubungan antara bentuk tertentu dari gambar dengan voxel MRI. Saat penelitian berlangsung, Kaku dapat melihat apa yang sedang dilihat oleh subyek maupun gambar yang sedang dipikirkan subyek, yang ditampilkan dalam bentuk video. Namun demikian tampilan video untuk benda atau gambar yang hanya dipikirkan tidak sejelas benda yang dilihat dalam bentuk film. Mungkin karena pikiran kita tidak pernah mengingat bentuk suatu benda sampai rinci, hanya garis besarnya saja.

Penelitian lain menggunakan ECOG (electrocorticogram) scan membuahkan hasil yang lebih akurat, karena alat dipasang langsung di atas otak melalui pembedahan, sehingga sinyal langsung direkam dari otak dan tidak melalui tengkorak, berupa 64 elektroda 8x8 grid. Ketika pasien mendengar kata-kata,  sinyal dari otak melewati  elektroda dan dicatat, hingga terbentuk kamus yang mencocokkan antara kata dengan sinyal yang terpancar dari otak. Nanti, jika suatu kata diucapkan, seseorang dapat melihat pola sinyal yang sama. Hubungan ini  berarti apabila seseorang memikirkan suatu kata, komputer dapat menangkap karakteristik sinyal dan mengidentifikasinya. Hal ini berarti adalah mungkin untuk melakukan percakapan secara telepati. Penemuan ini juga dapat membantu pasien stroke yang lumpuh total untuk berbicara melalui synthesizer suara yang dapat mengenali pola otak dari kata-kata individu dengan menggunakan teknik otak-ke-komputer.

Penelitian lain di Minnesota mencatat sinyal dari otak ke komputer secara huruf per huruf untuk membentuk kamus sebagaimana teknik sebelumnya. Dengan teknik ini, seseorang dapat mengetik hanya dengan pikiran.     
Di masa depan, apabila kamus yang terbentuk telah mencapai ribuan kata, pikiran seseorang dapat langsung ditulis dan diprint. Perintah kepada robo sekretaris juga dapat disampaikan melalui pikiran untuk mengatur segala hal, bahkan musik juga dapat diprint dalam bentuk notasi musik. Mesin MRI juga diprediksi dapat mengecil sebesar ponsel.
Sejauh mana keberhasilan riset-riset ini di masa depan? Semua penelitian ini disponsori oleh DARPA, yaitu Defense Advanced Research Project Agency dari Pentagon. DARPA memiliki rekam jejak yang telah terbukti, antara lain sebagai pencipta Arpanet yang kemudian menjadi internet, peletak fondasi GPS, ponsel, satelit cuaca. Di masa depan, DARPA menegaskan untuk menuju interface otak-mesin.

Telekinesis
Telekinesis atau menggerakkan suatu benda hanya dengan pikiran telah menjadi kenyataan pada tahun 2012. Profesor John Donoghue dari Universitas Brown menciptakan sensor mungil  berukuran empat millimeter yang ditanam pada permukaan otak, dimana terdapat Sembilan puluh enam rambut atau elektroda yang mengambil impuls otak, yang kemudian menarik (pick up) sinyal  seseorang yang bermaksud menggerakkan lengannya. Kunci dari hal ini ialah menerjemahkan sinyal neuron dari chip ke perintah yang berarti yang dapat menggerakkan obyek di dunia nyata, dimulai dari kursor di layar komputer. Hal ini dilakukan dengan meminta orang tersebut membayangkan menggerakkan kursor ke kanan, misalnya. Dalam beberapa menit komputer mencatat sinyal otak untuk tugas ini. Dengan cara ini, komputer dapat mengenali bahwa kapan saja sinyal otak terdeteksi seperti itu, maka ia harus menggerakkan kursor ke kanan. Dengan demikian terdapat peta one-to-one antara tindakan tertentu yang dibayangkan orang tersebut dan tindakan nyata itu sendiri. Neuroprosthetic memungkinkan seseorang yang lumpuh dapat menggerakkan lengan, berselancar di internet, menulis email, dan mengendalikan kursi rodanya. Neuroprosthetic juga dapat dihubungkan dengan kaca mata, sebagaimana dimiliki Stephen Hawking, sehingga ia dapat menghubungkan pikirannya dengan komputer sehingga dapat berhubungan dengan dunia luar. Seorang pasien akan dapat melakukan apa saja, karena komputer ini dapat dihubungkan dengan toaster, mesin pembuat kopi, tombol lampu, atau saluran tivi.

Selain hal di atas, para ilmuwan telah dapat membuat chip elektroda yang dipasangkan di otak monyet, yang dapat berhubungan langsung dengan anggota tubuh yang mengalami kelumpuhan. Chip ini memiliki kamus sinyal otak untuk setiap gerakan anggota tubuh, dengan demikian lengan dapat digerakkan berdasarkan pikiran dari otak.  Kelak, seseorang yang mengalami kelumpuhan karena kerusakan tulang belakang dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Proyek ini juga dibiayai dan diprakarsai oleh DARPA.

Di masa depan, teknologi ini akan dilengkapi dengan  brain-machine-brain-interface (BMBI). Pesan akan dikirim dari otak ke lengan mekanis yang memiliki sensor, yang kemudian akan mengirimkannya kembali langsung ke otak, memotong (by pass) batangnya. BMBI akan memungkinkan mekanisme feedback langsung yang memungkinkan sensasi sentuhan.  Hal ini akan berkembang menjadi haptic technology,  yang akan  memungkinkan seseorang mengembara di dunia virtual namun merasakan sensasi seperti di dunia nyata. Selain itu BMBI juga akan memungkinkan Internet of the mind atau brain-net, dimana sinyal dapat dikirimkan dan diinterpretasikan antara dua otak. Kelak hal ini akan memungkinkan orang bertukar pikiran, emosi, dan gagasan melalui telepati secara real time. Di pertengahan abad, orang akan berhubungan dengan komputer melalui pikiran saja, sehingga keyboard dan mouse mungkin akhirnya akan menghilang.

Memori
Saat ini ilmuwan tengah melakukan penelitian merekam memori, yang dilakukan terhadap tikus. Memori diciptakan dari berbagai pengalaman sensori, kemudian disimpan di beberapa tempat di neocortes dan limbik system, namun semua memori jangka panjang disimpan di hippocampus. Dengan meneliti hippocampus tikus, diketahui bahwa terdapat dua set neuron yang berkomunikasi satu sama lain jika suatu tugas dipelajari. Dengan mempelajari komunikasi kedua set neuron ini, peneliti dapat menetapkan input elektris apa yang menghasilkan suatu output, selanjutnya peneliti dapat  merekam signal antara kedua set neuron ini ketika tikus mempelajari suatu tugas tertentu. Kemudian mereka menginjeksi tikus dengan bahan kimiawi yang membuat tikus melupakan tugas tersebut. Selanjutnya mereka mengembalikan memori ke otak tikus tadi. Hal yang luar biasa, memori tikus akan tugas tersebut kembali lagi. Hal ini berarti mereka telah menciptakan hippocampus artifisial dengan kemampuan menduplikasi memori digital. 
Penelitian lanjutan di MIT menunjukkan bahwa false memori juga dapat ditanam dalam otak. Hal ini berarti  di masa depan memori akan peristiwa yang tidak pernah terjadi/dialami  juga dapat ditanam dalam otak. Di masa depan, teknik ini dapat digunakan untuk menanamkan ketrampilan baru pada pekerja, atau menciptakan hiburan jenis baru. Selanjutnya jika memori dapat direkam dan didownload,hal tersebut dapat memberikan manusia memori akan liburan yang tak pernah dijalani, kekasih yang tak pernah dimiliki, atau penghargaan yang tak pernah diterima, suatu memori sempurna atas kehidupan sebenarnya yang penuh kekurangan. Namun sebagaimana kemajuan teknologi lainnya, selalu terdapat implikasi sosial yang tidak diharapkan, yaitu mungkin manusia akan lebih menyukai kehidupan imajiner ini daripada mengalami hidupnya yang sebenarnya. Memori mungkin juga dapat diupload dan dibagi ke jutaan orang di internet untuk dirasakan dan dialami. Di masa depan, orang akan merekam memori hidupnya agar turunannya dapat merasakan pengalaman yang sama. Sisi negatifnya, sebagaimana saat ini data pribadi dapat diakses melalui internet dari database media sosial atau lembaga keuangan, demikian pula kelak  memori akan dapat diakses dengan mudah, sehingga perlu ada hukum yang mencegah akses terhadap memori seseorang tanpa persetujuan orang bersangkutan.

Penelitian lain adalah mengenai savant, atau mereka yang memiliki kemampuan khusus atau kecerdasan luar biasa. Berdasarkan penelitian, limapuluh persen dari savant adalah penyandang autis, Asperger  (autism yang lebih ringan), dan memiliki masalah dalam berinteraksi sosial. Sebagian ilmuwan berpendapat, bahwa semua kemampuan savant (autism dll) muncul dari kerusakan pada spot tertentu temporal lobe kiri, yang berfungsi sebagai sensor yang membuang memori tidak relevan secara berkala, atau defisiensi dalam kemampuan untuk melupakan. Oleh karena itu, apabila ilmuwan dapat mengetahui hal yang menyebabkan savant, maka kemampuan luar biasa ini dapat diberikan kepada banyak orang untuk meningkatkan kecerdasan atau kemampuan khusus mereka, misalnya dalam seni.

Bagian ketiga mengenai kemampuan mengubah dan mengendalikan kesadaran, mimpi, dan pikiran, termasuk mengubah pikiran dan kesadaran dari benda material berupa otak menjadi energi murni non material.   

Saat ini banyak harapan diberikan kepada Artificial Intelligence (AI) maupun peringatan akan bahaya yang akan dihadapi apabila AI melampaui kemampuan manusia. Namun benarkah hal tersebut? Menurut Kaku, jalan menuju AI atau robot yang dapat menyamai manusia masih jauh. Hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu: pengenalan pola dan akal sehat (common sense). Komputer atau robot dapat melakukan tugas-tugas spesifik jauh lebih baik dari manusia apabila dibuatkan program yang tepat dan data yang memadai, namun membuat program untuk dapat mengenali pola dan akal sehat tidak mudah. Sebagai contoh, manusia dapat mengenali suatu benda sebagai kursi dengan mudah apapun variasi bentuknya, namun komputer tidak dapat mengenalinya apabila bentuk sebuah kursi sangat berbeda dari kursi pada umumnya atau dilihat dari sudut yang berbeda, kecuali dibuatkan program dan data yang sangat banyak. Kedua hal ini dilakukan dengan mudah oleh otak manusia, yang cara bekerjanya berbeda dengan komputer yang terdiri dari input, output dan prosesor. Otak tidak memiliki programming, system operasi, atau prosesor pusat. Sebaliknya, jaringan syarafnya bersifat paralel, dengan seratus miliar neuron memancarkan sinyal pada saat yang bersamaan untuk mencapai satu tujuan: untuk belajar. Berdasarkan hal ini, maka kini robot dibuat meniru otak manusia, yang bekerja melalui belajar, misalnya belajar menelusuri ruangan dengan terbentur pada benda-benda yang dilewatinya. Berdasarkan hal tersebut, jalan masih panjang untuk robot menyamai kemampuan manusia. Yang lebih mudah ialah menggabungkan syaraf otak dengan komputer.

Upaya manusia untuk memahami cara kerja otak saat ini dilakukan tiga pihak yaitu oleh Brain Research Through Advancing Innovative Neurotechnologies (BRAIN) Innitiative, yang diprakarsai pemerintah AS, Human Brain Projects (HBP) oleh Komisi Eropa, dan oleh Paul Allen dari Microsoft. BRAIN menggunakan metode pemetaan jaringan syaraf (neural) otak hidup dalam jangka waktu 15 tahun, dengan memonitor aktivitas puluhan ribu neuron pada lima tahun pertama, ratusan ribu neuron pada sepuluh tahun, dan jutaan neuron setelah lima belas tahun. Sementara itu HBP selama sepuluh tahun akan melakukan simulasi komputer terhadap otak beberapa jenis binatang dimulai dari tikus, kelinci, dan kucing. HBP akan menggunakan transistor sehingga akan terdapat modul komputer yang dapat bertindak seperti bagian-bagian otak. Sementara itu metode ketiga dilakukan dengan mendecipher gen yang mengendalikan perkembangan otak. Metode dari ketiga proyek berbiaya miliaran dollar tersebut masing-masing memiliki kelemahan tersendiri. Misalnya pada metode HBP, simulasi komputer tidak melibatkan lingkungan luar dan hanya interaksi antara thalamus dan neocortex, sehingga sulit mengetahui bagaimana otak kucing belajar menangkap mangsa, selain itu jumlah komputer dan energi yang diperlukan juga sangat besar. Sementara itu metode BRAIN yang dimulai dari lalat buah, dengan mengiris otaknya (150 ribu neuron)  per neuron, setiap iris berukuran seperlima puluh miliar meter, memotretnya, lalu menyimpannya dalam komputer yang dengan program tertentu kemudian akan menyusunnya kembali neuron demi neuron, memerlukan tempat penyimpanan data yang sangat besar dan memakan waktu lama jika  dilakukan tanpa otomasi. Untuk sampai kepada otak manusia, proyek ini diperkirakan memerlukan waktu seratus tahun. Paralel dengan ini terdapat Human Connectome Project, yang merekonstruksi jalur yang menghubungkan semua bagian otak. Namun pemetaan dan reverse engineering saja tidak cukup, karena ilmuwan harus mengetahui bagaimana sebenarnya neuron tersebut bekerja.

Tujuan dari semua upaya ini adalah untuk menemukan pengobatan penyakit-penyakit mental dari  depresi hingga schizoprenia, dengan mengetahui kluster dari neuron yang melakukan kesalahan;  membantu pengembangan intelijensia artifisial, dan mengetahui bagaimana memori jangka panjang disimpan, sedangkan tujuan yang tersirat adalah untuk mengetahui kunci dari kesadaran dan mencapai  imortalitas. Jika kita mengetahui cara bekerja otak, pikiran atau kesadaran dan dapat menduplikasi atau menyimpannya dalam komputer, bukankah kita akan dapat menyimpan kesadaran kita selamanya?

Topik berikutnya yang menjadi penelitian adalah, bisakah kesadaran atau pikiran (minds) lepas dari benda material? Untuk menjelaskan hal ini penulis memulai dengan menguraikan penelitian tentang out of body experience serta pengalaman mendekati kematian yang banyak digambarkan sebagai dapat melayang dan melihat tubuh sendiri, melalui lorong panjang yang gelap dan berakhir dengan melihat cahaya terang. Pengalaman ini juga banyak diceritakan oleh mereka yang mengalami pingsan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli syaraf otak, stimulasi pada area temporal lobe kanan dapat menyebabkan perasaan meninggalkan tubuh, sedangkan penurunan aliran darah ke otak, yang pada umumnya dialami mereka yang pingsan atau mendekati kematian, menyebabkan pengalaman seolah keluar dari tubuh. Demikian pula ketika aliran darah ke mata jauh menurun, maka pinggiran penglihatan meredup atau gelap, sehingga membentuk pemandangan lorong sempit di depan.
Namun demikian, inventor terkenal Dr. Ray Kurzweil dan para praktisi intelijensia artifisial memprediksi bahwa pada akhirnya akan tercapai singularity. Apabila ini terjadi, maka pikiran atau kesadaran dapat disimpan dalam superkomputer, dengan demikian dilepaskan dari benda material (otak). Namun mengingat pikiran berasal dari manusia yang selama hidupnya terbiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitar, maka agar dapat tetap berfungsi sebagaimana mestinya - seseorang yang diisolasi total dari lingkungan setelah beberapa waktu fungsi otaknya akan terganggu - pikiran ini harus terhubung dengan lingkungan sekitar pula. Oleh karena itu pikiran ini kelak akan diunduh ke sebuah robot atau exoskeleton, bahkan clone (klon). Orang yang sudah mati dapat dihidupkan kembali.

Kemungkinan mengklon orang yang telah tiada cukup besar, mengingat kebun binatang San Diego pernah mengirimkan sel banteng yang telah mati dua puluh lima tahun yang lalu kepada Dr. Robert Lanza dari Advanced Cell Technology, yang kemudian mengekstraksi sel-sel yang masih dapat digunakan dan mengirimkannya ke sebuah peternakan untuk ditanamkan dalam seekor sapi betina, yang kemudian melahirkan banteng. Apabila seekor banteng dapat diklon, tidak tertutup kemungkinan hal serupa dapat dilakukan terhadap manusia. Kesadaran atau pikiran dapat diunduh dari superkomputer atau jika superkomputer belum ada ketika orang tersebut meninggal, dilakukan dengan memasukkan data-data digital, memori atau data lainnya yang tersedia yang sesuai dengan ketika seseorang tersebut masih hidup. Apabila teknologi telah lebih maju lagi, pikiran atau kesadaran murni dapat dikirimkan kemana saja, termasuk ke luar angkasa, terlepas dari materi. Pada tahap ini maka kesadaran menjadi immortal.

Terkait imortalitas, saat ini sedang dilakukan penelitian tentang proses penuaan. Penuaan disebabkan oleh bertumpuknya kesalahan pada tingkat genetic dan selular. Namun sel memiliki mekanisme koreksi kesalahan, meskipun demikian mekanisme ini pun makin menurun, sehingga tujuannya adalah memperkuat mekanisme perbaikan sel, yang dapat dilakukan melalui terapi gen dan penciptaan enzim baru. Di  masa depan hal ini dilakukan dengan cara lain, yaitu melalui nanobot assemblers. Nanobot adalah mesin atomik yang mengawasi aliran darah, melawan sel kanker, memperbaiki kerusakan dari proses penuaan, dan menjaga kemudaan dan kesehatan kita. Namun demikian masih terdapat perdebatan mengenai apakah Nanobot dapat direalisasikan mengingat ukurannya yang atomik.  
         
Buku ini memberikan banyak informasi berharga tentang penelitian-penelitian mengenai pikiran, otak atau kesadaran yang sedang dilakukan para ilmuwan saat ini. Michio Kaku menguraikannya dengan rinci namun mudah diikuti, sehingga pembaca dapat mengerti mengapa teknologi tertentu diprediksi akan menjadi kenyataan di masa depan. Apabila Yuval dalam Homo Deus menulis bahwa tujuan manusia di masa depan adalah menuju kesempurnaan dan imortalitas, dalam buku ini Kaku menjelaskan penemuan dan penelitian apa saja yang sedang dikerjakan saat ini untuk mencapai hal itu. 
Bagi negara-negara berkembang, penelitan semacam ini tentulah merupakan suatu kemewahan yang tak terjangkau, baik dari sisi sumber daya manusia maupun dana. Namun hasil penelitian segelintir ilmuwan inilah yang akan menentukan masa depan peradaban kita, sebagaimana di masa lalu mereka telah menemukan internet, GPS, smartphone, dan lain sebagainya.  Dari buku ini pembaca dapat menarik pelajaran bahwa kepercayaan akan kemampuan ilmu pengetahuan, ketekunan, dan kerja keras selama bertahun-tahun dalam melakukan riset dasar adalah kunci kemajuan  teknologi, yang hingga saat ini masih didominasi oleh Barat, dalam hal ini AS dan Eropa.  Ironisnya,  generasi muda negara-negara berkembang seperti Indonesia lebih banyak menggunakan teknologi modern untuk meniru sikap dan mempelajari ajaran kuno dari masyarakat pengembara tanpa sains daripada mempelajari ilmu pengetahuan dan sikap yang mendasari penemuan dari teknologi yang mereka gunakan sehari-hari.  Mungkin karena evolusi manusia yang berjalan lambat tidak dapat mengikuti perubahan teknologi yang demikian cepat.
                                                                                                                                                           

Tuesday, February 12, 2019

Jawaban Singkat atas Pertanyaan Besar



Judul               :   Jawaban Singkat atas Pertanyaan Besar
Pengarang      :   Stephen Hawking
Penerjemah    :   Haz Algebra
Penerbit           :   Global Indo Kreatif
Tebal               :   161 halaman
Tahun              :   2018, Desember


Pertanyaan-pertanyaan besar selalu menarik dan selama ribuan tahun menjadi ranah agama, karena merupakan misteri bagi manusia, namun bersifat eksistensial. Kini, satu demi satu misteri tersebut disingkapkan oleh ilmu pengetahuan, meskipun masih sulit untuk diterima oleh masyarakat, yang pada umumnya terus menerus terpapar doktrin agama seumur hidupnya.

Salah satu ilmuwan yang tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut adalah Stephen Hawking. Sampai menjelang akhir hidupnya, Hawking selalu mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut dari berbagai pihak dan ia berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, sehingga buku ini sangat menarik karena mencoba menjawab pertanyaan antara lain: Apakah Tuhan ada? Bagaimana segalanya bermula?  Apakah ada kehidupan cerdas lain di alam semesta? Ada apa di dalam lubang hitam? Haruskah kita mengkonolisasi ruang angkasa? Akankah intelejensia artifisial mengungguli kita?

Terdapat 11 pertanyaan dalam buku ini, yang dijawab dengan uraian singkat dan sederhana. Misalnya menjawab pertanyaan tentang keberadaan Tuhan – apakah penciptaan alam semesta memerlukan Tuhan, yang menurut Hawking dapat muncul dari ketiadaan. Mula-mula penulis menjelaskan bahwa hukum fisika menuntut keberadaan sesuatu yang bersifat negatif. Hal itu diuraikan dengan memberikan analogi tentang seseorang yang membangun sebuah bukit dengan mengeruk tanah di dekatnya sehingga tanah tersebut berlubang, yang disini merupakan versi negatifnya, sehingga semuanya berimbang. Hukum alam menyatakan bahwa energi positif dan negatif harus selalu sama sehingga menuju nol. Saat ini, ruang merupakan energi negatif yang sangat besar, sedangkan massa dan energi merupakan energi positif. Selanjutnya menjelaskan mengenai munculnya Big Bang, penulis menguraikan bahwa berdasarkan hukum mekanika kuantum, partikel seperti proton dapat muncul secara acak, bertahan sebentar, menghilang, kemudian muncul lagi di tempat lain. Sementara itu diketahui bahwa alam semesta pernah sangat kecil sebelum terjadi Big Bang. Hukum-hukum alam dalam sains menjelaskan bahwa Big Bang dapat terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan apapun. Setelah terjadi Big Bang, barulah muncul yang namanya waktu dan ruang. Sebelum Big Bang tidak ada yang namanya waktu, sehingga tidak ada waktu bagi Tuhan untuk membuat alam semesta.

Pertanyaan mengenai asal mula alam semesta dijelaskan dengan uraian mengenai penelitian-penelitian yang telah dilakukan sampai saat ini untuk mengetahui apa yang terjadi pada saat permulaan terciptanya alam semesta. Catatan mengenai alam semesta ketika masih sangat muda tercermin pada latar belakang gelombang mikro yang ditemukan oleh Arno Penzias dan Robert Wilson. Pada awal sejarahnya alam semesta (setelah terjadi Big Bang)mengalami periode ekspansi yang sangat cepat- yang disebut inflasi – dengan perbedaan antara arah yang berbeda 1 berbanding 100.000. Seharusnya tidak terdapat perbedaan pada setiap arah, namun perbedaan itu berasal dari fluktuasi kuantum selama periode inflasi, sebagai konsekuensi dari Prinsip Ketidakpastian. Fluktuasi ini merupakan benih untuk struktur alam semesta yaitu galaksi, bintang, dan kita. Teori ini, yang dinyatakan Hawking pada tahun 1982, terbukti pada tahun 1993 dengan ditemukannya gelombang mikro (the microwave sky) oleh satelit COBE. Hal ini ditegaskan pada tahun 2003 oleh satelit WMAP yang menampilkan peta suhu langit gelombang mikro kosmik, gambar alam semesta pada seperseratus dari usianya sekarang. Ketidakberaturan menunjukkan bahwa beberapa wilayah memiliki kepadatan lebih tinggi, dan gravitasi ekstra memperlambat perluasan wilayah itu dan akhirnya runtuh untuk membentuk galaksi dan bintang. Kita adalah produk dari fluktuasi kuantum di alam semesta awal. Selanjutnya satelit Planck yang menggantikan WMAP dapat mendeteksi jejak gelombang gravitasi yang diprediksi inflasi dengan lebih presisi. Alam semesta tercipta dari ketidakpastian.

Mengenai masa depan manusia di bumi, Hawking menegaskan bahwa manusia harus mulai dari sekarang membuat rencana untuk membuat koloni di planet-planet lain, misalnya Bulan dan Mars, karena dalam beberapa ratus tahun mendatang bumi akan terlalu kecil dan tidak stabil untuk semua umat manusia. Ia mengingatkan bahwa kehidupan di alam semesta adalah keras; bintang-bintang yang mati meledak dan mematikan planet di sekelilingnya, asteroid menabrak planet dan mematikan kehidupan di dalamnya, sebagaimana bumi pada 66 juta tahun yang lalu, sehingga jika tidak ingin punah maka manusia harus meninggalkan bumi, membuat koloni di tempat lain, dan dalam jangka panjang melakukan perjalanan antar bintang, misalnya ke galaksi terdekat. Perkembangan teknologi dalam biologi diprediksi akan memungkinkan manusia memiliki keunggulan fisik dan mental serta kecerdasan untuk melakukan hal-hal tersebut, karena manusia tidak lagi harus menunggu perubahan secara evolusi yang memerlukan waktu ratusan ribu tahun. Hawking bahkan membuat rencana: membuat pangkalan di Bulan dalam 30 tahun mendatang, Mars dalam 50 tahun, dan planet terluar dalam 200 tahun. Manfaat lain dari adanya rencana ke luar angkasa adalah mempercepat kemajuan teknologi.

Masih banyak hal menarik yang diuraikan Hawking dalam buku ini, termasuk sedikit riwayat hidupnya yang luar biasa, meskipun sebenarnya jawaban rinci dari pertanyaan besar yang diuraikan dalam buku ini pernah ditulis Hawking dalam buku-bukunya yang lain maupun oleh ilmuwan lainnya. Namun uraian yang relatif singkat dan sederhana terhadap banyak hal dalam satu buku baru terdapat disini. Selain itu, pembaca dapat pula mengetahui sedikit kehidupan Hawking, yang meskipun menyandang penyakit cukup parah dan divonis berumur pendek namun tetap bekerja dengan penuh semangat sampai akhir hidupnya pada usia 76 tahun.  Rasa ingin tahunya yang besar, yang mendorongnya untuk mempelajari fisika guna menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental berdasarkan ilmu pengetahuan, serta kepercayaan diri dan optimisme-nya akan kemampuan manusia dalam mengatasi masalah serta menghadapi masa depan, membuat buku ini seharusnya dibaca banyak orang disini, yang sebagian besar tidak punya cukup rasa ingin tahu.


Friday, November 16, 2018

Kelana



Judul                   :   Kelana – Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika
Pengarang           :  Famega
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   250 halaman
Tahun                  :   2018, Juli


 Saat ini sudah banyak buku perjalanan ditulis oleh traveler Indonesia yang bepergian ke berbagai belahan dunia, namun sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan melalui udara, atau jika pun melalui darat, masih dalam satu benua, seperti Trinity dan Jasmine yang mengelilingi Amerika Latin.  Famega, yang menulis buku ini melakukan perjalanan sendirian hanya melalui darat dan laut, dengan moda transportasi kapal, kereta api dan bus umum.


Penulis memulai perjalanannya dari pelabuhan Dumai, Riau dengan menyeberang ke Malaka menggunakan kapal ferry. Saya baru tahu bahwa kita dapat menyeberang ke Malaysia melalui Riau. Sebagian besar dari kita mungkin juga hanya mengetahui bahwa penyeberangan ke negara lain hanya dari Batam ke Singapore.  Selanjutnya dari Malaka Famega meneruskan perjalanan dengan bus dan kereta ke Bangkok, Hanoi, Vientine, dan Beijing. Dari Beijing ia ke Mongolia menggunakan kereta trans Mongolia, selanjutnya ke Rusia dengan kereta trans Siberia menuju Eropa Timur, mengunjungi Praha, Bulgaria, dan selanjutnya ke Spanyol dan Maroko.


Banyak hal menarik yang diuraikan Famega dalam buku ini. Misalnya kebaikan penumpang kereta ekonomi Cina yang bergantian memberinya tempat duduk dan makanan selama 24 jam - meskipun ia tidak paham Bahasa Cina dan mereka tidak bisa Bahasa Inggris - karena ia penumpang kereta berdiri. Mega kehabisan karcis kereta lainnya sehingga ia terpaksa membeli karcis kereta berdiri karena  mengejar waktu agar tiba di Rusia sesuai dengan tanggal visa yang diperolehnya.


Bagian pertama buku tidak banyak menceritakan tentang interaksinya dengan penduduk lokal, karena perjalanan dari Malaka ke China dilakukan non-stop, sedangkan dari Cina ke Mongolia dan Rusia terkendala oleh keterbatasan bahasa, sehingga tidak banyak terdapat percakapan dengan penduduk lokal atau orang lain yang ditemuinya, meskipun di Mongolia ia sempat mengikuti tour beberapa hari dengan beberapa turis Barat.  Baru setelah di Eropa Timur dan seterusnya terdapat kisah tentang penduduk lokal.
Selain menginap di hostel, Famega tinggal di rumah-rumah penduduk lokal dengan bantuan couchsurfing, aplikasi yang memungkinkan seorang pelancong menghubungi penduduk kota yang akan dikunjungi sebelum ia tiba dan menginap gratis di rumahnya. Melalui cara ini ia mendapatkan teman-teman baru yang mengajaknya berkeliling kota-kota yang dikunjungi. Disamping couchsurfing, penulis mengenal penduduk lokal melalui hitchhiking, atau menumpang mobil secara gratis, yang merupakan hal baru baginya.


Perjalanan sendirian melalui darat dengan kendaraan umum kereta api dan bus mengingatkan saya pada Paul Therox, yang selalu melakukan perjalanan melalui darat sendirian. Namun Famega telah mendapat banyak kemudahan dengan adanya internet beserta segala aplikasi di dalamnya. Disamping itu Famega tidak mencatat setiap dialog atau keadaan alam dengan rinci maupun bertemu orang-orang berpengaruh di daerah yang dikunjunginya sebagaimana Theroux, yang memiliki pengamatan sangat tajam terhadap hal-hal yang ditemuinya. Mungkin karena tujuan Theroux bepergian adalah memang untuk menulis buku, sedangkan tujuan Famega tidak sejauh itu, sehingga bukunya lebih merupakan catatan harian selama perjalanan. Meskipun demikian, buku ini cukup menarik, karena memberikan informasi bahwa sebagai bangsa Indonesia yang kemana-mana harus mengurus visa terlebih dulu dengan banyak persyaratan, seseorang tetap dapat bepergian ke tiga benua dalam waktu lama – asalkan bersedia mempersiapkan empat visa terlebih dulu dengan segala urusannya. Selain itu, buku ini juga memberi pengetahuan kepada perempuan muda lainnya, bahwa adalah cukup aman bagi seorang perempuan untuk pergi kemana pun sendirian pada zaman ini melalui jalan darat. 


Pelajaran yang didapat oleh penulis – dan  pembaca – adalah bahwa selama kita cukup berhati-hati dan berani, banyak orang baik yang akan bersedia membantu, dan di balik perbedaan ras dan iklim, pada dasarnya masih banyak orang baik di bumi ini.

Sayangnya ukuran buku ini sangat kecil, covernya kurang menarik, dan gambar peta yang menunjukkan rute perjalanan Famega berwarna, sehingga membuatnya tidak jelas dibaca, demikian pula beberapa foto yang terdapat di dalamnya kurang tajam, padahal harga buku ini cukup mahal. Mungkin karena biaya percetakan sekarang semakin tinggi?   

Tuesday, October 02, 2018

Pemenang Book Giveaway


Selamat buat pemenang Book Giveaway bulan September, yaitu:

1. Agoes Santosa   
2. Windy A. Alicia Putri

Agoes Santosa akan mendapatkan buku terjemahan The Selfish Gene dan Windy Alicia Putri akan mendapatkan buku Cosmos.
Terima kasih ya sudah mengikuti Book Giveaway.

Selanjutnya untuk pengiriman buku agar mengirimkan alamat ke email:  raticf@gmail.com.

Tuesday, September 11, 2018

Book Giveaway


Tanpa terasa, ternyata blog ini telah berumur 12 tahun, meskipun ada tahun tertentu  dimana dalam satu tahun hanya ada satu atau dua review. Sebagai rasa terima  kasih kepada pembaca yang telah setia membaca blog ini, selama 4 bulan ke depan saya ingin membagikan buku kepada para pembaca yang beruntung, setiap bulan 2 buku.



Untuk bulan ini buku yang akan dibagi adalah buku klasik dari Richard Dawkins dan Carl Sagan, yaitu  The Selfish Gene  dan Cosmos, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Cara mengikuti Book Giveaway sangat mudah, yaitu cukup dengan menjadi follower dan menuliskan hal tersebut pada kolom comment. Pemenang akan diundi menggunakan random.org.

Book Giveaway bulan ini diadakan sampai dengan tanggal 30 September 2018 dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 2 Oktober 2018. 

Hayo buruan ikut Book Giveaway...

Tuesday, August 28, 2018

Homo Deus





Judul                     :   Homo Deus – A Brief History of Tomorrow
Pengarang          :    Yuval Noah Harari
Penerbit              :    Vintage, UK
Tebal                     :   513 halaman
Tahun                   :   2017






Sebagaimana sedang kita alami saat ini, dunia mengalami perubahan yang  sangat cepat  karena  pesatnya   kemajuan sains dan teknologi, sehingga banyak orang tidak mampu lagi mengikuti perkembangannya Bahkan  sejumlah   ilmuwan   mengungkapkan  kekhawatiran   akan ketidakmampuan manusia melawan kekuasaan artificial intelligence di masa depan.

Melalui Homodeus, Harari mencoba untuk melihat arah yang akan dituju manusia di masa depan, dengan berdasarkan pada sejarah di masa lalu dan perkembangan ilmu pengetahuan di saat ini. Pokok yang hendak disampaikan oleh penulis adalah, tujuan manusia atau homo sapiens di masa mendatang ialah untuk meraih imortalitas dan kesempurnaan.. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu secara organik, misalnya dengan modifikasi DNA sehingga sangat cerdas dan selalu muda; menggabungkan mesin dengan tubuh, misalnya pemasangan implan yang meningkatkan kemampuan penglihatan, dan penggunaan mesin sebagai kepanjangan dari fungsi tubuh, misalnya melakukan operasi dari jarak jauh. Hal-hal tersebut, ditambah penggunaan robot dan artificial  intelligence yang menggantikan jutaan pekerja, akan memperlebar kesenjangan antara elit dengan massa lebih daripada masa-masa sebelumnya, sehingga muncul superhuman dan useless society.   Perubahan yang dibawa oleh teknologi ini merupakan tantangan bagi aliran humanisme, yang selama ini mendasari tercapainya peningkatan kesejahteraan manusia di seluruh dunia.

Pembahasan dibagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama mencoba menjawab pertanyaan mengapa homo sapiens (manusia) dapat menguasai dan mengubah dunia dan apakah hal tersebut karena homo sapiens mempunyai keistimewaan yaitu memiliki jiwa. Berdasarkan sejarah, homo sapiens ketika masih menjadi pemburu peramu memandang dan memperlakukan hewan hampir sebagai makhluk yang setara, karena kehidupan mereka tergantung pada kemurahan alam. Namun munculnya kemampuan bertani atau revolusi pertanian mengubah hubungan tersebut, karena homo sapiens telah mampu mengendalikan pertumbuhan tanaman dan menjinakkan binatang untuk kepentingannya. Seiring dengan itu animisme digantikan oleh agama yang bersifat vertikal: homo sapiens memuja dewa-dewa atau Tuhan agar hasil pertanian melimpah dan  agama digunakan untuk mensahkan eksploitasi hewan guna kepentingan homo sapiens. Namun ketika perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan homo sapiens memproduksi hasil pertanian dan peternakan secara lebih efisien, pemujaan kepada dewa dewa atau Tuhan tidak lagi diperlukan. Homo sapiens menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.  
Mengapa homo sapiens dapat menguasai dan mengubah dunia? Apa yang membedakannya dari hewan? Apakah jiwa, sebagaimana masih dipercaya sebagian besar manusia? Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan adanya jiwa, tulis Harari. Homo sapiens dapat menaklukkan dunia karena ia memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah besar secara fleksibel, tidak seperti semut yang kemampuan kerjasamanya terbatas oleh instink. Hal yang mendasari kerjasama itu adalah imajinasi atau fiksi yang dipercaya bersama (inter subjective level) sebagai sesuatu yang nyata, yaitu agama, dewa atau tuhan, uang, korporasi, bangsa atau negara. Namun disini tampaknya penulis tidak membedakan fiksi murni dan fiksi, imajinasi atau kepercayaan yang harus didasari fakta tertentu. Agama atau dewa dapat diciptakan atau diimajinasikan sesuai kehendak pengikutnya tanpa berdasarkan fakta apapun, namun uang, korporasi dan bangsa harus didasari oleh fakta atau realitas tertentu untuk dapat dipercaya sebagai alat pembayaran, entitas usaha, dan bangsa, yaitu kekayaan yang dimiliki penerbit uang, aktivitas dan kemampuan ekonomi, sekelompok orang yang memiliki kepentingan atau tujuan bersama.

Bagian kedua menguraikan ideologi yang memungkinkan homo sapiens mencapai kemajuan sebagaimana saat ini. Menurut Harari, fiksi, yaitu agama, uang, korporasi dan negara, memiliki kemampuan untuk memaksa mayoritas tunduk, sehingga semua aktivitas dapat berjalan secara efisien. Efisiensi dicapai melalui algoritma, yaitu serangkaian tahapan tertentu yang harus dilakukan untuk setiap kegiatan.
Dalam perkembangannya, muncul konflik antara agama - yang berkepentingan dengan terpeliharanya keteraturan sosial melalui pengaturan moralitasnya - dengan ilmu pengetahuan, yang mementingkan kekuatan, yaitu kemampuan untuk memperbaiki kondisi manusia dan menaklukkan alam. Kekuatan ilmu pengetahuan membawa modernitas, yang memaksa seluruh homo sapiens tunduk pada system jika ingin hidup layak, antara lain dengan mengikuti pendidikan, tunduk pada hukum, dan seterusnya. Modernisme dibangun oleh kapitalisme, yang berjalan berdasarkan invisible hand and tidak peduli. Namun kapitalisme murni menuntut pertumbuhan terus menerus dan cenderung mendorong keserakahan, sementara dunia memerlukan kerjasama, sehingga muncul Humanisme.

Uraian tentang Humanisme cukup mendalam. Humanisme didasari oleh prinsip pengakuan atas individualisme,  kebebasan berekspresi, kepercayaan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan yang baik bagi dirinya maupun masyarakat tanpa bersandar pada perintah Tuhan atau agama, dan bahwa kemajuan dan kesejahteraan manusia dapat diperoleh dengan kerja sama, ilmu pengetahuan, dan partisipasi aktif setiap orang untuk kebaikan. Pandangan humanisme mendasari draft konvensi hak asasi manusia yang diratifikasi 130 negara anggota PBB tahun 1947.
Dominasi humanisme terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II membuat negara-negara di dunia memperbaiki kondisi rakyatnya dengan program-program pertanian, kesehatan, dan pendidikan, sehingga taraf hidup jauh meningkat. 
Humanisme tidak selalu sejalan dengan agama, yang meminta ketundukan total, namun meningkatnya radikalisme serta jumlah pemeluk agama tersebut tidak dianggap penting oleh penulis, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak mengerti sains dan teknologi, miskin dan terbelakang, sementara dunia masa depan akan dibentuk dan diubah oleh segelintir elit yang menguasai teknologi tersebut. Mungkin benar, tetapi jika segelintir militant dari mereka dapat merampas sistem teknologi tinggi, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih berbahaya. Sebagai liberal Harari juga tidak memperhitungkan bahaya dari meningkatnya jumlah imigran atau penduduk beraliran radikal pada negara-negara sekuler, yang dapat mengubah ideologi Humanisme menjadi teokrasi, apakah kemajuan teknologi dapat membuat mereka tidak berdaya, atau sebaliknya dapat menguasai negara-negara yang mereka tumpangi.

Bagian ketiga menguraikan efek dari kemajuan teknologi yang demikian pesat pada mayoritas homo sapiens.
Revolusi humanisme mendorong munculnya sifat-sifat baik homo sapiens, yaitu kebebasan individu, kerja sama, perhatian pada perasaan. Humanisme mendorong negara menyelenggarakan pendidikan massal, vaksinasi, pemeliharaan kesehatan, karena negara memerlukan pekerja dan tentara untuk memajukan negara. Hal ini mendorong meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin pada abad 20.  Namun hal ini belum tentu terjadi pada abad 21, karena pada masa mendatang robot dan mesin-mesin dapat melakukan jauh lebih baik dan murah hal-hal yang selama ini dilakukan oleh manusia, misalnya mobil tanpa pengemudi akan menghilangkan kebutuhan akan jutaan pekerja transportasi, drone dan pesawat tanpa awak akan mengurangi jumlah tentara secara signifikan. Hilangnya pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak akan dapat diimbangi dengan kemampuan pekerja untuk selalu belajar hal-hal baru, sehingga akan muncul segolongan pekerja yang tidak dapat dipekerjakan atau useless society. Sementara itu segolongan kecil elit menguasai mayoritas alat produksi, kekuasaan, dan kecerdasan serta fisik yang lebih baik. Perubahan ini dapat mengubah ideologi yang dianut homo sapiens. Humanisme memandang semua manusia sama dan memberi penghargaan terhadap hidup dan kontribusi yang diberikan setiap warga. Jika artificial intelligence telah demikian cerdas sehingga kontribusi manusia tidak diperlukan lagi karena kualitasnya di bawah AI, apakah humanisme akan tetap dianut? Apakah kaum elit tidak akan lebih mementingkan peningkatan performa kaumnya sendiri dan tidak mempedulikan lagi massa yang miskin atau tidak beruntung karena mereka tidak lagi diperlukan oleh negara? Hal ini terutama untuk negara-negara miskin berpenduduk ratusan juta atau miliar yang harus berkompetisi dengan negara-negara maju, mengingat biaya pendidikan dan kesehatan ratusan juta penduduk sangat besar.

Konsekuensi dari uraian mengenai perkembangan teknologi di masa depan terhadap homo sapiens mengingatkan pada novel Brave New World, dimana manusia direproduksi oleh mesin, dan segolongan elit superior merencanakan jumlah dan tingkat kecerdasan serta kondisi fisik untuk masing-masing kelas yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan. Manusia kembali dikuasai oleh segelintir elit yang kini merupakan superhuman hasil rekayasa biologi.

Alternatif lainnya adalah manusia terserap dalam Internet of All Things dan kehilangan arti. Humanisme yang mengutamakan perasaan, kebebasan, privacy, dan individualisme, di era Internet dan digitalisasi berubah menjadi Dataisme seiring dengan melimpahnya data dan informasi. Sebagaimana ekonomi liberal yang menekankan pentingnya informasi dan pergerakan barang secara bebas untuk kemajuan ekonomi, Dataisme berpendapat bahwa kemajuan akan berjalan secara optimal jika terdapat kemudahan akses terhadap informasi. Semakin banyak data yang terhubung dalam internet yang dapat diakses secara bebas, semakin bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, adanya informasi mengenai kendaraan yang tidak dipakai seseorang pada jam-jam tertentu dapat meningkatkan efisiensi karena di luar jam tersebut kendaraannya dapat digunakan oleh orang lain. Semakin pentingnya data dalam internet mendorong orang untuk berpartisipasi dengan membagikan informasi dan pengalaman pribadinya, sehingga berlawanan dengan humanisme yang menekankan privacy, penganut Dataisme merasa tidak berarti jika tidak membagikan informasi dan pengalamannya dalam internet.

Tujuan dari Dataisme adalah menggabungkan seluruh data dan informasi di dunia untuk diolah dalam internet guna memaksimalkan penggunaannya. Saat ini sistem tersebut masih memerlukan data dari manusia. Namun terdapat kemungkinan bahwa suatu hari nanti sistem tersebut menjadi demikian maju sehingga tidak lagi memerlukan data dari manusia dan berjalan sendiri. Pada saat itu maka manusia hanya akan menjadi chip atau komponen tak berarti dari Internet of All Things. 
Kesimpulan ini diperoleh Harari setelah melihat cara bekerja sistem informasi di internet. Sistem algoritma Google dibuat oleh sebuah tim besar yang masing-masing mengerjakan bagiannya sendiri. Setelah itu sistem berjalan sendiri namun masing-masing tim tidak tahu persis keterkaitan maupun hasil akhirnya karena sistem tersebut akhirnya demikian kompleks. Kecanggihan sistem dalam menghasilkan informasi juga dapat terlihat dari lengkapnya informasi yang dimiliki perusahaan-perusahaan financial technology yang menggabungkan semua data (data supplier, buyer, penjualan, dll), yang mampu menghasilkan informasi sangat rinci hingga jam terjadinya penjualan tertinggi, wilayah penjualan terbanyak, dan lain-lain secara otomatis.

Telah banyak buku yang mencoba menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan berdasarkan perkembangan teknologi saat ini.  Michiio Kaku menulis beberapa buku berdasarkan wawancara dengan puluhan ilmuwan yang sedang melakukan riset. Dalam The Future of the Mind, ia menceritakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian untuk mencatat mimpi, memindahkan pikiran ke dalam komputer, komunikasi melalui sejenis telepati, dan sebagainya.
Homodeus melangkah lebih jauh, yaitu mencoba membayangkan perubahan ideologi atau struktur masyarakat yang akan terjadi di masa depan sejalan dengan adanya perubahan teknologi.
Sebagian berpendapat, bahwa setiap terjadi revolusi teknologi manusia selalu merasa khawatir akan  hilangnya banyak pekerjaan dan meningkatnya pengangguran, namun kekhawatiran tersebut tidak pernah menjadi kenyataan, karena selalu ada pekerjaan-pekerjaan baru. Apakah perubahan yang terjadi saat ini tidak sama saja sehingga tidak perlu dikhawatirkan?  Namun banyak contoh dalam buku ini yang menunjukkan bahwa AI dapat bekerja jauh lebih baik dari manusia dalam banyak bidang, sehingga pada akhirnya kelebihan yang dimiliki manusia hanyalah perasaan. Kita juga dapat melihat hal-hal yang sedang terjadi pada saat ini: penutupan cabang-cabang bank dan pengurangan karyawan karena digitalisasi, toko-toko tanpa kasir, mobil tanpa pengemudi, diagnosa oleh AI yang lebih akurat dari dokter berpengalaman, drone yang sukses membunuhi para teroris. Apabila prediksi kemajuan teknologi terasa berlebihan, masa lalu mungkin perlu diingat. Dua puluh lima tahun yang lalu ponsel berukuran sebesar handy talky dan harganya seperlima sedan mahal, sedang kemampuannya hanya untuk menelpon. Saat ini seorang tukang kebun pun memiliki ponsel saku yang bisa digunakan untuk internet, foto, video, dan lain-lain. Siapa yang bisa meramalkan masa depan?

Homodeus jauh lebih menarik dari Sapiens, buku Harari sebelumnya. Namun untuk menyimpulkan apa yang hendak disampaikannya pembaca harus membaca dengan teliti, karena cara pembahasan yang meluas sehingga pokok yang hendak disampaikan tidak tertulis secara tegas.  Secara keseluruhan buku ini dapat meningkatkan kesadaran pembaca bahwa perubahan semakin cepat, sehingga kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja jika tidak ingin menjadi korban perubahan.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, begitu pula Sapiens, buku pertama Harari. 

Tuesday, July 31, 2018

Ledhek dari Blora



Judul                     :   Ledhek dari Blora
Pengarang             :   Budi Sardjono
Penerbit                :   Araska
Tebal                    :   250 halaman
Tahun                   :   2018, Februari






Blora terkenal sebagai tempat kelahiran sastrawan Indonesia terkemuka yang menulis antara lain kumpulan cerpen “Cerita dari Blora”, selain sebagai penghasil kayu jati bermutu tinggi dan minyak mentah, serta kuliner sate Blora. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Blora juga terkenal dengan seni tayub beserta para ledheknya yang memikat. Sebagaimana diketahui, tayub adalah kesenian rakyat dimana penayub laki-laki memberikan uang kepada penari tayub yang disebut ledhek atau ronggeng pada saat menari.  

Novel ini menceritakan kisah Sam, seorang wartawan yang kehilangan pekerjaan karena majalah tempatnya bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan media online. Kesulitan ekonomi kemudian membuatnya terpaksa menanggalkan idealismenya, sehingga ia menerima tawaran teman lamanya sesama mantan wartawan untuk menjadi ghost writer,  yaitu menulis biografi seseorang dengan isi sesuai kehendak pemesan dan namanya tidak akan dicantumkan dalam buku sebagai penulis, karena si pemesan seolah menjadi penulis biografinya sendiri.
Sesuai saran teman lamanya, maka Sam akan menulis biografi seorang pengusaha kaya. Namun sebelum memulai penulisan, sang pengusaha memintanya untuk terlebih dahulu melakukan investigasi ke Blora, untuk melacak keberadaan seorang bekas ledhek bernama Sriyati.    
Tugas mencari jejak Sriyati ke Blora ternyata tidak mudah, karena dalam investigasinya Sam  ternyata mengalami penculikan dan hampir dibunuh di tengah hutan jati, yang membuat Sam bertanya-tanya. Apakah hubungan antara bahaya yang dialaminya dengan tugas mencari ledhek? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh mereka yang ingin membunuhnya? Siapakah sebenarnya Sriyati?

Kisah di atas disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang ringan dan mengalir serta sedikit humor, sehingga mudah dibaca. Tidak mengherankan karena ternyata penulisnya adalah pengarang senior yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen dan novel, antara lain Api Merapi, Roro Jonggrang, dan Nyai Gowok.

Membaca novel ini terasa ringan dan menghibur karena – seperti novel pop - berakhir dengan happy ending dan terdapat beberapa kejadian kebetulan, namun demikian pembaca mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan kondisi wilayah Blora dan sekitarnya, kesenian tayub, sepenggal sejarah kelam Indonesia, dan kondisi kehidupan masa kini, sehingga Ledhek dari Blora menjadi novel yang cukup menarik.

Tidak seperti novel Ronggeng Dukuh Paruh yang mencekam, Ledhek dari Blora memberi gambaran mengenai upaya masyarakat lokal mempertahankan seni tradisi yang nyaris hilang ditengah desakan modernisasi dan stigma buruk dari masa lalu yang selalu mengaitkan kesenian rakyat dengan gerakan kiri, serta  desakan konservatisme masa kini yang mengatasnamakan moralitas. Hal itu tampak antara lain dari tokoh Mbah Mantan Lurah yang berani mengadakan pertunjukan tayub meski sering mendapat ancaman pelarangan, dan para ledhek yang digambarkan sebagai perempuan-perempuan mandiri yang berani berbeda dari perempuan pada umumnya. Ada nuansa feminis dan liberal dalam buku ini.