Wednesday, April 17, 2019

Tango dan Sadimin




Judul                     :   Tango dan  Sadimin
Pengarang            :   Ramayda Akmal
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     :   272 halaman
Tahun                    :   2019, Maret





”Dalam sebuah masa, yang kita lewati dengan sadar dan rasa syukur yang paling besar sekalipun, ada sebuah tipuan dan permainan yang sedang berjalan, yang menangisi kita, karena kita menamakan kejatuhan sebagai penyelamatan dan bencana sebagai masa depan kasih. Permainan itu adalah rantai, yang memberikan kunci pada satu derita berupa derita lain.”

“Apakah nasib itu? Sebuah keputusan yang engkau ambil demi memperpanjang umur, yang saat kau lupakan, ia telah berubah menjadi kalung besi yang menggantungi sisa hidupmu.”

Tidak banyak novel Indonesia yang dapat mengisahkan kehidupan  orang-orang yang terpinggirkan dengan baik dan mencekam. Salah satunya adalah novel ini.

Kisah dalam buku ini terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah tentang kehidupan Nini Randa, seorang perempuan yang ketika bayi ditemukan terapung di sungai  Cimanduy oleh seorang perempuan tua yang  kemudian mengasuhnya selama dua tahun sebelum ia meninggal. Selanjutnya Nini Randa dibesarkan oleh alam dan para penambang pasir di sungai dekat tempat tinggalnya.  
Tanpa keluarga dan pendidikan serta dalam kemiskinan, Nini Randa memanfaatkan apapun yang dimilikinya untuk hidup. Ia menjual diri dan makanan untuk mandor dan pekerja pembangun dam di sungai, dan mendapat seorang anak yaitu Cainah yang diasuhnya sendiri. Kemudian ia membuka rumah bordil, dan digerebek warga desa dipimpin oleh Haji Misbach. Namun Haji Misbach takluk pada  Nini Randa dan menghasilkan anak gelap yaitu Sadimin, yang dibesarkan oleh Uwa Mono.   

Bagian kedua kisah tentang Sadimin dan Tango. Sadimin dengan hasutan Mono memanfaatkan kelemahan Haji Misbach untuk mendapatkan sebagian kekayaannya sehingga ia menjadi  juragan. Sadimin menikahi Tango, salah seorang perempuan penghibur dari rumah Nini Randa. 
Sementara itu Cainah yang oleh Nini Randa diharapkan bersekolah dan meneruskan usahanya, melarikan diri bersama pemuda miskin bernama Dana. Namun sebagai pasangan belasan tahun yang tidak berpendidikan, akhirnya mereka demikian miskin sehingga Dana  sempat menjadi buruh tani di sawah Tango dan Sadimin, sebelum akhirnya kembali ke rumah Nini Randa ketika tidak mampu menopang hidup sendiri.

Bagian ke empat adalah tentang kehidupan pasangan pengemis Ozog dan Sipon, yang dulu sempat menemukan Nini Randa ketika bayi namun melepaskannya kembali ke sungai. Sedangkan bagian kelima kisah tentang Haji Misbach beserta ketiga isterinya, yang meskipun dikenal alim namun masih mengejar ambisi keduniawian dengan segala cara.


Melalui kisah tokoh-tokoh di atas pembaca diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat terpinggirkan yang keras, penuh kemiskinan, kriminalitas, kesedihan, dan tanpa tuntunan pendidikan, moralitas, maupun cita-cita tinggi, yang dipadukan dengan kemunafikan tokoh agama. Suatu kehidupan yang seperti mimpi buruk dan tak terbayangkan oleh kelas menengah. Dalam melukiskan tokoh-tokohnya penulis cukup imajinatif dan dapat menggambarkan kerasnya kehidupan mereka tanpa belas kasihan. Tampaknya karena penulis juga mengenal dengan baik lokasi dan lingkungan yang menjadi setting dari  kisah dalam novelnya.  

Novel ini menjadi juara kedua lomba penulisan novel kultural Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2017.  Penulisnya, Ramayda Akmal (32 tahun) adalah pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan telah menulis beberapa buku, antara lain novel Jatisaba.