Thursday, June 04, 2020

Alpha God - The Psychology of Religious Violence and Oppresion



Judul                     :   Alpha God – The Psychology of Religious Violence and Oppression
Pengarang             :   Hector A. Gracia
Penerbit                 :   Prometheus Books, NY
Tebal                     :   287 halaman
Tahun                    :   2015


Gambaran mengenai Tuhan – terutama dalam agama Yudaisme, Kristen dan Islam – memunculkan dua sisi. Di satu sisi Tuhan digambarkan sebagai penuh kasih, pemaaf, sumber segala kebaikan, keindahan, dan tujuan utama hidup manusia. Di sisi lain, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci, Tuhan digambarkan memiliki sifat laki-laki agresif, tercermin dari kisah-kisah hukuman dan perintah untuk memerangi orang-orang yang tidak percaya atau tidak mematuhi perintahnya, peraturan yang ketat terhadap kehidupan seksual penganut agama tersebut, dan obsesi berlebihan atas kesetiaan dan kepatuhan pihak yang dianggap subordinat yaitu perempuan. Dalam prakteknya, sejarah menunjukkan bahwa kekerasan berdasarkan agama mendominasi sebagian besar sejarah manusia, bahkan hingga saat ini. Penjajahan bangsa Eropa ke benua Asia, Afrika dan Amerika selain dimotivasi oleh kekayaan dan teritori juga oleh semangat untuk menyebarkan agama Kristen, demikian pula invasi agresif bangsa Arab untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah sekitarnya setelah kematian Nabi, dan tindakan perang, perebutan wilayah, perampasan sumber daya serta penaklukan rakyat di wilayah-wilayah tersebut dianggap sejalan dengan ajaran agama atau teks dalam kitab-kitab suci yang berisi kisah-kisah tentang keutamaan berperang untuk membela agama, janji akan wilayah baru, dan hukuman yang keras dari Tuhan apabila manusia tidak patuh total atau meragukan doktrin yang dibawa oleh nabi-nabinya, dari hukuman berupa pemusnahan kota, banjir, hingga pembakaran selama-lamanya di neraka. Ajaran agama juga menganjurkan perempuan patuh kepada laki-laki, yang diberi kelebihan dari perempuan dan memperoleh hak untuk menghukum perempuan yang tidak patuh.
Penafsiran literal terhadap isi kitab-kitab suci ini, sebagaimana dilakukan oleh para fundamentalis, radikalis dan ekstrimis, menghasilkan perang agama, penaklukan agama lain, pembunuhan perempuan penyihir, penindasan perempuan dalam bentuk antara lain mutilasi genital, pembunuhan atas nama kehormatan, dan akhirnya terorisme. Fanatisme dengan kontrol ideologi yang ketat juga melarang pemeluknya untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan maupun doktrin terkait, yang pada  akhirnya melahirkan takhayul dan kebodohan.

Apabila banyak aspek dalam agama yang mengandung kekerasan, seperti perang, penindasan terhadap perempuan, dan pembodohan serta prasangka, maka perlu dilakukan penelitian mengenai penyebab hal tersebut, yaitu: mengapa demikian banyak unsur kekerasan di dalamnya?

Untuk menelusuri akar kekerasan yang terdapat dalam ajaran agama, Hector Gracia memulainya dari fakta bahwa pada umumnya pelaku kekerasan tersebut adalah pria, dan Tuhan yang digambarkan dalam ketiga agama di atas adalah Tuhan laki-laki (male God). Jadi Tuhan diciptakan dengan gambaran seorang laki-laki termasuk sifat-sifatnya.

Selanjutnya apabila kita meneliti sejarah peradaban manusia, penguasa atau raja selalu mengaitkan dirinya dengan Tuhan – misalnya sebagai keturunan Dewa atau wakil Tuhan di bumi – untuk meneguhkan kekuasaan dan penindasannya. Oleh karena itu cara untuk memahami sifat Tuhan yang bersifat opresif tersebut adalah dengan memahami jiwa laki-laki. Dan mengingat manusia berkembang melalui proses evolusi, maka pemahaman mengenai hal tersebut dapat diperoleh dari sains evolusi, yang berarti bahwa sifat-sifat tersebut tidak dapat dilepaskan dari asal mula manusia yang berasal dari primata non manusia, dan bisa kita lihat jejaknya pada primata yang masih ada sekarang dimana manusia berbagi 99% DNA.

Mengapa kita dapat memahami kekerasan dan penindasan agama dari pemahaman mengenai leluhur primata non manusia? Penulis menjelaskan bahwa terdapat kejanggalan dari sifat yang dilekatkan pada Tuhan, yaitu meskipun Tuhan digambarkan sebagai maha kuasa, maha mengetahui, berada dimana saja, tanpa wujud fisik (immaterial) dan abadi, namun masih mementingkan hal-hal yang bersifat fisik berupa kebutuhan mendasar dari  manusia bahkan primata, yaitu makanan, seks dan teritori. Mengapa dalam kitab suci Tuhan meminta persembahan makanan dan memerintahkan penaklukan wilayah? Hal tersebut adalah kebutuhan dasar manusia bahkan ape sebagai makhluk organik.
Penulis menjelaskan, bahwa terdapat beberapa sifat yang dilekatkan pada Tuhan yang nyatanya merupakan pantulan dari sifat laki-laki, yang pada dasarnya dapat ditelusuri ke leluhur manusia pada awal evolusinya, yaitu:
1.    Dominasi seksual atau penindasan dan kekerasan terhadap perempuan
2.    Pembunuhan yang dilakukan bersama dan identitas in-goup
3.    Berlutut sebagai simbol pengakuan terhadap alpha male
4.    Penyerahan maladaptive kepada dewa
5.    Pentingnya reputasi
6.    Wilayah Tuhan
7.    Membenarkan diri sendiri

Bagi pembaca yang pernah membaca atau mempelajari  psikologi  evolusioner, ketujuh hal di atas bukanlah hal baru. Desmond Morris dalam The Naked Ape, Robert Wright dalam The Moral Animal, Frans de Waal, dan banyak evolusionis lainnya telah menulis buku-buku yang menjelaskan sifat-sifat primata yang jejaknya masih melekat pada manusia modern. Gracia menambahkan bahwa sifat-sifat tersebut melekat pula pada Tuhan yang disembah oleh mayoritas manusia, pada Tuhan dari tiga agama yang paling sukses memperoleh pengikut.
Perebutan sumber daya yang terbatas, perang terkait perebutan teritori, dan persaingan ketat antar jantan untuk menjadi alpha male, yang mendapat keistimewaan memperoleh akses lebih besar terhadap sumber daya baik makanan maupun betina, merupakan perilaku yang telah terdapat pada primata non manusia. Oleh karena itu berdasarkan sejarah evolusi, maka sifat dan perilaku manusia yang penuh kekerasan tersebut dapat ditelusuri asalnya dari leluhurnya jutaan tahun lalu, yang kini dapat dilihat pada sepupu manusia yaitu primata,  dan tercermin dalam agama yang diciptakannya. Tidak mengherankan apabila Tuhan dalam agama-agama tersebut memiliki sifat tidak jauh berbeda dengan manusia yang menciptakannya, dalam hal ini adalah kaum laki-laki.

Tesis Gracia bersandar pada keyakinan bahwa agama adalah hasil dari akal budi manusia untuk bertahan hidup. Agama bukanlah sesuatu yang suci yang benar-benar diturunkan Tuhan dari langit, sebagaimana dianut oleh orang-orang beriman penganut ketiga agama yang dibahas dalam buku ini.
Teori evolusi bisa menerangkan banyak hal dengan baik sekali, hingga ada yang mengatakan bahwa saking banyak dan luasnya hal  yang dapat diterangkan berdasarkan teori tersebut maka jadinya sampai seperti buku Just So Stories Rudyard Kipling: apa saja bisa dijelaskan asal mula atau sebabnya.

Buku ini menarik karena pembaca yang terbuka dan pernah membaca atau mempelajari psikologi evolusioner akan melihat banyak kebenaran dari hal-hal yang diuraikan oleh penulis. Namun demikian pembahasan masih terbatas pada Tuhan tiga agama, yang mungkin dianggap telah mewakili agama atau kepercayaan lain yang dominan dianut manusia sepanjang sejarah. Mungkin ada Tuhan atau agama yang sifat dominannya tidak mencerminkan kekerasan, namun hal tersebut tidak dibahas dalam buku ini. Fakta bahwa yang mendominasi kepercayaan mayoritas manusia di dunia adalah Tuhan dan agama yang bersifat agresif dan penuh kekerasan mungkin telah cukup untuk membuktikan bahwa sifat seperti itulah yang disukai oleh manusia, karena mencerminkan dirinya sendiri.