Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, November 11, 2019

Celurit Hujan Panas



Judul                   :   Celurit Hujan Panas
Pengarang          :   Zainul Muttaqin
Penerbit              :   GPU
Tebal                   :   147 halaman
Tahun                  :   2019


Banyak dari kita telah mengetahui  bahwa di Madura terdapat tradisi carok, tapi bagaimana persisnya tradisi tersebut dijalankan?  Tradisi apa saja yang terdapat di Madura? Semua itu dapat kita ketahui dari kumpulan cerpen ini, yang berisi 20 cerpen ringan seluruhnya tentang Madura dan ditulis oleh pengarang Madura pula.

Membaca kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini, pembaca akan mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari dan adat istiadat rakyat Madura, antara lain bagaimana seharusnya memperlakukan seorang tandak (penari), terbatasnya hidup seorang anak nelayan miskin,  kelicikan lurah yang bersedia dibayar pemilik uang dari kota untuk merayu rakyatnya menjual sawah dengan harga murah, dan kebodohan rakyat desa yang begitu mudah menjual  tanah-tanah mereka karena ingin  mendapat uang dalam jumlah besar dengan cara instan dan menghabiskannya untuk keperluan konsumtif.

Selain itu pembaca dapat mengetahui bahwa di Madura terdapat kepercayaan bahwa adalah tabu untuk menolak pinangan pertama seorang laki-laki, karena mereka yang melakukannya  akan menjadi gadis sangkal, yaitu tidak akan menikah untuk selamanya.  Dalam cerpen Kobhung Kakek Mattasan pembaca juga dapat mengetahui bahwa rumah tradisional Madura memiliki kobhung, yaitu suatu ruangan yang terbuat dari kayu jati dan berdinding bambu serta menjadi tempat peristirahatan, berkumpulnya keluarga dan kerabat,  menerima tamu dan beribadah keluarga.

Cerpen Lelaki Ojung memperkenalkan pembaca pada ritual orang Madura memanggil hujan, yaitu dengan mencambuk dua orang lelaki bertelanjang dada atau pemain ojung hingga berdarah. Apakah ritual tersebut pasti akan berhasil, apa yang dapat menghalangi keberhasilan ritual tersebut?
Sementara itu cerpen Celurit Hujan Panas mengisahkan tentang kepercayaan rakyat Madura bahwa apabila terjadi hujan pada saat cuaca terang benderang atau panas, berarti sedang terdapat seseorang yang tewas menjadi korban carok. Carok sendiri merupakan duel antara dua orang lelaki menggunakan celurit untuk mempertahankan kehormatan diri, antara lain apabila seorang lelaki menganggap lelaki lain mengganggu pasangannya.

Selain cerpen tentang kehidupan sehari-hari berserta adat istiadat rakyat Madura, terdapat pula dua cerpen tentang dongeng rakyat Madura, yaitu kepercayaan mengenai pelangi, yang oleh rakyat Madura dinamakan Andeng, dan asal mula gunung Pekol dan nama desa Jenangger.

Kisah dalam kumpulan cerpen ini pendek-pendek dan ringan, menggambarkan  kehidupan masyarakat desa di Madura yang masih berpikiran sederhana beserta adat istiadatnya, menambah pengetahuan pembaca tentang kehidupan sehari-hari dan adat rakyat  Madura, Ini merupakan hal yang menarik, karena selama ini cerpen maupun novel tentang masyarakat Madura tergolong langka bahkan nyaris tidak ada.  Namun demikian dalam buku ini belum ada cerpen yang mengisahkan orang Madura modern yang hidup di kota dengan segala permasalahannya termasuk penyesuaian diri atau konflik antara adat lama dengan nilai-nilai maupun cara hidup yang dibawa oleh perubahan kehidupan modern maupun arus global, sebagaimana para penulis Bali telah menuangkannya dalam cerpen maupun novel-novel mereka. Mudah-mudahan pada tahap berikutnya Muttaqin akan sampai kesana.
 


Wednesday, November 06, 2019

New York Bakery


New York Bakery


Judul                     :   New York Bakery – Antologi Cerita Pendek Korea
Penerjemah           :   Koh Young Hun dan Maman S. Mahayana
Penerbit                :   GPU
Tebal                     :   372 halaman
Tahun                    :   2019, Agustus



Seperti Jepang, Korea terasa akrab bagi kita. Musik, film, kosmetik, mobil, hingga barang elektronik Korea mudah kita temui dan terlihat mengesankan. Namun tidak seperti Jepang, tidak banyak yang kita ketahui tentang sastra Korea, karena nyaris tidak ada novel Korea yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Oleh karena itu adanya terjemahan kumpulan cerpen Korea merupakan sesuatu yang menarik untuk mengetahui sikap dan permasalahan bangsa Korea yang sebenarnya.

Terdapat 14 cerpen dalam buku ini, sebagian besar bernuansa muram.  Tidak seperti cerpen karya penulis Indonesia yang pada umumnya relatif pendek dan memiliki plot cerita tertentu, cerpen-cerpen Korea cukup panjang, antara 20 sampai dengan 39 halaman, dan lebih banyak menceritakan perasaan tokoh-tokohnya dengan rinci. Hal ini berarti pembaca dapat lebih mengenal jiwa orang-orang Korea melalui tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen.  

“ Di kemudian hari, perasaan menyesal terus menerus menghinggapiku. Kehidupan memang tidak demikian. Hidup bukan tentang duduk di hadapan seorang lelaki yang lebih tua dua puluh tahun dariku di sudut New York Bakery ketika perlahan-lahan runtuh dalam bayangan sendiri. …Pada saat-saat seperti itu, fragmen hitam atau merah akan mati dan jatuh dalam diriku, seperti karat yang mengelupas dari selembar permukaan besi. Cahaya kecil akan berkilau untuk terakhir kalinya lalu lenyap selamanya ke dalam kegelapan di dalam diriku, seperti gundukan pasir yang tersapu oleh gelombang yang datang, hanya dalam periode singkat antara dilahirkan dan tumbuh dewasa.

Cerpen New York Bakery mengisahkan kenangan seorang anak pemilik toko roti terkenal yang kemudian tutup karena tidak bisa lagi bersaing dengan bakery-bakery modern, bersamaan dengan tutupnya toko-toko tradisional lain di sekitarnya. Kisah ini terasa universal, karena mengingatkan saya pada tulisan seorang teman yang bertanya, kemana toko-toko tradisional dan usaha kecil di dekat rumahnya di Bandung yang kini semuanya sudah tidak ada lagi? Usaha-usaha kecil tersebut terlindas zaman dan tidak bisa bersaing sehingga tutup. 

Cerpen lainnya berkisah tentang seorang pekerja perempuan yang hidup sendiri dan mengira orang-orang, antara lain penjaga toko langganannya cukup mempunyai perhatian pada hidupnya. Kenyataan bahwa ia dianggap sama saja dengan semua pembeli lainnya dan tidak diingat sama sekali memberikan kesan kehidupan yang penuh kesepian dan ketakpedulian di kota besar. 

Selanjutnya dalam cerpen Kisah Mi, secara tidak sadar tokoh aku membuat mi karena terkenang masa kecilnya bersama ibu tiri yang biasa membuatkan mi untuknya, namun saat itu sedang menjelang kematian.  Kisah-kisah  lainnya adalah tentang dilemma antara mempertahankan rumah adat Korea yang sulit perawatannya dan tinggal disana atau menempati apartemen yang modern dan efisien, kisah orang-orang terbuang yang tinggal di pegunungan terpencil tanpa fasilitas apapun, dan tentang seseorang yang bertemu dengan teman masa kecilnya, seorang fotografer terkenal yang tampak kesepian, membuatnya terkenang akan masa kecil mereka, dimana ia memberikan kamera yang dicuri dari ayahnya untuk menghibur temannya tersebut. Satu cerpen yang berbeda yaitu Metamorfosismu berisi kisah yang menggambarkan obsesi masyarakat Korea akan kesempurnaan fisik sesuai keinginan masing-masing individu, yang dilakukan melalui berbagai operasi.

Masih ada beberapa cerpen lainnya, namun semua bernuansa muram dan ditulis dengan rinci menggambarkan perasaan tokoh-tokohnya. Membaca cerpen Korea memerlukan kesabaran, namun pembaca akan mendapatkan rasa haru, keindahan yang diperoleh dari tulisan tentang kenangan-kenangan masa lalu, perjalanan hidup yang diwarnai kehilangan, kesedihan, kesepian…

Seperti sastra Jepang, maka sastra Korea juga cenderung muram, memberikan kesan yang berbeda dari kesan permukaan yang kita peroleh melalui produk-produknya yang lain yang lebih populer.  


Thursday, May 30, 2019

Gadis Pesisir



Judul                     :   Gadis Pesisir
Pengarang             :   Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                    :   321 halaman
Tahun                   :   2019, Januari


Gadis Pesisir adalah kisah tentang kehidupan seorang gadis remaja anak seorang nelayan miskin yang menjadi pendatang di wilayah Jayapura, Irian Jaya (Papua) untuk mencari kehidupan yang lebih baik pada awal tahun 1970-an. Kampung nelayan ini berdekatan dengan tempat pendidikan dan pelatihan calon polisi, yang instrukturnya tertarik untuk menikahi salah satu gadis nelayan, serta jatuh cinta kepada Halijah, gadis paling tidak menarik dan tidak diperhitungkan di kampung tersebut.  Berhasilkah keluarganya mendapatkan kehidupan lebih baik? Apakah ia sama seperti gadis-gadis lain, yang mencoba melepaskan diri dari kemiskinan dengan menikahi laki-laki yang bisa memberi makan cukup dan mengangkat derajat keluarga?   

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana, namun pengarang berhasil membuatnya nyata. Kehidupan masyarakat nelayan, yang merupakan pendatang dari berbagai daerah di Maluku dan Sulawesi digambarkan oleh pengarang dengan sangat baik melalui dialog yang meyakinkan dan konflik yang muncul dari perbedaan kekayaan, kecantikan, kenalan yang dimiliki, persaingan antar keluarga, dan upaya masing-masing untuk diperhitungkan dalam masyarakat atau keluar dari jeratan kemiskinan. Digambarkan pula bagaimana sistem patriarki, dengan dukungan konservatisme agama, membuat perempuan miskin semakin menderita karena laki-laki yang menjadi suaminya tidak memiliki belas kasihan.

Sebagai novel yang berlatar belakang masa awal Orde Baru, terdapat sedikit kisah mengenai peran tentara dan kondisi Papua di masa tersebut. Tentara diwakili oleh tokoh Bapak dan Ibu Jawa, yang masih memegang teguh adat Jawa, termasuk cara berpakaian adat Jawa, yang kini sudah nyaris punah dikalahkan budaya Timur Tengah.
     
Hal yang agak mengecewakan mungkin adalah cara pengarang mengakhiri novelnya, yang terasa tiba-tiba, serta tampak tidak konsisten dengan pendirian Halijah yang menyatakan akan mengambil kesempatan apapun untuk membalas penghinaan kepada keluarganya. Hal ini membuat karakter tokoh utama yang telah dibangun cukup baik di bagian sebelumnya menjadi tidak jelas. Pembaca mengira ia memikirkan harga diri keluarga, namun ternyata ia mencari kebebasan pribadi dan bagi keluarga cukup ketersediaan makanan saja. Jika penulisnya ingin tokohnya menjadi contoh tentang perempuan yang  dapat membebaskan diri dari tekanan lingkungan yang mengitarinya, maka hal itu kurang tergambar dengan baik dalam karakter tokohnya.  

Wednesday, April 17, 2019

Tango dan Sadimin




Judul                     :   Tango dan  Sadimin
Pengarang            :   Ramayda Akmal
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     :   272 halaman
Tahun                    :   2019, Maret





”Dalam sebuah masa, yang kita lewati dengan sadar dan rasa syukur yang paling besar sekalipun, ada sebuah tipuan dan permainan yang sedang berjalan, yang menangisi kita, karena kita menamakan kejatuhan sebagai penyelamatan dan bencana sebagai masa depan kasih. Permainan itu adalah rantai, yang memberikan kunci pada satu derita berupa derita lain.”

“Apakah nasib itu? Sebuah keputusan yang engkau ambil demi memperpanjang umur, yang saat kau lupakan, ia telah berubah menjadi kalung besi yang menggantungi sisa hidupmu.”

Tidak banyak novel Indonesia yang dapat mengisahkan kehidupan  orang-orang yang terpinggirkan dengan baik dan mencekam. Salah satunya adalah novel ini.

Kisah dalam buku ini terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah tentang kehidupan Nini Randa, seorang perempuan yang ketika bayi ditemukan terapung di sungai  Cimanduy oleh seorang perempuan tua yang  kemudian mengasuhnya selama dua tahun sebelum ia meninggal. Selanjutnya Nini Randa dibesarkan oleh alam dan para penambang pasir di sungai dekat tempat tinggalnya.  
Tanpa keluarga dan pendidikan serta dalam kemiskinan, Nini Randa memanfaatkan apapun yang dimilikinya untuk hidup. Ia menjual diri dan makanan untuk mandor dan pekerja pembangun dam di sungai, dan mendapat seorang anak yaitu Cainah yang diasuhnya sendiri. Kemudian ia membuka rumah bordil, dan digerebek warga desa dipimpin oleh Haji Misbach. Namun Haji Misbach takluk pada  Nini Randa dan menghasilkan anak gelap yaitu Sadimin, yang dibesarkan oleh Uwa Mono.   

Bagian kedua kisah tentang Sadimin dan Tango. Sadimin dengan hasutan Mono memanfaatkan kelemahan Haji Misbach untuk mendapatkan sebagian kekayaannya sehingga ia menjadi  juragan. Sadimin menikahi Tango, salah seorang perempuan penghibur dari rumah Nini Randa. 
Sementara itu Cainah yang oleh Nini Randa diharapkan bersekolah dan meneruskan usahanya, melarikan diri bersama pemuda miskin bernama Dana. Namun sebagai pasangan belasan tahun yang tidak berpendidikan, akhirnya mereka demikian miskin sehingga Dana  sempat menjadi buruh tani di sawah Tango dan Sadimin, sebelum akhirnya kembali ke rumah Nini Randa ketika tidak mampu menopang hidup sendiri.

Bagian ke empat adalah tentang kehidupan pasangan pengemis Ozog dan Sipon, yang dulu sempat menemukan Nini Randa ketika bayi namun melepaskannya kembali ke sungai. Sedangkan bagian kelima kisah tentang Haji Misbach beserta ketiga isterinya, yang meskipun dikenal alim namun masih mengejar ambisi keduniawian dengan segala cara.


Melalui kisah tokoh-tokoh di atas pembaca diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat terpinggirkan yang keras, penuh kemiskinan, kriminalitas, kesedihan, dan tanpa tuntunan pendidikan, moralitas, maupun cita-cita tinggi, yang dipadukan dengan kemunafikan tokoh agama. Suatu kehidupan yang seperti mimpi buruk dan tak terbayangkan oleh kelas menengah. Dalam melukiskan tokoh-tokohnya penulis cukup imajinatif dan dapat menggambarkan kerasnya kehidupan mereka tanpa belas kasihan. Tampaknya karena penulis juga mengenal dengan baik lokasi dan lingkungan yang menjadi setting dari  kisah dalam novelnya.  

Novel ini menjadi juara kedua lomba penulisan novel kultural Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2017.  Penulisnya, Ramayda Akmal (32 tahun) adalah pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan telah menulis beberapa buku, antara lain novel Jatisaba.   


Tuesday, July 31, 2018

Ledhek dari Blora



Judul                     :   Ledhek dari Blora
Pengarang             :   Budi Sardjono
Penerbit                :   Araska
Tebal                    :   250 halaman
Tahun                   :   2018, Februari






Blora terkenal sebagai tempat kelahiran sastrawan Indonesia terkemuka yang menulis antara lain kumpulan cerpen “Cerita dari Blora”, selain sebagai penghasil kayu jati bermutu tinggi dan minyak mentah, serta kuliner sate Blora. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Blora juga terkenal dengan seni tayub beserta para ledheknya yang memikat. Sebagaimana diketahui, tayub adalah kesenian rakyat dimana penayub laki-laki memberikan uang kepada penari tayub yang disebut ledhek atau ronggeng pada saat menari.  

Novel ini menceritakan kisah Sam, seorang wartawan yang kehilangan pekerjaan karena majalah tempatnya bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan media online. Kesulitan ekonomi kemudian membuatnya terpaksa menanggalkan idealismenya, sehingga ia menerima tawaran teman lamanya sesama mantan wartawan untuk menjadi ghost writer,  yaitu menulis biografi seseorang dengan isi sesuai kehendak pemesan dan namanya tidak akan dicantumkan dalam buku sebagai penulis, karena si pemesan seolah menjadi penulis biografinya sendiri.
Sesuai saran teman lamanya, maka Sam akan menulis biografi seorang pengusaha kaya. Namun sebelum memulai penulisan, sang pengusaha memintanya untuk terlebih dahulu melakukan investigasi ke Blora, untuk melacak keberadaan seorang bekas ledhek bernama Sriyati.    
Tugas mencari jejak Sriyati ke Blora ternyata tidak mudah, karena dalam investigasinya Sam  ternyata mengalami penculikan dan hampir dibunuh di tengah hutan jati, yang membuat Sam bertanya-tanya. Apakah hubungan antara bahaya yang dialaminya dengan tugas mencari ledhek? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh mereka yang ingin membunuhnya? Siapakah sebenarnya Sriyati?

Kisah di atas disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang ringan dan mengalir serta sedikit humor, sehingga mudah dibaca. Tidak mengherankan karena ternyata penulisnya adalah pengarang senior yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen dan novel, antara lain Api Merapi, Roro Jonggrang, dan Nyai Gowok.

Membaca novel ini terasa ringan dan menghibur karena – seperti novel pop - berakhir dengan happy ending dan terdapat beberapa kejadian kebetulan, namun demikian pembaca mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan kondisi wilayah Blora dan sekitarnya, kesenian tayub, sepenggal sejarah kelam Indonesia, dan kondisi kehidupan masa kini, sehingga Ledhek dari Blora menjadi novel yang cukup menarik.

Tidak seperti novel Ronggeng Dukuh Paruh yang mencekam, Ledhek dari Blora memberi gambaran mengenai upaya masyarakat lokal mempertahankan seni tradisi yang nyaris hilang ditengah desakan modernisasi dan stigma buruk dari masa lalu yang selalu mengaitkan kesenian rakyat dengan gerakan kiri, serta  desakan konservatisme masa kini yang mengatasnamakan moralitas. Hal itu tampak antara lain dari tokoh Mbah Mantan Lurah yang berani mengadakan pertunjukan tayub meski sering mendapat ancaman pelarangan, dan para ledhek yang digambarkan sebagai perempuan-perempuan mandiri yang berani berbeda dari perempuan pada umumnya. Ada nuansa feminis dan liberal dalam buku ini.


Monday, July 09, 2018

Aib dan Martabat




Judul               :   Aib dan Martabat
Pengarang      :   Dag Solstad
Penerjemah    :   Irwan Syahrir
Penerbit           :   Marjin Kiri
Tebal               :    138 halaman
Tahun              :   2017





Tidak banyak novel Norwegia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, salah satunya adalah Aib dan Martabat, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Norwegia.
Negara-negara Skandinavia dikenal sebagai negara yang tingkat kesejahteraannya tinggi, tertib, dan aman, dengan tingkat yang lebih baik dari negara Eropa lainnya. Namun demikian, dalam novel ini kita akan menemukan kesepian yang dialami masyarakat modern.

Alur cerita dalam novel ini sangat sederhana, karena yang hendak disampaikan pengarang adalah perasaan kekosongan dan kesepian yang dialami masyarakat modern, yang mungkin juga telah dialami oleh sebagian dari masyarakat negara dunia ketiga yang tinggal di kota-kota besar.

Tokoh utama adalah Elias Rukla, seorang guru bahasa sekolah menengah berusia 50-an tahun yang telah mengajar selama dua puluh lima tahun. Pelajaran bahasa atau sastra Norwegia bukanlah pelajaran favorit murid-murid, dan suatu hari Elias merasakan kesia-siaan dirinya ketika mendapati betapa para muridnya tidak memiliki minat sedikit pun terhadap bidang yang diajarkannya bahkan menampakkan kebencian, sehingga membuatnya merasa sia-sia dan membenci kondisi yang dihadapinya saat itu karena telah melakukan pekerjaan tersebut selama lebih dari dua puluh tahun. Rasa kesia-siaan dan putus asa itu demikian mendalam sehingga tanpa sadar Elias melampiaskannya di sekolah, yang berakibat fatal  karena membuatnya tidak pantas menjadi guru kembali.  Dalam keputus-asaannya ia kemudian berjalan menyusuri kota, memikirkan hidupnya selama ini – perkawinannya yang semakin tidak bahagia, pengkhianatan sahabatnya di kala muda, kehidupan yang datar, rekan-rekan kerja yang tidak bisa diajak bercakap-cakap tentang hal-hal yang berarti selain soal pekerjaan dan masalah remeh sehari-hari, pekerjaan dan pengabdian yang tidak dihargai karena masyarakat telah menjadi dangkal, lebih menghargai budaya pop murahan daripada sastra dan peradaban tinggi.  Dan kini pekerjaan tersebut tampaknya harus dilepaskannya, meskipun sebenarnya dia tidak lama lagi pensiun. Semua itu ada dalam pikiran Elias Rukla selama menyusuri kota Oslo setelah keluar dari sekolah dengan marah.  

Novel ini adalah monolog. Namun demikian banyak hal menarik di dalamnya. Misalnya kekecewaan Elias Rukla bahwa semua rekan gurunya tidak ada yang membicarakan ide-ide, perkembangan pengetahuan masing-masing bidangnya, atau hal-hal berarti lainnya ketika mereka bercakap-cakap di sekolah, melainkan hanya membicarakan tentang hutang-hutang yang mereka miliki, atau bahwa mereka telah bebas dari hutang, sehingga Elias menyebut mereka budak hutang. Bagian ini sungguh menggelikan, karena mengingatkan saya pada rekan-rekan kerja di  kantor.
“Orang-orang dalam lingkungan pergaulan Elias Rukla tidak lagi berbicara. Hanya singkat dan ala kadarnya. …Karena ruang publik yang diperlukan oleh sebuah percakapan sudah terisi.”

Tokoh novel adalah seorang idealis, seorang pemikir, namun harus menghadapi mayoritas yang dangkal, yang didukung oleh demokrasi. 
Novel ini sangat menarik karena mengingatkan saya pada kehidupan masyarakat modern di kota-kota besar, termasuk di Indonesia.

Tuesday, April 12, 2016

Blues Merbabu




Judul    :       Blues Merbabu
Pengarang:   Gitanyali
Penerbit:       Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun   :       2011   
Tebal    :       186 hal


 Sudah sering saya membaca tulisan Bre Redana, baik di Kompas maupun dari kumpulan cerpennya, namun baru belakangan saja saya tahu bahwa ia juga menulis novel semi biografi yang mengisahkan pengalamannya sebagai keluarga anggota PKI. Ayahnya diambil tentara ketika ia masih duduk di sekolah dasar, dan banyak teman atau kerabatnya kemudian juga tidak jelas nasibnya. Meskipun demikian, tidak seperti memoir korban pemberantasan PKI lainnya yang penuh drama atau kesedihan, novel ini bercerita dengan ringan bahkan di beberapa bagian terasa kocak.

Blues Merbabu menceritakan masa kecil pengarang di sebuah kota di bawah gunung Merbabu, yaitu Salatiga. Biasa saja sebenarnya, namun mungkin mengingatkan kita pada diri sendiri. Dalam mengenang rumah, kota dan orang-orang yang kita kenal pada masa kecil, selalu ada romantisme:  rumah terasa begitu besar, kota sangat indah dan sepi, orang-orang yang kita kenal tampak  baik atau cantik, masa lau begitu menyenangkan dengan keluarga atau teman-teman…

Kisah diceritakan dengan cara kilas balik. Seorang wartawati muda ingin mengetahui masa kecil Gitanyali dan karena tertarik dengan romantisme kisahnya, berkeras untuk mengunjungi kota tersebut dan menemui teman-teman masa kecilnya. Apakah masa lalu memang selalu tampak indah hanya karena kita masih kanak-kanak, atau karena sudah berlalu?  Apakah sebenarnya semua itu biasa saja?

Kekecewaan ketika menapak tilas tempat-tempat atau orang-orang yang di masa kecil tampak mengesankan merupakan hal yang biasa kita alami. Bagi Gitanyali hal itu adalah blues Merbabu.  Mungkin itu sebabnya orang suka bernostalgia, karena segala sesuatu yang telah lewat terasa lebih indah. Namun apabila kota atau tempat-tempat dan orang-orang yang kita kenal di masa lalu telah berubah, mungkin lebih baik kita tidak mendatanginya kembali, untuk tidak merusak kenangan indah di masa lalu.

Kisah penculikan ayah Gitanyali tidak terlalu banyak diceritakan, namun pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa pandangan dan cara hidup setiap orang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari masa kecilnya, bahkan seringkali hal itu sangat menentukan kehidupannya di kemudian hari.
Sebuah novel yang cukup menarik, dan menambah khasanah cerita berlatar gerakan 30 September.
 

Monday, February 22, 2016

Isinga dan Kain Cinta Tanpa Batas



 Judul    :       Isinga, sebuah roman Papua
Pengarang:   Dorothea Rosa Herliany
Penerbit:       Gramedia
Tahun   :       2015   
Tebal    :       218 hal





Judul    :       Kain Cinta Tanpa Batas
Pengarang:   Magdalena Sitorus
Penerbit:       Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun   :       2015   
Tebal    :       252 hal




Ketatnya adat atau tradisi beberapa suku di Indonesia seringkali menindas kaum perempuannya, sehingga hanya perempuan yang kuat yang dapat mengatasinya. Demikian yang hendak disampaikan oleh kedua novel ini, yang berlatar adat Papua dan Sumatera Utara.




Isinga mengisahkan seorang gadis cantik di pedalaman Papua yang diculik oleh pemuda dari suku yang berbeda, yang merupakan musuh sukunya. Untuk menghindari peperangan, maka ia terpaksa harus menikah dengan Magea, pemuda yang menculiknya, sehingga membuat  Abanga, kekasihnya patah hati dan pergi dari desa sukunya.
Sebagaimana laki-laki Papua pada umumnya, Magea tidak pernah bekerja kecuali membuka ladang baru, dan menginginkan banyak anak. Seluruh pekerjaan termasuk berladang, menyediakan makanan sehari-hari dan mengurus anak merupakan tugas Irewa. Meskipun demikian, Irewa masih sering  mendapat bentakan dan siksaan dari Magea, sehingga pada suatu hari ia pergi hingga sampai ke kampung asalnya di dataran rendah, yang lebih maju dari kampung Magea.
Di kampung halamannya, Irewa yang menderita sakit kemudian dirawat oleh Sisi, yang  ternyata adalah saudara kembarnya. Sebagaimana adat suku-suku primitif, anak kembar dianggap kutukan, sehingga salah satu harus dibuang. Oleh karena itu Sisi diambil anak oleh suster Vivi, seorang misionaris berkebangsaan Jerman. Sisi berpendidikan baik dan bercita-cita tinggi, bahkan kemudian disekolahkan ke Jerman untuk menjadi dokter.
Sementara itu, kekasih Isinga yang patah hati berkelana dan bertemu dengan Rere, yang memelihara tradisi musik asli dengan berkeliling Papua. Namun kegiatan Rere tidak disukai penguasa, sehingga ia terbunuh dan nasib Abanga di Papua terancam. Bagaimanakah nasib Rere, Sisi dan Isinga selanjutnya?

Dalam novel ini, digambarkan beratnya tugas yang harus dijalankan oleh perempuan Papua, yang bertanggung jawab mencari nafkah dan mengurus seluruh anaknya, melahirkan sendirian di hutan, menghasilkan banyak anak, namun masih dianiaya oleh suami dan dalam masyarakat hanya diwajibkan bersabar dan menerima apapun perlakuan suami, sehingga bunuh diri merupakan hal yang hampir dianggap wajar. Dalam novel Sali – yang juga mengisahkan kehidupan perempuan Papua – tokohnya bunuh diri. Namun Isinga tidak bunuh diri. Ketika hendak terjun ke sungai, tiba-tiba ia teringat anak-anaknya, bahwa ia memiliki tanggung jawab membesarkan mereka. Ia tidak jadi bunuh diri dan kemudian berusaha mencari nafkah dengan berjualan hasil ladang ke pasar. Dan melihat perempuan Jawa di pasar yang berani membela haknya, ia kemudian berani bersikap tegas kepada suaminya yang menjual tanah adat untuk mengunjungi perempuan bayaran. Ia bahkan menjadi aktivis untuk mengusir mereka karena  memberi pengaruh buruk kepada masyarakat adat yang masih lugu.

Tokoh perempuan dalam novel ini adalah perempuan yang kuat: ia sanggup menikah dan dianiaya oleh laki-laki musuh sukunya, ia tidak merasa iri melihat nasib baik saudara kembarnya, ia sanggup membesarkan ketiga anaknya sendirian, ia berani menjadi aktivis.  Demikian pula saudara kembarnya: ia pintar, bersifat sosial dan bercita-cita tinggi.  Sementara itu tokoh laki-laki Papua digambarkan pemalas, kejam, bodoh dan gamang menghadapi berbagai perubahan.
Namun pembaca tidak tahu sifat rata-rata perempuan Papua, seperti Sali ataukah Isinga, karena  masyarakat Papua tidak tergambarkan disini. Tidak ada kisah mengenai teman-teman atau tetangga perempuan Isinga. Mungkinkah Isinga merupakan perkecualian atau gambaran ideal penulisnya akan perempuan Papua?

Kain Cinta Tanpa Batas menggambarkan kehidupan keluarga suku Batak pada awal tahun 1970-an di Jakarta. Tokohnya, Hotma, menikah dengan anak keluarga kaya, namun selalu dimarahi oleh mertuanya karena tidak juga mampu memberikan anak laki-laki. Demikian pentingnya seorang anak laki-laki bagi keluarga mertuanya, dan tuntutan yang terkeras justru dari mertua perempuannya.  Sementara itu, suaminya seorang yang lemah, yang hanya mampu bekerja di perusahaan pamannya, takut kepada ibunya, bahkan karena kehidupan yang kurang teratur, akhirnya meninggal. Namun Hotma adalah seorang wanita yang berbudi luhur dan kuat, ia tidak menikah lagi, dan memilih hidup dengan bekerja untuk membesarkan anaknya sendirian hingga dewasa.
Apakah keluarga Batak di masa kini masih seperti itu? Meskipun mereka terkenal kuat mempertahankan adat, mungkin di masa kini tuntutan akan penerus laki-laki tidak sekeras dulu.  

Kedua novel ini memiliki tema yang sama, yaitu tentang kekuatan perempuan mengatasi berbagai  tantangan yang merugikan dirinya, yang berasal dari adat istiadat yang tidak menguntungkan posisinya atau bahkan menindas.
Tema tersebut akan menarik apabila penulis dapat menggambarkan perasaan dan perkembangan karakter tokohnya secara mendalam dari sisi tokoh tersebut, sehingga pembaca dapat menyelami perasaan tokoh tersebut ketika menghadapi berbagai permasalahan dan mengatasi masalahnya, karena tentunya tokoh perempuan tersebut sering mengalami kesedihan, keputusasaan, kesepian, kekurangan uang, dan hal-hal buruk lainnya. Sayangnya, kedua penulis kurang menggarap hal tersebut, sehingga akhir yang happy ending tampak seperti sebuah pelajaran atau nasihat saja: jadilah perempuan yang sabar, bertanggung jawab, dan tahan penderitaan, agar bisa membesarkan anak-anak dan hidup tenang di kala tua.