Monday, October 10, 2011

MERABA INDONESIA

Judul : Meraba Indonesia – Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Pengarang : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi
Tahun : 2011, Juli
Tebal : 370 hal



Jika membaca surat kabar dan berlibur ke daerah-daerah di luar Jakarta belum cukup untuk membuat anda prihatin dengan kondisi Indonesia, bacalah buku ini, yang nyaris seluruhnya hanya laporan mengenai meratanya kemiskinan akut, korupsi, transportasi laut dan darat yang menyedihkan, kerusakan alam, perampokan kekayaan alam, pengabaian kepentingan rakyat oleh penyelenggara negara, keputus-asaan rakyat yang akhirnya berjuang sendiri untuk mengatasi kesulitan hidup, dan gugatan akan peristiwa tahun 1965.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah Redmond O’Hanlon menembus pedalaman Republik Kongo belasan tahun silam: tentang kapal rakyat yang tidak memenuhi syarat keselamatan dan kebersihan, korupsi yang tertanam demikian dalam, penyelenggara negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, sumber daya alam yang dirusak dan dijual murah untuk kepentingan segelintir orang. Tidak heran jika ada yang menyamakan Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan buku Tepian Tanah Air yang menceritakan kondisi pulau-pulau terluar Indonesia dengan nada optimis dan gambar-gambar indah, penulis Meraba Indonesia lebih menekankan pada permasalahan yang dihadapi di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya. Selain itu, disamping pulau-pulau terluar, penulis, yaitu Ahmad Yunus dan rekannya sesama wartawan Farid Gaban juga menyusuri pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, baik dengan motor maupun mobil. Perjalanan dilakukan berdua pada tahun 2009 selama hampir setahun dengan menggunakan motor bekas.

Buku ini seperti penegasan akan hal-hal buruk yang selama ini telah kita lihat atau rasakan di Indonesia. Misalnya, jika anda sering berlibur ke pulau atau pantai, tentu sering mengalami bahwa tidak ada kapal yang bisa disewa selain kapal nelayan, bahwa liburan selalu membawa sedikit aura kesedihan karena dimana-mana kita akan menemukan rakyat miskin yang hidupnya seperti tersia-sia, bahwa kadang tempat ibadah dibangun terlalu megah dibandingkan kondisi penduduk sekitarnya, atau bahwa alam yang dulu indah kini telah rusak atau direncanakan akan dibuat pertambangan. Uraian Ahmad Yunus naik kapal perintis yang tidak layak dan tidak tentu jadwalnya menegaskan pengalaman kita akan sulitnya menemukan kapal yang layak di Indonesia. Demikian pula pengalamannya bertemu dengan rakyat yang harus bersusah payah mencari nafkah dengan merusak alam atau tubuh mereka sendiri seolah tidak ada penyelenggara negara menegaskan apa yang selama ini telah kita lihat dan rasakan.

Kelemahan dari buku ini ialah tidak adanya peta rinci perjalanan mereka dan foto-foto yang minim serta tidak menarik. CD yang merupakan lampiran dari buku juga tidak menolong, karena sama tidak menariknya; keduanya terlalu sering muncul (dengan latar belakang sebuah ruangan) untuk menguraikan apa yang sudah tertulis di buku, sedangkan pulau-pulau atau wilayah yang mereka kunjungi hanya ditampilkan sekilas dengan sudut pengambilan yang buruk dan tidak lengkap.

Memandang Indonesia memang bisa dari berbagai sisi, tergantung mana yang lebih disukai. Tepian Tanah Air cenderung melihat sisi positif sehingga bernada optimis, Meraba Indonesia cenderung melihat hanya sisi negatif, sampai-sampai pengarang menulis,”Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi samudera Pasifik yang bergemuruh.”
Mungkin harus ditulis buku lain yang bisa melihat kedua sisi secara seimbang?

Tuesday, September 27, 2011

PENGUASA LALAT

Judul : Penguasa Lalat (Lord of the Flies)
Pengarang: William Golding

Penerjemah: Dhewi Harjono
Penerbit: Pustaka Baca, Yogya
Tahun : 2011
Tebal : 315 hal


Sebuah pesawat terbang yang mengevakuasi anak-anak dari wilayah berlangsungnya perang dunia jatuh di sebuah pulau koral di Pasifik Selatan. Tidak ada orang dewasa yang selamat. Pulau tersebut tidak berpenghuni, namun memiliki air, buah-buahan, dan babi.

Ralph, seorang anak berumur 12 tahun yang berpikiran jernih, berkenalan dengan Piggy yang cerdas, seorang anak berkaca mata yang tidak menarik. Dengan petunjuk Piggy, Ralph mengumpulkan anak-anak lain menggunakan kerang yang ditiup, yang ditemukannya ketika berenang di laguna. Setelah semua berkumpul, Ralph berusaha menerapkan aturan seperti yang diajarkan selama ini di sekolah: mengadakan pemilihan ketua, membuat rencana dan pembagian kerja untuk bertahan hidup dan penyelamatan diri keluar dari pulau. Namun Jack, ketua grup paduan suara merasa marah tidak terpilih menjadi pemimpin, sehingga Ralph memberinya jabatan sebagai pemburu bersama kelompoknya.

Usaha Ralph untuk menjalankan rencana penyelamatan dengan membuat asap pemberi sinyal di atas gunung, membuat tempat berteduh, menjaga sanitasi serta anak-anak yang lebih kecil tidak berjalan dengan baik karena tidak adanya kerja sama dari Jack, yang hanya memikirkan daging sehingga tidak menjaga api sinyal dan sibuk berburu babi bersama kelompoknya. Sementara itu anak-anak kecil mengutarakan ketakutannya karena di kegelapan melihat si buas, atau hantu, yang membuat semua resah.
Konflik terus meningkat antara Ralph yang berusaha menegakkan aturan dan Jack yang semakin terobsesi untuk menjadi pemimpin dan pemburu, sebab untuk memasak hasil buruannya Jack mencuri api dari Ralph dan Piggy, karena hanya kelompok Ralph yang bisa membuat api dari kacamata Piggy. Kekerasan yang dilakukan Jack akhirnya membawa korban beberapa anak, bahkan Ralph sendiri diburu. Hanya kedatangan kapal yang akan dapat menyelamatkan Ralph dan anak-anak lainnya dari kekejaman Jack.

Meskipun seperti sebuah petualangan anak-anak biasa, namun novel ini menyimpan pesan yang dalam, karena kehidupan anak-anak dalam pulau tersebut mencerminkan kehidupan di dunia dan kekelaman jiwa manusia. Ralph yang selalu berusaha bertindak sesuai aturan untuk kebaikan dan Piggy yang dengan ilmu pengetahuannya berusaha membantu Ralph, harus menghadapi Jack yang hanya dilandasi emosi dan sifat-sifat dasar manusia untuk survive: pemenuhan kebutuhan dasar (makanan), keserakahan, keinginan berkuasa, pemaksaan kehendak dengan kekerasan,atau hilangnya rasionalitas dan pengetahuan digantikan oleh emosi. Bukankah pertentangan antara kedua hal ini yang selalu dihadapi manusia sepanjang zaman dan mengakibatkan konflik, kerusakan dan peperangan yang tak terhitung jumlahnya hingga saat ini?

Novel ini memang bersifat simbolis. Judul novel merupakan terjemahan dari bahasa Hebrew, baal-zevuv, yang artinya chief devil – Setan. Sedangkan dalam bahasa Inggris - yang diambil dari bahasa Yunani yaitu beelzebub, artinya Setan. Dalam novel hal ini ditunjukkan dengan kerumunan lalat di atas kepala babi yang ditancapkan kelompok Jack di atas tongkat yang ditanam di tanah.

William Golding sendiri menjelaskan novel ini sebagai berikut,”Tema adalah usaha untuk menelusuri jejak kerusakan masyarakat kembali kepada kerusakan masyarakat kembali ke kerusakan alam manusia. Moral adalah saat bentuk suatu masyarakat harus bergantung pada sifat etis individu dan bukan pada system politis apapun, bagaimanapun tampak logis dan dapat dihargai. Keseluruhan buku bersifat simbolis secara alami kecuali penyelamatan di akhir cerita ketika ketika kehidupan orang dewasa muncul, bermartabat dan cakap, namun pada kenyataannya terperangkap dalam jaring kejahatan yang sama seperti kehidupan simbolis anak-anak di pulau. …”

Terjemahan novel ini dalam bahasa Indonesia cukup baik, namun ada beberapa kesalahan cetak di beberapa halaman (pengulangan cetak).

Buku ini merupakan novel pertama (1954) William Golding, yang mendapat hadiah nobel sastra pada tahun 1983. Konon kisahnya diilhami novel The Coral Island oleh R.M. Ballantyne yang mengisahkan terdamparnya tiga anak laki-laki di sebuah pulau hingga diselamatkan, serta pengalaman Golding selama bertugas di angkatan laut.

Sunday, September 18, 2011

TEPIAN TANAHAIR

Judul : Tepian Tanahair – 92 Pulau Terdepan Indonesia, Indonesia Bagian Tengah
Pengarang : Wanadri dan Rumah Nusantara
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2011, Mei
Tebal : 412 hal



Belasan tahun yang lalu, ketika menyusuri Kalimantan Barat yang sunyi sepi, hingga Sumatera Utara yang indah, seorang teman merasa sangat bersyukur, karena dapat melihat sisi lain Indonesia (selain kota-kota besarnya) dan tiba-tiba menyadari, betapa indah dan luas tanah airnya.

Mungkin juga banyak orang yang akan mengalami hal yang sama, jika mereka sempat menjelajah banyak wilayah Indonesia dan masih mampu menghargai keindahan alam. Namun demikian, menjelajahi 92 pulau-pulau terluar Indonesia tentu memerlukan usaha yang luar biasa, mengingat luasnya wilayah dan terbatasnya sarana transportasi laut, sehingga Tepian Tanah Air sangat menarik untuk memenuhi rasa ingin tahu dan hasrat bertualang yang tidak mungkin dilakukan sendiri.

Melanjutkan buku pertama, yaitu Tepian Tanah Air Indonesia Bagian Barat yang meliputi 40 pulau di sekitar Sumatera, Tepian Tanahair Indonesia Bagian Tengah mencakup 24 pulau terluar yang berada di enam provinsi, dari provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur, yang ditempuh sejauh 9.181 km dengan menggunakan kapal perintis, perahu nelayan dan perahu sewaan berukuran kecil. Selanjutnya akan diterbitkan buku ketiga, yang akan meliputi 28 pulau di Indonesia bagian timur.

Sebagai catatan ekspedisi yang dilandasi semangat nasionalisme - dilakukan Wanadri dan Rumah Nusantara dalam rangka memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional – maka Tepian Tanah Air setidaknya akan membangkitkan optimisme pembacanya, karena nadanya nyaris seperti iklan televisi Kompas baru-baru ini, yang demikian optimis menyatakan bahwa wilayah-wilayah Indonesia memiliki potensi yang demikian besar dan beragam, sehingga kita bisa berharap besar pada kemajuan bangsa ini. Namun demikian data rinci mengenai masing-masing pulau misalnya data demografi dan ekonomi seperti jumlah penduduk, pendapatan, atau bahkan luas wilayah dalam bentuk angka tidak ada, sehingga kita tidak mendapatkan informasi cukup mengenai seberapa besar potensi yang ada yang membuat penulis buku ini demikian optimis.
Paling tidak, membaca buku ini akan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga pulau-pulau terluar dari gangguan negara tetangga dan membuat kita lupa sejenak bahwa pulau-pulau yang terindah telah disewakan atau dijual kepada asing, sementara bangsa sendiri tidak pernah tertarik dengan keindahan pulau-pulau yang dimilikinya.

Selain dokumentasi dalam bentuk buku, film dan lainnya, tim juga menancapkan penanda berupa patung kedua proklamator dan logam tahan karat pada setiap pulau yang dikunjungi, yang diisi kertas bertuliskan antara lain,”...Ekspedisi Garis Depan Nusantara berhasrat mengingatkan kita bersama untuk menghayati kebesaran negeri tercinta, Ibu Pertiwi, Indonesia.”
Buku ini dilengkapi banyak foto-foto pulau dan pantai yang indah dalam ukuran besar, sehingga menyenangkan untuk dilihat dan cocok untuk diletakkan di meja kopi. Namun demikian, karena kertasnya bagus dan banyak gmbar berwarna, maka harganya lumayan mahal, sehingga misi untuk menjangkau sebanyak mungkin masyarakat, khususnya kaum muda, mungkin agak kurang tercapai.

PONDOK BACA


Judul : Pondok Baca - Kembali ke Semarang
Pengarang : Nh Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Tebal : 251 hal

Sebagai kelanjutan seri Cerita Kenangan, yang terakhir yaitu Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), Pondok Baca adalah kisah kehidupan Dini sejak pulang ke Indonesia pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1998.
Dalam Pondok Baca dikisahkan bagaimana Dini memulai hidup baru setelah kembali ke Semarang – tempat tinggalnya di masa kecil, kemudian asal mula gagasan membangun Pondok Baca, yaitu taman bacaan untuk anak-anak dan pra remaja di sekitar tempat tinggalnya, usahanya dalam membangun dan mempertahankan Pondok Baca serta tempat tinggal yang layak, termasuk ketika harus menghadapi musibah bencana alam, dan kegiatan-kegiatannya yang lain.
Apabila diteliti, seluruh tulisan Dini, baik seri Cerita Kenangan maupun novel-novelnya, semuanya bersifat otobiografis, artinya bersumber dari pengalaman nyata dan kisah sehari-hari penulisnya yang diceritakan dengan lancar dan jujur. Mungkin ini yang menjadi daya tarik buku-bukunya selama ini. Kejujuran seorang perempuan yang menceritakan pengalaman dan perjuangan hidupnya yang tidak selalu beruntung, namun selalu dijalani dengan rasa syukur dan usaha keras, dan dibagikan kepada banyak orang secara terbuka.
Mungkin banyak perempuan yang mengalami hal-hal yang dialami Dini, seperti mendapatkan suami yang salah, mengalami kesulitan keuangan dan banyak masalah lainnya, walau telah bekerja atau berusaha keras hampir seumur hidup untuk mencapai apa yang diimpikan, namun tetap hidup dengan baik sehingga dapat mengatasi semua kesulitan, memberikan manfaat bagi sekelilingnya dan akhirnya berbahagia.
Namun berapa orang yang bersedia membagikan pengalaman hidupnya yang kurang menyenangkan serta perasaannya kepada banyak orang secara jujur dan terbuka dalam bentuk novel atau cerita kenangan? Padahal mungkin kisah-kisah tersebut dapat membantu perempuan lain yang mengalami hal yang hampir sama bahwa dia tidak sendirian, bahwa kadang demikianlah hidup: tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi harus tetap dijalani dan diatasi dengan kesungguhan.
Membaca buku-buku Dini kita tidak akan menemukan banyak hal yang bersifat fiksi, karena tokoh-tokoh maupun ceritanya hanya sekitar kehidupan pengarang sendiri, namun mungkin justru akan mengingatkan kita kepada diri sendiri, orang tua, keluarga, atau orang-orang yang kita kenal... hidup tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi apapun yang terjadi, tetap harus dijalani dan diatasi dengan baik....

Sunday, September 11, 2011

NO MERCY



Judul: No Mercy – A Journey Into the Heart of the Congo
Pengarang: Redmond O’Hanlon
Penerbit: Vintage
Tahun: 1997
Tebal : 450 hal


Membaca kisah perjalanan ke belantara Afrika bagi saya merupakan sesuatu yang menarik, karena tidak mungkin dapat saya lakukan dan tidak banyak yang mampu melakukannya, mengingat kondisi negara-negara di benua tersebut yang minim infrastruktur dan cukup berbahaya, sebagaimana digambarkan penjelajah Inggris HM Stanley lebih seratus tahun yang lalu atau novelis Joseph Conrad.

Setelah menjelajah Amazon, Redmond O’Hanlon menjelajah Republik Congo untuk mencari danau Moleke Mbembe, yang konon masih dihuni makhluk sejenis dinosaurus. Untuk itu penulis ditemani oleh Marcellin, ahli biologi setempat, dan Lary, ahli biologi AS, serta beberapa saudara sepupu Marcelin.

Perjalanan ke danau Mokele Mbembe tidak mudah. Pertama, untuk mendapat izin ke pedalaman O’Hanlon harus menyuap pejabat kementrian, yang ternyata menipunya. Untunglah di saat-saat terakhir, ketika kapal akan berangkat, Marcellin membantunya untuk mendapatkan izin. Selanjutnya perjalanan dengan kapal rakyat membuat Lary sedih, karena harus melihat betapa kemiskinan membuat rakyat Congo tidak menghargai nyawa manusia, sehingga penumpang kapal atau pendayung kano yang jatuh ke sungai dibiarkan tenggelam. Kondisi kesehatan rakyat pedalaman, khususnya suku asli yaitu suku Pigmy juga membuat Lary meneteskan air mata, karena selain masih dianggap budak atau bukan manusia, mereka harus mengalami penyakit yang mengakibatkan kematian hanya oleh karena ketiadaan antibiotik, yang di AS harganya sangat murah. Satu-satunya yang menolong suku tersebut adalah misionaris AS, yang sempat bertemu dengan mereka di sebuah kota kecil. Mengapa sampai terjadi hal demikian, karena petugas yang ditugaskan ke daerah terpencil biasanya menjual obat tersebut ke apotik, atau menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadi.
Guru di daerah terpencil hanya mengajarkan marxisme, kadang tidak digaji, dan diancam oleh kepala desa, sehingga banyak anak di pedalaman tidak bersekolah.
Banyak hal menarik dari buku ini, karena selain menggambarkan keadaan alam dan fauna yang dilewati, penulis juga memasukkan pembicaraannya dengan Lary maupun dengan para pemandunya yang berasal dari Afrika, sehingga kita dapat mengetahui perasaan, sifat dan permasalahan yang dihadapi mereka, yang kadang mengingatkan pada kondisi di Indonesia. Misalnya kuatnya sifat korup, ketidakpedulian dan kurangnya tanggung jawab pelaksana negara, sifat keluarga besar yang rajin mendekati kerabat yang sukses, kurangnya kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak, hubungan bebas, dan masih kuatnya tahyul. Namun semua ketidakberesan tersebut tampak jelas bersumber dari kepemimpinan yang korup.

Republik Congo berpenduduk hanya dua juta lebih, dan pendapatan utamanya berasal dari minyak bumi dan mineral lainnya. Semula dijajah Prancis, kemudian saat penjelajahan O’Hanlon diperintah oleh partai beraliran marxis. Dengan hanya sedikit penduduk, tentu seharusnya kondisi negara tersebut jauh lebih baik apabila dikelola dengan benar.

Selama beberapa bulan O’Hanlon menelusuri sungai dan hutan rawa dengan kapal, kano dan berjalan kaki serta makan dengan menu setempat, antara lain monyet, gorilla, dan buaya. Ia juga mengikuti orang Pygmi berburu antelope, yang memotong binatang tersebut hidup-hidup setelah dijerat. Ia juga terancam dibunuh oleh suku-suku yang berseteru di pedalaman, dan mendapat ancaman apabila berani ke danau Moekele Mbembe yang dianggap keramat, sehingga ia meminta jimat kepada dukun setempat, meskipun ditertawakan oleh Marcelin.

Buku ini tidak sekedar kisah perjalanan biasa, karena selain ketegangan karena perjalanan yang menyengsarakan dan berbahaya, terdapat dialog-dialog yang dapat mewakili gambaran masyarakat negara maju dan berkembang. Misalnya dialog penulis dengan Marcelin sebagai bangsa Afrika tentang agama, kesetiaan, keluarga, atau rasa sedih O’Hanlon ketika mendengar harapan Marcellin yang sebagai ilmuwan meminta dicarikan pekerjaan sebagai dosen di Inggris. O’Hanlon lalu teringat akan melimpahnya fasilitas dan buku di negerinya, sedangkan Marcellin di kantornya hanya memiliki dua jurnal ilmiah. Bukankah ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di negara-negara berkembang lainnya, seperti Indonesia?

Dengan demikian, meskipun perjalalan ini hanya meliputi sebagian kecil dari benua Afrika, namun dapat mewakili kondisi bangsa Afrika pada khususnya dan masyarakat dunia ketiga pada umumnya.

Monday, July 25, 2011

Candik Ala 1965



Judul : Candik Ala 1965 – sebuah novel
Pengarang : Tinuk R. Yampolsky
Penerbit : Katakita
Tahun : Juni 2011
Tebal : 222 hal

Banyak sudah ditulis tentang peristiwa pemberontakan di tahun 1965, baik berupa sejarah, novel, cerita pendek, puisi hingga kisah nyata. Diantara kita sendiri mungkin ada yang pernah merasakan dampak peristiwa tersebut, misalnya mendengar ada sanak saudara atau kenalan orang tua yang sempat dikucilkan dari pergaulan, dipenjara atau hilang, mendapat bantuan tenaga kerja dari ”tapol”, atau dahulu ketika melamar kerja di lembaga negara harus menjalani screening dan menjawab pertanyaan mengenai sikap terhadap peristiwa tersebut.

Sebagaimana terlihat dari judulnya, maka Candik Ala adalah kisah tentang trauma sebuah keluarga Jawa di Solo terhadap peristiwa 1965, yang kemudian berlanjut menjadi trauma terhadap segala hal yang bersifat politis. Namun meskipun disebutkan sebagai novel, sebenarnya buku ini lebih mirip kenangan penulisnya akan peristiwa-peristiwa di masa kecil hingga dewasa, yang diawali pada pertengahan 1960-an. Nik, tokoh utama dalam novel ini, digambarkan masih kecil ketika peristiwa pemberontakan 1965 terjadi, namun turut merasakan ketegangan zaman itu karena salah seorang kakaknya menjadi aktivis gerakan kiri, sehingga untuk menyembunyikan diri sang kakak pulang ke rumah orang tua, meskipun akhirnya juga harus pergi lebih jauh lagi ke Sumatera. Tidak hanya itu, ia juga melihat para tetangganya menghilang karena ditangkap, dan ibunya yang kepala sekolah membawa salah seorang muridnya untuk tinggal di rumah karena kedua orangtuanya juga ditangkap.
Peristiwa yang dialami orang tua Nik dengan kakaknya membuat mereka melarang Nik mengikuti kegiatan menari Jawa yang diminta suatu partai untuk menarik massa, meskipun hal itu terjadi bertahun-tahun kemudian, yaitu ketika Nik telah remaja, dan komunis tidak ada lagi. Larangan ini diberikan ayahnya tanpa penjelasan cukup, dan hingga remaja Nik pun tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965. Nik sendiri pada zaman orde baru kemudian aktif di sebuah sanggar, dan sempat bertemu dengan penulis puisi yang kemudian menjadi aktivis buruh yang hilang (Wiji Tukul). Akhir cerita ditutup dengan surat dari sahabat Nik di Amerika, yang menceritakan tentang perkenalannya yang sekejap dengan korban gerakan komunis di Kambodia, dan kunjungan Nik ke rumah salah seorang mantan aktivis Gerwani untuk menelusuri nasib tetangga yang menjadi teman ibunya, yang keduanya hanya berisikan kepedihan.

Sebenarnya apa yang diungkapkan pengarang telah banyak dilakukan penulis lain. Umar Kayam misalnya, pernah menulis cerita yang hampir sama dalam cerpen Bawuk, yaitu kisah sebuah keluarga Jawa yang salah seorang anaknya terlibat gerakan komunis sehingga harus pergi dan bersembunyi jauh dari rumah. Namun demikian, novel ini masih menarik karena ditulis dengan gaya halus seorang perempuan Jawa, sehingga menjadi novel yang lembut namun dapat memunculkan suasana sebuah keluarga Jawa. Berisi kepingan kenangan-kenangan masa 1965, 1970-an dan 1980-an, dan diakhiri dengan kenangan akan masa 1965 kembali: betapa kehancuran bisa menimpa hidup seseorang hanya karena berada pada zaman yang salah.

TERROR AND LIBERALISM





Judul : Terror and Liberalism
Pengarang : Paul Berman
Penerbit : W.W. Norton & Company
Tahun : 2003
Tebal : 214 hal

Ledakan bom yang baru-baru ini terjadi di Norwegia cukup mengejutkan banyak pihak, karena terjadi di sebuah negara penuh kedamaian yang selama ini jauh dari peristiwa teror. Hal ini bahkan sempat membuat harian Kompas (24 Juli 2011) menulis,”Apa yang terjadi di ... menunjukkan, terorisme sama sekali tak terkait dengan ajaran manapun atau tradisi bangsa tertentu di dunia ini. Terorisme adalah ajaran untuk menjadi buta dan tersesat, membunuh siapapun, termasuk akal sehat dan hati nurani, demi mencapai satu tujuan: menebar rasa takut dan kerusakan di muka bumi.”

Benarkah tujuan terorisme hanya menebar rasa takut dan kerusakan? Seolah-olah terorisme hanya sebuah kejahatan tanpa tujuan, tanpa ada ideologi yang mendasarinya. Bukankah penebaran rasa takut tersebut untuk mencapai suatu tujuan? Terorisme merupakan alat untuk mencapai tujuan, karena tujuan yang diinginkan sulit dicapai, sedangkan pelaku ingin tujuannya segera terwujud.

Dalam Terror and Liberalism, Paul Berman mengemukakan bahwa terorisme tidak terjadi baru-baru ini saja, tapi telah menjadi bagian dari sejarah Eropa sejak sebelum perang dunia pertama. Ideologi yang mendasari terorisme adalah semua ideologi yang bersifat totaliter, yaitu fasisme, ekstrim kanan, komunisme, dan terakhir Islamisme. Merujuk pada fasisme dan komunisme tahun 1930 dan 1940-an, gerakan ini bersifat irasional, otoriter, bersifat membunuh dan memobilisasi massa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat tercapai. Dengan demikian, terorisme sebenarnya berakar di Eropa, bersumber dari filsafat Jerman dan penyair Romantik. Pemikir dan pelaku terorisme dari gerakan Islam radikal mendapatkan gagasannya dari pertemuannya dengan filsafat dan kehidupan Barat.

Semua ideologi totaliter memiliki ritus dan simbol yang sama, yaitu: crowd chanting en masse, arsitektur monumental, kepercayaan tak tergoyahkan akan suatu doktrin, seragam identik, impuls anti liberal yang terdalam yaitu pemberontakan melawan rasionalitas, pembenaran dengan dalih ’kuasa sejarah’, ’kuasa Tuhan’, atau ’kuasa ras’, dan berdasarkan pada mitos-ur.


Mitos ini menyatakan, terdapat suatu masyarakat yang tadinya baik, yang disebutnya ”people of God”, namun kemudian mendapat pengaruh buruk yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, yang merusak masyarakat tersebut. Oleh karena itu masyarakat perlu dibersihkan dari unsur-unsur perusak tersebut dengan membentuk suatu masyarakat baru. Namun sebelum hal itu tercapai, akan terjadi suatu armagedon, yaitu pemusnahan atau pembersihan dari unsur-unsur yang merusak atau pemurnian. Setelah itu akan muncul masyarakat ideal yang murni, yang bebas dari semua kelemahan atau kerusakan sebelumnya dan gagasan-gagasan lain yang akan mengubah tatanan masyarakat tersebut. Maka struktur masyarakat tersebut akan berupa negara satu partai, tanpa oposisi, dan satu pemimpin yang kekuasaannya sangat besar dan dipuja bagaikan dewa. Untuk dapat mencapai hal ini maka diperlukan kepatuhan massa tanpa batas dan penerimaan doktrin secara mutlak. Dengan demikian maka ideologi tersebut bersifat totaliter.

Bagi komunis, people of God adalah kaum proletar di Rusia, bagi fasisme di Italia dan Jerman adalah anak-anak Romawi dan ras Aria, dan bagi ekstrim kanan di Spanyol adalah prajurit Chris the King. Sedangkan yang menjadi perusak di Rusia adalah kaum borjuis dan kulak, di Italia dan Spanyol kaum Freemason dan kosmopolitan, dan di Jerman adalah bangsa Yahudi.
Tujuan dari gerakan komunis adalah Zaman Proletariat dengan masyarakat tanpa buruh yang tereksploitasi, bagi fasisme Italia kebesaran Roma dengan bangkitnya kembali kekaisaran Roma, bagi ekstrim kanan Spanyol bertahtanya Kris Raja dengan nilai-nilai Katolik, dan bagi fasisme Jerman kemurnian biologis ras Aria.
Gerakan totaliter lainnya adalah fasisme Irak dengan gerakan sosialis Baath yang merupakan cabang Pan Arab. Pan Arab sendiri didirikan oleh Satia l Husri berdasarkan studi filosofis yang bersumber pada Fichte dan Romantik Jerman, dan pada tahun 1930-1940 berhubungan dengan axis fasis. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk mengembalikan kejayaan bangsa Arab seperti pada zaman Nabi dan kekhalifahan yang pertama. Setelah berkuasa, Baath melakukan penggantungan orang Yahudi, pembasmian suku Kurdi, perang dengan Iran, dan pembuatan patung Saddam.

Sementara itu tujuan dari gerakan Islam radikal adalah pemurnian masyarakat Muslim di seluruh dunia sebagaimana pada zaman Nabi dan khalifah awal, dengan penerapan hukum sharia dan sistem kekhalifahan, dan dalam jangka panjang pemelukan agama Islam murni oleh seluruh umat manusia.

Untuk membuktikan bahwa gerakan Islam radikal memiliki sifat yang sama dengan gerakan totaliter lainnya, Berman menguraikan pemikiran Sayyid Qutb – pemikir Islam radikal paling berpengaruh – khususnya yang terdapat dalam buku In the Shade of the Quran. Buku ini sebenarnya tafsir Quran, namun ditulis sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembacanya untuk meIakukan kekerasan. Membandingkan tulisan Qutb dengan tulisan para pemimpin atau pemikir gerakan totaliter lainnya, penulis menemukan kesamaan diantara mereka: bahwa pemaksaan dengan kekerasan adalah perlu jika ingin mencapai tujuan, dan mengorbankan nyawa sendiri untuk perjuangan gerakan merupakan suatu kehormatan.

Bahwa ekstrim kiri dan kanan memiliki kesamaan yaitu menarik semua orang yang kehilangan harapan atau mengharapkan perubahan besar dengan segera, dijelaskan dalam uraiannya mengenai tingginya daya tarik komunisme di masa lalu di negara-negara yang kini menjadi tempat gerakan Islam radikal, seperti Irak, Mesir, Afghanistan, Yaman Selatan dan Indonesia. Berman tidak menyebut Iran, yang dahulu juga memiliki banyak pengikut gerakan kiri. Sebagaimana ditulis V.S. Naipul dalam Among the Believers, an Islamic Journey ketika menceritakan perjuangan pemuda beraliran komunis yang menjadi pemandunya selama di Teheran saat dilindas oleh revolusi Islam, ”Such emotion, such bravery; and avoidably in Iran, his cause was as simple as his enemy’s. Both sides depended on revealed truth and special readings of historical events; both required absolute faith. And both were fed by the same passion: justice, union, vengeance.”


Namun kita tahu, baik ekstrim kiri maupun kanan bersifat utopis dan lebih sering menimbulkan kesengsaraan dan pertumpahan darah, karena bertentangan dengan sifat dasar manusia (human nature). Hal ini karena gerakan totaliter menghendaki keseragaman berpikir dan berperilaku, memberikan kekuasaan absolut kepada satu atau sekelompok kecil orang, dan berfantasi bahwa pikiran dan perilaku manusia dapat diubah tanpa batas sesuai kehendak penguasa.

Pertanyaannya, mengapa dari masyarakat liberal bisa muncul gerakan totaliter? Masyarakat liberal tidak sepenuhnya sempurna, adanya kelemahan dalam peradaban liberalisme dapat menimbulkan ketidakpuasan pada sejumlah orang yang ingin melakukan perubahan atau perbaikan secara drastis dalam masyarakat dengan cara cepat dan mudah. Sebagaimana ditulis Berman, ”The totalitarian movements arise because of failures in liberal civilization, but they fluorish because of still other failures in liberal civilization, and if they go on fluorishing, it is because of still more failures – one liberal failures after another.”

Meskipun kekerasan sudah sering muncul, bahaya gerakan yang bersifat totaliter seringkali terlewat dari pengamatan, khususnya dari mereka yang sangat liberal, yang berpendapat bahwa setiap tindakan manusia dapat dijelaskan secara rasional. Menunjuk Noam Chomsky yang berpendapat bahwa tindakan terorisme dapat dijelaskan oleh dua hal, yaitu keserakahan akan kekayaan dan kekuasaan dari sejumlah perusahaan raksasa disatu pihak, dan pemberontakan masyarakat yang tidak dapat menerima keserakahan tersebut karena memiliki insting untuk kebebasan - tanpa menyadari bahwa terdapat tujuan yang hendak dicapai dengan tindakan tersebut yang didasari suatu ideologi tertentu - penulis menguraikan bagaimana perang dunia I dan II yang merupakan hasil dari ideologi yang bersifat totaliter kala itu juga tidak banyak disadari bahayanya oleh kaum liberal sebelum peristiwa tersebut terjadi.


Bahkan saat ini, ketika gerakan Islam radikal mengobarkan perang di Sudan, Afganistan, Algeria, Somalia dan Irak (ketika perang Iran-Irak) telah merenggut nyawa jutaan jiwa, dunia seperti belum menyadari bahayanya dan masih menganggap bahwa terorisme memiliki sejumlah alasan yang dapat diterima, atau bukan didasari suatu ideologi tertentu yang bersifat totaliter. Apabila kaum liberal tidak segera menyadari hal ini, bukan tidak mungkin bahaya yang lebih besar akan terjadi dan mereka terlambat menyadarinya seperti ketika perang dunia dahulu.

Inti dari apa yang diuraikan Paul Berman adalah, kita harus mengakui bahwa memerangi terorisme berarti memerangi ideologi yang mendasarinya dan kita harus mempertahankan liberalisme (semangat solidaritas dan pemerintahan sendiri) hingga titik terakhir jika tidak ingin jatuh dalam totalitarianisme. Jalan terakhir adalah seperti peperangan, namun sebelumnya adalah perbaikan kondisi masyarakat: penanaman rasionalisme, toleransi, penegakan hukum, pemahaman sains, perbaikan ekonomi.

Dalam konteks Indonesia, peringatan akan bahaya gerakan ekstrim kiri selama ini telah cukup dinyatakan terutama pada zaman orde baru, antara lain karena ada unsur ateisme, namun tidak untuk sebaliknya. Sebagai contoh, pengetahuan tentang kekejaman komunis di Indonesia dapat ditemukan dengan mudah dari pelajaran sekolah maupun buku-buku, namun hampir tidak ada informasi mengenai teror dan pembunuhan yang dilakukan kaum Padri ketika hendak memurnikan Islam di Sumatera Barat dengan faham Wahabinya.
Adakah yang berani menyatakan perang terhadap bahaya ekstrim kanan seperti yang dilakukan terhadap komunisme? Nyaris tidak ada, karena mengandung unsur agama. Padahal, meskipun tampak bertentangan, keduanya ibarat dua sisi dari mata uang yang sama: bertujuan meniadakan kebebasan manusia untuk suatu utopia dengan menguasai dunia melalui kekerasan.

Sunday, June 19, 2011

HOW GOD CHANGES YOUR BRAIN




Judul : How God Changes Your Brain
Pengarang : Andrew Newberg & Mark Robert Waldman
Penerbit : Ballantine Books
Tahun : 2010, cet. I th. 2009
Tebal : 333 hal

Penelitian mutakhir dalam ilmu syaraf (neuroscience) menunjukkan bahwa kesadaran berasal dari otak atau bahwa pikiran, akal dan akhirnya jiwa sebenarnya berasal dari benda material yaitu syaraf-syaraf yang terdapat di otak.
Bagaimana persisnya kesadaran muncul belum diketahui secara pasti, namun demikian diketahui bahwa kerusakan bagian tertentu di otak dan kekurangan atau kelebihan hormon atau zat tertentu dapat menimbulkan perubahan berarti dalam kepribadian, memori, kemampuan berbahasa, emosi atau bahkan perasaan religius yang dalam. Selain itu, setiap bagian otak memiliki fungsi dan peran tersendiri.

Sebagaimana bagian tubuh lainnya, otak manusia merupakan hasil dari evolusi selama jutaan tahun, sehingga disamping memiliki kemampuan berpikir rasional yang berasal dari bagian otak yang berkembang belakangan (frontal cortex, yaitu di lapisan paling atas, kepala bagian depan) juga masih memiliki sifat-sifat primitif makhluk hidup lain yang telah eksis sejak zaman reptil, yang terdapat pada amygdala atau limbic system. Bagian ini terdapat pada lapisan terbawah di otak, dan mengatur emosi seperti rasa takut, marah, agresivitas dan sejenisnya, yang digunakan untuk keperluan survival. Sedangkan lapisan di atasnya atau di tengah-tengah adalah thalamus, yang menjembatani sistem limbic (emosi) dengan frontal cortex (akal budi).

LAMPUKI



Judul : Lampuki
Pengarang : Arafat Nur
Penerbit : Serambi
Tahun : Mei 2011.
Tebal : 433 hal

Tidak banyak novel yang menceritakan kehidupan masyarakat Aceh. Salah satunya adalah Lampuki, yang menurut penulis diambil dari nama salah satu kampung di Aceh.

Lampuki ditulis dari sudut pandang aku, seorang teungku guru mengaji di kampung yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, antara lain ikut membangun kompleks perumahan pensiunan tentara di sebuah lembah pada tahun 1992. Namun kemudian kompleks tersebut ditinggalkan karena sering diganggu kaum pemberontak. Bertahun-tahun kemudian, sang teungku kembali ke kampung, menikah dan membangun rumah kayu serta balai pengajian untuk anak-anak di dekat kompleks tersebut serta bertemu dengan Ahmadi, pemberontak berkumis yang menjadi tokoh utama dalam novel ini.
Pertemuan pertama digambarkan ketika Ahmadi tiba-tiba muncul di balai pengajian dan menghasut murid-murid sang teungku untuk ikut ke gunung menjadi pemberontak. Ketika inilah Ahmadi bercerita tentang sejarah leluhur bangsa Aceh dan hal yang menyebabkan bangsa Aceh dikuasai bangsa lain dan dijarah kekayaannya, sehingga oleh karena itu mereka harus melawan dengan cara menyerang bangsa yang menjajahnya, yaitu para tentara yang sedang berada di Aceh, termasuk di sekitar Lampuki.

Kisah selanjutnya adalah penuturan sang teungku tentang pemberontakan Ahmadi selama bertahun-tahun membunuhi dan membodohi para tentara di sekitar wilayahnya, keberhasilannya mengajak salah seorang muridnya ikut menjadi pemberontak, dan kisah para tetangga serta tentara yang bertugas di kampungnya.

Ahmadi digambarkan tidak begitu dipedulikan ajakannya oleh masyarakat, namun diam-diam dilindungi dan dikagumi. Bertahun-tahun Ahmadi ini menyerang tentara tanpa dapat tertangkap, antara lain karena warga selalu melindunginya. Namun akhirnya sang pemberontak berkumis ini pun kalah oleh pasukan tentara yang memburunya. Kekalahannya selain karena ia sudah berumur, juga karena tentara mengubah taktik, yaitu turut menghukum masyarakat yang berada di wilayah kaum pemberontak, sehingga akhirnya masyarakat menjauhi mereka.

Seharusnya, kisah perlawanan rakyat Aceh selama Orde Baru yang ditulis dari sudut pandang rakyat Aceh dapat menjadi kisah yang menarik. Namun apabila semua itu diceritakan secara monolog dengan penjelasan berulang-ulang yang sama tentang alasan memberontak maka yang terjadi adalah cerita yang monoton dan cukup membosankan. Itulah yang terjadi dengan Lampuki, karena novel ini nyaris tidak memiliki dialog, kecuali kutipan satu dua kalimat yang diucapkan tokoh di luar aku, meskipun ada banyak tokoh di dalamnya, misalnya Sukijan dan Paijo, komandan pasukan di Lampuki; Karim, penjual ganja yang selalu membawa kabar dari hutan tentang pemberontak khususnya Ahmadi, Halimah istri Ahmadi, Jibral, pemuda rupawan yang menolak mengikuti Ahmadi menjadi pemberontak, dan lain-lain. Dengan demikian sepanjang lebih dari 400 halaman pembaca harus puas dengan uraian dan sudut pandang tokoh aku saja, walaupun sebenarnya ada banyak kesempatan untuk menampilkan pandangan dari tokoh-tokoh lainnya jika kisah yang diceritakan sang teungku ditulis dalam bentuk dialog.
Mungkin penulis berpikir bahwa pendapatnya sudah bisa mewakili jalan pikiran sebagian besar rakyat Aceh kebanyakan, yang menurutnya,”Penduduk kampungku hidup bagaikan kawanan orang terlantar, tapi mereka masih tetap saja tidak sadar, bersikap angkuh, dan berbangga diri. Dengan pakaian yang tak tentu warna dan coraknya lagi, koyak tak tentu tempat, mereka masih beranggapan bahwa bangsa dan negeri ini tetap mulia. Mereka terus terbuai angan-angan panjang, beranggapan tak lama lagi kesultanan Aceh yang gemilang bakal bangkit kembali, lalu memberangus semua serdadu pemerintah yang pernah menampar dan memukuli wajah dungu mereka. ...sementara mereka sendiri melalaikan sembahyang dan semakin terlena oleh bualan tukang lamun di kedai kopi..sehingga mereka terus berleha-leha sepanjang hari, tanpa menghiraukan pekerjaan.”
Ada unsur kejujuran disini, untuk mengakui kelemahan sifat masyarakat Aceh, disamping mengkritik pengerukan kekayaan alam Aceh secara semena-mena.
Sedangkan ketidakberdayaan terhadap ”penjajahan” oleh suku bangsa ’seberang’ dikompensasi penduduk kampung Lampuki dengan kepercayaan bahwa ”penjajah” adalah keturunan bangsa yang oleh Tuhan dikutuk menjadi kera. Dan entah mengapa, dimana ada kesempatan para pengarang Indonesia senang sekali menunjukkan kebencian terhadap Darwin dengan teori evolusinya, termasuk Arafat,”lmuwan yang kepalanya salah urat, yang berasal dari negeri tanpa Tuhan itu, telah terlebih dahulu membohongi dunia, mengatakan pendapat gilanya bahwa sejatinya manusia berasal dari kera seraya dia menunjukkan bukti-bukti tak masuk akal....Guru-guru biologi dengan dungu memaksakan keyakinan bodoh kepada sekalian murid-murid...” Suatu pendapat yang lumrah apabila berasal dari guru mengaji kampung yang kolot dan kurang berpendidikan, namun sangat disayangkan apabila merupakan pendapat pribadi pengarang atau mayoritas penduduk Aceh.
Hal yang sedikit menolong adalah adanya humor disana sini dan bahasa yang mengingatkan pada novel-novel Indonesia zaman dulu. Mungkin Lampuki memang tidak bermaksud serius dan hanya ingin mengejek kedua belah pihak semasa konflik Aceh dulu.

Novel ini mendapat penghargaan sebagai pemenang unggulan sayembara menulis novel DKJ 2010 serta banyak pujian dari para pengarang maupun jurnalis.

Wednesday, May 25, 2011

UTUSAN DAMAI DI KEMELUT PERANG



Judul : Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang Toba
Pengarang : Uli Kozok
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor, Jakarta
Tahun : 2010, Desember
Tebal : 210 hal

Agama yang dianut oleh suatu suku bangsa berkaitan erat dengan sejarah bangsa tersebut. Suku Batak misalnya, sebagian besar beragama Kristen Protestan, sedangkan suku Minang dan Aceh beragama Islam. Bagaimana bisa demikian, padahal ketiganya berdekatan?
Buku ini tidak saja menguraikan sejarah penyebaran agama Kristen di Sumatera Utara oleh Misi Protestan Jerman pada tahun 1860 – 1897, namun juga ideologi yang mendasari misi tersebut dan hubungan antara zending dengan pemerintah kolonial, yang saling mendukung satu sama lain.
Jerman tidak memiliki jajahan di wilayah Nusantara, namun mengirim misionaris ke wilayah tersebut. Mengapa?
Setelah Perang Padri berakhir pada 1837, Belanda memperluas wilayahnya ke Barus, Tapus dan Singkil, namun belum sampai ke Tanah Batak. Meskipun demikian, Belanda ingin mengetahui kondisi di wilayah tersebut, sehingga dikirimlah F.W. Junghuhn untuk melakuka penelitian pada tahun 1840. Junghuhn – seorang pemikir bebas yang anti Kristen – menyarankan agar dilakukan penginjilan seperlunya di Tanah Batak, antara lain untuk mencegah mereka menjadi Islam, dengan harapan apabila mereka memiliki agama yang sama tidak akan melawan pemerintah kolonial. Selanjutnya lembaga alkitab Belanda (NBG) mengirim Van der Tuuk – seorang ateis - untuk menerjemahkan alkitab dalam bahasa Toba pada tahun 1851, dilanjutkan dengan penginjilan oleh H.W. Witteveen pada tahun 1859.
Penginjilan oleh misionaris Jerman yaitu Rheinische Missiongesellschaft (RMG) dimulai sesudah sembilan misionarisnya terbunuh dalam Perang Banjar. Direktur RMG yang berkunjung ke Amsterdam untuk menjajaki pemindahan misionarisnya dari Kalimantan tertarik untuk bekerja sama setelah melihat terjemahan injil Van der Tuuk di kantor NBG. Demikianlah, maka pada bulan Oktober 1861 dikirim tiga misionaris dari RMG ke Bunga Bondar, Sipirok dan Pangaloan, menyusul tiga misionaris Belanda yang telah ada sebelumnya. Setelah ini Nommensen, misionaris paling berhasil yang dianggap pendiri HKBP, turut bergabung.

Penulis buku ini berusaha mengungkapkan, bahwa tujuan dan aktivitas zending ini tidak sungguh-sungguh mulia atau sejalan dengan perjuangan bangsa. Untuk itu diuraikan ideologi yang mendasari RMG (dan Eropa pada umumnya) pada waktu itu terhadap bangsa kulit berwarna, yaitu rasisme dan nasionalisme, yang menganggap semua bangsa non kulit putih primitif, malas, kafir dan lebih rendah sehingga harus dikuasai dan dididik oleh bangsa kulit putih yang lebih unggul dalam segalanya melalui penginjilan dan kolonialisme. Yang menarik, laporan dari peneliti Belanda menyebutkan bahwa bangsa Batak lebih mirip bangsa Eropa dibandingkan bangsa Melayu lainnya. Meskipun demikian, karena mereka menganggap semua yang dimiliki pribumi primitif, maka kebudayaan asli berusaha dilenyapkan, sehingga tarian atau alat musik tradisional Batak pun dilarang. Sebagaimana kita ketahui, hal ini terjadi di seluruh dunia terhadap semua suku bangsa yang mendapat penginjilan.

Perjuangan Singamangaraja untuk mempertahankan kemerdekaan Tanah Batak juga tidak sejalan dengan aktivitas zending yang ternyata mendukung penaklukan Belanda atas wilayah Toba pada tahun 1878.
Untuk mendukung pernyataan di atas, penulis meneliti surat-surat asli para misionaris yang berasal dari laporan rutin mereka kepada RMG, termasuk surat Nommensen pada saat terjadi Perang Toba. Pihak zending pada umumnya merasa lebih aman apabila melakukan misi di daerah yang telah dikuasai atau ditaklukkan oleh pemerintah kolonial, sehingga mereka sering menyarankan pemerintah untuk segera menguasai daerah-daerah tersebut. Dalam perang Toba bahkan mereka berperan sebagai penghubung kedua belah pihak, antara lain mendekati pihak pribumi agar tunduk kepada Belanda apabila ingin selamat dan tidak mencegah Belanda untuk melakukan pembakaran atas kampung-kampung yang melawan penaklukan.
Uraian penulis mungkin kurang menyenangkan untuk diterima bagi mereka yang selama ini menganggap zending dan para misionaris hanya memiliki kebaikan semata, sehingga penulis sejarah lainnya tidak menyinggung keterlibatan zending sebagai partner pemerintah kolonial. Oleh karena itu buku ini juga merupakan kritik terhadap buku mengenai perjuangan Singamangaraja, misalnya, yang tidak menyebut peran zending dalam membantu penaklukan wilayah Toba. Meskipun demikian penulis juga mengakui bahwa berkat zending, yang banyak mendirikan sekolah di Tanah Batak dan juga pemerintah kolonial yang membangun infrastruktur, maka suku Batak mendapatkan pendidikan dan kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dari rekan sebangsanya di Jawa.

Membaca buku ini akan menambah pengetahuan kita tentang sebagian sejarah Sumatera Utara yang cukup menarik, yang diuraikan dengan ringkas dan jelas, antara lain disertai dengan terjemahan beberapa surat para misionaris saat perang Toba.
Penulis buku ini, Profesor Uli Kozok adalah ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawaii.



Wednesday, March 16, 2011

AYAH ANAK BEDA WARNA



Judul : Ayah Anak Beda Warna - Anak Toraja Kota Menggugat
Pengarang : Tino Saroengalo
Penerbit : Tembi Rumah Budaya, Yogya
Tahun : 2010, cet. II
Tebal : 319 hal

Haruskah tradisi terus dipertahankan jika hal itu tidak sesuai lagi dengan zaman, atau membebani generasi penerus tradisi tersebut? Tradisi atau adat apakah yang perlu untuk dipertahankan? Apakah gotong royong benar-benar ada, ataukah itu hanya tindakan yang bersifat timbal balik (reciprocal) murni yang penuh perhitungan?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kisah pribadi Saroengalo yang “dipaksa” meneruskan adat Toraja.
Menjadi keturunan bangsawan terkemuka Toraja ternyata menyandang beban harus mengikuti keluarga besar, yang menetapkan aturan yang harus diikuti dalam memakamkan orang yang mereka hormati, yaitu upacara pemakaman yang layak sesuai adat.
Hal ini dimulai dengani serangkaian rapat persiapan pemakaman yang memakan biaya cukup besar, pembuatan lantang atau rumah sementara untuk persiapan upacara, penyembelihan 32 kerbau, beberapa babi, dan pembuatan tau-tau atau patung kayu orang yang dimakamkan. Menurut kepercayaan Aluk Todolo, kerbau diperlukan oleh orang yang meninggal untuk kendaraan ke alam berikutnya.
Pembuatan lantang dilakukan oleh masyarakat tanpa bayaran, namun mereka harus mendapatkan makanan, rokok, minuman tuak, dan kelak sepotong daging kerbau. Keluarga juga ada yang menyumbang kerbau, namun ini tidak berarti hadiah, karena dihitung sebagai hutang. Artinya harus dibayar dengan kerbau berkualitas sama jika terdapat keluarga penyumbang yang meninggal dunia. Demikian seterusnya sehingga seseorang dapat terus menerus berhutang kerbau atau babi. Oleh karena itu setiap sumbangan dicatat dengan rapi, karena semua ini harus dibalas dengan sepadan, sehingga meskipun tampak seperti kegiatan yang dilakukan secara gotong royong, sebenarnya pelaksanaan upacara ini berdasarkan kalkulasi timbal balik yang cermat.
Adat ini demikian kuat, sehingga konon banyak masyarakat Toraja yang harus menjual sawah, tanah atau harta lain yang dimiliki untuk melaksanakan adat tersebut, karena jika tidak, akan dikucilkan oleh keluarga besar. Demikian pula penulis buku ini, ia terpaksa harus menjual sebgian tanah milik ayahnya, karena dana yang ia miliki bersama keempat saudaranya tidak cukup untuk membiayai upacara yang sangat mahal, yang mencapai lebih dari satu miliar rupiah.
Saroengalo memang menulis buku ini untuk menyampaikan kritik dan kemarahannya terhadap adat dan keluarga besarnya, namun demikian, banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh tentang adat istiadat Toraja, misalnya peran keluarga besar, pembagian kasta yang menentukan jenis upacara pemakaman seseorang, jenis-jenis kerbau untuk upacara, perbedaan dengan adat di Bali, dan rincian upacara itu sendiri.
Secara rasional, memang adat pemakaman Toraja tidak sesuai lagi dengan zaman, karena mengandung kekejaman terhadap binatang serta menghabiskan banyak waktu dan biaya, yang dapat digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Apalagi adat tersebut sebenarnya berkaitan dengan kepercayaan lama yaitu Aluk Todolo, sedangkan masyarakat Toraja telah menjadi pemeluk Kristen, sehingga tidak seperti di Bali, keterkaitan antara adat dengan kepercayaan tidak ada lagi.
Pertanyaan berikut, jika adat ini hilang, haruskah disesali? Haruskah segalanya diputuskan berdasarkan perhitungan rasional? Hal ini tentunya harus diputuskan oleh masyarakat Toraja sendiri, yang memiliki adat tersebut, dengan memperhitungkan manfaat dan kerugiannya
.

Sunday, February 27, 2011

GOD THE FAILED HYPOTHESIS



Judul : God: The Failed Hypothesis – How Science Shows that God Does Not Exist
Pengarang : Victor J. Stenger
Penerbit : Promotheus Books
Tahun : 2008, cet. kedua
Tebal : 300 hal

Banyak yang berpendapat bahwa sains dan agama merupakan area yang berbeda, dan memiliki kebenaran sendiri-sendiri. Antara lain bahwa agama adalah mengenai moralitas dan hal-hal supernatural, sedangkan sains mengenai hal yang bersifat natural. Sains tidak dapat membuktikan kebenaran hal-hal yang bersifat supernatural, seperti ada tidaknya Tuhan. Namun sejumlah ilmuwan, antara lain Stenger berpendapat, bahwa ada tidaknya Tuhan dapat dibuktikan, khususnya Tuhan menurut agama Yahudi, Kristen dan Islam, karena Tuhan ketiga agama tersebut digambarkan aktif menciptakan alam semesta, manusia, memelihara ciptaannya, berfirman melalui nabi dan kitab suci, dan mengabulkan doa-doa. Oleh karena itu tentu bukti-buktinya dapat dilihat secara obyektif.

Penulis membagi pembahasannya dalam 10 bab. Bab pertama menjelaskan tentang metode ilmiah dan metode yang digunakannya dalam membuktikan ketiadaan Tuhan. Pertama harus dibuat model ilmiah tentang Tuhan, yang memiliki sejumlah atribut. Disini digunakan atribut Tuhan sebagaimana dipahami pemeluk tiga agama monoteis, sehingga dapat disusun hipotesis bahwa Tuhan adalah:
1. Pencipta dan pemelihara alam semesta
2. Penyusun struktur dan pembuat hukum alam semesta
3. Terlibat dalam urusan dunia bila perlu, misalnya mengabulkan doa manusia
4. Pencipta dan pemelihara manusia, yang memiliki kedudukan istimewa dibandingkan makhluk lainnya
5. Pemberi jiwa yang abadi kepada manusia
6. Sumber moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kebebasan, keadilan, demokrasi
7. Menunjukkan kebenaran melalui kitab suci dan nabi-nabi, dan
8. Tuhan yang tidak menyembunyikan diri bagi mereka yang membuka diri terhadapnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka ketiadaan bukti-bukti obyektif atribut di atas dapat menjadi bukti ketidakberadaannya.

Bab dua membahas kebenaran atribut pertama. Merujuk pada teori evolusi, maka hipotesis bahwa alam semesta merupakan hasil rancangan tidak dapat dibuktikan.
Mengenai kekekalan jiwa manusia dan kemanjuran doa manusia dibahas dalam bab tiga. Berdasarkan ilmu syaraf (otak) dan penelitian mengenai keampuhan doa yang dilakukan beberapa universitas selama hampir sepuluh tahun, tidak terdapat bukti bahwa jiwa terpisah dari otak dan doa memiliki pengaruh terhadap kesembuhan pasien yang didoakan.

Dua bab selanjutnya berkaitan dengan kosmologi dan fisika membahas mengenai apakah alam semesta memiliki asal mula (yang berarti diciptakan) atau tidak (abadi). Disini penulis merujuk pada penemuan terakhir kosmologi antara lain inflationary universe dan keahliannya dalam fisika partikel, yaitu bahwa alam semesta tidak memerlukan pencipta karena tidak ada asal mulanya (infnitively old).
Selanjutnya mengenai keistimewaan manusia di alam semesta, penulis menguraikan tentang kaidah antropik (anthropic principle) yang sering digunakan untuk membuktikan bahwa alam semesta diciptakan sedemikian agar manusia dapat eksis, yang menyebutkan, bila salah satu dari parameter-parameter fisika diubah sedikit saja, kehidupan yang memungkinkan munculnya manusia tidak akan ada. Namun penulis mengingatkan, hal tersebut karena parameter yang diubah hanya satu, sedangkan lainnya tetap.
Merujuk pada penelitian fisikawan Anthony Aguire, maka jika enam parameter diubah, bintang-bintang, planet dan kehidupan cerdas kemungkinan muncul. Sebaliknya, penulis menguraikan kondisi alam semesta yang tidak ramah, dan dengan demikian tidak sesuai dengan gambaran akan pentingnya manusia di alam sebagaimana tertulis dalam kitab suci, sebagaimana ditulis Stenger,”If God created a universe with at least one major purposes being the development of human life, then it is reasonable to expect that the universe should be congenial to human life. Now, you might say that God may have had other purposes besides humanity. …One certainly can imagine a god for whom humanity is not very high on the agenda and who put off in a minuscule, obscure corner of the universe. However, this is not the God of Judaism, Christianity, and Islam, who places great value on the human being and supposedly created us in his image.” (hal 154)
Fakta menunjukkan bahwa luas alam semesta tidak terbayangkan oleh manusia; jarak antar bintang sangat jauh, kekosongan merupakan sesuatu yang dominan, keberadaannya telah demikian lama, dan triliunan bintang-bintang memancarkan energi yang sedemikian besar, yang kesemuanya menampakkan kesia-siaan, waste.
”On the distance scale of human experience, the solar system is immense. Earth is one hundred and fifty million kilometers from the sun. Pluto is some six billion kilometers away. The Oort cloud of comets, which marks the edge of the solar system, extends to thirty trillion kilometers from the sun. Although the space between the planets contains smaller asteroids, comets, and dust, the solar system consists mainly of empty space that seems to serve no purpose…. On this distance place, the planets are tiny points.”
Selanjutnya mengenai luas alam semesta, Stenger menulis,” The next closest star (after the sun), Proxima Centauri, is 40 trillion kilometers. This is part of the triple-star system called Alpha Centauri. The Alpha Centauri system is 4.22 light-years away (one light-year is 9.45 trillion kilometers). …Our sun and its planetary systems are…of a galaxy containing an estimated 200 – 400 billion other stars. Called the Milky Way…is but one of perhaps a 100 billion galaxies in the visible universe. The next galaxy nearest to us, Andromeda is 2.44 million light-years away….. How big is the universe? The farthest observed galaxy at this writing, Abell... this galaxy is now about 40 billion light years away. The farthest distance we can ever hope to see, our horizon, is 13,7 billion years away.”
Selain luas yang tak terkira, umur alam semesta juga demikian lama, “Instead of six days, He took nine billion years to make earth, another biilion years or so to make life, and then another four billion years to make humanity.”
Dibandingkan semua itu, maka manusia menjadi tampak tidak berarti,”Humans have walked for less than one hundredth of one percent of earth history. ….0,0002 the mass of the universe is carbon (the main element of life). Yet we are supposed that God specially designed the universe so it would have the ability to manufacture carbon in its stars, the carbon needed for life?” (hal 157).
Demikian luas dan kerasnya alam semesta sehingga mustahil pula bagi manusia untuk menjelajahinya,”Suppose we were able to build a spaceship that could accelerate at a constant g, that is, at the acceleration of gravity on earth…..In eleven years’ ship-time it coud reach the center of our galaxy. But during that time, almost 27.000 years would have passed on earth. … Even if they traveled to the center of the Milky Way and back, aging forty-four years in the process, they would return to an Earth 104,000 years in the future as measured on Earth clocks…..space travelers would have to travel tens of thousands of light years, at the minimum, before finding a planet they coud live without a massive life support. …Our species is probably marooned in space, on spaceship Earth, and likely to go extinct before the sun burns its last hydrogen atom.”
Kesimpulannya,”It seems inconceivable that a creator exist who has a special love for humanity, and then just relegated it to a tiny point in space and time. … the universe looks very much like it was produced with no attention whatsoever paid to humanity.”

Gambaran ini memang sangat berbeda dengan kitab suci. Dalam Qur’an misalnya, tertulis,”Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. (6:97).... Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya (15:16). Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya (16:12). Dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (16:16).
Mengenai kebenaran nabi-nabi dan isi kitab suci serta sumber moralitas, yang semuanya dinyatakan berasal langsung dari Tuhan, dibahas dalam dua bab selanjutnya dengan mencocokkannya dengan tulisan sejarah yang dibuat pada masa itu serta bukti-bukti fisik yang dapat ditemukan dari penggalian arkeologi, yang kesemuanya ternyata tidak ada.

Selain membahas dari sisi sains dan sejarah, penulis juga membahas mengenai problem of evil. Dalam bab tersendiri juga diuraikan bukti atau fakta-fakta apa yang harus diperoleh untuk membuktikan bahwa kesimpulannya salah, atau bahwa Tuhan itu eksis.
Secara keseluruhan, buku ini adalah yang terlengkap dalam mencoba membuktikan ada tidaknya Tuhan, karena dibahas dari sisi biologi, kosmologi, fisika, sejarah dan filsafat dalam bab-bab ringkas dan dengan bahasa yang cukup mudah, tidak seperti buku Stenger lainnya yang cenderung teknis. Namun karena cukup ringkas, akan lebih mudah dimengerti bagi pembaca yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang teori-teori yang dibahas. Meskipun demikian bagi pembaca yang belum mengenal sedikitpun teori evolusi atau kosmologi akan menimbulkan keinginan untuk mempelajari lebih dalam hal-hal yang disebutkan penulis.

Friday, February 12, 2010

SELIMUT DEBU



Judul : Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: GPU
Tahun : 2010, Januari
Tebal : 468 hal
* * * *

Apa yang membuat seseorang bepergian ke tempat-tempat baru atau membahayakan?
Atau mencintai negeri lain yang alamnya lebih keras atau peradabannya jauh berbeda?
Membaca kisah Agustinus Wibowo menjelajahi Afghanistan dengan berpakaian tradisional Afghan dan menyusuri kota-kota Afghanistan yang sedang dilanda perang selama tiga tahun akan mengingatkan kita pada para penjelajah Barat yang mengunjungi wilayah-wilayah berbahaya yang belum banyak diketahui atau terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah dan intoleran, seperti Richard Burton yang menjelajah Arab dan Afrika Utara dengan berpakaian dan berbahasa Arab, atau Thesiger yang menjelajahi Empty Quarter dan merasakan kerasnya hidup suku Badui atau suku Kurdi di Irak.

Agustinus tidak hanya menceritakan kerasnya alam Afghanistan beserta kemiskinan, keterbelakangan dan kefanatikan penduduknya, namun juga sejarah setiap tempat yang dikunjunginya, sehingga menambah pengetahuan pembaca. Kita mendapat banyak pengetahuan mengenai kehidupan di negara yang selama ini hanya kita ketahui sebagai pusat pelatihan teroris, Taliban, perempuan berburqa, dan latar belakang novel The Kite Runner.

Kisah perjalanan Agustinus beserta interaksinya dengan masyarakat Afghanistan yang ditemuinya memberi informasi bagaimana sistem patriarki yang sangat kuat di Afghanistan ditambah dengan kemiskinan dan kebodohan yang merata membuat agama sangat mudah dijadikan pembenaran untuk segala hal, dari penindasan terhadap perempuan sampai penolakan terhadap hal-hal baik yang dapat memajukan kehidupan masyarakat. Hal tersebut ditambah dengan sifat sukuisme yang saling merendahkan satu sama lain dan prinsip kehormatan yang masih kuat dengan unsur balas dendam dan perempuan sebagai barang penentu kehormatan. Di sisi lain, dikurungnya perempuan di rumah membuat hubungan sesama jenis (laki-laki) menjadi lumrah meskipun meraka taat beragama.

Hal yang menggelikan sekaligus menyedihkan adalah ketika Agustinus menceritakan perjalanannya menumpang bus ke Iran dengan berpakaian Afghanistan. Di luar dugaannya, Iran sangat maju dibandingkan Afghanistan, sehingga untuk pertama kali ia merasa sangat malu berpakaian tradisional Afghanistan – yang menurutnya bagai pakaian Aladin, namun menjadikannya percaya diri ketika di Afghanistan karena ia meyukai Afghanistan - apalagi ketika rakyat Iran mengira ia sungguh-sungguh orang Afghanistan dan memperlakukannya dengan buruk, yang menurut Agustinus, seperti perlakuan salah satu negara di Asia Tenggara terhadap negara tetangganya.

Agak menyedihkan juga perbandingan ini, karena membaca kondisi Afghan dari penuturan Agustinus, Indonesia jauh lebih baik dalam segala hal. Di Afghanistan tidak ada listrik, air bersih, makanan yang pantas, rumah dan jalan yang bagus, hujan dan tanaman hijau, kecuali di satu sudut kota Kabul yang baru dibangun oleh Barat. Yang ada hanya debu, rumah lempung coklat tanpa perabot, keledai atau truk tua, dan debu… (mungkin hampir seperti India, yang selalu seperti berkabut dan berdebu?) Tapi nasib Indonesia seperti Afghanistan dibandingkan negeri tetangganya…
Banyak lagi hal-hal menarik yang ditulis, seperti bantuan Barat yang tampak kurang menyentuh rakyat Afghan, sejarah salah satu suku yang berbeda tampilan fisiknya dari suku lainnya, atau adanya sesama penganut Islam yang merasa tertekan dengan fanatisme mayoritas.

Wednesday, January 20, 2010

THEY POURED FIRE ON US FROM THE SKY



Judul : They Poured Fire on Us From the Sky
Pengarang: Benyamin Ajak, Benson Deng, Alephonsian Deng, Judy Bernstein
Penerbit: Public Affairs, NY
Tahun : 2006
Tebal : 336 hal
* * * * *

Perang saudara di negara-negara Afrika tidak pernah banyak menarik perhatian dunia. Mungkin karena terlalu sering terjadi, sehingga Afrika selalu identik dengan perang, atau karena negara-negara tersebut dianggap tidak penting.

Perang di Sudan - salah satu negara besar di Afrika – terutama disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga perebutan sumberdaya alam yang langka menjadi sumber konflik. Daerah bagian utara yang kurang subur dan sebagian besar berupa padang pasir tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan penduduk dan ternak yang pesat, sehingga penduduk berbangsa Arab yang mendominasi pemerintahan dan wilayah utara mendesak penduduk asli di bagian selatan yang wilayahnya lebih subur. Kebangkitan gerakan pemurnian agama dari wilayah sekitarnya menjadi penyulut konflik etnis dan agama antara penduduk asli Afrika dengan penduduk bangsa Arab, yang kemudian menjadikan Sudan negara Islam. Perang di Sudan membuat ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi, dan belum berakhir sampai kini.

Buku ini tidak menceritakan tentang sejarah peperangan di Sudan, hanya mengisahkan perjalanan tiga orang anak laki-laki berumur antara tujuh hingga sembilan tahun melarikan diri dari medan perang, melewati desa-desa yang hancur, padang pasir dan hutan ke negara tetangga: Kenya dan Ethiopia saat perang saudara pada tahun 1980-an.

A Long Way Gone, kisah seorang anak Afrika yang terperangkap perang di Nigeria dan dipaksa menjadi tentara anak-anak, telah menggambarkan kekejaman perang dengan mengesankan. Namun They Poured Fire.. lebih menyentuh, karena dialami oleh anak-anak yang jauh lebih kecil, sehingga penulisannya juga masih bernada anak-anak yang sederhana dan apa adanya. Mungkin karena buku tersebut ditulis tak lama setelah mereka tiba dari kamp pengungsian di Afrika, meskipun saat itu mereka telah berusia sekitar dua puluh tahun dan berada di Amerika.

Kita dapat membaca bagaimana desa mereka diserang pada suatu malam sehingga orang tua mereka menyuruh mereka melarikan diri ke hutan. Namun mereka tak dapat kembali lagi ke desa dan mengetahui nasib orang tua mereka dan harus mulai berjalan ke desa lain. Namun setiap desa yang mereka datangi juga tidak lama kemudian diserang, sehingga mereka harus terus dan terus berjalan. Tanpa makanan, tempat berteduh atau pakaian, mereka harus melewati hutan yang masih banyak dihuni binatang buas, padang pasir yang berserakan tulang-belulang pengungsi lain yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, sungai, kota yang penuh ranjau, hingga akhirnya tiba di tempat pengungsian yang tidak mengenal belas kasihan. Penjaga mereka hanyalah tentara pemberontak yang juga masih muda dan juga tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit senjata.

Menakjubkan membaca bagaimana seorang anak berumur tujuh tahun dapat memiliki semangat hidup begitu besar meskipun telah kehilangan segalanya dan dapat memaksa diri sendiri untuk ”tidak menangis, tidak menurutkan rasa sedih, pikirkan hanya cara bertahan hidup: tumbuhan apa yang dapat dimakan, alat apa yang dapat dipakai memasak, bagaimana supaya bisa terus kuat berjalan apapun yang terjadi...”

Membaca kisah Deng dkk akan membuat kita kagum akan keberanian dan semangat hidup mereka, sekaligus sedih. Bagaimana mungkin anak-anak tersebut memiliki keberanian dan kekuatan demikian besar?
Buku ini menegaskan kebenaran arti survival of the fittest: hanya yang kuat dan mampu beradaptasi yang dapat bertahan, dan nasib baik juga penting. Namun kekejaman perang yang luar biasa dan tiada akhir yang digambarkan dalam buku ini kembali memunculkan pertanyaan lama: mengapa demikian banyak kejahatan dan kesedihan di bumi; mengapa anak-anak harus menderita, dan tak ada pertolongan dari manapun?

Friday, October 02, 2009

SOCIETY WITHOUT GOD



Judul : Society Without God – What The Least Religious Nations Can Say About Contentment
Pengarang: Phil Zuckerman
Penerbit: NYU Press
Tahun : 2008
Tebal : 227 hal

Banyak yang berpendapat bahwa tanpa landasan agama, suatu masyarakat akan menjadi tidak bermoral, bahkan negara akan mengalami kemerosotan, sehingga hal ini sering menjadi alasan favorit bagi banyak pihak untuk memaksakan penerapan agama yang lebih keras. Benarkah demikian?

Buku ini mencoba untuk membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Berdasarkan data-data statistik dan penelitian dengan metode in-depth interview terhadap sekitar 150 responden dari dua negara Skandinavia yaitu Denmark dan Swedia yang dilaksanakan penulis selama 14 bulan menetap di Denmark, sosiolog Zuckerman memperoleh kesimpulan bahwa negara-negara dengan tingkat kesejahteraan dan keamanan terbaik di dunia adalah negara-negara yang kadar keagamaan masyarakatnya paling rendah. Sebaliknya, dari data statistik tampak bahwa negara-negara yang paling religius adalah negara-negara yang paling tidak sejahtera dan tidak aman.

Membandingkan Swedia dan Denmark yang relatif kecil dengan negara besar seperti Amerika Serikat atau Indonesia mungkin kurang sesuai, namun Zuckerman juga memberikan data bahwa negara berpenduduk besar yang kurang religius seperti Jepang Korea atau Inggris juga relatif lebih baik kondisinya.

Tampaknya, hal yang mendorong penulis melakukan penelitiannya adalah keprihatinannya terhadap kondisi negerinya yaitu Amerika Serikat, yang masyarakatnya semakin religius hingga sering menjadi irasional. Dari sisi ini, maka keprihatinan Zuckerman relevan dengan kondisi yang terjadi di banyak negara, yang cenderung semakin religius, misalnya Indonesia. Namun, AS adalah satu-satunya negara maju demokratis yang religius.

Mencoba menemukan penyebab yang menjadikan AS berbeda dengan negara-negara Eropa, penulis mengemukakan bahwa faktor kurangnya keamanan karena tidak terjaminnya ketersediaan pekerjaan dan perumahan, pelayanan kesehatan yang terjangkau, pendidikan, dan lebarnya perbedaan antara kaum kaya dan miskin serta adanya berbagai jenis etnis dan agama dalam satu masyarakat membuat agama menjadi tempat berpaling untuk menghadapi ketiadaan kemananan tersebut dan “pemasaran” yang agresif dari masing-masing agama untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa rakyat Skandinavia tidak pernah sungguh-sungguh religius, karena sejarah agama Kristen disana berasal dari tekanan raja kepada rakyatnya, namun hal ini tidak dapat diketahui dengan pasti karena tidak ada data.

Zuckerman membandingkan hal ini dengan dua negara Skandinavia yang ditelitinya, dimana negara kesejahteraan (welfare state) telah terwujud sehingga rakyat merasa aman karena kesejahteraannya terjamin, baik pekerjaan, perumahan maupun kesehatan, pendidikan rata-rata warganya cukup tinggi, suku bangsa sama, dan agama yang homogen, yaitu Kristen serta disubsidi oleh negara dengan pajak dari rakyat sehingga gereja tidak perlu melakukan berbagai “strategi pemasaran” untuk menarik pengikut guna memperoleh dana operasional. Sebagai akibatnya, rakyat kehilangan minat tidak saja terhadap gereja bahkan terhadap agama dan Tuhan itu sendiri. Namun sebagian besar warga Denmark dan Swedia menganggap diri mereka Kristen, meskipun mereka tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, Yesus sang penyelamat maupun surga dan neraka. Bagi mereka, agama Kristen adalah suatu tradisi yang harus dipelihara, untuk acara pernikahan, pembaptisan bayi, pemakaman, serta nilai-nilai seperti menghargai orang lain dan perbuatan baik lainnya. Namun mereka tidak mempercayai sama sekali keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam Injil. Mereka telah sangat rasional dan lebih mempercayai sains. Penyakit, kematian, kemalangan dianggap sesuatu yang alami, yang dapat dialami setiap makhluk hidup dan karenanya perlu dihadapi dengan baik tanpa perlu meminta pertolongan kepada atau menyalahkan Tuhan. Ketidak religiusan bangsa Skandinavia demikian ekstrim, hingga seseorang yang mengaku sebagai penganut Kristen dan percaya kepada keberadaan Tuhan, Yesus, surga dan neraka akan dianggap menyedihkan dan patut dikasihani. Seperti seseorang yang mengaku ateis di AS atau Indonesia.

Penulis juga mencatat keberatan bahwa rakyat di negara sekuler cenderung lebih kesepian dan mudah bunuh diri, namun ia menemukan bahwa di negara yang ditelitinya tingkat kejadiannya tidak melebihi kejadian di negara-negara yang lebih religius.

Penelitian Zuckerman sungguh menarik, karena membuktikan bahwa ada masyarakat yang tidak terobsesi oleh agama bahkan tidak pernah memikirkan/ tidak mengenal agama atau Tuhan dan dapat berfungsi lebih baik dari masyarakat yang religius.
Jadi, benarkah teori bahwa agama diperlukan oleh masyarakat yang berada di lingkungan yang tidak aman atau karena rasa takut dan khawatir serta kurang ilmu pengetahuan?

Bila kesimpulan Zuckerman benar, maka sulit mengharapkan negara-negara lain dapat berkurang religiusitasnya, karena tidak mudah mewujudkan negara sejatera yang masyarakatnya sadar sains dan mencegah “pemasaran” agresif kaum religius garis keras yang justru mendapatkan kesempatan besar di negara demokrasi, kecuali ada kemauan politik dari pemerintah negara tersebut.



GOD AGAINST THE GODS



Judul : God Against the Gods - The History of the War between Monotheism and Polytheism
Pengarang : Jonathan Kirschtof
Penerbit : Viking Compass
Tahun : 2004
Tebal : 336 hal

Darimanakah asalnya intoleransi dan perang agama? Monoteisme.
Melalui penelitian terhadap sejarah Mesir, penulis mengemukakan bahwa monoteisme bukanlah dimulai dari munculnya agama yahudi-kristen-islam. Firaun Anekhaton adalah orang pertama yang menganut monoteis, dengan menyingkirkan dewa-dewa lain dan hanya menyembah satu dewa yaitu Aton, dewa matahari. Bahkan ia memindahkan istananya ke tempat baru dan mengajak rakyatnya menyembah satu dewa saja. Namun Anekhaton tidak berhasil. Setelah kematiannya, istananya ditinggalkan dan rakyatnya kembali menyembah banyak dewa.


Hal yang menarik, meskipun polytheisme selalu diasosiasikan dengan kekejaman, pengurbanan manusia, dan kurangnya moralitas, namun prinsip dasarnya adalah toleransi. Merujuk pada kekaisaran Romawi sebelum berkuasanya Constantine, penulis menunjukkan, prinsip dasar dari kekaisaran tersebut adalah setiap orang bebas untuk menjadi pemuja dewa manapun atau tidak sama sekali. Semua kepercayaan dianggap benar, oleh karena itu semua dewa dihargai dan dipuja – dibuatkan patungnya dan diberi persembahan. Menghormati dewa-dewa juga dianggap merupakan kewajiban sosial sebagai warga negara. Masyarakat Romawi juga memiliki standar moral tertentu yang tidak jauh berbeda dengan moralitas yang kita anggap wajar, dan ritual yang berlebihan dan bersifat menyimpang juga dikendalikan pelaksanaannya oleh kaisar.

Keadaan di atas berubah setelah muncul agama Kristen yang bersifat monoteis. Penganut Kristen yang pertama menganggap politeisme salah dan sama sekali tidak menghormati kepercayaan tersebut, sehingga bagi Romawi mereka dianggap tidak memiliki kepatutan sebagai warga negara yang baik dan karenanya merupakan ancaman bagi negara.

Sifat monoteis yang merasa paling benar dan menganggap lainnya salah berkaitan dengan sifat totaliarisme, yang hanya mengakui satu Tuhan, satu raja, disertai dengan kehendak untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain, jika perlu dengan menunjukkan diri sebagai martir, dan selanjutnya dengan kekerasan. Semua ini sesuatu yang baru dan asing bagi politeis dan masyarakat Romawi.
Keadaan di atas semakin memburuk ketika Constantine dan keturunannya menjadikan Kristen sebagai agama negara dan berusaha melenyapkan politeisme dengan menutup dan menghancurkan patung dan kuil-kuil serta melarang pengajaran sastra Yunani seperti karya-karya Homer yang menurut mereka bersifat politeis.

Mengenal sastra Yunani bagi masyarakat Romawi merupakan ukuran keberadaban seseorang dan salah satu sumber pelajaran untuk pembentukan karakter. Bagaimana mungkin penguasa Kristen melarang peradaban tinggi mereka sendiri? Masyarakat Romawi tidak percaya kitab suci saja dapat menghasilkan masyarakat yang baik sebagaimana telah berhasil dilakukan karya sastra dan filsafat mereka.
Konflik antara kedua hal di atas mencapai puncaknya dengan pembunuhan terhadap Hypathia – filsuf pagan terakhir – dan pembakaran perpustakaan Alexandria. Setelah itu mulailah pemaksaan dengan kekerasan untuk menganut satu agama tertentu dan lenyapnya pemikiran Yunani serta toleransi yang menjadi dasar budaya Romawi, yang kemudian dikenal dengan abad kegelapan.
Barat baru kembali bangkit setelah mempelajari kembali pemikiran Yunani dari buku-buku yang dipelihara oleh peradaban Islam setelah perang salib.

Membaca sejarah ini mengingatkan saya pada keadaan di Jawa. Mengapa Islam di Indonesia, khususnya Jawa, sangat berbeda dengan Islam di negara-negara lain, yaitu sangat toleran? Mungkin karena ia tidak disebarkan hanya dengan kekerasan. Sebelum Islam masuk, masyarakat yang beragama Hindu – seperti halnya masyarakat Romawi dengan mitologinya – telah memiliki mitologi sendiri (yang tercermin dalam budaya wayang) yang berfungsi sebagai pembentuk karakter dan moralitas, dan tidak seperti di Romawi, mitologi ini tidak dilarang atau dilenyapkan ketika muncul agama baru. Dengan demikian sifat monoteis yang keras dan tanpa kompromi masih didampingi oleh budaya lama, dalam hal ini sastra dan filsafat yang bersifat politeis, sehingga yang muncul adalah penganut agama yang toleran dan berbudaya.
Bandingkanlah hal ini dengan daerah lain di Indonesia yang tidak memiliki dasar budaya ini, tampak bahwa sifat beragamanya cenderung lebih keras atau fanatik.

Mungkinkah ini dapat menjelaskan mengapa kini fanatisme tampak lebih mudah bangkit? Apakah semakin jauhnya generasi masa kini dari budaya Jawa yang dididik dengan kearifan dari mitologi lama (misalnya wayang) tanpa ada pengganti – misalnya sastra Yunani – membuat mereka kehilangan kearifan, kebijaksanaan dan toleransi sehingga mudah menjadi fanatik?




Saturday, May 09, 2009

POSREALITAS



Judul : Posrealitas – Realitas Kebudayaan Dalam Era Posmetafisika
Pengarang : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Jalasutra
Tahun : 2009, Maret, cet. kedua
Tebal : 483 hal

Buku ini terdiri dari 17 bab yang dibagi dalam 4 bagian:
1. Pososial, terdiri dari :
- Pososial: Menuju Kematian Sosial,
- Posekonomi:Berpacu dalam Konsumerisme
- Posmedia: Simbiosis Realitas dan Fantasi,-
- Posestetik: Antara Realitas dan Seni.

2. Poshorosisme - Poskriminalitas: Ketika Kejahatan Begitu Sempurna,
- Posrealitas Perang: Simbiosis Realitas dan Fantasi Perang
- Posteror: Theatrum Simulacrum-
- Poshororisme: Ketika Horor Menjadi Hiburan.

3. Posdemokrasi
- Posdemokrasi:Bersatunya Demokrasi dan Anarki
- Posotonomi: Egopolitik dan Mikrofasisme
- Posrealitas Hukum: Fatamorgana Hukum dan Ilusi Kebenaran

4. Posmoralitas.
- Pospiritualitas: Simbiosis Hasrat dan Kesucian
- Posmoralitas: Simbiosis Kebenaran dan Kepalsuan
- Poseksualitas
- Pospornografi: Melampaui Batas-batas Hasrat
- Poshumanitas: Homo Sapiens Electronicus
- Posfeminitas: Teknopolitik dan Masa Depan Relasi.

Sebagai kajian kebudayaan, penulis berusaha melakukan tinjauan kritis terhadap berbagai aspek budaya kini, terutama berdasarkan filsafat posmodern, sehingga banyak mengutip Jean Baudriliard, Michel Foucault, J. Lacan, P. Virilio dan lainnya.
Pembahasan pada bagian pertama, yaitu pososial cukup menarik, dimana penulis melakukan analisa terhadap beralihnya ruang sosial dari ruang fisik ke ruang maya, yang mengakibatkan keterbukaan dan kebebasan namun menurunkan kontrol, sehingga dapat mengarah pada anarki; konsumerisme dan kapitalisme yang menimbulkan halusinasi ruang, yaitu tercabutnya kebudayaan dari ruangnya; terlalu banyaknya informasi sampah, sementara masyarakat tidak memiliki daya kritis, sehingga menjadi massa yang diam; dan meluasnya ekspresi seni dalam cyberspace.
Bagian kedua membahas bagaimana kejahatan menjadi sempurna jika dilakukan oleh negara, dan realitas dibentuk oleh simulasi yang dibuat oleh pemerintah/negara tertenu beserta media yang dikuasai, untuk membentuk opini publik sesuai yang dikehendaki penguasa, melalui simulasi, sehingga kejahatan tersebut tersembunyi dari masyarakat, apalagi jika masyarakatnya kurang kritis.
Bagian ketiga menganalisa bagaimana demokrasi dan otonomi menimbulkan anarki dan fasisme di daerah-daerah, sehingga bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri.
Posrealitas cukup menarik untuk dibaca pada awalnya, karena dapat membuat pembaca lebih menyadari dan memahami fenomena budaya yang ada di sekitarnya dengan lebih kritis. Namun struktur buku ini yang membahas setiap topik dengan cara yang sama sebanyak 17 bab, membuat pembaca seperti mengulang hal-hal yang mirip sepanjang sekitar 400 halaman, apalagi hampir pada setiap bab terdapat kutipan dari Baudriliard.
Selain itu meskipun di setiap akhir bab penulis menguraikan sedikit saran mengenai cara mengatasi permasalahan yang diungkapkan di depan, namun tidak mendalam, mungkin karena tekanannya adalah pada kritik atau analisis budayanya. Disamping itu, sudut pandang yang hanya berdasarkan pemikiran postmodern, kurang memberikan tempat untuk sudut pandang lainnya, seperti rasionalisme atau humanisme.
Setelah menguraikan panjang lebar tentang berbagai hal, bagaimanakah kesimpulan dan saran penulis? Tanpa analisis mendalam, penulis hanya menyarankan untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan atau agama, tanpa uraian mengapa dan bagaimana caranya.
Suatu kesimpulan dan saran yang terasa klise dan cukup mengecewakan setelah membaca analisis dan tinjauan penulis sepanjang lebih dari 400 halaman.

Wednesday, April 08, 2009

Books and Me

I always love books since I was very young. When I was nine, we lived in a small town in Kalimantan close to the beach. It was a great time. The world was not as busy as now. After school, I spent my time looking for small fish and shell, trying the the fisherman’s boat, and enjoying the beach view from the bedroom window in the evening. In the small road beside the house, Dayak’s women with long big earrings and traditional hats used to walk to the market... There was only one channel tv in the night, but we found life was wonderful around the beach, wide grass yard, pinus trees, and in the way to the market were oil pipes, tanker ships, beautiful houses and trees in the hill … The town was quiet, only be broken by some cars or children carnavals in the main street several times a year.


There are many questions I always ask to myself. What is the meaning of this life ? School never gives me the answer. I turn to books.

When I was a child, I used to see butterflies, grasshoppers around the house and caught them to see their response. I made them a house from pieces of small branches, put them in the water, and released them, wondering .. would they tell their friends about the experience ? How did they feel about it ?

Then, in the quietness of nature, the endless life cycle, I found emptiness. What is life; is that only to repeat life endlessly, without clear purpose ? Why is everybody happy and never ask this question ?

Some people said that 90% of our life are boring things. We do almost the same things every day; working in the same building, passing the same street, seeing the same person, even in the week end shopping only in certain plaza or shopping center. Let’s count how many times in a month we spend time in new places that we never visit before, and what a really new experience we have. Our life is full of routine and routine. That’s why we often shocked to realize that one more year has passed, ‘though it seems yesterday that we celebrate a new year..

Book is the only escape from routinity. We get new experience and new thought from good book. It renews our life. Because reading is like having a journey. It opens your mind, your places, your time, without leaving your home.

Several years ago, I had a good friend. He was so friendly and helpful. He asked me, ”how many friends do you have ?” I count my friends, but he said, ”I don’t have friends. I don’t trust other person,” then he told his experience of having been betrayed by many whom he thought was his friends. I didn’t believe that would happen to everyone. My friends are different, they can be trusted.

Two years ago, I found that he was right. Of course, I do not lose all my close friends, but I really could not predict whom I would lose. My closest friend. And I never really know what made her went away.. Was it jealousy ? Am I so lucky that could make my best friend so jealous ? Because we are almost the same, I think.
It is not easy to find the right friends. Friends who really understand you, person you could spend time for hours even with no news or topic to talk about.. But I have lost one. That reminds me to my other friend. He is right. We will never know what other person’s heart, how close our relationship is. And other person could hurt us so deeply.

Books always make me happy. When I remember my life, much of its time was cheered up by books. I always turn to books when I was in sadness or depression. It seems like having many wise friends, but they will not hurt you or leave you in sadness. You can always reach them every time you need …

Monday, January 26, 2009

PARALLEL WORLDS



Judul : Parallel Worlds - A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos
Pengarang : Michio Kaku
Penerbit : Anchor Books
Tahun : 2006, Agustus
Tebal : 401 hal.

Kisah mengenai asal mula alam semesta atau penciptaan merupakan pertanyaan dasar manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan menjadi tema sentral ribuan mitologi dan agama.

Kosmologi (dan fisika) menjadi menarik, karena berusaha menjawab pertanyaan mendasar tersebut. Jawaban pertanyaan tersebut bagi banyak orang juga dianggap dapat menentukan arti hidup ini.

Menurut penulis, adanya satelit baru yaitu WAMP (Wilkinson microwave anisotropy probe) dan peralatan ilmiah lainnya semakin meyakinkan para ilmuwan akan adanya dunia paralel (parallel universe). WAMP berhasil merekam kondisi alam semesta pada waktu berumur 380 ribu tahun (usia alam semesta kini 13,7 miliar tahun) setelah ledakan besar (big bang) atau penciptaan. Gambar yang dihasilkan WAMP sesuai dengan teori selama ini karena menampilkan fluktuasi kuantum atau irregularity yang muncul tidak lama setelah big bang yang tampak berupa titik-titik yang menyebar. Titik-titik ini merupakan asal mula dari galaksi dan kluster galaktika yang ada saat ini.
Satelit WAMP juga mengungkapkan bahwa material yang tampak hanya menyusun 4% dari alam semesta (sebagian besar berupa hidrogen dan helium), sisanya terdiri dari material yang tidak tampak dan tidak kita ketahui, namun 73% berupa dark matter.
Selain itu, WAMP juga mengkonfirmasi teori inflationary, yaitu bahwa alam semesta terus menerus melahirkan alam semesta baru. Ada banyak big bang yang lahir dari alam semesta yang abadi, sehingga ada banyak dunia parallel (multiverse), yang terpisah dan tidak dapat bertemu. Dengan demikian, alam semesta kita mungkin lahir dari alam semesta lain yang lebih lama atau bahkan abadi.
Hal di atas kemudian membuat para fisikawan semakin menekuni teori string dan teori M, yang diharapkan dapat mengungkap sifat/nature multiverse.
Temuan penting lain dari WAMP adalah bahwa dark matter mendorong percepatan mengembangnya alam semesta, sehingga diperkirakan dalam 150 miliar tahun yad, dari sekitar 100 miliar galaksi hanya beberapa yang dapat terlihat, dan jika ini terus berlanjut alam semesta akan mati dalam kebekuan besar. Jika manusia masih eksis dan ingin tetap mempertahankan keberadaannya, maka jalan satu-satunya adalah pindah ke alam semesta lain, yaitu melalui wormhole.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar: The Universe, The Multiverse, dan Escape into Hyperspace, yang menjelaskan rincian hal-hal di atas. Agar lebih jelas, penulis juga menguraikan sedikit mengenai sejarah kosmologi.

Bagi pembaca awam, uraian Michio Kaku relatif lebih mudah diikuti daripada buku sejenis lainnya (misalnya buku Brian Greene yang uraiannya lumayan rinci), namun dapat memberikan gambaran yang lebih luas.

Di akhir buku dibahas, apa yang dapat diberikan pengetahuan kosmologi yang kita miliki saat ini mengenai arti hidup ini? Hal ini dijelaskan dalam uraian tentang anthropic principle dan Copernican principle, dikaitkan dengan kuantum dan multiverse. Menurut penulis, masing-masing memiliki kebenaran, dan kita belum tahu persis hal yang sebenarnya. Kosmologi atau fisika tak dapat memberi petunjuk. Maka manusia harus memberi arti sendiri bagi hidupnya, yaitu dengan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan memberi manfaat bagi orang lain atau masyarakat.