Sunday, June 19, 2011

LAMPUKI



Judul : Lampuki
Pengarang : Arafat Nur
Penerbit : Serambi
Tahun : Mei 2011.
Tebal : 433 hal

Tidak banyak novel yang menceritakan kehidupan masyarakat Aceh. Salah satunya adalah Lampuki, yang menurut penulis diambil dari nama salah satu kampung di Aceh.

Lampuki ditulis dari sudut pandang aku, seorang teungku guru mengaji di kampung yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, antara lain ikut membangun kompleks perumahan pensiunan tentara di sebuah lembah pada tahun 1992. Namun kemudian kompleks tersebut ditinggalkan karena sering diganggu kaum pemberontak. Bertahun-tahun kemudian, sang teungku kembali ke kampung, menikah dan membangun rumah kayu serta balai pengajian untuk anak-anak di dekat kompleks tersebut serta bertemu dengan Ahmadi, pemberontak berkumis yang menjadi tokoh utama dalam novel ini.
Pertemuan pertama digambarkan ketika Ahmadi tiba-tiba muncul di balai pengajian dan menghasut murid-murid sang teungku untuk ikut ke gunung menjadi pemberontak. Ketika inilah Ahmadi bercerita tentang sejarah leluhur bangsa Aceh dan hal yang menyebabkan bangsa Aceh dikuasai bangsa lain dan dijarah kekayaannya, sehingga oleh karena itu mereka harus melawan dengan cara menyerang bangsa yang menjajahnya, yaitu para tentara yang sedang berada di Aceh, termasuk di sekitar Lampuki.

Kisah selanjutnya adalah penuturan sang teungku tentang pemberontakan Ahmadi selama bertahun-tahun membunuhi dan membodohi para tentara di sekitar wilayahnya, keberhasilannya mengajak salah seorang muridnya ikut menjadi pemberontak, dan kisah para tetangga serta tentara yang bertugas di kampungnya.

Ahmadi digambarkan tidak begitu dipedulikan ajakannya oleh masyarakat, namun diam-diam dilindungi dan dikagumi. Bertahun-tahun Ahmadi ini menyerang tentara tanpa dapat tertangkap, antara lain karena warga selalu melindunginya. Namun akhirnya sang pemberontak berkumis ini pun kalah oleh pasukan tentara yang memburunya. Kekalahannya selain karena ia sudah berumur, juga karena tentara mengubah taktik, yaitu turut menghukum masyarakat yang berada di wilayah kaum pemberontak, sehingga akhirnya masyarakat menjauhi mereka.

Seharusnya, kisah perlawanan rakyat Aceh selama Orde Baru yang ditulis dari sudut pandang rakyat Aceh dapat menjadi kisah yang menarik. Namun apabila semua itu diceritakan secara monolog dengan penjelasan berulang-ulang yang sama tentang alasan memberontak maka yang terjadi adalah cerita yang monoton dan cukup membosankan. Itulah yang terjadi dengan Lampuki, karena novel ini nyaris tidak memiliki dialog, kecuali kutipan satu dua kalimat yang diucapkan tokoh di luar aku, meskipun ada banyak tokoh di dalamnya, misalnya Sukijan dan Paijo, komandan pasukan di Lampuki; Karim, penjual ganja yang selalu membawa kabar dari hutan tentang pemberontak khususnya Ahmadi, Halimah istri Ahmadi, Jibral, pemuda rupawan yang menolak mengikuti Ahmadi menjadi pemberontak, dan lain-lain. Dengan demikian sepanjang lebih dari 400 halaman pembaca harus puas dengan uraian dan sudut pandang tokoh aku saja, walaupun sebenarnya ada banyak kesempatan untuk menampilkan pandangan dari tokoh-tokoh lainnya jika kisah yang diceritakan sang teungku ditulis dalam bentuk dialog.
Mungkin penulis berpikir bahwa pendapatnya sudah bisa mewakili jalan pikiran sebagian besar rakyat Aceh kebanyakan, yang menurutnya,”Penduduk kampungku hidup bagaikan kawanan orang terlantar, tapi mereka masih tetap saja tidak sadar, bersikap angkuh, dan berbangga diri. Dengan pakaian yang tak tentu warna dan coraknya lagi, koyak tak tentu tempat, mereka masih beranggapan bahwa bangsa dan negeri ini tetap mulia. Mereka terus terbuai angan-angan panjang, beranggapan tak lama lagi kesultanan Aceh yang gemilang bakal bangkit kembali, lalu memberangus semua serdadu pemerintah yang pernah menampar dan memukuli wajah dungu mereka. ...sementara mereka sendiri melalaikan sembahyang dan semakin terlena oleh bualan tukang lamun di kedai kopi..sehingga mereka terus berleha-leha sepanjang hari, tanpa menghiraukan pekerjaan.”
Ada unsur kejujuran disini, untuk mengakui kelemahan sifat masyarakat Aceh, disamping mengkritik pengerukan kekayaan alam Aceh secara semena-mena.
Sedangkan ketidakberdayaan terhadap ”penjajahan” oleh suku bangsa ’seberang’ dikompensasi penduduk kampung Lampuki dengan kepercayaan bahwa ”penjajah” adalah keturunan bangsa yang oleh Tuhan dikutuk menjadi kera. Dan entah mengapa, dimana ada kesempatan para pengarang Indonesia senang sekali menunjukkan kebencian terhadap Darwin dengan teori evolusinya, termasuk Arafat,”lmuwan yang kepalanya salah urat, yang berasal dari negeri tanpa Tuhan itu, telah terlebih dahulu membohongi dunia, mengatakan pendapat gilanya bahwa sejatinya manusia berasal dari kera seraya dia menunjukkan bukti-bukti tak masuk akal....Guru-guru biologi dengan dungu memaksakan keyakinan bodoh kepada sekalian murid-murid...” Suatu pendapat yang lumrah apabila berasal dari guru mengaji kampung yang kolot dan kurang berpendidikan, namun sangat disayangkan apabila merupakan pendapat pribadi pengarang atau mayoritas penduduk Aceh.
Hal yang sedikit menolong adalah adanya humor disana sini dan bahasa yang mengingatkan pada novel-novel Indonesia zaman dulu. Mungkin Lampuki memang tidak bermaksud serius dan hanya ingin mengejek kedua belah pihak semasa konflik Aceh dulu.

Novel ini mendapat penghargaan sebagai pemenang unggulan sayembara menulis novel DKJ 2010 serta banyak pujian dari para pengarang maupun jurnalis.

1 comment:

Lampuki said...

Terimakasih atas komentarnya. Salam hangat.