Friday, December 30, 2011

The Shallows

   Judul   The Shallows – Internet Mendangkalkan
      Cara Berpikir Kita?
    Pengarang:   Nicholas Carr
    Penerjemah: Rudi Atmoko
    Penerbit:      Mizan
    Tahun  :       2011, Juli
    Tebal   :       278 hal


Sebagaimana kini kehidupan modern tidak dapat berjalan dengan baik dan normal tanpa komputer, demikian pula semakin lama manusia modern semakin tergantung pada internet. Terutama setelah muncul mesin pencari google, banyak yang merasa tidak perlu lagi membaca buku untuk mendapatkan pengetahuan atau mengingat fakta apapun, karena semua informasi telah terdapat di internet.
Benarkah sikap tersebut? Apakah dengan memindahkan memori ke perangkat eksternal (internet) kita tetap dapat berpikir secara mendalam dan berurutan? Apakah hal tersebut tidak akan mengubah cara kita berpikir, menulis, bertindak, dan akhirnya kebudayaan? Dapatkah mesin menggantikan memori dan kebijaksanaan manusia untuk memutuskan hal-hal penting?

Merujuk pada hasil penelitian neurosains, bahwa syaraf otak bersifat lentur dan dapat berubah atau menyesuaikan diri, bergantung pada apa yang dialami atau dipelajari, maka penulis berpendapat bahwa penggunaan internet dan ketergantungan kepadanya akan mengubah kemampuan syaraf otak, dan dapat mengarah pada berkurangnya kemampuan berpikir mendalam dan melakukan perenungan..

Selama ratusan tahun, manusia menggunakan buku untuk memperoleh pengetahuan. Buku bersifat linier, terfokus dan mendalam, sehingga pembaca memiliki kesempatan untuk merenung dan mengendapkan pengetahuan yang didapatnya. Hal ini selanjutnya mempengaruhi pengetahuan yang diperoleh, pemikiran dan tulisan yang dihasilkan, yang tercermin dalam budaya. Sebaliknya, pengetahuan atau informasi yang didapat dari internet berupa potongan-potongan, dan link-link yang ada dalam suatu artikel atau buku memecah fokus pembaca sehingga tulisan tersebut tidak dapat diserap dengan baik bahkan sulit diselesaikan. Hal ini karena selain link, terdapat sms, email, rss dan lain sebagainya yang setiap saat muncul untuk memecah perhatian seseorang saat membaca.  Semua ini menyebabkan mereka akhirnya hanya bersedia membaca sedikit-sedikit karena terus berpindah-pindah situs, sehingga informasi yang diperoleh bersifat permukaan.

Selanjutnya kebiasaan ini akan membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk membaca buku secara mendalam dan melakukan perenungan, sehingga tulisan yang dihasilkan pun pendek-pendek dan tidak mendalam atau dangkal. Dan karena syaraf otak bersifat lentur atau plastis, maka hal itu dalam jangka panjang akan mempengaruhi cara bekerja otak. Ada banyak hal yang akan hilang, yang selama ini dimiliki oleh otak karena cara kita belajar yang terfokus dan mendalam dengan buku-buku. Menurut Carr, mesin akan menumpulkan persepsi halus, pemikiran dan emosi.

Semua hal di atas dijelaskan penulis dengan menceritakan penemuan plastisitas otak dari neurosains, kisah tokoh-tokoh yang hasil tulisannya dipengaruhi oleh alat yang digunakan, pendapat pro kontra yang muncul ketika pertama kali jam, kompas, tulisan dan mesin cetak ditemukan, dan bagaimana hal itu kemudian mengubah kebudayaan dan sejarah, namun memperlebar jarak manusia dengan alam dan mengurangi beberapa kemampuan alaminya.  Ia berpendapat bahwa internet saat in dengan cita-cita akhirnya untuk sampai kepada kecerdasan buatan mungkin sama dengan saat terjadinya penemuan hal-hal di atas pada masa lalu: saat ketika manusia di persimpangan jalan yang akan menentukan arah sejarah di masa depan. 
Namun Carr berpendapat bahwa cara bekerja otak sangat berbeda dengan komputer sehingga ia tidak percaya manusia dapat menciptakan kecerdasan buatan. Mungkin demikian untuk saat ini, namun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan yang jauh.

Buku ini seperti sebuah peringatan agar pembaca tidak mengikuti begitu saja arus teknologi yang ada di sekitarnya – agar tidak diperbudak mesin, dan dapat memilih mana yang bermanfaat dan perlu, karena kita tidak dapat menghindarkan diri sama sekali dari perkembangan teknologi – serta hal-hal baik apa dari masa lalu yang perlu kita pertahankan,  misalnya membaca buku yang dicetak.

Bukankah sudah menjadi pemandangan sehari-hari kita melihat orang-orang di sekeliling kita tidak pernah melepaskan tangannya sedetikpun dari telepon genggam dan setiap beberapa detik pandangan matanya terarah ke telepon genggamnya di manapun dan dalam kesempatan apapun, bahkan ketika sedang membahas hal penting dengan orang lain?  Memang tampaknya sekali kita menggunakan suatu teknologi, kita tak dapat lagi hidup tanpanya.   

Tuesday, December 20, 2011

Adonis


Judul   :        Adonis - Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab Islam
Pengarang:  Zacky Chairul Umam
Penerbit:      Kepik, Depok
Tahun  :       2011, Agustus
Tebal   :       180 hal



Selama ini citra tentang bangsa Arab tidak dapat dilepaskan dari citra masyarakat yang seluruh kehidupannya diatur oleh agama dengan ketaatan tidak jauh berbeda seperti pada zaman awal kedatangannya, sangat jarang terdengar bahwa dalam bangsa Arab terdapat mereka yang memiliki pikiran atau faham berbeda yang bersifat liberal atau sekuler.  Benarkah?

Adonis, penyair Suriah yang bernama asli Ali Ahmad Said Asbar, adalah sedikit dari intelektual Arab yang memiliki pandangan sekuler. Sebagai penyair, melalui puisi ia melakukan kritik terhadap sastra dan seluruh budaya Arab yang menurutnya terlalu terikat pada agama sehingga membekukan dan melumpuhkan daya kreativitas dan pemikiran masyarakat Arab.

Berbeda dengan Edward Said, yang dalam bukunya Orientalism menilai bangsa Barat tidak adil, rasis dan imperialistis karena selalu menilai bangsa Arab khususnya sebagai bangsa yang statis, irasional, anti modernitas, kejam dan hal itu antara lain karena kolonialisme, Adonis justru melakukan kritik agar bangsa Arab mau berubah, dengan mengakui semua kelemahan tersebut sebagai kesalahan dan tanggung jawab sendiri, karena penyebabnya adalah konservatisme agama dan penindasan keragaman berpendapat selama berabad-abad oleh penguasa yang selama ini selalu beraliran konservatif.

Uraian Chaerul Umam dalam buku ini merupakan pengantar untuk memahami pokok pikiran Adonis, yang memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran liberal  di Arab, sehingga dapat membantu kita memahami gerakan yang terjadi disana akhir-akhir ini.

Adonis berpendapat bahwa bangsa Arab mengalami kemunduran karena agama menguasai seluruh kehidupan dan waktu  Kehidupan sosial, politik, budaya dan pengetahuan yang harus selalu meneguhkan kebenaran Quran dan hadits, membuat bangsa Arab tidak kreatif dan hanya melakukan peniruan, yaitu selalu merefer ke masa lalu, sehingga setiap tindakan di masa kini selalu meniru tindakan Nabi di masa lalu, dan masa kini serta masa depan selalu dianggap lebih buruk dari masa lalu (zaman nabi). Kitab suci juga dianggap telah berisi semua pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan harus selalu sesuai dengan yang tertulis dan yang tidak sesuai harus ditolak. Dengan demikian pencarian pengetahuan tidak terbuka kepada penemuan-penemuan baru, karena segala hal sudah diketahui dan tertulis di kitab suci. Masa lalu melingkupi masa kini dan masa depan.
Sebagaimana ditulis oleh Umam,”wahyu diletakkan oleh bangsa Arab-muslim sebagai dasar bagi pergerakan waktu dan sejarah. Wahyu…sebagai gambaran zaman secara keseluruhan: kemarin, sekarang, dan esok. …Masa depan tidak bisa menjadi titik perubahan, melainkan sesuatu yang telah tertata secara absolute menurut wahyu,” sehingga “manusia tidak menyingkapkan apapun, tetapi mempelajari penyingkapan ketuhanan.” (hal 41).

Hal ini mengakibatkan bangsa Arab statis, tertutup, ditambah perasaan superioritas suku tertentu yang bersifat rasis terhadap suku lain di Arab, membuat pemerintahan negara-negara di kawasan tersebut bersifat despotik.
Untuk mengubah kondisi tersebut, penyair dapat berperan besar, dengan melakukan perubahan atau pembebasan puisi, yang akan mempengaruhi bahasa dan cara berpikir.   

Selama ratusan tahun puisi dan sastra hanya ditujukan untuk menegaskan kebenaran agama, dan aliran-aliran lain yang berbeda ditindas oleh penguasa. Padahal, cara pandang sastra dengan agama berbeda, misalnya tentang waktu. Agama telah meramalkan dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, sementara dalam sastra masa depan adalah “semesta kemungkinan”, sesuatu yang baru.
Oleh karena itu untuk membebaskan bangsa Arab dari penindasan agama dan penguasa despotik, puisi harus diubah dahulu, karena bahasa mempengaruhi cara berpikir dan pikiran akan mempengaruhi tindakan. Perubahan dalam puisi dan bahasa selanjutnya akan mengubah bidang-bidang lainnya.

Oleh karena wahyu melingkupi segalanya, maka menurut Adonis bentuk modernitas yang pertama dalam Islam adalah kritisisme terhadap wahyu, dengan mengeliminasi agama dari masyarakat dan mengokohkan akal. Modernitas sama dengan sekularisme dan rasionalisme absolut, yaitu satu-satunya jalan mewujudkan keadilan sosial, persamaan dan kemajuan. Ia menunjuk pada pemikiran rasionalis Ibnu ar-Rawandi dan ar-Razi, yang menolak wahyu dan kenabian, serta menggantinya  dengan akal, rasionalisme dan menempatkan manusia sebagai pusat kesadaran.   

Mengenai kebudayaan Arab, menurut Adonis tadinya terdiri dari yang mapan dan yang berubah, namun sejak abad ke sebelas, Al Ghazali membuat masyarakat Arab meninggalkan rasionalisme dengan pandangannya yang sangat konservatif, dan Islam menjadi absolut sebagai awal peradaban sekaligus peradaban final (hal.78) sehingga sejak saat itu agama menentukan dan mengatur seluruh bidang kehidupan dengan ketat, yang berlangsung hingga kini.
Penulis juga menguraikan ciri-ciri mazhab konservatif ini yang bersifat fundamentalis dan dapat kita temukan persamaannya dengan aliran-aliran sejenis yang kini marak di Indonesia.

Bagi pihak Barat, Adonis menjadi sumber informasi penting untuk memahami bangsa Arab dan Islam, karena dia dianggap lebih memahami jiwa bangsanya. Dalam suatu wawancara dengan Asia Time Online pada tahun 2007 ia menyatakan,

Islam destroys the creative capacity of the Arabs, who in turn do not have the capacity to become modern. .. Nothing less than the transformation of Islam from a state religion to a personal religion is required for the Arabs to enter the modern world. … the preconditions for democracy do not exist in Arab society, and cannot exist unless religion is re-examined in a new and accurate way, and unless religion becomes a personal and spiritual experience, which must be respected.The trouble, is that Arabs do not want to be free.…because being free is a great burden.“
Bagi Indonesia, kritik Adonis terhadap bangsa Arab seharusnya menjadi bahan untuk bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang berasal dari sana, karena banyak pihak yang tidak lagi dapat  membedakan antara agama Islam dan karakter serta budaya Arab, atau menyamakan agama Islam dengan konservatisme ala Arab di atas, sehingga menerima seluruh doktrin yang berasal dari sana begitu saja dengan mengabaikan karakter dan budaya sendiri bahkan rasionalitas.

Beberapa karya Adonis, yang kini berusia 81 tahun, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, antara lain buku puisi “Nyanyian Mihyar di Damaskus”. Ia mendapat  Goethe award dari Jerman pada tahun 2011 sebagai pembawa modernitas Eropa ke lingkaran Arab dan disebut sebagai penyair Arab terpenting saat ini, ia juga sempat disebut-sebut  sebagai calon pemenang Nobel sastra tahun 2011, namun belum terpilih.
Dari kritik Adonis terlihat bahwa konservatisme agamalah yang menjadi penyebab utama kemunduran bangsa Arab. Namun, hal inilah yang kini tampaknya justru hendak diikuti oleh penganut Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia

Escape From Evil

Judul : Escape from Evil
Pengarang: Ernest Becker
Penerbit: Free Press
Tahun : 1976
Tebal : 170 hal



Melanjutkan dua buku sebelumnya, Escape from Evil dengan berdasarkan antropologi dan psikoanalisa, berupaya untuk menjelaskan bahwa segala aktivitas manusia dimotivasi oleh penyangkalan akan kematian, dan hal tersebut mempengaruhi cara manusia memaknai hidupnya.

Buku dibagi dalam beberapa bagian.Bagian pertama tentang dunia primitif, berikutnya tentang asal mula dan evolusi ketidak-samaan derajat dalam masyarakat (inequality), kemudian kekuatan dan ideologi imortalitas. Bab selanjutnya tentang asal mula kejahatan (evil), yang dibahas dalam dua bab yaitu dinamika dasar dan sifat kejahatan sosial, ditutup dengan pembahasan mengenai teori sosial.

Berdasarkan analisis terhadap karya Otto Rank dan Brown, penulis menguraikan bahwa masyarakat primitif menggunakan ritual sebagai alat untuk mengendalikan dunia dan kehidupan. Dengan upacara dan ritual yang dilakukan bersama-sama, setiap individu merasa memiliki arti dan andil dalam mengendalikan kehidupan. Upacara dan ritual bagi masyarakat primitif adalah seperti teknologi bagi manusia modern. Oleh karena itu orang yang berperan dalam upacara yaitu shaman, dukun atau pendeta memiliki kedudukan tinggi. Dalam perkembangannya kemudian, shaman atau pendeta yang bekerja sama dengan pemimpin suku atau raja dapat memiliki kekuasaan terhadap lainnya, karena memiliki kekuatan tersebut.
Penulis mencoba untuk menelusuri asal mula adanya perbedaan kelas dalam masyarakat. Apakah perbedaan tersebut muncul sejak adanya pengakuan atas kepemilikan pribadi, khususnya properti (tanah)? Apakah hanya kepemilikan pribadi yang menyebabkan munculnya inequality? Berdasarkan penelitian, bahkan pada masyarakat pemburu pengumpul telah terdapat inequality, yang disebabkan perbedaan kemampuan pribadi, antara lain pemburu atau prajurit yang lebih baik dari lainnya mendapat status lebih tinggi, sehingga mereka dapat lebih leluasa memilih istri yang dikehendaki. Demikian pula ketika shaman/ pendeta dapat meyakinkan lainnya bahwa ia memiliki kemampuan menjaga kelangsungan kehidupan, misalnya dengan melakukan upacara untuk menolak bala, memenangkan perang, menghitung waktu tanam, meramalkan gerhana, maka ia mendapat kepercayaan yang tinggi sehingga statusnya meningkat dan masyarakat bersedia memberikan persembahan agar kehidupan dan kemakmuran mereka juga terpelihara.

Pemberian mereka kemudian digunakan untuk upacara atau didistribusikan kembali untuk kepentingan bersama. Namun dalam perkembangannya, pendeta bersama ketua suku atau raja dapat mengambil lebih banyak daripada yang mereka berikan kembali dan semakin berkuasa, sehingga dapat memaksa rakyat melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Demikianlah asal mulanya perbedaan kelas dalam masyarakat dan kekuasaan memaksa yang muncul dari raja bersama pendeta atau negara.
Mengapa rakyat bersedia menyerahkan diri kepada penguasa? Menurut penulis, hal ini karena pada dasarnya manusia mendambakan imortalitas, atau keabadian. Agama berhasil menarik minat manusia karena menjanjikan imortalitas. Namun bagi sebagian pihak, dewa atau tuhan yang tak tampak kurang menarik. Bagi mereka, imortalitas dapat dicapai melalui karya yang abadi, anak, monumen, atau akumulasi kekayaan yang ditinggalkan kepada penerus. Dengan demikian uang menjadi dewa baru, karena menjanjikan imortalitas dalam bentuk lain. Dalam masyarakat primitif ritual dan upacara kolektif yang dilakukan seluruh anggota suku merupakan upaya menjaga kelangsungan hidup suku tersebut: agar binatang buruan atau hasil panen tetap banyak, keberadaan anggota suku tetap eksis, perang dapat dimenangkan. Namun ketika upacara dan ritual tidak menjamin hal-hal tersebut dan hal tersebut dapat dijamin dengan adanya uang, maka suku primitif pun akan beralih menjadi mengutamakan uang.

Nilai uang pertama-tama adalah sebagai pemberi kehidupan, oleh karena itu maka pada mulanya yang digunakan sebagai uang adalah kerang cowrie dari Laut Merah, yang dianggap jimat pencegah bahaya kematian. Kemudian orang Mesir menggunakan kerang ini untuk pola membuat uang dari bahan-bahan lainnya, sampai mereka menemukan bahwa emas merupakan bahan yang paling baik, dan bentuk koin yang bulat melambangkan matahari, pemberi kehidupan.

Masyarakat primitif dengan ritual dan persembahan rutinnya kepada alam merasa memperbaharui dunia dan dengan demikian terbebaskan dari rasa bersalah, namun manusia modern hanya menumpuk hasil, sehingga timbul rasa bersalah, yang ditekan ke bawah sadar.

Menurut Becker, semakin tinggi kesadaran manusia akan kefanaannya, semakin tinggi hasratnya untuk mengingkarinya. Kefanaan dekat dengan sisi alami, kebinatangannya, oleh karena itu semakin besar kekuasaannya, semakin jauh ia mengambil jarak terhadap binatang.

Selanjutnya penulis menjelaskan bahwa pemujaan terhadap pahlawan merupakan katarsis akan ketakutan kita sendiri.
Becker menegaskan bahwa, kejahatan (evil) muncul dari keinginan manusia untuk menang secara heroik dari kejahatan, namun kejahatan terbesar adalah, ia tak dapat menjamin arti hidupnya sesungguhnya, artinya bagi alam semesta.
Imortalitas sebagai motif utama manusia merupakan asal mula segala kejahatan. Kemegahan, persaingan ketat para raja, kekayaan, yang merupakan asal mula peperangan, perbudakan dan kesengsaraan manusia dapat ditelusur dari motif dasar ini: keinginan untuk menjauhkan diri dan menyangkal kefanaan tubuh serta mendapatkan imortalitas.

Becker, yang berusaha membangun ilmu tentang manusia, berpendapat bahwa pemahaman akan masyarakat dan manusia hanya bisa dicapai apabila kita memahami motif dasar ini dan menyeimbangkannya.

Meskipun ditulis lebih seperempat abad lalu, buku ini masih memberikan banyak hal untuk memahami kondisi masyarakat di masa kini serta menyenangkan untuk dibaca; setiap kalimat mengungkapkan hal yang baru dan ditulis dengan jelas dan jernih. Namun untuk memahami tulisannya, lebih baik apabila pembaca telah memiliki dasar-dasar ilmu sosial dan filsafat.
Ernest Becker (1924-1974) adalah antropolog dan psikolog sosial pemenang Pulitzer Prize untuk buku The Denial of Death.

Sunday, October 30, 2011

THE MAGIC OF REALITY

                                        
  
  Judul : The Magic of Reality – How we
  know what’s really true
  Pengarang : Richard Dawkins
  Penerbit : Bantam Press, London
  Tahun : 2011
  Tebal : 272 hal




”I want to show you that the real world, as understood scientificaly, has magic of its own - the kind I call poetic magic, an inspiring beauty which is all the more magical because it is real and because we can understand how it works… The magic of reality is – quite simply – wonderful. Wonderful, and real. Wonderful, because real.”

“Science has its own magic: the magic of reality.”

Setelah ditunggu-tunggu para penggemarnya, akhirnya ahli biologi evolusioner  Richard Dawkins menulis buku sains untuk anak-anak dan remaja, yang mengajak mereka untuk berpikir secara rasional, melalui pemahaman akan sains dasar khususnya biologi dan kosmologi. Untuk menarik anak-anak, setiap halaman disertai ilustrasi dari Dave McKean, illustrator pemenang beberapa penghargaan yang juga menjadi illustrator buku Coraline.

Buku dibagi dalam 12 bab. Bab pertama yaitu What is reality? What is magic? menguraikan tentang perbedaan antara realitas dan magic dan cara membedakan keduanya.

Bab dua dan tiga yaitu Who was the first person? dan Why are there so many animals? menguraikan evolusi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bab empat yaitu What are things made of? menguraikan asal mula segala sesuatu yang berada di bumi, baik benda mati maupun makhluk hidup, dari partikel terkecil dan jenis zat. Sedangkan bab lima sampai sembilan adalah uraian tentang matahari, pelangi, asal mula alam semesta, dan gempa bumi; hal-hal yang sering menjadi pertanyaan anak-anak.

Khusus pada bab sebelas dan dua belas, yaitu Why do bad things happen? dan What is a miracle? mengajarkan anak-anak untuk menganalisis terjadinya hal-hal buruk dan penyataan akan suatu ”mujizat” atau keajaiban secara rasional, dengan mempertimbangkan berbagai fakta secara ilmiah, agar tidak mudah percaya begitu saja akan pendapat umum. 

Selain disertai gambar, setiap bab selalu diawali dengan beberapa mitos mengenai topik yang akan diuraikan, sehingga akan menarik anak-anak (atau siapapun) karena seperti dongeng. Dengan demikian uraian mengenai asal mula manusia, misalnya, diawali dengan cerita mengenai mitos suku Aborigin, Ibrani, dan Norse (Viking), baru kemudian uraian berdasarkan biologi. Dan seperti biasa, apabila perlu maka penjelasan disertai dengan metafor, agar lebih mudah dipahami pembaca.

Bagi yang biasa membaca tulisan Dawkins, maka bahasanya telah sangat disederhanakan dan uraiannya cukup singkat, sehingga gaya tulisannya tidak begitu tampak disini. Namun menurut anak saya yang berumur sepuluh tahun, buku ini menyenangkan untuk dibaca karena gambarnya bagus dan setiap topik diuraikan secara bertahap sehingga jelas dan mudah dimengerti.


Memang banyak sudah buku pengantar sains yang ditulis untuk anak-anak/ remaja, bahkan terdapat buku yang judulnya saja terdapat kata sains namun isinya bertolak belakang, sehingga diperlukan kehati-hatian orang tua.
Namun kelebihan buku Dawkins adalah, ia tidak hanya mengemukakan fakta-fakta atau penemuan sains terakhir, namun juga mengajarkan anak-anak atau siapapun pembacanya untuk menemukan magic, wonder atau ketakjuban pada penemuan-penemuan, realitas atau fakta yang dapat kita ketahui berkat sains, dan bahwa semua itu dapat dicapai hanya jika kita berpikir secara rasional dan ilmiah secara konsisten.
Mungkin inilah bagian yang tersulit, terutama jika lingkungan anak tidak mendukung, yaitu bagaimana mengajarkan cara berpikir kritis dan rasional secara konsisten. Sangat mudah untuk membuat anak percaya kepada magis, mujizat dan keajaiban, namun tidak mudah untuk melatih anak menganalisis dan menilai kebenaran banyaknya pernyataan atau kisah-kisah yang bersifat magic, agar ia dapat menjadi seorang yang berpikiran bebas dan rasional. Tidak banyak buku yang mengajarkan hal tersebut. Oleh karena itu buku ini sangat bagus untuk anak-anak atau siapapun yang belum pernah membaca sains dasar.

Meskipun baru dirilis pada bulan September dan Oktober, Richard Dawkins telah setuju untuk memberikan hak terjemahan buku ini kepada beberapa negara. Tentu akan baik juga jika terdapat penerbit Indonesia yang menerjemahkan buku ini. Mudah-mudahan Gramedia – yang pernah menerjemahkan buku River Out of Eden – bersedia menerjemahkannya dan mengundang penulisnya ke Indonesia. Dawkins adalah seorang tokoh yang memikat: seorang intelektual, penulis berbakat, and a very handsome man in his seventies.


R. Dawkins (guardian.co.uk)
Profesor Richard Dawkins telah menulis sepuluh buku sains populer dan essay yang sebagian besar menjadi best seller, dengan buku pertamanya The Selfish Gene (1976), dan terakhir The Greatest Show on Earth (2009), namun yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia hanya River Out of Eden.


Thursday, October 27, 2011

ALL THINGS MUST FIGHT TO LIVE


    
    Judul : All Things Must Fight To Live –  Kisah
    tentang perang  dan pembebasan di Kongo 
    Pengarang : Bryan Mealer
    Penerjemah: Utti Setiawati
    Penerbit : Elex Media Komputindo
    Tahun : 2011, Juli
    Tebal : 430 hal


Bagaimanakah kehidupan reporter di medan-medan perang yang jauh, brutal dan terlupakan oleh dunia? Apa yang menarik mereka menempuh bahaya tinggal berbulan-bulan di wilayah yang hanya bersedia dikunjungi oleh pengamat dan pasukan PBB? Bagaimana kondisi negara tersebut saat ini, masihkah diliputi kegelapan? Semua pertanyaan tersebut dikisahkan oleh reporter perang Bryan Mealer dengan sangat menarik dalam buku ini.

Mealer mengunjungi Kongo antara tahun 2003 hingga pertengahan 2007 untuk meliput perang saudara di negara tersebut yang terus menerus terjadi sejak kemerdekaannya pada tahun 1962 dan mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan korban jutaan jiwa. Negara dengan penduduk 72 juta jiwa dan luas 1,3 juta ha tersebut mewarisi kebrutalan perdagangan budak oleh Afro Arab serta penjajahan Raja Leopold dan Belgia dengan praktek perdagangan karet dan gading pada abad 19, kemudian perebutan pengaruh AS dan Soviet saat perang dingin, dan terakhir perebutan sumber daya alam berupa emas dan mineral lainnya disertai konflik antar etnis yang melibatkan beberapa negara tetangga seperti Uganda, Rwanda, Angola, serta korupsi akut yang menghancurkan negeri tersebut ke titik nadir.
Jumlah penduduk di wilayah Afrika lebih kurang satu miliar, sekitar seperempat hingga sepertiganya terlibat perang saudara berkepanjangan.  

Kisah dimulai dengan uraian Mealer saat meliput perang di timur Kongo (Bunia) pada tahun 2003 ketika terjadi pemberontakan suku Lendu melawan suku Hema. Ia mnguraikan dengan rinci kekejaman tak terperikan dari perang tersebut, namun tak pernah dapat memahami tujuannya. Apakah hanya untuk merebut emas yang tak seberapa? Mengapa tidak memerangi penguasa yang korup? Mengapa kelimpahan sumberdaya alam seolah selalu menjadi kutukan bagi pemiliknya? Mengapa manusia bisa demikian saling membenci? Darimana kekejaman dan kebrutalan yang demikian dalam itu muncul, bahkan pada anak-anak? Bagaimana manusia (para korban perang) bisa sedemikian menderita? Rincian liputannya tentang perang ini bisa membuat kita kembali teringat akan the problem of evil dalam filsafat.

Selanjutnya Mealer meliput wilayah barat, yaitu di ibukota, Kinshasha pada tahun 2004 untuk melihat pelaksanaan pemilu. Tahun 2006 ia kembali ke Bunia meliput upaya penyerahan diri pemmpin pemberontak terkejam bernama Cobra bersama pasukan perdamaian PBB dari Afrika Selatan dan Bangladesh.

Setelah perang mulai mereda, pada tahun itu juga bersama seorang pemuda Kinshasha dan reporter Italia ia naik kapal menyusuri sungai Kongo dari Kinshasha ke pedalaman sepanjang 1.734 kilometer hingga kota Kinsangani, tempat agen Crutz dalam novel Heart of Darkness (telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) mendirikan rumahnya yang dihiasi kepala manusia. Namun perjalanan 400 kilometer terakhir terpaksa dilalui dengan sepeda melewati desa-desa yang berada di dalam hutan.

Petualangan Mealer di Kongo diakhiri dengan naik kereta api di wilayah selatan menuju utara selama berhari-hari. Suatu perjalanan yang menimbulkan rasa frustrasi, karena hampir seluruh kereta tidak beroperasi disebabkan korupsi akut, demikian pula pabrik-pabrik tidak berjalan karena sebab yang sama, sehingga para pegawai mendambakan kembalinya orang kulit putih. Namun Mealer tidak hanya menceritakan kehancuran, pada akhir perjalanan ini ia mencoba untuk melihat harapan bagi negeri tersebut: dari para pedagang kecil yang gigih berusaha menembus pedalaman melalui sungai dengan kapal rakyat atau melalui jalan hutan, rakyat yang mulai pulang ke kampung halamannya setelah terpisah oleh perang, mulai dioperasikannya satu kereta penumpang, meskipun tersendat-sendat...

Tulisan Mealer mengesankan karena selain liputannya cukup rinci, ia juga melukiskan kehidupan sehari-hari para reporter di medan perang, dan bagaimana akhirnya kondisi tersebut mempengaruhi cara hidup dan perasaan penulis, seolah ia sendiri turut menjadi korban.
Hal menarik lainnya, entah kenapa, keruntuhan kondisi Kongo yang diuraikan penulis banyak mengingatkan saya pada negeri sendiri... seolah sedang menuju ke arah kehancuran yang sama, namun tanpa peperangan...

Thursday, October 20, 2011

Saya Nujood, Usia 10

Judul : Saya Nujood, Usia 10 dan Janda
Pengarang: Dalphine & Nujood
Penerbit: Alvabet, Jakarta
Tahun : 2011 (Cet.1 th 2010)
Tebal : 210 hal

Buku ini adalah kisah seorang gadis kecil dari Yaman korban perkawinan anak-anak yang berhasil membebaskan diri dari suaminya dengan usahanya sendirii.
 

Berlainan dengan gadis-gadis lain seusianya yang menerima nasibnya dengan pasrah di tangan suami, ayah atau keluarga yang kejam, Nujood berani melarikan diri dari rumah dua bulan setelah perkawinan dan pergi ke pengadilan sendirian untuk menuntut perceraian. Beruntung ia bertemu dengan hakim-hakim yang baik serta seorang pengacara perempuan dan feminis yang pernah menangani kasus perkawinan anak-anak, yaitu Shada Nasser, sehingga usahanya untuk mendapatkan kebebasan dan kembali ke sekolah dapat berhasil. Yang unik, ia mendapatkan ongkos taksi serta nasihat untuk pergi ke pengadilan dari isteri kedua ayahnya, yang mencari nafkah sendiri dengan cara mengemis, meskipun memperoleh lima anak dari ayahnya yang sangat miskin. Sementara itu ibunya  tidak berani berbuat apapun untuk membelanya.

Keberanian dan keberhasilannya kemudian memberi inspirasi bagi gadis-gadis lain seusianya di wilayah Arab yang bernasib sama untuk turut melawan, dan membuat Nujood serta pengacaranya mendapat penghargaan sebagai Women of the Year dari majalah Glamour pada tahun 2008, karena ia gadis pertama yang berani mengajukan haknya dengan meminta cerai ke pengadilan. Namun demikian perjuangan membebaskan perempuan Yaman dari penindasan tidak mudah, karena pengacara Nujood mendapat ancaman dari kaum konservatif yang berpendapat bahwa kemenangan Nujood merupakan pengaruh buruk dari dunia Barat yang merusak moral, “kehormatan” dan agama.

Di Yaman tidak ada pembatasan usia minimum untuk menikah. Pernikahan di bawah umur biasanya disertai perjanjian bahwa si gadis tidak akan disentuh sebelum usia pubertas. Namun dalam pelaksanaannya hal tersebut seringkali dilanggar, karena gadis-gadis tersebut tidak berdaya dan keluarga mereka umumnya mendukung suami si gadis, sebagaimana halnya yang terjadi pada Nujood. Dalam kasus Nujood, maka perceraian dimungkinkan karena suaminya telah melakukan tindakan seksual, yang seharusnya belum boleh dilakukan. Namun mahar yang telah diterima harus dikembalikan.

Pernikahan di bawah umur dan tindakan seksual serta kekerasan yang menyertainya masih banyak terjadi hari ini di pedesaan negara-negara seperti Yordania, Mesir, Libya, Syria, Palestina, Aljazair, Oman, Arab Saudi dan negara Arab lainnya Usaha untuk memberantasnya tidak mudah, karena selalu mendapat tantangan dari kaum konservatif yang berpikir masih seperti ratusan tahun lalu. Misalnya di Yaman, mereka berpendapat bahwa pernikahan di bawah umur wajar karena Nabi menikahi Aisyah ketika ia berumur sembilan tahun.


Yaman adalah salah satu negara Arab yang masih memegang tradisi dengan teguh. Negeri berpenduduk dua puluh tiga juta jiwa ini masih mewajibkan perempuan memakai cadar, disunat ketika kecil, dipisahkan di ruang publik, dan menganut hukum syariah yang menilai kesaksian dan warisan bagi perempuan setengah dari laki-laki. Selain itu, dengan system patriarkat yang menilai kehormatan suatu keluarga tergantung kepada adanya anak laki-laki dan nilai seorang perempuan hanya dari kemampuannya menghasilkan anak laki-laki, maka perempuan Arab akan berusaha sekuat tenaga untuk memiliki sebanyak mungkin anak lelaki serta mempertahankan hubungan dekatnya dengan anak lelakinya dengan menindas istrinya.
Kondisi di Yaman merupakan cermin kondisi negara-negara lain di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil survey Freedom House terhadap kondisi perempuan di 16 negara Arab dan Afrika Utara, yang diukur berdasarkan lima kategori antara lain non-diskriminasi dan akses terhadap hukum, otonomi, keamanan dan kebebasan, hak ekonomis dan persamaan kesempatan, yang terburuk dalam memberikan hak-hak kepada perempuan adalah Arab Saudi, Kuwait dan UEA, sedangkan yang terbaik adalah Tunisia dan Maroko disusul Aljazair dan Mesir, meskipun di keempat negara inipun kondisi perempuan tidak sebaik negara-negara lain di luar wilayah tersebut.

Kisah Nujood memberi informasi bahwa perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan, yang disebabkan oleh kemiskinan, kebodohan dan sistem patriarkat serta ideologi yang menyertainya masih jauh dari selesai dan tidak mudah, bahkan di abad ke dua puluh satu.

Wednesday, October 12, 2011

CONSTANT BATTLES

Judul : Constant Battles – The Myth of the Peaceful, Noble Savage
Pengarang: Steven LeBlanc
Penerbit: Harvard Univ. Press
Tahun : 2003
Tebal : 256 hal

Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan manusia sewaktu masih menjadi pemburu-pengumpul dan hidup dalam kelompok-kelompok kecil berjumlah sekitar 30-40 orang cukup damai dan selaras dengan alam, seperti kehidupan suku Bushman di Afrika masa kini.

Namun menurut LeBlanc, berdasarkan hasil penelitian arkeologi, gambaran di atas adalah mitos belaka, karena bahkan sejak zaman prasejarah manusia tidak pernah dapat menjaga alam lingkungan dan mengendalikan pertumbuhan populasinya, sehingga selalu terjadi peperangan untuk memperebutkan sumber daya alam yang terbatas. Dengan demikian, bukan manusia modern saja yang tidak bisa menjaga lingkungan, namun juga protohuman dan kaum pemburu-pengumpul.

Untuk membuktikan pernyataannya, LeBlanc menguraikan hasil-hasil penggalian terhadap fosil manusia purba dan tempat tinggalnya dalam jangka waktu hingga satu juta tahun yang lalu, terutama seratus ribu tahun ke belakang yang terdapat di berbagai belahan dunia.
Dalam setiap penggalian, selalu ditemukan tanda-tanda kekerasan yang menunjukkan konflik yang dapat disebut perang. Misalnya goresan pada tulang, sisa tulang manusia yang diambil sumsumnya (pertanda kanibalisme, yang biasanya dilakukan terhadap musuh), tumpukan batu runcing (untuk senjata) atau lembing serta perisai yang dibuat sangat teliti bahkan oleh kaum pemburu pengumpul seperti suku Aborigin. Selain itu, tempat tinggal yang dibuat di atas tebing terjal, bekas tempat tinggal yang terbakar dan tampak ditinggalkan terburu-buru, serta bermacam benteng semuanya menunjukkan bahwa peperangan merupakan bagian dari hidup sehari-hari.

Penemuan tersebut, dikaitkan dengan waktu perubahan iklim, jumlah penduduk, kebangkitan dan keruntuhan kota-kota serta penelitian terhadap suku pemburu-pengumpul dan masyarakat tradisional lainnya yang masih ada sampai dengan abad 19 dan 20 membawa penulis berkesimpulan bahwa peperangan telah melekat dalam kehidupan manusia, yang disebabkan oleh tidak terkontrolnya pertumbuhan populasi, sehingga wilayah mereka melebihi carrying capacity, meskipun masing-masing memiliki berbagai cara untuk menekan populasi, antara lain dengan infanticide (pembunuhan anak), penjarangan jarak kelahiran, selibat.

Untuk menelusuri penyebab agresivitas manusia ini, LeBlanc mencoba membandingkan dengan hasil penelitian terhadap primata lain yang terdekat, yaitu simpanse. Sudah lama diketahui para ahli bahwa simpanse memiliki banyak sifat yang mirip dengan manusia, antara lain simpanse adalah satu-satunya mamalia yang menyerang sesama spesiesnya untuk mengambil-alih wilayah kelompok lainnya, dengan membunuh semua anggota kelompok lain satu-persatu hingga habis secara bersama-sama, dengan cara yang mengingatkan pada cara manusia menghabisi musuhnya. Simpanse juga membunuh anak-anak musuhnya. Sebaliknya, bonobo memiliki cara hidup yang berbeda, yaitu jauh dari kekerasan. Mungkinkah agresivitas pada manusia dan simpanse terseleksi oleh gen?

Penulis membagi pembahasannya sesuai tahap perkembangan masyarakat. Pertama yaitu tahap pemburu-pengumpul (satu juta hingga seratus ribu tahun yang lalu), tahap pertanian (dimulai sepuluh ribu tahun yang lalu), tahap chiefdom, tahap state (dimulai tiga ribu tahun yang lalu di Mesir), dan tahap complex society.

Semakin tinggi tahap yang dilalui, semakin besar tekanan populasi, kerusakan alam dan intensitas peperangan. Namun frekuensi perperangan semakin menurun, karena masyarakat kompleks memiliki pemerintahan yang lebih efektif dan berkuasa, sehingga dapat menekan sebagian masyarakat – misalnya petani – yang ingin berontak dan membiarkan mereka kelaparan. Selain itu, dibandingkan kehidupan tahap pemburu pengumpul atau tahap pertanian dimana semua pria sewaktu-waktu harus berperang, dengan tingkat kematian rata-rata 25%, pada tahap state atau complex society tingkat kematian dan proporsi penduduk pria yang terlibat perang sangat kecil. Dengan demikian maka dibandingkan ribuan tahun lalu kekerasan di masa kini telah jauh menurun. Kekerasan hanya terjadi secara lokal di beberapa wilayah, yang apabila diteliti merupakan daerah yang mengalami krisis sumber daya atau terdapat permusuhan lama. Misalnya wilayah Afrika atau Timur Tengah. Wilayah Timur Tengah merupakan wilayah pertama yang mengenal pertanian yaitu sejak sepuluh ribu tahun yang lalu, sehingga tingkat kerusakan alamnya paling parah. Disamping itu terdapat permusuhan lama yang berkaitan dengan ideologi.

Memang, apabila kita membaca sejarah, maka yang terlihat hanyalah perang dan perang yang silih berganti dengan kekejaman yang tak terperi untuk ukuran saat ini. Juga apabila kita membaca kehidupan suku pemburu pengumpul yang masih ada, misalnya di Papua atau Amazon, maka kekerasan atau perang menjadi bagian hidup sehari-hari, kecuali setelah mereka bersentuhan dengan dunia luar.

Menurut LeBlanc, semua kekerasan atau perang pada dasarnya bersumber dari pertumbuhan populasi, yang membuat sumber daya yang ada (makanan, wilayah) tidak cukup. Namun pertumbuhan populasi tidak dapat dikendalikan oleh satu pihak saja, karena apabila pihak lain tidak menekan populasinya, maka pihak yang populasinya stabil tidak dapat menahan ekspansi pihak lain yang memiliki populasi lebih besar. Itu sebabnya hampir semua wilayah di dunia tidak dapat mengendalikan populasinya. Selain itu, manusia pada umumnya tidak memiliki kemampuan mengantisipasi masalah tekanan populasi atau kerusakan lingkungan jauh hari sebelumnya.

Uraian LeBlanc sepanjang buku mengingatkan pada Collapse oleh Jared Diamond, namun apabila menurut Diamond tekanan populasi dan kerusakan lingkungan mengakibatkan keruntuhan suatu bangsa, menurut LeBlanc hal tersebut mengakibatkan perang terus menerus.

Meskipun sepanjang buku tergambar sejarah manusia yang lekat dengan pertempuran terus menerus atau constant battles, pada bagian akhir penulis mencoba untuk bersikap optimis dengan menguraikan bahwa dengan teknologi yang dimiliki saat ini maka pengendalian populasi dan pelipatgandaan produksi dapat dilakukan, sehingga perang akan dapat diturunkan secara drastis dan kerusakan lingkungan lebih jauh dapat dihindarkan. Benarkah? Mungkin benar apabila semua negara di dunia telah mencapai tahap seperti Eropa, AS dan Jepang dimana jumlah populasi relatif stabil bahkan menurun, teknologi telah tinggi dan masyarakatnya terdidik, serta penyebab konflik hanya disebabkan oleh perebutan sumber daya. Namun masih banyak negara yang tidak bersedia mengendalikan populasinya, berteknologi rendah, dengan ideologi atau tahap masyarakat yang tidak mendukung konservasi alam atau perdamain, sehingga harapan penulis tampaknya terlalu optimis, dan perang tampaknya masih akan menjadi bagian dari kehidupan manusia di banyak wilayah.

Monday, October 10, 2011

MERABA INDONESIA

Judul : Meraba Indonesia – Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Pengarang : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi
Tahun : 2011, Juli
Tebal : 370 hal



Jika membaca surat kabar dan berlibur ke daerah-daerah di luar Jakarta belum cukup untuk membuat anda prihatin dengan kondisi Indonesia, bacalah buku ini, yang nyaris seluruhnya hanya laporan mengenai meratanya kemiskinan akut, korupsi, transportasi laut dan darat yang menyedihkan, kerusakan alam, perampokan kekayaan alam, pengabaian kepentingan rakyat oleh penyelenggara negara, keputus-asaan rakyat yang akhirnya berjuang sendiri untuk mengatasi kesulitan hidup, dan gugatan akan peristiwa tahun 1965.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah Redmond O’Hanlon menembus pedalaman Republik Kongo belasan tahun silam: tentang kapal rakyat yang tidak memenuhi syarat keselamatan dan kebersihan, korupsi yang tertanam demikian dalam, penyelenggara negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, sumber daya alam yang dirusak dan dijual murah untuk kepentingan segelintir orang. Tidak heran jika ada yang menyamakan Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan buku Tepian Tanah Air yang menceritakan kondisi pulau-pulau terluar Indonesia dengan nada optimis dan gambar-gambar indah, penulis Meraba Indonesia lebih menekankan pada permasalahan yang dihadapi di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya. Selain itu, disamping pulau-pulau terluar, penulis, yaitu Ahmad Yunus dan rekannya sesama wartawan Farid Gaban juga menyusuri pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, baik dengan motor maupun mobil. Perjalanan dilakukan berdua pada tahun 2009 selama hampir setahun dengan menggunakan motor bekas.

Buku ini seperti penegasan akan hal-hal buruk yang selama ini telah kita lihat atau rasakan di Indonesia. Misalnya, jika anda sering berlibur ke pulau atau pantai, tentu sering mengalami bahwa tidak ada kapal yang bisa disewa selain kapal nelayan, bahwa liburan selalu membawa sedikit aura kesedihan karena dimana-mana kita akan menemukan rakyat miskin yang hidupnya seperti tersia-sia, bahwa kadang tempat ibadah dibangun terlalu megah dibandingkan kondisi penduduk sekitarnya, atau bahwa alam yang dulu indah kini telah rusak atau direncanakan akan dibuat pertambangan. Uraian Ahmad Yunus naik kapal perintis yang tidak layak dan tidak tentu jadwalnya menegaskan pengalaman kita akan sulitnya menemukan kapal yang layak di Indonesia. Demikian pula pengalamannya bertemu dengan rakyat yang harus bersusah payah mencari nafkah dengan merusak alam atau tubuh mereka sendiri seolah tidak ada penyelenggara negara menegaskan apa yang selama ini telah kita lihat dan rasakan.

Kelemahan dari buku ini ialah tidak adanya peta rinci perjalanan mereka dan foto-foto yang minim serta tidak menarik. CD yang merupakan lampiran dari buku juga tidak menolong, karena sama tidak menariknya; keduanya terlalu sering muncul (dengan latar belakang sebuah ruangan) untuk menguraikan apa yang sudah tertulis di buku, sedangkan pulau-pulau atau wilayah yang mereka kunjungi hanya ditampilkan sekilas dengan sudut pengambilan yang buruk dan tidak lengkap.

Memandang Indonesia memang bisa dari berbagai sisi, tergantung mana yang lebih disukai. Tepian Tanah Air cenderung melihat sisi positif sehingga bernada optimis, Meraba Indonesia cenderung melihat hanya sisi negatif, sampai-sampai pengarang menulis,”Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi samudera Pasifik yang bergemuruh.”
Mungkin harus ditulis buku lain yang bisa melihat kedua sisi secara seimbang?

Tuesday, September 27, 2011

PENGUASA LALAT

Judul : Penguasa Lalat (Lord of the Flies)
Pengarang: William Golding

Penerjemah: Dhewi Harjono
Penerbit: Pustaka Baca, Yogya
Tahun : 2011
Tebal : 315 hal


Sebuah pesawat terbang yang mengevakuasi anak-anak dari wilayah berlangsungnya perang dunia jatuh di sebuah pulau koral di Pasifik Selatan. Tidak ada orang dewasa yang selamat. Pulau tersebut tidak berpenghuni, namun memiliki air, buah-buahan, dan babi.

Ralph, seorang anak berumur 12 tahun yang berpikiran jernih, berkenalan dengan Piggy yang cerdas, seorang anak berkaca mata yang tidak menarik. Dengan petunjuk Piggy, Ralph mengumpulkan anak-anak lain menggunakan kerang yang ditiup, yang ditemukannya ketika berenang di laguna. Setelah semua berkumpul, Ralph berusaha menerapkan aturan seperti yang diajarkan selama ini di sekolah: mengadakan pemilihan ketua, membuat rencana dan pembagian kerja untuk bertahan hidup dan penyelamatan diri keluar dari pulau. Namun Jack, ketua grup paduan suara merasa marah tidak terpilih menjadi pemimpin, sehingga Ralph memberinya jabatan sebagai pemburu bersama kelompoknya.

Usaha Ralph untuk menjalankan rencana penyelamatan dengan membuat asap pemberi sinyal di atas gunung, membuat tempat berteduh, menjaga sanitasi serta anak-anak yang lebih kecil tidak berjalan dengan baik karena tidak adanya kerja sama dari Jack, yang hanya memikirkan daging sehingga tidak menjaga api sinyal dan sibuk berburu babi bersama kelompoknya. Sementara itu anak-anak kecil mengutarakan ketakutannya karena di kegelapan melihat si buas, atau hantu, yang membuat semua resah.
Konflik terus meningkat antara Ralph yang berusaha menegakkan aturan dan Jack yang semakin terobsesi untuk menjadi pemimpin dan pemburu, sebab untuk memasak hasil buruannya Jack mencuri api dari Ralph dan Piggy, karena hanya kelompok Ralph yang bisa membuat api dari kacamata Piggy. Kekerasan yang dilakukan Jack akhirnya membawa korban beberapa anak, bahkan Ralph sendiri diburu. Hanya kedatangan kapal yang akan dapat menyelamatkan Ralph dan anak-anak lainnya dari kekejaman Jack.

Meskipun seperti sebuah petualangan anak-anak biasa, namun novel ini menyimpan pesan yang dalam, karena kehidupan anak-anak dalam pulau tersebut mencerminkan kehidupan di dunia dan kekelaman jiwa manusia. Ralph yang selalu berusaha bertindak sesuai aturan untuk kebaikan dan Piggy yang dengan ilmu pengetahuannya berusaha membantu Ralph, harus menghadapi Jack yang hanya dilandasi emosi dan sifat-sifat dasar manusia untuk survive: pemenuhan kebutuhan dasar (makanan), keserakahan, keinginan berkuasa, pemaksaan kehendak dengan kekerasan,atau hilangnya rasionalitas dan pengetahuan digantikan oleh emosi. Bukankah pertentangan antara kedua hal ini yang selalu dihadapi manusia sepanjang zaman dan mengakibatkan konflik, kerusakan dan peperangan yang tak terhitung jumlahnya hingga saat ini?

Novel ini memang bersifat simbolis. Judul novel merupakan terjemahan dari bahasa Hebrew, baal-zevuv, yang artinya chief devil – Setan. Sedangkan dalam bahasa Inggris - yang diambil dari bahasa Yunani yaitu beelzebub, artinya Setan. Dalam novel hal ini ditunjukkan dengan kerumunan lalat di atas kepala babi yang ditancapkan kelompok Jack di atas tongkat yang ditanam di tanah.

William Golding sendiri menjelaskan novel ini sebagai berikut,”Tema adalah usaha untuk menelusuri jejak kerusakan masyarakat kembali kepada kerusakan masyarakat kembali ke kerusakan alam manusia. Moral adalah saat bentuk suatu masyarakat harus bergantung pada sifat etis individu dan bukan pada system politis apapun, bagaimanapun tampak logis dan dapat dihargai. Keseluruhan buku bersifat simbolis secara alami kecuali penyelamatan di akhir cerita ketika ketika kehidupan orang dewasa muncul, bermartabat dan cakap, namun pada kenyataannya terperangkap dalam jaring kejahatan yang sama seperti kehidupan simbolis anak-anak di pulau. …”

Terjemahan novel ini dalam bahasa Indonesia cukup baik, namun ada beberapa kesalahan cetak di beberapa halaman (pengulangan cetak).

Buku ini merupakan novel pertama (1954) William Golding, yang mendapat hadiah nobel sastra pada tahun 1983. Konon kisahnya diilhami novel The Coral Island oleh R.M. Ballantyne yang mengisahkan terdamparnya tiga anak laki-laki di sebuah pulau hingga diselamatkan, serta pengalaman Golding selama bertugas di angkatan laut.

Sunday, September 18, 2011

TEPIAN TANAHAIR

Judul : Tepian Tanahair – 92 Pulau Terdepan Indonesia, Indonesia Bagian Tengah
Pengarang : Wanadri dan Rumah Nusantara
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2011, Mei
Tebal : 412 hal



Belasan tahun yang lalu, ketika menyusuri Kalimantan Barat yang sunyi sepi, hingga Sumatera Utara yang indah, seorang teman merasa sangat bersyukur, karena dapat melihat sisi lain Indonesia (selain kota-kota besarnya) dan tiba-tiba menyadari, betapa indah dan luas tanah airnya.

Mungkin juga banyak orang yang akan mengalami hal yang sama, jika mereka sempat menjelajah banyak wilayah Indonesia dan masih mampu menghargai keindahan alam. Namun demikian, menjelajahi 92 pulau-pulau terluar Indonesia tentu memerlukan usaha yang luar biasa, mengingat luasnya wilayah dan terbatasnya sarana transportasi laut, sehingga Tepian Tanah Air sangat menarik untuk memenuhi rasa ingin tahu dan hasrat bertualang yang tidak mungkin dilakukan sendiri.

Melanjutkan buku pertama, yaitu Tepian Tanah Air Indonesia Bagian Barat yang meliputi 40 pulau di sekitar Sumatera, Tepian Tanahair Indonesia Bagian Tengah mencakup 24 pulau terluar yang berada di enam provinsi, dari provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur, yang ditempuh sejauh 9.181 km dengan menggunakan kapal perintis, perahu nelayan dan perahu sewaan berukuran kecil. Selanjutnya akan diterbitkan buku ketiga, yang akan meliputi 28 pulau di Indonesia bagian timur.

Sebagai catatan ekspedisi yang dilandasi semangat nasionalisme - dilakukan Wanadri dan Rumah Nusantara dalam rangka memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional – maka Tepian Tanah Air setidaknya akan membangkitkan optimisme pembacanya, karena nadanya nyaris seperti iklan televisi Kompas baru-baru ini, yang demikian optimis menyatakan bahwa wilayah-wilayah Indonesia memiliki potensi yang demikian besar dan beragam, sehingga kita bisa berharap besar pada kemajuan bangsa ini. Namun demikian data rinci mengenai masing-masing pulau misalnya data demografi dan ekonomi seperti jumlah penduduk, pendapatan, atau bahkan luas wilayah dalam bentuk angka tidak ada, sehingga kita tidak mendapatkan informasi cukup mengenai seberapa besar potensi yang ada yang membuat penulis buku ini demikian optimis.
Paling tidak, membaca buku ini akan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga pulau-pulau terluar dari gangguan negara tetangga dan membuat kita lupa sejenak bahwa pulau-pulau yang terindah telah disewakan atau dijual kepada asing, sementara bangsa sendiri tidak pernah tertarik dengan keindahan pulau-pulau yang dimilikinya.

Selain dokumentasi dalam bentuk buku, film dan lainnya, tim juga menancapkan penanda berupa patung kedua proklamator dan logam tahan karat pada setiap pulau yang dikunjungi, yang diisi kertas bertuliskan antara lain,”...Ekspedisi Garis Depan Nusantara berhasrat mengingatkan kita bersama untuk menghayati kebesaran negeri tercinta, Ibu Pertiwi, Indonesia.”
Buku ini dilengkapi banyak foto-foto pulau dan pantai yang indah dalam ukuran besar, sehingga menyenangkan untuk dilihat dan cocok untuk diletakkan di meja kopi. Namun demikian, karena kertasnya bagus dan banyak gmbar berwarna, maka harganya lumayan mahal, sehingga misi untuk menjangkau sebanyak mungkin masyarakat, khususnya kaum muda, mungkin agak kurang tercapai.

PONDOK BACA


Judul : Pondok Baca - Kembali ke Semarang
Pengarang : Nh Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Tebal : 251 hal

Sebagai kelanjutan seri Cerita Kenangan, yang terakhir yaitu Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), Pondok Baca adalah kisah kehidupan Dini sejak pulang ke Indonesia pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1998.
Dalam Pondok Baca dikisahkan bagaimana Dini memulai hidup baru setelah kembali ke Semarang – tempat tinggalnya di masa kecil, kemudian asal mula gagasan membangun Pondok Baca, yaitu taman bacaan untuk anak-anak dan pra remaja di sekitar tempat tinggalnya, usahanya dalam membangun dan mempertahankan Pondok Baca serta tempat tinggal yang layak, termasuk ketika harus menghadapi musibah bencana alam, dan kegiatan-kegiatannya yang lain.
Apabila diteliti, seluruh tulisan Dini, baik seri Cerita Kenangan maupun novel-novelnya, semuanya bersifat otobiografis, artinya bersumber dari pengalaman nyata dan kisah sehari-hari penulisnya yang diceritakan dengan lancar dan jujur. Mungkin ini yang menjadi daya tarik buku-bukunya selama ini. Kejujuran seorang perempuan yang menceritakan pengalaman dan perjuangan hidupnya yang tidak selalu beruntung, namun selalu dijalani dengan rasa syukur dan usaha keras, dan dibagikan kepada banyak orang secara terbuka.
Mungkin banyak perempuan yang mengalami hal-hal yang dialami Dini, seperti mendapatkan suami yang salah, mengalami kesulitan keuangan dan banyak masalah lainnya, walau telah bekerja atau berusaha keras hampir seumur hidup untuk mencapai apa yang diimpikan, namun tetap hidup dengan baik sehingga dapat mengatasi semua kesulitan, memberikan manfaat bagi sekelilingnya dan akhirnya berbahagia.
Namun berapa orang yang bersedia membagikan pengalaman hidupnya yang kurang menyenangkan serta perasaannya kepada banyak orang secara jujur dan terbuka dalam bentuk novel atau cerita kenangan? Padahal mungkin kisah-kisah tersebut dapat membantu perempuan lain yang mengalami hal yang hampir sama bahwa dia tidak sendirian, bahwa kadang demikianlah hidup: tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi harus tetap dijalani dan diatasi dengan kesungguhan.
Membaca buku-buku Dini kita tidak akan menemukan banyak hal yang bersifat fiksi, karena tokoh-tokoh maupun ceritanya hanya sekitar kehidupan pengarang sendiri, namun mungkin justru akan mengingatkan kita kepada diri sendiri, orang tua, keluarga, atau orang-orang yang kita kenal... hidup tidak selalu seperti yang dicita-citakan, tetapi apapun yang terjadi, tetap harus dijalani dan diatasi dengan baik....

Sunday, September 11, 2011

NO MERCY



Judul: No Mercy – A Journey Into the Heart of the Congo
Pengarang: Redmond O’Hanlon
Penerbit: Vintage
Tahun: 1997
Tebal : 450 hal


Membaca kisah perjalanan ke belantara Afrika bagi saya merupakan sesuatu yang menarik, karena tidak mungkin dapat saya lakukan dan tidak banyak yang mampu melakukannya, mengingat kondisi negara-negara di benua tersebut yang minim infrastruktur dan cukup berbahaya, sebagaimana digambarkan penjelajah Inggris HM Stanley lebih seratus tahun yang lalu atau novelis Joseph Conrad.

Setelah menjelajah Amazon, Redmond O’Hanlon menjelajah Republik Congo untuk mencari danau Moleke Mbembe, yang konon masih dihuni makhluk sejenis dinosaurus. Untuk itu penulis ditemani oleh Marcellin, ahli biologi setempat, dan Lary, ahli biologi AS, serta beberapa saudara sepupu Marcelin.

Perjalanan ke danau Mokele Mbembe tidak mudah. Pertama, untuk mendapat izin ke pedalaman O’Hanlon harus menyuap pejabat kementrian, yang ternyata menipunya. Untunglah di saat-saat terakhir, ketika kapal akan berangkat, Marcellin membantunya untuk mendapatkan izin. Selanjutnya perjalanan dengan kapal rakyat membuat Lary sedih, karena harus melihat betapa kemiskinan membuat rakyat Congo tidak menghargai nyawa manusia, sehingga penumpang kapal atau pendayung kano yang jatuh ke sungai dibiarkan tenggelam. Kondisi kesehatan rakyat pedalaman, khususnya suku asli yaitu suku Pigmy juga membuat Lary meneteskan air mata, karena selain masih dianggap budak atau bukan manusia, mereka harus mengalami penyakit yang mengakibatkan kematian hanya oleh karena ketiadaan antibiotik, yang di AS harganya sangat murah. Satu-satunya yang menolong suku tersebut adalah misionaris AS, yang sempat bertemu dengan mereka di sebuah kota kecil. Mengapa sampai terjadi hal demikian, karena petugas yang ditugaskan ke daerah terpencil biasanya menjual obat tersebut ke apotik, atau menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadi.
Guru di daerah terpencil hanya mengajarkan marxisme, kadang tidak digaji, dan diancam oleh kepala desa, sehingga banyak anak di pedalaman tidak bersekolah.
Banyak hal menarik dari buku ini, karena selain menggambarkan keadaan alam dan fauna yang dilewati, penulis juga memasukkan pembicaraannya dengan Lary maupun dengan para pemandunya yang berasal dari Afrika, sehingga kita dapat mengetahui perasaan, sifat dan permasalahan yang dihadapi mereka, yang kadang mengingatkan pada kondisi di Indonesia. Misalnya kuatnya sifat korup, ketidakpedulian dan kurangnya tanggung jawab pelaksana negara, sifat keluarga besar yang rajin mendekati kerabat yang sukses, kurangnya kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak, hubungan bebas, dan masih kuatnya tahyul. Namun semua ketidakberesan tersebut tampak jelas bersumber dari kepemimpinan yang korup.

Republik Congo berpenduduk hanya dua juta lebih, dan pendapatan utamanya berasal dari minyak bumi dan mineral lainnya. Semula dijajah Prancis, kemudian saat penjelajahan O’Hanlon diperintah oleh partai beraliran marxis. Dengan hanya sedikit penduduk, tentu seharusnya kondisi negara tersebut jauh lebih baik apabila dikelola dengan benar.

Selama beberapa bulan O’Hanlon menelusuri sungai dan hutan rawa dengan kapal, kano dan berjalan kaki serta makan dengan menu setempat, antara lain monyet, gorilla, dan buaya. Ia juga mengikuti orang Pygmi berburu antelope, yang memotong binatang tersebut hidup-hidup setelah dijerat. Ia juga terancam dibunuh oleh suku-suku yang berseteru di pedalaman, dan mendapat ancaman apabila berani ke danau Moekele Mbembe yang dianggap keramat, sehingga ia meminta jimat kepada dukun setempat, meskipun ditertawakan oleh Marcelin.

Buku ini tidak sekedar kisah perjalanan biasa, karena selain ketegangan karena perjalanan yang menyengsarakan dan berbahaya, terdapat dialog-dialog yang dapat mewakili gambaran masyarakat negara maju dan berkembang. Misalnya dialog penulis dengan Marcelin sebagai bangsa Afrika tentang agama, kesetiaan, keluarga, atau rasa sedih O’Hanlon ketika mendengar harapan Marcellin yang sebagai ilmuwan meminta dicarikan pekerjaan sebagai dosen di Inggris. O’Hanlon lalu teringat akan melimpahnya fasilitas dan buku di negerinya, sedangkan Marcellin di kantornya hanya memiliki dua jurnal ilmiah. Bukankah ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di negara-negara berkembang lainnya, seperti Indonesia?

Dengan demikian, meskipun perjalalan ini hanya meliputi sebagian kecil dari benua Afrika, namun dapat mewakili kondisi bangsa Afrika pada khususnya dan masyarakat dunia ketiga pada umumnya.

Monday, July 25, 2011

Candik Ala 1965



Judul : Candik Ala 1965 – sebuah novel
Pengarang : Tinuk R. Yampolsky
Penerbit : Katakita
Tahun : Juni 2011
Tebal : 222 hal

Banyak sudah ditulis tentang peristiwa pemberontakan di tahun 1965, baik berupa sejarah, novel, cerita pendek, puisi hingga kisah nyata. Diantara kita sendiri mungkin ada yang pernah merasakan dampak peristiwa tersebut, misalnya mendengar ada sanak saudara atau kenalan orang tua yang sempat dikucilkan dari pergaulan, dipenjara atau hilang, mendapat bantuan tenaga kerja dari ”tapol”, atau dahulu ketika melamar kerja di lembaga negara harus menjalani screening dan menjawab pertanyaan mengenai sikap terhadap peristiwa tersebut.

Sebagaimana terlihat dari judulnya, maka Candik Ala adalah kisah tentang trauma sebuah keluarga Jawa di Solo terhadap peristiwa 1965, yang kemudian berlanjut menjadi trauma terhadap segala hal yang bersifat politis. Namun meskipun disebutkan sebagai novel, sebenarnya buku ini lebih mirip kenangan penulisnya akan peristiwa-peristiwa di masa kecil hingga dewasa, yang diawali pada pertengahan 1960-an. Nik, tokoh utama dalam novel ini, digambarkan masih kecil ketika peristiwa pemberontakan 1965 terjadi, namun turut merasakan ketegangan zaman itu karena salah seorang kakaknya menjadi aktivis gerakan kiri, sehingga untuk menyembunyikan diri sang kakak pulang ke rumah orang tua, meskipun akhirnya juga harus pergi lebih jauh lagi ke Sumatera. Tidak hanya itu, ia juga melihat para tetangganya menghilang karena ditangkap, dan ibunya yang kepala sekolah membawa salah seorang muridnya untuk tinggal di rumah karena kedua orangtuanya juga ditangkap.
Peristiwa yang dialami orang tua Nik dengan kakaknya membuat mereka melarang Nik mengikuti kegiatan menari Jawa yang diminta suatu partai untuk menarik massa, meskipun hal itu terjadi bertahun-tahun kemudian, yaitu ketika Nik telah remaja, dan komunis tidak ada lagi. Larangan ini diberikan ayahnya tanpa penjelasan cukup, dan hingga remaja Nik pun tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965. Nik sendiri pada zaman orde baru kemudian aktif di sebuah sanggar, dan sempat bertemu dengan penulis puisi yang kemudian menjadi aktivis buruh yang hilang (Wiji Tukul). Akhir cerita ditutup dengan surat dari sahabat Nik di Amerika, yang menceritakan tentang perkenalannya yang sekejap dengan korban gerakan komunis di Kambodia, dan kunjungan Nik ke rumah salah seorang mantan aktivis Gerwani untuk menelusuri nasib tetangga yang menjadi teman ibunya, yang keduanya hanya berisikan kepedihan.

Sebenarnya apa yang diungkapkan pengarang telah banyak dilakukan penulis lain. Umar Kayam misalnya, pernah menulis cerita yang hampir sama dalam cerpen Bawuk, yaitu kisah sebuah keluarga Jawa yang salah seorang anaknya terlibat gerakan komunis sehingga harus pergi dan bersembunyi jauh dari rumah. Namun demikian, novel ini masih menarik karena ditulis dengan gaya halus seorang perempuan Jawa, sehingga menjadi novel yang lembut namun dapat memunculkan suasana sebuah keluarga Jawa. Berisi kepingan kenangan-kenangan masa 1965, 1970-an dan 1980-an, dan diakhiri dengan kenangan akan masa 1965 kembali: betapa kehancuran bisa menimpa hidup seseorang hanya karena berada pada zaman yang salah.