Friday, November 16, 2018

Kelana



Judul                   :   Kelana – Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika
Pengarang           :  Famega
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   250 halaman
Tahun                  :   2018, Juli


 Saat ini sudah banyak buku perjalanan ditulis oleh traveler Indonesia yang bepergian ke berbagai belahan dunia, namun sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan melalui udara, atau jika pun melalui darat, masih dalam satu benua, seperti Trinity dan Jasmine yang mengelilingi Amerika Latin.  Famega, yang menulis buku ini melakukan perjalanan sendirian hanya melalui darat dan laut, dengan moda transportasi kapal, kereta api dan bus umum.


Penulis memulai perjalanannya dari pelabuhan Dumai, Riau dengan menyeberang ke Malaka menggunakan kapal ferry. Saya baru tahu bahwa kita dapat menyeberang ke Malaysia melalui Riau. Sebagian besar dari kita mungkin juga hanya mengetahui bahwa penyeberangan ke negara lain hanya dari Batam ke Singapore.  Selanjutnya dari Malaka Famega meneruskan perjalanan dengan bus dan kereta ke Bangkok, Hanoi, Vientine, dan Beijing. Dari Beijing ia ke Mongolia menggunakan kereta trans Mongolia, selanjutnya ke Rusia dengan kereta trans Siberia menuju Eropa Timur, mengunjungi Praha, Bulgaria, dan selanjutnya ke Spanyol dan Maroko.


Banyak hal menarik yang diuraikan Famega dalam buku ini. Misalnya kebaikan penumpang kereta ekonomi Cina yang bergantian memberinya tempat duduk dan makanan selama 24 jam - meskipun ia tidak paham Bahasa Cina dan mereka tidak bisa Bahasa Inggris - karena ia penumpang kereta berdiri. Mega kehabisan karcis kereta lainnya sehingga ia terpaksa membeli karcis kereta berdiri karena  mengejar waktu agar tiba di Rusia sesuai dengan tanggal visa yang diperolehnya.


Bagian pertama buku tidak banyak menceritakan tentang interaksinya dengan penduduk lokal, karena perjalanan dari Malaka ke China dilakukan non-stop, sedangkan dari Cina ke Mongolia dan Rusia terkendala oleh keterbatasan bahasa, sehingga tidak banyak terdapat percakapan dengan penduduk lokal atau orang lain yang ditemuinya, meskipun di Mongolia ia sempat mengikuti tour beberapa hari dengan beberapa turis Barat.  Baru setelah di Eropa Timur dan seterusnya terdapat kisah tentang penduduk lokal.
Selain menginap di hostel, Famega tinggal di rumah-rumah penduduk lokal dengan bantuan couchsurfing, aplikasi yang memungkinkan seorang pelancong menghubungi penduduk kota yang akan dikunjungi sebelum ia tiba dan menginap gratis di rumahnya. Melalui cara ini ia mendapatkan teman-teman baru yang mengajaknya berkeliling kota-kota yang dikunjungi. Disamping couchsurfing, penulis mengenal penduduk lokal melalui hitchhiking, atau menumpang mobil secara gratis, yang merupakan hal baru baginya.


Perjalanan sendirian melalui darat dengan kendaraan umum kereta api dan bus mengingatkan saya pada Paul Therox, yang selalu melakukan perjalanan melalui darat sendirian. Namun Famega telah mendapat banyak kemudahan dengan adanya internet beserta segala aplikasi di dalamnya. Disamping itu Famega tidak mencatat setiap dialog atau keadaan alam dengan rinci maupun bertemu orang-orang berpengaruh di daerah yang dikunjunginya sebagaimana Theroux, yang memiliki pengamatan sangat tajam terhadap hal-hal yang ditemuinya. Mungkin karena tujuan Theroux bepergian adalah memang untuk menulis buku, sedangkan tujuan Famega tidak sejauh itu, sehingga bukunya lebih merupakan catatan harian selama perjalanan. Meskipun demikian, buku ini cukup menarik, karena memberikan informasi bahwa sebagai bangsa Indonesia yang kemana-mana harus mengurus visa terlebih dulu dengan banyak persyaratan, seseorang tetap dapat bepergian ke tiga benua dalam waktu lama – asalkan bersedia mempersiapkan empat visa terlebih dulu dengan segala urusannya. Selain itu, buku ini juga memberi pengetahuan kepada perempuan muda lainnya, bahwa adalah cukup aman bagi seorang perempuan untuk pergi kemana pun sendirian pada zaman ini melalui jalan darat. 


Pelajaran yang didapat oleh penulis – dan  pembaca – adalah bahwa selama kita cukup berhati-hati dan berani, banyak orang baik yang akan bersedia membantu, dan di balik perbedaan ras dan iklim, pada dasarnya masih banyak orang baik di bumi ini.

Sayangnya ukuran buku ini sangat kecil, covernya kurang menarik, dan gambar peta yang menunjukkan rute perjalanan Famega berwarna, sehingga membuatnya tidak jelas dibaca, demikian pula beberapa foto yang terdapat di dalamnya kurang tajam, padahal harga buku ini cukup mahal. Mungkin karena biaya percetakan sekarang semakin tinggi?   

Tuesday, October 02, 2018

Pemenang Book Giveaway


Selamat buat pemenang Book Giveaway bulan September, yaitu:

1. Agoes Santosa   
2. Windy A. Alicia Putri

Agoes Santosa akan mendapatkan buku terjemahan The Selfish Gene dan Windy Alicia Putri akan mendapatkan buku Cosmos.
Terima kasih ya sudah mengikuti Book Giveaway.

Selanjutnya untuk pengiriman buku agar mengirimkan alamat ke email:  raticf@gmail.com.

Tuesday, September 11, 2018

Book Giveaway


Tanpa terasa, ternyata blog ini telah berumur 12 tahun, meskipun ada tahun tertentu  dimana dalam satu tahun hanya ada satu atau dua review. Sebagai rasa terima  kasih kepada pembaca yang telah setia membaca blog ini, selama 4 bulan ke depan saya ingin membagikan buku kepada para pembaca yang beruntung, setiap bulan 2 buku.



Untuk bulan ini buku yang akan dibagi adalah buku klasik dari Richard Dawkins dan Carl Sagan, yaitu  The Selfish Gene  dan Cosmos, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Cara mengikuti Book Giveaway sangat mudah, yaitu cukup dengan menjadi follower dan menuliskan hal tersebut pada kolom comment. Pemenang akan diundi menggunakan random.org.

Book Giveaway bulan ini diadakan sampai dengan tanggal 30 September 2018 dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 2 Oktober 2018. 

Hayo buruan ikut Book Giveaway...

Tuesday, August 28, 2018

Homo Deus





Judul                     :   Homo Deus – A Brief History of Tomorrow
Pengarang          :    Yuval Noah Harari
Penerbit              :    Vintage, UK
Tebal                     :   513 halaman
Tahun                   :   2017






Sebagaimana sedang kita alami saat ini, dunia mengalami perubahan yang  sangat cepat  karena  pesatnya   kemajuan sains dan teknologi, sehingga banyak orang tidak mampu lagi mengikuti perkembangannya Bahkan  sejumlah   ilmuwan   mengungkapkan  kekhawatiran   akan ketidakmampuan manusia melawan kekuasaan artificial intelligence di masa depan.

Melalui Homodeus, Harari mencoba untuk melihat arah yang akan dituju manusia di masa depan, dengan berdasarkan pada sejarah di masa lalu dan perkembangan ilmu pengetahuan di saat ini. Pokok yang hendak disampaikan oleh penulis adalah, tujuan manusia atau homo sapiens di masa mendatang ialah untuk meraih imortalitas dan kesempurnaan.. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu secara organik, misalnya dengan modifikasi DNA sehingga sangat cerdas dan selalu muda; menggabungkan mesin dengan tubuh, misalnya pemasangan implan yang meningkatkan kemampuan penglihatan, dan penggunaan mesin sebagai kepanjangan dari fungsi tubuh, misalnya melakukan operasi dari jarak jauh. Hal-hal tersebut, ditambah penggunaan robot dan artificial  intelligence yang menggantikan jutaan pekerja, akan memperlebar kesenjangan antara elit dengan massa lebih daripada masa-masa sebelumnya, sehingga muncul superhuman dan useless society.   Perubahan yang dibawa oleh teknologi ini merupakan tantangan bagi aliran humanisme, yang selama ini mendasari tercapainya peningkatan kesejahteraan manusia di seluruh dunia.

Pembahasan dibagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama mencoba menjawab pertanyaan mengapa homo sapiens (manusia) dapat menguasai dan mengubah dunia dan apakah hal tersebut karena homo sapiens mempunyai keistimewaan yaitu memiliki jiwa. Berdasarkan sejarah, homo sapiens ketika masih menjadi pemburu peramu memandang dan memperlakukan hewan hampir sebagai makhluk yang setara, karena kehidupan mereka tergantung pada kemurahan alam. Namun munculnya kemampuan bertani atau revolusi pertanian mengubah hubungan tersebut, karena homo sapiens telah mampu mengendalikan pertumbuhan tanaman dan menjinakkan binatang untuk kepentingannya. Seiring dengan itu animisme digantikan oleh agama yang bersifat vertikal: homo sapiens memuja dewa-dewa atau Tuhan agar hasil pertanian melimpah dan  agama digunakan untuk mensahkan eksploitasi hewan guna kepentingan homo sapiens. Namun ketika perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan homo sapiens memproduksi hasil pertanian dan peternakan secara lebih efisien, pemujaan kepada dewa dewa atau Tuhan tidak lagi diperlukan. Homo sapiens menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.  
Mengapa homo sapiens dapat menguasai dan mengubah dunia? Apa yang membedakannya dari hewan? Apakah jiwa, sebagaimana masih dipercaya sebagian besar manusia? Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan adanya jiwa, tulis Harari. Homo sapiens dapat menaklukkan dunia karena ia memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah besar secara fleksibel, tidak seperti semut yang kemampuan kerjasamanya terbatas oleh instink. Hal yang mendasari kerjasama itu adalah imajinasi atau fiksi yang dipercaya bersama (inter subjective level) sebagai sesuatu yang nyata, yaitu agama, dewa atau tuhan, uang, korporasi, bangsa atau negara. Namun disini tampaknya penulis tidak membedakan fiksi murni dan fiksi, imajinasi atau kepercayaan yang harus didasari fakta tertentu. Agama atau dewa dapat diciptakan atau diimajinasikan sesuai kehendak pengikutnya tanpa berdasarkan fakta apapun, namun uang, korporasi dan bangsa harus didasari oleh fakta atau realitas tertentu untuk dapat dipercaya sebagai alat pembayaran, entitas usaha, dan bangsa, yaitu kekayaan yang dimiliki penerbit uang, aktivitas dan kemampuan ekonomi, sekelompok orang yang memiliki kepentingan atau tujuan bersama.

Bagian kedua menguraikan ideologi yang memungkinkan homo sapiens mencapai kemajuan sebagaimana saat ini. Menurut Harari, fiksi, yaitu agama, uang, korporasi dan negara, memiliki kemampuan untuk memaksa mayoritas tunduk, sehingga semua aktivitas dapat berjalan secara efisien. Efisiensi dicapai melalui algoritma, yaitu serangkaian tahapan tertentu yang harus dilakukan untuk setiap kegiatan.
Dalam perkembangannya, muncul konflik antara agama - yang berkepentingan dengan terpeliharanya keteraturan sosial melalui pengaturan moralitasnya - dengan ilmu pengetahuan, yang mementingkan kekuatan, yaitu kemampuan untuk memperbaiki kondisi manusia dan menaklukkan alam. Kekuatan ilmu pengetahuan membawa modernitas, yang memaksa seluruh homo sapiens tunduk pada system jika ingin hidup layak, antara lain dengan mengikuti pendidikan, tunduk pada hukum, dan seterusnya. Modernisme dibangun oleh kapitalisme, yang berjalan berdasarkan invisible hand and tidak peduli. Namun kapitalisme murni menuntut pertumbuhan terus menerus dan cenderung mendorong keserakahan, sementara dunia memerlukan kerjasama, sehingga muncul Humanisme.

Uraian tentang Humanisme cukup mendalam. Humanisme didasari oleh prinsip pengakuan atas individualisme,  kebebasan berekspresi, kepercayaan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan yang baik bagi dirinya maupun masyarakat tanpa bersandar pada perintah Tuhan atau agama, dan bahwa kemajuan dan kesejahteraan manusia dapat diperoleh dengan kerja sama, ilmu pengetahuan, dan partisipasi aktif setiap orang untuk kebaikan. Pandangan humanisme mendasari draft konvensi hak asasi manusia yang diratifikasi 130 negara anggota PBB tahun 1947.
Dominasi humanisme terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II membuat negara-negara di dunia memperbaiki kondisi rakyatnya dengan program-program pertanian, kesehatan, dan pendidikan, sehingga taraf hidup jauh meningkat. 
Humanisme tidak selalu sejalan dengan agama, yang meminta ketundukan total, namun meningkatnya radikalisme serta jumlah pemeluk agama tersebut tidak dianggap penting oleh penulis, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak mengerti sains dan teknologi, miskin dan terbelakang, sementara dunia masa depan akan dibentuk dan diubah oleh segelintir elit yang menguasai teknologi tersebut. Mungkin benar, tetapi jika segelintir militant dari mereka dapat merampas sistem teknologi tinggi, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih berbahaya. Sebagai liberal Harari juga tidak memperhitungkan bahaya dari meningkatnya jumlah imigran atau penduduk beraliran radikal pada negara-negara sekuler, yang dapat mengubah ideologi Humanisme menjadi teokrasi, apakah kemajuan teknologi dapat membuat mereka tidak berdaya, atau sebaliknya dapat menguasai negara-negara yang mereka tumpangi.

Bagian ketiga menguraikan efek dari kemajuan teknologi yang demikian pesat pada mayoritas homo sapiens.
Revolusi humanisme mendorong munculnya sifat-sifat baik homo sapiens, yaitu kebebasan individu, kerja sama, perhatian pada perasaan. Humanisme mendorong negara menyelenggarakan pendidikan massal, vaksinasi, pemeliharaan kesehatan, karena negara memerlukan pekerja dan tentara untuk memajukan negara. Hal ini mendorong meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin pada abad 20.  Namun hal ini belum tentu terjadi pada abad 21, karena pada masa mendatang robot dan mesin-mesin dapat melakukan jauh lebih baik dan murah hal-hal yang selama ini dilakukan oleh manusia, misalnya mobil tanpa pengemudi akan menghilangkan kebutuhan akan jutaan pekerja transportasi, drone dan pesawat tanpa awak akan mengurangi jumlah tentara secara signifikan. Hilangnya pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak akan dapat diimbangi dengan kemampuan pekerja untuk selalu belajar hal-hal baru, sehingga akan muncul segolongan pekerja yang tidak dapat dipekerjakan atau useless society. Sementara itu segolongan kecil elit menguasai mayoritas alat produksi, kekuasaan, dan kecerdasan serta fisik yang lebih baik. Perubahan ini dapat mengubah ideologi yang dianut homo sapiens. Humanisme memandang semua manusia sama dan memberi penghargaan terhadap hidup dan kontribusi yang diberikan setiap warga. Jika artificial intelligence telah demikian cerdas sehingga kontribusi manusia tidak diperlukan lagi karena kualitasnya di bawah AI, apakah humanisme akan tetap dianut? Apakah kaum elit tidak akan lebih mementingkan peningkatan performa kaumnya sendiri dan tidak mempedulikan lagi massa yang miskin atau tidak beruntung karena mereka tidak lagi diperlukan oleh negara? Hal ini terutama untuk negara-negara miskin berpenduduk ratusan juta atau miliar yang harus berkompetisi dengan negara-negara maju, mengingat biaya pendidikan dan kesehatan ratusan juta penduduk sangat besar.

Konsekuensi dari uraian mengenai perkembangan teknologi di masa depan terhadap homo sapiens mengingatkan pada novel Brave New World, dimana manusia direproduksi oleh mesin, dan segolongan elit superior merencanakan jumlah dan tingkat kecerdasan serta kondisi fisik untuk masing-masing kelas yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan. Manusia kembali dikuasai oleh segelintir elit yang kini merupakan superhuman hasil rekayasa biologi.

Alternatif lainnya adalah manusia terserap dalam Internet of All Things dan kehilangan arti. Humanisme yang mengutamakan perasaan, kebebasan, privacy, dan individualisme, di era Internet dan digitalisasi berubah menjadi Dataisme seiring dengan melimpahnya data dan informasi. Sebagaimana ekonomi liberal yang menekankan pentingnya informasi dan pergerakan barang secara bebas untuk kemajuan ekonomi, Dataisme berpendapat bahwa kemajuan akan berjalan secara optimal jika terdapat kemudahan akses terhadap informasi. Semakin banyak data yang terhubung dalam internet yang dapat diakses secara bebas, semakin bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, adanya informasi mengenai kendaraan yang tidak dipakai seseorang pada jam-jam tertentu dapat meningkatkan efisiensi karena di luar jam tersebut kendaraannya dapat digunakan oleh orang lain. Semakin pentingnya data dalam internet mendorong orang untuk berpartisipasi dengan membagikan informasi dan pengalaman pribadinya, sehingga berlawanan dengan humanisme yang menekankan privacy, penganut Dataisme merasa tidak berarti jika tidak membagikan informasi dan pengalamannya dalam internet.

Tujuan dari Dataisme adalah menggabungkan seluruh data dan informasi di dunia untuk diolah dalam internet guna memaksimalkan penggunaannya. Saat ini sistem tersebut masih memerlukan data dari manusia. Namun terdapat kemungkinan bahwa suatu hari nanti sistem tersebut menjadi demikian maju sehingga tidak lagi memerlukan data dari manusia dan berjalan sendiri. Pada saat itu maka manusia hanya akan menjadi chip atau komponen tak berarti dari Internet of All Things. 
Kesimpulan ini diperoleh Harari setelah melihat cara bekerja sistem informasi di internet. Sistem algoritma Google dibuat oleh sebuah tim besar yang masing-masing mengerjakan bagiannya sendiri. Setelah itu sistem berjalan sendiri namun masing-masing tim tidak tahu persis keterkaitan maupun hasil akhirnya karena sistem tersebut akhirnya demikian kompleks. Kecanggihan sistem dalam menghasilkan informasi juga dapat terlihat dari lengkapnya informasi yang dimiliki perusahaan-perusahaan financial technology yang menggabungkan semua data (data supplier, buyer, penjualan, dll), yang mampu menghasilkan informasi sangat rinci hingga jam terjadinya penjualan tertinggi, wilayah penjualan terbanyak, dan lain-lain secara otomatis.

Telah banyak buku yang mencoba menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan berdasarkan perkembangan teknologi saat ini.  Michiio Kaku menulis beberapa buku berdasarkan wawancara dengan puluhan ilmuwan yang sedang melakukan riset. Dalam The Future of the Mind, ia menceritakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian untuk mencatat mimpi, memindahkan pikiran ke dalam komputer, komunikasi melalui sejenis telepati, dan sebagainya.
Homodeus melangkah lebih jauh, yaitu mencoba membayangkan perubahan ideologi atau struktur masyarakat yang akan terjadi di masa depan sejalan dengan adanya perubahan teknologi.
Sebagian berpendapat, bahwa setiap terjadi revolusi teknologi manusia selalu merasa khawatir akan  hilangnya banyak pekerjaan dan meningkatnya pengangguran, namun kekhawatiran tersebut tidak pernah menjadi kenyataan, karena selalu ada pekerjaan-pekerjaan baru. Apakah perubahan yang terjadi saat ini tidak sama saja sehingga tidak perlu dikhawatirkan?  Namun banyak contoh dalam buku ini yang menunjukkan bahwa AI dapat bekerja jauh lebih baik dari manusia dalam banyak bidang, sehingga pada akhirnya kelebihan yang dimiliki manusia hanyalah perasaan. Kita juga dapat melihat hal-hal yang sedang terjadi pada saat ini: penutupan cabang-cabang bank dan pengurangan karyawan karena digitalisasi, toko-toko tanpa kasir, mobil tanpa pengemudi, diagnosa oleh AI yang lebih akurat dari dokter berpengalaman, drone yang sukses membunuhi para teroris. Apabila prediksi kemajuan teknologi terasa berlebihan, masa lalu mungkin perlu diingat. Dua puluh lima tahun yang lalu ponsel berukuran sebesar handy talky dan harganya seperlima sedan mahal, sedang kemampuannya hanya untuk menelpon. Saat ini seorang tukang kebun pun memiliki ponsel saku yang bisa digunakan untuk internet, foto, video, dan lain-lain. Siapa yang bisa meramalkan masa depan?

Homodeus jauh lebih menarik dari Sapiens, buku Harari sebelumnya. Namun untuk menyimpulkan apa yang hendak disampaikannya pembaca harus membaca dengan teliti, karena cara pembahasan yang meluas sehingga pokok yang hendak disampaikan tidak tertulis secara tegas.  Secara keseluruhan buku ini dapat meningkatkan kesadaran pembaca bahwa perubahan semakin cepat, sehingga kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja jika tidak ingin menjadi korban perubahan.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, begitu pula Sapiens, buku pertama Harari. 

Tuesday, July 31, 2018

Ledhek dari Blora



Judul                     :   Ledhek dari Blora
Pengarang             :   Budi Sardjono
Penerbit                :   Araska
Tebal                    :   250 halaman
Tahun                   :   2018, Februari






Blora terkenal sebagai tempat kelahiran sastrawan Indonesia terkemuka yang menulis antara lain kumpulan cerpen “Cerita dari Blora”, selain sebagai penghasil kayu jati bermutu tinggi dan minyak mentah, serta kuliner sate Blora. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Blora juga terkenal dengan seni tayub beserta para ledheknya yang memikat. Sebagaimana diketahui, tayub adalah kesenian rakyat dimana penayub laki-laki memberikan uang kepada penari tayub yang disebut ledhek atau ronggeng pada saat menari.  

Novel ini menceritakan kisah Sam, seorang wartawan yang kehilangan pekerjaan karena majalah tempatnya bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan media online. Kesulitan ekonomi kemudian membuatnya terpaksa menanggalkan idealismenya, sehingga ia menerima tawaran teman lamanya sesama mantan wartawan untuk menjadi ghost writer,  yaitu menulis biografi seseorang dengan isi sesuai kehendak pemesan dan namanya tidak akan dicantumkan dalam buku sebagai penulis, karena si pemesan seolah menjadi penulis biografinya sendiri.
Sesuai saran teman lamanya, maka Sam akan menulis biografi seorang pengusaha kaya. Namun sebelum memulai penulisan, sang pengusaha memintanya untuk terlebih dahulu melakukan investigasi ke Blora, untuk melacak keberadaan seorang bekas ledhek bernama Sriyati.    
Tugas mencari jejak Sriyati ke Blora ternyata tidak mudah, karena dalam investigasinya Sam  ternyata mengalami penculikan dan hampir dibunuh di tengah hutan jati, yang membuat Sam bertanya-tanya. Apakah hubungan antara bahaya yang dialaminya dengan tugas mencari ledhek? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh mereka yang ingin membunuhnya? Siapakah sebenarnya Sriyati?

Kisah di atas disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang ringan dan mengalir serta sedikit humor, sehingga mudah dibaca. Tidak mengherankan karena ternyata penulisnya adalah pengarang senior yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen dan novel, antara lain Api Merapi, Roro Jonggrang, dan Nyai Gowok.

Membaca novel ini terasa ringan dan menghibur karena – seperti novel pop - berakhir dengan happy ending dan terdapat beberapa kejadian kebetulan, namun demikian pembaca mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan kondisi wilayah Blora dan sekitarnya, kesenian tayub, sepenggal sejarah kelam Indonesia, dan kondisi kehidupan masa kini, sehingga Ledhek dari Blora menjadi novel yang cukup menarik.

Tidak seperti novel Ronggeng Dukuh Paruh yang mencekam, Ledhek dari Blora memberi gambaran mengenai upaya masyarakat lokal mempertahankan seni tradisi yang nyaris hilang ditengah desakan modernisasi dan stigma buruk dari masa lalu yang selalu mengaitkan kesenian rakyat dengan gerakan kiri, serta  desakan konservatisme masa kini yang mengatasnamakan moralitas. Hal itu tampak antara lain dari tokoh Mbah Mantan Lurah yang berani mengadakan pertunjukan tayub meski sering mendapat ancaman pelarangan, dan para ledhek yang digambarkan sebagai perempuan-perempuan mandiri yang berani berbeda dari perempuan pada umumnya. Ada nuansa feminis dan liberal dalam buku ini.


Monday, July 09, 2018

Aib dan Martabat




Judul               :   Aib dan Martabat
Pengarang      :   Dag Solstad
Penerjemah    :   Irwan Syahrir
Penerbit           :   Marjin Kiri
Tebal               :    138 halaman
Tahun              :   2017





Tidak banyak novel Norwegia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, salah satunya adalah Aib dan Martabat, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Norwegia.
Negara-negara Skandinavia dikenal sebagai negara yang tingkat kesejahteraannya tinggi, tertib, dan aman, dengan tingkat yang lebih baik dari negara Eropa lainnya. Namun demikian, dalam novel ini kita akan menemukan kesepian yang dialami masyarakat modern.

Alur cerita dalam novel ini sangat sederhana, karena yang hendak disampaikan pengarang adalah perasaan kekosongan dan kesepian yang dialami masyarakat modern, yang mungkin juga telah dialami oleh sebagian dari masyarakat negara dunia ketiga yang tinggal di kota-kota besar.

Tokoh utama adalah Elias Rukla, seorang guru bahasa sekolah menengah berusia 50-an tahun yang telah mengajar selama dua puluh lima tahun. Pelajaran bahasa atau sastra Norwegia bukanlah pelajaran favorit murid-murid, dan suatu hari Elias merasakan kesia-siaan dirinya ketika mendapati betapa para muridnya tidak memiliki minat sedikit pun terhadap bidang yang diajarkannya bahkan menampakkan kebencian, sehingga membuatnya merasa sia-sia dan membenci kondisi yang dihadapinya saat itu karena telah melakukan pekerjaan tersebut selama lebih dari dua puluh tahun. Rasa kesia-siaan dan putus asa itu demikian mendalam sehingga tanpa sadar Elias melampiaskannya di sekolah, yang berakibat fatal  karena membuatnya tidak pantas menjadi guru kembali.  Dalam keputus-asaannya ia kemudian berjalan menyusuri kota, memikirkan hidupnya selama ini – perkawinannya yang semakin tidak bahagia, pengkhianatan sahabatnya di kala muda, kehidupan yang datar, rekan-rekan kerja yang tidak bisa diajak bercakap-cakap tentang hal-hal yang berarti selain soal pekerjaan dan masalah remeh sehari-hari, pekerjaan dan pengabdian yang tidak dihargai karena masyarakat telah menjadi dangkal, lebih menghargai budaya pop murahan daripada sastra dan peradaban tinggi.  Dan kini pekerjaan tersebut tampaknya harus dilepaskannya, meskipun sebenarnya dia tidak lama lagi pensiun. Semua itu ada dalam pikiran Elias Rukla selama menyusuri kota Oslo setelah keluar dari sekolah dengan marah.  

Novel ini adalah monolog. Namun demikian banyak hal menarik di dalamnya. Misalnya kekecewaan Elias Rukla bahwa semua rekan gurunya tidak ada yang membicarakan ide-ide, perkembangan pengetahuan masing-masing bidangnya, atau hal-hal berarti lainnya ketika mereka bercakap-cakap di sekolah, melainkan hanya membicarakan tentang hutang-hutang yang mereka miliki, atau bahwa mereka telah bebas dari hutang, sehingga Elias menyebut mereka budak hutang. Bagian ini sungguh menggelikan, karena mengingatkan saya pada rekan-rekan kerja di  kantor.
“Orang-orang dalam lingkungan pergaulan Elias Rukla tidak lagi berbicara. Hanya singkat dan ala kadarnya. …Karena ruang publik yang diperlukan oleh sebuah percakapan sudah terisi.”

Tokoh novel adalah seorang idealis, seorang pemikir, namun harus menghadapi mayoritas yang dangkal, yang didukung oleh demokrasi. 
Novel ini sangat menarik karena mengingatkan saya pada kehidupan masyarakat modern di kota-kota besar, termasuk di Indonesia.

Monday, November 20, 2017

Sang Muslim Ateis



Judul                 :   Sang Muslim Ateis: Perjalanan dari Religi ke Akal Budi
Pengarang         :   Ali A. Rizvi
Penerjemah       :   Nanang Sukandar, Sukron Hadi
Penerbit             :   LSM Indeks
Tahun                :   2017
Tebal                 :   302 halaman


Penyerangan terhadap kaum minoritas seperti Ahmadiyah dan dipersulitnya pembangunan tempat ibadah penganut agama Kristen di berbagai daerah serta keberhasilan penggunaan isu agama untuk memenangkan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta baru-baru ini menunjukkan, bahwa kebebasan beragama baru menjadi milik mayoritas. Apabila kaum yang beragama minoritas saja belum mendapatkan kebebasan yang setara, bagaimana dengan mereka yang tidak beragama atau ateis?

Menurut Nanang Sukandar, Direktur Eksekutif Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) yang menulis pengantar buku ini, sekitar 1,5% penduduk Indonesia adalah ateis. Namun tentu saja mereka tidak bisa mengekspresikan diri mereka secara terbuka, karena adanya diskriminasi bahkan persekusi dari masyarakat.  Indeks kebebasan di Indonesia juga terus merosot, dari status negara “bebas” pada tahun 2013 menjadi “setengah bebas” pada 2014. Oleh karena itu sebagai upaya advokasi kebebasan beragama, termasuk kebebasan untuk tidak beragama, maka dilakukan penerjemahan buku dari penulis ateis eks muslim ini.
Suatu upaya yang patut dihargai, meskipun sayangnya buku ini diterbitkan sangat terbatas dan tidak tersedia di toko-toko buku. Tentu ini karena tidak adanya kebebasan beragama (dan tidak beragama) tadi, sehingga tidak ada toko buku yang berani menjual buku tentang pandangan ateisme atau bahkan sekedar kritik terhadap agama, sama dengan  terjemahan The God Delusion yang hanya dijual secara online  oleh penjual perorangan. Sayang sekali bahwa demokrasi kita hanya membawa kebebasan bagi kaum radikalis, sehingga buku mereka banyak  dijual di toko-toko buku besar, betapapun absurdnya, sementara buku-buku yang membawa pencerahan seperti ini tidak dapat diakses masyarakat luas.

Tulisan Ali A. Rizvi dianggap relevan untuk Indonesia, karena penulis adalah eks muslim. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, masyarakat perlu mengetahui fenomena ateisme di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, serta hal-hal yang menyebabkan seorang muslim menjadi tidak percaya, dengan harapan muncul sifat lebih terbuka terhadap ateis eks muslim.  Hal ini menjadi penting karena sekarang masyarakat Indonesia telah menjadi sangat konservatif dalam beragama, berbeda dengan empat puluh atau lima puluh tahun yang lalu dimana dimana masyarakat masih sangat moderat bahkan liberal.

Sang Muslim Ateis mengisahkan kehidupan Ali A. Rizvi sebagai seorang dokter dari Pakistan yang pernah dibesarkan di Libya dan Arab Saudi.  Sebagaimana kaum muslim di seluruh dunia, ketika kecil ia belajar membaca dan menghafal Al Quran meskipun tidak bisa berbahasa Arab, dan dibesarkan dengan nilai-nilai Islami, juga pendapat bahwa terorisme bukanlah disebabkan agama, namun disebabkan masalah ekonomi, politik dan lainnya. Ia mempercayai semua itu, hingga – seperti halnya Ayaan Hirsi Ali – terjadi peristiwa September 1999. Peristiwa tersebut membuatnya meneliti kembali agama yang dianutnya selama ini, termasuk mengingat masa kecilnya di Saudi. 
Disana sering terjadi hukuman pancung di alun-alun yang ditonton orang banyak dalam hysteria, terutama jika korbannya berlainan agama, selain hukuman potong lengan bagi pencuri, hukum cambuk bagi korban perkosaan, larangan menjalankan agama bagi kaum minoritas, dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap perempuan.  Ia merasa bahwa ada yang salah dengan lingkungan tersebut, namun keluarganya selalu mengatakan bahwa budaya Arab Saudi – tempat asal mula agamanya -  tidak ada sangkut pautnya dengan Islam yang sejati, negara tersebut memiliki Islam yang semuanya salah.
Peristiwa lain yang membuatnya meneliti keyakinannya adalah penikaman seorang tentara Inggris  pada 2013. Pelakunya menyebut bahwa tindakannya “terinspirasi oleh Al Quran..surat At Tawbah dan banyak ayat lain, yang memerintah kami memerangi mereka seperti mereka memerangi kami.” Dalam surat tersebut ayat 29,30, Rizvi menemukan perintah untuk memerangi umat Kristiani dan Yahudi sampai mereka masuk Islam dan membayar pajak jizyah – sebagaimana ISIS melakukannya di kota-kota seperti Mosul. Rizvi juga menemukan bahwa hukuman penyaliban bagi para penentang sebagaimana diklaim ISIS dapat ditemukan dalam surat Al Maaidah ayat 33 atau ayat 4 surat Muhammad untuk pemenggalan musuh. 

Rizvi mempelajari terjemahan Al Quran dan menemukan bahwa semua tindakan bangsa Saudi memiliki dasar di Quran: pemancungan terhadap disbelievers/ kafir (surat 8:12-13), pemotongan tangan bagi pencuri (surat 5:38), kekerasan dalam rumah tangga (surat 4:34), pembunuhan terhadap politeis (surat 9:5).  Hal tersebut cukup mengejutkan baginya; mengapa selama ini keluarganya tidak pernah menyebutkan bahwa hal-hal ini terdapat di Quran? Namun ketika ia bertanya kepada para ahli, mereka semua memberikan apologi, yaitu bahwa:
-     Ayat itu ditafsirkan dengan salah
-    Jika penafsiran benar, ayat itu berada dalam konteks yang spesifik pada saat itu, atau keluar dari          konteks
-  Jika kandungan ayat itu keliru, maka itu karena metafor, dan ia memaknainya terlalu literal
-  Jika banyak orang Saudi dan bangsa Arab lainnya menjelaskan dengan cara seperti Rizvi, maka ia diingatkan bahwa orang Saudi telah disuap Amerika sejak dulu dan orang Mesir membuat perjanjian  perjanjian  dengan Yahudi.
Apabila semua pembelaan di atas gagal, maka mereka akan mengatakan bahwa itu semua cuma kata-kata kecuali ditafsirkan dengan benar. Sama dengan pendapat para ustad atau ahli agama Indonesia bukan? Rizvi menyadari bahwa semua hal akan dilakukan untuk menyelamatkan Quran dari kritik, namun ia  terus meneliti untuk mendapatkan pembacaan yang obyektif. Baginya agak aneh bahwa pemeluk Islam yang moderat seperti keluarganya tidak bersedia mengikuti perintah Quran secara literal seperti Arab Saudi mengikutinya, namun hanya mengambil surat-surat yang sesuai dengan ukuran moralitas mereka sendiri. Jika demikian, bukankan hal itu berarti mereka telah memiliki ukuran moralitas sendiri, yang lebih baik dari Quran, namun mengapa mereka masih mempertahankan dan membela buku yang penuh kekejaman tersebut?

Hal lain yang disorot Rizvi adalah klaim Islam sebagai agama damai. Tidak mudah menjelaskan hal ini karena Quran penuh dengan kontradiksi. Selain surat-surat yang berisi kekerasan, terdapat pula yang menyerukan kebaikan seperti memberi sedekah, tidak mencuri. Namun sebenarnya anjuran berbuat baik ini biasa saja, karena telah ada sebelum Islam muncul, antara lain pada bangsa Yunani maupun ajaran Konfusius. Bagaimana menafsirkan kontradiksi ini? Menurut Rizvi, kontradiksi itu dapat dimengerti jika kita memahami bahwa ayat-ayat yang bersifat kebaikan – seperti memberi makan anak yatim – adalah untuk kaum muslim sendiri, sedangkan ayat yang bersifat kekerasan adalah untuk kaum di luar Islam.  

Selanjutnya, Rizvi menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari politik, itu sebabnya Palestina mendapat dukungan kaum muslim dan para jihadis selalu meneriakkan Allahu Akbar dan ISIS memperbudak gadis-gadis Yahudi. Agama juga bukan budaya, meskipun kaum Islam moderat mengatakan demikian. Sebagai contoh, Rizvi menunjuk banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Nabi menikahi Aisyah pada umur 6 tahun dan menggaulinya pada umur 9 tahun, sesuatu yang mengerikan bagi muslim liberal namun di Saudi hal tersebut masih dilakukan dan mendapat dukungan dari otoritas. Hal ini didukung oleh Quran surat 65:4 mengenai petunjuk menceraikan perempuan-perempuan tertentu, termasuk “mereka yang belum menstruasi”, sehingga ditafsirkan menikahi perempuan di bawah umur diperbolehkan. Oleh karena itu Khomeini menurunkan batas minimum perkawinan menjadi 9 tahun bagi perempuan, sementara Saudi tidak memiliki batas minimum.
Rizvi juga mengkritik kaum muslim moderal atau liberal yang selalu menyangkal adanya kaitan antara agama dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh teroris, dengan mengatakan bahwa tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan Islam, atau bahwa Islam yang sebenarnya tidak seperti itu. Hal itu tidak benar, karena para teroris atau jihadis tersebut jelas-jelas mengutip ayat-ayat Quran sebagai hal yang memotivasi mereka melakukan tindakan tersebut. Masalah yang dihadapi kaum muslim adalah bahwa “keyakinan agama begitu mendarah daging dalam identitas personal, social, dan kultural dari berbagai mmasyarakat di dunia muslim, sehingga kritik apapun terhadap agama langsung dianggap sebagai serangan personal.”

Selain hal di atas, Risvi mengungkapkan hal-hal yang membuatnya meninggalkan Islam. Mungkin banyak orang lain mengalaminya juga, namun karena ajaran agama dari kecil yang begitu kuat, tidak berani mempertanyakannya. Hal-hal tersebut yaitu:
a.    The problem of evil: jika Tuhan maha penyayang, mengapa ia memberi penyakit kanker pada orang-orang baik? Mengapa doa meminta kesembuhan tidak ada gunanya, namun pengobatan – yang berasal dari sains – dapat menyembuhkan secara efektif? Mengapa keharusan mencintai Tuhan disertai dengan ancaman neraka?  
b.   Sains: pemahaman akan luasnya alam semesta yang didapat antara lain dari Carl Sagan, membuat ayat-ayat yang menjelaskan tentang penciptaan alam terasa tidak berarti, karena banyak hal tidak dijelaskan disana yang kini dapat kita ketahui dari sains.
c. Moralitas: kisah Nabi Ibrahim yang bersedia membunuh anaknya demi Tuhan menimbulkan pertanyaan: apakah cinta kepada Tuhan berarti membolehkan apapun, termasuk membunuh anak sendiri?
d. Sebagai seorang dokter, maka Rizvi membandingkan klaim Quran mengenai perkembangan pertumbuhan janin dengan ilmu kedokteran. Diantaranya surat 23:13-14 yang menyebutkan bahwa perkembangan janin dimulai dari telinga, mata, lalu hati. Hal tersebut tidak benar, karena seharusnya dimulai dari jantung, kemudian telinga dan mata bersamaan. Yang paling fatal adalah bahwa Quran tidak pernah menyebutkan ovum atau sel telur - penyumbang lebih dari setengah materi genetik - sebagai sumber embrio. Selain itu masih banyak  kesalahan klaim Quran terkait embriologi yang membuktikan bahwa Quran hanya mengulangi penemuan sebelumnya oleh Hippocrates, Aristoteles, Galen, dan lainnya. Hal ini  menunjukkan bahwa sains dapat lebih diandalkan sementara agama mengaburkan segala sesuatu.

Dalam buku ini penulis juga menceritakan kehidupan kaum muslim di Amerika Utara – tempat ia tinggal – yang relatif liberal dan tidak berbeda jauh dengan penduduk Amerika pada umumnya. Agama lebih merupakan suatu tradisi, namun nilai-nilai yang dianut bersifat liberal. Kaum perempuan juga jarang yang berhijab. Baginya, hal itu lebih baik, karena kaum radikal dan teroris sangat berbahaya; mereka tidak menghargai kehidupan, karena bagi mereka yang berharga hanyalah akhirat. Dasar yang mereka ajukan adalah ayat-ayat Quran, antara lain surat 3:169-170, 2:154.  Rizvi bertanya, bagaimana ia melawan pendapat mereka tanpa menentang Quran?

Banyak lagi hal lain yang disampaikan Rizvi yang menurut saya perlu dibaca oleh kaum muslim Indonesia yang semakin lama semakin fanatik pandangan agamanya, agar pikiran mereka sedikit terbuka. Rizvi menulis dengan baik dan sopan, tidak seperti para penulis hard atheist, sehingga tidak akan menimbulkan kemarahan kaum muslim. Terbukti bahwa ia tidak dikejar-kejar para Islamis.

Buku ini menjadi harapan saya karena saat ini saya sudah semakin lelah menghadapi teman-teman yang demikian relijius hingga taraf absurd. Grup media sosial setiap saat ditaburi dakwah atau ayat-ayat Quran, seolah-olah tidak ada teman yang beragama Kristen atau yang tidak percaya, seolah-olah mereka berbuat baik dengan berdakwah tiap hari. Selama ini tulisan-tulisan itu saya hapus begitu saja tanpa kritik atau balasan berupa tulisan yang “mencerahkan”. Di kantor, semua rajin sembahyang lima waktu dan 90% telah berhijab, satu demi satu teman-teman dan pegawai baru mengenakannya, seolah takut berbeda, dan setiap kali ada yang “berhijrah”, sambutannya demikian hangat: “selamat”, “semakin cantik,” dan yang baru mengenakan menjawab dengan malu-malu, “ah, baru belajar, masih berantakan…”. Sementara saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena agama adalah urusan pribadi.  Sudah untung di kantor tidak ada yang berani menyuruh saya sembahyang, berhijab atau belajar membaca Quran huruf Arab. Di lingkungan rumah, ibu saya sering disindir untuk mengenakan hijab dan mengikuti pengajian. Dengan tekanan sosial seperti ini, hanya segelintir perempuan yang sanggup bersikap liberal, dan tidak seorang pun berani meninggalkan agamanya. Teman saya yang paling liberal pun  melakukan ibadah haji. Ya, masyarakat Indonesia telah berubah, begitu mudahnya menjadi konservatif. Mengapa? Sebagaimana ditulis juga dalam buku ini, meninggalkan agama yang memberi makna, perlindungan dan lingkungan tidaklah mudah. Sebelum itu, seseorang harus memiliki pikiran kritis dan curiousity atau rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran berbeda, dengan membandingkan ajaran agamanya dengan penemuan dari ilmu pengetahuan, sejarah, dan mungkin sedikit filsafat…dengan sifat orang Indonesia yang malas membaca buku dan bersifat komunal, siapa yang mau peduli melakukan semua itu?  Sementara setiap saat khotbah-khotbah di masjid dan televise terus memborbardir setiap orang dengan ancaman neraka apabila tidak percaya  dan mengikuti ajaran mereka. Berapa orang yang masih mau meluangkan waktu untuk berpikir dan membaca buku?

Mudah-mudahan buku ini dicetak kembali kelak, agar dapat memberi dampak lebih besar bagi sikap beragama yang lebih liberal dan toleran di Indonesia. Golongan ateis dan agnostik Indonesia tetap tidak akan dapat bersikap terbuka di masyarakat, namun paling tidak mereka dapat menyebarkan buku ini kepada sekelilingnya agar tidak terlalu fanatik.

    

Friday, October 14, 2016

Dark Star Safari & The Last Train to Zona Verde



Judul    :       Dark Star Safari: overland from Cairo to Cape Town 
                    The Last Train To Zona Verde: my ultimate African safari
Penerbit:       Houghton Mifflin Company & Mariner Books, USA
Pengarang:   Paul Theroux
Tahun   :       2003 & 2014
Tebal    :       472 & 353 halaman



Salah satu manfaat buku perjalanan adalah, kita dapat bepergian kemana pun, bahkan ke tempat-tempat yang paling berbahaya hanya dengan membaca buku di rumah yang nyaman. Bagi pembaca yang berjiwa petualang namun tidak memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia – baik karena kendala waktu, dana maupun kekuatan fisik - maka membaca buku perjalanan nyaris seperti melakukan petualangan itu sendiri.

Bahkan di abad 21, benua Afrika masih seperti heart of darkness – meminjam judul novel Joseph Conrad – karena dibandingkan benua lainnya yang mengalami kemajuan pesat dan relatif aman, Afrika masih terasa berbahaya dan tertinggal: minim infrastruktur, didera banyak penyakit, kemiskinan parah, dan perang berkepanjangan, sehingga tidak banyak orang berani melakukan perjalanan biasa kesana, dan tidak banyak informasi yang dapat kita ketahui tentang wilayah tersebut. Padahal benua tersebut dihuni satu miliar jiwa atau sepertujuh penduduk dunia dan pertumbuhan populasinya tergolong yang paling pesat di dunia. Kita pada umumnya  hanya tahu bahwa disana banyak terdapat  padang-padang savanna dan  taman-taman nasional yang menjadi atraksi turis untuk melihat alam dan binatang liar seperti singa, jerapah, gajah, burung-burung, dan sejenisnya.  Atau bahwa disana banyak terdapat anak-anak kelaparan dan berbagai epidemi.

Paul Theroux, yang terkenal dengan buku perjalanannya melintasi Asia dengan kereta The Great Railway Bazaar menjadi anggota Peace Corps pada tahun 1970-an di wilayah Uganda dan Malawi, dengan menjadi guru dan kemudian mengajar di universitas selama beberapa tahun sebelum meninggalkan Afrika menjelang Idi Amin berkuasa. Sebagai pemuda yang baru lulus sekolah dan idealis, pengalaman mengajar di Afrika turut membentuk karakternya dan meninggalkan kenangan indah, membuatnya ingin selalu kembali untuk melihat perkembangan Afrika.
Tiga puluh tahun sesudahnya,  yaitu pada 2002 Theroux kembali mengunjungi Afrika melalui perjalanan darat, khususnya kereta api, dari Kairo menuju Cape Town melewati Sudan, Ethiopia, Kenya, Uganda,  Tanzania, Mozambique, Zimbabwe, dan berakhir di Afrika Selatan. Perjalanan ini menjadi buku Dark Star Safari.
Sepuluh tahun kemudian, pada 2012 Theroux mencoba melintasi Afrika melalui darat dari arah selatan ke utara  melalui bagian barat, yaitu dari Cape Town ke Namibia, Angola, Kongo, Gabon, Kamerun, Nigeria, dan berakhir di  Timbuktu, Mali. Namun minimnya infrastruktur dan kondisi kota-kota Afrika yang dilihatnya semakin memburuk dan berbahaya – Nigeria mirip dengan Angola dalam hal korupsi dan kemiskinannya, ditambah adanya Boko Haram, Lagos dan Kinshaha (Kongo) hanya versi besar Luanda (ibu kota Angola) yang kumuh, dan wilayah pedesannya hanya berisi “idle youth, ailing villagers, beggars, rappers”, Mali dikuasai Al Qaeda, membuat Theroux merasa perjalanannya hanya suatu kesia-saan, sehingga ia membatalkan rencananya dan mengakhiri perjalanannya hanya sampai di Zona Verde, Angola. Stasiun kereta terakhir di utara, namun setelahnya tidak ada kereta atau jalan darat ke Kongo.  

Apa yang membuat penulis merasa sedih? Kota-kota yang semakin besar namun kehilangan ciri khasnya karena kini dipenuhi perumahan kumuh yang kemiskinannya tiada duanya di dunia, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, yang melenyapkan padang-padang savanna atau daerah hijau, pemerintahan yang luar biasa korup dan tak peduli pada rakyat, dan penduduk yang apatis, sangat pemalas dan agresif terhadap orang asing.

Dalam Dark Star Safari kita bisa mengetahui bahwa pada tahun 2000-an Sudan masih belum begitu berbahaya; penulis bisa menjelajah padang pasir berhari-hari dan mengunjungi lokasi dimana terdapat banyak pyramid mini, kemudian ke Malawi yang masih mnejadi bagian dari Ethiopia, bertemu teman-teman lama dan murid-murid yang telah menjadi orang sukses di Uganda yang telah relatif aman, hingga ke Zimbabwe yang kala itu belum bangkrut dan tampaknya masih ada harapan. Namun dalam buku ini pun pembaca dapat mulai merasakan kemunduran jika tidak bisa dibilang keruntuhan Afrika: sekolah dan universitas tempat Theroux mengajar dulu gedungnya telah hancur, perpustakaannya kosong karena bukunya habis dicuri, dan pasangan Inggris yang dahulu mendirikan sekolah dan mengabdikan sisa hidupnya untuk mengajar disana seperti tidak pernah berada disana - tidak seorangpun mengingatnya lagi, sekolahnya hancur dan makamnya terlupakan.

Theroux selalu melakukan perjalanan dengan transportasi umum seperti kereta dan bus serta berbicara dengan setiap orang yang ditemuinya di perjalanan dan menuliskan dialognya dengan orang-orang tersebut secara detil, serta melakukan kunjungan kepada penulis atau orang berpengaruh setempat untuk mengumpulkan informasi tentang wilayah yang dikunjunginya. Informasi dan pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan penduduk setempat ini ditulis dengan sangat jujur, sesuatu yang mungkin membuatnya disebut sebagai penulis arogan atau sinis. Ia menulis dengan jujur ketidak-sukaannya pada lembaga-lembaga donor Barat yang membantu negara-negara Afrika dengan jip mewahnya, karena menurut penulis kehadiran mereka bertahun-tahun tidak mengubah apa-apa, sebab sumber permasalahan adalah pemimpin-pemimpin Afrika yang sangat korup dan mengkhianati rakyatnya sendiri, sementara rakyatnya yang putus asa demikian pemalasnya sehingga tidak melakukan apa pun, bahkan membersihkan rumah dan halaman sendiri pun tidak, sehingga kota-kota Afrika sangat kotor.
Penulis juga mengungkapkan kekhawatirannya akan kehadiran imigran Cina di Afrika. Selama ini Cina dikenal tidak mempedulikan etika para pemimpin Afrika; selama perdagangan dengan Afrika menguntungkan, mereka akan melakukan transaksi tidak peduli pemerintahnya otoriter atau korup. Demikian pula para imigran Cina, mereka tidak peduli dengan penduduk setempat asalkan bisnisnya menguntungkan, dan penduduk Afrika tampaknya tidak akan bisa bersaing dan akan kalah dari imigran Cina. Hal ini tidak disadari para pemimpin Afrika yang tidak peduli rakyat. 

Membaca kedua buku ini saya mendapat gambaran bahwa mungkin tidak hanya Afrika, tapi  sebagian besar wilayah dunia mengalami beberapa masalah yang sama: pertumbuhan penduduk yang terlalu pesat, degradasi lingkungan cukup parah, meningkatnya derajat kemiskinan karena penduduk miskin berpindah ke kota-kota yang menjadi mega city, dan menurunnya tingkat keamanan antara lain karena meningkatnya radikalisme, dengan tingkat terparah terdapat di Afrika.
     
Pengamatan penulis yang mendalam baik terhadap alam sekitar maupun penduduk lokal, simpatinya terhadap rakyat biasa yang harus berjuang keras untuk hidup atau dikhianati pemerintahnya sendiri, dan kritiknya yang jujur dan tajam terhadap hal-hal yang menurutnya tidak adil membuat buku-buku perjalanan Theroux bagi saya merupakan yang terbaik di antara buku-buku perjalanan yang pernah saya baca.
Seperti membaca sebuah novel yang mengharukan.