Tuesday, July 31, 2018

Ledhek dari Blora



Judul                     :   Ledhek dari Blora
Pengarang             :   Budi Sardjono
Penerbit                :   Araska
Tebal                    :   250 halaman
Tahun                   :   2018, Februari






Blora terkenal sebagai tempat kelahiran sastrawan Indonesia terkemuka yang menulis antara lain kumpulan cerpen “Cerita dari Blora”, selain sebagai penghasil kayu jati bermutu tinggi dan minyak mentah, serta kuliner sate Blora. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Blora juga terkenal dengan seni tayub beserta para ledheknya yang memikat. Sebagaimana diketahui, tayub adalah kesenian rakyat dimana penayub laki-laki memberikan uang kepada penari tayub yang disebut ledhek atau ronggeng pada saat menari.  

Novel ini menceritakan kisah Sam, seorang wartawan yang kehilangan pekerjaan karena majalah tempatnya bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan media online. Kesulitan ekonomi kemudian membuatnya terpaksa menanggalkan idealismenya, sehingga ia menerima tawaran teman lamanya sesama mantan wartawan untuk menjadi ghost writer,  yaitu menulis biografi seseorang dengan isi sesuai kehendak pemesan dan namanya tidak akan dicantumkan dalam buku sebagai penulis, karena si pemesan seolah menjadi penulis biografinya sendiri.
Sesuai saran teman lamanya, maka Sam akan menulis biografi seorang pengusaha kaya. Namun sebelum memulai penulisan, sang pengusaha memintanya untuk terlebih dahulu melakukan investigasi ke Blora, untuk melacak keberadaan seorang bekas ledhek bernama Sriyati.    
Tugas mencari jejak Sriyati ke Blora ternyata tidak mudah, karena dalam investigasinya Sam  ternyata mengalami penculikan dan hampir dibunuh di tengah hutan jati, yang membuat Sam bertanya-tanya. Apakah hubungan antara bahaya yang dialaminya dengan tugas mencari ledhek? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh mereka yang ingin membunuhnya? Siapakah sebenarnya Sriyati?

Kisah di atas disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang ringan dan mengalir serta sedikit humor, sehingga mudah dibaca. Tidak mengherankan karena ternyata penulisnya adalah pengarang senior yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen dan novel, antara lain Api Merapi, Roro Jonggrang, dan Nyai Gowok.

Membaca novel ini terasa ringan dan menghibur karena – seperti novel pop - berakhir dengan happy ending dan terdapat beberapa kejadian kebetulan, namun demikian pembaca mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan kondisi wilayah Blora dan sekitarnya, kesenian tayub, sepenggal sejarah kelam Indonesia, dan kondisi kehidupan masa kini, sehingga Ledhek dari Blora menjadi novel yang cukup menarik.

Tidak seperti novel Ronggeng Dukuh Paruh yang mencekam, Ledhek dari Blora memberi gambaran mengenai upaya masyarakat lokal mempertahankan seni tradisi yang nyaris hilang ditengah desakan modernisasi dan stigma buruk dari masa lalu yang selalu mengaitkan kesenian rakyat dengan gerakan kiri, serta  desakan konservatisme masa kini yang mengatasnamakan moralitas. Hal itu tampak antara lain dari tokoh Mbah Mantan Lurah yang berani mengadakan pertunjukan tayub meski sering mendapat ancaman pelarangan, dan para ledhek yang digambarkan sebagai perempuan-perempuan mandiri yang berani berbeda dari perempuan pada umumnya. Ada nuansa feminis dan liberal dalam buku ini.


Monday, July 09, 2018

Aib dan Martabat




Judul               :   Aib dan Martabat
Pengarang      :   Dag Solstad
Penerjemah    :   Irwan Syahrir
Penerbit           :   Marjin Kiri
Tebal               :    138 halaman
Tahun              :   2017





Tidak banyak novel Norwegia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, salah satunya adalah Aib dan Martabat, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Norwegia.
Negara-negara Skandinavia dikenal sebagai negara yang tingkat kesejahteraannya tinggi, tertib, dan aman, dengan tingkat yang lebih baik dari negara Eropa lainnya. Namun demikian, dalam novel ini kita akan menemukan kesepian yang dialami masyarakat modern.

Alur cerita dalam novel ini sangat sederhana, karena yang hendak disampaikan pengarang adalah perasaan kekosongan dan kesepian yang dialami masyarakat modern, yang mungkin juga telah dialami oleh sebagian dari masyarakat negara dunia ketiga yang tinggal di kota-kota besar.

Tokoh utama adalah Elias Rukla, seorang guru bahasa sekolah menengah berusia 50-an tahun yang telah mengajar selama dua puluh lima tahun. Pelajaran bahasa atau sastra Norwegia bukanlah pelajaran favorit murid-murid, dan suatu hari Elias merasakan kesia-siaan dirinya ketika mendapati betapa para muridnya tidak memiliki minat sedikit pun terhadap bidang yang diajarkannya bahkan menampakkan kebencian, sehingga membuatnya merasa sia-sia dan membenci kondisi yang dihadapinya saat itu karena telah melakukan pekerjaan tersebut selama lebih dari dua puluh tahun. Rasa kesia-siaan dan putus asa itu demikian mendalam sehingga tanpa sadar Elias melampiaskannya di sekolah, yang berakibat fatal  karena membuatnya tidak pantas menjadi guru kembali.  Dalam keputus-asaannya ia kemudian berjalan menyusuri kota, memikirkan hidupnya selama ini – perkawinannya yang semakin tidak bahagia, pengkhianatan sahabatnya di kala muda, kehidupan yang datar, rekan-rekan kerja yang tidak bisa diajak bercakap-cakap tentang hal-hal yang berarti selain soal pekerjaan dan masalah remeh sehari-hari, pekerjaan dan pengabdian yang tidak dihargai karena masyarakat telah menjadi dangkal, lebih menghargai budaya pop murahan daripada sastra dan peradaban tinggi.  Dan kini pekerjaan tersebut tampaknya harus dilepaskannya, meskipun sebenarnya dia tidak lama lagi pensiun. Semua itu ada dalam pikiran Elias Rukla selama menyusuri kota Oslo setelah keluar dari sekolah dengan marah.  

Novel ini adalah monolog. Namun demikian banyak hal menarik di dalamnya. Misalnya kekecewaan Elias Rukla bahwa semua rekan gurunya tidak ada yang membicarakan ide-ide, perkembangan pengetahuan masing-masing bidangnya, atau hal-hal berarti lainnya ketika mereka bercakap-cakap di sekolah, melainkan hanya membicarakan tentang hutang-hutang yang mereka miliki, atau bahwa mereka telah bebas dari hutang, sehingga Elias menyebut mereka budak hutang. Bagian ini sungguh menggelikan, karena mengingatkan saya pada rekan-rekan kerja di  kantor.
“Orang-orang dalam lingkungan pergaulan Elias Rukla tidak lagi berbicara. Hanya singkat dan ala kadarnya. …Karena ruang publik yang diperlukan oleh sebuah percakapan sudah terisi.”

Tokoh novel adalah seorang idealis, seorang pemikir, namun harus menghadapi mayoritas yang dangkal, yang didukung oleh demokrasi. 
Novel ini sangat menarik karena mengingatkan saya pada kehidupan masyarakat modern di kota-kota besar, termasuk di Indonesia.

Monday, November 20, 2017

Sang Muslim Ateis



Judul                 :   Sang Muslim Ateis: Perjalanan dari Religi ke Akal Budi
Pengarang         :   Ali A. Rizvi
Penerjemah       :   Nanang Sukandar, Sukron Hadi
Penerbit             :   LSM Indeks
Tahun                :   2017
Tebal                 :   302 halaman


Penyerangan terhadap kaum minoritas seperti Ahmadiyah dan dipersulitnya pembangunan tempat ibadah penganut agama Kristen di berbagai daerah serta keberhasilan penggunaan isu agama untuk memenangkan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta baru-baru ini menunjukkan, bahwa kebebasan beragama baru menjadi milik mayoritas. Apabila kaum yang beragama minoritas saja belum mendapatkan kebebasan yang setara, bagaimana dengan mereka yang tidak beragama atau ateis?

Menurut Nanang Sukandar, Direktur Eksekutif Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) yang menulis pengantar buku ini, sekitar 1,5% penduduk Indonesia adalah ateis. Namun tentu saja mereka tidak bisa mengekspresikan diri mereka secara terbuka, karena adanya diskriminasi bahkan persekusi dari masyarakat.  Indeks kebebasan di Indonesia juga terus merosot, dari status negara “bebas” pada tahun 2013 menjadi “setengah bebas” pada 2014. Oleh karena itu sebagai upaya advokasi kebebasan beragama, termasuk kebebasan untuk tidak beragama, maka dilakukan penerjemahan buku dari penulis ateis eks muslim ini.
Suatu upaya yang patut dihargai, meskipun sayangnya buku ini diterbitkan sangat terbatas dan tidak tersedia di toko-toko buku. Tentu ini karena tidak adanya kebebasan beragama (dan tidak beragama) tadi, sehingga tidak ada toko buku yang berani menjual buku tentang pandangan ateisme atau bahkan sekedar kritik terhadap agama, sama dengan  terjemahan The God Delusion yang hanya dijual secara online  oleh penjual perorangan. Sayang sekali bahwa demokrasi kita hanya membawa kebebasan bagi kaum radikalis, sehingga buku mereka banyak  dijual di toko-toko buku besar, betapapun absurdnya, sementara buku-buku yang membawa pencerahan seperti ini tidak dapat diakses masyarakat luas.

Tulisan Ali A. Rizvi dianggap relevan untuk Indonesia, karena penulis adalah eks muslim. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, masyarakat perlu mengetahui fenomena ateisme di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, serta hal-hal yang menyebabkan seorang muslim menjadi tidak percaya, dengan harapan muncul sifat lebih terbuka terhadap ateis eks muslim.  Hal ini menjadi penting karena sekarang masyarakat Indonesia telah menjadi sangat konservatif dalam beragama, berbeda dengan empat puluh atau lima puluh tahun yang lalu dimana dimana masyarakat masih sangat moderat bahkan liberal.

Sang Muslim Ateis mengisahkan kehidupan Ali A. Rizvi sebagai seorang dokter dari Pakistan yang pernah dibesarkan di Libya dan Arab Saudi.  Sebagaimana kaum muslim di seluruh dunia, ketika kecil ia belajar membaca dan menghafal Al Quran meskipun tidak bisa berbahasa Arab, dan dibesarkan dengan nilai-nilai Islami, juga pendapat bahwa terorisme bukanlah disebabkan agama, namun disebabkan masalah ekonomi, politik dan lainnya. Ia mempercayai semua itu, hingga – seperti halnya Ayaan Hirsi Ali – terjadi peristiwa September 1999. Peristiwa tersebut membuatnya meneliti kembali agama yang dianutnya selama ini, termasuk mengingat masa kecilnya di Saudi. 
Disana sering terjadi hukuman pancung di alun-alun yang ditonton orang banyak dalam hysteria, terutama jika korbannya berlainan agama, selain hukuman potong lengan bagi pencuri, hukum cambuk bagi korban perkosaan, larangan menjalankan agama bagi kaum minoritas, dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap perempuan.  Ia merasa bahwa ada yang salah dengan lingkungan tersebut, namun keluarganya selalu mengatakan bahwa budaya Arab Saudi – tempat asal mula agamanya -  tidak ada sangkut pautnya dengan Islam yang sejati, negara tersebut memiliki Islam yang semuanya salah.
Peristiwa lain yang membuatnya meneliti keyakinannya adalah penikaman seorang tentara Inggris  pada 2013. Pelakunya menyebut bahwa tindakannya “terinspirasi oleh Al Quran..surat At Tawbah dan banyak ayat lain, yang memerintah kami memerangi mereka seperti mereka memerangi kami.” Dalam surat tersebut ayat 29,30, Rizvi menemukan perintah untuk memerangi umat Kristiani dan Yahudi sampai mereka masuk Islam dan membayar pajak jizyah – sebagaimana ISIS melakukannya di kota-kota seperti Mosul. Rizvi juga menemukan bahwa hukuman penyaliban bagi para penentang sebagaimana diklaim ISIS dapat ditemukan dalam surat Al Maaidah ayat 33 atau ayat 4 surat Muhammad untuk pemenggalan musuh. 

Rizvi mempelajari terjemahan Al Quran dan menemukan bahwa semua tindakan bangsa Saudi memiliki dasar di Quran: pemancungan terhadap disbelievers/ kafir (surat 8:12-13), pemotongan tangan bagi pencuri (surat 5:38), kekerasan dalam rumah tangga (surat 4:34), pembunuhan terhadap politeis (surat 9:5).  Hal tersebut cukup mengejutkan baginya; mengapa selama ini keluarganya tidak pernah menyebutkan bahwa hal-hal ini terdapat di Quran? Namun ketika ia bertanya kepada para ahli, mereka semua memberikan apologi, yaitu bahwa:
-     Ayat itu ditafsirkan dengan salah
-    Jika penafsiran benar, ayat itu berada dalam konteks yang spesifik pada saat itu, atau keluar dari          konteks
-  Jika kandungan ayat itu keliru, maka itu karena metafor, dan ia memaknainya terlalu literal
-  Jika banyak orang Saudi dan bangsa Arab lainnya menjelaskan dengan cara seperti Rizvi, maka ia diingatkan bahwa orang Saudi telah disuap Amerika sejak dulu dan orang Mesir membuat perjanjian  perjanjian  dengan Yahudi.
Apabila semua pembelaan di atas gagal, maka mereka akan mengatakan bahwa itu semua cuma kata-kata kecuali ditafsirkan dengan benar. Sama dengan pendapat para ustad atau ahli agama Indonesia bukan? Rizvi menyadari bahwa semua hal akan dilakukan untuk menyelamatkan Quran dari kritik, namun ia  terus meneliti untuk mendapatkan pembacaan yang obyektif. Baginya agak aneh bahwa pemeluk Islam yang moderat seperti keluarganya tidak bersedia mengikuti perintah Quran secara literal seperti Arab Saudi mengikutinya, namun hanya mengambil surat-surat yang sesuai dengan ukuran moralitas mereka sendiri. Jika demikian, bukankan hal itu berarti mereka telah memiliki ukuran moralitas sendiri, yang lebih baik dari Quran, namun mengapa mereka masih mempertahankan dan membela buku yang penuh kekejaman tersebut?

Hal lain yang disorot Rizvi adalah klaim Islam sebagai agama damai. Tidak mudah menjelaskan hal ini karena Quran penuh dengan kontradiksi. Selain surat-surat yang berisi kekerasan, terdapat pula yang menyerukan kebaikan seperti memberi sedekah, tidak mencuri. Namun sebenarnya anjuran berbuat baik ini biasa saja, karena telah ada sebelum Islam muncul, antara lain pada bangsa Yunani maupun ajaran Konfusius. Bagaimana menafsirkan kontradiksi ini? Menurut Rizvi, kontradiksi itu dapat dimengerti jika kita memahami bahwa ayat-ayat yang bersifat kebaikan – seperti memberi makan anak yatim – adalah untuk kaum muslim sendiri, sedangkan ayat yang bersifat kekerasan adalah untuk kaum di luar Islam.  

Selanjutnya, Rizvi menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari politik, itu sebabnya Palestina mendapat dukungan kaum muslim dan para jihadis selalu meneriakkan Allahu Akbar dan ISIS memperbudak gadis-gadis Yahudi. Agama juga bukan budaya, meskipun kaum Islam moderat mengatakan demikian. Sebagai contoh, Rizvi menunjuk banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Nabi menikahi Aisyah pada umur 6 tahun dan menggaulinya pada umur 9 tahun, sesuatu yang mengerikan bagi muslim liberal namun di Saudi hal tersebut masih dilakukan dan mendapat dukungan dari otoritas. Hal ini didukung oleh Quran surat 65:4 mengenai petunjuk menceraikan perempuan-perempuan tertentu, termasuk “mereka yang belum menstruasi”, sehingga ditafsirkan menikahi perempuan di bawah umur diperbolehkan. Oleh karena itu Khomeini menurunkan batas minimum perkawinan menjadi 9 tahun bagi perempuan, sementara Saudi tidak memiliki batas minimum.
Rizvi juga mengkritik kaum muslim moderal atau liberal yang selalu menyangkal adanya kaitan antara agama dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh teroris, dengan mengatakan bahwa tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan Islam, atau bahwa Islam yang sebenarnya tidak seperti itu. Hal itu tidak benar, karena para teroris atau jihadis tersebut jelas-jelas mengutip ayat-ayat Quran sebagai hal yang memotivasi mereka melakukan tindakan tersebut. Masalah yang dihadapi kaum muslim adalah bahwa “keyakinan agama begitu mendarah daging dalam identitas personal, social, dan kultural dari berbagai mmasyarakat di dunia muslim, sehingga kritik apapun terhadap agama langsung dianggap sebagai serangan personal.”

Selain hal di atas, Risvi mengungkapkan hal-hal yang membuatnya meninggalkan Islam. Mungkin banyak orang lain mengalaminya juga, namun karena ajaran agama dari kecil yang begitu kuat, tidak berani mempertanyakannya. Hal-hal tersebut yaitu:
a.    The problem of evil: jika Tuhan maha penyayang, mengapa ia memberi penyakit kanker pada orang-orang baik? Mengapa doa meminta kesembuhan tidak ada gunanya, namun pengobatan – yang berasal dari sains – dapat menyembuhkan secara efektif? Mengapa keharusan mencintai Tuhan disertai dengan ancaman neraka?  
b.   Sains: pemahaman akan luasnya alam semesta yang didapat antara lain dari Carl Sagan, membuat ayat-ayat yang menjelaskan tentang penciptaan alam terasa tidak berarti, karena banyak hal tidak dijelaskan disana yang kini dapat kita ketahui dari sains.
c. Moralitas: kisah Nabi Ibrahim yang bersedia membunuh anaknya demi Tuhan menimbulkan pertanyaan: apakah cinta kepada Tuhan berarti membolehkan apapun, termasuk membunuh anak sendiri?
d. Sebagai seorang dokter, maka Rizvi membandingkan klaim Quran mengenai perkembangan pertumbuhan janin dengan ilmu kedokteran. Diantaranya surat 23:13-14 yang menyebutkan bahwa perkembangan janin dimulai dari telinga, mata, lalu hati. Hal tersebut tidak benar, karena seharusnya dimulai dari jantung, kemudian telinga dan mata bersamaan. Yang paling fatal adalah bahwa Quran tidak pernah menyebutkan ovum atau sel telur - penyumbang lebih dari setengah materi genetik - sebagai sumber embrio. Selain itu masih banyak  kesalahan klaim Quran terkait embriologi yang membuktikan bahwa Quran hanya mengulangi penemuan sebelumnya oleh Hippocrates, Aristoteles, Galen, dan lainnya. Hal ini  menunjukkan bahwa sains dapat lebih diandalkan sementara agama mengaburkan segala sesuatu.

Dalam buku ini penulis juga menceritakan kehidupan kaum muslim di Amerika Utara – tempat ia tinggal – yang relatif liberal dan tidak berbeda jauh dengan penduduk Amerika pada umumnya. Agama lebih merupakan suatu tradisi, namun nilai-nilai yang dianut bersifat liberal. Kaum perempuan juga jarang yang berhijab. Baginya, hal itu lebih baik, karena kaum radikal dan teroris sangat berbahaya; mereka tidak menghargai kehidupan, karena bagi mereka yang berharga hanyalah akhirat. Dasar yang mereka ajukan adalah ayat-ayat Quran, antara lain surat 3:169-170, 2:154.  Rizvi bertanya, bagaimana ia melawan pendapat mereka tanpa menentang Quran?

Banyak lagi hal lain yang disampaikan Rizvi yang menurut saya perlu dibaca oleh kaum muslim Indonesia yang semakin lama semakin fanatik pandangan agamanya, agar pikiran mereka sedikit terbuka. Rizvi menulis dengan baik dan sopan, tidak seperti para penulis hard atheist, sehingga tidak akan menimbulkan kemarahan kaum muslim. Terbukti bahwa ia tidak dikejar-kejar para Islamis.

Buku ini menjadi harapan saya karena saat ini saya sudah semakin lelah menghadapi teman-teman yang demikian relijius hingga taraf absurd. Grup media sosial setiap saat ditaburi dakwah atau ayat-ayat Quran, seolah-olah tidak ada teman yang beragama Kristen atau yang tidak percaya, seolah-olah mereka berbuat baik dengan berdakwah tiap hari. Selama ini tulisan-tulisan itu saya hapus begitu saja tanpa kritik atau balasan berupa tulisan yang “mencerahkan”. Di kantor, semua rajin sembahyang lima waktu dan 90% telah berhijab, satu demi satu teman-teman dan pegawai baru mengenakannya, seolah takut berbeda, dan setiap kali ada yang “berhijrah”, sambutannya demikian hangat: “selamat”, “semakin cantik,” dan yang baru mengenakan menjawab dengan malu-malu, “ah, baru belajar, masih berantakan…”. Sementara saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena agama adalah urusan pribadi.  Sudah untung di kantor tidak ada yang berani menyuruh saya sembahyang, berhijab atau belajar membaca Quran huruf Arab. Di lingkungan rumah, ibu saya sering disindir untuk mengenakan hijab dan mengikuti pengajian. Dengan tekanan sosial seperti ini, hanya segelintir perempuan yang sanggup bersikap liberal, dan tidak seorang pun berani meninggalkan agamanya. Teman saya yang paling liberal pun  melakukan ibadah haji. Ya, masyarakat Indonesia telah berubah, begitu mudahnya menjadi konservatif. Mengapa? Sebagaimana ditulis juga dalam buku ini, meninggalkan agama yang memberi makna, perlindungan dan lingkungan tidaklah mudah. Sebelum itu, seseorang harus memiliki pikiran kritis dan curiousity atau rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran berbeda, dengan membandingkan ajaran agamanya dengan penemuan dari ilmu pengetahuan, sejarah, dan mungkin sedikit filsafat…dengan sifat orang Indonesia yang malas membaca buku dan bersifat komunal, siapa yang mau peduli melakukan semua itu?  Sementara setiap saat khotbah-khotbah di masjid dan televise terus memborbardir setiap orang dengan ancaman neraka apabila tidak percaya  dan mengikuti ajaran mereka. Berapa orang yang masih mau meluangkan waktu untuk berpikir dan membaca buku?

Mudah-mudahan buku ini dicetak kembali kelak, agar dapat memberi dampak lebih besar bagi sikap beragama yang lebih liberal dan toleran di Indonesia. Golongan ateis dan agnostik Indonesia tetap tidak akan dapat bersikap terbuka di masyarakat, namun paling tidak mereka dapat menyebarkan buku ini kepada sekelilingnya agar tidak terlalu fanatik.

    

Friday, October 14, 2016

Dark Star Safari & The Last Train to Zona Verde



Judul    :       Dark Star Safari: overland from Cairo to Cape Town 
                    The Last Train To Zona Verde: my ultimate African safari
Penerbit:       Houghton Mifflin Company & Mariner Books, USA
Pengarang:   Paul Theroux
Tahun   :       2003 & 2014
Tebal    :       472 & 353 halaman



Salah satu manfaat buku perjalanan adalah, kita dapat bepergian kemana pun, bahkan ke tempat-tempat yang paling berbahaya hanya dengan membaca buku di rumah yang nyaman. Bagi pembaca yang berjiwa petualang namun tidak memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia – baik karena kendala waktu, dana maupun kekuatan fisik - maka membaca buku perjalanan nyaris seperti melakukan petualangan itu sendiri.

Bahkan di abad 21, benua Afrika masih seperti heart of darkness – meminjam judul novel Joseph Conrad – karena dibandingkan benua lainnya yang mengalami kemajuan pesat dan relatif aman, Afrika masih terasa berbahaya dan tertinggal: minim infrastruktur, didera banyak penyakit, kemiskinan parah, dan perang berkepanjangan, sehingga tidak banyak orang berani melakukan perjalanan biasa kesana, dan tidak banyak informasi yang dapat kita ketahui tentang wilayah tersebut. Padahal benua tersebut dihuni satu miliar jiwa atau sepertujuh penduduk dunia dan pertumbuhan populasinya tergolong yang paling pesat di dunia. Kita pada umumnya  hanya tahu bahwa disana banyak terdapat  padang-padang savanna dan  taman-taman nasional yang menjadi atraksi turis untuk melihat alam dan binatang liar seperti singa, jerapah, gajah, burung-burung, dan sejenisnya.  Atau bahwa disana banyak terdapat anak-anak kelaparan dan berbagai epidemi.

Paul Theroux, yang terkenal dengan buku perjalanannya melintasi Asia dengan kereta The Great Railway Bazaar menjadi anggota Peace Corps pada tahun 1970-an di wilayah Uganda dan Malawi, dengan menjadi guru dan kemudian mengajar di universitas selama beberapa tahun sebelum meninggalkan Afrika menjelang Idi Amin berkuasa. Sebagai pemuda yang baru lulus sekolah dan idealis, pengalaman mengajar di Afrika turut membentuk karakternya dan meninggalkan kenangan indah, membuatnya ingin selalu kembali untuk melihat perkembangan Afrika.
Tiga puluh tahun sesudahnya,  yaitu pada 2002 Theroux kembali mengunjungi Afrika melalui perjalanan darat, khususnya kereta api, dari Kairo menuju Cape Town melewati Sudan, Ethiopia, Kenya, Uganda,  Tanzania, Mozambique, Zimbabwe, dan berakhir di Afrika Selatan. Perjalanan ini menjadi buku Dark Star Safari.
Sepuluh tahun kemudian, pada 2012 Theroux mencoba melintasi Afrika melalui darat dari arah selatan ke utara  melalui bagian barat, yaitu dari Cape Town ke Namibia, Angola, Kongo, Gabon, Kamerun, Nigeria, dan berakhir di  Timbuktu, Mali. Namun minimnya infrastruktur dan kondisi kota-kota Afrika yang dilihatnya semakin memburuk dan berbahaya – Nigeria mirip dengan Angola dalam hal korupsi dan kemiskinannya, ditambah adanya Boko Haram, Lagos dan Kinshaha (Kongo) hanya versi besar Luanda (ibu kota Angola) yang kumuh, dan wilayah pedesannya hanya berisi “idle youth, ailing villagers, beggars, rappers”, Mali dikuasai Al Qaeda, membuat Theroux merasa perjalanannya hanya suatu kesia-saan, sehingga ia membatalkan rencananya dan mengakhiri perjalanannya hanya sampai di Zona Verde, Angola. Stasiun kereta terakhir di utara, namun setelahnya tidak ada kereta atau jalan darat ke Kongo.  

Apa yang membuat penulis merasa sedih? Kota-kota yang semakin besar namun kehilangan ciri khasnya karena kini dipenuhi perumahan kumuh yang kemiskinannya tiada duanya di dunia, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, yang melenyapkan padang-padang savanna atau daerah hijau, pemerintahan yang luar biasa korup dan tak peduli pada rakyat, dan penduduk yang apatis, sangat pemalas dan agresif terhadap orang asing.

Dalam Dark Star Safari kita bisa mengetahui bahwa pada tahun 2000-an Sudan masih belum begitu berbahaya; penulis bisa menjelajah padang pasir berhari-hari dan mengunjungi lokasi dimana terdapat banyak pyramid mini, kemudian ke Malawi yang masih mnejadi bagian dari Ethiopia, bertemu teman-teman lama dan murid-murid yang telah menjadi orang sukses di Uganda yang telah relatif aman, hingga ke Zimbabwe yang kala itu belum bangkrut dan tampaknya masih ada harapan. Namun dalam buku ini pun pembaca dapat mulai merasakan kemunduran jika tidak bisa dibilang keruntuhan Afrika: sekolah dan universitas tempat Theroux mengajar dulu gedungnya telah hancur, perpustakaannya kosong karena bukunya habis dicuri, dan pasangan Inggris yang dahulu mendirikan sekolah dan mengabdikan sisa hidupnya untuk mengajar disana seperti tidak pernah berada disana - tidak seorangpun mengingatnya lagi, sekolahnya hancur dan makamnya terlupakan.

Theroux selalu melakukan perjalanan dengan transportasi umum seperti kereta dan bus serta berbicara dengan setiap orang yang ditemuinya di perjalanan dan menuliskan dialognya dengan orang-orang tersebut secara detil, serta melakukan kunjungan kepada penulis atau orang berpengaruh setempat untuk mengumpulkan informasi tentang wilayah yang dikunjunginya. Informasi dan pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan penduduk setempat ini ditulis dengan sangat jujur, sesuatu yang mungkin membuatnya disebut sebagai penulis arogan atau sinis. Ia menulis dengan jujur ketidak-sukaannya pada lembaga-lembaga donor Barat yang membantu negara-negara Afrika dengan jip mewahnya, karena menurut penulis kehadiran mereka bertahun-tahun tidak mengubah apa-apa, sebab sumber permasalahan adalah pemimpin-pemimpin Afrika yang sangat korup dan mengkhianati rakyatnya sendiri, sementara rakyatnya yang putus asa demikian pemalasnya sehingga tidak melakukan apa pun, bahkan membersihkan rumah dan halaman sendiri pun tidak, sehingga kota-kota Afrika sangat kotor.
Penulis juga mengungkapkan kekhawatirannya akan kehadiran imigran Cina di Afrika. Selama ini Cina dikenal tidak mempedulikan etika para pemimpin Afrika; selama perdagangan dengan Afrika menguntungkan, mereka akan melakukan transaksi tidak peduli pemerintahnya otoriter atau korup. Demikian pula para imigran Cina, mereka tidak peduli dengan penduduk setempat asalkan bisnisnya menguntungkan, dan penduduk Afrika tampaknya tidak akan bisa bersaing dan akan kalah dari imigran Cina. Hal ini tidak disadari para pemimpin Afrika yang tidak peduli rakyat. 

Membaca kedua buku ini saya mendapat gambaran bahwa mungkin tidak hanya Afrika, tapi  sebagian besar wilayah dunia mengalami beberapa masalah yang sama: pertumbuhan penduduk yang terlalu pesat, degradasi lingkungan cukup parah, meningkatnya derajat kemiskinan karena penduduk miskin berpindah ke kota-kota yang menjadi mega city, dan menurunnya tingkat keamanan antara lain karena meningkatnya radikalisme, dengan tingkat terparah terdapat di Afrika.
     
Pengamatan penulis yang mendalam baik terhadap alam sekitar maupun penduduk lokal, simpatinya terhadap rakyat biasa yang harus berjuang keras untuk hidup atau dikhianati pemerintahnya sendiri, dan kritiknya yang jujur dan tajam terhadap hal-hal yang menurutnya tidak adil membuat buku-buku perjalanan Theroux bagi saya merupakan yang terbaik di antara buku-buku perjalanan yang pernah saya baca.
Seperti membaca sebuah novel yang mengharukan.
 

Tuesday, April 12, 2016

Blues Merbabu




Judul    :       Blues Merbabu
Pengarang:   Gitanyali
Penerbit:       Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun   :       2011   
Tebal    :       186 hal


 Sudah sering saya membaca tulisan Bre Redana, baik di Kompas maupun dari kumpulan cerpennya, namun baru belakangan saja saya tahu bahwa ia juga menulis novel semi biografi yang mengisahkan pengalamannya sebagai keluarga anggota PKI. Ayahnya diambil tentara ketika ia masih duduk di sekolah dasar, dan banyak teman atau kerabatnya kemudian juga tidak jelas nasibnya. Meskipun demikian, tidak seperti memoir korban pemberantasan PKI lainnya yang penuh drama atau kesedihan, novel ini bercerita dengan ringan bahkan di beberapa bagian terasa kocak.

Blues Merbabu menceritakan masa kecil pengarang di sebuah kota di bawah gunung Merbabu, yaitu Salatiga. Biasa saja sebenarnya, namun mungkin mengingatkan kita pada diri sendiri. Dalam mengenang rumah, kota dan orang-orang yang kita kenal pada masa kecil, selalu ada romantisme:  rumah terasa begitu besar, kota sangat indah dan sepi, orang-orang yang kita kenal tampak  baik atau cantik, masa lau begitu menyenangkan dengan keluarga atau teman-teman…

Kisah diceritakan dengan cara kilas balik. Seorang wartawati muda ingin mengetahui masa kecil Gitanyali dan karena tertarik dengan romantisme kisahnya, berkeras untuk mengunjungi kota tersebut dan menemui teman-teman masa kecilnya. Apakah masa lalu memang selalu tampak indah hanya karena kita masih kanak-kanak, atau karena sudah berlalu?  Apakah sebenarnya semua itu biasa saja?

Kekecewaan ketika menapak tilas tempat-tempat atau orang-orang yang di masa kecil tampak mengesankan merupakan hal yang biasa kita alami. Bagi Gitanyali hal itu adalah blues Merbabu.  Mungkin itu sebabnya orang suka bernostalgia, karena segala sesuatu yang telah lewat terasa lebih indah. Namun apabila kota atau tempat-tempat dan orang-orang yang kita kenal di masa lalu telah berubah, mungkin lebih baik kita tidak mendatanginya kembali, untuk tidak merusak kenangan indah di masa lalu.

Kisah penculikan ayah Gitanyali tidak terlalu banyak diceritakan, namun pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa pandangan dan cara hidup setiap orang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari masa kecilnya, bahkan seringkali hal itu sangat menentukan kehidupannya di kemudian hari.
Sebuah novel yang cukup menarik, dan menambah khasanah cerita berlatar gerakan 30 September.
 

Monday, February 22, 2016

Isinga dan Kain Cinta Tanpa Batas



 Judul    :       Isinga, sebuah roman Papua
Pengarang:   Dorothea Rosa Herliany
Penerbit:       Gramedia
Tahun   :       2015   
Tebal    :       218 hal





Judul    :       Kain Cinta Tanpa Batas
Pengarang:   Magdalena Sitorus
Penerbit:       Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun   :       2015   
Tebal    :       252 hal




Ketatnya adat atau tradisi beberapa suku di Indonesia seringkali menindas kaum perempuannya, sehingga hanya perempuan yang kuat yang dapat mengatasinya. Demikian yang hendak disampaikan oleh kedua novel ini, yang berlatar adat Papua dan Sumatera Utara.




Isinga mengisahkan seorang gadis cantik di pedalaman Papua yang diculik oleh pemuda dari suku yang berbeda, yang merupakan musuh sukunya. Untuk menghindari peperangan, maka ia terpaksa harus menikah dengan Magea, pemuda yang menculiknya, sehingga membuat  Abanga, kekasihnya patah hati dan pergi dari desa sukunya.
Sebagaimana laki-laki Papua pada umumnya, Magea tidak pernah bekerja kecuali membuka ladang baru, dan menginginkan banyak anak. Seluruh pekerjaan termasuk berladang, menyediakan makanan sehari-hari dan mengurus anak merupakan tugas Irewa. Meskipun demikian, Irewa masih sering  mendapat bentakan dan siksaan dari Magea, sehingga pada suatu hari ia pergi hingga sampai ke kampung asalnya di dataran rendah, yang lebih maju dari kampung Magea.
Di kampung halamannya, Irewa yang menderita sakit kemudian dirawat oleh Sisi, yang  ternyata adalah saudara kembarnya. Sebagaimana adat suku-suku primitif, anak kembar dianggap kutukan, sehingga salah satu harus dibuang. Oleh karena itu Sisi diambil anak oleh suster Vivi, seorang misionaris berkebangsaan Jerman. Sisi berpendidikan baik dan bercita-cita tinggi, bahkan kemudian disekolahkan ke Jerman untuk menjadi dokter.
Sementara itu, kekasih Isinga yang patah hati berkelana dan bertemu dengan Rere, yang memelihara tradisi musik asli dengan berkeliling Papua. Namun kegiatan Rere tidak disukai penguasa, sehingga ia terbunuh dan nasib Abanga di Papua terancam. Bagaimanakah nasib Rere, Sisi dan Isinga selanjutnya?

Dalam novel ini, digambarkan beratnya tugas yang harus dijalankan oleh perempuan Papua, yang bertanggung jawab mencari nafkah dan mengurus seluruh anaknya, melahirkan sendirian di hutan, menghasilkan banyak anak, namun masih dianiaya oleh suami dan dalam masyarakat hanya diwajibkan bersabar dan menerima apapun perlakuan suami, sehingga bunuh diri merupakan hal yang hampir dianggap wajar. Dalam novel Sali – yang juga mengisahkan kehidupan perempuan Papua – tokohnya bunuh diri. Namun Isinga tidak bunuh diri. Ketika hendak terjun ke sungai, tiba-tiba ia teringat anak-anaknya, bahwa ia memiliki tanggung jawab membesarkan mereka. Ia tidak jadi bunuh diri dan kemudian berusaha mencari nafkah dengan berjualan hasil ladang ke pasar. Dan melihat perempuan Jawa di pasar yang berani membela haknya, ia kemudian berani bersikap tegas kepada suaminya yang menjual tanah adat untuk mengunjungi perempuan bayaran. Ia bahkan menjadi aktivis untuk mengusir mereka karena  memberi pengaruh buruk kepada masyarakat adat yang masih lugu.

Tokoh perempuan dalam novel ini adalah perempuan yang kuat: ia sanggup menikah dan dianiaya oleh laki-laki musuh sukunya, ia tidak merasa iri melihat nasib baik saudara kembarnya, ia sanggup membesarkan ketiga anaknya sendirian, ia berani menjadi aktivis.  Demikian pula saudara kembarnya: ia pintar, bersifat sosial dan bercita-cita tinggi.  Sementara itu tokoh laki-laki Papua digambarkan pemalas, kejam, bodoh dan gamang menghadapi berbagai perubahan.
Namun pembaca tidak tahu sifat rata-rata perempuan Papua, seperti Sali ataukah Isinga, karena  masyarakat Papua tidak tergambarkan disini. Tidak ada kisah mengenai teman-teman atau tetangga perempuan Isinga. Mungkinkah Isinga merupakan perkecualian atau gambaran ideal penulisnya akan perempuan Papua?

Kain Cinta Tanpa Batas menggambarkan kehidupan keluarga suku Batak pada awal tahun 1970-an di Jakarta. Tokohnya, Hotma, menikah dengan anak keluarga kaya, namun selalu dimarahi oleh mertuanya karena tidak juga mampu memberikan anak laki-laki. Demikian pentingnya seorang anak laki-laki bagi keluarga mertuanya, dan tuntutan yang terkeras justru dari mertua perempuannya.  Sementara itu, suaminya seorang yang lemah, yang hanya mampu bekerja di perusahaan pamannya, takut kepada ibunya, bahkan karena kehidupan yang kurang teratur, akhirnya meninggal. Namun Hotma adalah seorang wanita yang berbudi luhur dan kuat, ia tidak menikah lagi, dan memilih hidup dengan bekerja untuk membesarkan anaknya sendirian hingga dewasa.
Apakah keluarga Batak di masa kini masih seperti itu? Meskipun mereka terkenal kuat mempertahankan adat, mungkin di masa kini tuntutan akan penerus laki-laki tidak sekeras dulu.  

Kedua novel ini memiliki tema yang sama, yaitu tentang kekuatan perempuan mengatasi berbagai  tantangan yang merugikan dirinya, yang berasal dari adat istiadat yang tidak menguntungkan posisinya atau bahkan menindas.
Tema tersebut akan menarik apabila penulis dapat menggambarkan perasaan dan perkembangan karakter tokohnya secara mendalam dari sisi tokoh tersebut, sehingga pembaca dapat menyelami perasaan tokoh tersebut ketika menghadapi berbagai permasalahan dan mengatasi masalahnya, karena tentunya tokoh perempuan tersebut sering mengalami kesedihan, keputusasaan, kesepian, kekurangan uang, dan hal-hal buruk lainnya. Sayangnya, kedua penulis kurang menggarap hal tersebut, sehingga akhir yang happy ending tampak seperti sebuah pelajaran atau nasihat saja: jadilah perempuan yang sabar, bertanggung jawab, dan tahan penderitaan, agar bisa membesarkan anak-anak dan hidup tenang di kala tua.