Tuesday, October 08, 2019

Manusia Digital



Judul                     :   Manusia Digital – Revolusi 4.0 Melibatkan Semua Orang
Pengarang            :   Chris Skinner
Penerjemah          :   Kezia Alaia  
Penerbit                :   Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal                     :   416 halaman
Tahun                    :   2019


Digitalisasi telah merambah semua bidang, dari perbankan hingga kehidupan sehari-hari. Buku ini memberi gambaran singkat tentang perkembangan tersebut dan prediksi untuk dua hingga tiga dekade  mendatang, yang terbagi atas 7 bab sebagai berikut:

Bagian pertama membahas tentang tahap-tahap evolusi manusia hingga mencapai tahap Manusia Digital. Penulis membaginya dalam 5 tahap. Tahap pertama yaitu penciptaan keyakinan bersama, tahap kedua penciptaan uang, tahap ketiga revolusi industri, tahap ke empat era jaringan, dan terakhir adalah masa depan, dimana manusia akan mengkolonisasi angkasa luar dan hidup lebih dari serratus tahun.

Bagian kedua buku membahas mengenai evolusi dalam digitalisasi. Era pertama yaitu penciptaan komputer dan pengembangan web, berupa proyek ARPANET yang merupakan cikal bakal internet dan penciptaan dasar-dasarnya yaitu HTML, URI, HTTP oleh Barnes Lee pada tahun 1990. Selanjutnya era kedua ditandai dengan dimulainya jaringan, dengan munculnya situs web pertama pada tahun 1991, yang kemudian memunculkan perdagangan melalui internet, ditandai oleh munculnya Amazon (1995), PayPal dan Alibaba (1999). Era ketiga ditandai dengan munculnya jaringan sosial yaitu blog (2003), Facebook (2004) dan Youtube (2005). Masa ini bersamaan dengan munculnya telepon pintar (2007). Era ke empat atau Web 3.0 adalah internet pasar. Pada masa ini muncul bank  terbuka, yaitu bank-bank yang menuju struktur layanan mikro, pasar terbuka, dan berfokus pada pengembangan digital. Akhirnya era ke lima atau Web 4.0 yang akan datang pada tahun 2020-an, dimana kecerdasan buatan akan mulai mencapai tingkat kesadaran.

Bagian ketiga membahas mengenai perkembangan dan kebangkitan platform dan marketplace. Penulis menjelaskan bagaimana hanya dalam waktu dua puluh tahun, kapitalisasi perusahaan-perusahaan digital (Apple, Microsoft, Amazon, Fb, Airbnb, PayPal, Ant Financial) telah melampaui perusahaan-perusahaan tradisional yang berusia ratusan tahun (Exxon, Citi, Braclays, Deutsch Bank). Selanjutnya berdasarkan data tersebut penulis menyarankan agar bank-bank tradisional mengubah system informasinya yang tertutup dengan sistem terbuka yang dapat dirancang ulang arsitekturnya setiap beberapa tahun sekali dan terbuka terhadap kecerdasan buatan sehingga dapat memberi informasi lebih banyak bagi nasabahnya dan diri sendiri, dengan demikian memberikan pelayanan lebih baik dan memberikan pendapatan lebih besar. Hal ini juga agar bank dapat bersaing dengan platform keuangan (fintek) yang akan semakin berkembang di masa depan.

Bagian ke empat membahas mengenai kebangkitan robot, dimana setiap peralatan yang kita miliki akan dapat saling berhubungan, sehingga hanya sedikit sekali yang perlu kita lakukan. Hal ini terkait dengan semakin majunya kecerdasan buatan, yang akan mencapai tahap ketiga yaitu kecerdasan buatan super, dimana mesin lebih pintar dari satu kesatuan umat manusia. Pekerjaan akan banyak diotomasi.

Bagian kelima khusus membahas tentang teknologi finansial, antara lain  Regtech untuk teknologi regulasi, insurtech untuk asuransi, dan tekfin untuk pembayaran, pinjaman, identitas digital, keamanan siber, inklusi keuangan, analitik, roboadvice, buku besar tersebar blockchain, dan lain-lain. Munculnya tekfin dapat menjadi ancaman bagi bank tradisional, karena sebagian dari mereka telah mampu mendirikan bank pula, meskipun masih terbatas memberikan kredit kecil dan menengah. Namun mereka berusaha menyatukan usaha perbankan mereka dengan tekfin yang mereka miliki.

Bagian ke enam berisi uraian mengenai perkembangan tekfin terutama di negara-negara berkembang dalam meningkatkan inklusi keuangan. Di Afrika Tekfin berhasil membuat identitas digital dan melayani pembayaran non tunai serta transfer dengan biaya murah, melalui penggunaan telepon pintar. Demikian pula di India. Sedangkan di Cina tekfin mengurangi penggunaan tunai hingga tingkat minimal.

Bagian ke tujuh adalah mengenai perlunya bank-bank mengubah teknologinya apabila tidak ingin ketinggalan zaman, dan bagian ke delapan tentang sekilas mengenai masa depan.

Selain itu, terdapat bab khusus mengenai Ant Financial di bagian akhir buku, yang menurut penulis adalah perusahaan keuangan pertama untuk era manusia digital. Pada bagian ini diuraikan sejarah berdirinya Ali Baba, yang merupakan e-commerce. Tidak adanya kepercayaan terhadap penjual e-commerce dan tidak lazimnya penggunaan kartu kredit kemudian membuat didirikannya Alipay. Selanjutnya untuk memanfaatkan dana yang terdapat dalam Alipay, didirikan Yu’e Bao, platform untuk melakukan pembelian reksadana. Kemudian didirikan pula Taobao dan Tmall sebagai cabang Taobao untuk memasarkan produk para pengusaha kecil Cina. Akhirnya untuk melengkapi layanan pinjaman, didirikan MYbank pada tahun 2015. Alipay, Yu’e Bao dan MYbank menjadi Ant Financial. Tidak hanya di Cina, dalam jangka panjang Ant Financial memiliki tujuan untuk mendigitalkan semua layanan di seluruh dunia, dan sasaran pertama adalah Asia Tenggara.

Buku ini cukup memadai untuk mendapatkan pengetahuan dasar mengenai perkembangan ekosistem digital dan memahami perusahaan keuangan terbesar di Asia yaitu Ant Financial, yang mulai masuk ke Indonesia. Kesimpulannya, ekonomi digital lebih cepat berkembang di negara-negara dimana inklusi keuangan rendah, yaitu negara-negara miskin dan berkembang. Hal ini akan menguntungkan masyarakat apabila digunakan dengan baik, misalnya mengurangi biaya pencetakan uang, memudahkan transaksi perdagangan, dan meningkatkan dana untuk keperluan produktif. Di sisi lain, kecerdasan buatan dan data analitik akan menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, sehingga muncul tantangan bagaimana mempekerjakan tenaga yang digantikan oleh otomasi.

Sunday, October 06, 2019

Lentera Batukaru





Judul                   :   Lentera Batukaru
Pengarang          :   Putu Setia
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   255 halaman
Tahun                  :   2019




Banyak sudah yang menulis tentang peristiwa 30 September. Namun sebagian besar adalah tentang kejadian di Jawa, di penjara maupun di pengasingan. Kali ini Putu Setia, wartawan yang lama bekerja di Tempo, menulis tentang peristiwa tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya di Bali.

Cukup menarik membaca kisahnya. Buku ini lebih merupakan autobiografi seorang anak Bali yang meskipun hidup berkekurangan namun senantiasa gigih bekerja, bersyukur, dan memiliki prinsip yang kuat. Mungkin itu pula sebabnya ia menulis buku ini, agar dapat menjadi contoh bagi para pembaca yang lebih muda dan hidup prihatin, bahwa apabila kita selalu berusaha dan bersyukur akan selalu ada jalan untuk hidup lebih baik.

Sewaktu remaja Putu telah menjadi kader partai PNI, dan ketika terjadi peristiwa 30 September dengan posisinya sebagai Ketua Pemuda GSNI ia melindungi teman-teman sekolahnya yang rentan dituduh simpatisan PKI dan akan diculik atau dibunuh tentara. Selain itu ia menjadi penulis drama Gong untuk partainya dan sukses. Namun setelah peristiwa G 30 S,  mereka dipaksa membubarkan PNI dan menjadi anggota Golkar serta dilarang berkesenian lagi. Sebagai aktivis partai, ia tidak bersedia, sehingga pergi ke Denpasar dan kemudian bekerja menjadi loper koran, instalatur listrik, dan akhirnya wartawan surat kabar. Bakat menulisnya kemudian akhirnya menuntunnya menjadi wartawan majalah. Selama masa remaja tersebut, ia menyaksikan penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh tentara bahkan terhadap mereka yang tidak tahu apa-apa tentang komunis, termasuk penculikan terhadap salah satu keluarga besarnya, yang hilang begitu saja, serta akibatnya bagi keluarga mereka.

Buku autobiografi ini memberi gambaran jelas bagaimana proses penghancuran komunis dan PNI oleh tentara sebagaimana diulas oleh sejarawan Rickfles dalam Mengislamkan Jawa, misalnya. PNI yang bersifat sekuler dan kegiatan kesenian dihancurkan oleh tentara rezim Orba secara brutal. Proses ini kemudian diikuti dengan pemilu yang penuh kecurangan serta pembangunan masjid-mesjid dan pemaksaan untuk menganut salah satu agama serta menjalankan ritualnya. Selanjutnya kita ketahui sendiri – fanatisme dan radikalisme agama menjadi masalah baru.

Sampai saat ini tidak banyak yang diketahui kaum muda tentang kekejaman ini, sehingga penerbitan buku-buku yang menjelaskan peristiwa tersebut masih terus diperlukan. Oleh karena itu otobiografi Putu Setia ini merupakan tambahan yang baik untuk  memperkaya informasi tentang sejarah gelap bangsa kita.


Thursday, May 30, 2019

Gadis Pesisir



Judul                     :   Gadis Pesisir
Pengarang             :   Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                    :   321 halaman
Tahun                   :   2019, Januari


Gadis Pesisir adalah kisah tentang kehidupan seorang gadis remaja anak seorang nelayan miskin yang menjadi pendatang di wilayah Jayapura, Irian Jaya (Papua) untuk mencari kehidupan yang lebih baik pada awal tahun 1970-an. Kampung nelayan ini berdekatan dengan tempat pendidikan dan pelatihan calon polisi, yang instrukturnya tertarik untuk menikahi salah satu gadis nelayan, serta jatuh cinta kepada Halijah, gadis paling tidak menarik dan tidak diperhitungkan di kampung tersebut.  Berhasilkah keluarganya mendapatkan kehidupan lebih baik? Apakah ia sama seperti gadis-gadis lain, yang mencoba melepaskan diri dari kemiskinan dengan menikahi laki-laki yang bisa memberi makan cukup dan mengangkat derajat keluarga?   

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana, namun pengarang berhasil membuatnya nyata. Kehidupan masyarakat nelayan, yang merupakan pendatang dari berbagai daerah di Maluku dan Sulawesi digambarkan oleh pengarang dengan sangat baik melalui dialog yang meyakinkan dan konflik yang muncul dari perbedaan kekayaan, kecantikan, kenalan yang dimiliki, persaingan antar keluarga, dan upaya masing-masing untuk diperhitungkan dalam masyarakat atau keluar dari jeratan kemiskinan. Digambarkan pula bagaimana sistem patriarki, dengan dukungan konservatisme agama, membuat perempuan miskin semakin menderita karena laki-laki yang menjadi suaminya tidak memiliki belas kasihan.

Sebagai novel yang berlatar belakang masa awal Orde Baru, terdapat sedikit kisah mengenai peran tentara dan kondisi Papua di masa tersebut. Tentara diwakili oleh tokoh Bapak dan Ibu Jawa, yang masih memegang teguh adat Jawa, termasuk cara berpakaian adat Jawa, yang kini sudah nyaris punah dikalahkan budaya Timur Tengah.
     
Hal yang agak mengecewakan mungkin adalah cara pengarang mengakhiri novelnya, yang terasa tiba-tiba, serta tampak tidak konsisten dengan pendirian Halijah yang menyatakan akan mengambil kesempatan apapun untuk membalas penghinaan kepada keluarganya. Hal ini membuat karakter tokoh utama yang telah dibangun cukup baik di bagian sebelumnya menjadi tidak jelas. Pembaca mengira ia memikirkan harga diri keluarga, namun ternyata ia mencari kebebasan pribadi dan bagi keluarga cukup ketersediaan makanan saja. Jika penulisnya ingin tokohnya menjadi contoh tentang perempuan yang  dapat membebaskan diri dari tekanan lingkungan yang mengitarinya, maka hal itu kurang tergambar dengan baik dalam karakter tokohnya.  

Wednesday, May 29, 2019

A Crack in Creation



Judul                     :   A Crack in Creation: Gene Editing and  
                                 the  Unthinkable  Power  to  Control 
                                 Evolution
Pengarang          :    Jennifer A. Doudna & Samuel Sternberg
Penerbit              :    Mariner Books, NY
Tebal                     :  280 halaman
Tahun                   :   2018

Buku ini memberi informasi tentang perkembangan terakhir dalam biologi, yang tidak saja telah dapat melakukan sekuensing  DNA, namun juga telah mampu mengubah ataupun memperbaiki susunan DNA yang terdapat pada makhluk hidup dengan cara yang relatif mudah, sehingga dengan teknik baru ini tidak saja penyakit yang berkaitan dengan kelainan gen dapat disembuhkan, namun juga dapat digunakan untuk menciptakan bentuk fisik serta karakteristik tertentu sesuai yang diinginkan, bahkan perubahan tersebut dapat dilakukan sejak masih berupa embrio, sehingga dapat diturunkan kepada generasi berikutnya. Perubahan melalui penyuntingan atau editing gen ini dapat dilakukan pada semua makhluk hidup, sehingga memiliki potensi dapat memusnahkan sifat  yang berbahaya dari suatu spesies, misalnya virus malaria atau virus Zikka pada nyamuk, jika perlu bahkan memusnahkan spesies itu sendiri. Meskipun demikian sampai saat ini penggunaan teknik tersebut pada manusia masih dalam penelitian untuk menguji keamanannya.

Di masa depan, jika teknik ini telah teruji keamanannya untuk dilakukan pada manusia, maka manusia dapat mengubah susunan gen-nya sendiri, sehingga  ia dapat  mengarahkan sendiri jalannya evolusi, yang selama jutaan tahun sebelumnya dilakukan melalui proses evolusi yang berjalan lambat. Hal ini menimbulkan masalah etis: kapan editing gen diperlukan? Seberapa jauh hal tersebut layak dilakukan? Apabila teknik ini telah menjadi umum, bolehkah menghapus gen tertentu yang berpotensi menyebabkan penyakit – pada saat masih menjadi embrio, agar anak yang lahir kelak selalu sehat? Apakah kelak hal ini bahkan menjadi suatu kepatutan, sehingga apabila tidak dilakukan akan menjadi suatu tindakan tidak bermoral? Masalah etis inilah yang mendorong Jennifer Doudna, sebagai penemu utamanya, untuk menulis buku ini, agar menjadi perhatian semua pihak, mumpung teknik ini masih dalam tahap awal perkembangan.    

Sebelum menyatakan concern-nya akan masalah etis, pada bab pertama sampai dengan ke empat  Doudna menguraikan tentang pengetahuan dasar terkait gen, cara bekerjanya, teknik mengubah gen yang selama ini digunakan, serta kisah penemuan CRISPR sebagai teknik editing gen yang efisien, yaitu dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan akurat.

Sebagaimana diketahui, genome terdiri dari molekul yang disebut deoxyribonucleic acid atau DNA, yang tersusun dari empat blok pembangun yaitu A, G, T dan C yaitu adenine, guanine, cytosine, dan thymine, yang berpasangan membentuk double helix. A selalu berpasangan dengan T, dan G dengan C, yang disebut pasangan dasar (base pair). Setiap sekuens huruf ini merupakan instruksi untuk menghasilkan protein tertentu dalam sel, yang prosesnya dibantu oleh RNA sebagai penghantar, membawa informasi dari inti sel (nucleus), dimana DNA disimpan,  ke bagian luar sel, dimana protein diproduksi. Setiap tiga huruf RNA sama dengan satu asam amino, yang menjadi blok pembangun protein. Gen dan protein yang dihasilkan berbeda satu sama lain berdasarkan sekuens nukleutida dan asam amino-nya. Virus hanya memiliki beberapa ribu huruf DNA dan beberapa genome, bakteri memiliki ribuan genom  dan jutaan huruf, nyamuk  terdiri dari 14 ribu gen dan ratusan juta base pair, sedang genom manusia memiliki 3,2 miliar huruf DNA serta 21 ribu gen kode protein. Genom manusia tersusun dari 23 kromosom, yang terdiri dari 50 sd 250 juta huruf, masing-masing dari ayah dan ibu, total 46 kromosom. Setiap sel memiliki satu set kromosom. Mutasi pada satu dari 23 pasang kromosom dapat menyebabkan penyakit genetik. Mutasi paling sederhana adalah substitusi, yaitu penggantian satu nukelotida oleh lainnya, misalnya dari A menjadi T, sebagaimana penyakit sel sabit, yang mengubah bentuk sel darah, sehingga korban mengalami anemia, meningkatnya risiko stroke dan infeksi.

Sejak selesainya Human Genome Project, dketahui terdapat lebih dari empat ribu mutasi DNA yang dapat menyebabkan penyakit genetik. Namun demikian belum terdapat teknik yang memadai untuk mengubah mutasi tersebut.
Beberapa teknik yang dilakukan yaitu menggunakan rekombinan DNA, yaitu kode genetik yang diciptakan di lab. Selanjutnya pada tahun 1970 dan 80-an ilmuwan dapat memotong dan memindahkan segmen DNA ke genome dan mengisolasi sekuens gen tertentu, yang memungkinkan mereka menyisipkan gen terapi ke virus dan memusnahkan gen berbahaya sehingga virus tidak lagi merusak sel yang terinfeksi. Namun teknik terapi gen ini tidak efektif untuk kondisi genetik yang tidak disebabkan oleh adanya gen yang hilang atau defisien, karena dalam kondisi demikian gen harus diperbaiki.
Teknik berikutnya yaitu  Zinc Finger Proteins (ZFN). Teknik ini menggunakan protein alami ZPN untuk memotong DNA dan telah diterapkan antara lain untuk mengedit gen pada genome manusia dan memperbaiki sifat tanaman maupun hewan. Namun demikian teknik ini sulit dan mahal, sehingga hanya segelintir lab yang dapat melakukannya Selanjutnya pada 2009 ditemukan teknik transcription. activator-like effectors atau TALEs. Protein yang terdapat pada Xanthomonas, yaitu bakteri penginfeksi tanaman yang bersifat pathogen dapat memotong DNA lebih akurat dari ZFN.

Selanjutnya penulis menguraikan tentang riset yang membawanya pada penemuan CRISPR.  Semula ia meneliti RNA, untuk mempelajari struktur ribozymes guna mengetahui cara bekerjanya, yaitu bagaimana RNA dapat berfungsi sebagai gudang instruksi genetik dan molekul kimiawi yang dapat mengubah bentuk dan perilaku biologisnya. Penelitian ini diilhami oleh penemuan pemenang Nobel Tom Cech, yang menemukan bahwa ribozymes yang membelah sendiri menunjukkan bahwa kehidupan di bumi muncul dari molekul RNA yang dapat mengkode informasi genetik dan mereplikasi informasi tersebut pada sel-sel primitif. 
Dalam perjalanan, Jill, seorang peneliti CRISPR mengajak Duudna bekerja sama. CRISPR adalah singkatan dari clustered regularly interspaced short palindromic repeats. CRISPR terdapat dalam sel bakteri. Keunggulan dari CRISPR adalah efektivitasnya dalam memotong DNA dengan akurat, sehingga gen mudah diubah dan diperbaiki, misalnya diganti dengan DNA yang seharusnya.
RNA adalah partisipan kunci dalam sistem imun mikro organisme satu sel seperti bakteria, sedangkan CRISPR adalah bagian dari sistem imun archaea dan bakteri, adaptasi yang memungkinkan mikroba melawan virus. Sejak tahun 1970-an ilmuwan telah menemukan enzim yang disebut restriction endonucleases, yang dapat direkayasa untuk memotong fragmen DNA sintetis dalam  eksperimen sederhana pada tabung, Dengan mengkombinasikan enzim ini dengan enzim lain yang diisolasi dari sel (bakteri) phage yang terinfeksi, ilmuwan dapat merancang dan mengklon molekul DNA artifisial di lab.  
Bacteriophage (virus bakteri) merupakan entitas yang tersebar dimana-mana di bumi, terdapat di udara, tanah, pada kotoran, air, intestine, air panas, es, dan dimana saja yang mendukung kehidupan. Ada lebih banyak phage (virus) daripada bakteri yang akan mereka infeksi, virus bakteri lebih banyak sepuluh kali lipat dari bakteri. Pada saat Doudna melakukan penelitian terdapat empat sistem pertahanan bakteri (dari virus). Apakah CRISPR merupakan sistem pertahanan yang lain lagi?

Berdasarkan penelitiannya bersama Jill, Doudna menemukan bahwa pada saat phage atau virus menyerang, CRISPR merekam sekuens DNA phage. Selanjutnya dengan molekul RNA dari CRISPR, dimana (rekaman) potongan phage telah disimpan, enzim protein Cas9 memotong sekuens DNA (phage) yang dituju dengan akurat. Cas9 bertindak sebagai pengarah tujuan.
Hasil dari penemuan di atas kemudian disempurnakan kembali sehingga Doudna dapat menggunakan CRISPR untuk memotong, menghilangkan dan memindahkan sekuens DNA makhluk hidup lainnya sesuai yang diinginkan secara akurat dengan prosedur yang jauh lebih sederhana dari teknik-teknik sebelumnya dan lebih murah.

Kini teknik editing DNA dengan CRISPR dilakukan oleh ribuan ilmuwan di seluruh dunia untuk memperbaiki kualitas tanaman dan hewan. Penggunaan pada manusia masih dalam tahap uji coba, meskipun seorang ilmuwan Cina telah melakukan percobaan mengubah gen pada embrio manusia, yaitu memiliki anti HIV, yang menjadi berita besar di kalangan akademik berkaitan dengan masalah etika yang ditimbulkan.

Selama ini kemajuan ilmu pengetahuan selalu lebih cepat dari kesiapan masyarakat atau regulator dalam menetapkan ketentuan, bahkan apabila ketentuan telah dibuat, selalu ada pihak yang diam-diam tetap melakukan penelitian atau percobaan untuk memuaskan keingintahuannya, sehingga kemungkinan besar dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang teknik ini benar-benar dapat diaplikasikan pada manusia untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetik, mencegah penyakit genetik pada bayi yang akan dilahirkan serta keturunannya, bahkan memperbaiki performance fisik,  misalnya meningkatkan kemampuan atlit dengan mengubah gen yang berkaitan, atau bahkan menentukan bentuk fisik yang diinginkan, misalnya warna mata, dan lain-lain.  
                                                                                                                                                 
Buku ini terdiri dari delapan bab, dan empat bab di awal uraiannya cukup teknis sehingga bagi pembaca biasa harus dibaca dengan perlahan-lahan untuk dapat mengerti uraian yang dijelaskan penulis, namun cukup berguna untuk sedikit menambah pengetahuan tentang biologi.

Bagian kedua mengenai masalah etis merupakan ajakan penulis untuk dipikirkan bersama, cukup menarik. Ada beberapa hal dapat disimpulkan dari sini:
·   Penemuan-penemuan penting seringkali bersifat tidak sengaja dan murni berasal hanya dari rasa ingin tahu yang besar dari seorang ilmuwan yang kemudian melakukan riset. Oleh karena itu penting untuk mendukung riset dasar yang tidak didasari oleh tujuan praktis.
·   Apabila editing gen telah dapat digunakan secara aman bagi manusia untuk mencegah atau mengobati penyakit karena mutasi gen atau serangan virus, maka penggunaan CRISPR untuk tujuan tersebut merupakan suatu tanggung jawab moral untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Hal-hal ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah, sehingga membawa tanggung jawab besar: apa yang akan terjadi pada ekosistem jika manusia menggunakan CRISPR untuk mengubah atau memusnahkan nyamuk pembawa virus malaria dan Zikka?
·  Apa yang terjadi pada keturunannya kelak jika manusia dapat menentukan sendiri genomnya? Di sisi lain, bagaimana pengaruh hal ini pada keyakinan teologis yang berpendapat bahwa penyakit, bentuk fisik, dan kecerdasan merupakan takdir Sang Pencipta? Pertanyaan sebaliknya: jika manusia saja dapat melenyapkan penderitaan-penderitaan tidak perlu itu, yang terasa kejam, mengapa Tuhan membiarkannya selama ribuan tahun? Hal ini membawa pertanyaan kepada moralitas dan kekuasaan Tuhan: jika manusia dapat mengubah gen dan melenyapkan penyakit baik penyakit genetik maupun yang dibawa virus (antara lain malaria, yang membunuh satu juta orang per tahun), dapatkah kita bertanya secara teologis: mengapa sang pencipta membiarkan kesengsaraan tersebut selama ribuan tahun jika sebenarnya hal tersebut dapat diatasi? Moralitas apa yang mendasari? Dapatkah kita mengatakan hal tersebut tidak bermoral?  
·  Seberapa jauh manusia dapat bertahan untuk tidak melakukan penyempurnaan terus menerus atas dirinya? Apa akibatnya jika manusia menentukan sendiri arah evolusinya?
·  Apa yang akan terjadi jika terdapat kesenjangan yang semakin lebar antar manusia, karena mereka yang memiliki kekayaan dapat membeli teknologi yang membuat mereka selalu sehat, lebih cerdas, dan menarik secara fisik?  Terdapat kesenjangan tidak hanya secara kekayaan tapi juga gen.

Dalam buku ini Doudna mengajak pembaca untuk turut memikirkan konsekuensi dari meluasnya penerapan editing gen dan potensinya dalam membuat manusia menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, namun ia tidak sampai pada renungan teologis. Sam Harrislah  yang menyinggung kejamnya virus Zikka dalam The Four Horsemen sebagai contoh untuk mempertanyakan moralitas Tuhan.  Sementara itu dalam tulisannya Doudna tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dan kebanggaannya sebagai penemu utama teknik CRISPR untuk editing gen, serta agak mengulang-ulang concernnya tentang konsekuensi dari penerapan CRISPR bagi manusia.
Penjelasan dan perkembangan mengenai CRISPR dapat ditemukan di internet secara singkat - namun saya belum menemukan penerapannya di Indonesia, yang tampaknya masih jauh ketinggalan dalam sains – meski demikian buku ini menceritakan riwayat penemuan teknik tersebut serta renungan atas potensi dan konsekuensi dari penemuan tersebut lebih dalam, menyadarkan pembaca betapa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tanpa diketahui oleh sebagian besar masyarakat.



Wednesday, April 17, 2019

Tango dan Sadimin




Judul                     :   Tango dan  Sadimin
Pengarang            :   Ramayda Akmal
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     :   272 halaman
Tahun                    :   2019, Maret





”Dalam sebuah masa, yang kita lewati dengan sadar dan rasa syukur yang paling besar sekalipun, ada sebuah tipuan dan permainan yang sedang berjalan, yang menangisi kita, karena kita menamakan kejatuhan sebagai penyelamatan dan bencana sebagai masa depan kasih. Permainan itu adalah rantai, yang memberikan kunci pada satu derita berupa derita lain.”

“Apakah nasib itu? Sebuah keputusan yang engkau ambil demi memperpanjang umur, yang saat kau lupakan, ia telah berubah menjadi kalung besi yang menggantungi sisa hidupmu.”

Tidak banyak novel Indonesia yang dapat mengisahkan kehidupan  orang-orang yang terpinggirkan dengan baik dan mencekam. Salah satunya adalah novel ini.

Kisah dalam buku ini terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah tentang kehidupan Nini Randa, seorang perempuan yang ketika bayi ditemukan terapung di sungai  Cimanduy oleh seorang perempuan tua yang  kemudian mengasuhnya selama dua tahun sebelum ia meninggal. Selanjutnya Nini Randa dibesarkan oleh alam dan para penambang pasir di sungai dekat tempat tinggalnya.  
Tanpa keluarga dan pendidikan serta dalam kemiskinan, Nini Randa memanfaatkan apapun yang dimilikinya untuk hidup. Ia menjual diri dan makanan untuk mandor dan pekerja pembangun dam di sungai, dan mendapat seorang anak yaitu Cainah yang diasuhnya sendiri. Kemudian ia membuka rumah bordil, dan digerebek warga desa dipimpin oleh Haji Misbach. Namun Haji Misbach takluk pada  Nini Randa dan menghasilkan anak gelap yaitu Sadimin, yang dibesarkan oleh Uwa Mono.   

Bagian kedua kisah tentang Sadimin dan Tango. Sadimin dengan hasutan Mono memanfaatkan kelemahan Haji Misbach untuk mendapatkan sebagian kekayaannya sehingga ia menjadi  juragan. Sadimin menikahi Tango, salah seorang perempuan penghibur dari rumah Nini Randa. 
Sementara itu Cainah yang oleh Nini Randa diharapkan bersekolah dan meneruskan usahanya, melarikan diri bersama pemuda miskin bernama Dana. Namun sebagai pasangan belasan tahun yang tidak berpendidikan, akhirnya mereka demikian miskin sehingga Dana  sempat menjadi buruh tani di sawah Tango dan Sadimin, sebelum akhirnya kembali ke rumah Nini Randa ketika tidak mampu menopang hidup sendiri.

Bagian ke empat adalah tentang kehidupan pasangan pengemis Ozog dan Sipon, yang dulu sempat menemukan Nini Randa ketika bayi namun melepaskannya kembali ke sungai. Sedangkan bagian kelima kisah tentang Haji Misbach beserta ketiga isterinya, yang meskipun dikenal alim namun masih mengejar ambisi keduniawian dengan segala cara.


Melalui kisah tokoh-tokoh di atas pembaca diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat terpinggirkan yang keras, penuh kemiskinan, kriminalitas, kesedihan, dan tanpa tuntunan pendidikan, moralitas, maupun cita-cita tinggi, yang dipadukan dengan kemunafikan tokoh agama. Suatu kehidupan yang seperti mimpi buruk dan tak terbayangkan oleh kelas menengah. Dalam melukiskan tokoh-tokohnya penulis cukup imajinatif dan dapat menggambarkan kerasnya kehidupan mereka tanpa belas kasihan. Tampaknya karena penulis juga mengenal dengan baik lokasi dan lingkungan yang menjadi setting dari  kisah dalam novelnya.  

Novel ini menjadi juara kedua lomba penulisan novel kultural Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2017.  Penulisnya, Ramayda Akmal (32 tahun) adalah pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan telah menulis beberapa buku, antara lain novel Jatisaba.   


Sunday, March 17, 2019

The Future of the Mind



Judul                   :   The Future of the Mind
Pengarang          :   Michio Kaku
Penerbit              :   Anchor Books
Tebal                   :   376 halaman
Tahun                  :   2017


Sampai saat ini, pengetahuan manusia akan dirinya sendiri, khususnya pikiran (the mind) masih sangat terbatas dibandingkan pengetahuan tentang hal lainnya. Perkembangan cukup pesat baru terjadi setelah ditemukannya Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada pertengahan 1990-an dan 2000, yang memungkinkan kita dapat melihat aktivitas otak saat seseorang sedang berpikir secara real time. Selanjutnya sinergi pengetahuan mengenai cara bekerja otak dan ilmu komputer diprediksi akan memungkinkan manusia di masa depan dapat melakukan hal-hal yang di masa lalu hanya merupakan khayalan, seperti telepati, telekinesis, pembuatan pikiran dan memori sesuai pesanan, peningkatan kecerdasan, mengubah mimpi, mengendalikan pikiran orang lain, pikiran artifisial, dan pikiran sebagai energi murni.  Untuk melihat seberapa jauh perkembangan hal-hal tersebut, Michio Kaku mewawancarai ratusan ilmuwan serta mengunjungi laboratorium mereka dan menetapkan syarat sebagai berikut untuk prediksi dalam buku ini: (1) Prediksi harus mematuhi hukum fisika secara ketat, (2) Telah terdapat prototipe untuk menunjukkan secara prinsip  terbukti dan dapat direalisasikan.

Buku ini terbagi dalam 15 bab, terdiri dari 3 bagian.

Bagian pertama menjelaskan tentang sejarah singkat neuroscience, susunan otak (yang terdiri dari reptilian brain, mammalian brain dan human brain atau prefrontal cortex) dan fungsi masing-masing, jenis-jenis peralatan untuk meneliti aktivitas otak saat bekerja (MRI, EEG, PET Scans, TES, MEG, NIRS, Deep Brain Simulation, Optogenetics), serta model terakhir tentang cara bekerja otak, yang dapat dianalogikan seperti bekerjanya sebuah perusahaan, dengan prefrontal cortex sebagai CEO yang membuat keputusan-keputusan penting secara sadar, dan reptilian serta mammalian brain sebagai organisasi di bawahnya yang bekerja sendiri secara otomatis di bawah sadar (unconscious),  serta uraian mengenai teori kesadaran, yang membagi kesadaran dalam empat tingkat, terdiri dari tingkat tanaman, reptil, mamalia, dan manusia.

Bagian kedua  mengenai hubungan antara pikiran dan benda material, yaitu telepati, telekinesis, pikiran dan memori pesanan, dan peningkatan kecerdasan atau kemampuan otak manusia.

Telepati
Otak adalah listrik. Setiap kali electron dipercepat, ia menghasilkan radiasi elektromagnetik, demikian pula elektron yang melakukan pergerakan di otak, yang memancarkan gelombang radio. Sinyal ini tidak dapat ditangkap oleh manusia, namun komputer dapat menangkapnya. Ilmuwan dapat mengetahui apa yang dipikirkan seseorang melalui EEG scans. Dalam penelitian, subyek mengenakan helm dengan EEG sensor dan diminta berkonsentrasi memikirkan suatu gambar, misalnya mobil.  Sinyal EEG kemudian direkam untuk setiap gambar hingga tercipta kamus dasar pikiran, dengan hubungan one-to-one antara sinyal atau pikiran seseorang dan gambar EEG. Kelak, apabila seseorang ditunjukkan gambar mobil lain, komputer akan mengenali pola EEG sebagai mobil. Namun kekuatan gelombang elektromagnetik jauh menurun apabila melewati tulang tengkorak, sehingga meskipun komputer dapat mengenali bahwa seseorang memikirkan mobil, namun tidak dapat memunculkan gambar mobil.

Penelitian lain yang lebih maju dilakukan di Universitas California yaitu memindahkan pikiran seseorang ke dalam sebuah video. Untuk itu subyek direbahkan di atas tandu yang kemudian dimasukkan dalam mesin MRI, lalu ditunjukkan klip film selama beberapa jam. Ketika subyek menonton film, mesin MRI membuat gambar 3 dimensi aliran darah dalam otak. Gambar tersebut menyerupai tiga puluh ribu titik atau voxel, setiap voxel mewakili pinpoint energy neural, dan warna titik berhubungan dengan intensitas sinyal dan aliran darah. Setelah beberapa tahun penelitian, tim peneliti dapat mengembangkan formula matematis yang menemukan hubungan antara bentuk tertentu dari gambar dengan voxel MRI. Saat penelitian berlangsung, Kaku dapat melihat apa yang sedang dilihat oleh subyek maupun gambar yang sedang dipikirkan subyek, yang ditampilkan dalam bentuk video. Namun demikian tampilan video untuk benda atau gambar yang hanya dipikirkan tidak sejelas benda yang dilihat dalam bentuk film. Mungkin karena pikiran kita tidak pernah mengingat bentuk suatu benda sampai rinci, hanya garis besarnya saja.

Penelitian lain menggunakan ECOG (electrocorticogram) scan membuahkan hasil yang lebih akurat, karena alat dipasang langsung di atas otak melalui pembedahan, sehingga sinyal langsung direkam dari otak dan tidak melalui tengkorak, berupa 64 elektroda 8x8 grid. Ketika pasien mendengar kata-kata,  sinyal dari otak melewati  elektroda dan dicatat, hingga terbentuk kamus yang mencocokkan antara kata dengan sinyal yang terpancar dari otak. Nanti, jika suatu kata diucapkan, seseorang dapat melihat pola sinyal yang sama. Hubungan ini  berarti apabila seseorang memikirkan suatu kata, komputer dapat menangkap karakteristik sinyal dan mengidentifikasinya. Hal ini berarti adalah mungkin untuk melakukan percakapan secara telepati. Penemuan ini juga dapat membantu pasien stroke yang lumpuh total untuk berbicara melalui synthesizer suara yang dapat mengenali pola otak dari kata-kata individu dengan menggunakan teknik otak-ke-komputer.

Tuesday, February 12, 2019

Jawaban Singkat atas Pertanyaan Besar



Judul               :   Jawaban Singkat atas Pertanyaan Besar
Pengarang      :   Stephen Hawking
Penerjemah    :   Haz Algebra
Penerbit           :   Global Indo Kreatif
Tebal               :   161 halaman
Tahun              :   2018, Desember


Pertanyaan-pertanyaan besar selalu menarik dan selama ribuan tahun menjadi ranah agama, karena merupakan misteri bagi manusia, namun bersifat eksistensial. Kini, satu demi satu misteri tersebut disingkapkan oleh ilmu pengetahuan, meskipun masih sulit untuk diterima oleh masyarakat, yang pada umumnya terus menerus terpapar doktrin agama seumur hidupnya.

Salah satu ilmuwan yang tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut adalah Stephen Hawking. Sampai menjelang akhir hidupnya, Hawking selalu mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut dari berbagai pihak dan ia berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, sehingga buku ini sangat menarik karena mencoba menjawab pertanyaan antara lain: Apakah Tuhan ada? Bagaimana segalanya bermula?  Apakah ada kehidupan cerdas lain di alam semesta? Ada apa di dalam lubang hitam? Haruskah kita mengkonolisasi ruang angkasa? Akankah intelejensia artifisial mengungguli kita?

Terdapat 11 pertanyaan dalam buku ini, yang dijawab dengan uraian singkat dan sederhana. Misalnya menjawab pertanyaan tentang keberadaan Tuhan – apakah penciptaan alam semesta memerlukan Tuhan, yang menurut Hawking dapat muncul dari ketiadaan. Mula-mula penulis menjelaskan bahwa hukum fisika menuntut keberadaan sesuatu yang bersifat negatif. Hal itu diuraikan dengan memberikan analogi tentang seseorang yang membangun sebuah bukit dengan mengeruk tanah di dekatnya sehingga tanah tersebut berlubang, yang disini merupakan versi negatifnya, sehingga semuanya berimbang. Hukum alam menyatakan bahwa energi positif dan negatif harus selalu sama sehingga menuju nol. Saat ini, ruang merupakan energi negatif yang sangat besar, sedangkan massa dan energi merupakan energi positif. Selanjutnya menjelaskan mengenai munculnya Big Bang, penulis menguraikan bahwa berdasarkan hukum mekanika kuantum, partikel seperti proton dapat muncul secara acak, bertahan sebentar, menghilang, kemudian muncul lagi di tempat lain. Sementara itu diketahui bahwa alam semesta pernah sangat kecil sebelum terjadi Big Bang. Hukum-hukum alam dalam sains menjelaskan bahwa Big Bang dapat terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan apapun. Setelah terjadi Big Bang, barulah muncul yang namanya waktu dan ruang. Sebelum Big Bang tidak ada yang namanya waktu, sehingga tidak ada waktu bagi Tuhan untuk membuat alam semesta.

Pertanyaan mengenai asal mula alam semesta dijelaskan dengan uraian mengenai penelitian-penelitian yang telah dilakukan sampai saat ini untuk mengetahui apa yang terjadi pada saat permulaan terciptanya alam semesta. Catatan mengenai alam semesta ketika masih sangat muda tercermin pada latar belakang gelombang mikro yang ditemukan oleh Arno Penzias dan Robert Wilson. Pada awal sejarahnya alam semesta (setelah terjadi Big Bang)mengalami periode ekspansi yang sangat cepat- yang disebut inflasi – dengan perbedaan antara arah yang berbeda 1 berbanding 100.000. Seharusnya tidak terdapat perbedaan pada setiap arah, namun perbedaan itu berasal dari fluktuasi kuantum selama periode inflasi, sebagai konsekuensi dari Prinsip Ketidakpastian. Fluktuasi ini merupakan benih untuk struktur alam semesta yaitu galaksi, bintang, dan kita. Teori ini, yang dinyatakan Hawking pada tahun 1982, terbukti pada tahun 1993 dengan ditemukannya gelombang mikro (the microwave sky) oleh satelit COBE. Hal ini ditegaskan pada tahun 2003 oleh satelit WMAP yang menampilkan peta suhu langit gelombang mikro kosmik, gambar alam semesta pada seperseratus dari usianya sekarang. Ketidakberaturan menunjukkan bahwa beberapa wilayah memiliki kepadatan lebih tinggi, dan gravitasi ekstra memperlambat perluasan wilayah itu dan akhirnya runtuh untuk membentuk galaksi dan bintang. Kita adalah produk dari fluktuasi kuantum di alam semesta awal. Selanjutnya satelit Planck yang menggantikan WMAP dapat mendeteksi jejak gelombang gravitasi yang diprediksi inflasi dengan lebih presisi. Alam semesta tercipta dari ketidakpastian.

Mengenai masa depan manusia di bumi, Hawking menegaskan bahwa manusia harus mulai dari sekarang membuat rencana untuk membuat koloni di planet-planet lain, misalnya Bulan dan Mars, karena dalam beberapa ratus tahun mendatang bumi akan terlalu kecil dan tidak stabil untuk semua umat manusia. Ia mengingatkan bahwa kehidupan di alam semesta adalah keras; bintang-bintang yang mati meledak dan mematikan planet di sekelilingnya, asteroid menabrak planet dan mematikan kehidupan di dalamnya, sebagaimana bumi pada 66 juta tahun yang lalu, sehingga jika tidak ingin punah maka manusia harus meninggalkan bumi, membuat koloni di tempat lain, dan dalam jangka panjang melakukan perjalanan antar bintang, misalnya ke galaksi terdekat. Perkembangan teknologi dalam biologi diprediksi akan memungkinkan manusia memiliki keunggulan fisik dan mental serta kecerdasan untuk melakukan hal-hal tersebut, karena manusia tidak lagi harus menunggu perubahan secara evolusi yang memerlukan waktu ratusan ribu tahun. Hawking bahkan membuat rencana: membuat pangkalan di Bulan dalam 30 tahun mendatang, Mars dalam 50 tahun, dan planet terluar dalam 200 tahun. Manfaat lain dari adanya rencana ke luar angkasa adalah mempercepat kemajuan teknologi.

Masih banyak hal menarik yang diuraikan Hawking dalam buku ini, termasuk sedikit riwayat hidupnya yang luar biasa, meskipun sebenarnya jawaban rinci dari pertanyaan besar yang diuraikan dalam buku ini pernah ditulis Hawking dalam buku-bukunya yang lain maupun oleh ilmuwan lainnya. Namun uraian yang relatif singkat dan sederhana terhadap banyak hal dalam satu buku baru terdapat disini. Selain itu, pembaca dapat pula mengetahui sedikit kehidupan Hawking, yang meskipun menyandang penyakit cukup parah dan divonis berumur pendek namun tetap bekerja dengan penuh semangat sampai akhir hidupnya pada usia 76 tahun.  Rasa ingin tahunya yang besar, yang mendorongnya untuk mempelajari fisika guna menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental berdasarkan ilmu pengetahuan, serta kepercayaan diri dan optimisme-nya akan kemampuan manusia dalam mengatasi masalah serta menghadapi masa depan, membuat buku ini seharusnya dibaca banyak orang disini, yang sebagian besar tidak punya cukup rasa ingin tahu.


Friday, November 16, 2018

Kelana



Judul                   :   Kelana – Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika
Pengarang           :  Famega
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   250 halaman
Tahun                  :   2018, Juli


 Saat ini sudah banyak buku perjalanan ditulis oleh traveler Indonesia yang bepergian ke berbagai belahan dunia, namun sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan melalui udara, atau jika pun melalui darat, masih dalam satu benua, seperti Trinity dan Jasmine yang mengelilingi Amerika Latin.  Famega, yang menulis buku ini melakukan perjalanan sendirian hanya melalui darat dan laut, dengan moda transportasi kapal, kereta api dan bus umum.


Penulis memulai perjalanannya dari pelabuhan Dumai, Riau dengan menyeberang ke Malaka menggunakan kapal ferry. Saya baru tahu bahwa kita dapat menyeberang ke Malaysia melalui Riau. Sebagian besar dari kita mungkin juga hanya mengetahui bahwa penyeberangan ke negara lain hanya dari Batam ke Singapore.  Selanjutnya dari Malaka Famega meneruskan perjalanan dengan bus dan kereta ke Bangkok, Hanoi, Vientine, dan Beijing. Dari Beijing ia ke Mongolia menggunakan kereta trans Mongolia, selanjutnya ke Rusia dengan kereta trans Siberia menuju Eropa Timur, mengunjungi Praha, Bulgaria, dan selanjutnya ke Spanyol dan Maroko.


Banyak hal menarik yang diuraikan Famega dalam buku ini. Misalnya kebaikan penumpang kereta ekonomi Cina yang bergantian memberinya tempat duduk dan makanan selama 24 jam - meskipun ia tidak paham Bahasa Cina dan mereka tidak bisa Bahasa Inggris - karena ia penumpang kereta berdiri. Mega kehabisan karcis kereta lainnya sehingga ia terpaksa membeli karcis kereta berdiri karena  mengejar waktu agar tiba di Rusia sesuai dengan tanggal visa yang diperolehnya.


Bagian pertama buku tidak banyak menceritakan tentang interaksinya dengan penduduk lokal, karena perjalanan dari Malaka ke China dilakukan non-stop, sedangkan dari Cina ke Mongolia dan Rusia terkendala oleh keterbatasan bahasa, sehingga tidak banyak terdapat percakapan dengan penduduk lokal atau orang lain yang ditemuinya, meskipun di Mongolia ia sempat mengikuti tour beberapa hari dengan beberapa turis Barat.  Baru setelah di Eropa Timur dan seterusnya terdapat kisah tentang penduduk lokal.
Selain menginap di hostel, Famega tinggal di rumah-rumah penduduk lokal dengan bantuan couchsurfing, aplikasi yang memungkinkan seorang pelancong menghubungi penduduk kota yang akan dikunjungi sebelum ia tiba dan menginap gratis di rumahnya. Melalui cara ini ia mendapatkan teman-teman baru yang mengajaknya berkeliling kota-kota yang dikunjungi. Disamping couchsurfing, penulis mengenal penduduk lokal melalui hitchhiking, atau menumpang mobil secara gratis, yang merupakan hal baru baginya.


Perjalanan sendirian melalui darat dengan kendaraan umum kereta api dan bus mengingatkan saya pada Paul Therox, yang selalu melakukan perjalanan melalui darat sendirian. Namun Famega telah mendapat banyak kemudahan dengan adanya internet beserta segala aplikasi di dalamnya. Disamping itu Famega tidak mencatat setiap dialog atau keadaan alam dengan rinci maupun bertemu orang-orang berpengaruh di daerah yang dikunjunginya sebagaimana Theroux, yang memiliki pengamatan sangat tajam terhadap hal-hal yang ditemuinya. Mungkin karena tujuan Theroux bepergian adalah memang untuk menulis buku, sedangkan tujuan Famega tidak sejauh itu, sehingga bukunya lebih merupakan catatan harian selama perjalanan. Meskipun demikian, buku ini cukup menarik, karena memberikan informasi bahwa sebagai bangsa Indonesia yang kemana-mana harus mengurus visa terlebih dulu dengan banyak persyaratan, seseorang tetap dapat bepergian ke tiga benua dalam waktu lama – asalkan bersedia mempersiapkan empat visa terlebih dulu dengan segala urusannya. Selain itu, buku ini juga memberi pengetahuan kepada perempuan muda lainnya, bahwa adalah cukup aman bagi seorang perempuan untuk pergi kemana pun sendirian pada zaman ini melalui jalan darat. 


Pelajaran yang didapat oleh penulis – dan  pembaca – adalah bahwa selama kita cukup berhati-hati dan berani, banyak orang baik yang akan bersedia membantu, dan di balik perbedaan ras dan iklim, pada dasarnya masih banyak orang baik di bumi ini.

Sayangnya ukuran buku ini sangat kecil, covernya kurang menarik, dan gambar peta yang menunjukkan rute perjalanan Famega berwarna, sehingga membuatnya tidak jelas dibaca, demikian pula beberapa foto yang terdapat di dalamnya kurang tajam, padahal harga buku ini cukup mahal. Mungkin karena biaya percetakan sekarang semakin tinggi?   

Tuesday, October 02, 2018

Pemenang Book Giveaway


Selamat buat pemenang Book Giveaway bulan September, yaitu:

1. Agoes Santosa   
2. Windy A. Alicia Putri

Agoes Santosa akan mendapatkan buku terjemahan The Selfish Gene dan Windy Alicia Putri akan mendapatkan buku Cosmos.
Terima kasih ya sudah mengikuti Book Giveaway.

Selanjutnya untuk pengiriman buku agar mengirimkan alamat ke email:  raticf@gmail.com.

Tuesday, September 11, 2018

Book Giveaway


Tanpa terasa, ternyata blog ini telah berumur 12 tahun, meskipun ada tahun tertentu  dimana dalam satu tahun hanya ada satu atau dua review. Sebagai rasa terima  kasih kepada pembaca yang telah setia membaca blog ini, selama 4 bulan ke depan saya ingin membagikan buku kepada para pembaca yang beruntung, setiap bulan 2 buku.



Untuk bulan ini buku yang akan dibagi adalah buku klasik dari Richard Dawkins dan Carl Sagan, yaitu  The Selfish Gene  dan Cosmos, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Cara mengikuti Book Giveaway sangat mudah, yaitu cukup dengan menjadi follower dan menuliskan hal tersebut pada kolom comment. Pemenang akan diundi menggunakan random.org.

Book Giveaway bulan ini diadakan sampai dengan tanggal 30 September 2018 dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 2 Oktober 2018. 

Hayo buruan ikut Book Giveaway...

Tuesday, August 28, 2018

Homo Deus





Judul                     :   Homo Deus – A Brief History of Tomorrow
Pengarang          :    Yuval Noah Harari
Penerbit              :    Vintage, UK
Tebal                     :   513 halaman
Tahun                   :   2017






Sebagaimana sedang kita alami saat ini, dunia mengalami perubahan yang  sangat cepat  karena  pesatnya   kemajuan sains dan teknologi, sehingga banyak orang tidak mampu lagi mengikuti perkembangannya Bahkan  sejumlah   ilmuwan   mengungkapkan  kekhawatiran   akan ketidakmampuan manusia melawan kekuasaan artificial intelligence di masa depan.

Melalui Homodeus, Harari mencoba untuk melihat arah yang akan dituju manusia di masa depan, dengan berdasarkan pada sejarah di masa lalu dan perkembangan ilmu pengetahuan di saat ini. Pokok yang hendak disampaikan oleh penulis adalah, tujuan manusia atau homo sapiens di masa mendatang ialah untuk meraih imortalitas dan kesempurnaan.. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu secara organik, misalnya dengan modifikasi DNA sehingga sangat cerdas dan selalu muda; menggabungkan mesin dengan tubuh, misalnya pemasangan implan yang meningkatkan kemampuan penglihatan, dan penggunaan mesin sebagai kepanjangan dari fungsi tubuh, misalnya melakukan operasi dari jarak jauh. Hal-hal tersebut, ditambah penggunaan robot dan artificial  intelligence yang menggantikan jutaan pekerja, akan memperlebar kesenjangan antara elit dengan massa lebih daripada masa-masa sebelumnya, sehingga muncul superhuman dan useless society.   Perubahan yang dibawa oleh teknologi ini merupakan tantangan bagi aliran humanisme, yang selama ini mendasari tercapainya peningkatan kesejahteraan manusia di seluruh dunia.

Pembahasan dibagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama mencoba menjawab pertanyaan mengapa homo sapiens (manusia) dapat menguasai dan mengubah dunia dan apakah hal tersebut karena homo sapiens mempunyai keistimewaan yaitu memiliki jiwa. Berdasarkan sejarah, homo sapiens ketika masih menjadi pemburu peramu memandang dan memperlakukan hewan hampir sebagai makhluk yang setara, karena kehidupan mereka tergantung pada kemurahan alam. Namun munculnya kemampuan bertani atau revolusi pertanian mengubah hubungan tersebut, karena homo sapiens telah mampu mengendalikan pertumbuhan tanaman dan menjinakkan binatang untuk kepentingannya. Seiring dengan itu animisme digantikan oleh agama yang bersifat vertikal: homo sapiens memuja dewa-dewa atau Tuhan agar hasil pertanian melimpah dan  agama digunakan untuk mensahkan eksploitasi hewan guna kepentingan homo sapiens. Namun ketika perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan homo sapiens memproduksi hasil pertanian dan peternakan secara lebih efisien, pemujaan kepada dewa dewa atau Tuhan tidak lagi diperlukan. Homo sapiens menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.  
Mengapa homo sapiens dapat menguasai dan mengubah dunia? Apa yang membedakannya dari hewan? Apakah jiwa, sebagaimana masih dipercaya sebagian besar manusia? Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan adanya jiwa, tulis Harari. Homo sapiens dapat menaklukkan dunia karena ia memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah besar secara fleksibel, tidak seperti semut yang kemampuan kerjasamanya terbatas oleh instink. Hal yang mendasari kerjasama itu adalah imajinasi atau fiksi yang dipercaya bersama (inter subjective level) sebagai sesuatu yang nyata, yaitu agama, dewa atau tuhan, uang, korporasi, bangsa atau negara. Namun disini tampaknya penulis tidak membedakan fiksi murni dan fiksi, imajinasi atau kepercayaan yang harus didasari fakta tertentu. Agama atau dewa dapat diciptakan atau diimajinasikan sesuai kehendak pengikutnya tanpa berdasarkan fakta apapun, namun uang, korporasi dan bangsa harus didasari oleh fakta atau realitas tertentu untuk dapat dipercaya sebagai alat pembayaran, entitas usaha, dan bangsa, yaitu kekayaan yang dimiliki penerbit uang, aktivitas dan kemampuan ekonomi, sekelompok orang yang memiliki kepentingan atau tujuan bersama.

Bagian kedua menguraikan ideologi yang memungkinkan homo sapiens mencapai kemajuan sebagaimana saat ini. Menurut Harari, fiksi, yaitu agama, uang, korporasi dan negara, memiliki kemampuan untuk memaksa mayoritas tunduk, sehingga semua aktivitas dapat berjalan secara efisien. Efisiensi dicapai melalui algoritma, yaitu serangkaian tahapan tertentu yang harus dilakukan untuk setiap kegiatan.
Dalam perkembangannya, muncul konflik antara agama - yang berkepentingan dengan terpeliharanya keteraturan sosial melalui pengaturan moralitasnya - dengan ilmu pengetahuan, yang mementingkan kekuatan, yaitu kemampuan untuk memperbaiki kondisi manusia dan menaklukkan alam. Kekuatan ilmu pengetahuan membawa modernitas, yang memaksa seluruh homo sapiens tunduk pada system jika ingin hidup layak, antara lain dengan mengikuti pendidikan, tunduk pada hukum, dan seterusnya. Modernisme dibangun oleh kapitalisme, yang berjalan berdasarkan invisible hand and tidak peduli. Namun kapitalisme murni menuntut pertumbuhan terus menerus dan cenderung mendorong keserakahan, sementara dunia memerlukan kerjasama, sehingga muncul Humanisme.

Uraian tentang Humanisme cukup mendalam. Humanisme didasari oleh prinsip pengakuan atas individualisme,  kebebasan berekspresi, kepercayaan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan yang baik bagi dirinya maupun masyarakat tanpa bersandar pada perintah Tuhan atau agama, dan bahwa kemajuan dan kesejahteraan manusia dapat diperoleh dengan kerja sama, ilmu pengetahuan, dan partisipasi aktif setiap orang untuk kebaikan. Pandangan humanisme mendasari draft konvensi hak asasi manusia yang diratifikasi 130 negara anggota PBB tahun 1947.
Dominasi humanisme terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II membuat negara-negara di dunia memperbaiki kondisi rakyatnya dengan program-program pertanian, kesehatan, dan pendidikan, sehingga taraf hidup jauh meningkat. 
Humanisme tidak selalu sejalan dengan agama, yang meminta ketundukan total, namun meningkatnya radikalisme serta jumlah pemeluk agama tersebut tidak dianggap penting oleh penulis, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak mengerti sains dan teknologi, miskin dan terbelakang, sementara dunia masa depan akan dibentuk dan diubah oleh segelintir elit yang menguasai teknologi tersebut. Mungkin benar, tetapi jika segelintir militant dari mereka dapat merampas sistem teknologi tinggi, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih berbahaya. Sebagai liberal Harari juga tidak memperhitungkan bahaya dari meningkatnya jumlah imigran atau penduduk beraliran radikal pada negara-negara sekuler, yang dapat mengubah ideologi Humanisme menjadi teokrasi, apakah kemajuan teknologi dapat membuat mereka tidak berdaya, atau sebaliknya dapat menguasai negara-negara yang mereka tumpangi.

Bagian ketiga menguraikan efek dari kemajuan teknologi yang demikian pesat pada mayoritas homo sapiens.
Revolusi humanisme mendorong munculnya sifat-sifat baik homo sapiens, yaitu kebebasan individu, kerja sama, perhatian pada perasaan. Humanisme mendorong negara menyelenggarakan pendidikan massal, vaksinasi, pemeliharaan kesehatan, karena negara memerlukan pekerja dan tentara untuk memajukan negara. Hal ini mendorong meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin pada abad 20.  Namun hal ini belum tentu terjadi pada abad 21, karena pada masa mendatang robot dan mesin-mesin dapat melakukan jauh lebih baik dan murah hal-hal yang selama ini dilakukan oleh manusia, misalnya mobil tanpa pengemudi akan menghilangkan kebutuhan akan jutaan pekerja transportasi, drone dan pesawat tanpa awak akan mengurangi jumlah tentara secara signifikan. Hilangnya pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak akan dapat diimbangi dengan kemampuan pekerja untuk selalu belajar hal-hal baru, sehingga akan muncul segolongan pekerja yang tidak dapat dipekerjakan atau useless society. Sementara itu segolongan kecil elit menguasai mayoritas alat produksi, kekuasaan, dan kecerdasan serta fisik yang lebih baik. Perubahan ini dapat mengubah ideologi yang dianut homo sapiens. Humanisme memandang semua manusia sama dan memberi penghargaan terhadap hidup dan kontribusi yang diberikan setiap warga. Jika artificial intelligence telah demikian cerdas sehingga kontribusi manusia tidak diperlukan lagi karena kualitasnya di bawah AI, apakah humanisme akan tetap dianut? Apakah kaum elit tidak akan lebih mementingkan peningkatan performa kaumnya sendiri dan tidak mempedulikan lagi massa yang miskin atau tidak beruntung karena mereka tidak lagi diperlukan oleh negara? Hal ini terutama untuk negara-negara miskin berpenduduk ratusan juta atau miliar yang harus berkompetisi dengan negara-negara maju, mengingat biaya pendidikan dan kesehatan ratusan juta penduduk sangat besar.

Konsekuensi dari uraian mengenai perkembangan teknologi di masa depan terhadap homo sapiens mengingatkan pada novel Brave New World, dimana manusia direproduksi oleh mesin, dan segolongan elit superior merencanakan jumlah dan tingkat kecerdasan serta kondisi fisik untuk masing-masing kelas yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan. Manusia kembali dikuasai oleh segelintir elit yang kini merupakan superhuman hasil rekayasa biologi.

Alternatif lainnya adalah manusia terserap dalam Internet of All Things dan kehilangan arti. Humanisme yang mengutamakan perasaan, kebebasan, privacy, dan individualisme, di era Internet dan digitalisasi berubah menjadi Dataisme seiring dengan melimpahnya data dan informasi. Sebagaimana ekonomi liberal yang menekankan pentingnya informasi dan pergerakan barang secara bebas untuk kemajuan ekonomi, Dataisme berpendapat bahwa kemajuan akan berjalan secara optimal jika terdapat kemudahan akses terhadap informasi. Semakin banyak data yang terhubung dalam internet yang dapat diakses secara bebas, semakin bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, adanya informasi mengenai kendaraan yang tidak dipakai seseorang pada jam-jam tertentu dapat meningkatkan efisiensi karena di luar jam tersebut kendaraannya dapat digunakan oleh orang lain. Semakin pentingnya data dalam internet mendorong orang untuk berpartisipasi dengan membagikan informasi dan pengalaman pribadinya, sehingga berlawanan dengan humanisme yang menekankan privacy, penganut Dataisme merasa tidak berarti jika tidak membagikan informasi dan pengalamannya dalam internet.

Tujuan dari Dataisme adalah menggabungkan seluruh data dan informasi di dunia untuk diolah dalam internet guna memaksimalkan penggunaannya. Saat ini sistem tersebut masih memerlukan data dari manusia. Namun terdapat kemungkinan bahwa suatu hari nanti sistem tersebut menjadi demikian maju sehingga tidak lagi memerlukan data dari manusia dan berjalan sendiri. Pada saat itu maka manusia hanya akan menjadi chip atau komponen tak berarti dari Internet of All Things. 
Kesimpulan ini diperoleh Harari setelah melihat cara bekerja sistem informasi di internet. Sistem algoritma Google dibuat oleh sebuah tim besar yang masing-masing mengerjakan bagiannya sendiri. Setelah itu sistem berjalan sendiri namun masing-masing tim tidak tahu persis keterkaitan maupun hasil akhirnya karena sistem tersebut akhirnya demikian kompleks. Kecanggihan sistem dalam menghasilkan informasi juga dapat terlihat dari lengkapnya informasi yang dimiliki perusahaan-perusahaan financial technology yang menggabungkan semua data (data supplier, buyer, penjualan, dll), yang mampu menghasilkan informasi sangat rinci hingga jam terjadinya penjualan tertinggi, wilayah penjualan terbanyak, dan lain-lain secara otomatis.

Telah banyak buku yang mencoba menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan berdasarkan perkembangan teknologi saat ini.  Michiio Kaku menulis beberapa buku berdasarkan wawancara dengan puluhan ilmuwan yang sedang melakukan riset. Dalam The Future of the Mind, ia menceritakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian untuk mencatat mimpi, memindahkan pikiran ke dalam komputer, komunikasi melalui sejenis telepati, dan sebagainya.
Homodeus melangkah lebih jauh, yaitu mencoba membayangkan perubahan ideologi atau struktur masyarakat yang akan terjadi di masa depan sejalan dengan adanya perubahan teknologi.
Sebagian berpendapat, bahwa setiap terjadi revolusi teknologi manusia selalu merasa khawatir akan  hilangnya banyak pekerjaan dan meningkatnya pengangguran, namun kekhawatiran tersebut tidak pernah menjadi kenyataan, karena selalu ada pekerjaan-pekerjaan baru. Apakah perubahan yang terjadi saat ini tidak sama saja sehingga tidak perlu dikhawatirkan?  Namun banyak contoh dalam buku ini yang menunjukkan bahwa AI dapat bekerja jauh lebih baik dari manusia dalam banyak bidang, sehingga pada akhirnya kelebihan yang dimiliki manusia hanyalah perasaan. Kita juga dapat melihat hal-hal yang sedang terjadi pada saat ini: penutupan cabang-cabang bank dan pengurangan karyawan karena digitalisasi, toko-toko tanpa kasir, mobil tanpa pengemudi, diagnosa oleh AI yang lebih akurat dari dokter berpengalaman, drone yang sukses membunuhi para teroris. Apabila prediksi kemajuan teknologi terasa berlebihan, masa lalu mungkin perlu diingat. Dua puluh lima tahun yang lalu ponsel berukuran sebesar handy talky dan harganya seperlima sedan mahal, sedang kemampuannya hanya untuk menelpon. Saat ini seorang tukang kebun pun memiliki ponsel saku yang bisa digunakan untuk internet, foto, video, dan lain-lain. Siapa yang bisa meramalkan masa depan?

Homodeus jauh lebih menarik dari Sapiens, buku Harari sebelumnya. Namun untuk menyimpulkan apa yang hendak disampaikannya pembaca harus membaca dengan teliti, karena cara pembahasan yang meluas sehingga pokok yang hendak disampaikan tidak tertulis secara tegas.  Secara keseluruhan buku ini dapat meningkatkan kesadaran pembaca bahwa perubahan semakin cepat, sehingga kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja jika tidak ingin menjadi korban perubahan.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, begitu pula Sapiens, buku pertama Harari.