Friday, October 02, 2009

SOCIETY WITHOUT GOD

Judul : Society Without God – What The Least Religious Nations Can Say About Contentment
Pengarang: Phil Zuckerman
Penerbit: NYU Press
Tahun : 2008
Tebal : 227 hal

Banyak yang berpendapat bahwa tanpa landasan agama, suatu masyarakat akan menjadi tidak bermoral, bahkan negara akan mengalami kemerosotan, sehingga hal ini sering menjadi alasan favorit bagi banyak pihak untuk memaksakan penerapan agama yang lebih keras. Benarkah demikian?

Buku ini mencoba untuk membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Berdasarkan data-data statistik dan penelitian dengan metode in-depth interview terhadap sekitar 150 responden dari dua negara Skandinavia yaitu Denmark dan Swedia yang dilaksanakan penulis selama 14 bulan menetap di Denmark, sosiolog Zuckerman memperoleh kesimpulan bahwa negara-negara dengan tingkat kesejahteraan dan keamanan terbaik di dunia adalah negara-negara yang kadar keagamaan masyarakatnya paling rendah. Sebaliknya, dari data statistik tampak bahwa negara-negara yang paling religius adalah negara-negara yang paling tidak sejahtera dan tidak aman.

Membandingkan Swedia dan Denmark yang relatif kecil dengan negara besar seperti Amerika Serikat atau Indonesia mungkin kurang sesuai, namun Zuckerman juga memberikan data bahwa negara berpenduduk besar yang kurang religius seperti Jepang Korea atau Inggris juga relatif lebih baik kondisinya.

Tampaknya, hal yang mendorong penulis melakukan penelitiannya adalah keprihatinannya terhadap kondisi negerinya yaitu Amerika Serikat, yang masyarakatnya semakin religius hingga sering menjadi irasional. Dari sisi ini, maka keprihatinan Zuckerman relevan dengan kondisi yang terjadi di banyak negara, yang cenderung semakin religius, misalnya Indonesia. Namun, AS adalah satu-satunya negara maju demokratis yang religius.

Mencoba menemukan penyebab yang menjadikan AS berbeda dengan negara-negara Eropa, penulis mengemukakan bahwa faktor kurangnya keamanan karena tidak terjaminnya ketersediaan pekerjaan dan perumahan, pelayanan kesehatan yang terjangkau, pendidikan, dan lebarnya perbedaan antara kaum kaya dan miskin serta adanya berbagai jenis etnis dan agama dalam satu masyarakat membuat agama menjadi tempat berpaling untuk menghadapi ketiadaan kemananan tersebut dan “pemasaran” yang agresif dari masing-masing agama untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa rakyat Skandinavia tidak pernah sungguh-sungguh religius, karena sejarah agama Kristen disana berasal dari tekanan raja kepada rakyatnya, namun hal ini tidak dapat diketahui dengan pasti karena tidak ada data.

Zuckerman membandingkan hal ini dengan dua negara Skandinavia yang ditelitinya, dimana negara kesejahteraan (welfare state) telah terwujud sehingga rakyat merasa aman karena kesejahteraannya terjamin, baik pekerjaan, perumahan maupun kesehatan, pendidikan rata-rata warganya cukup tinggi, suku bangsa sama, dan agama yang homogen, yaitu Kristen serta disubsidi oleh negara dengan pajak dari rakyat sehingga gereja tidak perlu melakukan berbagai “strategi pemasaran” untuk menarik pengikut guna memperoleh dana operasional. Sebagai akibatnya, rakyat kehilangan minat tidak saja terhadap gereja bahkan terhadap agama dan Tuhan itu sendiri. Namun sebagian besar warga Denmark dan Swedia menganggap diri mereka Kristen, meskipun mereka tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, Yesus sang penyelamat maupun surga dan neraka. Bagi mereka, agama Kristen adalah suatu tradisi yang harus dipelihara, untuk acara pernikahan, pembaptisan bayi, pemakaman, serta nilai-nilai seperti menghargai orang lain dan perbuatan baik lainnya. Namun mereka tidak mempercayai sama sekali keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam Injil. Mereka telah sangat rasional dan lebih mempercayai sains. Penyakit, kematian, kemalangan dianggap sesuatu yang alami, yang dapat dialami setiap makhluk hidup dan karenanya perlu dihadapi dengan baik tanpa perlu meminta pertolongan kepada atau menyalahkan Tuhan. Ketidak religiusan bangsa Skandinavia demikian ekstrim, hingga seseorang yang mengaku sebagai penganut Kristen dan percaya kepada keberadaan Tuhan, Yesus, surga dan neraka akan dianggap menyedihkan dan patut dikasihani. Seperti seseorang yang mengaku ateis di AS atau Indonesia.

Penulis juga mencatat keberatan bahwa rakyat di negara sekuler cenderung lebih kesepian dan mudah bunuh diri, namun ia menemukan bahwa di negara yang ditelitinya tingkat kejadiannya tidak melebihi kejadian di negara-negara yang lebih religius.

Penelitian Zuckerman sungguh menarik, karena membuktikan bahwa ada masyarakat yang tidak terobsesi oleh agama bahkan tidak pernah memikirkan/ tidak mengenal agama atau Tuhan dan dapat berfungsi lebih baik dari masyarakat yang religius.
Jadi, benarkah teori bahwa agama diperlukan oleh masyarakat yang berada di lingkungan yang tidak aman atau karena rasa takut dan khawatir serta kurang ilmu pengetahuan?

Bila kesimpulan Zuckerman benar, maka sulit mengharapkan negara-negara lain dapat berkurang religiusitasnya, karena tidak mudah mewujudkan negara sejatera yang masyarakatnya sadar sains dan mencegah “pemasaran” agresif kaum religius garis keras yang justru mendapatkan kesempatan besar di negara demokrasi, kecuali ada kemauan politik dari pemerintah negara tersebut.




GOD AGAINST THE GODS

Judul : God Against the Gods - The History of the War between Monotheism and Polytheism
Pengarang : Jonathan Kirschtof
Penerbit : Viking Compass
Tahun : 2004
Tebal : 336 hal

Darimanakah asalnya intoleransi dan perang agama? Monoteisme.
Melalui penelitian terhadap sejarah Mesir, penulis mengemukakan bahwa monoteisme bukanlah dimulai dari munculnya agama yahudi-kristen-islam. Firaun Anekhaton adalah orang pertama yang menganut monoteis, dengan menyingkirkan dewa-dewa lain dan hanya menyembah satu dewa yaitu Aton, dewa matahari. Bahkan ia memindahkan istananya ke tempat baru dan mengajak rakyatnya menyembah satu dewa saja. Namun Anekhaton tidak berhasil. Setelah kematiannya, istananya ditinggalkan dan rakyatnya kembali menyembah banyak dewa.

Hal yang menarik, meskipun polytheisme selalu diasosiasikan dengan kekejaman, pengurbanan manusia, dan kurangnya moralitas, namun prinsip dasarnya adalah toleransi. Merujuk pada kekaisaran Romawi sebelum berkuasanya Constantine, penulis menunjukkan, prinsip dasar dari kekaisaran tersebut adalah setiap orang bebas untuk menjadi pemuja dewa manapun atau tidak sama sekali. Semua kepercayaan dianggap benar, oleh karena itu semua dewa dihargai dan dipuja – dibuatkan patungnya dan diberi persembahan. Menghormati dewa-dewa juga dianggap merupakan kewajiban sosial sebagai warga negara. Masyarakat Romawi juga memiliki standar moral tertentu yang tidak jauh berbeda dengan moralitas yang kita anggap wajar, dan ritual yang berlebihan dan bersifat menyimpang juga dikendalikan pelaksanaannya oleh kaisar.

Keadaan di atas berubah setelah muncul agama Kristen yang bersifat monoteis. Penganut Kristen yang pertama menganggap politeisme salah dan sama sekali tidak menghormati kepercayaan tersebut, sehingga bagi Romawi mereka dianggap tidak memiliki kepatutan sebagai warga negara yang baik dan karenanya merupakan ancaman bagi negara.

Sifat monoteis yang merasa paling benar dan menganggap lainnya salah berkaitan dengan sifat totaliarisme, yang hanya mengakui satu Tuhan, satu raja, disertai dengan kehendak untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain, jika perlu dengan menunjukkan diri sebagai martir, dan selanjutnya dengan kekerasan. Semua ini sesuatu yang baru dan asing bagi politeis dan masyarakat Romawi.
Keadaan di atas semakin memburuk ketika Constantine dan keturunannya menjadikan Kristen sebagai agama negara dan berusaha melenyapkan politeisme dengan menutup dan menghancurkan patung dan kuil-kuil serta melarang pengajaran sastra Yunani seperti karya-karya Homer yang menurut mereka bersifat politeis.

Mengenal sastra Yunani bagi masyarakat Romawi merupakan ukuran keberadaban seseorang dan salah satu sumber pelajaran untuk pembentukan karakter. Bagaimana mungkin penguasa Kristen melarang peradaban tinggi mereka sendiri? Masyarakat Romawi tidak percaya kitab suci saja dapat menghasilkan masyarakat yang baik sebagaimana telah berhasil dilakukan karya sastra dan filsafat mereka.
Konflik antara kedua hal di atas mencapai puncaknya dengan pembunuhan terhadap Hypathia – filsuf pagan terakhir – dan pembakaran perpustakaan Alexandria. Setelah itu mulailah pemaksaan dengan kekerasan untuk menganut satu agama tertentu dan lenyapnya pemikiran Yunani serta toleransi yang menjadi dasar budaya Romawi, yang kemudian dikenal dengan abad kegelapan.
Barat baru kembali bangkit setelah mempelajari kembali pemikiran Yunani dari buku-buku yang dipelihara oleh peradaban Islam setelah perang salib.

Membaca sejarah ini mengingatkan saya pada keadaan di Jawa. Mengapa Islam di Indonesia, khususnya Jawa, sangat berbeda dengan Islam di negara-negara lain, yaitu sangat toleran? Mungkin karena ia tidak disebarkan hanya dengan kekerasan. Sebelum Islam masuk, masyarakat yang beragama Hindu – seperti halnya masyarakat Romawi dengan mitologinya – telah memiliki mitologi sendiri (yang tercermin dalam budaya wayang) yang berfungsi sebagai pembentuk karakter dan moralitas, dan tidak seperti di Romawi, mitologi ini tidak dilarang atau dilenyapkan ketika muncul agama baru. Dengan demikian sifat monoteis yang keras dan tanpa kompromi masih didampingi oleh budaya lama, dalam hal ini sastra dan filsafat yang bersifat politeis, sehingga yang muncul adalah penganut agama yang toleran dan berbudaya.
Bandingkanlah hal ini dengan daerah lain di Indonesia yang tidak memiliki dasar budaya ini, tampak bahwa sifat beragamanya cenderung lebih keras atau fanatik.

Mungkinkah ini dapat menjelaskan mengapa kini fanatisme tampak lebih mudah bangkit? Apakah semakin jauhnya generasi masa kini dari budaya Jawa yang dididik dengan kearifan dari mitologi lama (misalnya wayang) tanpa ada pengganti – misalnya sastra Yunani – membuat mereka kehilangan kearifan, kebijaksanaan dan toleransi sehingga mudah menjadi fanatik?




Saturday, May 09, 2009

POSREALITAS

Judul : Posrealitas – Realitas Kebudayaan Dalam Era Posmetafisika
Pengarang : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Jalasutra
Tahun : 2009, Maret, cet. kedua
Tebal : 483 hal

Buku ini terdiri dari 17 bab yang dibagi dalam 4 bagian:
1. Pososial, terdiri dari :
- Pososial: Menuju Kematian Sosial,
- Posekonomi:Berpacu dalam Konsumerisme
- Posmedia: Simbiosis Realitas dan Fantasi,-
- Posestetik: Antara Realitas dan Seni.

2. Poshorosisme - Poskriminalitas: Ketika Kejahatan Begitu Sempurna,
- Posrealitas Perang: Simbiosis Realitas dan Fantasi Perang
- Posteror: Theatrum Simulacrum-
- Poshororisme: Ketika Horor Menjadi Hiburan.

3. Posdemokrasi
- Posdemokrasi:Bersatunya Demokrasi dan Anarki
- Posotonomi: Egopolitik dan Mikrofasisme
- Posrealitas Hukum: Fatamorgana Hukum dan Ilusi Kebenaran

4. Posmoralitas.
- Pospiritualitas: Simbiosis Hasrat dan Kesucian
- Posmoralitas: Simbiosis Kebenaran dan Kepalsuan
- Poseksualitas
- Pospornografi: Melampaui Batas-batas Hasrat
- Poshumanitas: Homo Sapiens Electronicus
- Posfeminitas: Teknopolitik dan Masa Depan Relasi.

Sebagai kajian kebudayaan, penulis berusaha melakukan tinjauan kritis terhadap berbagai aspek budaya kini, terutama berdasarkan filsafat posmodern, sehingga banyak mengutip Jean Baudriliard, Michel Foucault, J. Lacan, P. Virilio dan lainnya.
Pembahasan pada bagian pertama, yaitu pososial cukup menarik, dimana penulis melakukan analisa terhadap beralihnya ruang sosial dari ruang fisik ke ruang maya, yang mengakibatkan keterbukaan dan kebebasan namun menurunkan kontrol, sehingga dapat mengarah pada anarki; konsumerisme dan kapitalisme yang menimbulkan halusinasi ruang, yaitu tercabutnya kebudayaan dari ruangnya; terlalu banyaknya informasi sampah, sementara masyarakat tidak memiliki daya kritis, sehingga menjadi massa yang diam; dan meluasnya ekspresi seni dalam cyberspace.
Bagian kedua membahas bagaimana kejahatan menjadi sempurna jika dilakukan oleh negara, dan realitas dibentuk oleh simulasi yang dibuat oleh pemerintah/negara tertenu beserta media yang dikuasai, untuk membentuk opini publik sesuai yang dikehendaki penguasa, melalui simulasi, sehingga kejahatan tersebut tersembunyi dari masyarakat, apalagi jika masyarakatnya kurang kritis.
Bagian ketiga menganalisa bagaimana demokrasi dan otonomi menimbulkan anarki dan fasisme di daerah-daerah, sehingga bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri.
Posrealitas cukup menarik untuk dibaca pada awalnya, karena dapat membuat pembaca lebih menyadari dan memahami fenomena budaya yang ada di sekitarnya dengan lebih kritis. Namun struktur buku ini yang membahas setiap topik dengan cara yang sama sebanyak 17 bab, membuat pembaca seperti mengulang hal-hal yang mirip sepanjang sekitar 400 halaman, apalagi hampir pada setiap bab terdapat kutipan dari Baudriliard.
Selain itu meskipun di setiap akhir bab penulis menguraikan sedikit saran mengenai cara mengatasi permasalahan yang diungkapkan di depan, namun tidak mendalam, mungkin karena tekanannya adalah pada kritik atau analisis budayanya. Disamping itu, sudut pandang yang hanya berdasarkan pemikiran postmodern, kurang memberikan tempat untuk sudut pandang lainnya, seperti rasionalisme atau humanisme.
Setelah menguraikan panjang lebar tentang berbagai hal, bagaimanakah kesimpulan dan saran penulis? Tanpa analisis mendalam, penulis hanya menyarankan untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan atau agama, tanpa uraian mengapa dan bagaimana caranya.
Suatu kesimpulan dan saran yang terasa klise dan cukup mengecewakan setelah membaca analisis dan tinjauan penulis sepanjang lebih dari 400 halaman.

Wednesday, April 08, 2009

Books and Me

I always love books since I was very young. When I was nine, we lived in a small town in Kalimantan close to the beach. It was a great time. The world was not as busy as now. After school, I spent my time looking for small fish and shell, trying the the fisherman’s boat, and enjoying the beach view from the bedroom window in the evening. In the small road beside the house, Dayak’s women with long big earrings and traditional hats used to walk to the market... There was only one channel tv in the night, but we found life was wonderful around the beach, wide grass yard, pinus trees, and in the way to the market were oil pipes, tanker ships, beautiful houses and trees in the hill … The town was quiet, only be broken by some cars or children carnavals in the main street several times a year.

There are many questions I always ask to myself. What is the meaning of this life ? School never gives me the answer. I turn to books.

When I was a child, I used to see butterflies, grasshoppers around the house and caught them to see their response. I made them a house from pieces of small branches, put them in the water, and released them, wondering .. would they tell their friends about the experience ? How did they feel about it ?

Then, in the quietness of nature, the endless life cycle, I found emptiness. What is life; is that only to repeat life endlessly, without clear purpose ? Why is everybody happy and never ask this question ?

Some people said that 90% of our life are boring things. We do almost the same things every day; working in the same building, passing the same street, seeing the same person, even in the week end shopping only in certain plaza or shopping center. Let’s count how many times in a month we spend time in new places that we never visit before, and what a really new experience we have. Our life is full of routine and routine. That’s why we often shocked to realize that one more year has passed, ‘though it seems yesterday that we celebrate a new year..

Book is the only escape from routinity. We get new experience and new thought from good book. It renews our life. Because reading is like having a journey. It opens your mind, your places, your time, without leaving your home.

Several years ago, I had a good friend. He was so friendly and helpful. He asked me, ”how many friends do you have ?” I count my friends, but he said, ”I don’t have friends. I don’t trust other person,” then he told his experience of having been betrayed by many whom he thought was his friends. I didn’t believe that would happen to everyone. My friends are different, they can be trusted.

Two years ago, I found that he was right. Of course, I do not lose all my close friends, but I really could not predict whom I would lose. My closest friend. And I never really know what made her went away.. Was it jealousy ? Am I so lucky that could make my best friend so jealous ? Because we are almost the same, I think.
It is not easy to find the right friends. Friends who really understand you, person you could spend time for hours even with no news or topic to talk about.. But I have lost one. That reminds me to my other friend. He is right. We will never know what other person’s heart, how close our relationship is. And other person could hurt us so deeply.

Books always make me happy. When I remember my life, much of its time was cheered up by books. I always turn to books when I was in sadness or depression. It seems like having many wise friends, but they will not hurt you or leave you in sadness. You can always reach them every time you need …

Monday, January 26, 2009

PARALLEL WORLDS

Judul : Parallel Worlds - A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos
Pengarang : Michio Kaku
Penerbit : Anchor Books
Tahun : 2006, Agustus
Tebal : 401 hal.

Kisah mengenai asal mula alam semesta atau penciptaan merupakan pertanyaan dasar manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan menjadi tema sentral ribuan mitologi dan agama.

Kosmologi (dan fisika) menjadi menarik, karena berusaha menjawab pertanyaan mendasar tersebut. Jawaban pertanyaan tersebut bagi banyak orang juga dianggap dapat menentukan arti hidup ini.

Menurut penulis, adanya satelit baru yaitu WAMP (Wilkinson microwave anisotropy probe) dan peralatan ilmiah lainnya semakin meyakinkan para ilmuwan akan adanya dunia paralel (parallel universe). WAMP berhasil merekam kondisi alam semesta pada waktu berumur 380 ribu tahun (usia alam semesta kini 13,7 miliar tahun) setelah ledakan besar (big bang) atau penciptaan. Gambar yang dihasilkan WAMP sesuai dengan teori selama ini karena menampilkan fluktuasi kuantum atau irregularity yang muncul tidak lama setelah big bang yang tampak berupa titik-titik yang menyebar. Titik-titik ini merupakan asal mula dari galaksi dan kluster galaktika yang ada saat ini.
Satelit WAMP juga mengungkapkan bahwa material yang tampak hanya menyusun 4% dari alam semesta (sebagian besar berupa hidrogen dan helium), sisanya terdiri dari material yang tidak tampak dan tidak kita ketahui, namun 73% berupa dark matter.
Selain itu, WAMP juga mengkonfirmasi teori inflationary, yaitu bahwa alam semesta terus menerus melahirkan alam semesta baru. Ada banyak big bang yang lahir dari alam semesta yang abadi, sehingga ada banyak dunia parallel (multiverse), yang terpisah dan tidak dapat bertemu. Dengan demikian, alam semesta kita mungkin lahir dari alam semesta lain yang lebih lama atau bahkan abadi.
Hal di atas kemudian membuat para fisikawan semakin menekuni teori string dan teori M, yang diharapkan dapat mengungkap sifat/nature multiverse.
Temuan penting lain dari WAMP adalah bahwa dark matter mendorong percepatan mengembangnya alam semesta, sehingga diperkirakan dalam 150 miliar tahun yad, dari sekitar 100 miliar galaksi hanya beberapa yang dapat terlihat, dan jika ini terus berlanjut alam semesta akan mati dalam kebekuan besar. Jika manusia masih eksis dan ingin tetap mempertahankan keberadaannya, maka jalan satu-satunya adalah pindah ke alam semesta lain, yaitu melalui wormhole.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar: The Universe, The Multiverse, dan Escape into Hyperspace, yang menjelaskan rincian hal-hal di atas. Agar lebih jelas, penulis juga menguraikan sedikit mengenai sejarah kosmologi.

Bagi pembaca awam, uraian Michio Kaku relatif lebih mudah diikuti daripada buku sejenis lainnya (misalnya buku Brian Greene yang uraiannya lumayan rinci), namun dapat memberikan gambaran yang lebih luas.

Di akhir buku dibahas, apa yang dapat diberikan pengetahuan kosmologi yang kita miliki saat ini mengenai arti hidup ini? Hal ini dijelaskan dalam uraian tentang anthropic principle dan Copernican principle, dikaitkan dengan kuantum dan multiverse. Menurut penulis, masing-masing memiliki kebenaran, dan kita belum tahu persis hal yang sebenarnya. Kosmologi atau fisika tak dapat memberi petunjuk. Maka manusia harus memberi arti sendiri bagi hidupnya, yaitu dengan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan memberi manfaat bagi orang lain atau masyarakat.


Tuesday, December 30, 2008

ARUS BARU ISLAM RADIKAL

Judul : Arus Baru Islam Radikal – Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia
Pengarang : M. Imdadun Rahmat
Penerbit : Erlangga
Tahun : 2007, Agustus
Tebal : 166 hal

Seberapa besarkah kebangkitan Islam di Indonesia dipengaruhi dari luar? Apakah tujuan akhirnya? Bagaimana kemungkinan perkembangannya di masa mendatang?

Penulis mendefinisikan revivalisme Islam sebagai kebangkitan Islam dalam segala bentuk, dari moderat hingga radikal dan apolitis hingga politis, meskipun dari pembahasan tampak bahwa pada dasarnya semua adalah radikal.

Bagian pertama membahas sebab timbulnya revivalisme di Timur Tengah, yaitu karena negara-negara di wilayah tersebut merasa berada dalam krisis akibat tekanan budaya Barat, yang menimbulkan pencarian identitas dan otentisitas bangsa Arab, antara lain dengan kembali kepada nilai-nilai agama yang murni.

Terdapat tiga organisasi/aliran utama, yaitu:
Ikhwanul Muslimin, didirikan di Mesir pada tahun 1928
Hizbut Tahir, didirikan di Palestina tahun 1952
Salafi, yang kemudian condong menjadi seperti Wahabi

Pada prinsipnya, ketiganya memiliki tujuan sama, yaitu pemurnian agama berupa kembali kepada Qur’an dan Sunah, penerapan syariat Islam, menentang sekularisasi dan hukum Barat lainnya, ketaatan total kepada hukum Tuhan.

Penulis menjelaskan bahwa penyebaran ketiga aliran pemikiran di atas dari Timur Tengah dilakukan oleh alumni lulusan Timteng khususnya Mesir ke kampus-kampus di Indonesia, dimulai dari ITB pada tahun 1974 (Ikhwanul Muslimin) di mesjid Salman, IPB pada tahun 1982 (Hizbut Tahir), yang kemudian secara sistematis disebarkan ke seluruh kampus di Indonesia sehingga kelak melahirkan Partai Keadilan Sejahtera pada tahun 1998. Sedangkan aliran Salafi/Wahabi disebarkan oleh Lembaga Ilmu Islam dan Sastra Arab (LIPIA), yaitu cabang Univ. Islam Muh. Ibnu Saud Univ. di Riyadh.
Menurut penulis, keadaan di atas terutama berkat upaya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), khususnya oleh M. Natsir (tokoh Masyumi). Peran DDII adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Mengusahakan pengiriman mahasiswa ke Timteng
2. Menjadi penggagas dan mediator berdirinya LIPIA
3. Meletakkan landasan awal gerakan dakwah kampus
4. Mendorong penerjemahan pemikiran Ikhwanul Muslimin

Target dari dakwah DDII adalah pesantren (a.l. Gontor, Ngruki), masjid (bantuan Timteng) dan kampus.
Penyebaran ini semakin kuat dengan munculnya banyak penerbit Islam yang menerbitkan buku-buku terjemahan karya para pemikir fundamentalis IM, a.l. Sayyid Qutb, yang kemudian dilanjutkan dengan penerbitan majalah seperti Sabili dll. Bahkan menurut penulis, penerbit umum pun menerbitkan karya para fundamentalis ini karena demikian larisnya. Gerakan revivalisme ini tidak berhenti sampai disini, karena mereka masih dan akan terus berdakwah sampai tujuannya tercapai.
Demikianlah, maka tanpa benar-benar disadari banyak pihak, selama dua puluh tahun lebih dalam kampus-kampus kita telah disemai bibit-bibit fundamentalisme asli dari Timteng. Selama sepuluh tahun Orba dengan penanaman slogan salah arah atheisme sama dengan komunisme dan sensor ketat bacaan, serta sepuluh tahun reformasi tanpa arah, maka kampus tidak menjadi tempat yang tercerahkan dengan rasionalitas dan pemikiran kritis, tetapi sebaliknya, semakin menjauh ke belakang, menuju irasionalitas dan dogma, dan bermaksud membawa seluruh rakyat bersamanya.
Isn’t it ironic, that our universities failed in nurturing reason and critical thinking, but very successful in spreading religion fundamentalism?
Buku ini – hasil penelitian untuk tesis S2 - memberi informasi yang cukup baik dan lumayan lengkap, sehingga membacanya cukup menimbulkan rasa khawatir akan masa depan keberagaman dan sekularisme di negeri ini.

Sunday, December 28, 2008

OVER THE EDGE OF THE WORLD

Judul : Over the Edge of the World - Magellan's Terrifying Circumnavigation of the Globe
Pengarang : Laurence Vergreen
Penerbit : Harper Perrenial
Tahun : 2004
Tebal : 430 halaman


Over the Edge of the World adalah kisah tentang keberanian, kepemimpinan dan kekerasan hati Magellan dalam usaha mencari rute baru ke pulau rempah-rempah, atau Maluku, yang berakhir cukup tragis bagi para awak kapalnya, namun membuka sejarah baru bagi dunia.

Magellan adalah perwira Portugis yang semula sangat loyal pada raja, namun karena merasa tidak dihargai dengan semestinya, ia kemudian mengabdi raja Spanyol, dan menawarkan ekspedisi mencari pulau rempah untuk berdagang dan mendapatkan koloni bagi Spanyol, namun melalui rute timur, yaitu melewati selat di Amerika Selatan yang belum jelas keberadaannya, agar tidak melalui wilayah kekuasaan Portugis.
Dengan lima kapal dan 257 awak kapal, selama tiga tahun (1519 – 1522) Armada de Molucca berlayar dari Seville, Spanyol, menemukan selat Magellan, menjadi kapal Eropa pertama yang menyeberangi Samudra Pasifik, sampai ke Filipina, Maluku, kemudian menyusuri Samudra Hindia dan Tanjung Harapan kembali ke Spanyol. Melewati badai, suku-suku kanibal, pemberontakan tiga kapten kapal, pembantaian dari penduduk asli, pengkhianatan, kelaparan, penyakit, dan kejaran kapal Portugis, ekspedisi Magellan berakhir dengan kembalinya satu kapal beserta 18 awak kapal yang membawa rempah-rempah dari Tidore dan Ternate ke Seville.
Magellan sendiri terbunuh sewaktu bertempur dengan kepala suku Mactan (Filipina) yang tidak bersedia dipaksa dikonversi menjadi Katolik. Sesuatu yang disayangkan awak kapal lainnya, karena Magellan seharusnya tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun semangat religius serta keberhasilan-keberhasilan sebelumnya mengatasi maut dan bahaya membuat Magellan terlalu berani, yang justru berakhir dengan tragis tidak saja bagi dirinya namun juga bagi awak kapal yang ditinggalkannya.
Pelayaran Magellan merupakan pelayaran penting, karena saat itu Eropa mengira bahwa Hindia tidak jauh dari sebelah timur Amerika. Dengan demikian Magellan tidak mengira bahwa Samudra Pasifik sangat luas sehingga harus dilayari selama beberapa bulan sebelum sampai ke Asia. Ini juga pelayaran pertama yang membuktikan bahwa dunia itu bulat, meningkatkan kesadaran untuk mengandalkan pada fakta dan pengalaman serta menandai awal dominasi Eropa di lautan, karena pelayaran armada China telah dihentikan sejak tahun 1431 dan kapal Arab tidak bersedia beranjak lebih jauh dari sekitar Samudra Hindia. Padahal dibandingkan dengan Cina, armada Eropa sangat kecil dan tidak memadai, sementara teknologinya sebagian dicontoh dari kapal Arab.

Buku ini sangat menarik karena penulis membawa kita seolah berada dalam kapal Magellan dan mengalami bermacam hal seru, kejam maupun menyedihkan yang tidak mungkin lagi terjadi di masa kini.

Wednesday, October 08, 2008

NOVEL NIGERIA

Judul : Half of a Yellow Sun
Pengarang : Chimamanda Ngozi Adichie, penerjemah Rika Affiti
Penerbit : Hikmah
Tahun : 2008, Agustus
Tebal : 761 hal.

Judul : Things Fall Apart
Pengarang : Chinua Abebe, penerjemah Cahya Wiratama
Penerbit : Hikmah
Tahun : 2007, Juli
Tebal : 267 hal.

Nigeria kerap disamakan dengan Indonesia: negeri yang kekayaan alamnya seolah menjadi kutukan, karena sebagian besar rakyatnya tetap sangat miskin dan para pemimpinnya gemar korupsi. Bahkan Jared Diamond dalam bukunya Collapse menyamakan kota Lagos dengan Jakarta. Jadi, membaca novel Nigeria tentu sesuatu yang menarik.

Things Fall Apart mengisahkan hancurnya adat istiadat asli suku Ibo ketika misionaris dan kolonialis memasuki Nigeria.
Tersebutlah Okonwo, seorang pria yang berusaha keras mempertahankan tradisi suku Ibo dan meraih kebesaran sesuai adat sukunya, antara lain dengan menjadi juara gulat, mengerjakan ladang untuk menghasilkan sebanyak mungkin ubi rambat, mengalahkan musuh dalam perang suku, bersikap keras terhadap istri-istrinya, dan mempertahankan kepercayaan lama.
Usahanya cukup berhasil, sehingga Okonwo menjadi orang yang terpandang dalam sukunya, meskipun kemudian ia diasingkan selama delapan tahun karena suatu ketika secara tidak sengaja menembak salah seorang anggota sukunya.
Selama pengasingannya ke rumah kerabat ibunya – sesuai adat sukunya tersebut - masuklah misionaris dan pemerintah asing ke desanya, sehingga ketika ia kembali, keadaan sudah jauh berubah. Pemimpin suku kehilangan kekuasaan, anak laki-lakinya masuk Kristen, anggota suku tidak dapat dipersatukan seperti dulu, bahkan ia dan beberapa pemimpin suku yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap kondisi tersebut ditahan dan dihinakan pemerintah baru yang kini lebih berkuasa. Tak dapat menahan perlakuan tersebut, Okonwo membunuh petugas yang memintanya menghentikan pertemuan yang sedang dipimpinnya untuk mempersatukan kembali sukunya.
Kisah ini berakhir tragis, karena kejadian diatas mengakibatkan Okonwo mengakhiri hidupnya. Hal ini diungkapkan dengan baik sekali pada akhir novel, ketika sahabatnya berkata kepada Komisaris Wilayah, “Lelaki itu salah seorang lelaki terbesar di Umuofia. Kau membuatnya bunuh diri; dan sekarang dia akan dikubur seperti anjing…”
Adat menganggap bunuh diri adalah suatu aib sehingga mereka tidak dapat menyentuhnya, karena itu mereka meminta Komisaris sebagai orang asing untuk mengurus dan menguburkannya.

Half of a Yellow Sun menceritakan masa ketika terjadi perang saudara antara Nigeria Utara dan Selatan (Biafra) pada tahun 1967-70.
Tokoh-tokohnya terdiri dari keluarga pengusaha yang dekat dengan penguasa dan sering memberi suap, kedua anak keluarga tersebut yang masing-masing menjadi dosen dan pengusaha serta kedua suaminya – satu diantaranya orang kulit putih dari Inggris – dan teman-teman mereka, kerabat keluarga tersebut yang menjadi pedagang miskin, pembantu laki-laki dari desa, dan pejabat militer.
Novel ini menggambarkan perjalanan hidup mereka menghadapi perubahan kondisi yang diakibatkan oleh perang saudara.
Perang tersebut bermula dari adanya pemberontakan oleh suku Ibo di selatan terhadap pemerintahan yang dikuasai suku Hausa dan Fulani di utara. Namun pemberontakan berhasil diatasi dan terjadi pembalasan dendam berupa pembantaian terhadap suku Ibo, yang kemudian menyatakan diri merdeka menjadi Negara Biafra. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh pemerintah, sehingga diperangi sampai akhirnya menyerah, kembali berada di bawah Nigeria.
Keadaan di atas tidak dapat dilepaskan dari sejarah Nigeria sejak masa kolonial. Inggris mempercayakan pemerintahan ke suku Hausa dan Fulani di utara karena mereka feudal dan muslim, sedangkan suku di selatan beragam, yaitu Kristen dan bermacam animisme sehingga lebih sulit diatur. Namun pendidikan yang diperoleh suku di selatan kemudian, membuat mereka tidak puas terhadap pemerintah yang mayoritas dikuasai orang utara yang dianggap kurang pandai dan korup, sehingga menimbulkan perang saudara.
Membaca novel ini memberkan gambaran kehidupan kelas bawah hingga kelas atas Nigeria dan keadaan negara di Afrika jika terjadi perang saudara: masalah etnis/klan/suku dan agama serta pembagian kekuasaan yang tidak merata selalu merupakan sumber masalah utama, dan perang disana merupakan sesuatu yang dilakukan dengan sangat kejam.

Novel ini dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama terdiri dari 6 bab (Awal Tahun Enam Puluhan) berjalan agak lamban, lebih banyak menggambarkan kehidupan tokoh-tokohnya. Bagian kedua terdiri dari 12 bab (Akhir Tahun Enam Puluhan) menggambarkan keadaan saat awal terjadinya kudeta dan perang yang berlangsung kemudian. Bagian ketiga, bab 19 s.d. 24 (Awal Tahun Enam Puluhan) menggambarkan kehidupan keluarga tokoh dalam novel sebelum perang. Bagian empat, bab 25 s.d. 35 kembali menggambarkan keadaan perang sampai selesai, yaitu takluknya Biafra atau Nigeria selatan, dan bagaimana keluarga dalam novel ini mempertahankan hidup hingga akhir perang.
Secara keseluruhan , novel ini cukup menarik.

Wednesday, July 16, 2008

Bilangan Fu

Judul : Bilangan Fu
Pengarang : Ayu Utami
Penerbit : KPG
Tahun : 2008, Juni
Tebal : 536 hal.

Berbeda dengan trend novel saat ini – novel religius - Bilangan Fu menawarkan sikap sebaliknya. Novel ini merupakan kritik terhadap fundamentalisme agama, televisi, kedangkalan pikiran, dan ajakan untuk memelihara kelestarian alam serta budaya asli. Tiga tokoh yang terdapat disini masing-masing mewakili sikap fundamentalisme, yang diwakili oleh tokoh Kupukupu alias Farisi, rasionalisme yang diwakili tokoh Yuda, dan postmodernisme yang diwakili tokoh Parang Jati.

Yuda, yang menjadi tokoh utama, adalah pemanjat tebing, yang kemudian bertemu Parang Jati, ketika akan membeli peralatan memanjat. Yuda yang sangat rasional dan semula menganggap remeh Parang Jati, menjadi terkesan ketika Parang Jati dapat menerangkan lokasi pemanjatan dengan menggabungkan ilmu pengetahuan (geologi) dan legenda rakyat, sehingga Yuda kelak menjadikannya sahabat.
Parang Jati, yang bermaksud akan belajar memanjat tebing kepada Yuda dan sebelas orang kawannya sesama pemanjat, juga membuat Yuda berjanji hanya akan melakukan clean climbing, yaitu pemanjatan tanpa merusak tebing dengan bor, paku dan sejenisnya demi menghargai alam.Di tengah semua ini, mereka bertemu dengan Kabur bin Sasus, seorang penganut mistik yang kemudian digigit anjing gila bersama dengan teman Yuda, Pete. Kabur tidak bersedia dibawa ke rumah sakit, sehingga meninggal dunia. Ketika hendak dimakamkan, terjadi keributan karena tiba-tiba muncul Kupukupu, yang melarang Kabur dimakamkan di makam desa dengan alasan ia musrik. Orang-orang desa mengalah, sehingga Kabur dimakamkan di luar desa, dekat tebing lokasi pemanjatan. Namun terjadi kehebohan selanjutnya, karena makamnya kemudian terbuka dan orang desa mengatakan bahwa Kabur bangkit dari kubur.Yuda kemudian menginap di rumah orang desa dan Parang Jati tinggal di rumah pamannya di wilayah tersebut, namun ia seperti merahasiakan sesuatu.
Rahasia itu baru diketahui Yuda ketika ia kembali ke Bandung dan menonton pertunjukan paranormal untuk mengejek irasionalitas. Ia melihat Parang Jati yang berjari enam menjadi bintang pertunjukan diantara orang-orang cacat, yang membuka rahasia Parang Jati selama ini.Parang Jati dan Farisi tidak mengetahui kedua orang tua masing-masing. Keduanya ditemukan oeh Mbok Manyar – yang memiliki kearifan desa – di sendang terakhir yang tidak pernah dikunjungi orang desa, dalam sebuah keranjang. Parang Jati yang tampan dipelihara oleh Suhubudi, orang terkaya di desa yang mengumpulkan orang-orang cacat dan kemudian menjadikan mereka pertunjukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya memelihara alam.Kupukupu, yang terlambat sehari ketika ditemukan oleh Mbok Manyar, dipelihara oleh penduduk desa biasa.
Sejak kecil Kupukupu merasa iri hati dengan Parang Jati dan berusaha menyainginya, hingga suatu hari ia memperoleh beasiswa belajar ke luar negeri. Namun Kupukupu tidak mampu menyelesaikan pelajaran dan sejak pulang berubah nama menjadi Farisi serta menjadi orang fanatik yang mencela adat istiadat penduduk desa yang mengadakan upacara tradisional sebagai dosa.Puncak dari tindakan Kupukupu adalah ketika ia merusak sesajen yang dibuat penduduk dalam suatu upacara adat, sehingga menimbulkan kemarahan penduduk.Sementara itu, Parang Jati berusaha membela penduduk desa dalam melawan perusahaan tambang yang akan menguasai desa tersebut, antara lain dengan menghidupkan kembali adat lama yang menghormati lingkungan, bahkan dengan membentuk aliran kepercayaan baru – hal yang dianggap Kupukupu sebagai dosa tak termaafkan, sehingga ia menghancurkan Parang Jati.
Apakah Kupukupu bekerja sama dengan perusahaan pertambangan? Apa yang sebenarnya terjadi pada Kabur?
Novel ini merupakan kritik terhadap kondisi Indonesia saat ini: kondisi dimana kaum fundamentalis agama monoteis dengan kasar berusaha memaksakan pendapatnya dan menghinakan kepercayaan serta adat lokal yang telah ratusan tahun, kapitalisme yang dibiarkan merusak lingkungan dengan segala cara, lemahnya kekuatan para pecinta lingkungan dan toleransi, dan diamnya massa karena ketiadaan pengetahuan yang memadai serta rasa takut dianggap tidak beriman.

Tidak mengherankan bahwa penulis sebagai orang Jawa berusaha memunculkan kembali kearifan budaya Jawa, antara lain melalui penjelasannya tentang wayang (yang dilengkapi dengan gambar yang dibuat sendiri), legenda, cerita Babad Tanah Jawi, dan seruan perlunya memelihara kepercayaan lokal berdampingan dengan agama monoteis, namun dengan sikap kritis. Hal ini disuarakan oleh tokoh Parang Jati, yang mungkin mewakili pendapat penulis, yaitu “dimana spiritualitas menampung sikap kritis akan kebenaran, sekaligus tahan memanggul kebenaran yang tertunda itu.” Namun “kebenaran jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.”

Spiritualitas yang dirujuk penulis adalah agama-agama Timur, di buku ini dilambangkan dengan bilangan fu, atau nol tetapi tak terhingga, sebagai lawan dari satu, yaitu Tuhan agama monoteis. Dikisahkan bahwa Parang Jati membentuk kepercayaan baru yang bersifat Jawa tapi bukan Kejawen, karena tidak seperti Kejawen yang "tidak merumuskan daya kritis, mengabaikan logika dan tidak analisa sama sekali," kepercayaan ini “milik orang yang rasional tapi kritis pada rasionya.” Namun Parang Jati menolak rasionalisme, karena menganggap rasionalisme identik dengan modernisme dan kapitalisme, yaitu menguasai alam untuk kekuasaannya sendiri, sehingga cenderung merusak.Benarkah agama-agama Timur kritis? Memang tidak ada Tuhan monoteis disana, tapi apakah ada kritik terhadap hal-hal yang biasa dipercaya, seperti reinkarnasi? Bagaimana dengan rasionalisme para ilmuwan, yang justru karena kedalaman pengetahuannya akan alam semesta menjadi sangat menghargai alam dan merasakan spiritualitas darinya? Bagi mereka rasionalisme tidak berarti perusakan alam melainkan sebaliknya dan karena itu pemahaman cara bekerja alam berdasarkan ilmu pengetahuan sangat perlu bagi masyarakat - meski pengetahuan tersebut selalu terbuka untuk revisi dan tidak sempurna serta bisa mengarah kepada bilangan nol: atheisme. Sikap yang diambil Parang Jati memang lebih mudah untuk diterapkan pada masyarakat, meskipun di novel ini hal itupun harus diperjuangkan.

Cukup banyak yang ingin diutarakan penulis dalam satu novel, sehingga terlalu banyak dan di beberapa bagian seperti pelajaran yang terlalu rinci, misalnya uraian panjang tentang legenda, wayang, Babad Tanah Jawi, dan kondisi zaman Orde Baru mungkin hanya perlu bagi yang belum mengenal legenda tersebut atau tidak pernah hidup di zaman Orba. Selain itu banyaknya penjelasan yang cukup rinci kadang membuat saya lupa bahwa yang sedang memikirkan hal tersebut adalah Yuda, karena seolah pikiran penulis sendiri melalui tokoh Yuda.Hal lain, asal usul Parang Jati dan Kupukupu dari keranjang yang ditemukan di sungai merupakan kisah yang terasa klise, demikian pula kematian Parang Jati.
Hal baru yang dilakukan penulis dalam novelnya adalah menghiasinya dengan beberapa ilustrasi yang digambar sendiri, dan menyertakan beberapa kliping berita surat kabar sebagai pelengkap cerita.
Secara keseluruhan novel ini cukup menarik, meskipun bergaya lebih populer namun banyak yang dapat disampaikan, dan mungkin dapat mengubah para pembaca Indonesia agar lebih menghargai lingkungan dan budaya lokal.

Sunday, July 06, 2008

A Portrait of the Brain

Pengarang : Adam Zeman
Penerbit : Yale University Press
Tahun : 2008
Tebal : 246 hal.

Sudah lama diketahui, bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui cara bekerja otak adalah dengan meneliti kelainan atau kerusakan otak yang dialami para pasien yang mengalami hal tersebut.
Ditulis dengan gaya seorang dokter yang menerangkan kasus-kasus yang pernah ditanganinya, Prof. Zeman menguraikan bagaimana penyimpangan sedikit saja pada satu molekul, sel, atau gen yang membentuk otak bisa memberikan pengaruh yang sangat berarti kepada emosi, pikiran, dan kesehatan, yang dapat mengakibatkan penyakit berat hingga kematian.
Betapa satu jenis molekul saja dapat berpengaruh besar pada hidup seseorang diuraikan penulis melalui kisah seorang pasiennya yang mengalami kelelahan setiap pagi sehingga hampir tidak bisa bangun dari tidurnya, bahkan akhirnya menjadi koma. Ternyata hal tersebut disebabkan adanya disorder pada serat otot yang mengakibatkan kekurangan supply oksigen ke otak ketika tidur. Tidak mudah menemukan hal ini, karena kekurangan hormon adrenal - yang dibutuhkan ketika sedang stress -, dan narcolepsy, yang memerlukan tidur sangat banyak juga tampak seperti kelelahan kronis atau bahkan kemalasan.

Penulis juga menguraikan bagaimana satu molekul dapat mengakibatkan kematian
Penghapusan satu molekul, satu base nukleotida dari gen yang biasanya memungkinkan sel arah merah memproduksi protein untuk sandaran protein lain di dinding sel darah merah mengacaukan produksi protein, sehingga dinding sel darah merah menjadi tidak stabil, sehingga mengubah bentuk sel dalam darah. Gen yang sama juga aktif di otak, sehingga hilangnya protein ini memperpendek hidup sel-sel di bangsal ganglia yang diperlukan untuk menjaga kemampuan gerak dan pikiran sebagaimana seharusnya. Mereka yang mengalami kelainan ini akan kehilangan kemampuan mengendalikan gerakan dan pikirannya sehingga tidak dapat duduk tenang dan terus bergerak/bepergian serta berbicara sehingga kepribadian aslinya hilang, dan setelah bangsal ganglia semakin menyusut, terjadi kematian.
Kelainan protein lainnya yang dapat menyebabkan kematian adalah scrapie agent, yang menyebabkan spongiform disorder. Hal ini disebabkan prion protein. Protein ini terletak di selaput berlemak yang menutup setiap sel di otak, dan dikendalikan oleh gen prion, Sebagaimana protein lainnya, setiap waktu tertentu terjadi pergantian. Namun molekul protein ini tidak begitu stabil, karena bentuk tiga dimensinya dapat berubah menjadi tidak tercerna ketika waktunya tiba bagi sel untuk melepasnya.. Proses ini merupakan suatu proses berantai sehingga makin banyak molekul yang bentuknya tidak normal, sehingga ketika molekul baru disintesis dan ditransformasikan, akumulasinya akhirnya kekacauan di otak. Pengaruh hal ini terhadap penderita mula-mula adalah pada emosi: yaitu merasakan kekhawatiran tanpa dasar, paranoia, dan hilangnya memori serta pikiran secara bertahap. Hal yang menyebabkannya tidak begitu jelas. Namun kemungkinan berasal dari makanan hewani yang diproses, yang berasal dari sapi yang diberi makanan berupa sisa sapi potong (bagian otak dll yang dihancurkan) yang diolah untuk makanan sapi. Berdasarkan penelitian di Afrika, diketahui bahwa otak manusia atau binatang yang mengandung virus kuru dapat menimbulkan kelainan ini kepada yang memakannya.
Penulis juga menguraikan tentang narcolepsy, yang disebabkan oleh hilangnya satu neurotransmitter.

Hal lain yang menarik adalah penjelasan tentang epilepsy dan déjà vu.
Epilepsi disebabkan adanya sekumpulan sel otak yang tidak mampu mencapai tempatnya dengan benar sehingga mengelompok di suatu tempat yang tidak seharusnya. Sebagaimana diketahui, saat pertumbuhan awalnya, cortex dibentuk dari sel-sel induk yang berada pada dinding ventricles, yang kemudian mengisi ruangan yang menempati pusat otak. Sel (neuron) yang tumbuh disana harus merambat ke cortex menuju tempatnya masing-masing, dipandu oleh sel radial yang meluas seperti tali pemanjat, melalui bidang yang terdiri dari axon yang juga selalu berubah karena pertumbuhan. Dan sel yang tumbuh belakangan harus mencapai tempat yang lebih jauh. Tidak heran kadang neuron tidak mencapai tempat yang seharusnya, sehingga menyampaikan sinyal listrik tanda distress, meminta pertolongan, yang mengakibatkan serangan epilepsi.
Mengenai kondisi epilepsy sendiri, penulis mengutip uraian novelis Fyodor Dostoevsky – yang menderita partial epilepsy – bahwa serangan epilepsy menimbulkan ”kebahagiaan yang tidak mungkin (dapat dialami) dalam keadaan biasa, dan konsepsinya tidak dapat diketahui orang lain. Saya merasa penuh harmoni dalam diri sendiri dan seluruh dunia, dan perasaan tersebut sangat kuat dan manis sehingga untuk beberapa detik kebahagiaan (bliss) seseorang dapat menyerahkan sepuluh tahun kehidupan, bahkan seluruh hidup.” Demikian pula perasaan yang dialami pasiennya.

Bagaimana dengan déjà vu?
Sebagian besar orang pernah mengalami deja vu. Berdasarkan penelitian, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak seseorang bermimpi, semakin tinggi kemungkinan mengalami deja vu. Namun semakin tua hal ini akan semakin berkurang. Penderita epilepsy juga mengalami hal ini lebih daripada lainnya.
Apakah penyebabnya? Bagian otak yang berkaitan dengan penciuman terletak di limbic lobe, berdekatan dengan amygdala, yang berkaitan dengan emosi, dan sekitar hippocampus, yang berkaitan dengan memori. Dengan demikian aroma parfum tertentu misalnya, dapat menimbulkan kenangan dan emosi tertentu. Limbic sistem juga merupakan sumber dari serangan epilepsi.
Benarkah deja vu berkaitan dengan memori? Terdapat tiga teori mengenai hal ini. Namun teori yang diyakini adalah sebagai berikut. Sebagian dari jaringan memori di limbic lobe diperuntukkan untuk pengenalan, yaitu untuk menentukan apakah hal yang sedang dialami tersebut familier (biasa) atau tidak. Jika sistem memori menjadi aktif secara spontan, seperti dalam serangan epilepsi, apapun pengalaman yang dialami akan ditandai secara salah dan dianggap biasa. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa mereka yang mengalami deja vu tidak dapat menemukan kejadian sebelumnya (previous encounter) dengan sekumpulan keadaan yang menurut kita telah dikenal dengan baik.
Teori ini didukung oleh eksperimen terhadap sekelompok anak yang mengalami luka pada hippocampusnya sewaktu mereka kecil. Ketika dewasa, mereka sulit mengingat hal-hal rinci mengenai kehidupannya dari hari ke hari, akan tetapi tidak mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah. Dengan demikian disimpulkan bahwa mereka menggunakan sistem memori yang terdapat di luar hippocampus, yaitu bagian yang memberikan kita rasa pengenalan dan familiarity, dalam ketiadaan mengingat kembali (recall). Bagian ini, disebut parahippocampal, adalah juga sumber pengalaman deja vu.

Masih terdapat penjelasan penulis yang menarik lainnya, misalnya tentang front temporal dementia, yang diawali dengan hilangnya kemampuan berbahasa secara bertahap, yang disebabkan menyusutnya otak kiri, yang bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa dan logika. Hilangnya dominasi otak kiri dapat menyebabkan munculnya kemampuan otak kanan, misalnya dalam bentuk peningkatan kemampuan atau kreativitas seni. Namun gangguan dalam pembagian kerja ini juga memberikan sumbangan pada gangguan fungsi pada penderita schizophrenia, dan jika terjadi di usia lanjut dapat mengakibatkan kematian. Jika penyusutan neuron terjadi pada otak kanan (yang lebih jarang terjadi) , maka yang terjadi adalah perubahan perilaku dan kepribadian, antara lain tidak memperhatikan pakaian dan kebersihan, kehilangan kesopanan, penurunan perhatian pada keluarga dan teman, penarikan diri, yang diawali dengan kesulitan mengenai wajah dan orang lain.

Uraian yang terdapat dalam buku ini cukup sederhana dan tidak terlalu terinci sehingga mudah dipahami, namun demikian tidak memberikan penjelasan yang lebih menyeluruh dan lengkap tentang cara bekerja otak, hanya penemuan-penemuan terakhir mengenai disfungsi otak yang dapat membantu kita memahami betapa besar peran otak terhadap emosi, pikiran, kesehatan tubuh, dan betapa satu penyimpangan kecil saja dapat mengubah kepribadian, perilaku, hingga mengakibatkan kematian.
Kesimpulannya, otak disusun dari atom, yang secara bertingkat membentuk molekul, organelle, sel dan selaput yang terdiri dari jaringan milyaran neuron (sel otak). Otak adalah seperti sebuah mesin, dan daripadanya muncul pikiran. Oleh karena itu pikiran (mind) tidaklah terpisah dari otak (materi): mind is at home with matter.

Adam Zeman adalah guru besar neurology kognitif dan perilaku di Peninsula Medical School, dan penulis buku Consciousness: A User’s Guide.

Sunday, April 13, 2008

FOOD IN HISTORY

Judul : Food in History
Pengarang : Reay Tannahil
Penerbit : Folio Socety
Tahun : 2007
Tebal : 381 hal.

Buku ini menguraikan tentang sejarah makanan dalam peradaban manusia, dan bagaimana makanan mempengaruhi pembentukan masyarakat, pertumbuhan penduduk dan ekspansi urban, menentukan teori ekonomi dan politik, memperluas wawasan perdagangan, mengilhami perang dan dominion dan mempercepat penemuan dunia baru.
Makanan juga memainkan peranan dalam agama, untuk menentukan keterpisahan antara satu aliran dengan lainnya dalam bentuk tabu makanan; dalam sains, dimana observasi koki prasejarah memberikan dasar terhadap awal mula kimia; dalam teknologi, dimana water milling kincir air kemudian menjadi alat revolusi industri; dalam kesehatan, dimana sebagian besar berdasarkan prinsip pengaturan makanan sampai dengan abad 18, dalam perang, dimana pertempuran ditunda sampai masa penen, dalam pembedaan kelas, yang terlihat dari makanan yang disajikan, dan hubungan antar manusia, antara vegetarian dan pemakan daging..

Uraian dibagi dalam enam bagian, yaitu:
1. Zaman prasejarah
2. Asia, Mesir dan Eropa 3000 SM s.d. 1000M
3. Asia sampai dengan Zaman Pertengahan dan Dunia Arab
4. Eropa 1000 – 1492 M
5. Dunia yang Meluas 1492 – 1789
6. Dunia Modern 1789 sampai Saat Ini

Banyak hal-hal menarik dalam buku ini. Misalnya, mengapa orang India pantang memakan sapi bahkan memujanya? Dilihat dari sejarahnya, pada masa kebudayaan Indus, mereka memakan segala jenis binatang termasuk kerbau. Namun dari peninggalan arkeologi, banyak terdapat gambar sapi pada lempeng yang mungkin digunakan untuk perdagangan, sehingga kemungkinan besar sapi adalah lambang kelompok pendatang yang dalam proses asimilasi dengan kebudayaan India; mungkin pedagang atau gelombang awal bangsa Indo Eropa. Oleh karena tidak semua sapi tidak tahan dengan iklim India, maka sapi harus dilindungi. Selanjutnya kedatangan bangsa Arya yang gemar mengkonsumi daging sapi dan susu membuat perlindungan terhadap sapi semakin diperlukan, sehingga akhirnya dilarang sama sekali atas nama agama.

Lalu darimana muncul prinsip vegetarian? Vegetarian banyak terdapat di India karena berkaitan dengan kepercayaan Budha dan Jain yang mempercayai reinkarnasi, yaitu setiap orang setelah mati akan hidup kembali dalam bentuk bermacam binatang, tergantung karmanya. Dengan demikian binatang dihindari sebagai makanan. Sedangkan agama Hindu membuat penganutnya percaya bahwa memakan makanan yang disiapkan oleh kasta yang lebih rendah akan membuat kasta mereka menurun menjadi sama rendah.
Selanjutnya, mengapa ada tabu memakan babi? Berdasarkan bukti sejarah, sampai dengan tahun 1800 S.M, babi belum merupakan tabu. Namun kemudian datang suku pengembara yang menyapu wilayah Eropa Timur dan Asia Barat sejak tahun 200 S.M. Suku ini terbiasa dengan domba, dan membenci babi karena sulit digembalakan, berstamina rendah dan tidak mampu berada di rumput. Bangsa Indo Eropa ini beserta budayanya turut mempengaruhi penolakan terhadap babi. Selain itu, tabu makanan juga dibuat lebih untuk kepentingan doktrin daripada pola makan, yaitu sebagai lambang ekslusivitas, untuk membedakan diri dari pihak yang tidak sefaham. Termasuk disini larangan akan binatang amfibi, darah dan burung yang tidak bisa terbang.

Tekanan populasi pada sekitar abad ke 5 M menyebabkan bangsa-bangsa barbar (Goth, Vandal.Frank) berusaha mencari wilayah baru untuk ternak mereka, sehingga mereka terus menerus menyerbu wilayah Romawi hingga akhirnya menyerbu Roma. Penyerbuan terhadap kota mengakibatkan meningkatnya populasi yang kembali ke desa, karena ternyata kota menarik penyerbu. Namun penurunan populasi kota turut menurunkan peradaban - karena kota dibentuk oleh penduduknya – hingga akhirnya perekonomian kembali ke sistem barter.

Berdasarkan sejarah juga diketahui bahwa sejak zaman Yunani, ketika terjadi perang Pelopponesian, mereka yang tinggal di kota Athena dapat memperoleh makanan yang memadai, namun di pedesaan petani yang ladangnya hancur mengalami kelangkaan pangan sehingga hanya memakan sayuran, lobak, yang mengakibatkan mereka pergi ke kota mengadu nasib, karena perbaikan pertanian memerlukan waktu tiga empat tahun utnuk mendapatkan hasil memadai. Untuk membantu kaum miskin, maka pemerintah membuat usaha sporadis. Usaha ini terus berlanjut sampai di zaman Romawi.
Sejak 6000 S.M Roma mengalami kekurangan pangan dan kelaparan, namun baru pada tahun 123 S.M, ketika biaya hidup meningkat pada tingkat yang membahayakan, Kaisar Gaius membuat kebijakan bahwa semua penduduk dapat membeli padi dari lumbung/cadangan pemerintah dengan harga lebih rendah dari pasar.
Pada tahun 72 S.M. grain gratis dibagikan kepada empat puluh ribu laki-laki di Roma dan pada dekade-dekade berikutnya jumlah orang yang menerima meningkat, sehingga Julius Caesar merasa hebat ketika bisa memotong jumlahnya hingga menjadi hanya 150 ribu orang. Namun lima puluh tahun kemudian jumlahnya meningkat lagi menjadi 320 ribu atau sepertiga jumlah penduduk dalam sedekah Roma. Makanan ini diimpor dari Mesir, Sisilia dan Afrika Utara.
Di lain pihak, kegemaran akan rempah, yang ketika itu dimonopoli pedagang Arab sampai dengan tahun 100 M – yang menyembunyikan asal-usul daerah penghasil rempah - membuat bangsa Romawi kemudian berlayar sampai ke Malabar, India untuk membeli rempah-rempah. Kelak hal ini juga akan mendorong bangsa Eropa lainnya berlayar jauh ke Asia dan selanjutnya melakukan kolonisasi.

Zaman dahulu menyiapkan makanan sendiri bukanlah hal yang mudah, karena peralatan masih primitif, bahan bakar sulit dan tempat tinggal sempit sehingga tidak ada tempat memadai untuk membuat makanan. Oleh karena itu di zaman Romawi telah ada pihak yang khusus mengolah grain menjadi tepung dan selanjutnya roti, juga toko yang menjual makanan seperti babi panggang, ikan asin, keju, olive, dll. .
Keterbatasan teknologi juga membuat penyediaan makanan bagi pelaut yang harus berlayar berbulan-bulan cukup sulit, yang baru mengalami kemajuan cukup pesat setelah muncul teknologi pengalengan makanan dan pendingin.

Abad 8 dan 9 merupakan masa gelap. Kelangkaan pangan membuat bangsa Skandinavia menyerbu Eropa, menghancurkan gereja,biara,dan merampas hasil panen dan ternak. Sementara di lembah Rhine jamur beracun pada rye (sejenis gandum) mengakibatkan kelaparan selama beberapa tahun, dan di selatan, kedatangan bangsa Arab membawa tanaman yang menghancurkan pertanian. Pada zaman itu, banyaknya kelaparan memunculkan kanibalisme.
Sementara itu, sepanjang sebagian besar sejarah, minuman yang diolah dari tumbuh-tumbuhan merupakan minuman pokok, karena sebelum teknologi cukup maju, air putih rentan terhadap adanya kuman, terutama jika populasi cukup padat.

Selanjutnya perkembangan teknologi membuat kini setiap orang dapat memperoleh makanan apapun pada saat musimnya, dimanapun ia berada. Namun demikian, sebagaimana kita lihat pada masa kini, betapapun majunya teknologi, penyediaan makanan masih merupakan masalah penting dan pokok bagi banyak negara. Masih banyak bangsa yang miskin dan penduduknya sulit memperoleh makanan, harga pangan terasa mahal, pemerintah masih harus memberikan subsidi, dan mengolah makanan merupakan hal sulit karena bahan bakar tidak mudah diperoleh. Ternyata, masalah makanan di zaman kini - bagi negara miskin terutama – masih tidak jauh berbeda dengan di zaman Romawi. Lebih mengerikan lagi, jika diingat bahwa pada tahun 2050 jumlah penduduk dunia akan menjadi 7,5 miliar, 90%nya akan berada di negara dunia ketiga (negara miskin), dan lebih dari 50% tinggal di kota, yang berarti tuntutan konsumsinya lebih tinggi, sementara lahan pertanian terus menyusut dan terdapat perubahan iklim yang cukup drastis. Maka pangan masih akan terus menjadi masalah utama bagi manusia.

Buku ini cukup menarik, memberikan banyak pengetahuan baru tentang makanan sepanjang sejarah, di berbagai tempat di dunia, termasuk gambaran bagaimana cara memasak dan menu di zaman dulu serta perkembangan tata cara makan.

Terbenamnya Iman - Agama, Teror dan Masa Depan Nalar

Judul : Terbenamnya Iman – Agama, Teror dan Masa Depan Nalar
terjemahan dari The End of Faith
Pengarang : Sam Harris
Penerbit : Abdi Tandur
Tahun : 2007
Tebal : 310 hal


Ini adalah terjemahan buku The End of Faith tahun 2005 yang cukup terkenal itu. Cukup mengejutkan bahwa ada penerbit yang berani menerjemahkan buku ini di Indonesia, meski saya tidak menemukannya di toko-toko buku besar.

Seperti buku The God Delusion dari Richard Dawkins dan God Is Not Great dari Christopher Hitchins, Harris juga mengkritik agama.
Di bagian awal, Harris menguraikan mengapa agama Kristen harus ditolak, dengan menguraikan rincian kejahatan inkuisisi yang berlangsung pada zaman pertengahan sampai awal abad 19 hingga pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi, serta teks Injil yang mendukung semua kejahatan tersebut.
Pada bagian berikutnya, dengan mengutip teks Qur’an sebanyak 3 halaman Harris menguraikan mengapa agama Islam tidak dapat ditolerir karena mendukung kekerasan, anti toleransi dan mempunyai tujuan akhir menaklukkan dan menguasai dunia – jika perlu dengan kekerasan.
Berdasarkan hal di atas, dan perkembangan teknologi senjata masa kini, Harris berkesimpulan bahwa sudah waktunya kita menghentikan sekat-sekat berdasarkan agama atau penghormatan yang berlebihan terhadap agama, karena jika teknologi senjata mutakhir dikuasai oleh kaum fundamentalis yang ingin menguasai dunia, maka hancurlah dunia ini, tidak hanya secara fisik, tapi juga budaya – sains dan demokrasi – karena kaum fundamentalis (Islam) adalah seperti agamawan Kristen pada abad kegelapan (zaman pertengahan).
Bagi Harris, tidak ada yang namanya penganut agama moderat. Yang ada adalah mereka yang patuh pada agamanya (berarti fundamentalis), atau mereka yang tidak konsisten karena hanya mengambil sebagian saja dari perintah (yang tertulis dalam kitab suci) agamanya (kaum moderat) dan tidak mempedulikan/mengabaikan hal-hal yang mengerikan yang sesungguhnya ada dalam setiap agama. Baginya tidak ada jalan tengah.

Memang, sejak peristiwa 9 September 2001, timbul kesadaran baru akan bahaya fundamentalisme agama sehingga memunculkan buku-buku yang mencoba menyadarkan masyarakat dunia akan bahaya tersebut, dan menolak semua agama. Buku ini salah satunya. Namun jika sasaran buku Dawkins adalah penyadaran kepada individu untuk bersikap kritis dan menolak semua hal yang tidak rasional dengan penekanan kepada pemahaman akan sains, dan Hitchins penolakan terhadap semua agama formal termasuk Budha dan Hindu, Harris lebih menekankan uraiannya kepada bahaya yang akan timbul apabila agama menguasai suatu negara atau dunia, sehingga ia masih menganggap meditasi atau pengalaman sejenis yang bersifat spiritual – asal tidak berkaitan dengan agama formal tertentu – tidak bertentangan dengan rasionalitas, selama hal itu membahagiakan pelakunya.

Terjemahan buku ini lumayan cepat, hanya dua tahun setelah buku aslinya. Sayangnya penerjemahannya masih agak kaku, sehingga agak kurang enak dibaca, dan tidak mudah ditemukan di toko buku atau toko online. Meskipun demikian, ini merupakan usaha yang patut dihargai, mengingat jarangnya buku sejenis ini diterbitkan di Indonesia. Saya menemukan buku ini terselip di toko buku berbahasa Inggris/Jepang, Kinokuniya Plaza Indonesia.

Monday, March 31, 2008

PARASITE REX

Judul : Parasite Rex – Inside the Bizarre World of Nature’s Most
Dangerous Creatures
Pengarang : Carl Zimmer
Penerbit : Touchstone, NY
Tahun : 2001
Tebal : 249 hal.

Buku ini sangat menarik dan menakjubkan; banyak hal-hal baru yang diungkapkan penulis tentang parasit yang selama ini tidak banyak kita ketahui.

Selama ini kita mengenal parasit sebagai makhluk hidup yang menumpang hidup pada makhluk hidup lainnya dengan mengambil sumber daya makhluk yang ditumpanginya (host) hingga kekurangan makanan, sakit bahkan mati, misalnya benalu pada tanaman atau cacing pita pada manusia dan binatang. Namun buku ini memberikan informasi bahwa keganasan parasit tidak saja persis seperti dalam film Alien, tetapi juga bahwa parasit memiliki peran cukup berarti dalam evolusi, antara lain mendorong perkembangbiakan dengan cara kawin, seleksi seksual, penjagaan keseimbangan ekosistem, hingga menentukan perilaku. Selain itu pengetahuan mengenai parasit hama dapat menolong ratusan juta penduduk di Afrika dari kelaparan karena kegagalan panen.

Beberapa perilaku parasit hasil penelitian para ilmuwan antara lain:
1. Toxoplasma, yang harus berpindah dari tikus ke kucing, mengubah kepribadian tikus yang dihinggapinya menjadi berani, sehingga lebih mudah bertemu dan dimangsa kucing. Pada manusia menjadikan korbannya kurang mengindahkan nilai-nilai.
2. Lancet fluke (sejenis cacing pita) di masa dewasa dan ketika bertelur harus berada dalam tubuh sapi, dan setelah menetas berada dalam tubuh siput, menjadi cercarie yang berambut, yang muncul ke permukaan siput. Untuk mengusir parasit, siput menutup cercarie dengan membentuk bola lumpur dan mengeluarkannya ke rerumputan, yang kemudian dimakan oleh semut. Sebagian lancet fluke masuk ke dalam perut dan sebagian ke otak untuk mempengaruhi saraf semut yang memakannya, sehingga semut yang terinfeksi parasit ini di sore hari menjadi penyendiri, kemudian merambat ke ujung batang rumput dan berdiam disana menunggu sapi memakan batang rumput tersebut. Namun jika sampai malam tidak ada sapi yang memakannya, lancet fluke membuatnya turun kembali agar semut tidak terbakar sinar matahari pagi dan siang. Esok sorenya usaha tersebut diulang kembali.
3. Spora jamur parasit melekat dan membuat sulur yang masuk ke dalam seluruh tubuh lalat rumah seperti akar dan menghisap nutrisi dari darah lalat, sehingga perut lalat berkembang ketika jamur tumbuh. Selama beberapa hari lalat hidup normal, namun suatu hari ia mencari daerah tinggi, entah di sebilah rumput atau atas pintu. Kemudian lalat mendarat, merendahkan kaki dan meninggikan perutnya serta mengepakkan sayapnya sebentar sebelum menutupnya. Pada saat itulah jamur menekan sulurnya keluar dari kaki dan perut lalat, di ujung sulur terdapat spora. Dengan posisi inilah lalat mati, posisi yang tepat bagi jamur untuk menebarkan sporanya ke lalat-lalat di bawah. Kematian lalat ini selalu sebelum matahari terbenam, karena malam hari adalah saat dimana udara cukup sejuk bagi spora untuk segera berkembang di tubuh lalat, dan saat dimana lalat sehat sedang terbang dan mengudara ke bawah. Jika spora matang di tengah malam, jamur akan menunggu keesokan harinya. Dengan demikian jamur menentukan cara dan waktu kematian lalat.
4. Jenis tawon yang bersifat parasit lainnya menjadikan ulat sebagai penjaga. Setelah larvanya memakan isi perut ulat dari dalam, saat menetas dan keluar dari tubuh ulat mereka membuat ulat lumpuh. Namun ulat kemudian pulih dan bahkan membuatkan perlindungan dan melindungi kokon dari gangguan. Baru setelah tawon keluar dari kokon, ulat berhenti bertugas untuk kemudian mati.
5. Parasit udang, yang memerlukan bebek sebagai tujuan berikutnya, menjadikan udang senang berenang di permukaan air, sehingga mudah dimangsa bebek.
6. Sacculina, parasit kepiting, masuk ke bagian bawah kepiting dan meletakkan larvanya disana serta menyerap makanannya. Namun kepiting seperti tidak mengetahui hal ini, ia merawat dan memberi makan larva Sacculina seperti anaknya sendiri, tidak mencari pasangan, dan terus menerus makan. Bahkan kepiting jantan menjadi berperilaku seperti kepiting betina.
7. Parasit tawon yang meletakkan telurnya di hornworm (ulat) tembakau mengubah cara makan dan mencerna ulat. Jika biasanya daun diubah menjadi lemak, setelah ada parasit diubah menjadi gula, sumber energi yang digunakan parasit untuk pertumbuhan yang cepat. Selain itu, parasit juga menutup organ reproduksinya.
8. Bunga juga dapat disinggahi parasit. Jamur Puccinia monoica yang menjadi parasit tanaman mustard memerlukan tawon untuk bereproduksi, karena harus dibuahi dengan Puccinia yang terdapat di tanaman mustard lain. Oleh karena itu ia membuat daun tanaman tersebut menjadi seperti bunga dan memproduksi zat manis kental yang disukai tawon, serta menghentikan munculnya bunga asli tanaman itu sendiri.
9. Plasmodium penyebab malaria
10. Parasit ikan stickleback (cacing pita) menjadikan korbannya tidak menghindar dan berada di dekat permukaan air, parasit hama kecil (pill bug) menjadikan korbannya senang berada di tempat terang dan terbuka, sehingga keduanya mudah dimangsa burung. Bagaimana caranya? Dengan menyerang otak, yaitu meningkatkan produksi serotonin, yg berkaitan dgn kegiatan reproduksi.
11. Cacing pita hidup dan bereproduksi dalam perut tikus, namun telurnya harus berada dalam tubuh kumbang. Agar kumbang memakannya, telur cacing pita dilengkapi dengan aroma yang menarik. Kemudian ketika berada dalam kumbang, telurnya berubah bentuk, dan menyusup ke sistem saraf untuk mempengaruhinya sehingga menjadi lebih berani, dan mudah dimakan tikus.

Parasit turut menentukan arah evolusi dengan meningkatkan kecenderungan untuk bereproduksi secara seksual. Menurut penulis, banyak makhluk hidup dapat berkembang biak sendiri, misalnya bakteri dan eukaryota dapat membelah diri sendiri, pohon aspen dapat membuat klon, siput bersifat hermaprodit, dan kadal juga dapat bereproduksi dengan parthenogenesis. Dibandingkan dengan cara-cara tersebut maka berbiak dengan kawin lebih lamban dan mahal. Jadi kenapa?
Terdapat dua teori mengenai hal di atas. Hipotesa Lottery menyatakan bahwa seks membantu kehidupan dalam lingkungan yang tidak stabil. Hipotesa Tangled Bank menyatakan bahwa seks menghasilkan keturunan yang siap untuk dunia yang rumit/ kompleks.
Berdasarkan penelitian terhadap siput di danau dan sungai kecil di Selandia Baru, siput yang hidup di danau lebih banyak yang berkelamin jantan, artinya bereproduksi dengan kawin. Hal ini karena di danau yang airnya relatif tenang dan dangkal, lebih banyak telur parasit yang dikeluarkan dari bebek, dengan demikian siput memilih berkembang biak secara kawin, agar tidak mudah diserang parasit. Penelitian di Nigeria terhadap spesies siput lain menunjukkan bahwa siput menghasilkan banyak siput jantan pada bulan Desember, karena pada bulan Maret dan Juni (saat siput dewasa) adalah masa dimana parasit sangat banyak.
Reproduksi secara seksual memungkinkan DNA dikocok dan dimix, sehingga keturunannya tidak begitu mudah dikenali oleh parasit. Namun demikian setelah beberapa waktu parasit akan mengenalinya, sehingga host harus kembali membuat susunan baru lagi, demikian seterusnya. Penulis menyebutkan hal ini seperti Red Queen dalam Alice in the Wonderland: makhluk hidup terus melakukan perubahan untuk melawan serangan parasit namun sebenarnya seperti jalan di tempat, karena parasit juga selalu mengikuti perubahan tersebut.
Preferensi untuk melakukan reproduksi secara kawin juga dilakukan oleh parasit jika menghadapi serangan dari tuan rumah yang ditumpanginya. Berdasarkan penelitian terhadap parasit tikus yaitu nematode Strongyloides ratti, ketika tikus ditingkatkan sistem kekebalan tubuhnya, parasit memproduksi banyak keturunan berkelamin jantan, sebaliknya pada saat sistem kekebalan tikus diturunkan, parasit cenderung bereproduksi secara aseksual.

Reproduksi dengan perkawinan menimbulkan persoalan baru, yaitu bagaimana memilih pasangan yang tidak memiliki parasit?
Hal ini memunculkan seleksi seksual. Jantan yang minim parasit dari berbagai jenis binatang memberi tanda antara lain dengan memamerkan bulu yang indah (burung), ekor yang panjang (cendrawasih), dan taji yang panjang (ayam pegar), bahkan kemampuan membuat punjung yang lebih baik dan besar (ikan). Berdasarkan penelitian, produksi bulu memerlukan testoteron, yang mengurangi kemampuan memerangi parasit, dan ayam yang memiliki taji panjang memiliki kombinasi gen yang memungkinkan keturunannya lebih mampu bertahan hidup. Namun tidak semua pameran visual menandakan kemampun memerangi parasit, karena kucing betina misalnya, menandai jantan yang sakit dari aroma urinenya. Sedangkan ratu lebah yang kawin dengan sepuluh atau lebih jantan dapat menghasilkan keturunan yang lebih kuat melawan parasit, dengan koloni serta individu yang lebih sedikit memiliki parasit.

Masalah lainnya, seberapa jauh keganasan parasit? Apakah parasit lebih ganas jika berada pada tuan rumah yang sudah umum, atau sebaliknya?
Berdasarkan penelitian, terdapat konvergensi keganasan parasit. Sebagai contoh, terdapat simbiosis antara lebah dengan pohon ara. Lebah membawa pollen bunga ara dari satu pohon ke pohon lain sehingga terjadi pembuahan, sebaliknya bunga dan buah ara memberi tempat dan makanan bagi telur lebah hingga masa kawinnya. Namun pohon ara memiliki parasit berupa nematode. Ketika lebah pindah ke pohon baru untuk bertelur, nematode sudah masuk ke dalam tubuh lebah dan memakan isi perutnya. Pada saat lebah bertelur, nematode membunuhnya; dari dalam tubuh lebah muncul setengah lusin nematode. Namun nematode dapat lebih ganas jika dalam satu pohon ara terdapat lebih dari satu lebah, karena berarti ia memiliki pilihan lebah lain untuk ditumpangi keturunannya kelak, sehingga mungkin ia tidak harus menunggu lebah untuk berteur lebih dulu untuk membunuhnya.
Hal di atas menerangkan mengapa penyebaran virus HIV misalnya, dapat lebih cepat dan ganas jika virus mudah berpindah dari satu host ke host lain.
Sifat di atas terdapat pada berbagai jenis parasit dan makhluk hidup yang ditumpangi/ tuan rumah (host), baik pada tanaman, binatang atau manusia, sehingga keganasan parasit merupakan konvergensi.

Selain hal di atas, parasit dapat menentukan perilaku, antara lain monyet cenderung menahan diri untuk berkelahi hingga luka, sehingga mereka hanya saling menggeram, karena adanya luka dapat mengundang parasit. Demikian pula mereka dapat mengubah pola makan jika mengetahui terserang parasit tertentu, misalnya dengan memakan dedaunan yang biasanya tidak pernah dikonsumsi, atau mengurangi jumlah makanan. Sementara itu ikan melakukan pertahanan dengan cara bepergian secara berombongan, dan caribou melakukan migrasi yang cukup jauh untuk menghindar dari parasit, sedangkan siput yang sedang diserang parasit mempercepat saat reproduksi dan kadal membuat keturunannya berbentuk lebih besar.

Pengetahuan mengena parasit, selain untuk mencari pengobatan penyakit-penyakit seperti malaria, kaki gajah, sleeping sickness dll, yang mengambil korban ratusan juta jiwa setiap tahunnya, juga bermanfaat untuk mengendalikan hama. Kejadian di Afrika, penemuan parasit hama tanaman cassava, berhasil menyelamatkan 200 juta penduduk Afrika : Nigeria, Senegal, Mozambique dari kelaparan, dengan menjadikan parasit sebagai pemusnah hama secara alami.

Apa yang bisa kita pelajari dari parasit? Parasit selalu menjaga agar hostnya tidak mati, karena jika hostnya mati, ia juga akan mati. Manusia dapat diibaratkan sebagai parasit di bumi, karena manusia hidup dengan mengambil sumber-sumbernya. Maka pelajaran yang bisa diperoleh adalah: apabila kita ingin tetap eksis, hendaknya tetap menjaga kelestarian bumi.

Buku ini ditulis dengan ringan dan lancar, sehingga menyenangkan untuk dibaca. Setiap halaman seperti membawa kejutan akan dunia parasit yang kejam dan tak terduga, membuat kita berpikir kembali akan alam tempat kita hidup.

Carl Zimmer adalah jurnalis yang memperoleh penghargaan a.l. Everett Clark Award untuk jurnalisme sains serta penulis buku antara lain At the Water’s Edge, Soul Made Flesh, dan Evolution: A Triumph.

Sunday, March 16, 2008

INFIDEL

Judul : Infidel
Pengarang : Ayaan Hirsi Ali
Penerbit : Free Press, NY
Tahun : 2007
Tebal : 350 hal

Ayaan adalah mantan anggota Parlemen Belanda yang berasal dari Somalia. Namanya mungkin asing bagi masyarakat Indonesia, namun bagi pembela kebebasan berpikir dan berpendapat, kini ia adalah salah satu tokoh yang dikagumi karena keberaniannya melakukan kritik terhadap kaum fundamentalis Islam dan penyadaran akan hak-hak perempuan dalam masyarakat Muslim. Kini, keberaniannya harus dibayar dengan hidup dalam pengawalan ketat sepanjang waktu yang memakan biaya mahal.

Buku ini menceritakan riwayat hidup Ayaan sejak kecil. Sewaktu kecil, Ayaan berpindah-pindah tinggal di Somalia, Arab Saudi, Kenya dan Ethiopia, karena ayahnya adalah salah seorang pejuang yang berusaha membebaskan Somalia dari kekuasaan Presiden Siad Barre ketika itu, sehingga selama 10 tahun Ayaan dibesarkan di Kenya. Kemudian pada umur 22 tahun (tahun 1992), ketika akan dinikahkan dengan pria Somalia yang tinggal di Kanada, dan sedang berada di Jerman menunggu keberangkatan selanjutnya, ia melarikan diri ke kamp pengungsi di Belanda dan membuat cerita agar bisa mendapatkan status pengungsi, karena jika alasannya hanya karena dipaksa menikah, ia tidak dapat menjadi pengungsi. Setelah mendapat status pengungsi, Ayaan mempelajari bahasa Belanda, memasuki vocational college, dan akhirnya mengambil Master ilmu politik di Universitas Leiden. Ia beruntung menguasai bahasa Inggris dengan baik, sehingga bisa membiayai kuliahnya dari profesinya menjadi penerjemah lepas bagi para pengungsi dari Somalia yang cukup banyak terdapat di Belanda.

Pengalaman hidupnya di tiga negara Islam dan perjuangannya untuk mendapatkan kebebasan di negara Barat diceritakan cukup rinci, sehingga pembaca dapat mengetahui bagaimana kondisi negara-negara Islam yang pernah ditinggali Ayaan: status perempuan yang sangat rendah, infrastruktur yang buruk dan kota yang kotor serta berantakan, maraknya korupsi dan kemunafikan.
Penulis mengungkapkan bagaimana klan merupakan akar dari perseteruan dan peperangan yang terus menerus mendera Afrika, dan bahwa perempuan yang tidak memiliki suami atau keluarga/klan yang melindunginya berarti terbuka untuk diperlakukan apa saja termasuk diculik dan diperkosa beramai-ramai dan setelah itu dihinakan serta dianggap pantas untuk mati. Perempuan tidak memiliki hak apapun. Dengan mengutip ayat-ayat Qur’an, kaum lelaki di negara-negara tersebut merasa berhak memukuli istrinya setiap hari, mengganggu perempuan yang keluar rumah sendirian, dan melakukan penyunatan total yang membahayakan nyawa serta memaksa anak gadisnya menikah dengan siapa saja yang mereka kehendaki. Perlawanan akan mengakibatkan hilangnya perlindungan dari klan, dan nasib perempuan tanpa klan sangatlah rentan. Mungkin karena itu sejak masih tinggal di Ethiopia – bukan negara Islam – Ayaan telah mempersiapkan diri untuk mandiri dengan mengambil kursus agar dapat bekerja. Sifatnya yang bertanggung jawab dan ingin menjadi perempuan mandiri membuatnya ketika di Belanda tekun belajar dan bekerja serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebagian besar pengungsi dari negara-negara Muslim Afrika tidaklah demikian, yang membuat mereka tetap tertinggal dan menjadi masalah bagi negara-negara Eropa. Ayaan menjelaskan mengapa:
1. Mereka merasa superior dan menganggap rendah negara serta penduduk tempat mereka tinggal karena bukan negara Muslim, yang mereka sebut kafir, sehingga mereka tidak mau berbaur atau mencoba memahami kebudayaan negara tersebut. Ibu Ayaan juga demikian, merasa tersiksa dan rendah ketika harus tinggal di Ethiopia.
2. Oleh karena merasa superior, mereka tidak mau belajar dan bekerja dengan tekun di tempat yang baru namun bersikeras mempertahankan adat di tempat lama seperti: penyunatan perempuan, pemaksaan perkawinan, pembunuhan atas nama kehormatan, dan pemukulan terhadap istri.
3. Meluasnya gerakan Muslim Brotherhood yang menyerukan pemurnian Islam seperti 14 abad yang lalu di seluruh dunia turut mempengaruhi peningkatan konservatisme dan kebencian terhadap pihak yang tidak sefaham. Secara kasat mata, hal ini tampak dari makin banyaknya perempuan berjilbab di banyak negara yang semula relatif sekuler, seperti Kenya, Lebanon dan Turki.

Studi yang dilakukannya di Universitas Leiden untuk menjawab pertanyaan, mengapa semua negara Islam hancur (dilanda perang atau miskin/korup) membawanya mempelajari sejarah pemikiran dan perkembangan budaya Barat sampai pada tingkatnya saat ini yang maju dan sekuler. Meskipun mula-mula ia merasa berdosa mempelajari ide-ide baru tersebut, yang berdasarkan pendidikan agama yang diterimanya selama ini dapat dianggap merupakan pelajaran setan, namun akhirnya ia merasa yakin bahwa rasionalitas, sains, adalah yang terbaik dan agama Islam (di negara Muslim Arab dan Afrika) adalah sumber keterbelakangan. Keyakinan ini diperkuat ketika terjadi serangan 11 September, Ayaan menemukan bahwa ayat-ayat yang dikutip Osama bin Laden untuk membenarkan serangan tersebut semuanya terdapat di Qur’an dan Hadits. Ini menyadarkannya: kitab yang selama ini ia anggap suci dan baik itu ternyata hanya meminta satu hal: penyerahan total (submission), dan tidak menyediakan tempat untuk toleransi bagi agama lain.

Oleh karena itu, menurutnya, negara-negara Eropa seharusnya memaksa pendatang untuk berbaur dan mempelajari sejarah serta budaya Eropa, dan tidak membiarkan pendatang menerapkan adat lama atau membantu sekolah khusus yang mengajarkan kefanatikan agama serta perendahan perempuan. Bukan karena tidak menghargai budaya lain, tetapi karena budaya tersebut, yang berdasarkan Islam, bersifat terbelakang: menindas perempuan, membodohkan dan melanggengkan kebencian pada pihak yang berlainan agama atau budaya. Untuk memperjuangkan hal ini maka Ayaan menjadi anggota parlemen Belanda, menjadi pembicara pada banyak acara, dan dengan sutradara Theo van Gogh membuat film yang mengkritik sikap Islam terhadap perempuan, Submission.

Suatu hari di bulan November 2004, Theo ditemukan terbunuh di pagi hari dengan beberapa tembakan sebelum digorok lehernya oleh seorang fundamentalis Muslim. Tidak hanya itu, pembunuh meninggalkan sebilah pisau tertancap di dada korban dengan kertas berisi pesan ancaman terhadap nyawa Ayaan. Kejadian ini mengguncangkan Belanda. Dan sejak itu mulailah penjagaan ketat atas dirinya hingga kini.

Benarkah Islam sumber penindasan terhadap perempuan? Jika diteliti, maka penyunatan perempuan adalah budaya Afrika, sedangkan cadar dan pakaian tertutup adalah budaya Arab, dan pembunuhan karena kehormatan mungkin budaya Arab dan Afrika, sehingga ketiga hal di atas tidak kita temukan di Indonesia. Namun dalam budaya yang sangat bersifat patriarkis seperti di atas, Islam dapat dijadikan pembenaran untuk semakin menindas perempuan, karena dalam Qur’an (dan hadits) sendiri terdapat ayat-ayat yang cukup merendahkan, misalnya tentang dibolehkannya pemukulan terhadap istri, poligami, dst.

Kebebasan berpendapat, khususnya kritik terhadap Islam masih merupakan hal yang sulit dilakukan dimanapun, termasuk di Indonesia, yang konon katanya termasuk moderat. Ayaan mungkin tidak tahu bahwa di Indonesia dan Malaysia keadaan perempuan jauh lebih baik, sehingga seseorang tidak perlu melakukan kritik keras terhadap agama untuk memperjuangkan hak dasar perempuan, bahkan perempuan sendiri mengurangi kebebasannya secara sukarela demi agama, misalnya mengenakan busana muslim.
Namun satu hal tetap sama: agama tetap dianggap sesuatu yang sakral dan tabu untuk dikritik, kritik akan mengundang kemarahan massa yang mengerikan. Sebagai akibatnya, kini kita terus menerus membiarkan kaum garis keras mengumpulkan pengikut, menyerang pihak lain, dan mengakomodasi keinginan mereka untuk sedikit demi sedikit memasukkan hukum agama ke dalam hukum nasional, serta takut menyebarkan pendapat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan faham mereka. Benarkah keadaan ini? Tentu saja tidak. Karena meskipun keadaan disini jauh berbeda dengan Arab atau Afrika, penyebaran gerakan pemurnian agama dapat membawa pula kebudayaan negara asal agama tersebut jika kita tidak mencermatinya, sehingga setelah pengaturan terhadap pakaian dan penampilan perempuan, akan menyusul hal-hal lain yang dapat merugikan budaya kita sendiri.

Ayaan adalah seorang perempuan Muslim yang mengesankan; penuh tanggung jawab, pekerja keras, berani berpikir, dan berani membebaskan dirinya dari belenggu agama untuk memperjuangkan kebaikan yang lebih besar bagi dunia ini, khususnya bagi para perempuan Muslim yang tertindas agama beserta kebodohan dan budaya yang melingkupinya. Jika kritiknya tampak terlalu keras, itu adalah karena pengalamannya juga demikian keras. Namun ia memberi kita pengetahuan yang berharga: bahwa di tempat lain, ada banyak perempuan yang sangat menderita, yang selama ini kita biarkan dan tidak berani kita kritik, karena mereka Muslim. Ia juga mengingatkan kita bahwa Islam belum pernah mengalami reformasi (sebagaimana agama Kristen), karena itu sangat berbahaya.
Dan Ayaan memberikan kebebasannya (dari ancaman/perlindungan ketat) agar dunia menyadari hal tersebut.

RELIGION EXPLAINED - The Evolutionary Origins

Judul : Religion Explained – The Evolutionary Origins of Religious Thought
Pengarang : Pascal Boyer
Penerbit : Basic Books, NY
Tahun : 2001
Tebal : 330 hal

Berdasarkan penelitian antropologi, setiap kebudayaan memiliki agama atau yang dapat disamakan dengan itu. Namun, mengapa manusia pada umumnya beragama? Adakah jawaban tunggal untuk pertanyaan tersebut?

Banyak jawaban telah diberikan untuk menjawab pertanyaan di atas, yang populer antara lain ialah karena rasa takut, untuk mendapatkan perlindungan, arti atau tujuan hidup dan lain-lain. Namun menurut penulis, tidak ada satu jawaban tunggal untuk itu. Mengapa agama muncul dan mudah diserap manusia hanya dapat diketahui jika kita memahami cara bekerja pikiran, yang dibentuk oleh jutaan tahun evolusi, yang mempengaruhi bagaimana otak bekerja.

Menurut Boyer, antropologi dan psikologi menunjukkan mengapa kepercayaan adalah sesuatu yang naif. Beberapa konsep berkaitan dengan system inferens di otak yang membuat mengingat kembali dan komunikasi sangat mudah, memiliki hubungan dengan pikiran atau jiwa sosial kita, ditampilkan dengan cara yang menyenangkan, dan mengarahkan perilaku. Agama memiliki semua sifat di atas sehingga sangat sukses, karena mengkombinasikan fitur-fitur yang relevan untuk bermacam sistem mental. Jadi, untuk memahami agama kita harus terlebih dulu mengetahui mengenai konsep agama.
Konsep kultural adalah obyek seleksi konstan dalam pikiran, mengalami akuisisi dan komunikasi. Agama atau konsep yang kita temui berkembang berkembang/ menyebar pada banyak kebudayaan berbeda pada waktu berbeda mungkin memiliki sejumlah keuntungan transmisi, relatif terhadap beberapa disposisi mental yang berbeda.

Pikiran tidak pernah menelan informasi secara mentah, tapi selalu melakukan sesuatu terhadap info yang diterima karena pikiran bukanlah kontainer kosong, tapi punya disposisi tertentu, bisa belajar dari sedikit informasi. Sebagai contoh, seorang anak yang mengetahui bahwa seekor ayam bertelur dapat mengambil kesimpulan bahwa semua ayam juga bertelur, meskipun hal terakhir tidak diinformasikan kepadanya. Dalam hal ini ia telah membuat inferens berdasarkan sedikit informasi (dari fakta mengenai satu ayam). Disini anak menciptakan konsep ayam menggunakan template binatang.
Informasi di atas kita peroleh dengan cara berbeda-beda, dari situasi dan pernyataan yang dibuat orang lain dengan cara yang berbeda. Kita sampai pada inferens yang sama karena template binatang adalah sama pada setiap anak, saya dan orang lain, juga meski info yang diterima berbeda.

Demikian pula dalam hal agama, ada template untuk konsep agama. Agama adalah kultural, yaitu orang mendapatkannya dari orang lain, seperti halnya referensi akan makanan, selera musik, pakaian dll. Karena itu, variasinya juga tidak banyak.

Untuk menjelaskan seperti apa konsep supernatural, penulis menerangkan mengenai cara kita mempelajari konsep baru. Penulis memberi contoh, misalnya ada informasi bahwa zygoon adalah pemakan hyena. Berdasarkan informasi ini maka otak menggolongkannya dalam ontological entry : binatang. Dengan memasukkannya dalam ontological binatang, maka diketahui fitur yang dimiliki, antara lain: tumbuh dan berkembang, berbentuk tertentu, memerlukan makanan.untuk bertahan hidup, bereproduksi menurut spesies. Berdasarkan hal ini maka dalam otak disimpan informasi baru bahwa zygoon tumbuh dan berkembang, memerlukan makanan, bereproduksi, dan memakan hyena. Kesimpulan mengenai zygoon dari membaca template binatang disebut default inferens. Sedangkan ekspektasi ialah sifat-sifat yang kita harapkan muncul dari kata zygoon inferens di atas. Kategori ontologikal bisa berupa binatang, alat, orang, dan seterusnya.
Berdasarkan hal di atas, maka agama adalah kategori ontologis ditambah tag/sifat khusus. Sifat khusus agama adalah counterintuitive (berlawanan dengan intuisi). Konsep agama mempertahankan default inferens yang relevan kecuali yang secara eksplisit dihalangi oleh elemen counterintuitive. Sebagai contoh: konsep hantu adalah orang yang memiliki sifat fisik yang counterintuitive, yaitu jika fisik manusia tak dapat menembus tembok, maka hantu dapat. Namun konsep intuitif (sifat2 yang dimiliki) tentang orang dipertahankan dengan ketat: yaitu bisa melihat, mendengar, mengingat dan berpikir atau merasa.
Proses ini mengombinasikan penyimpangan terbatas dengan default reasoning. Dengan demikian meskipun hanya sedikit informasi diberikan mengenai hantu, setiap orang dapat memiliki gambaran/representasi terinci tentang hal tersebut.
Selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis terhadap para mahasiswa di Eropa dan AS, pendeta di Tibet dan suku Fang di Gabon, maka pada umumnya konsep dengan rumus kategori ontologis + penyimpangan (violation), berupa: seseorang + penyimpangan dalam hal fisik, biologi, atau psikologi, lebih mudah diingat daripada yang menunjukkan hubungan bersifat biasa atau sekedar aneh. Ini menjelaskan mengapa konsep agama mudah diingat dan disebarluaskan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa pikiran manusia mudah menerima rumus di atas? Untuk mengetahui hal ini maka perlu diketahui bagaimana cara bekerja otak manusia. Dalam hal ini maka pemahaman akan evolusi dan evolutionary psikologi diperlukan, karena pikiran manusia dibentuk oleh kedua hal tersebut.

Agama hampir selalu berkaitan dengan konsep Tuhan, dewa-dewa, roh, kematian, ritual, doktrin, ekslusion dan kekerasan. Mengapa?
Agama pada dasarnya adalah sesuatu yang praktis, yaitu bagaimana agen mempengaruhi hidup manusia dan apa yang harus dilakukan terhadap hal itu. Tuhan atau dewa selalu digambarkan seperti orang karena:
- Manusia memiliki kecenderungan anthropomorphic – konsekuensi dari cara kerja kognitif kita.
- Orang lebih kompleks dari benda atau makhluk lainnya
- Agen secara umum (manusia dan binatang) dapat merasakan sesuatu, memiliki kesadaran, tujuan, rencana, dan bereaksi terhadap kejadian sekeliling.

Mengapa Tuhan atau dewa selalu diasosiasikan sebagai agen seperti manusia berkaitan dengan alasan evolusioner. Sebagian besar masa evolusinya, manusia hidup sebagai pemburu yang selalu menghadapi bahaya dan permasalahan mengenai pemangsa dan mangsa. Dalam kondisi demikian, lebih menguntungkan jika manusia bersifat overdeteksi daripada sebaliknya. Misalnya ketika berburu di hutan, suara atau gerakan sekecil apapun dapat merupakan tanda akan adanya pemangsa. Oleh karena itu manusia selalu merasa kehadiran agen yang tak terlihat sebagai sesuatu yang berbahaya dan menakutkan.
Selain itu, untuk survival manusia harus berinteraksi dengan pihak lainnya. Agar interaksi berjalan baik, setiap individu harus bisa mendeteksi dan memperkirakan tindakan dan maksud pihak lain. Hal ini memerlukan informasi, namun tidak semua informasi berguna. Informasi yang diperlukan adalah yang berkaitan dengan sifat relasi dengan pihak lain tersebut. Hal ini disebut informasi strategis, namun orang tidak mungkin memiliki semua informasi strategis. Oleh karena Tuhan, dewa atau roh memiliki rumusan kategori ontologis + elemen counterintuitive, maka tidak seperti manusia biasa, mereka memiliki informasi strategis yang sempurna; dapat mengetahui isi hati, maksud dan tujuan orang lain, disebut full access strategic agents. Mengapa agen seperti ini mudah diterima, karena bagi manusia yang penting adalah kondisi interaksi sosial, yang akan lebih mudah jika kita memiliki semua informasi strategis, yang akan memudahkan pengambilan keputusan. Hal ini contoh dari proses mental yang didorong oleh relevansi.
Dalam banyak kebudayaan, nasib buruk seringkali ditafsirkan sebagai masalah sosial. Sebagai contoh, orang Kwaio menganggap datangnya penyakit adalah karena leluhur menginginkan pengorbanan. Hubungan antara leluhur (atau dewa) dianggap sebuah pertukaran: perlindungan leluhur/dewa dibayar dengan pengorbanan.
Mengapa Tuhan/dewa dan roh dapat menjelaskan nasib buruk? Pertama, orang seringkali menjelaskan nasib buruk tanpa menunjuk agen tertentu secara khusus, kedua, jika mereka menunjuk seseorang/agen, mereka tidak menjelaskan bagaimana agen tersebut melakukannya. Namun demikian, orang memiliki sistem inferens untuk hubungan sosial, yang mengarahkan intuisi mereka tentang pertukaran dan keadilan, sehingga setiap kejadian berkaitan nasib baik atau buruk adalah hasil dari apa yang dilakukan orang lain atau lingkungan sosial. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu yang aneh maka akan ditafsirkan sebagai perbuatan seseorang. Oleh karena Tuhan/dewa/roh termasuk dalam interaksi sosial, maka mereka termasuk salah satu yang dapat menjadi salah satu agen yang menyebabkannya, apalagi mereka memiliki seluruh informasi strategis.

Semua agama selalu ada kaitannya dengan kematian. Mengapa? Dari sisi evolusi, kematian berhubungan dengan kalkulasi genetik, sehingga kematian anak terasa lebih menyedihkan daripada orang tua yang telah lanjut. Selain itu, dari sisi kehidupan pemburu, kematian secara umum merupakan sumber teror.
Sementara itu, ritual merupakan hal penting dalam beragama, karena ritual memberikan pengaruh yang mencolok dan penting dengan mengaktifkan system khusus dalam dasar mental.

Penjelasan Boyer mengenai fundamentalisme cukup menarik. Menurutnya, fundamentalisme bukan disebabkan oleh terlalu beragama atau sebab diluar agama, tetapi pada upaya mempertahankan kekuasaan. Penguasa agama tidak ingin melihat bahwa mereka yang tidak mempercayai atau berperilaku seperti penganut agamanya dapat hidup tenang tanpa membayar harga yang tinggi, karena hal itu dapat membuat pemeluk agamanya mengikuti jejak mereka. Oleh karena itu kemurnian ajaran dan hirarki dipertahankan dengan hukuman berat dan dipertontonkan ke semua orang. Tujuan sebenarnya adalah untuk memberi peringatan: bahwa penyimpangan akan mendapatkan hukuman keras, karena itu jangan sekali-kali melakukannya. Hal ini dapat dilihat dari berikut:
1. Fundamentalis umumnya sangat menyukai pengendalian perilaku publik, seperti cara berpakaian, keharusan mengunjungi tempat ibadah, dst.
2. Adanya kecenderungan untuk memamerkan hukuman seluas mungkin dan secara spektakuler, hal ini untuk memberi peringatan kepada calon penyimpang potensial (potential defector) akan beratnya hukuman yang harus dibayar untuk penyimpangan.
3. Kekerasan terutama ditujukan kepada kelompok sendiri, yaitu dari pemimpin terhadap anggota, anggota terhadap orang seagama yang tidak sejalan, dan laki-laki terhadap perempuan.

Jadi, mengapa orang memiliki agama? Tidak ada jawaban tunggal, karena agama merupakan efek samping dari otak yang kita miliki, hasil dari tangan-tangan tak terlihat.

Buku ini banyak memberikan hal-hal baru dan memberikan uraian cukup mendalam tentang mengapa agama selalu ada dan mudah diterima manusia. Kesimpulannya, faktor yang mempengaruhi seseorang untuk beragama sangat banyak dan saling berkaitan serta mendukung satu sama lain, sehingga mirip konspirasi. Hal tersebut selain berhubungan dengan sejarah evolusi manusia termasuk sistem saraf otak juga persepsi kognitif dan sifat hubungan sosial. Itu sebabnya seorang yang berpendidikan sangat baikpun dapat dengan mudah percaya dan memeluk suatu agama tertentu begitu saja.

Ditulis dengan rinci dan banyak contoh, sehingga harus dibaca dengan agak perlahan dan teliti, meskipun penulis juga membuatkan kesimpulan pada setiap babnya. Lebih baik jika pembaca telah mengenal sedikit mengenai evolusi dan evolutionary psikologi.
Hanya memang, pertanyaan mengapa ada sebagian orang bisa melepaskan diri dari agama belum bisa dijawab dengan memuaskan.

Tuesday, February 12, 2008

THE ACCIDENTAL MIND

Judul : The Accidental Mind – How Brain Evolution Has Given Us Love,
Memory, Dreams, and God
Pengarang : David J. Linden
Penerbit
: Harvard Univ. Press
Tahun : 2007
Tebal : 254 hal, hardcover

Banyak sudah tulisan yang menyebutkan bahwa otak manusia adalah super komputer, karena belum ada komputer yang bisa menyaingi cara bekerjanya, dan hal tersebut merupakan salah satu bukti bahwa ia adalah hasil rancangan. Benarkah demikian?
David Linden menyatakan, hal tersebut sama sekali tidak benar. Otak bukanlah hasil rancangan yang elegan, sebaliknya merupakan kumpulan solusi jangka pendek atau ad hoc sehingga bekerjanya tidak efisien. Lebih lanjut, apa yang kita alami dan rasakan – cinta, memori, mimpi, dan religiusitas – timbul disebabkan sejarah pembentukan atau evolusi otak yang jauh dari sempurna tersebut selama jutaan tahun.

Secara garis besar, pokok buku ini adalah:
Otak memiliki banyak kekurangan, karena:
1. Otak manusia tidak dirancang khusus dari awal, namun hanya berupa hasil penambahan-penambahan saja dari struktur otak lebih primitif yang telah ada..
2. Kemampuan otak untuk menon-aktifkan sistem pengendalian sangat terbatas, bahkan jika sistem tersebut kontra produktif.
3. Sel syaraf otak (neurons) bekerja dengan lambat dan tidak dapat diandalkan.
Hal di atas mengakibatkan pencapaian kemampuan yang cukup kompleks harus diperoleh dengan otak yang sangat besar dan interkoneksi otak yang tinggi, tampak dari adanya 500 triliun sinapsis, sehingga terlalu rumit untuk ditetapkan seluruhnya dalam genom. Sebagai solusinya, maka:
1. Manusia dilahirkan dengan otak yang sangat immature.
2. Sebagian pembentukan struktur otak bergantung kepada pengalaman (belajar).

Solusi di atas menimbulkan apa yang kita sebut cinta, memori, mimpi dan konsep Tuhan.
Otak yang immature mengakibatkan manusia harus mengalami masa kanak-kanak cukup panjang dengan pemeliharaan yang memerlukan perhatian kedua orang tua, sehingga diperlukan ikatan jangka panjang antara keduanya. Agar dapat tercipta ikatan jangka panjang, maka – tidak seperti mamalia lainnya - seks dapat berlangsung sepanjang waktu.

Memori merupakan pengalaman yang dipelihara dan dimodifikasi karena pembentukan struktur otak sebagian besar (80%) berlangsung setelah dilahirkan, sehingga sangat penting. Namun untuk mencapainya, memori harus diintegrasikan dengan kejadian masa lalu dan emosi, yang dapat dilakukan dengan baik pada malam hari, sehingga timbullah mimpi.
Cortex sebelah kiri otak yang bersifat naratif dan pengalaman mimpi yang diluar logika membuat manusia mudah menerima gagasan agama.

Dalam menjelaskan hal di atas, penulis menguraikan dengan cukup rinci, dimulai dari susunan otak, cara bekerjanya sampai tingkat molekul, hingga perkembangannya.

1. Susunan Otak
Otak manusia beratnya +/- 3 pon, simetris antara bagian kiri dan kanan, terdiri dari:
a. Brainstem: mengendalikan pengaturan dasar metabolisme tubuh tanpa memerlukan kesadaran kita, a.l. tekanan darah, detak jantung, pencernaan, dan refleks seperti batuk, mengantuk dll.
b. Cerrebelum: berinteraksi dengan brainstem, mengkoordinasikan gerakan agar luwes.
c. Midbrain: pusat penglihatan dan pendengaran.
d. Hypothalamus: membantu menjaga fungsi tubuh yang disebut homeostasis, misalnya mengatur adanya rasa lapar, haus, dingin, agar tubuh terjaga kondisinya.
Di area ini terdapat amygdala, yang mengatur hal berkaitan dengan emosi, misalnya rasa takut, agresi; dan hippocampus, tempat menyimpan memori.
e. Cortex/frontal cortex: merupakan tempat pemrosesan pemikiran termasuk untuk menganalisis informasi, melakukan pertimbangan dan penilaian moral, melakukan pemikiran berdasarkan rasio, sehingga bagian ini menentukan watak atau kepribadian.
Kerusakan cortex dapat mengubah kepribadian seseorang, sedangkan kehilangan hippocampus dapat menghilangkan kemampuan menyimpan memori.

Brainstem (batang otak) dan cerrebelum terletak di bagian paling bawah dan belakang otak, midbrain dan hypothalamus terletak di tengah, dan cortex terletak di bagian paling atas dari otak. Menurut penulis, susunan ini menggambarkan evolusi pembentukan otak, karena jelas menunjukkan bahwa bagian atas ditambahkan begitu saja tanpa mengubah fungsi di bagian bawahnya, sehingga brainstem, cerebellum dan midbrain secara keseluruhan tidak banyak berbeda dengan katak. Sebagai akibatnya, manusia masih memiliki kemampuan melihat otomatis seperti yang dimiliki katak, meskipun sebenarnya tidak memerlukannya lagi. Midbrain adalah pusat sensori utama bagi katak, sebagai kunci untuk mengarahkan lidah menangkap serangga yang terbang; kita tidak begitu memerlukannya. Namun struktur ini tetap bertahan pada otak manusia dan menimbulkan blindsight. Contohnya, pasien yang mengalami kerusakan otak bagian atas selalu tetap dapat menyentuh obyek meskipun mereka menyatakan tidak dapat melihat apapun, hanya menerka secara acak. Hal ini karena fungsi midbrain masih utuh dan mengarahkan tangan mereka, sebab tidak terhubung dengan bagian atas otak.

2. Rancangan otak memiliki banyak kelemahan
Penyampaian informasi dari satu ke sel lainnya disalurkan melalui axon ke dendrit dengan sinyal listrik dan kimia. Dibandingkan dengan kawat tembaga, maka kecepatannya jauh lebih rendah, demikian pula kapasitas axon. Selain itu kepastian bahwa sinyal kimia dapat mencapai sel berikutnya tidak dapat diandalkan, dengan kemungkinan pencapaian 30%.
Apabila kemampuan otak masih cukup mengagumkan, hal ini karena otak terdiri dari 100 miliar neuron yang terhubungkan oleh 500 triliun sinapsis, sehingga dalam operasinya, digunakan prosesing (oleh neuron) secara simultan dan terintegrasi. Namun demikian, banyaknya neuron dan sinapsis yang dibutuhkan membuat otak menghabiskan 20% dari total energi, atau tidak efisien. Hal ini juga membuat otak menjadi terlalu besar, sehingga kelahiran menjadi hal yang membahayakan ibu.

3. Bagaimana otak dibentuk
Untuk menerangkan mengapa lingkungan penting bagi perkembangan otak manusia, penulis membandingkannya dengan cacing Caenorhabditis. Cacing ini harus menyusun sirkuit saraf yang terdiri dari 302 sel saraf dan 7800 sinapsis. Seluruh sel ini harus dibentuk dari sel-sel sebelumnya yang membelah dengan cepat, bergerak ke tempat yang sesuai, dan menghasilkan protein yang tepat untuk menghasilkan neurotransmitter, ion, reseptor, axon dst dengan benar. Kesalahan dapat berakibat terganggunya fungsi tubuh, misalnya tidak dapat merayap dengan benar, tidak mampu mencari makan atau menghindari bahaya. Untuk dapat melakukan penyusunan saraf sebagaimana di atas, cacing ini memiliki 19 ribu gen yang tersandi di DNAnya. Sementara itu, manusia memiliki 100 miliar neuron dan 500 triliun sinapsis, sehingga jika semua harus disandi di DNA memerlukan gen jauh lebih banyak. Namun manusia hanya memiliki 23 ribu gen, 70%-nya atau 16 ribu dibuat di otak (pada cacing 9000 gen di 302 sel saraf).

Dengan kondisi di atas maka gen tidak bisa menspesifikasi perkembangan lengkap otak sel demi sel, namun pola garis besarnya hubungan antar wilayah otak dan jenis sel saja yang disandi oleh gen. Spesifikasi dan penyusunan otak tergantung faktor yang tidak disandi gen (faktor epigenetic), termasuk faktor lingkungan, dari lingkungan kimia rahim, pengalaman sensorik dari rahim sampai dengan belajar ketika kanak-kanak. Berdasarkan penelitian, pengaruh faktor lingkungan dan genetik masing-masing 50%.
Lingkungan mempengaruhi gen melalui pengalaman dan belajar. Pengalaman mengaktifkan sistem sensorik, yang membuat gen melakukan transkripsi, yaitu membentuk protein lagi atau sinapsis baru, yang kemudian menentukan struktur dan fungsi sel, termasuk molekul saraf, seperti saluran ion, enzim, reseptor, bentuk neuron. Neuroplascticity adalah seberapa jauh otak dapat mengembangkan kemampuannya dari hasil belajar dan pengalaman.
Gen juga menentukan volume otak. Hal ini diketahui dari adanya penyakit microchepaly, yaitu mengecilnya ukuran otak menjadi 30% dari normal. Ini disebabkan adanya mutasi pada gen ASPM, yang memproduksi protein yang terlibat dalam pembelahan sel. Bagian penting protein ini adalah segmen yang mengikat yang disebut calmodullm. Area calm-binding ada 2 copy di cacing, 24 copy di lalat buah dan 74 pada manusia. Evolusi gen ASPM, khususnya calm-binding telah dipercepat di kelompok ape, terutama sepanjang turunan ape ke manusia. Dengan demikian ASPM berperan penting dalam evolusi membesarnya otak manusia. Namun masih dalam penelitian, apa yang menyebabkan percepatan evolusi gen ASPM.

David Linden adalah profesor neuroscience pada John Hopkins Univ.School of Medicine. Bagi pembaca umum, agar lebih memahami uraian penulis dalam buku ini lebih baik membaca terlebih dulu pengantar neuroscience, misalnya buku In Search of Memory.


Monday, February 11, 2008

SALI - Kisah Wanita Suku Dani

Judul : SalI- Kisah Seorang Wanita Suku Dani
Sebuah Novel Etnografi
Pengarang : Dewi Linggasari
Penerbit : Kunci Ilmu, Yogyakarta
Tahun : 2007, Oktober
Tebal : 249 hal

Penindasan terhadap perempuan ternyata tidak hanya terjadi ketika masyarakat telah memiliki kekayaan yang cukup berarti, tetapi bahkan telah dimulai ketika masyarakat mulai mengenal arti kekayaan, meskipun kekayaan itu hanya berupa binatang ternak yang bernama babi. Demikianlah yang hendak dikisahkan oleh novel ini.
Jauh di Irian Jaya, di lembah Baliem, yang terletak dekat kota Wamena, terdapat suku Dani. Suku Dani adalah suku yang dominan di lembah tersebut. Mereka masih melakukan perang suku, mengenakan koteka yang terbuat dari labu, dan hidup dari berladang, beternak babi dan berburu. Makanan pokok mereka adalah ubi, sayur dan babi, yang dimasak dengan cara ditimbun dengan batu panas. Banyak dari mereka yang belum berpendidikan dan kedudukan perempuan relatif rendah, terlihat antara lain dari adat yang mengharuskan perempuan melahirkan seorang diri di hutan. Maka buku ini menjadi menarik karena memberikan pengetahuan lebih banyak tentang status perempuan dalam masyarakat suku Dani.
Tersebutlah seorang perempuan suku Dani bernama Aburah. Sebagai seorang istri yang ketika pernikahan telah dibeli dengan dua puluh ekor babi, maka suaminya, Kugara, berhak memperlakukannya seperti budak. Ia harus berladang, menyediakan makanan berupa ubi dan sayuran bagi seluruh keluarga, membelah kayu bakar, memberi makan babi, dan menjaga anak-anak setiap hari, baik dalam keadaan sehat maupun ketika mengandung atau sakit. Jika tidak, suaminya akan marah dan memukulnya. Akibat tak mampu menanggung semua itu akhirnya Aburah meninggal, dan anak perempuannya, Liwa dirawat oleh adiknya, yaitu Lapina, yang sesuai dengan adat harus menikah dengan suami kakaknya, yaitu Kugara. Beruntung Kugara tidak lama kemudian tewas dalam perang suku, sehingga Lapina terbebas dari penderitaan seperti yang dialami Aburah. Ia juga memutuskan untuk tidak menikah lagi, agar tidak mengalami penindasan.
Lapina merawat Liwa dengan baik hingga gadis itu bertemu dengan Ibarak dan jatuh cinta kepadanya. Sesuai adat, maka Lapina meminta Ibarak menikahi Liwa dengan pantas, yaitu dengan memberi dua puluh ekor babi. Babi dalam masyarakat Dani adalah lambing kekayaan, dan dua puluh ekor babi bukan jumlah sedikit. Mungkin karena itu laki-laki Dani merasa berhak melakukan apapun terhadap istrinya jika telah memberikan dua puluh ekor babi. Maka Liwa pun mengulang penderitaan ibunya, Lapina, dan perempuan Dani lain yang pernah menikah. Setiap hari ia harus bekerja keras sendirian mencari makan untuk seluruh keluarga tanpa pernah beristirahat, dan tak pernah dapat menolak suaminya, sampai akhirnya memiliki enam orang anak. Ketika mengandung anak ketujuh, ia telah menjadi seorang perempuan putus asa dan lemah yang tidak mungkin dapat melahirkan dengan selamat tanpa pertolongan dokter Gayatri, seorang dokter muda yang masih memiliki idealisme tinggi dan bersedia menempuh bahaya menembus hutan dari pedalaman untuk menyelamatkannya. Tidak hanya itu, Gayatri juga bersedia mengambil satu bayi kembarnya, karena sesuai adat suku Dani, salah satu anak kembar adalah anak setan, sehingga harus dibuang.
Namun penderitaan Liwa tidak hanya sampai disitu. Ibarak ingin lebih kaya, yang berarti memiliki lebih banyak babi. Hal itu dapat tercapai jika Liwa tertangkap basah berzina dengan laki-laki lain, yang kemudian harus membayar denda kepada Ibarak. Ibarak tahu bahwa Lopes tertarik kepada Liwa, dan meminta Liwa mendekati laki-laki tersebut. Liwa merasa penindasan suaminya telah lebih dari cukup, dan menolak permintaan tersebut. Penolakan ini membuat suaminya marah, sehingga menikah lagi dengan perempuan lain, Jija.
Dalam adat suku Dani, tempat tinggal yang disebut honai dibagi atas honai untuk laki-laki dan honai perempuan. Maka seorang suami tinggal di honai laki-laki bersama kerabatnya dan pada malam hari mungkin mengunjungi honai perempuan tempat istrinya tinggal. Dengan adanya istri baru, maka Ibarak tidak selalu bermalam bersama para anak laki-lakinya. Sehingga pada suatu hari yang dingin, mereka lengah dan lupa memadamkan api, yang mengakibatkan kebakaran dan tewasnya anak-anak Ibarak. Liwa, yang selama bertahun-tahun bekerja keras membesarkan anak-anaknya merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Harapannya lenyap bersama kematian para anak lelakinya. Namun Ibarak tak begtu peduli. Ia yang telah kehilangan sebagian kekayaan karena menikahi Jija, kembali meminta Liwa untuk mendekati Lopes. Bagi Liwa ini adalah akhir dari segala-galanya. Ia tak sanggup lagi meneruskan semua ini.
Sali adalah rok penutup bagian bawah perempuan Dani. “Di Fugima, ada sebuah sungai yang amat dalam, wanita yang sudah tidak mampu menanggung beban hidup akan datang ke tempat itu, meninggalkan Sali pada bebatuan, memberati tubuhnya dengan batu, kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.” Dokter Gayatri pergi ke Fugima mencari Liwa, dan hanya menemukan Sali.
Pengarang cukup berhasil menjalin cerita kehidupan perempuan suku Dani dan latar belakang yang memotivasi dua dokter perempuan yang bertugas di Wamena. Juga terdapat sedikit gambaran mengenai perubahan yang terjadi di Wamena dan Jakarta terhadap kehidupan suku Dani. Misalnya adanya pemerintah, pasar dan datangnya para turis membuat suku Dani mengenal uang, tembakau serta mengurangi peran lelaki sebagai ksatria perang (suku). Secara tradisional peran laki-laki suku Dani adalah berperang, berburu, membangun honai dan menjaga keamanan sukunya. Namun pelarangan perang suku mungkin membuat peran mereka menurun sehingga sebagai kompensasi perempuan semakin ditindas, dan dengan adanya ekonomi pasar, beban perempuan bertambah karena harus menjual hasil ladang ke pasar untuk membeli tembakau bagi suaminya. Sementara itu dalam novel ini tidak tampak peran laki-laki sebagai pemburu yang menyediakan makanan tambahan bagi keluarga, sehingga seluruh beban hidup jatuh pada perempuan. Menjadi pertanyaan, mengapa para lelaki tidak sering berburu? Hal ini kurang dijelaskan dalam buku, sehingga pembaca tidak mengetahui pekerjaan laki-laki suku Dani selain berperang.
Dalam novel ini kita juga dapat melihat kesamaan pandangan suku primitif di seluruh dunia, antara lain ketakutan terhadap darah perempuan, yang menyebabkan perempuan dilarang mendekati peralatan perang karena dianggap akan membawa kekalahan, harus melahirkan sendiri jauh di hutan, dan seterusnya.
Sali cukup berhasil mengungkapkan kehidupan suku Dani yang selama ini kurang kita ketahui dengan baik, selain itu dapat memberikan gambaran bagaimana asal mula penindasan perempuan dalam masyarakat.
Penulis buku ini, Dewi Linggasari adalah antropolog yang telah bertahun-tahun tinggal di Irian Jaya.

Sunday, January 13, 2008

Laut dan Kupu-Kupu

Judul : Laut dan Kupu-Kupu – Kumpulan Cerpen Korea
Penerjemah : Koh Young Hun & Tommy Christomy, editor Hamsad Rangkuti
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2007, Desember
Tebal : 359 hal

Dua belas cerpen dalam buku ini ditulis oleh 12 penulis Korea, dibagi dalam 6 (enam) tema dan periode, yaitu periode tahun 1950-an, 1960-an, dst sampai dengan tahun 2000-an. Periode pertama tahun 1950-an bertema Perang Korea, berikutnya periode tahun 1960-an bertema Generasi Baru, 1970-an Zaman Industrialisasi, 1980-an Gerakan Rakyat Nasionalis, 1990-an Dekonstruksi Wacana Besar, dan terakhir periode 2000-an bertema Imajinasi Baru Abad ke 21.
Cerpen pertama, Dua Generasi Teraniaya menceritakan kesedihan seorang ayah cacat yang menjemput putranya yang juga menjadi cacat akibat perang. Seoul Musim Dingin 1964 menceritakan seorang laki-laki yang putus asa.
Jalan ke Shampo adalah cerpen yang terbaik dalam novel ini, mengisahkan kehidupan dua orang laki-laki miskin yang mencari pekerjaan, yang kehilangan kampung halaman atau desanya karena telah berubah menjadi daerah industri yang tak dikenalinya lagi, namun meski dalam kesusahan, masih bersedia menolong pelarian seorang gadis desa yang dikejar pemilik warung remang-remang. Kisah ini mengingatkan pada kondisi yang terjadi di desa-desa di tanah air. Namun bukan itu saja, pengarang dapat menuliskannya dengan sangat baik untuk menimbulkan simpati pembaca.
Dinihari ke Garis Depan mengisahkan penderitaan dan perjuangan kaum buruh dalam menghadapi pemilik modal yang selalu ingin menindas buruh dengan upah rendah dan perlakuan tidak manusiawi. Lagi-lagi mengingatkan kondisi disini.
Sungai Dalam Mengalir Jauh bercerita tentang konflik keluarga karena adanya anak dari dua wanita. Sementara itu Betulkah? Saya Jerapah mengisahkan kehidupan penuh perjuangan seorang petugas kereta bawah tanah, sedangkan Kupu-Kupu dan Laut, yang menjadi judul buku ini, berisi pikiran seorang perempuan bekerja tentang berbagai masalah yang dihadapinya. Dua cerpen terakhir ini ditulis dengan gaya modern – tidak selalu runtut dan realis, namun masih cukup menarik karena masih mengisahkan perjuangan dan penderitaan menghadapi hidup. Sedangkan Pewarisan, yang juga mengisahkan konflik dalam keluarga, ditulis dengan gaya seperti reportase sehingga cukup membosankan.
Secara keseluruhan, sebagian besar cerpen dalam buku ini cukup bagus, antara lain karena penggambaran pikiran dan tindakan tokoh-tokohnya cukup terinci, sehingga mampu membawa pada suasana yang dikehendaki. Namun, untuk mencapai hal ini maka sebagian cerpen tersebut menjadi lumayan panjang. Selain itu, penceritaan yang realis dan muram juga mendominasi kumpulan cerpen ini.


Friday, January 11, 2008

Catatan Harian Orang Gila – Kumpulan Cerpen

Judul : Catatan Harian Orang Gila – Kumpulan Cerpen
Pengarang : Lu Xun (diterjemahkan oleh Pipit Maizier)
Penerbit : Jalasutra
Tahun : 2007, Desember
Tebal : 448 hal + xxiv

Saya suka membaca kumpulan cerpen dari negara-negara lain, karena memberikan gambaran kehidupan sehari-hari bangsa tersebut. Khususnya cerpen yang menggambarkan kehidupan di negeri Cina, biasanya cukup menarik.

Delapan belas cerpen yang terdapat dalam kumpulan ini merupakan karya terpilih Lu Xun yang diterjemahkan dari buku Lu Hsun Selected Stories dari penerbit W.W. Norton, menggambarkan kehidupan di Cina pada masa lalu, ditulis dalam rentang waktu antara tahun 1918 sampai dengan 1926.

Sebagian besar kisah dalam kumpulan ini ditulis dengan gaya realis, menceritakan orang-orang yang malang, kemiskinan, korban revolusi, selain mengejek beberapa jenis karakter yang terdapat pada masa itu.

Kung I-Chi menceritakan kisah seorang pelanggan kedai minum yang gagal menjadi pegawai negeri dan kemudian menjadi pencuri untuk menyambung hidup, berdasarkan pandangan seorang pelayan anak-anak yang bekerja di kedai tersebut.
Obat dan Besok menceritakan kesedihan seorang ibu karena kematian putranya, menggambarkan betapa kemiskinan dan tiadanya pengobatan modern mengakibatkan kematian sia-sia karena penyakit TBC dan tifus, sedangkan Persembahan Tahun Baru mengisahkan kesedihan seorang ibu yang putranya tewas secara tragis sehingga membawanya pada kelainan jiwa dan kematian.

Kisah Nyata Ah-Q mengisahkan kehidupan seorang miskin tak berpendidikan yang tak dianggap masyarakat dan kemudian menjadi korban revolusi. Kampung Halamanku menceritakan perbedaan kehidupan antara kaum terpelajar dan petani – yang diliputi kesengsaraan - yang memisahkan rasa persahabatan masa kecil ketika kedua tokoh menjadi dewasa, sedangkan Opera Desa menceritakan kenangan indah di masa kecil.

Cerpen lainnya, Menyesali Masa Lalu menceritakan seorang laki-laki yang karena mengambil sikap tertentu kehilangan pekerjaan, cinta dan jatuh dalam kemiskinan, demikian pula cerpen Manusia Dalam Kesunyian menceritakan perjuangan antara mempertahankan idealisme dengan melawan kemiskinan, yang berakhir dengan muram.
Badai dalam Secangkir Teh mengisahkan bagaimana pergantian kaisar membuat kepang menjadi sangat penting dan tidak memilikinya dapat menjadi masalah bagi keluarga dan menimbulkan sikap yang tidak terpuji demi menyelamatkan reputasi.
Sementara itu, terdapat dua cerpen lain yang diambil dari dongeng kuno. Sedangkan Catatan Harian Orang Gila, yang menjadi judul buku ini, konon merupakan cerpen pertama yang ditulis Lu Xun.

Secara keseluruhan, cerpen yang terdapat dalam buku ini memikat untuk dibaca. Ditulis dengan indah, mampu membawa kita pada suasana jiwa maupun keadaan alam yang digambarkan oleh kisah-kisah tersebut sehingga membawa rasa haru.

Lu Xun adalah sastrawan Cina yang hidup pada 1881-1936. Ia disebut sebagai bapak sastra Cina modern, karena ialah yang pertama kali menulis sastra dengan bahasa sehari-hari. Nama sebenarnya adalah Zhou Shuren. Ia pernah belajar kedokteran di Jepang, namun kemudian beralih haluan menjadi penulis karena ingin mengubah masyarakat Cina yang feodal. Hal ini tampak dari tulisan-tulisannya yang mengisahkan dan berpihak kepada kehidupan rakyat biasa yang miskin dan menderita.

Sayangnya, penerbitan buku ini tampaknya kurang dipersiapkan dengan baik, sehingga terdapat kekurangan yang lumayan mengganggu, yaitu adanya 222 (dua ratus dua puluh dua) kesalahan cetak berupa salah penulisan kata, pengulangan penulisan kata yang sama, belum termasuk beberapa kata atau kalimat terjemahan yang sepertinya kurang tepat. Kesalahan tersebut misalnya kata tengah ditulis te-ngah, kemudian kata pulang, diam, haru, rumah, siang ditulis piling, diarn, ham, njmah, slang dan seterusnya.
Selain itu terdapat beberapa kata terjemahan yang kurang tepat, yang lebih cocok untuk ucapan lisan sehari-hari, yang dapat diperhalus, misalnya kata nunggak, telat, dapat diperhalus menjadi menunggak, terlambat, dan adanya kata-kata yang kekurangan awalan, misalnya seharusnya berguna, memberi, ditulis guna, beri, dst.
Kekurangan lain, terdapat 2 (dua) halaman yang tidak tercetak alias putih polos, yaitu pada halaman 328 dan 333.
Dengan banyaknya kekurangan tersebut maka di masa mendatang sebaiknya penerbit Jalasutra meningkatkan pengawasan terhadap penyuntingan, agar buku yang diterbitkan bebas dari kesalahan cetak maupun kelemahan penerjemahan. Lebih baik lagi jika diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, bukan dari bahasa Inggris.
Selain dalam bentuk buku, kumpulan cerpen ini dalam bahasa Inggris juga dapat dibaca di website. Yayasan Obor juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen Lu Xun, terdiri dari 12 cerpen.

Monday, December 31, 2007

IN SEARCH OF MEMORY

Judul : In Search of Memory – The Emergence of a New Science of Mind
Pengarang : Eric R. Kandel
Penerbit : Norton, NY
Tahun : 2007 (Cet.1 th 2006)
Tebal : 430 hal + 22 hal daftar istilah, paperback

Mengapa kita bisa mengingat suatu kejadian dengan jelas untuk seumur hidup, bahkan setelah puluhan tahun kejadian tersebut berlalu? Memori atau ingatan, kenangan, yang dimiliki seseorang mendasari dan menjadi bagian dari kepribadiannya. Bayangkan seorang teman yang kehilangan seluruh atau sebagian besar memorinya, maka kita juga akan kehilangan dia sebagai teman yang kita kenal sebelumnya, dengan kepribadian tertentu. Dengan demikian mengenali bagaimana memori terbentuk, juga akan turut menguak pembentukan kepribadian, sesuatu yang membentuk individualitas sehingga membedakan satu orang dengan lainnya.
Pertanyaan di atas menjadi obsesi yang mendorong Eric Kandel – penerima Nobel bidang kedokteran tahun 2000 – untuk menemukan mekanisme yang menyebabkan adanya memori. Hal ini dipicu oleh pengalaman pahitnya sewaktu kecil, ketika harus menghadapi anti semitisme sejak kedatangan Nazi di Austria – yang memaksa keluarganya bermigrasi ke Amerika – yang hingga puluhan tahun kemudian terus dapat diingatnya dengan jelas.

Buku ini menggabungkan biografi penulis, sejarah perkembangan neuroscience (ilmu syaraf) beserta penjelasan teknisnya yang cukup rinci, penelitian dan penemuan yang dihasilkan oleh penulis, dan perkembangan terakhir serta prospek neuroscience, sehingga memberikan banyak sekali informasi menarik, sebagai berikut:

1. Biografi
Biografi Eric Kandel menceritakan bagaimana pengalaman hidupnya mula-mula membuatnya tertarik kepada sejarah dan sastra, kemudian kepada psikoanalisa Freud, yang lalu membuatnya tertarik mempelajari neuroscience, untuk membuktikan teori tersebut dengan meneliti otak secara fisik. Dari biografinya kita juga dapat mengetahui bagaimana upaya yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin menjadi ilmuwan sejati, yaitu sebaiknya selalu mengejar ilmuwan terbaik dengan belajar langsung kepada mereka, antara lain bekerja di laboratorium mereka, membuat proyek bersama, berada di lingkungan akademis yang bersuasana kondusif, memiliki keyakinan untuk memulai penelitian di suatu bidang yang baru meskipun tampaknya sulit dan penuh tantangan, memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk memecahkan misteri alam, dan tahu bagaimana membuat pertanyaan yang tepat dan menerjemahkannya dengan mencari cara terbaik untuk melakukan riset. Dari sini kita dapat pula mengetahui bahwa suasana akademis di AS yang bersifat egaliter dibandingkan dengan di Eropa dan tempat lain sangat mendukung perkembangan para ilmuwan muda, disamping adanya dana yang cukup besar dari lembaga swasta seperti Howard Hughest Institute, yang pada tahun 2004 mendukung riset 350 investigator, 10 diantaranya pemenang Nobel.

2. Sejarah Perkembangan Neuroscience
Neurology dimulai ketika Ramon y Cajal, ilmuwan Spanyol (pemenang Nobel 1906) menemukan 4 doktrin neuron sbb:
a. Sel syaraf, sebagai unit sinyal dan blok pembentuk dasar otak disebut neuron. Neuron terdiri dari dendrit, badan sel dan axon. Dendrit adalah tunas dari badan sel yang menerima sinyal dari sel lain. Badan sel berupa selaput (membran) yang berisi nukleus (DNA). Axon yang berbentuk garis panjang dari badan sel adalah elemen yang menyampaikan informasi ke dendrit sel lain melalui terminal axon.
b. Terminal axon menyampaikan informasi ke dendrit sel lain di sinapsi, yaitu celah antara terminal axon dengan dendrit sel lain. Sinapsi sebelum celah disebut presinaptik, dan sesudahnya disebut post sinaptik.
c. Neuron membentuk sinapsis dan berkomunikasi dengan sel syaraf tertentu saja.
d. Sinyal dalam neuron berjalan ke satu arah saja, yaitu dari dendrit ke badan sel, axon, presinaptik, menyeberang celah sinaptik, dan dendrit sel berikutnya.
Selanjutnya ditemukan bahwa neuron terdiri dari neuron (syaraf) sensorik, yaitu yang menerima rangsang dari luar, neuron motorik, yang mengendalikan kegiatan sel otot, dan interneuron, yang menjadi perantara diantara kedua neuron.

Charles Sherringon menemukan bahwa neuron tidak hanya dapat bersifat aktif (mengirimkan sinyal), tapi juga ada yang menggunakan terminal untuk menghentikan sel penerima menyampaikan informasi, atau bersifat penghambat (inhibitory), sehingga tindakan sistem syaraf ditentukan oleh integrasi kedua hal ini.

Selanjutnya Luigi Galvani (1791) dan kemudian Herman von Helmhotz (1859) menemukan bahwa terdapat aktivitas listrik pada sel-sel otot binatang dan bahwa axon menggunakan listrik sebagai alat untuk menyampaikan pesan berupa informasi sensorik dari luar ke spinal cord (urat syaraf tulang belakang) dan otak dan perintah dari otak ke otot. Pengukuran Helmhotz menunjukkan bahwa kecepatan kawat metal menyampaikan pesan (sinyal) 186 ribu/detik sedangkan axon 90 kaki/detik, namun bersifat aktif, untuk memastikan bahwa sinyal akan sampai dan tidak menurun kekuatannya. Hal ini disebut action potential atau energi potensial.

Edgar Douglas Adrian (pemenang Nobel 1932 dengan Sherringon) menemukan bahwa bentuk, amplitude dan kekuatan energi potensial yang dihasilkan satu sel syaraf adalah sama, yang membedakannya hanya intensitasnya. Dengan demikian suatu stimulus yang kuat dari info sensorik akan meningkatkan jumlah energi potensial per detik.

Bernstein (1920) menunjukkan bahwa energi potensial ditimbulkan oleh perbedaan voltase karena adanya perbedaan ion antara yang terdapat di dalam dan di luar selaput sel, karena selaput sel memiliki saluran (channel) yang memungkinkan ion potassium positif mengalir dari dalam sel sehingga sel dalam membran kebanyakan ion negatif.

Berdasarkan penelitian terhadap neuron cumi, Alan Hodgkin dan Huxley (pemenang Nobel 1963) dan Katz menemukan bahwa energi potensial terbentuk karena masuknya ion sodium positif mengubah voltase internal sel dan menghasilkan upstroke, pada saat hampir sama, saluran potasium terbuka dan ion potasium keluar dari sel, menghasilkan downstroke sehingga sel kembali pada voltase semula. Setiap energi potensial menjadikan sel punya lebih banyak sodium di dalam - namun dikurangi dengan adanya protein yang mengangkut kelebihn ion sodium keluar. Setiap energi potensial menghasilkan aliran yang mengaktifkan wilayah sebelahnya secara berantai, dengan cara ini maka sinyal dari pengalaman visual, motorik, pikiran atau memori dikirim dari satu neuron ke neuron lainnya.

Terdapat 2 jenis saluran ion:
a. Voltage-gated channels: energi potensial yang membawa informasi dalam neuron.
b. Chemical transmitter-gated: meneruskan informasi antar neuron, yaitu sinyal kimia dari neuron motor diubah menjadi sinyal listrik di sel otot.
Informasi yang disampaikan ke neuron berikut adalah dalam bentuk asam amino glutamate (excitatory transmitter/pemancar pembangkit) dan GABA atau gamma-aminobutyric acid (inhbitory trans/ penghambat).

Bagaimana proses listrik di terminal presinaptik menghasilkan pelepasan transmitter kimiawi? Ketika energi potensial merambat sepanjang axon ke presinaptik terminal, hal itu membuat saluran voltage-gated terbuka, yang memungkinkan masuknya kalsium, yang membentuk serangkaian langkah molekuler menuju pelepasan neurotransmitter. Dari sini dimulai proses translasi sinyal listrik menjadi sinyal kimia.

Penemuan di atas menunjukkan bahwa bekerjanya otak – kemampuan untuk berpikir, belajar, menyimpan informasi – terjadi melalui sinyal listrik dan kimia. Dengan demikian belajar, memori dan berpikir dapat dijelaskan berdasarkan proses fisika dan kimia.

Jauh sebelumnya, Franz Joseph Gall pada sekitar tahun 1800 telah menyatakan bahwa semua proses mental bersifat biologis dan muncul dari otak, dan fungsi mental spesifik diatur dalam suatu wilayah tertentu di otak. Berdasarkan pengalaman pasiennya, Paul Broca dan kemudian Carl Wernicke pada tahun 1879 menemukan aphasia, yaitu adanya ketidakmampuan membuat atau mengerti kalimat, yang disebabkan kerusakan pada bagian sebelah kiri otak. Juga diketahui bahwa otak bekerja pada bagian yang berseberangan dan antara bagian kiri dan kanan dihubungkan oleh neural pathway.

Penelitian Kandel banyak diilhami oleh penemuan Brenda Milner berdasarkan penelitiannya terhadap H.M selama 30 tahun, seorang pasien yang karena epilepsi kemudian mengalami pengangkatan hippocampus. Sejak kehilangan hipocampus, HM tidak dapat menyimpan memori baru lebih dari 10 menit. Ia masih bisa mengingat semua hal yang terjadi sebelum saat dilakukan pembedahan, namun ia tak dapat mengingat apa yang dilakukannya kemarin atau beberapa jam yang lalu. Meskipun demikian, kemampuan motoriknya tidak hilang; ia dapat meningkatkan kemampuan menggambar.
Dari sini disimpulkan bahwa:
a. Memori adalah fungsi mental yang berbeda
b. Memori jangka pendek dan jangka panjang dapat disimpan secara terpisah; hilangnya hippocampus menghancurkan kemampuan mengubah memori jangka pendek baru menjadi memori jangka panjang baru.
c. Paling sedikit satu jenis memori dapat dilacak pada suatu tempat tertentu di otak.
d. Ada 2 jenis memori: memori sadar, atau eksplisit/deklaratif memori, terletak di hippocampus merupakan ingatan yang berkaitan dengan orang, tempat, obyek, fakta, peristiwa.; dan memori tak sadar, atau implisit/undeklaratif memori, meliputi kemampuan persepsi dan motorik, kebiasaan, sensitization dan clasical conditioning, tidak memerlukan hippocampus.

Kandel mengambil kesimpulan bahwa belajar merupakan eksplisit dan implisit memori, pengulangan terus menerus mengubah eksplisit memori menjadi implisit memori.

3. Penelitian dan Penemuan Penulis
Kandel ingin meneliti bagaimana stimuli sensorik yang beragam mempengaruhi pola aktivitas neuron piramidal di hippocampus. Untuk itu ia melakukan percobaan dengan aplysia, yaitu siput laut yang memiliki hanya 20 ribu neuron dan neuronnya cukup besar. Penulis melihat bahwa siput yang diberikan stimuli berupa kejutan (shock) pada ekornya memberi respons dengan menutup insang. Oleh karena itu untuk mengukur kekuatan sinaptik ia memberikan tiga jenis situasi kepada siput sesuai percobaan Pavlov, yaitu pembiasaan (habituation), sensitization, dan classical conditioning. Pada pembiasaan, Kandell memberikan stimuli lunak secara berulang, pada sensitization diberikan stimuli keras, dan pada classical conditioning keduanya dipasangkan. Hasilnya menunjukkan bahwa pada pembiasaan kekuatan sinaptik berkurang, karena neuron (syaraf) sensorik melepaskan lebih sedikit transmitter kimiawi yaitu glutamate, sedangkan pada sensitization dan classical conditioning sebaliknya. Sensitization memperkuat energi potensial di syaraf motorik namun syaraf sensorik melemah, karena syaraf sensorik mengaktifkan syaraf antara. Syaraf antara ini mengeluarkan serotonin dan meningkatakan pelepasan glutamate oleh syaraf sensorik ke syaraf motorik. Dengan demikian pelepasan serotonin meningkatkan refleks penarikan insang oleh siput.
Berdasarkan hal di atas maka terdapat 2 sirkuit syaraf otak dalam belajar dan perilaku:
1. Sirkuit mediasi : menghasilkan perilaku secara langsung, terdiri dari syaraf sensorik dan syaraf motorik.
2. Sirkuit modulatory: syaraf antara, yang mengaur respons perilaku dalam belajar dengan memodulasi kekuatan koneksi sinaptik antara syaraf sensorik dan motorik.

Berdasarkan penemuan Earl Sutherland diketahui bahwa terdapat reseptor di permukaan sel yang berespons terhadap hormon, yaitu ketika reseptor mengikat pengirim pesan kimiawi di luar sel (1st messenger), mereka mengaktifkan enzim dalam sel yang disebut aderytyl cyclose, yang membuat ribuan molekul cyclic AMP (2nd messenger) selama beberapa menit. Cyclic AMP kemudian mengikat protein utama yang memicu respons seluruh molekul dalam sel. Karena berlangsung beberapa menit, metabotropic reseptor lebih kuat, meluas dan bertahan dari ionotropic reseptor. Bagaimana caranya? Cyclic AMP mengikat dan mengaktifkan protein Kinase A, yang meningkatkan molekul fosfat, disebut fosforilasi. Protein Kinase A sendiri terdiri dari 4 molekul, yaitu dua molekul bertindak sebagai regulasi (penghambat) dan dua lainnya sebagai katalis.
Dengan demikian terdapat 3 bahan yang berperan dalam pembentukan memori jangka pendek dengan meningkatkan neurotranmitter glutamate, yaitu serotonin, cyclic AMP dan protein Kinase A.
Maka stimuli pada ekor yang menghasilkan respons berupa penutupan insang dapat dijelaskan sebagai berikut: stimuli pada ekor mengaktifkan neuron antara yang melepaskan serotonin ke sinapsi, setelah melewati celah sinaptik, serotonin menempel pada reseptor syaraf sensorik, yang menghasilkan cyclic AMP, yang kemudian melepaskan unit katalis protein Kinase A, yang meningkatkan pelepasan neurotransmitter glutamat ke syaraf motorik.

Penelitian pada lalat buah menunjukkan bahwa mekanisme sel yang sama juga terdapat pada semua spesies binatang, termasuk manusia, dan pada banyak bentuk belajar yang lain karena mekanisme tersebut telah dipelihara selama evolusi. Selain itu, cyclic AMP juga digunakan untuk menghasilkan perubahan metabolik yang persisten pada usus, ginjal, hati dan merupakan molekul paling primitif yang juga ditemukan juga pada organisme satu sel seperti E.coli. Hal ini menegaskan prinsip evolusi:
1. Evolusi tidak memerlukan molekul atau proses biokimia baru yang khusus untuk menghasilkan mekanisme adaptif yang baru (memori) melainkan merekrut yang ada.
2. Evolusi adalah tinkerer: menghasilkan sesuatu dari apa yang tersedia, tidak dirancang khusus.
Menurut Kandell, secara mengejutkan sains hanya menemukan sedikit protein yang unik pada otak manusia dan tidak ada sistem sinyal yang unik.

Sementara itu, dalam pembentukan memori jangka panjang, pelepasan serotonin menyebabkan protein kinase A dan MAP bergerak ke nukleus sel dan mengaktifkan CREB, yang membuat gen memproduksi protein sesuai informasi genetik tertentu yang disandi oeh DNA, yang menghasilkan pertumbuhan sinapsis baru dan dengan demikian akan menghasilkan lebih banyak glutamat.

Secara terpisah, Arvid Carlsson menemukan bahwa dopamine adalah transmitter dalam sistem syaraf, dan kekurangan dopamine dapat menimbulkan gejala Parkinson. Sedangkan Paul Greengard menemukan bahwa dopamine merangsang enzim dan meningkatkan cyclic AMP serta mengaktifkan protein kinase A di otak. Sinyal pembawa pesan kedua cyclic AMP ini diaktifkan oleh serotonin (modulatory antar neuron) selama sensitization.

Penemuan Carlsson dan Kandel memungkinkan dibuatnya obat untuk penyakit yang disebabkan kehilangan memori atau kejiwaan, misalnya Parkinson dan schizophrenia. Penemuan ini dan penelitian selanjutnya juga mengungkapkan, mengapa depresi sering diikuti dengan kehilangan memori, karena ternyata depresi ditandai oleh kurangnya serotonin, yang diperlukan untuk pembentukan memori.

4. Prospek
Perkembangan neurology yang berkaitan erat dengan biologi menimbulkan tumbuhnya industri bioteknologi untuk menghasilkan obat-obatan bagi penyakit kejiwaan termasuk peningkatan memori, dan para ilmuwan menjadi terlibat baik dalam penelitian murni maupun produksi obat-obatan baru. Kandell sendiri dan beberapa pemenang Nobel lainnya kemudian mendirikan perusahaan bioteknologi yang memproduksi obat-obatan. Namun disamping memberikan harapan kesembuhan bagi para penderita penyakit kejiwaan, di masa depan hal ini juga dapat menimbulkan masalah etika: misalnya, kapan seseorang boleh menggunakan obat untuk meningkatkan memori?

Pada bagian akhir, penulis menguraikan usaha Francis Crick, penemu DNA, yang selama 30 tahun terakhir hingga beberapa jam sebelum akhir hayatnya (2004) masih berupaya memecahkan misteri kesadaran dengan mencarinya di suatu bagian tertentu di otak. Maka usaha yang akan dicoba dipecahkan oleh para ilmuwan berikutnya adalah menemukan dari mana munculnya kesadaran. Penemuan akan hal ini tentu akan mengubah pandangan umat manusia tentang kehidupan. Misalnya, mungkinkah free will (kehendak bebas) hanya ilusi?

Uraian penulis dalam buku ini semakin menegaskan kembali bukti teori evolusi. Kita melihat bahwa pendekatan secara genetika dan reduksionis dengan kerangka evolusi mampu mengungkap banyak hal yang dapat menambah pemahaman kita mengenai bagaimana memori, yang merupakan landasan pikiran dan kesadaran terbentuk. Dengan kemajuan yang terdapat dalam biologi dewasa ini, tidak dapat dielakkan lagi bahwa di masa depan, neuroscience akan terus maju untuk berupaya membuktikan bahwa pikiran, watak, moralitas, kehendak bebas, dapat ditelusuri asalnya dari benda material yang disebut otak, dan tidak ada lain di luar itu. Jika hal tersebut dapat dibuktikan lebih lanjut, maka pemahaman kita akan arti hidup akan kembali harus ditata ulang, dan ah, lagi-lagi akan banyak yang tetap tidak percaya dan semakin membenci sains.
Dari sini kita juga dapat mengerti, mengapa diperlukan pemikiran naturalistik untuk memajukan ilmu pengetahuan, karena apabila sebelumnya ilmuwan telah berpendapat bahwa memori, perilaku, kepribadian, moralitas berasal dari jiwa dan tidak dapat diselidiki asalnya secara materalistik, maka tidak akan ada penelitian mengenai hal-hal tersebut. Padahal penelitian-penelitian yang pada mulanya tampak seperti hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu dan bahkan tampak demikian sulit atau tidak mungkin, di kemudian hari ternyata dapat bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kejiwaan atau kehilangan memori.
Hal ini membenarkan pernyataan Taner Edis (lihat\: An Illusion of Harmony), bahwa selama suatu negara tidak melakukan riset ilmu murni berdasarkan suatu kerangka teori tertentu dan membebaskan ilmuwannya untuk berpikir dan meneliti apapun, apalagi melarang suatu teori hanya karena tidak sesuai dengan ideologi tertentu, maka selamanya negara tersebut hanya akan menjadi pengimpor teknologi dan semakin tertinggal dalam sains, meskipun telah mengeluarkan banyak dana.

Buku ini bagus, karena disamping berisi biografi, menguraikan secara cukup rinci sejarah neuroscience, cara melakukan penelitian, penemuan yang dihasilkan, dan implikasinya, disertai dengan gambar-gambar dan foto yang sangat menolong untuk memahami uraian penulis. Selain itu dilengkapi dengan daftar istilah, sehingga merupakan pengantar yang baik sebelum membaca buku-buku lain tentang neuroscience, yang menurut penulis, pada abad 21 akan menjadi seperti DNA dalam biologi pada abad 20.

Seperti biologi, maka neuroscience adalah ilmu yang sangat menarik, karena berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dan mendasar tentang kehidupan.

Has Science Found God?

Judul : Has Science Found God? The Latest Results in the Search for
Purpose in the Universe
Pengarang : Victor J. Stenger
Penerbit : Prometheus Books, NY
Tahun : 2003
Tebal : 357 hal

"Perhaps science can teach us humility and self reliance, and the need to live our lives within the universe as it really, not as we might wish it to. The universe is not populated by mysterious forces, beyond our comprehension, that control our lives and destinies for some unseen purpose."

Apakah kesimpulan dari penemuan terakhir dalam bidang fisika dan kosmologi mengenai alam semesta? Apakah ada tanda-tanda bahwa alam semesta ini diciptakan dengan suatu tujuan? Apakah sains menemukan bukti atau tanda bahwa alam semesta ini diciptakan atau dirancang?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sejak bab-bab awal penulis menyebutkan satu demi satu pernyataan-pernyataan mengenai ditemukannya tanda bahwa sains mendapatkan bukti alam semesta ini diciptakan untuk manusia oleh perancang atau pencipta. Baik pernyataan dari suatu konferensi ilmiah, pendapat beberapa ilmuwan, hingga anthropic principle. Namun menurut penulis, semua itu tidak benar, karena berdasarkan teori fisika termutakhir yang cukup teruji keandalannya, alam semesta tidak menunjukkan adanya rancangan atau tujuan. Hal ini berdasarkan teori fisika terakhir yang dapat diringkas sebagai berikut:
1. Ruang dan waktu tidak memiliki batas – tiada awal maupun akhir.
2. Waktu tidak memiliki arah tertentu pada tingkat fundamental.
3. Alam semesta material kita timbul dari fluktuasi kuantum dalam ruang hampa pada titik ruang-waktu arbitrary, yang mengarah kepada ekspansi eksponensial (inflasi) dan kemudian big bang. Entropi alam semesta adalah maksimum pada saat fluktuasi tersebut, sehingga setiap informasi yang mungkin ada telah dihancurkan.
4. Terdapat kemungkinan lebih dari satu alam semesta terjadi dengan cara di atas. Paling tidak, kita tidak memiliki dasar untuk mengandaikan bahwa alam semesta terjadi hanya satu kali.
5. Hukum konservasi global fisika dan prinsip relativitas adalah property simetri ruang hampa yang secara lamai meluas ke alam semesta material. Hukum dan prinsip ini sama di semua alam semesta.
6. Tak satupun dari hukum-hukum ini disimpangi oleh penampakan matter dari ruang hampa.
7. Hukum fisika tambahan, non global berasal dari pecahnya simetri lokal spontan pada awal alam semesta karena kebetulan.
8. Struktur seperti galaksi, bintang, planet, dan organisme hidup berkembang dari struktur kompleks system material yang terbentuk di bawah pecahnya simetri secara spontan. Urutan pembentukan tidak menyalahi hukum kedua termodinamika karena entropi maksimum alam semesta yang dimungkinkan meningkat saat alam semesta mengembang, memungkinkan meningkatnya ruang untuk terbentuknya keteraturan.

Selain itu, hal di atas didukung oleh bukti lainnya :
1. Teori evolusi, yang menunjukkan bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya berkembang dari bentuk yang kurang kompleks melalui proses alami tanpa arahan dari atas (mengutip filsuf Daniel Dennet). Bahkan jika teori evolusi terbukti salah, hal itu tidak berarti bahwa kreasionisme otomatis menjadi benar dan membuktikan adanya tujuan atau rancangan sebagaimana digambarkan agama samawi. Stenger menganggap hal ini kekanakan, “to seek evidence for purpose in the thin layer of carbon that coats the surface of a minor planet”.
2. Teori informasi.
3. Pernyataan kitab suci tidak sesuai dengan temuan kosmologi modern, antara lain : tidak bergeraknya bumi dan bintang-bintang, bahwa bumi exist sebelum matahari, bulan dan bintang-bintang, adanya kata-kata “ujung dunia”, “empat sudut bersandarnya pilar” untuk menerangkan bumi.
4. Kita tidak dapat mengandalkan akal sehat (common sense) dalam menyimpulkan realitas, karena dapat menyesatkan. Contohnya: kita melihat/merasakan bahwa bumi itu datar, tak bergerak, di pusat alam semesta, dapat mengetahui kapan kita bergerak, interval waktu dan ruang adalah sama bagi semua pengamat, makhluk hidup dan bintang-bintang tetap bentuknya dan tak bergerak. Berdasarkan ilmu pengetahuan, semua itu salah, sehingga kita tak dapat mengandalkan akal sehat untuk menentukan kebenaran ilmiah.
5. Pernyataan-pernyataan akan kebenaran kekuatan supernatural tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah melalui sekumpulan data yang dapat dipercaya dalam jumlah memadai. Dengan demikian, tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Sebagian besar penjelasan berdasarkan teori fisika, sehingga buku ini tidak begitu mudah kecuali mungkin bagi mereka yang memiliki background di bidang tersebut. Namun demikian, tetap cukup menarik untuk mengetahui, bagaimana pandangan ilmuwan fisika pada umumnya mengenai alam semesta: sains tidak dapat menunjukkan atau memberi bukti bahwa ada tujuan dalam alam semesta atau bahwa alam semesta diciptakan, apalagi dengan tujuan tertentu bagi manusia Jadi, kesimpulan dari fisika dan biologi modern sama: no design, no purpose, only indifferent universe.

Tidak semua ilmuwan fisika secara tegas menyatakan bahwa bukti-bukti cukup memadai untuk menyatakan bahwa tidak ada apapun yang membuktikan adanya tujuan, karena sebagian berpendapat bahwa masih cukup banyak yang belum diketahui sehingga terlalu dini untuk mengambil kesimpulan mutlak sebagaimana penulis buku ini. Namun demikian, menurut Stenger sikapnya dapat dianggap mewakili ilmuwan fisika pada umumnya, khususnya ilmuwan top anggota Akademi Nasional Sains AS. Menegaskan pandangannya, Stenger telah menulis buku baru sejenis pada tahun 2006, dengan tema hampir sama.

Penulis adalah professor emeritus fisika Univ. Hawaii, dan ajun profesor filsafat di Univ. Colorado, yang selama puluhan tahun terlibat langsung dalam penelitian dan penemuan-penemuan baru bidang fisika partikel.

Saturday, December 15, 2007

Mother Teresa: Come Be My Light

Judul : Mother Teresa : Come Be My Light – The Private Writings
of the “Saint of Calcutta”
Editor : Brian Kolodiejchuk, M.C
Penerbit : Doubleday, NY
Tahun : 2007
Tebal : 400 hal

"Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that crown in my heart - & make me suffer untold agony. So many unanswered questions live within me – I am afraid to uncover them – because of the blasphemy – If there be God, - please forgive me. "

Banyak orang mengagumi Bunda Teresa karena kepedulian dan kasihnya kepada orang-orang paling miskin dan terabaikan, sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 1983. Namun tidak banyak yang mengetahui perasaan atau pikirannya.
Buku ini disusun oleh Father Kolodiejchuk - yang mengenal Bunda Teresa selama 20 tahun dan untuk pengusulannya sebagai Santo - berdasarkan surat-surat Bunda Teresa kepada para pimpinan/penasihatnya di gereja dengan pesan agar kemudian dihancurkan. Namun gereja tetap menyimpan bahkan menerbitkannya dalam sebuah buku. Menurut Father Kolodiejchuk, tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk memberikan informasi bagi para pengagum Bunda Teresa mengenai motif tindakan, sumber kekuatan, alasan kegembiraan, dan intensitas cintanya.
Bunda Teresa dilahirkan pada tahun 1910 di Albania. Pada usia 18 tahun, ia berangkat ke Irlandia untuk memasuki kehidupan misionaris di Institut Blessed Virgin Mary (Loreto order). Ia telah tertarik bekerja untuk orang miskin sejak berumur 12 tahun, dan memikirkannya selama 6 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi misionaris,”From the age of 5,5 years – when first I received Him, the love for souls has been within, it grew with the years, until I came to India, with the hope of saving many souls.” Ia tiba di Calcutta pada tanggal 6 Januari 1929.
Pada bulan Mei 1937, Suster Teresa melaksanakan upacara pengukuhan komitmen kesetiaan kepada Yesus di sebuah kapel di Darjeeling, India dan sesuai tradisi Loreto sejak itu disebut Bunda Teresa.
Selama itu, Bunda Teresa mengajar murid-murid perempuan di sekolah St Mary dan dapat dikatakan tidak sepenuhnya hidup seperti orang India karena Ordo Loreto menjamin semua keperluan hidupnya dan berada di tempat yang relatif aman dari segala pergolakan yang tengah terjadi di India pada waktu itu. Namun, pada bulan September 1946 Bunda Teresa menyatakan mendapatkan panggilan untuk melayani orang-orang termiskin,”It was in that train, I heard the call to give up all and follow Him in the slums – to serve Him in the poorest of the poor.”
Sejak mendapatkan panggilan, Bunda Teresa berusaha untuk mewujudkan cita-citanya, namun ditolak oleh gereja. Pada tahun 1947, atas permintaan gereja, ia mengajukan bluepint Ordo barunya, yaitu misi dan penjelasan mengenai kegiatannya kelak. Bunda Teresa ingin membentuk Ordo untuk membantu orang-orang termiskin dan hidup sebagaimana orang India. Akhirnya pada bulan Januari 1948, gereja mengizinkannya membentuk Missionary Sisters of Charity, yang akan membantu orang-orang miskin.

Missionary yang dibangun oleh Bunda Teresa mengalami kemajuan cukup pesat, sebagaimana tertulis dalam suratnya,”I went visiting and nursing the people in their dark homes and holes. So many neglected poor children surrounded me everywhere. Slowly with some lay helpers I gathered the children in two slums. Then in March the first Bengali girls joined. Now we are seven. We work in five different centres.” (hal 137)
Missionary yang dibangun oleh Bunda Teresa mulai menunjukkan hasil. Sebaliknya, Bunda Teresa merasakan hal sebaliknya sejak kegiatan tersebut dimulai, sebagaimana tulisnya pada tahun 1953,”Please pray specially for me that I may not spoil His Work and that Our Lord may show Himself-for there is such terrible darkness within me, as if everything was dead. It has been like this more or less from the time I started ‘the work’.” (hal 148)Setahun lebih berikutnya Bunda Teresa bahkan merasakan kesepian yang dalam, keterpisahan dari Yesus. “There is so much contradiction in my soul – Such deep longing for God – so deep that is painful – a suffering continual – and yet not wanted by God – repulsed – empty- no faith – no love – no zeal.- Sous hold no attraction – Heaven means nothing – to me it looks like an empty place – the thought of it means nothing to me and yet this torturing longing for God. – Pray for me please that I keep smiling at Him in spite of everything. For I am only His – so He has every right over me.” (hal. 169)
Kehampaan dan penderitaan Bunda Teresa berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya, sebagaimana surat pada tahun 1959 kepada Father Picachy “…Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that crown in my heart - & make me suffer untold agony. So many unanswered questions live within me – I am afraid to uncover them – because of the blasphemy – If there be God, - please forgive me. – Trust that all will end in Heaven with Jesus.- When I try to raise my thoughts to Heaven – there is such convicting emptiness that those very thoughts return like sharp knives & hurt my soul. – Love – the word – it brings nothing. – I am told God loves me – and yet the reality of darkness & coldness & emptiness is so great that nothing touches my soul. Before the work started – there was so much union – love – faith – trust – prayer – sacrifice.-Did I make the mistake in surrendering blindly to the call of the Sacred Heart?” Selanjutnya,”The whole time smiling - Sisters & people pass such remarks. – They think my faith, trust & love are filling my very being & that the intimacy with God and union to His will must be absorbing my heart. – Could they but know – and how my cheerfulness is the cloak by which I cover the emptiness & misery.
In spite of all – this darkness & emptiness is not as painful as the longing for God. – The contradiction I fear will unbalance me. – What are You doing My God to one so small?”
Sejak tahun itu pula Bunda Teresa tidak lagi berdoa, sebagaimana tulisnya pada bulan September,”They say people in hell suffer eternal pain because of the loss of God – they would go through all that suffering if they had just a little hope of possessing God. – In my soul I feel jus that terrible pain of loss – of God not wanting me – of God not being God – of God not really existing (Jesus, please forgive my blasphemies – I have been told to write everything). That darkness that surrounds me on all sides – I can’t live my soul to God – no light or inspiration enters my soul. – I speak of love for souls – of tender love for God – words pass through my words – and I long with a deep longing to believe in them. – What do I labor for? If there be no God – there can be no soul. –If there is no soul then Jesus – You also are not true. – Heaven, what emptiness- not a single thought of Heaven enters my mind – for there is no hope. – I am afraid to write all those terrible things that pass in my soul. – They must hurt You.
In my heart there is no faith – no love – no trust – there is so much pain – the pain of longing, the pain of not being wanted. – I want God with all the powers of my soul – and yet there between us – there is terrible separation. – I don’t pray any longer – I utter words of community prayers – But my prayer of union is not there any longer – I no longer pray. – My soul is not one with You.”
Selanjutnya mengenai pekerjaannya, ia menulis,”The works holds no joy, no attraction, no zeal.” Meskipun demikian, ia menganggap itu adalah panggilan Jesus dan pekerjaanNya,”That is why the work is Yours and it is You even now – but I have no faith – I don’t believe. – Jesus, don’t let my soul be deceived – nor let me deceive anyone.”
Bahkan pada hari Natal, ia menulis,”A real Christmas. – Yet within me – nothing but darkness, conflict, loneliness so terrible. I am perfectly happy to be like this to the end of life-“

Surat lainnya kepada Father Neuner,”Darkness is such that I really do not see – neither with my mind nor with my reason. – The place of God in my soul is blank.-There is no God in me.- When the pain of longing is so great- I just long & long for God – and then it is that I feel – He does not want me – He is not there – Heaven- souls- why these are just words-which mean nothing to me.-My very life seems so contradictory. I help souls- to go where?- Why all this? Where is the soul in my very being? –Sometimes- I just hear my own heart cry out-“My God” and nothing else comes.-The torture and pain I can’t explain.-I feel nothing before Jesus.”
Selanjutnya,”I loved God with all the powers of a child’s Heart. He was the centre of everything I did & said- Now Father- it is so dark, so different and yet my everything is His- in spite of Him not wanting me, not caring as if for me.”
Dalam surat-surat selanjutnya tampak bahwa setelah mendapat nasihat Father Neuner akhirnya Bunda Teresa menerima kehampaan ini dengan pasrah, sampai akhir hayatnya.”For the first time in this 11 years- I have come to love the darkness.- For I believe now that it is a part, a very, very small part of Jesus’ darkness & pain on earth.”

Meskipun demikian hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebagaimana tampak pada surat berikutnya,”I have realized something these days. Since God wants me to abstain from the joy of the riches of spiritual life- I am giving my whole heart and soul to helping my Sisters to make full use of it.- As for myself, I just have the joy of having nothing- not even the reality of the presence of God.- No prayer,no love, no faith – nothing but continual pain of longing for God.”

Buku ini memberi kita informasi mengenai apa yang memotivasi Bunda Teresa bekerja keras membantu orang-orang termiskin: keinginan melayani Yesus, membalas pengorbanan Yesus dengan cara hidup menderita dan menyebarkan ajarannya, dan keinginan menjadi orang suci (Santa),”I want to become a saint according to the Heart of Jesus – meek & humble.” Itu pula sebabnya, para suster yang bekerja untuknya harus melayani orang miskin dengan hidup menderita: melakukan pekerjaan berat tanpa bantuan teknologi (misalnya mesin cuci), dan hidup sangat sederhana, karena bagi Bunda Teresa mendampingi dan membantu orang miskin bukan kerja sosial, tetapi pelayanan untuk Tuhan yang harus dilakukan dengan pengorbanan atau hidup menderita. Hal ini mungkin dapat menjawab beberapa kritik yang ditujukan kepadanya oleh beberapa penulis, yang menyatakan bahwa bantuan yang diberikan oleh banyak pengagumnya tidak digunakan untuk membeli peralatan modern yang dapat memperingan pekerjaan para susternya dan bahwa mereka bekerja terlalu berat serta berada dalam kondisi yang terlalu menyedihkan.
Surat-surat Bunda Teresa tentu mengejutkan bagi banyak orang. Mengapa ia tidak merasakan kehadiran Tuhan, bahkan meragukannya, merasa hampa, hipokrit, dan berada dalam kegelapan? Bagi penganut Katolik hal tersebut dianggap salah satu tanda kesucian, karena kegelapan (interior darkness) ini juga dialami oleh beberapa Santo dan oleh St John of the Cross disebut ‘dark night’. Hal ini bahkan dianggap sebagai penyucian yang harus dialami sebelum seseorang mencapai kesatuan dengan Tuhan. Proses ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama seseorang melepaskan indrawinya dan menarik diri untuk doa kontemplasi. Pada kondisi ini ketika Tuhan menyampaikan sinarNya, jiwa yang tidak sempurna tidak dapat menerimanya dan mengalami kegelapan, sakit, dan kehampaan. Tahap selanjutnya seseorang merasa ditolak dan diabaikan oleh Tuhan, akan tetapi sangat merindukan dan mencintai Tuhan namun tidak dapat mengenalinya. Pada tahap ini iman, harapan dan charity diuji. Setelah melewati pengujian ini, seseorang kemudian menuju pemisahan dari ciptaan dan meningkat kepada union dengan Kristus, menjadi alatnya dan melayaninya tanpa pamrih. Bunda Teresa dianggap telah sampai pada tahap ini.

Di sisi lain, mereka yang rasional berpendapat sebaliknya. Tidakkah itu membuktikan bahwa Bunda Teresa adalah hasil suatu iman buta, indoktrinasi yang demikian kuat, yang kemudian mengalami konflik karena kemudian rasionalitasnya meragukan indoktrinasi tersebut? Melihat bahwa konflik tersebut timbul sejak ia membentuk Ordo Charity dan harus menghadapi segala kesulitan dan penderitaan sendiri, serta setiap saat melihat penderitaan orang-orang termiskin dan terabaikan secara langsung, mungkin hal tersebut kemudian memberikan realitas dan pemahaman baru tentang kehidupan, yang baginya tidak lagi sesuai dengan doktrin yang telah diyakininya selama ini. Ketika melihat orang-orang malang di jalanan yang tidak diinginkan, tidak dicintai, ia merasakan hilangnya kehadiran Tuhan, arti doa, bahkan meragukan keberadaanNya, dan karena ia banyak bersama mereka, ia juga merasa bahwa Tuhan meninggakannya juga.“The physical situation of my poor left in the streets unwanted,unloved unclaimed – are the true picture of my own spiritual life.” (hal 232). Tidakkah hal ini mirip dengan kaum humanis yang melihat penderitaan besar menimpa manusia tak berdosa (karena bencana alam, perang, kecelakaan atau penyakit) tanpa alasan jelas, kemudian bertanya,”Dimanakah Dia? Mengapa Dia membiarkan semua (penderitaan) ini? Benarkah Dia mencintai orang-orang malang ini? Adakah Dia?” Namun dalam diri Bunda Teresa telah tertanam iman dan doktrin yang demikian dalam sehingga tidak mungkin untuk bersikap menggunggat seperti seorang humanis, sehingga terjadi konflik yang menimbulkan perasaan hampa dan kegelapan, dan satu-satunya penyelesaian adalah meneruskan apa yang telah dijalani.

Dengan kata lain, Bunda Teresa adalah hasil dari kekuatan agama yang demikian besar, yang mampu menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal paling baik, atau menyangkal seluruh rasionalitasnya dengan segala pengorbanan, atau melakukan hal-hal terburuk dengan alasan yang sulit diterima rasio.
Bagaimanapun, Bunda Teresa telah memberikan contoh dan penghiburan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Ia adalah contoh bagaimana agama dapat membuat seseorang melakukan kebaikan yang tak terbayangkan, karena dimotivasi untuk menjadi orang suci, kekasih Tuhan.

Friday, November 02, 2007

The Making of the Fittest - DNA and Evolution

Judul : The Making of the Fittest –
DNA and the Ultimate Forensic Record of Evolution
Pengarang : Sean B. Carrol
Penerbit : W.W. Norton and Co., NY
Tahun : 2006
Tebal : 286 hal

Banyak orang pernah mendengar dan mungkin sedikit mengerti tentang DNA; bahwa test DNA dapat memberi banyak manfaat bagi keluarga atau penyelidikan kriminal, misalnya untuk memastikan ayah seorang anak, identitas jenazah yang rusak, pembunuh seseorang, hingga diagnosa penyakit genetik. Bahkan di AS, test DNA telah menyelamatkan banyak orang dari hukuman penjara/mati yang tidak seharusnya akibat salah hukum, karena test DNA lebih akurat daripada bukti sidik jari atau saksi mata.
Ironisnya, masih banyak masyarakat yang tidak dapat menerima bahkan menentang teori evolusi. Padahal, penemuan dan penelitian mengenai DNA justru semakin membuktikan kebenaran teori tersebut, sehingga sungguh aneh jika masyarakat bersedia menerima manfaatnya namun masih menentang evolusi.

Buku ini mencoba menjelaskan bukti-bukti tersebut, yang dapat diringkas sebagai berikut:
1. Semua makhluk hidup berasal dari satu leluhur sama, namun sejarah, perbedaan habitat dan perubahan lingkungan yang terjadi selama miliaran tahun menghasilkan beragam jenis makhluk hidup yang tampak sangat berbeda satu sama lain. Meskipun demikian, sejarah perkembangan setiap makhluk hidup individual dan spesies tercatat dalam DNA-nya. Dengan membandingkan DNA antar spesies, dapat diketahui:
a .keterkaitan antara satu spesies dengan lainnya dan kapan terjadi pemisahan
b. kapan sifat (trait) tertentu yang khas muncul dan bagaimana

2. Selama evolusinya, setiap spesies beradaptasi terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya dengan cara melakukan:
a. penghapusan kode DNA yang tidak diperlukan lagi
b. membuat organ baru (invention) dengan memodifikasi organ yang ada
c. meningkatkan/menyempurnakan organ yang ada, antara lain dengan dengan menggandakan kode DNA yang ada.
3. Mekanisme di atas (2a) menghasilkan gen fosil, yaitu kode DNA yang dapat dilacak fungsi asalnya namun telah termutasi dan tidak dapat berfungsi lagi. Modifikasi dan penyempurnaan, yang dapat diketahui dari kenyataan bahwa kode DNA asli telah terdapat pada leluhur suatu spesies jutaan atau ratusan ribu tahun sebelumnya menunjukkan, bahwa organ dan sifat tidak dirancang secara khusus oleh perancang, tetapi merupakan adaptasi yang bersifat jangka pendek dan tidak terencana, karena banyak modifikasi yang menunjukkan bahwa jika dibuat secara terencana maka bekerjanya akan lebih efisien. Banyaknya bukti mengenai hal ini sekaligus menegaskan: gagasan bahwa setiap spesies dirancang dari awal dengan suatu maksud/tujuan (intent) adalah tidak benar.

4. Seleksi alam menjaga suatu sifat, fungsi organ atau bentuk tertentu tetap dimiliki suatu spesies. Jika seleksi alam tidak ada atau menurun karena perubahan habitat atau pergeseran cara hidup spesies, maka kode DNA untuk sifat,fungsi atau bentuk tersebut akan menjadi gen fosil atau hilang sama sekali. Sesuatu yang tidak diperlukan lagi akan mengakibatkan akumulasi mutasi pada kode DNA-nya sehingga sifat atau kemampuan tersebut tidak dapat kembali lagi meskipun kemudian perubahan lingkungan membuat spesies tersebut memerlukan trait/fungsi tersebut kembali. Prinsipnya adalah: lose it or use it. Hal ini mungkin menerangkan mengapa tingkat kepunahan makhuk hidup sangat tinggi: evolusi berjalan satu arah, adaptasi memerlukan waktu panjang, sehingga jika terjadi perubahan lingkungan yang sangat cepat dan makhluk hidup tersebut tidak dapat beradaptasi dengan cepat, ia akan punah.

5. Evolusi bekerja secara berulang. Spesies yang menghadapi masalah dan perubahan lingkungan yang sama, meskipun berada di tempat atau waktu berbeda, akan melakukan adaptasi atau modifikasi pada DNA-nya dengan cara yang mirip atau sama. Hal ini termasuk meakukan perubahan teks DNA pada posisi yang sama, dengan huruf/teks yang sama.

6. Contoh nyata fosilisasi, penghapusan, modifikasi dan inovasi adalah pada icefish, yang hidup di laut Antartika. Leluhur icefish (sejak 500 juta tahun lalu) seperti ikan lainnya, yaitu memiliki sel darah merah, namun icefish sama sekali tidak memiliki sel darah merah, sehingga darahnya bening. Semua makhluk lain akan mati tanpa sel darah merah. Penelitian terhadap DNA menunjukkan bahwa 2 gen yang normalnya berisi kode DNA untuk globin (bagian dari hemoglobin) punah: 1 gen masih ada tapi tak berfungsi, sehingga menjadi fosil gen, 1 gen lainnya terkikis sama sekali. Hal yang mendorong terjadinya perubahan dramatis ini adalah : keperluan dan kesempatan (necessity dan opportunity). Perubahan jangka panjang dalam suhu dan arus laut selama 55 juta tahun menurunkan suhu dari 68 ke 30 derajat F dan terisolasinya Antartika sejak 34 juta tahun lalu, membatasi migrasi populasi ikan, sehingga mereka harus beradaptasi pada perubahan atau punah. Sebagian besar punah, namun satu grup, yaitu icefish (200 spesies) memanfaatkan perubahan ekosistem. Selain perubahan di atas, icefsih juga melakukan modifikasi dengan memiliki insang besar dan kulit scaleless berpori besar, sehingga meningkatkan penyerapan oksigen. Sedangkan inovasinya adalah pembentukan protein antibeku.
Adaptasi pada icefish menunjukkan bahwa sifat/bentuk yang dimilikinya bukanlah rancangan instant atau satu jalan proses progresif, melainkan serangkaian langkah yang terdiri dari : penemuan kode (DNA) baru, pemusnahan kode lama dan modifikasi lebih lanjut dari yang ada -> menegaskan prinsip evolusi, yaitu seleksi alam dan pelanjutan keturunan dengan modifikasi.

7. Penolakan terhadap teori evolusi terutama bukan disebabkan oleh alasan ilmiah, seperti kurangnya bukti atau lemahnya teori, namun lebih disebabkan karena alasan ideologi (misalnya komunis atau fundamentalis kanan) dan karena manusia tidak mampu membayangkan adanya waktu yang jauh melebihi usianya sendiri. Namun menolak teori ini akan mengakibatkan manusia tidak dapat mengerti cara bekerjanya alam, sehingga dapat mengakibatkan kehancuran yang lebih besar bagi bumi, yang pada akhirnya akan menghancurkan manusia sendiri. Contohnya: pengetahuan mengenai icefish dapat memprediksi bahwa pemanasan gobal akan berarti kepunahan mereka, karena icefish telah melepaskan semua kemampuan untuk hidup di iklim lebih hangat, kemampuan/sifat yang hilang tak dapat dimiliki kembali, dan adaptasi memerlukan waktu jutaan tahun. Hal ini dapat berlaku untuk semua jenis binatang.

Uraian dan contoh bukti-bukti terinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. MATEMATIKA Evolusi
Kekuatan seleksi alam dapat dianalogikan dengan perhitungan bunga, yaitu akumulasi dari jumlah kecil, jika bertahun-tahun dapat menjadi besar. Suku bunga dapat dianalogikan dengan koefisien seleksi. Koefisien seleksi ialah perbedaan dalam sukses reproduksi relatif dan survival antara individual yang memiliki suatu sifat (trait) dengan yang tidak. Contoh: jika individu dengan sifat tertentu memperoleh keuntungan sehingga dapat menghasilkan 101 keturunan dan individu yang tidak memiliki sifat tertentu hanya menghasilkan 100 keturunan, maka koefisien seleksi adalah positif 1%, dan sebaliknya. Jika hal ini terjadi selama puluhan, ratusan atau ribuan tahun, maka pemilik sifat tadi akan terakumulasi sehingga trait tersebut dapat dimiliki oleh sebagian besar (misanya 90%) populasi. Sebagai contoh adalah moth berwarna gelap, yang memiliki koefisien negatif 0,20%. Selama 50 tahun terakhir populasi moth warna gelap menurun dari 90% menjadi kurang 10% dari seluruh populasi, karena membaiknya kondisi lingkungan daerah industri di Inggris.

2. SELEKSI ALAM MENOLAK PERUBAHAN MERUGIKAN
Survival dari gen individual melalui periode geologi yang panjang menunjukkan:
a. kekuatan penjagaan dari seleksi alam
b. kunci evolusi kehidupan leluhur kuno
c. adanya gen abadi (immortal), yaitu gen yang telah ada sejak leluhur awal, yang dapat menujukkan derajat keterkaitan antar jenis makhluk hidup.
Selama miliaran tahun gen menghadapi mutasi, yang dapat mengubahnya ke arah merugikan. Namun seleksi alam menjaga gen dari perubahan yang merugikan dengan cara redundansi kode genetik. Yaitu sekuens kode asam amino dapat berbeda tetapi asam amino yang dihasilkan tetap sama. Contoh: sekuens DNA asli untuk menghasilkan asam amino leucine adalah TTA, namun mutasinya, yaitu TTG dan CTA, serta mutasi gandanya CTT dan CTC, tetap menghasilkan leucine. Perubahan yang tidak mengubah arti triplet ini disebut sinonim, yang mengubah arti disebut nonsinonim. Tanpa seleksi alam, maka rasio perubahan sinonim dengan nonsinonim adalah 1:3. Penjagaan seleksi alam tersebut memungkinkan adanya gen immortal.
Ditemukannya gen imortal pada manusia dan archaea yang berumur 3 miliar tahun menunjukkan keterkaitan leluhur manusia dengan archaea.

3. GEN BARU MODIFIKASI LAMA
Kemampuan melihat dan membedakan warna merupakan hasil modifikasi atas gen opsin, yang dapat dilihat buktinya pada monyet dan primata, ikan laut dalam, dan burung, sebagai upaya adaptasi terhadap habitat dan gaya hidup yang berbeda.
Warna dapat kita lihat karena satu set molekul dalam retina mendeteksi cahaya, kemudian disampaikan ke otak, tetapi warna yang dapat dideteksi setiap spesies berbeda. Cahaya putih adalah campuran warna dari ungu,biru,kuning,jingga,hijau dan merah, dengan panjang gelombang berbeda, dari 400 nanometer (nm) (ungu) ke 700 nm (merah). Warna suatu obyek adalah panjang gelombang cahaya yang diserap atau dipantulkan, dan hal ini tergantung molekulnya. Contohnya: rumput berwarna hijau karena ia menyerap semua panjang gelombang cahaya kecuali hijau; cahaya hijau dipantulkan. Cahaya matahari yang tidak dapat kita lihat ialah yang mengandung panjang gelombang lebih pendek (krg dr 400nm),ikan laut dalam hanya warna kebiruan (s.d. 485 nm), dan sebagian besar mamalia hanya sampai dengan warna hijau (520 nm). Mengapa? Karena susunan protein pigmen visual yang terdapat pada retina setiap spesies berbeda-beda. Pigmen visual ini terbuat dari protein opsin dan molekul kecil yang disebut chromophore. Sensitivitas cahaya dari pigmen visual ditentukan oleh sekuens tertentu dari protein opsin dan bagaimana chromophore berinteraksi dengannya. Manusia memiliki 3 pigmen visual berbeda, yang sensitif atas gelombang cahaya pendek, sedang dan panjang, yaitu opsin SWS (417 nm), MWS (530 nm) dan LWS (560 nm, merah). Pigmen keempat, rhodopsin (497 nm), digunakan untuk melihat dalam gelap atau cahaya redup. Makhluk yang dapat melihat ketiga gelombang chromophorenya disebut trichromatric. Setiap opsin disandi (encode) oleh gen terpisah. Ketiga gen opsin manusia juga terdapat pada primata lainnya, namun sebagian besar mamalia hanya memiliki dua gen opsin, atau dichromatic. Selain itu, pada mata terdapat dua jenis reseptor, yaitu cone (kerucut) dan rod. Cone dapat melihat warna, sedang rod tidak dapat membedakan panjang gelombang, sehingga tidak dapat membedakan warna dan digunakan untuk malam hari.
a.
Primata
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa burung dan ikan, yang leluhurnya muncul lebih dulu dari primata, memiliki 4 s.d. 5 gen opsin, namun mengapa mamalia pada umumnya hanya memiliki 2 gen opsin dan primata 3 gen opsin? Hal ini berarti terdapat gen opsin yang hilang pada mamalia dan primata. Dilihat dari sejarahnya, hal tersebut karena mamalia sempat menjadi nocturnal (binatang yang aktif pada malam hari), yaitu pada masa dinosaurus menguasai bumi, sehingga tidak terlalu memerlukan melihat warna. Kemudian, setelah leluhur mamalia dan primata berpisah, satu gen opsin muncul kembali pada primata. Namun mengapa 3 gen opsin didukung oleh seleksi alam? Dari penelitian terhadap monyet colobus dan simpanse di Uganda, lemur di Madagaskar dan monyet laba-laba di Costarica, kemampuan melihat warna merah diperlukan untuk mendapatkan makanan yang lebih baik, karena di hutan, daun muda yang tinggi nutrisinya dan lebih lembut berwarna merah, dan buah tidak selalu tersedia dengan cukup. Betapa seleksi alam mendukung hal ini dapat dilihat dari rendahnya tingkat buta warna pada monyet macaque (<1%).>

. b.Ikan laut dalam
Pada laut yang dalam, tidak banyak cahaya yang masuk dan hanya cahaya kebiruan yang tersedia. Adaptasi terhadap hal ini mengakibatkan rhodopsin dari ikan laut dalam dan lumba-lumba bergeser ke warna biru, dengan menyesuaikan ke 10 s.d. 20 nm ke akhir spektrum cahaya biru. Caranya dengan melakukan penggantian asam amino di satu spesies dengan asam amino yang lain.
c. Burung
Untuk dapat melihat kisaran warna ultraviolet, burung melakukan modifikasi dengan mengubah satu asam amino pada opsin SWS. Pada posisi 90, dengan asam amino serine dapat dilihat kisaran warna violet, namun jika pada posisi tersebut diganti dengan asam amino cystline, burung dapat melihat warna ultraviolet, dan sebaliknya. Dengan demikian tampak bahwa à satu langkah sederhana perubahan tunggal saja dapat mengubah fungsi opsin SWS.
Pada burung, modifikasi ini diperlukan untuk
· Seleksi seksual, misalnya pada starling, pemilihan pasangan oleh betina bergantung pada daya tarik warna bulu, yang hanya dapat dilihat dengan warna ultraviolet.
· Alat bagi induk burung untuk mengetahui sarang anaknya pada malam hari dari warna ultraviolet pada paruh anak.
· Membantu memburu mangsa, karena burung blue tits menggunakan penglihatan ultraviolet untuk mendeteksi ulat bulu yang tersamarkan jika dilihat dengan penglihatan biasa.
Kemampuan melihat ultraviolet juga terdapat pada ikan, amfibi, reptile dan kelelawar untuk berbagai keperluan, sehingga: satu inovasi dapat menciptakan kesempatan untuk mengembangkan berbagai inovasi tambahan.

4. GEN FOSIL
Gen dapat terfosilisasi atau hilang seluruhnya jika tidak diperlukan lagi oleh lingkungan (adanya relaksasi seleksi alam), sebagaimana terjadi pada icefish, ikan purba coelacanth, lumba-lumba, bunga yang berwarna-warni, ragi, bakteri pathogen, dan manusia. Hal ini dapat terlihat dari rusaknya teks gen fosil, sehingga kode genetiknya berantakan (decayed) dan terkikis seiring berjalannya waktu.
a. Coelacanth
Leluhur ikan purba coelacanth, memiliki gen opsin MWS dan LWS, namun coelacanth tidak memilikinya dan hanya memiliki rhodopsin untuk melihat dalam cahaya suram serta 1 gen opsin SWS yang telah mengalami banyak kekacauan dalam teksnya. Misalnya pada posisi 200-202 kode DNA tikus dan spesies lain basenya CGA, pada coelacanth TGA. Triplet ini merupakan tanda berhenti yang berfungsi untuk melenyapkan translasi dari sisa teks opsin SWS, yang berarti melenyapkan kemampuan coelacanth untuk membuat protein opsin SWS yang fungsional. Banyaknya kekacauan pada kode opsin SWS menunjukkan bahwa gen tersebut telah menjadi fosil, karena tidak dapat berfungsi lagi. Gen tersebut berfungsi pada leluhurnya, namun tidak lagi pada coelacanth saat ini. Karena tak berfungsi, maka akan terus mengakumulasi mutasi dan penghapusan tambahan sehingga pengikisan akan terus berlanjut sampai akhirnya akan terhapus dari DNA selamanya, sebagaimana opsin MWS dan LWS yang telah terhapus.
Paus dan lumba-lumba juga memiliki fosil SWS. Mengapa? Karena seluruh binatang tersebut benar-benar hidup di dalam laut sehingga tidak memerlukan penglihatan berwarna. Jika opsin tersebut tidak lagi dibutuhkan, maka seleksi alam akan direlaksasi, dan jika terjadi relaksasi, tidak ada mekanisme untuk menyingkirkan mutasi gen yang mengganggu fungsinya semula.
b. Binatang Nocturnal (Malam)
Satu-satunya primate nocturnal adalah monyet owl, yang juga memiliki fosil opsin SWS. Sedangkan diurnal monyet owl (aktif di siang hari) memiliki opsin SWS utuh.
Promisians, primate primitif yang terdiri dari lemur, tarsier, bush babies, lorises, juga memiliki gen fosil opsin SWS, terlihat dari adanya sepotong kode yang hilang di dekat awal gen yang menghilangkan kemampuan membuat opsin.
d. Tikus mondok
Tikus mondok yang hidup di bawah tanah memiliki gen opsin MWS dan LWS untuk mendeteksi cahaya guna menjalankan jam biologis, namun gen opsin SWSnya menjadi fosil dan matanya sangat kecil. Catatan fosil menunjukkan bahwa binatang ini berkembang dari leluhur yang hidup di atas tanah dan memiliki mata normal. Perubahan gaya hidup membuat banyak perubahan pada anatomi dan fisiologi.
e. Manusia
Gen pencium merupakan gen terbesar dalam genom mamalia, tampak dari adanya 1400 gen ini dalam 25.000 genom tikus. Gen ini berfungsi untuk mendeteksi bau/aroma yang berbeda; bagaimana aroma tersebut dirasakan tergantung dari reseptor yang mendeteksinya. Dibandingkan dengan tikus, maka setengah dari seluruh gen pencium manusia terfosilisasi. Hal ini tampak pada reseptor yang disandi gen V1R: tikus memiliki 160 reseptor fungsional, manusia hanya 5 reseptor. Mengapa? Manusia tidak lagi bergantung pada penciuman sebagaimana leluhurnya, hal ini berkaitan dengan evolusi pada penglihatan. Evolusi trichromatic vision memungkinkan primata untuk mendeteksi makanan, pasangan dan bahaya secara visual, sehingga mengurangi ketergantungan pada indra penciuman. Relaksasi pada gen pencium membuat kode gen tak beraturan. Hal ini diikuti perubahan fisikal, terlihat dari mengecilnya organ vomeronasal – yang digunakan untuk mendeteksi pheromones/aroma - pada manusia dan primata, dibandingkan dengan vertebrata darat lainnya.
Gen fosil lainnya adalah MYH16, dimana ada 2 penghapusan base dalam kode MYH16, sementara pada simpanse, gorilla, orangutan dan macaque gen ini utuh. Protein MYH16 dibuat dalam subset otot, yang terlibat dalam pergerakan rahang besar pada kera untuk mengunyah. Pada manusia, region temporalis dan otot telah sangat berkurang dibandingkan ketiga primata di atas.
e. Ragi roti
Semua spesies ragi roti dapat menggunakan galaktosa menjadi bentuk glukosa melalui serangkaian langkah pengenziman, dengan 4 enzim berbeda, yang disandi 4 gen berbeda, serta 3 protein lain, sehingga ada 7 gen untuk melakukannya. Namun satu spesies, yaitu S. kudriavzevlii tidak dapat melakukannya, karena tidak seperti ragi lainnya yang hidup di tempat yang kaya gula, spesies ini hidup di daun yang membusuk. Berdasarkan penelitian, setiap gen untuk mengubah galaktosa sudah tidak ada – ada bermacam potongan kode yang hilang dan memusnahkan kesatuan teksnya.
f. Bakteri lepra
Gen dari mikroba penyebab penyakit lepra, Mycrobacterium leprae mengandung 1600 gen fungsional dan 1100 gen fosil. Sementara itu, keluarga dekatnya, M. tuberculosis memiliki 4000 gen utuh dan hanya 6 fosil gen. Mengapa terjadi perbedaan begitu besar?
Hal ini disebabkan perbedaan gaya hidup. M. leprae hanya dapat hidup di dalam sel hostnya (tuan rumah/ makhluk yang didiaminya). Ia tinggal di dalam sel macrophages dan menginfeksi sel dari system syaraf peripheral. Hidup di dalam sel host membuat M. leprae mengandalkan banyak proses metabolisme pada hostnya, sehingga merelaksasi seleksi pada pemeliharaan banyak gen M. leprae. Peningkatan kekacauan gen (fosilisasi) seperti ini juga terjadi pada parasit dan pathogen intraselular lainnya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan:
· Fosilisasi dan hilangnya gen menimbulkan batasan pada arah masa depan evolusi dalam garis keturunan selanjutnya.
· Pengawasan oleh seleksi alam hanya bertindak pada saat ini – ia tidak dapat merencana masa depan.
· Jika kondisi berubah, bahkan dalam jangka panjang, spesies yang telah kehilangan gen tertentu tidak akan memiliki gen yang tersedia untuk beradaptasi dengan kondisi baru.
· Fosilisasi membuktikan bahwa pembuatan spesies tidak ada rancangan atau tujuan. Contohnya pada bakteri leprosy, tidak ada bukti bahwa bakteri tersebut dirancang sedemikian, tapi organisme ini adalah versi Mycrobacterium yang dilucuti, yang masih membawa lebih dari 1000 gen tak berguna, berantakan, bekas leluhurnya. Manusia juga masih membawa bekas genetik dari sistem penciuman yang dulu lebih kuat dari saat ini.

5. SELEKSI ALAM PADA MANUSIA
Gen manusia menunjukkan: perlombaan terus menerus dengan penyakit, adanya seleksi alam, dan bekerjanya seleksi alam dengan material yang tersedia (bukan dengan penyelesaian terbaik). Bukti-bukti ini meniadakan keyakinan kita akan adanya kemajuan dan rancangan, dan menegaskan bahwa keperluan akan suatu manfaat tertentu harus diperoleh dengan suatu biaya, bahkan jika biaya tersebut cukup besar.
a. Perbedaan warna kulit.
Terdapat korelasi antara tingkat radiasi ultraviolet pada lokasi berbeda di dunia dengan bervariasinya pigmen kulit. Pigmen (melanin) adalah tabir surya alami yang efisien dalam menyerap radiasi ultraviolet, yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel. Komponen utama pembentukan melanin adalah Melanocortin-1 receptor (MC1R), reseptor sama yang terdapat pada bulu dan warna kulit. Produksi melanin dikendalikan oleh hormone yang dibuat di suatu bagian kelenjar pitutary, αMSH, yang mengikat reseptor MCiR dan menstimulasi pembentukan melanin.
Pada orang Eropa yang berambut merah, terdapat mutasi MC1R yang menyebabkan penggantian satu asam amino dengan asam amino lainnya, sedang pada populasi Eropa dan Asia terdapat minimum 13 variasi berbeda dari gen MC1R, 10 diantaranya mengubah protein MC1R dan 3 tidak (sinonim substitusi). Pada populasi Afrika, ada 5 varian gen MC1R, semua sinonim dan tidak ada varian pada protein MC1R. Perbedaan rasio dari nonsinonim dan sinonim pada non Afrika (10:3) dan Afrika (3:10) sangat signifikan sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa seleksi alam telah mencegah terjadinya perubahan protein MC1R pada orang Afrika karena hidup di wilayah tersebut memerlukan produksi melanin yang tinggi untuk melindungi dari radiasi matahari dan ultraviolet yang tinggi.
b. Sickle cell (sel bentuk sabit)
Memiliki 2 mutasi sel darah merah berbentuk sabit (sickle cell) berdampak merugikan, namun mereka yang memiliki 1 mutasi relatif resisten terhadap infeksi malaria. Mereka ini tinggal di daerah malaria dan sekitarnya.
Mutasi sickle cell disebabkan perubahan tunggal dalam triplet ke enam dari gen (dari GAG ke GAT). Mutasi ini muncul ada 5 waktu berbeda, yaitu di Bantu, benin, Senegal, Kamerun dan India.
c. Mutasi enzim GGPD
Mutasi enzim GGPD mengakibatkan defisiensi, yang terjadi pada 400 juta orang. Namun mereka dengan defisiensi ini memiliki muatan parasit malaria yang lebih rendah, yang mengurangi risiko terjangkit malaria akut sebesar 46 – 58%.
Mutasi gen GGPD baru muncul pada masa sekitar 3200-7700 tahun terakhir. Masa ini bersamaan dengan masa munculnya pertanian, yang menimbulkan kemungkinan bahwa efek malaria pada evolusi adalah relatif baru. Ketika manusia membuka hutan untuk pertanian, hal itu meningkatkan kolam/genangan air tempat nyamuk berkembang biak. Meningkatnya jumlah nyamuk, kepadatan populasi manusia termauk pemukinan, mungkin menyebabkan malaria dan membentuk perlombaan evolusioner antara parasit, nyamuk dan manusia. Pengobatan malaria yang selalu menimbulkan resistensi pada obat-obat tersebut dengan mutasi gen menunjukkan adanya lingkaran berulang, sehingga digunakan kombinasi beberapa obat.
d. Mutasi protein Duffy
Selain itu, terdapat mutasi yang menghilangkan protein Duffy, yaitu tempat parasit memasuki sel darah merah, yang terjadi pada seluruh populasi (100%) Afrika, namun tidak terdapat di Asia/Kaukasia.

6. EVO DEVO dan Pembuatan serta Evolusi Kompleksitas
Bagaimana terbentuknya spesies dan evolusi feature kompleks di atas level spesies (makroevolusi)?
(1) Kesamaan Prinsip
Penemuan mengenai gen pembentuk mata Pax-6 menunjukkan bahwa terdapat kesamaan prinsip dalam pembuatan mata pada semua makhuk hidup, terlihat dari miripnya sekuens protein pembentuk Pax-6 antara lalat buah, tikus dan manusia, dan kesamaan antara tikus dan manusia. Berdasarkan penelitian, hal ini karena adanya hubungan dan kesamaan prinsip, terlihat dari:
a. Pax-6 tikus dan lalat dapat saling bertukar dalam pengembangan mata lalat.
Pengaktifan Pax-6 lalat di tempat-tempat lain (kaki dll) dapat menumbuhkan selaput mata, gen Pax-6 tikus dapat menumbuhkan selaput mata lalat.
b. Pax-6 yang diisolasi dari dari cumi, cacing pita dapat digunakan untuk pengembangan mata binatang tersebut.
Hal di atas menunjukkan: gen tersebut selain memiliki kesamaan sekuens juga kesamaan kemampuan, dan leluhur dari binatang-binatang tersebut menggunakan Pax-6 untuk pengembangan mata yang sangat primitif, dan keturunan leluhur ini mengembangkan mata yang lebih kompeks berdasarkan fondasi ini.
Fondasi dan bahan yang tersedia untuk ini adalah:
· Sel pendeteksi cahaya
· Sel pigmen yang mengatur angle cahaya yang mencapai sel fotoreseptor
Mata tersebut juga dibangun dengan menggunakan bahan lain, yaitu protein opsin.
Sebagaimana fotoreseptor adalah jenis sel purba, demikian pula jenis sel-sel yang membentuk banyak selaput dan organ lain. Penemuan evo devo menunjukkan bahwa pembangunan hati, otot, system syaraf, pencernaan dan anggota tubuh segala jenis binatang juga berdasarkan alat genetik (tool-kit) dan gen pembentuk organ yang mirip, yaitu tool kit purba dan telah terdapat juga pada leluhur awal (common ancestor) sebeum berkembangnya sebagian besar binatang.

(2) Keanekaragaman
Keanekaragaman makhluk hidup dapat dihasilkan dari penggunaan gen pembentukan tubuh yang mirip dengan cara berbeda. Mutasi tool kit fisiologi, seperti opsin, reseptor, dapat mempengaruhi berfungsinya organ, misalnya mempengaruhi kemampuan melihat. Oleh karena itu evolusi bentuk cenderung dengan mengubah cara penggunaan tool kit protein daripada mengubah tool kit protein itu sendiri, sebab tool kit pembentuk umumnya mengatur pembentukan beberapa bagian tubuh, sehingga jika terjadi mutasi pada satu bagian (misalnya mata) dapat menghilangkan mata seluruhnya atau mempengaruhi bagian tubuh lain.
Contoh perubahan cara penggunaan tool kit adalah perubahan bentuk pelvic pada ikan dan anggota badan pada mamalia. Perubahan gen Pitxl pada ikan stickleback di danau Amerika memperkecil tulang pelvic ikan di dasar danau, yang didorong oleh seleksi alam karena pelvic yang panjang merugikan, sebab larva dragonfly memangsa ikan stickleback muda dengan cara menangkap/grab spine mereka.
Pengecilan ukuran tulang pelvic dilakukan dengan pengaturan aktivasi dan non aktivasi switch yang terdapat pada sekuens DNA yang dapat diatur. Switch menentukan kapan dan dimana setiap gen digunakan atau tidak digunakan dengan cara mengaktifkan dan menonaktifkan sekuens tertentu. Jadi dengan sekuens yang sama namun penempatan pengaktifan dan penonaktifan switch yang berbeda saja, dapat dihasilkan variasi warna bulu, motif atau bentuk anggota tubuh sehingga menghasilkan keanekaragaman tak terbatas.

Uraian terinci mengenai pembentukan keanekaragaman dengan pengaturan switch terdapat dalam buku penulis sebelumnya Endless Forms Most Beautiful: The New Science of Evo Devo, finalis 2005 Los Angeles Times Book Prize.
Penulis buku ini, S.B. Carrol (46 tahun) adalah investigator pada Institut Medis Howard Hughes dan professor genetika di Univ. of Wisconsin, merupakan salah satu biologist terkemuka saat ini dan salah satu pendiri ilmu baru evolutionary developmental (evo devo) biology.

The Making of the Fittest merupakan buku terbaru yang terbaik mengenai evolusi, yang diuraikan dengan susunan dan bahasa Inggris yang relatif mudah dibandingkan buku sejenis, namun dengan lebih banyak informasi termutakhir.

Wednesday, October 24, 2007

Peri Kecil di Sungai Nipah

Judul : Peri Kecil di Sungai Nipah
Pengarang : Dyah Merta
Penerbit : Koekoesan
Tahun : 2007, Sept.
Tebal : 292 hal

Saya tertarik membeli novel ini karena covernya yang artistik, adanya komentar dari Prof. Melani Budianta, guru besar Susastra UI bahwa novel ini mengingatkan pada buku House of the Spirit dan The God of Small Things, dan adanya setengah halaman potongan novel di belakang buku. Ternyata novel ini sangat kelam dan sedih.
Novel ini mengisahkan sebuah keluarga pemilik tanah luas yang tinggal di tepi sungai Nipah, suatu wilayah yang baru dibuka dimana penduduknya mengusahakan perkebunan tebu.
Tokoh dalam novel ini, keluarga Karyo Petir, memiliki dua orang anak, yaitu Dagu dan Gora. Masalah mulai muncul ketika seorang wanita tua mengantar Kulung, anak laki-laki Karyo Petir dari hubungannya di luar pernikahan ke rumah, karena ibu anak tersebut meninggal. Istri Karyo Petir sangat marah, dan melampiaskan kemarahannya kepada Kulung setiap hari. Hal ini, ditambah disia-siakannya almarhum ibunya oleh Karyo Petir, membuat Kulung dendam pada keluarga tersebut.
Cerita kemudian menjadi rumit karena terdapat pengambilalihan lahan tebu milik penduduk secara paksa untuk perkebunan dan pabrik gula yang akan dibangun. Muncul terror kepada penduduk desa. Dagu, yang memimpin perlawanan penduduk, ditangkap oleh aparat dengan bantuan Kulung. Di lain pihak, untuk menghancurkan hati Karyo Petir, Kulung menjalin cinta dengan Gora, anak kesayangan Karyo yang disekolahkannya di kota. Dendam dan pengkhianatan Kulung membawa kehancuran bagi keluarga Karyo Petir, khususnya ketika Dagu tewas dengan tragis karena siksaan aparat, yaitu dipancang di alun-alun. Maka istri Karyo Petir meninggal karena kesedihan tak tertahankan, dan Gora harus pergi untuk melupakan kehancuran keluarganya.
Sampai disini novel ini agak berlebihan, karena penggambaran kematian Dagu. Mungkinkah di zaman ini ada aktivis pelawan pemerintah yang dipancang di alun-alun – untuk dipamerkan kepada rakyat - dengan tubuh penuh siksaan? Gambaran ini agak mengingatkan pada represi di zaman Orde Baru, tapi di zaman itupun kekejaman tidak dipamerkan terang-terangan di tengah kota, sehingga tampaknya gambaran tersebut dibuat penulis untuk membangkitkan kekelaman dan kesedihan novel ini yang semakin dalam pada akhir cerita, khususnya untuk memberi alasan terganggunya kesehatan jiwa ibu Dagu.

Dendam dan pengkhianatan Kulung sebagai anak haram juga agak berlebihan. Memang ia disia-siakan oleh Karyo Petir, tetapi ia bukan hasil perkosaan. Ibunya tahu bahwa Karyo Petir telah berkeluarga, dan tidak berkeberatan berhubungan dengannya tanpa status yang jelas, sehingga sebenarnya ibunya juga tidak tanpa kesalahan. Mengapa Kulung menimpakan semua dendam kepada keluarga ayahnya?
Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan tertutup dan pemurung. Karyo Petir menjadi penyendiri dan tidak bersedia bicara pada siapapun sejak mengetahui Kulung merusak Gora, anak-anak kehilangan keceriaan sejak Kulung menetap di rumah, Gora yang kesepian menemukan Kulung, ibunya tidak lagi mempedulikan orang lain sejak kedatangan Kulung, dan menarik diri dari kehidupan sejak kematian Dagu.
Sejak awal, karakter para tokoh dan jalinan peristiwa dilukiskan dengan misteri, suasana menyedihkan dan gelap lapis demi lapis. Cerita tidak selalu berurut dari awal sampai akhir, terkadang melompat sesuai pikiran Gora, tapi tetap teratur, diselingi dengan perkembangan karakter Karyo Petir sejak kedatangan Kulung, disusul adanya teror di desa oleh aparat, kemudian oleh Kulung. Tokoh-tokoh utamanya digambarkan semakin hancur kemudian semakin mengasingkan diri menghadapi takdir atau nasib buruk. Digambarkan dengan adanya burung-burung gagak, ditutupnya rumah dari cahaya, perjumpaan dengan tokoh-tokoh lain yang bernasib malang, maka lengkaplah kekelaman novel ini.
Kisah yang dituturkan penulis cukup aktual, mengenai kehancuran keluarga akibat perselingkuhan, dampak “pembangunan” yang merusak kehidupan masyarakat desa dengan terampasnya tanah dan usaha kecil, kekerasan negara, yang semuanya dijalin dalam bentuk yang tidak biasa: agak berlebihan, kelam dan sangat menyedihkan.
Buku ini merupakan novel pertama dari penulis muda (29 tahun) Dyah Merta, namun novel ini telah membuktikan bahwa Dyah adalah penulis yang cukup mengesankan.

Monday, October 22, 2007

An Illusion of Harmony

Judul : An Illusion of Harmony: Science and Religion in Islam
Pengarang : Taner Edis
Penerbit : Prometheus Books, NY
Tahun : 2007
Tebal : 251 hal

Buku ini hendak menjawab pertanyaan: mengapa setelah lebih dari seratus tahun, umat Islam tetap tidak mampu mengejar ketinggalannya dalam sains dengan bangsa Barat? Bukankah umat Islam selalu mengumandangkan hadis yang mendorong agar menuntut ilmu, bahkan hingga ke negeri Cina, dan umat Islam juga selalu mengenang kejayaan ilmuwan Islam pada zaman pertengahan (abad kegelapan di Eropa)? Apakah sebabnya hanya karena negara-negara Islam saat ini pada umumnya miskin dan korup, sehingga tidak memiliki dana untuk mengembangkan ilmu? Tapi mengapa di negara kaya – seperti Arab – sains juga tidak berkembang?
Penulis, fisikawan berdarah Turki-Amerika yang dibesarkan di Turki dan kini mengajar di universitas di Amerika, mencoba menguraikan permasalahan di atas terutama berdasarkan kondisi di Turki, yang cukup baik diketahuinya. Meskipun demikian, pembahasannya relevan untuk negara-negara mayoritas Islam lainnya, termasuk Indonesia. Turki adalah negara berkembang yang relatif miskin, korup, berusaha untuk sekuler namun kini mengalami kebangkitan agama, suatu kondisi yang tidak beda jauh dengan Indonesia atau negara Islam lainnya.
Menurut Taner Edis, anggapan umat Islam bahwa kejayaan ilmuwan Islam seperti zaman pertengahan dulu akan dapat dicapai adalah tidak relevan, karena sains di zaman tersebut sangat berbeda sifatnya dengan sains modern, sehingga apabila dibandingkan, hampir tidak ada yang tersisa dari “sains” di zaman tersebut. Sains modern sangat bersifat empiris, eksperimental, dan memerlukan peralatan yang mahal, disamping itu untuk melakukannya harus berada dalam kerangka teori yang mendasarinya. Hal ini tidak ada dalam zaman pertengahan dulu. Sayangnya, kerangka teori yang mendasari ilmu murni sebagian besar tidak dapat diterima oleh umat Isam, karena dianggap tidak sesuai dengan agama (Qur’an dan hadits). Sains modern berusaha menjelaskan segala sesuatu berdasarkan sebab alami, bersifat materialis dan reduksionis, sementara negara Islam selalu memberi batasan bahwa sains harus menunjukkan bahwa segala sesuatu adalah rancangan dan pemeliharaan Tuhan. Tidak heran bahwa aliran creationism dan intelligent design mendapat dukungan besar. Namun sebagai akibatnya, umat Islam tidak pernah melakukan penelitian ilmu-ilmu murni – seperti biologi, fisika, neuroscience – dan hanya bersedia mempelajari ilmu-ilmu terapan, misalnya teknik dan kedokteran. Selama hal ini terjadi, maka umat Islam akan harus mengimpor teknologi, karena tidak mengembangkan sendiri ilmu murninya.
Penulis mengambil contoh, bahwa teori evolusi tidak dapat diterima oleh umat Islam, padahal teori ini telah menjadi dasar untuk banyak ilmu-ilmu lain, tidak hanya terbatas pada biologi, sehingga mengabaikannya akan berakibat cukup fatal untuk mengembangkan sains. Demikian pula penelitian neuroscience dll untuk menyelidiki mengapa seseorang beragama tidak akan mungkin dilakukan di negara Islam, karena dianggap sudah seharusnya. Hal ini karena negara selalu membatasi sains yang dapat dilaksanakan oleh ilmuwan, dan karena negara Islam lebih bersifat komunal, maka ilmuwannya pun pada umumnya religius dan mendukung pembatasan yang diberikan. Mereka berusaha mencari sesuatu yang khas Islam, tapi selalu akhirnya kembali kepada doktrin tradisional yang penuh pembatasan. Hal ini berbeda dengan di negara Barat, dimana kaum beragama terdiri dari kaum konservatif dan liberal. Adanya penganut agama yang liberal memungkinkan pemisahan antara agama dan sains, sehingga tidak ada pembatasan terhadap penelitian yang dapat dilakukan, dan ilmuwan dapat berpikir merdeka tanpa harus mendukung agama tertentu. Oleh karena itu penulis menyarankan, jika umat Islam ingin memajukan sains, maka tumbuhkanlah kaum liberal di negara Islam agar ilmuwan memperoleh kebebasan. Namun jika umat Islam merasa harga yang harus dibayar untuk itu terlalu mahal dan tetap ingin mempertahankan komunalisme dan konservatisme, maka jangan berharap terlalu banyak untuk dapat mengembangkan ilmu murni, sehingga mungkin selamanya harus bergantung ke Barat, karena teknologi saja tidak dapat berkembang tanpa didukung ilmu-ilmu murni, dan ilmu-ilmu murni tak dapat dikembangkan tanpa kerangka teoritis - yang umat Islam tidak bersedia menerimanya.
Tampaknya analisis Taner Edis benar adanya, karena selama ini saya belum pernah melihat ilmuwan Indonesia yang tidak religius, bahkan ada biologist dan fisikawan yang menentang teori evolusi, dan buku-buku Harun Yahya bertebaran dimana-mana dan dipuji-puji di internet. Sementara buku penyeimbangnya... hanya satu dua dan tidak jelas ada di toko mana.
Free Hit Counter
stats counter