Sunday, May 10, 2020

Bumi Yang Tak Dapat Dihuni


Judul                     :   Bumi Yang Tak Dapat Dihuni
Pengarang            :   David Walace-Wells
Penerjemah          :   Zia Anshori
Penerbit                :   GPU
Tebal                     :   330  halaman
Tahun                    :   2019

Masalah pemanasan global telah menjadi headline yang sering kita baca sehari-hari. Berita yang muncul pada umumnya berupa melelehnya es di Antartika, hilangnya beberapa pulau kecil karena kenaikan air laut, dan ramalan akan tenggelamnya beberapa negara kepulauan dan kota besar yang terletak di pesisir dalam beberapa puluh tahun mendatang. 
Berita singkat yang terpencar-terpencar demikian membuat kita kurang menyadari betapa berbahayanya membiarkan pemanasan global terus berlangsung. Buku ini mencoba menyadarkan pembaca, bahwa pemanasan global bukan hanya  akan membuat kehidupan lebih sulit untuk generasi yang akan datang, namun telah mempengaruhi hidup kita pada hari ini, dengan bencana yang semakin dahsyat dan sering, dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah bumi. Oleh karena itu sepanjang buku ini Wells menyajikan bukti-bukti kerusakan bumi akibat pemanasan global beserta prediksinya untuk tahun 2050 dan 2100. Selain itu dikemukakan pula upaya yang dapat mengurangi kerusakan tersebut.    

 Saat ini suhu di bumi telah meningkat 1 derajat. Para ilmuwan memperkirakan bahwa bila tidak terdapat tindakan untuk mengurangi emisi karbon, maka pada tahun 2100 suhu di bumi akan meningkat 4,5 derajat. Itu sebabnya dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi pemanasan global, antara lain melalui perjanjian kerjasama antar negara dalam Protokol Kyoto, yang berusaha menekan kenaikan suhu menjadi 2 derajat.  Namun demkian berdasarkan model yang dibuat, diperkirakan suhu dapat meningkat 6 sampai dengan 8 derajat apabila kondisi seperti saat ini tetap dibiarkan.

Berdasarkan model yang ada, maka pemanasan 2 derajat pada tahun 2100 akan menyebabkan lapisan es mulai hancur, tambahan 400 juta orang kekurangan air, kota-kota besar di khatulistiwa tidak layak huni, dan di utara gelombang panas akan menewaskan ribuan orang. 
Pemanasan 3 derajat akan mengakibatkan kekeringan permanen di Eropa Selatan dan  kekeringan lebih lama sembilan belas bulan di Amerika Tengah serta lima tahun di Afrika, dan kebakaran hutan enam kali lipat di AS.  Sementara itu pemanasan 4 derajat akan mengakibatkan delapan juta kasus demam berdarah di Amerika Latin dan krisis pangan global serta kerusakan akibat banjir dari sungai meningkat puluhan kali lipat di seluruh dunia. Terdapat peluang 11 persen untuk kenaikan di atas 4 derajat, sedangkan perkiraan terburuk adalah kenaikan 8 derajat, dimana permukaan laut akan naik enam puluh meter dan pantai dihancurkan badai dahsyat, hutan musnah dilalap api, dan sepertiga planet tak bisa dihuni karena terlalu panas (halaman 13).

Bukti-bukti kehancuran yang disajikan penulis memang cukup mengerikan, dibagi dalam beberapa bab, yaitu bencana berupa:
-       Panas Maut
Suhu udara di bumi akan semakin tinggi, terlihat dari data bahwa sejak tahun 2000-an terdapat lima musim panas terpanas di Eropa sejak tahun 1500 dan di Timur Tengah suhu tertinggi pernah mencapai 72 derajat celcius. Hal ini akan lebih buruk lagi jika perubahan iklim terus berlanjut. Pesatnya peningkatan penggunaan AC di seluruh dunia, pengoperasian pembangkit listrik di Cina, dan meluasnya beton serta aspal di masa mendatang yang disebabkan dua pertiga penduduk bumi akan tinggal di kota-kota pada 2050 akan menambah pemanasan global.
-       Kelaparan
Kenaikan suhu 1 persen akan menurunkan hasil panen 10 persen sedangkan pada 2050 akan diperlukan makanan dua kali lipat dari hari ini. Selain itu meningkatnya suhu telah menggeser sabuk gandum alami dunia 250 km ke utara setiap sepuluh tahun dan meningkatkan jumlah serangga, yang dapat mengurangi produktivitas hingga 4 persen, selain mengurangi gizi yang terkandung dalam tanaman. Masalah lain adalah berkurangnya tanah subur karena erosi, kekeringan ekstrim, dan banjir, yang akan semakin sering terjadi.
-       Tenggelam
Berdasarkan penelitian, laju pelelehan es di Antartika berlipat tiga selama sepuluh tahun terakhir atau 33 ribu kilometer persegi sejak 1950. Sementara itu banjir telah mengakibatkan terendamnya dua pertiga Bangladesh pada tahun 2017 dengan 41 juta korban. Es di kutub merupakan penyerap panas; jika es di Artika turut meleleh, selain kehilangan penyerap panas bumi juga akan mendapat tambahan metana, yang dilepas dari lelehnya es. Metana memiliki kekuatan beberapa lusin kali lipat dari karbon. Kehilangan total es akan sama dengan pemanasan yang dihasilkan emisi karbon selama 25 tahun terakhir. Sementara itu, pada 2100 bumi akan kehilangan sejuta km daratan, setara tempat hidup 375 juta orang hari ini, sedangkan dua pertiga kota-kota besar di dunia terletak di pantai.   
-       Kebakaran
Pemanasan global mengakibatkan kebakaran hutan semakin sering terjadi dan tidak terkendali, sehingga bahkan mengancam kota-kota. Kebakaran besar yang belum pernah terjadi di masa lalu antara lain terjadi di California pada 2017, menghanguskan 500 ribu hektar, di Greenland pada 2017 dengan luas sepuluh kali lipat dari tahun 2014, dan di lingkaran hutan Artika, Swedia. Abu kebakaran di utara dapat menghitamkan es, menyerap karbon dan mempercepat pelelehan. Penggundulan hutan Amazon - yang menyerap 25 persen karbon yang diserap oleh seluruh hutan di bumi – akibat dibukanya hutan untuk pembangunan meningkatkan penggundulan hutan dan menambah pelepasan karbon yang selama ini tersimpan pada pohon-pohon. 
-       Bencana Tak Lagi Alami
Rusaknya alam mengakibatkan percepatan bencana, yaitu terjadinya serangkaian bencana besar – yang dahulu hanya terjadi setiap beberapa ratus tahun sekali – hanya dalam dua puluh tahun terakhir. Sebagai contoh, pada musim panas 2018 terjadi sekaligus bencana gelombang panas global, enam badai, dan kebakaran hutan di Eropa dan Amerika. Dahulu hal-hal tersebut langka, namun kini menjadi suatu keadaan normal baru, karena sering terjadi. Di masa depan, bencana akan semakin sering terjadi.
-       Kekurangan Air
Kebutuhan air penduduk dunia separuhnya bergantung pada pelelehan musiman es dan salju di ketinggian, sehingga jika karena pemanasan global gletser di pegunungan meleleh dan kering, maka akan terjadi kekurangan air sangat besar. Sementara itu banyak danau besar di dunia telah mengering dan air tanah yang pembentukannya memerlukan jutaan tahun telah disedot sehingga sumur-sumur harus menggali lebih dalam, sedangkan di masa depan diperkirakan akan terdapat peningkatan kebutuhan air hingga 70 persen.
-       Laut Sekarat
Berdasarkan penelitian, laut yang belum mengalami kerusakan tinggal 13 persen. Laut menyerap 25 persen dari karbon yang dihasilkan manusia dan 90 persen panas berlebih akibat pemanasan global, separuhnya diserap sejak 1997. Namun hal itu menyebabkan pengasaman laut, yang akan menambah seperempat hingga setengah pemanasan. Akibat lain dari pemanasan laut ialah pemutihan karang, yaitu matinya protozoa zooxanthellae yang menghasilkan makanan bagi terumbu karang, yang mendukung seperempat seluruh kehidupan laut dan setengah miliar orang, serta melindungi dari banjir dan badai. Dampak lainnya adalah meningkatnya air laut tanpa oksigen karena meningkatnya suhu air dan pencemaran akibat pertanian dan industri, mengakibatkan kepunahan masal makhluk laut dan berkurangnya populasi ikan hingga lebih 30 persen. Selain hal tersebut, perubahan suhu mempengaruhi siklus arus laut, yang akan mempengaruhi keseimbangan iklim.
-       Wabah
Pemanasan serta penggundulan hutan mengakibatkan penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah menyebar ke Eropa dan demam kuning yang semula terbatas di lembah Amazon menyebar ke kota-kota besar di Amerika Latin. Melelehnya es di kutub dapat menyebarkan penyakit atau wabah pada puluhan hingga ratusan tahun lalu yang selama ini tertutup oleh es yang membeku.
-       Ambruknya ekonomi
Meningkatnya pemanasan sebesar 1 derajat celcius menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen. Negara-negara yang akan paling terkena dari pemanasan global terutama adalah negera-negara Asia Selatan.
-       Konflik akibat iklim
Berdasarkan penelitian, terdapat kenaikan kemungkinan konflik bersenjata 10-20 persen untuk setiap setengah derajat kenaikan suhu. Kekeringan dan gagal panen meningkatkan radikalisasi, perang, dan migrasi besar-besaran ke negara tetangga, dimana saat ini terdapat tujuh puluh juta pengungsi di seluruh dunia. Dalam tiga puluh tahun ke depan, terdapat tiga puluh dua negara - yang bergantung pada pertanian -  menghadapi risiko konflik akibat perubahan iklim.
-       Sistem 
Di masa depan, kenaikan permukaan laut akan mengakibatkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi, misalnya di AS diperkirakan sebanyak 13 juta orang akan kehilangan tempat tinggal, dan 140 juta orang di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin pada 2050 akan menjadi pengungsi. Bahkan PBB memperkirakan angka hingga satu miliar orang. Berdasarkan penelitian, meningkatnya suhu dan bencana juga berpengaruh pada meningkatnya stress, trauma dan bunuh diri.

Meskipun sebagian besar buku ini berisi data bukti-bukti kerusakan alam berupa berbagai bencana dahsyat akibat pemanasan global, namun penulis masih optimis bahwa hal tersebut dapat diatasi dengan tindakan politik, yaitu pengurangan emisi karbon secara kolektif melalui kebijakan negara, bukan hanya oleh kesadaran individu seperti sekarang. Khususnya pengurangan konsumsi oleh seluruh penduduk negara maju yang pemboros seperti Amerika. Sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan. Anehnya, Wells merasa optimis bahwa kemauan politik negara-negara utama akan berhasil membatasi kenaikan pemanasan global menjadi hanya 2 derajat pada 2100, meskipun pengalaman selama ini menunjukkan tidak ada hasil berarti.

Buku ini cukup baik untuk menggugah kesadaran pembaca akan dahsyatnya akibat dari perubahan iklim baik pada masa kini maupun masa depan, dengan mengajukan banyak fakta berupa angka-angka dan prediksi hasil modeling para ilmuwan yang cukup mengerikan. Pembaca sendiri mungkin telah mengalami bahwa kini musim tidak lagi dapat diprediksi, bahwa banjir semakin sering dan tinggi, kebakaran semakin besar dan sulit dikendalikan, angin puting beliung yang dulu tidak pernah terjadi kini kerap terjadi, dan seterusnya. Padahal, itu baru peningkatan suhu sebesar satu derajat, sedangkan di tahun 2100 diperkirakan mencapai 3,5 hingga 4 derajat jika manusia tidak melakukan perubahan dalam mengkonsumsi bahan bakar fosil. Suramnya masa depan mengakibatkan timbulnya sekelompok orang yang menganut nihilisme lingkungan, yang dibahas juga dalam buku ini, yaitu orang-orang yang mengambil sikap ekstrim dengan mundur dari kehidupan modern atau menolak bereproduksi.
Namun sebagian besar orang di dunia adalah mereka yang tidak peduli dan berpikir bahwa dunia akan baik-baik saja, bahwa Tuhan akan selalu melindungi mereka, atau menghancurkannya sekaligus dalam satu kiamat besar, sehingga mereka tetap bereproduksi dengan kecepatan tinggi dan tidak peduli kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkannya. Itulah sebabnya buku semacam ini sangat penting untuk dibaca seluas mungkin. 

Monday, November 11, 2019

Celurit Hujan Panas



Judul                   :   Celurit Hujan Panas
Pengarang          :   Zainul Muttaqin
Penerbit              :   GPU
Tebal                   :   147 halaman
Tahun                  :   2019


Banyak dari kita telah mengetahui  bahwa di Madura terdapat tradisi carok, tapi bagaimana persisnya tradisi tersebut dijalankan?  Tradisi apa saja yang terdapat di Madura? Semua itu dapat kita ketahui dari kumpulan cerpen ini, yang berisi 20 cerpen ringan seluruhnya tentang Madura dan ditulis oleh pengarang Madura pula.

Membaca kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini, pembaca akan mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari dan adat istiadat rakyat Madura, antara lain bagaimana seharusnya memperlakukan seorang tandak (penari), terbatasnya hidup seorang anak nelayan miskin,  kelicikan lurah yang bersedia dibayar pemilik uang dari kota untuk merayu rakyatnya menjual sawah dengan harga murah, dan kebodohan rakyat desa yang begitu mudah menjual  tanah-tanah mereka karena ingin  mendapat uang dalam jumlah besar dengan cara instan dan menghabiskannya untuk keperluan konsumtif.

Selain itu pembaca dapat mengetahui bahwa di Madura terdapat kepercayaan bahwa adalah tabu untuk menolak pinangan pertama seorang laki-laki, karena mereka yang melakukannya  akan menjadi gadis sangkal, yaitu tidak akan menikah untuk selamanya.  Dalam cerpen Kobhung Kakek Mattasan pembaca juga dapat mengetahui bahwa rumah tradisional Madura memiliki kobhung, yaitu suatu ruangan yang terbuat dari kayu jati dan berdinding bambu serta menjadi tempat peristirahatan, berkumpulnya keluarga dan kerabat,  menerima tamu dan beribadah keluarga.

Cerpen Lelaki Ojung memperkenalkan pembaca pada ritual orang Madura memanggil hujan, yaitu dengan mencambuk dua orang lelaki bertelanjang dada atau pemain ojung hingga berdarah. Apakah ritual tersebut pasti akan berhasil, apa yang dapat menghalangi keberhasilan ritual tersebut?
Sementara itu cerpen Celurit Hujan Panas mengisahkan tentang kepercayaan rakyat Madura bahwa apabila terjadi hujan pada saat cuaca terang benderang atau panas, berarti sedang terdapat seseorang yang tewas menjadi korban carok. Carok sendiri merupakan duel antara dua orang lelaki menggunakan celurit untuk mempertahankan kehormatan diri, antara lain apabila seorang lelaki menganggap lelaki lain mengganggu pasangannya.

Selain cerpen tentang kehidupan sehari-hari berserta adat istiadat rakyat Madura, terdapat pula dua cerpen tentang dongeng rakyat Madura, yaitu kepercayaan mengenai pelangi, yang oleh rakyat Madura dinamakan Andeng, dan asal mula gunung Pekol dan nama desa Jenangger.

Kisah dalam kumpulan cerpen ini pendek-pendek dan ringan, menggambarkan  kehidupan masyarakat desa di Madura yang masih berpikiran sederhana beserta adat istiadatnya, menambah pengetahuan pembaca tentang kehidupan sehari-hari dan adat rakyat  Madura, Ini merupakan hal yang menarik, karena selama ini cerpen maupun novel tentang masyarakat Madura tergolong langka bahkan nyaris tidak ada.  Namun demikian dalam buku ini belum ada cerpen yang mengisahkan orang Madura modern yang hidup di kota dengan segala permasalahannya termasuk penyesuaian diri atau konflik antara adat lama dengan nilai-nilai maupun cara hidup yang dibawa oleh perubahan kehidupan modern maupun arus global, sebagaimana para penulis Bali telah menuangkannya dalam cerpen maupun novel-novel mereka. Mudah-mudahan pada tahap berikutnya Muttaqin akan sampai kesana.
 


Wednesday, November 06, 2019

New York Bakery


New York Bakery


Judul                     :   New York Bakery – Antologi Cerita Pendek Korea
Penerjemah           :   Koh Young Hun dan Maman S. Mahayana
Penerbit                :   GPU
Tebal                     :   372 halaman
Tahun                    :   2019, Agustus



Seperti Jepang, Korea terasa akrab bagi kita. Musik, film, kosmetik, mobil, hingga barang elektronik Korea mudah kita temui dan terlihat mengesankan. Namun tidak seperti Jepang, tidak banyak yang kita ketahui tentang sastra Korea, karena nyaris tidak ada novel Korea yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Oleh karena itu adanya terjemahan kumpulan cerpen Korea merupakan sesuatu yang menarik untuk mengetahui sikap dan permasalahan bangsa Korea yang sebenarnya.

Terdapat 14 cerpen dalam buku ini, sebagian besar bernuansa muram.  Tidak seperti cerpen karya penulis Indonesia yang pada umumnya relatif pendek dan memiliki plot cerita tertentu, cerpen-cerpen Korea cukup panjang, antara 20 sampai dengan 39 halaman, dan lebih banyak menceritakan perasaan tokoh-tokohnya dengan rinci. Hal ini berarti pembaca dapat lebih mengenal jiwa orang-orang Korea melalui tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen.  

“ Di kemudian hari, perasaan menyesal terus menerus menghinggapiku. Kehidupan memang tidak demikian. Hidup bukan tentang duduk di hadapan seorang lelaki yang lebih tua dua puluh tahun dariku di sudut New York Bakery ketika perlahan-lahan runtuh dalam bayangan sendiri. …Pada saat-saat seperti itu, fragmen hitam atau merah akan mati dan jatuh dalam diriku, seperti karat yang mengelupas dari selembar permukaan besi. Cahaya kecil akan berkilau untuk terakhir kalinya lalu lenyap selamanya ke dalam kegelapan di dalam diriku, seperti gundukan pasir yang tersapu oleh gelombang yang datang, hanya dalam periode singkat antara dilahirkan dan tumbuh dewasa.

Cerpen New York Bakery mengisahkan kenangan seorang anak pemilik toko roti terkenal yang kemudian tutup karena tidak bisa lagi bersaing dengan bakery-bakery modern, bersamaan dengan tutupnya toko-toko tradisional lain di sekitarnya. Kisah ini terasa universal, karena mengingatkan saya pada tulisan seorang teman yang bertanya, kemana toko-toko tradisional dan usaha kecil di dekat rumahnya di Bandung yang kini semuanya sudah tidak ada lagi? Usaha-usaha kecil tersebut terlindas zaman dan tidak bisa bersaing sehingga tutup. 

Cerpen lainnya berkisah tentang seorang pekerja perempuan yang hidup sendiri dan mengira orang-orang, antara lain penjaga toko langganannya cukup mempunyai perhatian pada hidupnya. Kenyataan bahwa ia dianggap sama saja dengan semua pembeli lainnya dan tidak diingat sama sekali memberikan kesan kehidupan yang penuh kesepian dan ketakpedulian di kota besar. 

Selanjutnya dalam cerpen Kisah Mi, secara tidak sadar tokoh aku membuat mi karena terkenang masa kecilnya bersama ibu tiri yang biasa membuatkan mi untuknya, namun saat itu sedang menjelang kematian.  Kisah-kisah  lainnya adalah tentang dilemma antara mempertahankan rumah adat Korea yang sulit perawatannya dan tinggal disana atau menempati apartemen yang modern dan efisien, kisah orang-orang terbuang yang tinggal di pegunungan terpencil tanpa fasilitas apapun, dan tentang seseorang yang bertemu dengan teman masa kecilnya, seorang fotografer terkenal yang tampak kesepian, membuatnya terkenang akan masa kecil mereka, dimana ia memberikan kamera yang dicuri dari ayahnya untuk menghibur temannya tersebut. Satu cerpen yang berbeda yaitu Metamorfosismu berisi kisah yang menggambarkan obsesi masyarakat Korea akan kesempurnaan fisik sesuai keinginan masing-masing individu, yang dilakukan melalui berbagai operasi.

Masih ada beberapa cerpen lainnya, namun semua bernuansa muram dan ditulis dengan rinci menggambarkan perasaan tokoh-tokohnya. Membaca cerpen Korea memerlukan kesabaran, namun pembaca akan mendapatkan rasa haru, keindahan yang diperoleh dari tulisan tentang kenangan-kenangan masa lalu, perjalanan hidup yang diwarnai kehilangan, kesedihan, kesepian…

Seperti sastra Jepang, maka sastra Korea juga cenderung muram, memberikan kesan yang berbeda dari kesan permukaan yang kita peroleh melalui produk-produknya yang lain yang lebih populer.  


Sunday, November 03, 2019

Upheaval - Bagaimana Negara Mengatasi Krisis





Judul                     :   Upheaval – Bagaimana Negara Mengatasi Krisis dan Perubahan
Pengarang            :   Jared Diamond
Penerjemah          :   M. Iqbal Sukma
Penerbit                :   CV Global Indo Kreatif, Manado
Tebal                     :   410 halaman
Tahun                    :   2019


Apa yang dapat kita pelajari dari sejarah, berdasarkan pengalaman negara-negara yang berhasil mengatasi krisis yang dialaminya dan kemudian menjadi lebih baik atau lebih kuat? Dapatkah kita belajar dari cara mereka menangani krisis tersebut?
Menurut Jared Diamond, kita bahkan dapat menerapkan cara penanganan krisis individual untuk meneliti krisis yang terjadi dalam suatu negara. Demikianlah, maka tahapan dalam penyelesaian krisis individual diterapkan untuk melihat penyelesaian krisis pada enam negara dalam buku ini, yaitu FInlandia, Jepang, Chili, Indonesia, Jerman, dan Australia. Pemilihan terhadap enam negara ini berdasarkan pada pengalaman pribadi Diamond yang pernah bekerja atau tinggal di negara-negara tersebut.

Apakah sebenarnya yang dimaksud krisis disini? Pada tingkat individu, seseorang mengalami krisis apabila terjadi hal-hal yang membuatnya harus meninjau kembali atau mengubah nilai-nilai yang dianutnya, tujuan, atau cara hidup. Faktor pemicu krisis misalnya kematian anggota keluarga, penyakit akut, kehilangan pekerjaan, kegagalan dalam studi, terjebak dalam perang, dan lain-lain. Hasil dari upaya mengatasi krisis dapat menjadikan seseorang lebih baik dan lebih kuat, atau sebaliknya mengarah pada keputusasaan seperti bunuh diri. Meminjam dari terapis klinis, penulis menjelaskan bahwa terdapat selusin faktor untuk berhasilnya penyelesaian krisis, antara lain pengakuan bahwa seseorang dalam krisis, penerimaan tanggung jawab pribadi untuk melakukan sesuatu, menggunakan individu lain sebagai model dalam menyelesaikan masalah, adanya pagar, yaitu batas-batas yang dapat dan tidak dapat dinegosiasikan dalam penyelesaian masalah, sabar, nilai-nilai inti, dan mendapatkan bantuan dari individu lain. Diletakkan dalam perspektif negara, hal itu menjadi: konsensus bahwa negara sedang dalam krisis, penerimaan tanggung jawab nasional untuk melakukan sesuatu, menggunakan negara lain sebagai model, berurusan dengan kegagalan nasional, nilai-nilai inti nasional, dan mendapatkan bantuan dari negara lain. Selain itu, krisis dapat terjadi secara tiba-tiba atau secara bertahap. Krisis yang tiba-tiba misalnya negara mengalami serangan militer, kudeta, krisis bertahap yaitu apabila negara mengabaikan bahwa terdapat masalah, sampai suatu ketika terdapat kejadian yang membuat negara tersebut harus segera melakukan tindakan tertentu atau perubahan strategi.

Uraian mengenai penyelesaian krisis dibuat dalam bentuk perbandingan, yaitu Finlandia dibandingkan dengan Jepang, Chili dengan Indonesia, dan Jerman dengan Australia. Perbandingan didasarkan pada kesamaan krisis yang dialami.

Finlandia dan Jepang sama-sama mengalami krisis yang disebabkan oleh guncangan eksternal, yaitu Finlandia mengalami serangan Soviet yang agresif secara tiba-tiba, dan Jepang mengalami kedatangan kapal perang Amerika yang berteknologi jauh lebih tinggi yang memaksa Jepang membuka isolasinya. Finlandia berperang mati-matian melawan Soviet yang besar, namun  jumlah penduduk Finlandia yang sangat kecil (6 juta) dan tidak adanya bantuan dari negara lain membuatnya berhati-hati, dalam beberapa hal mengalah, dan selalu membuka komunikasi yang transparan dalam menghadapi Soviet yang berpenduduk jauh lebih besar dan berbatasan langsung dengan negara tersebut. Sebaliknya, krisis tersebut membuat Jepang segera melakukan restorasi Meiji untuk mengejar ketertinggalannya dalam teknologi dari Barat, namun dengan tetap mempertahankan tradisinya.

Chili dan Indonesia keduanya mengalami pemerintahan diktator militer yang kejam setelah sebelumnya menumbangkan presiden lama yang cenderung kiri. Presiden Allende yang menerapkan kebijakan bersifat sosialis dikudeta oleh Pinochet pada tahun 1973. Bahkan pendukung Allende mengantisipasi ancaman pembantaian oleh sayap kanan dengan poster bertulisan “Yakarta viene” atau Jakarta akan datang, merujuk pada persitiwa pembantaian tahun 1965 di Indonesia. Pinochet berkuasa hingga tahun 1990 dan 100.000 orang Chili mengungsi ke luar negeri. Namun perbedaan dengan Indonesia ialah, setelah masa pemerintahan Pinochet berakhir, para jendral yang melakukan penyiksaan dan pembunuhan diadili dan dihukum, dan pemerintah baru mendirikan museum yang menunjukkan penyiksaan dan pembunuhan selama masa pemerintahan militer, sedangkan di Indonesia hal itu tidak pernah terjadi bahkan hingga saat ini. Persamaannya, keduanya merupakan krisis internal yang berasal dari polarisasi politik, adanya revolusi kekerasan, dan adanya peran satu pemimpin yang luar biasa, yaitu Pinochet dan Soeharto. Chili mengatasi krisis dengan  kepercayaan diri  rakyatnya bahwa mereka mampu mengatur diri sendiri serta berbeda dengan negara Amerika Latin lainnya dan adanya bantuan dari luar negeri  untuk pemulihan ekonomi setelah kudeta. Indonesia juga mendapat bantuan dari negara lain, dan dapat bertahan dari krisis karena memiliki kebanggaan bersama yaitu perjuangan bersama selama revolusi kemerdekaan 1945-1949, kebanggaan akan wilayah yang luas, dan dimilikinya bahasa Indonesia sebagai persatuan serta Pancasila. Penulis juga menyebutkan bahwa di luar perubahan-perubahan yang dilakukan untuk penyelesaian masalah, seperti perubahan kebijakan ekonomi, kepemimpinan oleh diktator militer, terdapat hal-hal di luar pagar yang tidak dapat diubah atau dinegosiasikan dalam kasus Indonesia, yaitu integritas wilayah, toleransi beragama yang besar, dan pemerintahan non komunis.  Namun berbeda dengan Chili, Indonesia kurang memiliki kepercayaan diri yaitu perasaan identitas nasional sebagai bangsa Indonesia, karena masih tergolong baru sebagai bangsa merdeka.

Berbeda dengan Chili dan Indonesia, krisis yang dialami Jerman dan Australia terjadi secara perlahan, terkait dengan keengganan untuk mengakui permasalahan yang dihadapi dan mengatasinya dengan segera. Jerman tidak segera mengakui bahwa sebagai bangsa bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Nazi, sedangkan Australia untuk waktu lama selalu menganggap dirinya bagian dari Inggris dan bangsa kulit putih. Perang Dunia II dan perubahan pemerintahan yang lebih demokratis kemudian mengubah kebijakan kedua negara tersebut. Jerman mengakui kesalahan Nazi dan meminta maaf kepada negara yang menjadi korban kekejaman Nazi, Australia  menerima kenyataan sebagai bagian dari Asia dan mengubah kebijakannya dengan bersikap lebih terbuka terhadap Asia. Hal yang menolong Jerman dalam mengatasi krisis adalah adanya identitas nasional yang kuat, yang disasarkan pada kebanggan akan musik, seni, sastra, filsafat dan sains Jerman, bahasa, serta kesabaran dari kekalahan masa lalu, dan kepercayaan yang berasal dari keberhasilan masa lalu.

Berdasarkan analisis terhadap keenam negara di atas, penulis kemudian menguraikan krisis yang sedang dihadapi Jepang dan Amerika Serikat saat ini serta beberapa cara untuk mengatasi krisis tersebut. Pertanyaannya, mengapa hanya Jepang dan Amerika Serikat yang dibahas? Mungkin karena dua negara tersebut yang paling diketahui masalahnya oleh Jared Diamond pada saat ini. Masalah Jepang yang dapat menjadi krisis ialah tingginya hutang, peran perempuan yang belum setara, penuaan populasi dan penurunan jumlah penduduk sementara tidak ada kebijakan imigrasi, serta keengganan untuk mengakui kesalahan atau kejahatan yang diperbuat selama Perang Dunia II kepada negara-negara lain.  Sementara itu masalah yang sedang dihadapi Amerika dan akan menjadi krisis yang muncul secara perlahan antara lain  polarisasi politik, intoleransi, menurunnya kesopanan, dan ketimpangan yang semakin besar.

Selain hal-hal di atas, Diamond juga membahas krisis yang sedang dihadapi dunia terkait pemanasan global dan cara yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasinya, yaitu mengingat yang menjadi kontributor terbesar CO2 dan output ekonomi dunia adalah AS dan Cina (41%) dan kedua negara tersebut serta India, Jepang dan Uni Eropa menyumbang 60%, maka upaya penyelesaian dapat difokuskan terutama pada negara-negara tersebut.

Dibandingkan dengan Guns, Germs dan Steel, uraian dalam Upheaval tergolong sederhana, kurang terinci, dan tidak lengkap. Mungkin karena penulis tidak mengikuti lagi secara cukup rinci perkembangan terakhir keenam negara yang menjadi contoh dalam bukunya kecuali Jepang dan negaranya sendiri yaitu Amerika Serikat. Sebagai contoh, Indonesia saat ini memiliki banyak masalah yang sewaktu-waktu dapat memicu krisis, misalnya meluasnya radikalisme, terorisme, polarisasi, intoleransi yang kesemuanya telah mencapai tahap mengkhawatirkan dan hal-hal lainnya, namun hal tersebut tidak dibahas di dalam buku. Selain itu, metodenya yang menggunakan kerangka  penanganan krisis individu untuk  krisis suatu negara juga masih bisa dipertanyakan validitasnya. Mungkin memang hanya sebagai langkah awal saja untuk penelitian yang lebih mendalam pada lebih banyak negara dengan menggunakan metode yang lebih baik.

Secara keseluruhan, buku ini masih cukup menarik. Kita dapat belajar sejarah singkat enam negara yang diuraikan penulis dan membandingkannya satu sama lain, termasuk dengan negara kita, dan mungkin mencoba menggunakan pendekatan yang digunakan Diamond untuk memperkirakan krisis yang akan menimpa negara kita untuk menguji gagasannya.   Satu hal yang menurut saya juga penting adalah, buku ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat AS dan dunia – yang selama ini tidak atau kurang mengetahui tentang Indonesia – untuk mengenal Indonesia beserta sejarah singkatnya, karena Jared Diamond adalah penulis terkenal yang memiliki banyak pembaca setia.


Tuesday, October 08, 2019

Manusia Digital - Revolusi 4.0

Manusia Digital


Judul                     :   Manusia Digital – Revolusi 4.0 Melibatkan Semua Orang
Pengarang            :   Chris Skinner
Penerjemah          :   Kezia Alaia  
Penerbit                :   Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal                     :   416 halaman
Tahun                    :   2019


Digitalisasi telah merambah semua bidang, dari perbankan hingga kehidupan sehari-hari. Buku ini memberi gambaran singkat tentang perkembangan tersebut dan prediksi untuk dua hingga tiga dekade  mendatang, yang terbagi atas 7 bab sebagai berikut:

Bagian pertama membahas tentang tahap-tahap evolusi manusia hingga mencapai tahap Manusia Digital. Penulis membaginya dalam 5 tahap. Tahap pertama yaitu penciptaan keyakinan bersama, tahap kedua penciptaan uang, tahap ketiga revolusi industri, tahap ke empat era jaringan, dan terakhir adalah masa depan, dimana manusia akan mengkolonisasi angkasa luar dan hidup lebih dari serratus tahun.

Bagian kedua buku membahas mengenai evolusi dalam digitalisasi. Era pertama yaitu penciptaan komputer dan pengembangan web, berupa proyek ARPANET yang merupakan cikal bakal internet dan penciptaan dasar-dasarnya yaitu HTML, URI, HTTP oleh Barnes Lee pada tahun 1990. Selanjutnya era kedua ditandai dengan dimulainya jaringan, dengan munculnya situs web pertama pada tahun 1991, yang kemudian memunculkan perdagangan melalui internet, ditandai oleh munculnya Amazon (1995), PayPal dan Alibaba (1999). Era ketiga ditandai dengan munculnya jaringan sosial yaitu blog (2003), Facebook (2004) dan Youtube (2005). Masa ini bersamaan dengan munculnya telepon pintar (2007). Era ke empat atau Web 3.0 adalah internet pasar. Pada masa ini muncul bank  terbuka, yaitu bank-bank yang menuju struktur layanan mikro, pasar terbuka, dan berfokus pada pengembangan digital. Akhirnya era ke lima atau Web 4.0 yang akan datang pada tahun 2020-an, dimana kecerdasan buatan akan mulai mencapai tingkat kesadaran.

Bagian ketiga membahas mengenai perkembangan dan kebangkitan platform dan marketplace. Penulis menjelaskan bagaimana hanya dalam waktu dua puluh tahun, kapitalisasi perusahaan-perusahaan digital (Apple, Microsoft, Amazon, Fb, Airbnb, PayPal, Ant Financial) telah melampaui perusahaan-perusahaan tradisional yang berusia ratusan tahun (Exxon, Citi, Braclays, Deutsch Bank). Selanjutnya berdasarkan data tersebut penulis menyarankan agar bank-bank tradisional mengubah system informasinya yang tertutup dengan sistem terbuka yang dapat dirancang ulang arsitekturnya setiap beberapa tahun sekali dan terbuka terhadap kecerdasan buatan sehingga dapat memberi informasi lebih banyak bagi nasabahnya dan diri sendiri, dengan demikian memberikan pelayanan lebih baik dan memberikan pendapatan lebih besar. Hal ini juga agar bank dapat bersaing dengan platform keuangan (fintek) yang akan semakin berkembang di masa depan.

Bagian ke empat membahas mengenai kebangkitan robot, dimana setiap peralatan yang kita miliki akan dapat saling berhubungan, sehingga hanya sedikit sekali yang perlu kita lakukan. Hal ini terkait dengan semakin majunya kecerdasan buatan, yang akan mencapai tahap ketiga yaitu kecerdasan buatan super, dimana mesin lebih pintar dari satu kesatuan umat manusia. Pekerjaan akan banyak diotomasi.

Bagian kelima khusus membahas tentang teknologi finansial, antara lain  Regtech untuk teknologi regulasi, insurtech untuk asuransi, dan tekfin untuk pembayaran, pinjaman, identitas digital, keamanan siber, inklusi keuangan, analitik, roboadvice, buku besar tersebar blockchain, dan lain-lain. Munculnya tekfin dapat menjadi ancaman bagi bank tradisional, karena sebagian dari mereka telah mampu mendirikan bank pula, meskipun masih terbatas memberikan kredit kecil dan menengah. Namun mereka berusaha menyatukan usaha perbankan mereka dengan tekfin yang mereka miliki.

Bagian ke enam berisi uraian mengenai perkembangan tekfin terutama di negara-negara berkembang dalam meningkatkan inklusi keuangan. Di Afrika Tekfin berhasil membuat identitas digital dan melayani pembayaran non tunai serta transfer dengan biaya murah, melalui penggunaan telepon pintar. Demikian pula di India. Sedangkan di Cina tekfin mengurangi penggunaan tunai hingga tingkat minimal.

Bagian ke tujuh adalah mengenai perlunya bank-bank mengubah teknologinya apabila tidak ingin ketinggalan zaman, dan bagian ke delapan tentang sekilas mengenai masa depan.

Selain itu, terdapat bab khusus mengenai Ant Financial di bagian akhir buku, yang menurut penulis adalah perusahaan keuangan pertama untuk era manusia digital. Pada bagian ini diuraikan sejarah berdirinya Ali Baba, yang merupakan e-commerce. Tidak adanya kepercayaan terhadap penjual e-commerce dan tidak lazimnya penggunaan kartu kredit kemudian membuat didirikannya Alipay. Selanjutnya untuk memanfaatkan dana yang terdapat dalam Alipay, didirikan Yu’e Bao, platform untuk melakukan pembelian reksadana. Kemudian didirikan pula Taobao dan Tmall sebagai cabang Taobao untuk memasarkan produk para pengusaha kecil Cina. Akhirnya untuk melengkapi layanan pinjaman, didirikan MYbank pada tahun 2015. Alipay, Yu’e Bao dan MYbank menjadi Ant Financial. Tidak hanya di Cina, dalam jangka panjang Ant Financial memiliki tujuan untuk mendigitalkan semua layanan di seluruh dunia, dan sasaran pertama adalah Asia Tenggara.

Buku ini cukup memadai untuk mendapatkan pengetahuan dasar mengenai perkembangan ekosistem digital dan memahami perusahaan keuangan terbesar di Asia yaitu Ant Financial, yang mulai masuk ke Indonesia. Kesimpulannya, ekonomi digital lebih cepat berkembang di negara-negara dimana inklusi keuangan rendah, yaitu negara-negara miskin dan berkembang. Hal ini akan menguntungkan masyarakat apabila digunakan dengan baik, misalnya mengurangi biaya pencetakan uang, memudahkan transaksi perdagangan, dan meningkatkan dana untuk keperluan produktif. Di sisi lain, kecerdasan buatan dan data analitik akan menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, sehingga muncul tantangan bagaimana mempekerjakan tenaga yang digantikan oleh otomasi.

Sunday, October 06, 2019

Lentera Batukaru





Judul                   :   Lentera Batukaru
Pengarang          :   Putu Setia
Penerbit              :   KPG
Tebal                   :   255 halaman
Tahun                  :   2019




Banyak sudah yang menulis tentang peristiwa 30 September. Namun sebagian besar adalah tentang kejadian di Jawa, di penjara maupun di pengasingan. Kali ini Putu Setia, wartawan yang lama bekerja di Tempo, menulis tentang peristiwa tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya di Bali.

Cukup menarik membaca kisahnya. Buku ini lebih merupakan autobiografi seorang anak Bali yang meskipun hidup berkekurangan namun senantiasa gigih bekerja, bersyukur, dan memiliki prinsip yang kuat. Mungkin itu pula sebabnya ia menulis buku ini, agar dapat menjadi contoh bagi para pembaca yang lebih muda dan hidup prihatin, bahwa apabila kita selalu berusaha dan bersyukur akan selalu ada jalan untuk hidup lebih baik.

Sewaktu remaja Putu telah menjadi kader partai PNI, dan ketika terjadi peristiwa 30 September dengan posisinya sebagai Ketua Pemuda GSNI ia melindungi teman-teman sekolahnya yang rentan dituduh simpatisan PKI dan akan diculik atau dibunuh tentara. Selain itu ia menjadi penulis drama Gong untuk partainya dan sukses. Namun setelah peristiwa G 30 S,  mereka dipaksa membubarkan PNI dan menjadi anggota Golkar serta dilarang berkesenian lagi. Sebagai aktivis partai, ia tidak bersedia, sehingga pergi ke Denpasar sebelum menyelesaikan pendidikan STM dan kemudian bekerja menjadi loper koran, instalatur listrik, dan akhirnya wartawan surat kabar. Bakat menulisnya kemudian akhirnya menuntunnya menjadi wartawan majalah. Selama masa remaja tersebut, ia menyaksikan penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh tentara bahkan terhadap mereka yang tidak tahu apa-apa tentang komunis, termasuk penculikan terhadap salah satu keluarga besarnya, yang hilang begitu saja, serta akibatnya bagi keluarga mereka.

Buku autobiografi ini memberi gambaran jelas bagaimana proses penghancuran komunis dan PNI oleh tentara sebagaimana diulas oleh sejarawan Rickfles dalam Mengislamkan Jawa, misalnya. PNI yang bersifat sekuler dan kegiatan kesenian dihancurkan oleh tentara rezim Orba secara brutal. Proses ini kemudian diikuti dengan pemilu yang penuh kecurangan serta pembangunan masjid-mesjid dan pemaksaan untuk menganut salah satu agama serta menjalankan ritualnya. Selanjutnya kita ketahui sendiri – fanatisme dan radikalisme agama menjadi masalah baru.

Sampai saat ini tidak banyak yang diketahui kaum muda tentang kekejaman ini, sehingga penerbitan buku-buku yang menjelaskan peristiwa tersebut masih terus diperlukan. Oleh karena itu otobiografi Putu Setia ini merupakan tambahan yang baik untuk  memperkaya informasi tentang sejarah gelap bangsa kita.


Thursday, May 30, 2019

Gadis Pesisir



Judul                     :   Gadis Pesisir
Pengarang             :   Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit                :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal                    :   321 halaman
Tahun                   :   2019, Januari


Gadis Pesisir adalah kisah tentang kehidupan seorang gadis remaja anak seorang nelayan miskin yang menjadi pendatang di wilayah Jayapura, Irian Jaya (Papua) untuk mencari kehidupan yang lebih baik pada awal tahun 1970-an. Kampung nelayan ini berdekatan dengan tempat pendidikan dan pelatihan calon polisi, yang instrukturnya tertarik untuk menikahi salah satu gadis nelayan, serta jatuh cinta kepada Halijah, gadis paling tidak menarik dan tidak diperhitungkan di kampung tersebut.  Berhasilkah keluarganya mendapatkan kehidupan lebih baik? Apakah ia sama seperti gadis-gadis lain, yang mencoba melepaskan diri dari kemiskinan dengan menikahi laki-laki yang bisa memberi makan cukup dan mengangkat derajat keluarga?   

Kisah dari novel ini sebenarnya sederhana, namun pengarang berhasil membuatnya nyata. Kehidupan masyarakat nelayan, yang merupakan pendatang dari berbagai daerah di Maluku dan Sulawesi digambarkan oleh pengarang dengan sangat baik melalui dialog yang meyakinkan dan konflik yang muncul dari perbedaan kekayaan, kecantikan, kenalan yang dimiliki, persaingan antar keluarga, dan upaya masing-masing untuk diperhitungkan dalam masyarakat atau keluar dari jeratan kemiskinan. Digambarkan pula bagaimana sistem patriarki, dengan dukungan konservatisme agama, membuat perempuan miskin semakin menderita karena laki-laki yang menjadi suaminya tidak memiliki belas kasihan.

Sebagai novel yang berlatar belakang masa awal Orde Baru, terdapat sedikit kisah mengenai peran tentara dan kondisi Papua di masa tersebut. Tentara diwakili oleh tokoh Bapak dan Ibu Jawa, yang masih memegang teguh adat Jawa, termasuk cara berpakaian adat Jawa, yang kini sudah nyaris punah dikalahkan budaya Timur Tengah.
     
Hal yang agak mengecewakan mungkin adalah cara pengarang mengakhiri novelnya, yang terasa tiba-tiba, serta tampak tidak konsisten dengan pendirian Halijah yang menyatakan akan mengambil kesempatan apapun untuk membalas penghinaan kepada keluarganya. Hal ini membuat karakter tokoh utama yang telah dibangun cukup baik di bagian sebelumnya menjadi tidak jelas. Pembaca mengira ia memikirkan harga diri keluarga, namun ternyata ia mencari kebebasan pribadi dan bagi keluarga cukup ketersediaan makanan saja. Jika penulisnya ingin tokohnya menjadi contoh tentang perempuan yang  dapat membebaskan diri dari tekanan lingkungan yang mengitarinya, maka hal itu kurang tergambar dengan baik dalam karakter tokohnya.  

Wednesday, May 29, 2019

A Crack in Creation



Judul                     :   A Crack in Creation: Gene Editing and  
                                 the  Unthinkable  Power  to  Control 
                                 Evolution
Pengarang          :    Jennifer A. Doudna & Samuel Sternberg
Penerbit              :    Mariner Books, NY
Tebal                     :  280 halaman
Tahun                   :   2018

Buku ini memberi informasi tentang perkembangan terakhir dalam biologi, yang tidak saja telah dapat melakukan sekuensing  DNA, namun juga telah mampu mengubah ataupun memperbaiki susunan DNA yang terdapat pada makhluk hidup dengan cara yang relatif mudah, sehingga dengan teknik baru ini tidak saja penyakit yang berkaitan dengan kelainan gen dapat disembuhkan, namun juga dapat digunakan untuk menciptakan bentuk fisik serta karakteristik tertentu sesuai yang diinginkan, bahkan perubahan tersebut dapat dilakukan sejak masih berupa embrio, sehingga dapat diturunkan kepada generasi berikutnya. Perubahan melalui penyuntingan atau editing gen ini dapat dilakukan pada semua makhluk hidup, sehingga memiliki potensi dapat memusnahkan sifat  yang berbahaya dari suatu spesies, misalnya virus malaria atau virus Zikka pada nyamuk, jika perlu bahkan memusnahkan spesies itu sendiri. Meskipun demikian sampai saat ini penggunaan teknik tersebut pada manusia masih dalam penelitian untuk menguji keamanannya.

Di masa depan, jika teknik ini telah teruji keamanannya untuk dilakukan pada manusia, maka manusia dapat mengubah susunan gen-nya sendiri, sehingga  ia dapat  mengarahkan sendiri jalannya evolusi, yang selama jutaan tahun sebelumnya dilakukan melalui proses evolusi yang berjalan lambat. Hal ini menimbulkan masalah etis: kapan editing gen diperlukan? Seberapa jauh hal tersebut layak dilakukan? Apabila teknik ini telah menjadi umum, bolehkah menghapus gen tertentu yang berpotensi menyebabkan penyakit – pada saat masih menjadi embrio, agar anak yang lahir kelak selalu sehat? Apakah kelak hal ini bahkan menjadi suatu kepatutan, sehingga apabila tidak dilakukan akan menjadi suatu tindakan tidak bermoral? Masalah etis inilah yang mendorong Jennifer Doudna, sebagai penemu utamanya, untuk menulis buku ini, agar menjadi perhatian semua pihak, mumpung teknik ini masih dalam tahap awal perkembangan.    

Sebelum menyatakan concern-nya akan masalah etis, pada bab pertama sampai dengan ke empat  Doudna menguraikan tentang pengetahuan dasar terkait gen, cara bekerjanya, teknik mengubah gen yang selama ini digunakan, serta kisah penemuan CRISPR sebagai teknik editing gen yang efisien, yaitu dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan akurat.

Sebagaimana diketahui, genome terdiri dari molekul yang disebut deoxyribonucleic acid atau DNA, yang tersusun dari empat blok pembangun yaitu A, G, T dan C yaitu adenine, guanine, cytosine, dan thymine, yang berpasangan membentuk double helix. A selalu berpasangan dengan T, dan G dengan C, yang disebut pasangan dasar (base pair). Setiap sekuens huruf ini merupakan instruksi untuk menghasilkan protein tertentu dalam sel, yang prosesnya dibantu oleh RNA sebagai penghantar, membawa informasi dari inti sel (nucleus), dimana DNA disimpan,  ke bagian luar sel, dimana protein diproduksi. Setiap tiga huruf RNA sama dengan satu asam amino, yang menjadi blok pembangun protein. Gen dan protein yang dihasilkan berbeda satu sama lain berdasarkan sekuens nukleutida dan asam amino-nya. Virus hanya memiliki beberapa ribu huruf DNA dan beberapa genome, bakteri memiliki ribuan genom  dan jutaan huruf, nyamuk  terdiri dari 14 ribu gen dan ratusan juta base pair, sedang genom manusia memiliki 3,2 miliar huruf DNA serta 21 ribu gen kode protein. Genom manusia tersusun dari 23 kromosom, yang terdiri dari 50 sd 250 juta huruf, masing-masing dari ayah dan ibu, total 46 kromosom. Setiap sel memiliki satu set kromosom. Mutasi pada satu dari 23 pasang kromosom dapat menyebabkan penyakit genetik. Mutasi paling sederhana adalah substitusi, yaitu penggantian satu nukelotida oleh lainnya, misalnya dari A menjadi T, sebagaimana penyakit sel sabit, yang mengubah bentuk sel darah, sehingga korban mengalami anemia, meningkatnya risiko stroke dan infeksi.

Sejak selesainya Human Genome Project, dketahui terdapat lebih dari empat ribu mutasi DNA yang dapat menyebabkan penyakit genetik. Namun demikian belum terdapat teknik yang memadai untuk mengubah mutasi tersebut.
Beberapa teknik yang dilakukan yaitu menggunakan rekombinan DNA, yaitu kode genetik yang diciptakan di lab. Selanjutnya pada tahun 1970 dan 80-an ilmuwan dapat memotong dan memindahkan segmen DNA ke genome dan mengisolasi sekuens gen tertentu, yang memungkinkan mereka menyisipkan gen terapi ke virus dan memusnahkan gen berbahaya sehingga virus tidak lagi merusak sel yang terinfeksi. Namun teknik terapi gen ini tidak efektif untuk kondisi genetik yang tidak disebabkan oleh adanya gen yang hilang atau defisien, karena dalam kondisi demikian gen harus diperbaiki.
Teknik berikutnya yaitu  Zinc Finger Proteins (ZFN). Teknik ini menggunakan protein alami ZPN untuk memotong DNA dan telah diterapkan antara lain untuk mengedit gen pada genome manusia dan memperbaiki sifat tanaman maupun hewan. Namun demikian teknik ini sulit dan mahal, sehingga hanya segelintir lab yang dapat melakukannya Selanjutnya pada 2009 ditemukan teknik transcription. activator-like effectors atau TALEs. Protein yang terdapat pada Xanthomonas, yaitu bakteri penginfeksi tanaman yang bersifat pathogen dapat memotong DNA lebih akurat dari ZFN.

Selanjutnya penulis menguraikan tentang riset yang membawanya pada penemuan CRISPR.  Semula ia meneliti RNA, untuk mempelajari struktur ribozymes guna mengetahui cara bekerjanya, yaitu bagaimana RNA dapat berfungsi sebagai gudang instruksi genetik dan molekul kimiawi yang dapat mengubah bentuk dan perilaku biologisnya. Penelitian ini diilhami oleh penemuan pemenang Nobel Tom Cech, yang menemukan bahwa ribozymes yang membelah sendiri menunjukkan bahwa kehidupan di bumi muncul dari molekul RNA yang dapat mengkode informasi genetik dan mereplikasi informasi tersebut pada sel-sel primitif. 
Dalam perjalanan, Jill, seorang peneliti CRISPR mengajak Duudna bekerja sama. CRISPR adalah singkatan dari clustered regularly interspaced short palindromic repeats. CRISPR terdapat dalam sel bakteri. Keunggulan dari CRISPR adalah efektivitasnya dalam memotong DNA dengan akurat, sehingga gen mudah diubah dan diperbaiki, misalnya diganti dengan DNA yang seharusnya.
RNA adalah partisipan kunci dalam sistem imun mikro organisme satu sel seperti bakteria, sedangkan CRISPR adalah bagian dari sistem imun archaea dan bakteri, adaptasi yang memungkinkan mikroba melawan virus. Sejak tahun 1970-an ilmuwan telah menemukan enzim yang disebut restriction endonucleases, yang dapat direkayasa untuk memotong fragmen DNA sintetis dalam  eksperimen sederhana pada tabung, Dengan mengkombinasikan enzim ini dengan enzim lain yang diisolasi dari sel (bakteri) phage yang terinfeksi, ilmuwan dapat merancang dan mengklon molekul DNA artifisial di lab.  
Bacteriophage (virus bakteri) merupakan entitas yang tersebar dimana-mana di bumi, terdapat di udara, tanah, pada kotoran, air, intestine, air panas, es, dan dimana saja yang mendukung kehidupan. Ada lebih banyak phage (virus) daripada bakteri yang akan mereka infeksi, virus bakteri lebih banyak sepuluh kali lipat dari bakteri. Pada saat Doudna melakukan penelitian terdapat empat sistem pertahanan bakteri (dari virus). Apakah CRISPR merupakan sistem pertahanan yang lain lagi?

Berdasarkan penelitiannya bersama Jill, Doudna menemukan bahwa pada saat phage atau virus menyerang, CRISPR merekam sekuens DNA phage. Selanjutnya dengan molekul RNA dari CRISPR, dimana (rekaman) potongan phage telah disimpan, enzim protein Cas9 memotong sekuens DNA (phage) yang dituju dengan akurat. Cas9 bertindak sebagai pengarah tujuan.
Hasil dari penemuan di atas kemudian disempurnakan kembali sehingga Doudna dapat menggunakan CRISPR untuk memotong, menghilangkan dan memindahkan sekuens DNA makhluk hidup lainnya sesuai yang diinginkan secara akurat dengan prosedur yang jauh lebih sederhana dari teknik-teknik sebelumnya dan lebih murah.

Kini teknik editing DNA dengan CRISPR dilakukan oleh ribuan ilmuwan di seluruh dunia untuk memperbaiki kualitas tanaman dan hewan. Penggunaan pada manusia masih dalam tahap uji coba, meskipun seorang ilmuwan Cina telah melakukan percobaan mengubah gen pada embrio manusia, yaitu memiliki anti HIV, yang menjadi berita besar di kalangan akademik berkaitan dengan masalah etika yang ditimbulkan.

Selama ini kemajuan ilmu pengetahuan selalu lebih cepat dari kesiapan masyarakat atau regulator dalam menetapkan ketentuan, bahkan apabila ketentuan telah dibuat, selalu ada pihak yang diam-diam tetap melakukan penelitian atau percobaan untuk memuaskan keingintahuannya, sehingga kemungkinan besar dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang teknik ini benar-benar dapat diaplikasikan pada manusia untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetik, mencegah penyakit genetik pada bayi yang akan dilahirkan serta keturunannya, bahkan memperbaiki performance fisik,  misalnya meningkatkan kemampuan atlit dengan mengubah gen yang berkaitan, atau bahkan menentukan bentuk fisik yang diinginkan, misalnya warna mata, dan lain-lain.  
                                                                                                                                                 
Buku ini terdiri dari delapan bab, dan empat bab di awal uraiannya cukup teknis sehingga bagi pembaca biasa harus dibaca dengan perlahan-lahan untuk dapat mengerti uraian yang dijelaskan penulis, namun cukup berguna untuk sedikit menambah pengetahuan tentang biologi.

Bagian kedua mengenai masalah etis merupakan ajakan penulis untuk dipikirkan bersama, cukup menarik. Ada beberapa hal dapat disimpulkan dari sini:
·   Penemuan-penemuan penting seringkali bersifat tidak sengaja dan murni berasal hanya dari rasa ingin tahu yang besar dari seorang ilmuwan yang kemudian melakukan riset. Oleh karena itu penting untuk mendukung riset dasar yang tidak didasari oleh tujuan praktis.
·   Apabila editing gen telah dapat digunakan secara aman bagi manusia untuk mencegah atau mengobati penyakit karena mutasi gen atau serangan virus, maka penggunaan CRISPR untuk tujuan tersebut merupakan suatu tanggung jawab moral untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Hal-hal ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah, sehingga membawa tanggung jawab besar: apa yang akan terjadi pada ekosistem jika manusia menggunakan CRISPR untuk mengubah atau memusnahkan nyamuk pembawa virus malaria dan Zikka?
·  Apa yang terjadi pada keturunannya kelak jika manusia dapat menentukan sendiri genomnya? Di sisi lain, bagaimana pengaruh hal ini pada keyakinan teologis yang berpendapat bahwa penyakit, bentuk fisik, dan kecerdasan merupakan takdir Sang Pencipta? Pertanyaan sebaliknya: jika manusia saja dapat melenyapkan penderitaan-penderitaan tidak perlu itu, yang terasa kejam, mengapa Tuhan membiarkannya selama ribuan tahun? Hal ini membawa pertanyaan kepada moralitas dan kekuasaan Tuhan: jika manusia dapat mengubah gen dan melenyapkan penyakit baik penyakit genetik maupun yang dibawa virus (antara lain malaria, yang membunuh satu juta orang per tahun), dapatkah kita bertanya secara teologis: mengapa sang pencipta membiarkan kesengsaraan tersebut selama ribuan tahun jika sebenarnya hal tersebut dapat diatasi? Moralitas apa yang mendasari? Dapatkah kita mengatakan hal tersebut tidak bermoral?  
·  Seberapa jauh manusia dapat bertahan untuk tidak melakukan penyempurnaan terus menerus atas dirinya? Apa akibatnya jika manusia menentukan sendiri arah evolusinya?
·  Apa yang akan terjadi jika terdapat kesenjangan yang semakin lebar antar manusia, karena mereka yang memiliki kekayaan dapat membeli teknologi yang membuat mereka selalu sehat, lebih cerdas, dan menarik secara fisik?  Terdapat kesenjangan tidak hanya secara kekayaan tapi juga gen.

Dalam buku ini Doudna mengajak pembaca untuk turut memikirkan konsekuensi dari meluasnya penerapan editing gen dan potensinya dalam membuat manusia menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, namun ia tidak sampai pada renungan teologis. Sam Harrislah  yang menyinggung kejamnya virus Zikka dalam The Four Horsemen sebagai contoh untuk mempertanyakan moralitas Tuhan.  Sementara itu dalam tulisannya Doudna tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dan kebanggaannya sebagai penemu utama teknik CRISPR untuk editing gen, serta agak mengulang-ulang concernnya tentang konsekuensi dari penerapan CRISPR bagi manusia.
Penjelasan dan perkembangan mengenai CRISPR dapat ditemukan di internet secara singkat - namun saya belum menemukan penerapannya di Indonesia, yang tampaknya masih jauh ketinggalan dalam sains – meski demikian buku ini menceritakan riwayat penemuan teknik tersebut serta renungan atas potensi dan konsekuensi dari penemuan tersebut lebih dalam, menyadarkan pembaca betapa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tanpa diketahui oleh sebagian besar masyarakat.