Wednesday, March 27, 2013

Silk



Judul : Silk
Pengarang: Alessandro Baricco
Penerjemah: Guido Waldman
Penerbit: Vintage
Tahun : 1998
Tebal : 91 hal



Membaca Silk adalah seperti membaca cerita rakyat, karena dikisahkan dengan ringkas dan bahasa yang sederhana. Namun di dalamnya terdapat sejarah, kisah cinta, sensualitas yang halus, dan perasaan manusia yang bisa terjadi pada siapa saja.

Silk mengisahkan kehidupan Herve Joncour, seorang pedagang ulat sutera di sebuah kota kecil di Prancis pada tahun 1861, sampai kematiannya berpuluh tahun kemudian. ”..He was one of those men who like to be observers at their own lives….It will have been noted that such people observe their destiny much as most people tend to observe a rainy day,” demikian pengarang menggambarkan tokohnya di awal buku.

Setiap tahun Joncour membeli telur-telur ulat sutera, menetaskannya pada setiap awal bulan Mei dan menunggunya hingga terbentuk kepompong dan benang sutera dua minggu sesudahnya, kemudian menjualnya.

Ketika terjadi epidemik di Eropa, Joncour bepergian hingga ke Afrika Utara untuk membeli telur ulat sutera. Namun suatu hari, hampir seluruh dunia terkena epidemik kecuali Jepang. Maka sesuai saran Baldabiou, sang ahli ulat sutera, yaitu orang yang pertama mengajarkan usaha tersebut di kotanya, Joncour pergi ke Jepang untuk membeli ulat sutera dari seorang laki-laki berada bernama Hara Kei di Shirakawa. Suatu perjalanan yang sangat jauh di zaman tersebut, oleh karena itu biayanya ditanggung oleh banyak orang di kotanya.

Ketika bersama Hara Kei, Joncour melihat seorang gadis di sampingnya. Kelak, gadis tersebut menyampaikan sebuah kertas kecil bertulisan aksara Jepang kepadanya. Joncour menyimpan kertas tersebut dan membawanya pulang.

Setelah tiba kembali di Prancis, Joncour mencoba mencari orang yang bisa menerjemahkan tulisan tersebut. Ia menemui wanita Jepang bernama Madame Blanche. Tulisan tersebut, dan pertemuan pertamanya di Jepang, membuatnya terobsesi akan si gadis.

Joncour beberapa kali ke Jepang. Pada kepergiannya yang terakhir, perang telah terjadi di Jepang, dan orang-orang tidak menyarankannya pergi. Namun Joncour tetap pergi. Ia teringat akan si gadis. Ia melupakan bahaya perang, kerugian biaya apabila perjalanannya sia-sia… Ada seseorang yang seolah memanggilnya.
Apakah yang terjadi pada perjalanannya yang terakhir? Ia pulang tanpa membawa telur ulat sutera.

Joncour memiliki seorang istri yang baik bernama Helene dan tampaknya bahagia. Namun perjalanannya yang terakhir membuatnya berubah, meskipun ia tetap baik kepada Helene.

Ada kesedihan yang mempengaruhi hatinya. Helene bertanya kepada Baldabiou. Kepada Baldabiou, Joncour berkata,

“I never even heard her voice.
It is a strange sort of pain.
To die of yearning for something you’ll never experience.”

Meskipun demikian, pada akhirnya Joncour tampak dapat melupakan kesedihannya dan menjalani kehidupan selanjutnya seperti biasa. setelah menerima sebuah surat bertulisan Jepang. Namun pembaca baru mengetahui keseluruhan cerita sebenarnya pada akhir buku.

Novel ini seperti sebuah puisi.. Saya pernah berpikir, mungkinkah seorang lelaki terobsesi demikian dalam akan seseorang yang sekilas saja ditemuinya, sehingga ia akan kembali ke tempat yang sama untuk seseorang tersebut, walau demikian jauh? Alessandro menjawabnya dalam novel ini. Dan betapa benarnya kata-kata Joncour kepada Baldabiaou,” It is a strange sort of pain…” Dengan kalimat ini pengarang menggambarkan perasaan dan hati manusia, yang seringkali tidak tahu apa yang diinginkannya atau yang membuatnya merasa kosong, yang selama itu tidak ia sadari, sampai sesuatu terjadi dan membuatnya berada dalam kesedihan yang dalam. Dengan novel ini pengarang melukiskan, betapa kesedihan dapat datang begitu saja hampir tanpa alasan cukup…

Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1996 dan telah diterjemahkan dalam 27 bahasa.

Sunday, March 17, 2013

Titik Nol



Judul : Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: GPU
Tahun : 2013
Tebal : 552 hal



Setelah menjelajah hingga Afghanistan dan Asia Tengah serta menulis dua buku perjalanan, barulah Agustinus justru menulis kisah perjalananya yang pertama. Namun karena perjalanannya yang pertama ditulis bertahun-tahun sesudahnya, dan setelah perjalanan lebih jauh, maka bukunya yang terakhir menjadi bersifat lebih pribadi dan mulai berbicara tentang makna perjalanan itu sendiri. Destinasi tidak lagi merupakan sesuatu yang penting, tulis Lam Li – yang pernah menjadi teman seperjalanannya - , dalam pengantar buku, tetapi seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan..

Berbeda dengan dua buku sebelumnya, dalam buku ini terdapat kisah ibu pengarang selama menderita sakit hingga meninggal, berseling dengan cerita perjalanan ke Mongolia, Nepal, Tibet, India, Pakistan dan Afghanistan. Kisah ibu Agustinus membuat pembaca lebih mengenal latar belakang kehidupan pengarang sekaligus membuat depresi, karena saya membaca tulisan mengenai ibunya dahulu sampai habis – yang penderitaannya diceritakan demikian rinci - baru kemudian membaca kisah perjalanannya. Ibunya, meskipun kurang berpendidikan, gigih bekerja keras menjual telur di tokonya tanpa pernah berlibur agar dapat menyekolahkan Agustinus ke sekolah yang baik di negeri Cina.

Titik Nol sebenarnya adalah perjalanan awal pengarang, yaitu sebelum ia ke Afghanistan dan Asia Tengah, namun ditulis belakangan karena ia ingin mengambil jarak dengan peristiwa saat itu, yang bersifat pribadi. Disini dapat kita temukan mengapa ia melakukan perjalanan,dan tidak mencari kerja untuk hidup mapan atau meneruskan sekolah setelah lulus kuliah di Beijing, ”Apa artinya hidup kita yang semua mengikuti pola yang sama: lahir-lalu-kerja-cari-uang-sampai-mati?...Aku mau menulis tentang kisah hidup manusia yang sering dilupakan, kisah hidup di tempat terpencil, kisah tentang kemanusiaan! Aku mau keliling dunia!” Ia merencanakan untuk ke Afrika Selatan dengan jalan darat dari Beijing, melintasi Asia, Timur Tengah, Afrika Timur.

Sebagaimana biasa, perjalanannya dikisahkan dengan cukup menarik. Pembaca mendapat gambaran tentang Tibet yang telah menjadi sangat komersial seperti kota-kota Cina lainnya, Nepal yang telah menjadi daerah wisata obralan, India yang masih belum dapat menghilangkan kemiskinan, sifat curang, dan perilaku tidak sopan para prianya, Pakistan yang penduduknya dalam membahas masalah apapun selalu dikaitkan dengan agama. Selain bersifat lebih sentimental karena ada riwayat pribadi, ada pula sebagian kisah perjalanan dikisahkan dengan nada humor.

Membaca pengalaman pengarang di Tibet dan Nepal, yang wilayahnya sudah diobral untuk turisme mengingatkan pembaca bahwa sebaiknya Indonesia tidak perlu terlalu giat menjual semua obyek wisatanya, karena turisme massal dapat bersifat sangat destruktif dan hanya dapat ditanggung oleh beberapa wilayah saja.

Sementara itu membaca pengalamannya di India, pembaca yang pernah kesana tentu akan menyetujui bahwa kejujuran sangatlah susah dicari dalam transaksi di tempat-tempat umum dan kemiskinan serta kesederhanaan sangatlah terasa.

Pengalaman pengarang di Pakistan hampir seperti di Afghanistan: tidak ada perempuan di tempat umum, dan jika mereka keluar rumah harus tertutup rapat dari kepala sampai kaki. Memang, dalam bahasa Urdu, kata perempuan berarti aurat, sesuatu yang memalukan. Tidak heran jika seluruh tubuh perempuan, bahkan matanya sekalipun, harus ditutup. Anehnya, para perempuan disana tidak ada yang merasa terhina disamakan dengan sesuatu yang memalukan dan harus ditutup rapat seluruhnya. Mereka justru merasa beruntung tidak perlu bekerja atau ke luar rumah karena kehidupannya dijamin oleh suami atau kerabat laki-laki, meskipun tidak boleh ke luar dari rumah dan jika terpaksa keluar rumah dan berada di tempat umum harus menutup seluruh tubuh dan wajah, karena jika tidak, akan dianggap rendah oleh laki-laki yang bagi mereka merupakan makhluk menakutkan. Kehidupan yang menyedihkan sebenarnya, namun tidak mereka sadari karena mereka tidak pernah melihat kehidupan lain yang dapat dijalani perempuan di belahan dunia lainnya, sehingga mereka malah bersyukur. Sementara itu, akibat pengekangan dan pemisahan gender yang berlebihan, para prianya terobsesi akan seks.

Setelah sampai di Afghanistan, pengarang kembali ke tanah air karena ibunya meninggal. Kembali ke rumah, pulang. Kembali ke titik nol. Pengarang menutup buku ini dengan tulisan untuk ibunya yang telah tiada.

Setelah menyatakan bahwa destinasi tidak lagi sesuatu yang penting, kita tidak tahu apakah pengarang masih akan meneruskan perjalanannya hingga ke Afrika Selatan, atau ke tempat-tempat lain dan menulis kisah perjalanannya. Namun kisah-kisahnya selama ini telah membuat kita lebih memahami kondisi dan pikiran rakyat di berbagai belahan dunia yang kondisinya lebih buruk atau lebih miskin dari Indonesia, wilayah-wilayah yang tidak ingin atau tidak mungkin kita kunjungi karena kondisinya yang sulit atau tidak menyenangkan. Dengan buku-bukunya, Agustinus telah menghubungkan kita dengan rakyat negara-negara tersebut.

Wednesday, January 30, 2013

The World Until Yesterday


Judul : The World Until Yesterday: What Can We Learn from Traditional Societies?
Pengarang: Jared Diamond
Penerbit: Viking
Tahun : 2012, Desember
Tebal : 498 hal



Sepanjang sejarah manusia yang bermula sejak enam juta tahun lalu, kehidupan modern sebagaimana kita alami saat ini adalah sangat baru, karena selama sebagian besar sejarahnya manusia hidup seperti masyarakat tradisional yaitu sebagai pemburu peramu, atau pemburu peramu yang juga berladang, yang sebagian diantaranya masih dapat kita lihat misalnya pada suku-suku asli di Papua, suku Aborigin di Australia, Yamonamo di Amazon, Inuit di Alaska atau Pygmi dan !Kung di Afrika.

Kehidupan sebagai pemburu peramu dilakukan manusia sampai munculnya pertanian pada 11.000 tahun yang lalu, selanjutnya peralatan metal muncul 7.000 tahun yang lalu, dan tulisan serta negara pada 5.400 tahun yang lalu. Sedangkan bentuk masyarakat bermula dari band (beberapa puluh), suku (beberapa ratus), chiefdom (beberapa ribu), dan negara.

Mengingat kehidupan masyarakat tradisional tersebut bisa dikatakan baru saja terjadi kemarin, maka Jared Diamond mencoba melihat, adakah hal-hal baik dari masyarakat tersebut yang masih bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan modern. Untuk itu ia mengambil terutama dari pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun ketika di Papua Barat (Indonesia) maupun Papua New Guinea sebagai ornithologist (peneliti burung) yang bergaul dengan masyarakat asli, selain hasil penelitian para antropolog atas kehidupan 39 suku asli, 10 diantaranya di Papua, 7 di Australia, 6 di Afrika dan 12 di Amerika.

Beberapa aspek kehidupan masyarakat tradisional yang dibahas adalah:

1. Pembagian Wilayah, Perdagangan
Masyarakat tradisional tampaknya jauh berbeda dengan masyarakat modern.. Meskipun demikian, apabila diteliti lebih dalam, sebenarnya terdapat beberapa persamaan dengan masyarakat modern. Sebagai contoh pengarang menguraikan bahwa setiap suku memiliki batas wilayah yang jelas, melakukan perdagangan atau barter dengan beragam motif, dan melakukan tindakan yang tampak irasional, misalnya membeli barang-barang yang hanya berfungsi untuk menunjukkan status sosial, seperti kerang, gading, babi. Bahkan terdapat satu suku yang tidak memiliki cukup sumber daya alam di pulaunya namun dapat hidup makmur karena sepanjang tahun mereka berdagang dari pulau ke pulau sehingga memperoleh keuntungan besar, sehingga tak ubahnya dengan kota dagang modern atau orang modern yang bekerja keras untuk kemudian menunjukkannya statusnya melalui barang-barang yang dimiliki.

2. Perang dan Damai
Masyarakat tradisional memiliki sistem tersendiri untuk menghukum kesalahan seseorang dan meniadakan pembalasan dendam tidak berkesudahan, antara lain karena mereka biasanya akan menetap di tempat yang sama seumur hidup mereka, sehingga harus terdapat rekonsiliasi agar kedua belah pihak dapat tetap hidup berdampingan dengan baik, dan karena peran penegak hukum formal (polisi dan pengadilan) lemah atau tidak ada. Rekonsiliasi ini antara lain berupa pemberian ganti rugi, pertemuan dengan korban yang disertai permintaan maaf dan rasa simpati dari pelaku, serta adanya pihak yang menjembatani proses tersebut. Hal ini berbeda dengan masyarakat modern, dimana kedua belah pihak mungkin tidak saling mengenal dan tinggal berjauhan atau mudah berpindah, sehingga tidak akan bertemu lagi dan pertikaian diselesaikan murni oleh penegak hukum dan pengacara. Menurut pengarang, penerapan sistem tradisional sebagai tambahan sistem hukum formal akan mengurangi beban emosional masing-masing pihak karena dapat menimbulkan saling pengertian diantara keduanya.

3. Perlakuan terhadap Anak-anak dan Orang Tua
Keterbatasan makanan dan keharusan untuk selalu berpindah tempat membuat masyarakat tradisional melakukan pembunuhan bayi secara selektif karena ketidakmampuan memelihara lebih dari satu bayi pada saat bersamaan, selain itu tingkat kematian anak tinggi, dan anak dibiarkan mengeksplorasi alam sekitarnya sampai pada tingkat membahayakan. Namun demikian,  terdapat hal-hal positif dalam cara pengasuhan yang tampaknya membentuk anak-anak tersebut sehingga mereka pada umumnya setelah dewasa menjadi pribadi yang penuh percaya diri, memiliki rasa aman pribadi, rasa ingin tahu dan otonomi, yang memungkinkan mereka mampu menikmati hidup di tengah bahaya dan tantangan sebagai masyarakat tradisional, yaitu: perhatian dan kedekatan fisik terus menerus dengan ibu ketika bayi dan balita, pemberian kebebasan yang cukup besar dalam mengeksplorasi alam sekitarnya, dan perhatian yang besar dari keluarga selain keluarga inti, misalnya para paman, bibi, dan kakek nenek.

Sementara itu dalam perlakuan terhadap orang tua, masyarakat tradisional pada umumnya lebih kejam, antara lain meninggalkannya begitu saja ketika berpindah, atau membunuhnya. Namun terdapat pula masyarakat tradisional yang menghargai orang tua, antara lain karena mereka turut membantu pengasuhan cucu dan memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki orang-orang yang lebih muda.
Sebagaimana kita lihat, pola pengasuhan anak maupun peran orang tua yang terdapat pada masyarakat tradisional yang positif dan ditawarkan oleh pengarang untuk diterapkan ternyata tidak berbeda jauh dengan peran yang dilakukan satu dua generasi lalu di masyarakat kita, bahkan sebagian juga masih dilakukan. Masalahnya adalah, dalam masyarakat modern, tidak mudah melakukannya. Misalnya, keluarga di luar inti telah tersebar di berbagai kota atau jika di satu kota tidak mudah menemukan waktu untuk bertemu, kedua orang tua harus bekerja, sehingga sulit untuk melakukan hal-hal sebagaimana di atas.

4. Sikap terhadap Bahaya
Masyarakat tradisional memiliki sikap terhadap bahaya yang dapat dianggap berlebihan jika diukur dengan standar modern, atau paranoia. Mereka mengukur bahaya tidak saja dari probabilita terjadinya, tapi juga dari frekuensi dalam menghadapi kemungkinan tersebut. Misalnya, kemungkinan tewas karena tertimpa pohon mati adalah kecil, namun karena mereka sering berada di hutan, sedapat mungkin mereka menghindari tidur di bawah pohon mati. Kehidupan masyarakat tradisional penuh bahaya yang dapat berakibat fatal jika kurang berhati-hati, karena itu sikap mereka, yang oleh pengarang disebut paranoia konstruktif, memang diperlukan. Hal ini karena tanpa sengaja melewati wilayah suku tak dikenal – misalnya pada suku Inuit, ketika berburu tiba-tiba dataran es yang dipijak terpecah lalu membawa pemburu ke wilayah suku yang tak dikenalnya – berarti kematian, karena setiap pelanggaran wilayah oleh suku tak dikenal sanksinya adalah kematian. Bagi orang modern, sikap yang sangat berhati-hati ini perlu juga, misalnya dalam hal mengendarai mobil ke tempat kerja setiap hari, agar kita terhindar dari kecelakaan atau hubungan personal yang dapat berakibat fatal.

5. Agama
Semua masyarakat tradisional memiliki mitos penciptaan, seperti halnya agama yang dianut mayoritas masyarakat modern, tetapi dalam aspek lainnya keyakinan mereka berbeda. Mereka tidak terlalu menekankan agen supernatural, penyelamatan, kehidupan sesudah mati, dan tidak berperang atau membunuh untuk membela keyakinannya.
Agama besar, yang muncul sekitar 3.000 sampai 1.400 tahun lalu, sampai saat ini masih bertahan, hal itu berarti agama memiliki fungsi atau manfaat sehingga masih dipertahankan manusia modern.Bagaimana asal mula agama?
Menurut pengarang, agama memiliki 5 atribut, yaitu: kepercayaan kepada agen super natural yang tak dapat dilihat, gerakan sosial sejumlah orang yang berbagi kepercayaan sama, sejumlah pengikut yang melakukan pengorbanan yang berarti (mahal atau penuh penderitaan) untuk menunjukkan komitmennya kepada kelompok, adanya konsekuensi praktis seperti hukum, moral, kewajiban, dan agen supernatural yang selain dapat memberi ganjaran dan hukuman juga dapat mengabulkan doa.

Asal mula agama dapat dilihat dari pendekatan fungsi, yaitu untuk menjaga ketertiban sosial, memberikan ketenteraman dan penghiburan, dan memelihara kepatuhan masyarakat. Pendekatan lainnya dari psikologi evolusioner yaitu agama sebagai by product (produk sampingan) dari kemampuan lain yang dimiliki leluhur manusia, yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya dan karena mendatangkan manfaat kemudian secara bertahap memperoleh fungsi baru.

Sebagai analogi pengarang memberi contoh kemampuan belut berlistrik yang dapat menyetrum mangsanya dengan sengatan 600 volt. Kemampuan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan produk sampingan dari kemampuan mendeteksi medan listrik dan listrik yang dihasilkan ikan, yang dimiliki kebanyakan ikan normal.
Ikan memiliki organ sensitif pendeteksi listrik untuk mengenali mangsa dan untuk navigasi – khususnya di air berlumpur atau malam hari dimana penglihatan tidak berfungsi – karena mangsa memiliki konduktivitas elektrik yang lebih tinggi dari air. Namun terdapat spesies ikan yang memiliki kemampuan ketiga, yaitu dapat menghasilkan medan listrik sendiri bervoltage rendah, yang memungkinkn mereka mendeteksi mangsa lebih aktif karena tidak tergantung besaran listrik yang dihasilkan mangsanya.
Kemampuan ke empat yaitu dapat memberi informasi kepada ikan lain sejenis, sehingga dapat digunakan untuk menunjukkan batas wilayahnya, dan membunuh mangsa kecil. Kemampuan ini terus berkembang, sehingga dapat menyengat mangsa yang semakin besar sehingga mencapai 600 volt. Ikan bervoltage tinggi juga dapat menggunakannya untuk alat pertahanan diri dari predator, dan berburu mangsa dengan memancing secara elektris, sebagaimana dilakukan para nelayan yang menggunakan listrik dengan baterai atau generator.

Pendapat pengarang pengarang mengenai agama cukup menarik. Ia sependapat denga para evolusionis lain bahwa agama adalah by product dari semakin meningkatnya kemampuan otak manusia dalam mencari penjelasan mengenai sebab segala sesuatu dan membuat perkiraan. Namun agama manusia modern berbeda dari agama masyarakat tradisional, karena menekankan penolakan terhadap dunia, penyelamatan, dan kehidupan sesudah mati.

Hal ini disebabkan tiga hal, yaitu meningkatnya perbedaan antar kelas ketika masyarakat semakin kompleks, sehingga mereka yang hidup menderita semakin merasakan penderitaannya; kehidupan setelah masyarakat menjadi petani semakin berat; dan penilaian moral menjadi semakin hitam putih dan formal. Semua hal ini membuat agama modern semakin menarik sebagai penenang atau penghibur, karena dalam masyarakat yang kompleks, ketidakadilan, kemiskinan dan kesengsaraan semakin terasa sebagai penderitaan.

Berdasarkan penelitian pada sejumlah negara di dunia, pada negara dengan GDP di bawah $10 ribu, penduduk yang menyatakan bahwa agama adalah bagian penting dari kehidupan harian mereka tercatat 80-99% sedang pada negara dengan GDP di atas 30 ribu hanya 17%-43%, kecuali AS. (hal.354)
Melihat data di atas dan fungsi agama yang bagi banyak orang merupakan pemberi arti paling penting, sementara sains tidak dapat mengatakan bahwa hidup manusia memiliki arti, maka tampaknya agama masih akan bertahan cukup lama. 

6. Bahasa
Saat ini terdapat 7.000 bahasa di dunia, yang sebagian besar diantaranya setiap hari menuju kepunahan, sedangkan di Papua New Guniea sendiri terdapat 1.000 bahasa.
Masyarakat suku asli terlatih menguasai beberapa bahasa, karena setiap suku memiliki bahasa masing-masing. Sebagai contoh, masyarakat asli Papua rata-rata menguasai 5 bahasa yang berlainan, yang dipelajari secara lisan ketika mereka bertemu dengan suku-suku lainnya.  Sementara itu, masyarakat modern, khususnya Amerika cenderung hanya menguasai satu bahasa, dan kurang menyetujui pengajaran lebih dari satu bahasa sejak kanak-kanak dengan alasan akan menghambat penguasaan bahasa utama dengan baik. Perdebatan ini mungkin mirip dengan di Indonesia, dimana sebagian tidak setuju penggunaan bahasa Inggris di sekolah dasar dengan alasan akan mengurangi kemampuan bahasa Indonesia.

Berdasarkan penelitian, kemampuan berbahasa lebih dari satu (bilingual atau multilingual) bermanfaat untuk memberi kemampuan dalam melakukan tugas yang aturannya berubah dengan cepat atau tidak mudah diprediksi. Selain itu, tidak terdapat perbedaan kemampuan dalam berbahasa utama antara mereka yang hanya mempelajari bahasa tersebut dengan yang sekaligus mempelajari dua bahasa sejak kecil.
Manfaat lain dari kemampuan bilingual adalah memperkaya kehidupan seseorang dan memberi identitas budaya, karena setiap bahasa merupakan gambaran budaya asal bahasa tersebut. Hal ini juga yang mendasari pentingnya pelestarian kepunahan ribuan bahasa di dunia saat ini. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, menggunakan dua bahasa sekaligus kepada anak sejak kecil tidak mengurangi kemampuannya berbahasa Indonesia, selama ia juga banyak membaca buku bahasa Indonesia.

7. Makanan
Masyarakat tradisional selalu berada dalam kesulitan makanan atau kelaparan setiap waktu tertentu. Makanan bukanlah sesuatu yang dapat dipastikan adanya, dan gula serta garam merupakan komoditi yang sulit diperoleh. Namun hal ini menjadikan mereka bebas dari penyakit orang modern seperti diabetes, hipertensi, jantung dan kanker. Sebaliknya mereka rentan terhadap penyakit infeksi. Orang modern dapat belajar dari mereka dengan membatasi makanan yang mengandung garam, gula, terlalu banyak olahan dan banyak melakukan latihan jasmani, meskipun melakukan hal tersebut tidak mudah, karena sebagian besar makanan yang dijual adalah berasal dari produsen atau pabrik yang biasa menambahkan garam atau gula dalam jumlah besar untuk menambah rasa dan menekan harga. 

Buku ini cukup menarik karena memberi pembaca pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat tradisional tahap pemburu peramu/ peladang yang masih ada sampai abad 20 dari seluruh belahan dunia secara singkat dan hal-hal apa saja yang masih dapat kita pelajari dan ambil untuk diterapkan dari kehidupan mereka yang keras dan sulit. Mengetahui kehidupan mereka akan membuat pembaca bersyukur hidup sebagai manusia modern sekaligus meneliti kembali cara hidupnya.

Namun demikian tentu saja setiap jenis gaya hidup memiliki plus minusnya. Sabine Kuegler, putri seorang misionaris Jerman yang dibesarkan di tengah suku Fayu di Papua, ketika kembali ke Jerman dan harus hidup sebagai orang modern, dalam memoirnya The Jungle Child: Rinduku pada Rimba Papua menulis, betapa kosongnya hidup orang modern yang harus bekerja terus menerus puluhan jam seminggu sekedar untuk dapat mencukupi hidup dan dapat berlibur selama beberapa minggu dalam setahun, dibandingkan dengan kehidupan masyarakat tradisional yang memiliki kebebasan dan keleluasaan waktu dan kerja serta hubungan yang erat dengan keluarga, tetangga serta alam sekitar. Di sisi lain, masyarakat tradisional berpendapat, betapa jauh lebih mudah hidup orang modern karena jauh dari bahaya yang berasal dari alam dan adanya perawatan kesehatan, sehingga mereka memilih kehidupan menetap dan meninggalkan kehidupan sebagai pemburu peramu/peladang.
Memang, tidak ada kehidupan yang sempurna, kecuali mungkin bagi segelintir orang yang sangat beruntung.

Saran yang disampaikan Diamond dalam bukunya mungkin tidak banyak berbeda dengan yang telah kita ketahui, karena kehidupan tradisional tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan satu dua generasi di atas kita di desa atau kota-kota kecil. Masalahnya hanyalah, dengan perubahan kondisi kota-kota dan teknologi yang demikian cepat saat ini, tidak mudah untuk melaksanakan hal-hal tersebut.

Jared Diamond adalah professor geografi di UCLA, penulis buku The Third Chimpanzee (1992), Why Is Sex Fun? (1997, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia), Guns, Germs and Steel yang mendapatkan Pulitzer Prize (1997, diterjemahkan pada Januari 2013), dan Collapse (2005).

Monday, January 28, 2013

In Cold Blood



Judul : In Cold Blood\
Pengarang: Truman Capote
Penerbit: Folio Society
Tahun : 2011
Tebal : 367 hal



Saya masih ingat, salah satu hobi saya sewaktu kecil adalah membaca cerita kriminal (pembunuhan) di majalah Intisari, kemudian membaca buku cerita detektif. Kini, semua itu sudah berlalu. Selain bosan, juga sudah tidak ada waktu. Namun membaca In Cold Blood ternyata sangat menarik.
Sebagai karya klasik modern, In Cold Blood mengisahkan pembunuhan satu keluarga di sebuah kota kecil di Amerika pada tahun 1959 dengan bentuk baru, yaitu seperti novel. Menurut pengarang, dengan bentuk ini ia hendak mengungkapkan tidak saja sebuah peristiwa, tetapi juga cerita tentang sebuah kota, dan latar belakang kehidupan korban maupun pembunuhnya secara rinci.
Keluarga Clutter – yang menjadi korban pembunuhan - adalah pemilik tanah pertanian yang cukup berada dan aktivis gereja. Clutter dikenal sebagai orang yang saleh, pekerja keras, dan murah hati. Kedua anak mereka yang berusia tujuh belas dan empat belas tahun merupakan anak-anak yang ramah, berprestasi, dan tidak segan membantu orang lain.

Sebagai keluarga teladan yang terpandang, pembunuhan keempatnya secara kejam pada suatu malam menimbulkan shock berat bagi penduduk di kota kecil tersebut. Tidak saja hal tersebut menumbuhkan rasa takut dan ketidak-percayaan diantara warga, karena mereka berpikir bahwa pembunuhnya adalah salah satu diantara mereka sendiri, namun juga depresi, sebagaimana diungkapkan salah satu warga kota tersebut, “…well. it’s like being told there is no God. It make life seem pointless. I don’t think people are so much frightened as they are deeply depressed.”
Memang, kekejaman dan penderitaan yang sangat atau bencana dahsyat yang membuat usaha dan hidup manusia tampak jelas kesia-siannya selalu mengundang pertanyaan akan ada tidaknya eksistensi Tuhan. Benarkah Ia ada?

Penyelidikan terhadap kasus tersebut akhirnya menemukan bahwa pembunuhnya adalah dua orang pemuda miskin yang memiliki masa kecil yang suram. Penulis mencurahkan banyak perhatian pada kehidupan kedua pembunuh ini, khususnya Perry, yang melakukan semua pembuhunah tersebut. Membaca kisah Perry, yang berasal dari keluarga miskin dan berantakan, mengalami kekerasan di panti penitipan anak, dan memendam marah karena ayahnya tidak mengizinkannya bersekolah, pembaca akan merasakan simpati penulis terhadapnya, dan memikirkan, mungkinkah jika ia memiliki kehidupan dan pendidikan yang lebih baik, ia tidak akan melakukan pembunuhan tersebut? Pembunuhan tersebut sangat kejam, dan pelaku tidak menampakkan penyesalan, namun uraian mengenai masa kecil Perry sangat menyentuh dan mampu membuat pembaca merasa sedih pula.

Kisah ini ditulis seperti novel detektif, dengan uraian yang berganti-ganti antara kegiatan warga kota maupun upaya para detektif dengan kisah masa lalu serta kegiatan kedua pembunuh selama melakukan kejahatan dan sesudahnya. Suasana tanah pertanian, keadaan kota kecil, dan karakter semua yang terlibat di dalamnya digambarkan dengan rinci agar pembaca mendapatkan suasana kota tersebut.
Diuraikan pula, bahwa setelah berita pembunuhan ini, terdapat beberapa pembunuhan lain terhadap satu keluarga, namun para pelakunya tidak pernah terungkap. Tampaknya sejak dulu berita kejahatan seperti menjadi contoh untuk melakukan hal yang sama.

Jika penulis ingin membuat kisah nyata ini seperti sebuah novel, maka hal itu telah tercapai, karena membaca buku ini seperti membaca sebuah novel yang bagus.

Buku ini telah diterjemahkan pula dalam bahasa Indonesia.oleh penerrbit Bentang pada tahun 2007.Truman Capote adalah juga penulis buku Breakfast at Tiffany, dan penulisan buku ini dibantu oleh Harper Lee, pengarang To Kill a Mockingbird.

Saturday, December 29, 2012

Jakarta!




Judul    :      Jakarta! Sebuah Novel
Pengarang:  Christophe Dorigne-Thomson
Penerjemah: Caecilia Krismariana
Penerbit:      GPU
Tahun   :       2012, Des
Tebal    :       367  hal



Ditulis dalam bentuk fiksi, Jakarta! menceritakan seorang pemuda Prancis lulusan sekolah bisnis elit yang mengalami shock setelah kematian adik laki-lakinya, sehingga kemudian mengubah haluan hidupnya, dengan melakukan profesi hampir seperti James Bond dan bertugas di Tokyo, California, Mumbai, Krakow, Marakesh, Johannesburg, Shanghai, Abu Dhabi, Rio de Janeiro, Aberdeen, Havana, berlibur di empat negara Asia Tenggara, dan akhirnya jatuh cinta pada Indonesia.
Meskipun demikian, mengharapkan novel Jakarta! mengisahkan banyak hal tentang kota Jakarta atau Indonesia akan berakibat pada kekecewaan, karena ternyata novel ini adalah tentang kritik kepada Prancis dan perjalanan seorang pemuda Prancis dalam mencoba menemukan jati dirinya.

Dari sisi fiksi, kisahnya agak membosankan, karena tidak ada dialog sama sekali dan batas antara pikiran tokoh utama (yang diceritakan sebagai pihak ketiga) dengan pengarang nyaris tidak ada, sehingga buku ini bisa dibilang setengah fiksi dan esai. Maksud pengarang sebenarnya adalah mengemukakan pendapat tentang keadaan di wilayah-wilayah di atas serta membandingkannya dengan benua Eropa, khususnya Prancis, yang baginya sangat mengecewakan karena tidak memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang dan membangun negerinya sebagaimana negeri-negeri lain, anti imigran sehingga menghambat kemajuannya sendiri, dan bersikap diskriminatif kepada kaum minoritas, yang sebenarnya adalah korban akibat penjajahan Prancis sendiri di masa lalu. Kritiknya yang cukup tajam terhadap generasi tua Prancis sangat terasa pada banyak bab.

Buku ini membuat pembaca lebih memahami kondisi Eropa saat ini, yang menghadapi masalah penuaan penduduk,  pengangguran generasi muda yang cukup tinggi, meningkatnya imigran, konflik nilai dan budaya dengan imigran muslim, disamping krisis ekonomi.  Khusus di Prancis, masalah tersebut ditambah dengan dominannya generasi tua, birokrasi, kurangnya keberpihakan pada kaum miskin dan diskriminasi ras. Negara Eropa lainnya seperti Inggris dan Jerman lebih baik, karena memberikan kesempatan dan kebebasan lebih besar kepada generasi muda serta kaum minoritas.

Tampaknya berdasarkan hal di atas maka pengarang merasa pesimis akan masa depan Eropa, apalagi Prancis, sebaliknya merasa sangat optimis bahwa Asialah yang akan menjadi harapan kemajuan di masa depan, disamping Amerika yang masih akan tetap penting. Dan salah satu negara Asia yang memiliki potensi untuk menjadi negara besar adalah Indonesia, karena orang Indonesia kreatif, memiliki kebebasan, dan suka teknologi.
Namun kisah tentang Jakarta dan Indonesia hanya terdapat dalam 14 halaman terakhir, lebih sedikit dari negara-negara lain yang berkisar antara 21 s.d 36 halaman.  

Seseorang yang jatuh cinta pada umumnya memang tidak begitu memperhatikan kekurangan pada apa yang dicintainya. Penulis menyatakan cinta pada Jakarta dan Indonesia. Mungkin itu pula sebabnya ia tidak membahas atau menganggap penting kekurangan-kekurangan atau masalah yang dimiliki Jakarta dan Indonesia (di dalam kisah fiksinya, tokoh utama tidak mendukung upaya pencegahan perusakan hutan) yang membuat penduduknya merasa pesimis, sebagaimana halnya kebanyakan orang Indonesia juga tidak dapat melihat kekurangan Prancis dengan jelas - yang membuat pengarang merasa pesimis akan negerinya.

Tuesday, December 25, 2012

The End of The Affair



Judul : The End of The Affair (Akhir Satu Cinta)
Pengarang: Graham Greene
Alih bahasa: Mala Suhendra & Rosi L. Simamora
Penerbit: GPU
Tahun : 2004, Sept
Tebal : 376 hal



Sudah lama saya memiliki buku ini, tapi belum sempat membacanya. Baru-baru ini, setelah tidak sengaja menonton filmnya, timbul keinginan untuk membandingkannya dengan bukunya, karena buku biasanya lebih lengkap dan lebih bagus. Benarkah?

The End Of The Affair adalah kisah seorang penulis novel yang menjalin hubungan cinta dengan istri seorang pegawai negeri yang memiliki jabatan cukup tinggi pada masa perang dunia kedua di London. Bendrix, seorang penulis yang kurang sukses, ingin menulis novel tentang kehidupan pegawai negeri, sehingga ia mewawancarai Sarah, yang kemudian menjadi hubungan cinta. Hubungan ini pada akhirnya putus karena tiba-tiba Sarah tidak ingin menemuinya lagi setelah terjadi sebuah peristiwa.
Setelah dua tahun tidak bertemu, Bendrix merasa marah dan cemburu, mengira Sarah memiliki kekasih lain, sehingga ia menawarkan Henry, suami Sarah, untuk menyewa detektif guna menyelidiki Sarah. Henry menolak tawarannya, sehingga kemudian ia menghubungi sendiri detektif tersebut.
Apa yang ditemukannya kemudian justru membuat Bendrix menyadari besarnya cinta Sarah – Sarah tidak meninggalkannya untuk orang lain tetapi untuk menepati janjinya kepada Tuhan, yang telah mengabulkan doanya.

Bagi Bendrix, tidak mungkin Sarah begitu mudah berubah, karena mereka berdua tidak percaya, dan tidak ada mujizat atau apapun yang cukup untuk membuat seseorang harus percaya pada Tuhan, oleh karena itu kebencian dan kecemburuannya demikian dalam kepada Tuhan, yang telah merenggut Sarah dari sisinya. Ketika semakin banyak mujizat yang ditemuinya, ia tetap tidak bersedia mengakuinya, sehingga berkata, ”Oh Tuhan, cukup sudah yang Engkau lakukan. Cukup sudah Engkau merampas dariku, aku terlalu lelah dan tua untuk belajar mencintai, jangan ganggu aku. Selamanya.”

Novel ini ditulis dari sisi Bendrix, sang penulis novel yang cemburu, pertama kepada suami Sarah, kemudian kepada Tuhan. Tidak hanya kisah cinta biasa, ada renungan mengenai perkawinan, kepercayaan kepada Tuhan, pergolakan jiwa seorang ateis, dan jiwa seorang perempuan yang terbelah antara cinta kepada kekasih, suami, dan perasaan berdosa kepada Tuhan.
Apakah perkawinan - yang membuat seseorang merasa aman – meskipun sangat membosankan atau mengecewakan jauh lebih baik daripada hubungan cinta yang membara namun penuh kecemburuan dan kekhawatiran karena tidak ada pengikat apapun selain cinta itu sendiri? Dapatkah perkawinan seperti itu membuat seseorang bahagia?

Membaca buku ini memang memberi kesan bahwa pengarang adalah seorang yang religius, yang percaya bahwa setiap orang akan memiliki perasaan berdosa jika melakukan hal-hal yang terlarang, dan pada saat krisis pasti akan kembali kepada Tuhan – disini adalah agama Katolik – dan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa yang sungguh-sungguh, termasuk memberi mujizat. Namun hal ini mungkin akan terlalu sulit bagi seorang ateis, karena hidup tidak selalu memberikan hal-hal yang baik atau kita inginkan.
Ketegangan antara kedua hal di atas digambarkan dalam karakter Sarah dan Bendrix, sedangkan Henry digambarkan sebagai orang yang pasrah, namun tidak religius.

Kecenderungan pengarang yang membela pentingnya keyakinan agama sebenarnya tidak menarik bagi saya, kalau saja tidak ada tokoh Bendrix, yang konsisten pada keyakinannya apapun yang terjadi.
Bahasa Indonesia mungkin kurang bagus dalam mengungkapkan perasaan Bendrix dalam buku ini, namun dalam film, aktor Ralph Fiennes dapat menampilkan perasaan cinta, kecemburuan, kemarahan dan kepedihan dengan sangat baik, sebagaimana penampilannya dalam The English Patient.

Ralph Fiennes
Buku ini sebagian mungkin berasal dari pengalaman pengarang sendiri, karena tokoh Bendrix adalah pengarang novel dan penulis review. Graham Greene adalah juga penulis novel dan review, yang semula agnostic kemudian menjadi Katolik setelah menikah, mengikuti keyakinan istrinya, Vivian. Ia juga pernah memiliki affair dengan seseorang yang tidak bersedia meninggalkan suaminya.

Novel ini tampaknya mewakili pandangan pengarang yang berpendapat bahwa kehidupan manusia hanya dapat berarti dengan adanya keyakinan kepada Tuhan, meskipun perjuangan untuk percaya adalah sesuatu yang berat.

Sebagian novel ini membuat saya teringat pada The English Patient: kekasih yang kehidupannya tampak agak menyedihkan namun sangat memikat, perempuan pelaku affair yang seolah mendapat hukuman dengan kematiannya, dan kekasih yang diliputi kesedihan dan kekecewaan.

Graham Greene yang berasal dari Inggris (1904-1990) dikenal dengan buku-bukunya yang banyak dijadikan film, antara lain Brighton Rock, The Quiet American, A Gun for Sale dan The Fallen Idol. Setelah pada awal karirnya ia banyak menulis mengenai hal yang berkaitan dengan keyakinan Katolik, tulisannya kemudian lebih bersifat humanis, dengan kisah berlatar negara-negara jajahan di daerah tropis.


Sang Guru Piano



Judul : Sang Guru Piano (Die Klavierspielerin)
Pengarang: Elfriede Jelinek
Penerjemah/Penyunting: Arpani Harun/ Ayu Utami
Penerbit: KPG
Tahun : 2006, Jan
Tebal : 293 hal



Banyak yang menganggap Sang Guru Piano adalah novel yang vulgar. Namun pengarang berhasil mengungkapkan keadaan jiwa-jiwa yang sakit, sehingga membaca novel ini seperti mengalami suatu penderitaan.

Novel ini mengisahkan Erika, seorang profesor di konservatori Wina, yang menjadi guru karena gagal menjadi pemain piano konser. Hidupnya dikendalikan oleh ibunya, meskipun ia telah berusia tiga puluh delapan tahun. Musik bukanlah kesenangan, tetapi kerja keras dan kewajiban, yang ditanamkan oleh ibunya sejak ia kecil. Dominasi ibu yang berlebihan membuat jiwa Erika tertekan dan sakit; ia menunjukkan kekuasaannya di kelas, ia terus membeli baju-baju baru hanya untuk dilihat-lihat, karena ibunya tidak mengizinkan ia memakainya, dan kerap mengunjungi tempat-tempat dimana seks dikomoditikan dan dilakukan secara brutal dan rendah. Erika adalah seorang perempuan yang malang; kesepian, sedih, dan tertindas, namun tidak mampu mengeluarkan diri dari situasi tersebut selain melakukan hal-hal yang semakin menjerumuskan dirinya: menyayat tubuhnya sendiri, menjalin hubungan dengan murid yang jauh lebih muda, dan menginginkan kesadisan dalam hubungan tersebut.

Semua hal di atas digambarkan pengarang secara rinci, tanpa perasaan, tanpa batas, membuat pembaca ikut merasa tertekan hingga jijik dan ingin melempar buku tersebut - terutama pada sepertiga bagian terakhir - karena bahasa yang digunakan tidak ada yang diperhalus, benar-benar seperti uraian tentang bagaimana suatu kegiatan dilakukan belaka dan tindakan para tokoh semakin berlebihan. Pembaca juga sulit untuk bersimpati kepada karakter di dalamnya: baik Erika, ibunya maupun murid Erika tidak memiliki cukup hal-hal baik yang mengundang simpati. Pembaca mungkin merasa kasihan pada nasib Erika yang tertindas, namun caranya mengatasi penindasan tersebut membuat pembaca sulit untuk memahaminya.

Hal menarik dari novel ini adalah tentang akibat kejiwaan dari dominasi ibu terhadap anak perempuannya, dan kontras antara keanggunan musik klasik dan kota Wina dengan kekelaman jiwa Erika sebagai pengajar konservatori serta sisi gelap kota Wina, yang menyimpan kemiskinan para pekerja imigran Turki beserta segala eksesnya yang menyedihkan.

Elfriede Jelinek memperoleh hadiah Nobel pada tahun 2004 untuk “suara dan kontrasuara di dalam novel dan dramanya yang mengalun bak musik, yang dengan semangat penjelajahan bahasanya yang luar biasa menyingkap kehampaan tata krama masyarakat beserta daya cengkeramnya.”
Berdasarkan penjelasan panitia Nobel, maka Sang Guru Piano, yang ditulis pada tahun 1983, dapat dipandang sebagai sebuah kritik terhadap kondisi masyarakat pengarang.
Buku ini juga telah difilmkan dan memperoleh tiga penghargaan dalam Festival Film Cannes 2001.

Tuesday, October 30, 2012

The Prospector



Judul : The Prospector
Pengarang: J.M.G. Le Clezio
Penerjemah: Carol Marks
Penerbit: David R. Godine, Publisher
Tahun : 1993
Tebal : 338 hal




Kenangan masa kecil yang tak terlupakan, keindahan dan kecintaan pada laut, kesetiaan pada keluarga, kemurnian cinta, kekerasan hidup, pencarian harta karun, kekuatan takdir, yang seringkali diluar kekuasaan siapapun, dan realitas yang berbaur dengan mitologi Yunani, adalah yang kita dapat dari buku ini.

Alexis selalu terkenang akan rumah masa kecilnya, ketika ayahnya belum bangkrut dan masih hidup, ketika badai siklon belum menghancurkan rumah mereka beserta seluruh usaha ayahnya,dan ibunya masih dapat memberi pelajaran kepada ia dan Laure, adik perempuannya setiap sore. Bersama Laure ia akan berlari melintasi ladang tebu, memandangi laut, menembus hutan, dan menatap bintang-bintang di malam hari. Khususnya laut. Laut adalah bagian dari dirinya,

“As far back as I can remember I have listened to the sea: to the sound of it mingling with the wind in the filao needles, the wind that never stopped blowing…It is the sound that cradled my childhood…it will come with me wherever I go: the tireless lingering sound of waves breaking in the distance of coral reef… Every day I went to the beach…Here, the sound of the sea was like a beautiful music…I will never forget that day when I went to sea for the first time, a day that seemed to last months, or years. I wanted it never end, I wanted it to go on forever…”

Setelah ayahnya meninggal dan mereka jatuh miskin mereka harus tinggal di kota, dan Alexis harus bekerja di perusahaan milik pamannya, yang mengambil alih tanah dan rumah masa kecilnya untuk memperluas perkebunan dan pabrik gula, yang dikerjakan oleh para bekas budak dan pendatang dari India. Namun kenangan indah masa kecil dan ketakpedulian pamannya membuat ia berusaha meneruskan usaha terakhir ayahnya: mencoba menemukan harta karun yang tersimpan di pulau Rodriguez, untuk mengembalikan kejayaan keluarganya, untuk menyenangkan hati Laure dan ibunya.

Alexis meninggalkan semuanya, berteman dengan kapten Bradmer dalam kapal yang membawanya ke Rodriguez. Ia tidak menemukan harta karun, namun bertemu Ouma, gadis yang akan dicintainya, namun kemudian harus ia tinggalkan untuk pergi ke medan perang dunia pertama.

Ketika ia pulang kembali, semua sudah berubah. Pamannya semakin kejam, terdapat pemberontakan pekerja pabrik. Bagaimana dengan Laure, Ouma dan ibunya? Karena nasib akhirnya memisahkannya dengan mereka semua, juga dengan kapten Bradmer, yang tidak ditemukan setelah kapalnya tenggelam.

Akhir kisah memang terasa sedih, karena akhirnya ia sendiri dan tidak memiliki apa-apa, namun
“I’ll go to the port to choose my ship. It is called the Argo….Soon it will be sailing under the stars, following its destiny written in the sky. I am on the deck…enveloped in wind, listening to the waves slapping against the hull and the wind cracking in the sails…We are the only ones on the sea, the only living beings. Ouma is with me again…to the place where we need fear neither signs in the sky nor the wars of men…Now night has fallen. To the depths of my being I hear the living sound of the rising sea.”

Pengarang seolah ingin mengatakan, kenangan masa kecil selalu mengikuti seseorang, dan keluarga, serta kekasih yang baik akan membuat seseorang berusaha melakukan apapun untuk mereka, namun kadang nasib tidak mengizinkan hal-hal baik terwujud, antara lain karena kejahatan, keserakahan berada di sekitar kita, bahkan sangat dekat, demikian pula kejadian buruk dapat datang tanpa diduga, sehingga nasib kadang begitu absurd. Namun alam yang masih terjaga keasliannya adalah sesuatu yang berarti.

Mungkin benar, bahwa kenangan masa kecil selalu mengikuti kita. Saya suka buku ini, yang hampir tiap halamannya ada gambaran mengenai pantai, laut, angin, langit, yang ditulis hampir seperti puisi, karena mengingatkan pada masa kecil saya sendiri yang pernah tinggal di tepi laut. Mungkin tidak mudah dimengerti orang lain, tetapi sampai sekarang bagi saya tempat yang paling menyenangkan adalah rumah di tepi laut.

The Prospector berlokasi di Mauritius pada tahun 1892 s.d. 1922. Mauritius, kepulauan yang terletak di dekat Madagaskar, Afrika Timur. pernah menjadi koloni Belanda pada tahun 1630-1710, kemudian diambil-alih Prancis pada tahun 1710-1810, sebelum akhirnya menjadi koloni Inggris s.d. tahun 1968. Belanda, yang juga membawa kepunahan burung dodo, membawa tanaman tebu dari Jawa. Prancis kemudian membawa budak untuk dipekerjakan di perkebunan. Pada tahun 1835 Inggris menghapus perbudakan di Mauritius dan pekerja diisi oleh para imigran, terbanyak dari India.

Tentang Penulis

Jean Marie Gustave Le Clezio yang berdarah Inggris dan Prancis adalah pengarang kelahiran Prancis tahun 1940. Ia mendapat hadiah Nobel pada tahun 2008 untuk “new departure, poetic adventure and sensual ecstasy, explorer of a humanity beyond and below the reigning of civilization.”
Bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris antara lain The Interrogation (1963), pemenang Prix Renaudot, War (1973), Desert (1980), dengan tema konflik kultural masyarakat asli  Afrika dengan peradaban Eropa, dan mendapat penghargaan dari Akademi Prancis, Onitsha (1992), The Wandering Star, dan karya non fiksi Mexican Dream. Karya-karya awalnya menunjukkan ia pengarang yang memperhatikan lingkungan hidup, jauh sebelum hal tersebut menjadi kesadaran umum.
Le Clezio merupakan pengarang terkemuka di Prancis dan telah menulis sekitar 40 buku, juga menjadi pengajar pada Universitas di New Mexico. Ia pernah tinggal di Prancis, Mauritius, Thailand, Meksiko dan Panama. Le Clezio disebut juga sebagai Steve McQueen sastra karena parasnya.

The Prospector adalah buku pertama karya Le Clezio yang saya baca. Dengan novel lirisnya yang halus dan mengharukan, tampaknya buku-bukunya yang lain cukup menarik untuk menjadi bacaan berikutnya.

Posting ini adalah untuk posting bersama Blogger Buku Indonesia, dengan tema buku karya pemenang Nobel.

Sunday, October 21, 2012

Amba - Sebuah Novel


Judul : Amba
Pengarang: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: GPU
Tahun : 2012
Tebal : 486 hal




Novel ini adalah kisah cinta sedih dengan latar belakang peristiwa 30 September 1965.
Amba adalah anak sulung seorang kepala sekolah di Kadipuro, sebuah kota kecil di Jawa, yang berbeda dari kedua saudara perempuannya karena banyak berpikir dan mendambakan kebebasan. Ayahnya yang sederhana dan menginginkan masa depan yang baik untuknya kemudian menperkenalkannya dengan Salwa, seorang pemuda dengan masa depan cerah yang menjadi dosen di Yogya. Amba yang cerdas kemudian kuliah sastra di Yogya pula, dan selanjutnya bertunangan dengan Salwa, karena ia seorang pemuda Jawa yang sopan, rajin dan penuh perhatian padanya.
Suatu ketika, Amba yang ingin mencari pengalaman baru melamar menjadi penerjemah di sebuah rumah sakit di Kediri. Tugasnya adalah merjemahkan jurnal kedokteran dari bahasa Inggris untuk Bhisma, seorang dokter tampan berdarah Sumatera lulusan Jerman Timur. Mereka saling jatuh cinta dan Amba melupakan Salwa, serta menuruti hasratnya mengikuti kehendak dan kehidupan Bhisma yang penuh bahaya sebagai seorang simpatisan gerakan kiri. Namun peristiwa 30 September 1965 memisahkan mereka.
Empat puluh satu tahun kemudian Amba mencari Bhisma ke Pulau Buru. Apakah yang ditemukannya?

Sebagai novel dengan latar belakang budaya Jawa, pengarang menggambarkan kejawaan keluarga Amba melalui keakraban ayah Amba dengan kisah Mahabarata, Centhini, keharusan belajar menari, dan bagaimana Amba selalu mengaitkan namanya serta kedua laki-laki dalam hidupnya – yang kebetulan sama dengan yang terdapat dalam kisah Mahabarata - dengan tokoh dalam kisah tersebut. Hal ini dapat dilukiskan pengarang dengan baik,
Namun sebagaimana novel lainnya yang ditulis perempuan, tokoh ayah selalu digambarkan lebih cerdas dan dekat dengan anak perempuannya, dan tokoh utama perempuan selalu bertemu dengan laki-laki yang bersedia mencintainya apapun yang terjadi.
Selain itu,seperlima bagian terakhir dari buku tampak terlalu panjang, dan sebenarnya dapat lebih ringkas. Novel ini juga mengingatkan pada novel Sang Penerjemah, yang tokoh utamanya juga jatuh cinta pada laki-laki yang menggunakan jasa terjemahannya. Perbedaannya, dalam Amba sang tokoh lebih berani menuruti perasannya.  

Diluar hal di atas, Amba adalah novel yang menarik dan indah, karena pembaca akan memperoleh sedikit pengetahuan mengenai kejadian-kejadian bersejarah pada masa itu, sekelumit kisah wayang, sifat keluarga Jawa, keadaan di pulau Buru, dan perasaan serta hasrat seorang perempuan yang jatuh cinta, yang semuanya ditulis secara lembut dan puitis.

Laksmi Pamuntjak sebelumnya telah menulis beberapa buku, antara lainJakarta Good Food Guide, telaah filosofis Perang, Langit dan Dua Perempuan (2006), dan dua kumpulan puisi yaitu Ellipsis (2005) dan The Anagram (2007).

Monday, October 08, 2012

When We Were Orphans


Judul : When We Were Orphans  (Masa-masa  Ketika Kita Yatim Piatu)
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Alih bahasa:Linda Boentaram
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun : 2012
Tebal : 414 hal



Christopher Banks, anak seorang pegawai perusahaan dagang Inggris di Shanghai tiba-tiba menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya diculik. Ia kemudian dikirim ke rumah bibinya di Inggris untuk melanjutkan sekolah. Selama itu ia merasa bangga kepada kedua orang tuanya, khususnya ibunya, yang memperjuangkan kebaikan bagi penduduk asli. Namun peristiwa itu juga mendorongnya untuk menjadi detektif, agar dapat membasmi kejahatan, termasuk menemukan kembali kedua orang tuanya. Setelah berhasil menjadi detektif terkenal - dan berkenalan dengan Sarah, seorang wanita ambisius yang juga yatim piatu - ia kembali ke Shanghai untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun perang sudah dimulai disana. Berhasilkah Banks menemukan orang tuanya? Bagaimana keadaan mereka? Apakah cita-cita Sarah juga tercapai?

Tidak seperti novel-novelnya yang lain, When We Were Orphans ditulis seperti buku detektif populer, yaitu banyak melukiskan tindakan tokoh-tokohnya namun kurang menampilkan pikiran atau perasaannya. Cara penulisan seperti ini membuatnya lebih mudah dibaca, namun membuat karakter tokohnya menjadi agak kurang jelas. Misalnya, pembaca tidak mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Banks terhadap Sarah,terhadap ibunya, hidupnya.
Apakah ia menyukai Sarah hanya karena sama-sama yatim piatu? Apakah ia dapat menerima pengorbanan ibunya tanpa merasa bersalah? Mengapa ia memutuskan hidup sendiri?

Bagian akhir tidak mudah ditebak bagi pembaca, karena tokohnya tidak seperti tokoh detektif dalam novel-novel biasa yang selalu mendapatkan keberhasilan. Seperti novel-novelnya yang lain, terasa ada kehampaan disana. Setelah menjalani kehidupan yang penuh semangat dan cita-cita di masa muda, atau misi - menurut pengarang, di usia senja hal itu tidak tampak lagi. Namun pembaca tidak tahu persis apa yang menyebabkannya. Sedikit petunjuk, mungkin karena latar belakangnya sebagai yatim piatu. “… bagi kami, takdir kami adalah menghadapi dunia sebagai yatim piatu, bertahun-tahun mengejar bayangan orang tua kami yang hilang. Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali berusaha menjalani misi kami hingga akhir, sebaik mungkin, karena sampai kita melakukannya, kita tidak akan pernah tenang.”


Novel ini berlatar belakang tahun tiga puluhan, sehingga pembaca bisa mengetahui bagaimana kehidupan di Inggris dan Shanghai pada masa tersebut, yang berada di tengah perjuangan kaum nasionalis Cina, tentara Merah, dan serangan Jepang.

Thursday, September 27, 2012

Nyanyian Kematian Sirenes

Judul : Nyanyian Kematian Sirenes –
Etnografi Kritis Manusia-manusia Starbucks
Pengarang: Eduardo Erlangga Destranta
Penerbit: Bidik Phronesis Publishing
Tahun : 2012
Tebal : 122 hal

Tidak semua orang muda memiliki daya kritis terhadap konsumerisme dan kapitalisme. Eduardo, dengan pengalamannya sebagai pelanggan setia hingga menjadi pekerja Starbucks, masih memiliki hal itu, sehingga pengalamannya menjadi sebuah kritik terhadap jaringan kedai kopi tersebut. Namun sebenarnya kritiknya dapat juga berlaku untuk semua jaringan toko atau fast food lainnya yang sejenis.

Sebagai mahasiswa, dengan lugu semula Eduardo mengira bahwa para pekerja disana sangat ramah dan perhatian terhadap dirinya, dan segala sesuatu yang berada disana demikian menyenangkan, sehingga kedai kopi tersebut menjadi favoritnya, atau rumah ketiga, menurut istilah Starbukcs. Namun setelah beberapa waktu menjadi pekerja disana, ia menemukan hal yang sebaliknya.

Bertolak dari logo Starbucks, yaitu Sirenes – makhluk laut dalam mitologi Yunani yang dengan nyanyiannya membawa para pelaut yang melewatinya kepada kematian – penulis menyimpulkan bahwa kedai kopi tersebut tidak ada bedanya dengan sirenes: tujuannya adalah menyeret para pelanggannya dalam ilusi kenyamanan dengan tujuan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Mengapa semua itu ilusi, karena keramahan para pekerja (barista) kepada pelanggan tidak tulus – semua hanya kewajiban dan hafalan, pembuatan kopi dirancang sangat mekanis sehingga pekerja tak ubahnya robot, balas jasa kepada pekerja sangat rendah dibandingkan keuntungan yang didapat, dan pelanggan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tanpa sadar mereka mengikuti kemauan Starbucks melayani diri sendiri, membayar mahal untuk hal-hal yang dapat dihemat, dan menuruti semua promosi dengan patuh, yang semuanya sebenarnya hanya bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan kedai. Untuk itu penulis memberikan saran bagaimana agar pembaca dapat tetap kritis menghadapi semua itu jika berada disana.

Saat ini jaringan Starbucks di Indonesia telah mencapai lebih dari 100 kedai, bahkan telah masuk kampus. Bagi saya dari generasi lama, yang ketika kuliah terbiasa hidup hemat dan sederhana, masuknya Starbucks ke kampus terasa kurang pas, bahkan sampai saat ini, saya tetap dapat mengambil jarak terhadap semua jaringan sejenis. Namun dari buku ini saya jadi mengetahui, bahwa tidak demikian halnya dengan generasi muda, yang rupanya lebih mudah terkesan dan mengikuti apapun yang disodorkan di depan mereka oleh jaringan kedai dan restoran asing dengan segala macam taktiknya, sehingga buku Eduardo ini tentunya cukup berguna untuk membuka kesadaran akan sisi buruk kapitalisme.

Monday, September 17, 2012

The Better Angels of Our Nature



Judul : The Better Angels of Our Nature – Why Violence Has Declined
Pengarang: Steven Pinker
Penerbit: Viking
Tahun : 2011
Tebal : 801 hal




Setiap kali habis membaca sejarah zaman dulu, saya selalu merasa sangat beruntung hidup di abad ke 20 dan 21. Mengapa? Karena kehidupan manusia di masa lalu penuh dengan kekejaman yang tak terperikan untuk ukuran manusia modern.

Pada tahap manusia masih menjadi pemburu peramu, kehidupan penuh kecemasan, karena setiap waktu dapat terjadi penyerangan mendadak secara diam-diam dan balas dendam.
Selanjutnya pada seribu tahun pertama Masehi kehidupan juga tidak lebih baik, karena sewaktu-waktu musuh dapat melakukan penyerangan, dan penjarahan, perbudakan perkosaan serta hukuman dengan penyaliban, mutilasi atau penyiksaan lainnya merupakan hal biasa yang menyertai penyerangan tersebut.

Keadaan ini berlanjut hingga zaman pertengahan. Pada zaman ini kekerasan dan kekejaman mencapai puncaknya, khususnya di Eropa. Selain perang terus menerus antara para ksatria juga terdapat perang agama yang berlangsung selama puluhan tahun tanpa henti, inkuisisi, dan pembakaran terhadap mereka yang dituduh sebagai tukang sihir. Menurut Pinker, zaman pertengahan merupakan zaman dimana seni penyiksaan mencapai puncaknya, dengan diciptakannya berbagai alat penyiksaan yang dapat memperlama dan memaksimalkan tingkat kesakitan para korbannya
Salah satu peninggalan kekejaman itu misalnya tampak pada kitab-kitab suci, yang menggambarkan hukuman dengan pembakaran, mutilasi, berbagai penyiksaan tiada akhir, genosida, dan mentolerir perbudakan. Bagi masyarakat zaman kini, hal-hal tersebut merupakan kekejaman dan tidak patut. Namun dahulu hal itu merupakan hal yang biasa.

Steven Pinker dalam bukunya yang terbaru mencoba menjelaskan hal-hal yang menyebabkan menurunnya kekerasan dalam peradaban manusia hingga sampai pada tahap seperti saat ini, yang bahkan tidak mentolerir kekejaman terhadap binatang, dan mencoba meyakinkan pembaca, bahwa kualitas dan kuantitas kekerasan menunjukkan tren semakin menurun, meskipun pada abad 20 terdapat dua perang dunia, gerakan komunisme, dan terorisme.

Dalam bab pertama, penulis menunjukkan contoh-contoh kekejaman di masa lalu, sejak dari zaman prasejarah, zaman Yunani, Romawi, abad pertengahan hingga awal Eropa modern, dan membandingkannya dengan kondisi abad 20 yang telah sangat jauh berbeda, hingga kehidupan di zaman dulu menurutnya tampak seperti “sebuah negara lain.”

Bab selanjutnya penulis mencoba untuk menemukan asal mula timbulnya kekerasan, baik dari sisi logika maupun sejarah. Dari sisi biologi, kekerasan adalah konsekuensi dari survival of the fittest dan manusia sebaga survival machine, yang dalam usahanya untuk bertahan selalu berusaha menggunakan survival machine lainnya semaksimal mungkin baik dari spesies yang sama maupun berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Hobbes yang menyatakan bahwa penyebab kekerasan terdiri dari kompetisi - untuk memperoleh milik orang lain, pertahanan, dan kemegahan.

Dari sisi sejarah, yang menentukan tingkat kekerasan adalah bentuk masyarakat. Semakin primitif suatu masyarakat, semakin tinggi tingkat kekerasan, karena tidak ada yang mengendalikan pertikaian di antara individu dan suku. Penulis menunjukkan data, bahwa tingkat kematian pria dewasa pada masyarakat pemburu peramu sebelum ada negara antara 0 - 60%, dengan rata-rata 15%, sedangkan pemburu peramu masa sesudahnya rata-rata 14% dan pemburu peramu yang berkebun, seperti di Amazon dan Papua Nugini 24%. Tingkat kematian menurun setelah negara muncul sebagai penguasa, misalnya pada masyarakat Inca dan Aztec menjadi 5%, Eropa pada masa perang agama 2%, masa dua perang dunia 3%, sedangkan pada empat dekade terakhir abad 20 menjadi kurang dari 1%.

Negara yang muncul mula-mula berupa teokrasi yang terstratifikasi, dan mengendalikan ekonomi dengan kekerasan, sehingga menurunnya kekerasan di antara individu dalam masyarakat menimbulkan masalah baru, yaitu pemimpin despotik yang memiliki kewenangan tanpa batas dan dapat menerapkan hukuman kejam. Mereka terdiri dari tiran, klerik dan kleptokrat. Oleh karena itu diperlukan sistem untuk membatasi kekuasaan mereka, yang baru muncul sekitar dua ratus tahun terakhir.

Bab selanjutnya menguraikan tentang hal-hal yang menyebabkan menurunnya kekerasan. Merujuk pada teori Norbert Elias, penulis berpendapat bahwa Civilizing Process memegang peranan penting sebagai faktor endogenous, sedangkan yang menjadi faktor exogenous adalah konsolidasi unit-unit politik menjadi negara dan revolusi ekonomi dari berbasis tanah dan petani (zero sum game) menjadi ekonomi yang bergeser ke perdagangan dengan penjualan surplus (positive sum game).

Civilizing Process adalah perubahan psikologis dan perilaku dari masyarakat. Elias melihat bahwa masyarakat Eropa abad pertengahan bersifat temperamental: impulsif, kekanakan, tidak beretika, kurang memiliki rasa malu, kejam, dan kotor, yang tampak dari buku-buku serta gambar yang dibuat pada zaman tersebut. Misalnya, para pengrajin berlomba membuat mesin penyiksa yang lebih kejam efeknya, penyiksaan terhadap binatang merupakan hiburan sehari-hari, para ksatria terus menerus melakukan peperangan tidak jelas yang merusak, dan perjalanan merupakan hal yang sangat berbahaya karena banyaknya perampok di jalan. Namun perlahan-lahan semua ini berubah. Mereka mulai mengendalikan perilaku impulsive, mengantisipasi akibat jangka panjang, dan mulai mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain.
Apa yang menyebabkan terjadinya proses ini?

Penulis mengemukakan tiga hal, yaitu: penurunan kekejaman di kalangan elit, yang kemudian diikuti oleh kelas-kelas di bawahnya, peningkatan kesempatan kerja di pabrik dan perdagangan, dan peningkatan sistem hukum.
Civilizing process berlanjut menuju revolusi kemanusiaan (humanitarian revolution), yang dimulai sejak Abad Akal Budi (The Age of Reason) pada abad 17 ke Abad Pencerahan (The Enlightenment) pada akhir abad 18, dengan lenyapnya hukuman badan dan hukuman mati.

Selama ribuan tahun, sejarah mencatat kekerasan berikut berlangsung di seluruh bagian dunia: pembunuhan karena takhyul – pengorbanan manusia, guna-guna atau sihir, pembunuhan terhadap kaum penghina agama, heretik dan murtad; hukuman mati, perbudakan, kekerasan politik dan pemimpin despot, serta peperangan besar.  Kini semua itu hampir tidak ada lagi. Apa yang menyebabkannya?

Menurut penulis, perang agama di Eropa yang berlangsung selama 30 tahun, adanya kebiasaan untuk mengidentifikasi keadaan pihak lain, dan perubahan moral dari menghargai jiwa menjadi lebih menghargai kehidupan, yang dipengaruhi oleh Abad Akal Budi - yang menekankan bahwa kepercayaan harus didasari oleh pengalaman dan logika, serta mulai berkembangnya sains yang membuktikan bahwa apa yang selama ini dipercaya ternyata dapat salah, membuat manusia menjadi lebih menghargai nyawa sesamanya

Selanjutnya para penulis Pencerahan yang memiliki motif kemanusiaan mendorong dilenyapkannya perbudakan. Sedangkan despotisme dan kekerasan negara diatasi oleh pemisahan tugas yang jelas, positive sum cooperation, dan demokrasi. Akhirnya peperangan besar tidak menarik lagi dan berubah menjadi perdagangan tanpa kekerasan, karena invasi lebih mahal daripada membeli barang dari negara lain.

Berdasarkan hal di atas, maka perdamaian tergantung pada: penyebaran demokrasi, ekspansi perdagangan dan niaga, serta pertumbuhan organisasi internasional.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang menyebabkan revolusi kemanusiaan tersebut?
Menurut Pinker ada tiga hal utama, yaitu:
1. Civilizing Process
Perubahan unit-unit politik menjadi negara dengan kerajaan sebagai pusat kekuasaan baru membuat semua pihak berupaya menampilkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan meningkatkan pengendalian diri, kebersihan dan tata krama. Meningkatnya kebersihan dan penampilan orang-orang membuat mereka tampak lebih baik sehingga lebih mudah untuk menghargai mereka. Peningkatan kemakmuran setelah revolusi industri juga membuat orang merasa bahwa kehidupan adalah sesuatu yang baik sehingga patut dihargai, sehingga mereka mulai menilai hidup orang lain lebih tinggi pula

2. Produksi Buku
Dua ratus tahun setelah ditemukannya mesin cetak pada tahun 1492, produksi buku meningkat lebih dari dua puluh kali lipat. Pada akhir abad 18 perpustakaan beredar telah meluas di Inggris dan pada awal abad 19 sebagian besar pria di Eropa Barat dapat membaca. Penulis menyebut hal ini sebagai revolusi membaca, karena bahan bacaan tidak lagi hanya buku-buku agama, tetapi juga bacaan sekuler, termasuk terbitan berkala. Masa ini adalah juga masa dimana penemuan-penemuan berarti di bidang sains dan penjelajahan ke Amerika, Afrika, India dan Asia dimulai, yang hasilnya dipublikasikan dan dibaca oleh masyarakat luas.

3. Meningkatnya Empati dan Perhatian terhadap Hidup Manusia
Sebagai akibat dari kemajuan percetakan, pada pertengahan abad 18, muncul penerbitan novel-novel yang kemudian dibaca dan mempengaruhi masyarakat luas. Masa ini adalah masa kejayaan epistolary novel, yaitu novel yang ditulis dalam bentuk surat, yang menggambarkan pikiran dan perasaan tokoh utama dari sudut pandangnya sendiri. Kebiasaan membaca novel seperti ini memungkinkan seseorang mampu menempatkan diri dari sudut pandang orang lain, sehingga dapat menimbulkan rasa empati. Dengan empati timbul pemahaman atau pengertian atas perasaan dan kondisi orang-orang lain.

Selain ketiga hal di atas, bangkitnya kota-kota dengan munculnya demokrasi liberal, fIlsafat yang koheren selama Abad Akal Budi dan Pencerahan, dimulai dengan skeptisisme, yang bermula dari sains, dan humanisme pencerahan juga berperan penting untuk mengubah perilaku dan psikologi masyarakat sehingga kekerasan dan kekejaman semakin menurun.

Pertanyaannya, mengapa pencerahan hanya muncul di Barat? Tidak di negara-negara Islam, misalnya? Berdasarkan hal di atas, menurut penulis kemungkinannya adalah karena penguasa Islam tidak segera mengambil teknologi percetakan dan menerbitkan buku-buku di luar bidang agama, yang dapat membangkitkan pemikiran bebas.

Bab selanjutnya mencoba untuk membuktikan bahwa abad 20 bukanlah abad terkejam, meskipun terdapat 70 juta korban perang dunia I dan II serta 60 juta korban rezim totaliter (komunis). Namun dengan membandingkan antara jumlah penduduk pada suatu masa dengan korban perang pada masa tersebut, Pinker menemukan bahwa perang yang memakan korban terbanyak sepanjang sejarah manusia adalah revolusi An Lushan yang terjadi pada abad 8 dengan 36 juta korban, disusul oleh penaklukan Mongol pada abad 13 dengan korban 40 juta orang, dan perdagangan budak Timur Tengah pada abad 7 s.d 19 dengan 19 juta korban. Selain itu, merujuk pada hasil penelitian Richardson, data statistik menunjukkan bahwa waktu perang terjadi secara acak, dan kekuatannya mengikuti power law.
Sementara itu semakin ke masa kini interval perang semakin jarang dan korbannya semakin sedikit, sehingga ia berani menyebutnya sebagai masa perdamaian yang panjang.

Setelah menguraikan sejarah kekerasan dan sebab penurunannya, penulis mencoba melihatnya dari sisi psikologi, yaitu mengapa kekerasan tidak dapat dipisahkah dari manusia. Penulis mencatat ada delapan motif yang membuat kekerasan tidak dapat begitu saja dilenyapkan, antara lain sisi gelap psikologi manusia, balas dendam, sadisme dan ideologi.

Buku ini sangat menarik karena Pinker adalah penulis yang memikat; referensinya luas dan tulisannya mengalir, sangat menyenangkan untuk dibaca. Kedua, argumennya dilengkapi dengan banyak data – ada lebih dari seratus tabel - yang banyak diantaranya merupakan pengetahuan baru bagi pembaca, karena berasal dari banyak sumber. Ketiga, uraian penulis membantu pembaca memahami lebih baik posisinya dalam sejarah dan kondisi dunia saat ini, bahwa baru pada zaman inilah kekerasan dan kekejaman benar-benar jauh berkurang sehingga kita patut bersyukur.

Pinker adalah ilmuwan yang optimis. Ia yakin bahwa pada akhirnya demokrasi liberal akan menyapu seluruh dunia, karena tidak akan ada masyarakat manapun yang mampu menolak teknologi, sains dan perdagangan yang dibawa bersamanya, termasuk masyarakat teokratis seperti negara-negara Timur Tengah. Ia yakin bahwa kaum ekstrim kiri maupun kanan pada akhirnya akan menerima liberalisme dan kapitalisme, termasuk Indonesia, yang menurutnya merupakan salah satu negara Islam yang mengarah pada demokrasi liberal.

Keyakinannya ini belum tentu disukai semua orang. Pembaca beraliran kiri menganggap bahwa kapitalisme adalah ketidakadilan dan kekerasan serta kekejaman bukan saja terjadi dalam bentuk perang tetapi juga kesusahan hidup buruh-buruh dan orang miskin di seluruh dunia. Pembaca beraliran kanan menganggap bahwa liberalisme merupakan ideologi yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga mereka akan tetap terus berjuang untuk meniadakannya.

Apakah kedua aliran ini akan hilang begitu saja? Ekstrim kiri mungkin kurang menarik lagi karena telah terbukti gagal, namun ekstrim kanan masih menarik. Sebagaimana kita lihat di Afrika, Eropa, Asia Tengah dan Indonesia, mereka tidak menyerah begitu saja. Sebaliknya, teknologi dan demokrasi digunakan untuk menyebarkan aliran ini. Apakah mereka akan berhasil, tergantung pada kekuatan pemerintah masing-masing negara mempertahankan nilai-nilai liberalisme. Bahkan di abad ke 21, liberalisme tetap harus diperjuangkan di banyak bagian dunia, karena jika tidak, ideologi lain yang bersifat totaliter masih mengancam dan menarik banyak pengikut dengan mudah.

Disamping hal-hal di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan. Penulis cenderung terlalu optimis, sehingga tidak memberi tempat untuk membahas hal-hal yang menjadi kelemahan sistem demokrasi di negara berkembang dan terbelakang dan sangat yakin bahwa demokrasi, pasar bebas, liberalisme murni, otomatis akan membawa kebaikan di segala tempat, budaya, tingkat ekonomi dan pendidikan, dan akan menurunkan kekerasan lebih jauh lagi. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar, karena untuk berhasil, sistem tersebut memerlukan beberapa prasyarat, yang tidak selalu dimiliki oleh suatu negara. Kedua, uraian mengenai sejarah kekerasan terlalu panjang sedangkan uraian dari sisi psikologi terlalu sedikit