Friday, November 02, 2007

The Making of the Fittest - DNA and Evolution



Judul : The Making of the Fittest –
DNA and the Ultimate Forensic Record of Evolution
Pengarang : Sean B. Carrol
Penerbit : W.W. Norton and Co., NY
Tahun : 2006
Tebal : 286 hal

Banyak orang pernah mendengar dan mungkin sedikit mengerti tentang DNA; bahwa test DNA dapat memberi banyak manfaat bagi keluarga atau penyelidikan kriminal, misalnya untuk memastikan ayah seorang anak, identitas jenazah yang rusak, pembunuh seseorang, hingga diagnosa penyakit genetik. Bahkan di AS, test DNA telah menyelamatkan banyak orang dari hukuman penjara/mati yang tidak seharusnya akibat salah hukum, karena test DNA lebih akurat daripada bukti sidik jari atau saksi mata.
Ironisnya, masih banyak masyarakat yang tidak dapat menerima bahkan menentang teori evolusi. Padahal, penemuan dan penelitian mengenai DNA justru semakin membuktikan kebenaran teori tersebut, sehingga sungguh aneh jika masyarakat bersedia menerima manfaatnya namun masih menentang evolusi.

Buku ini mencoba menjelaskan bukti-bukti tersebut, yang dapat diringkas sebagai berikut:
1. Semua makhluk hidup berasal dari satu leluhur sama, namun sejarah, perbedaan habitat dan perubahan lingkungan yang terjadi selama miliaran tahun menghasilkan beragam jenis makhluk hidup yang tampak sangat berbeda satu sama lain. Meskipun demikian, sejarah perkembangan setiap makhluk hidup individual dan spesies tercatat dalam DNA-nya. Dengan membandingkan DNA antar spesies, dapat diketahui:
a .keterkaitan antara satu spesies dengan lainnya dan kapan terjadi pemisahan
b. kapan sifat (trait) tertentu yang khas muncul dan bagaimana

2. Selama evolusinya, setiap spesies beradaptasi terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya dengan cara melakukan:
a. penghapusan kode DNA yang tidak diperlukan lagi
b. membuat organ baru (invention) dengan memodifikasi organ yang ada
c. meningkatkan/menyempurnakan organ yang ada, antara lain dengan dengan menggandakan kode DNA yang ada.
3. Mekanisme di atas (2a) menghasilkan gen fosil, yaitu kode DNA yang dapat dilacak fungsi asalnya namun telah termutasi dan tidak dapat berfungsi lagi. Modifikasi dan penyempurnaan, yang dapat diketahui dari kenyataan bahwa kode DNA asli telah terdapat pada leluhur suatu spesies jutaan atau ratusan ribu tahun sebelumnya menunjukkan, bahwa organ dan sifat tidak dirancang secara khusus oleh perancang, tetapi merupakan adaptasi yang bersifat jangka pendek dan tidak terencana, karena banyak modifikasi yang menunjukkan bahwa jika dibuat secara terencana maka bekerjanya akan lebih efisien. Banyaknya bukti mengenai hal ini sekaligus menegaskan: gagasan bahwa setiap spesies dirancang dari awal dengan suatu maksud/tujuan (intent) adalah tidak benar.

4. Seleksi alam menjaga suatu sifat, fungsi organ atau bentuk tertentu tetap dimiliki suatu spesies. Jika seleksi alam tidak ada atau menurun karena perubahan habitat atau pergeseran cara hidup spesies, maka kode DNA untuk sifat,fungsi atau bentuk tersebut akan menjadi gen fosil atau hilang sama sekali. Sesuatu yang tidak diperlukan lagi akan mengakibatkan akumulasi mutasi pada kode DNA-nya sehingga sifat atau kemampuan tersebut tidak dapat kembali lagi meskipun kemudian perubahan lingkungan membuat spesies tersebut memerlukan trait/fungsi tersebut kembali. Prinsipnya adalah: lose it or use it. Hal ini mungkin menerangkan mengapa tingkat kepunahan makhuk hidup sangat tinggi: evolusi berjalan satu arah, adaptasi memerlukan waktu panjang, sehingga jika terjadi perubahan lingkungan yang sangat cepat dan makhluk hidup tersebut tidak dapat beradaptasi dengan cepat, ia akan punah.

5. Evolusi bekerja secara berulang. Spesies yang menghadapi masalah dan perubahan lingkungan yang sama, meskipun berada di tempat atau waktu berbeda, akan melakukan adaptasi atau modifikasi pada DNA-nya dengan cara yang mirip atau sama. Hal ini termasuk meakukan perubahan teks DNA pada posisi yang sama, dengan huruf/teks yang sama.

6. Contoh nyata fosilisasi, penghapusan, modifikasi dan inovasi adalah pada icefish, yang hidup di laut Antartika. Leluhur icefish (sejak 500 juta tahun lalu) seperti ikan lainnya, yaitu memiliki sel darah merah, namun icefish sama sekali tidak memiliki sel darah merah, sehingga darahnya bening. Semua makhluk lain akan mati tanpa sel darah merah. Penelitian terhadap DNA menunjukkan bahwa 2 gen yang normalnya berisi kode DNA untuk globin (bagian dari hemoglobin) punah: 1 gen masih ada tapi tak berfungsi, sehingga menjadi fosil gen, 1 gen lainnya terkikis sama sekali. Hal yang mendorong terjadinya perubahan dramatis ini adalah : keperluan dan kesempatan (necessity dan opportunity). Perubahan jangka panjang dalam suhu dan arus laut selama 55 juta tahun menurunkan suhu dari 68 ke 30 derajat F dan terisolasinya Antartika sejak 34 juta tahun lalu, membatasi migrasi populasi ikan, sehingga mereka harus beradaptasi pada perubahan atau punah. Sebagian besar punah, namun satu grup, yaitu icefish (200 spesies) memanfaatkan perubahan ekosistem. Selain perubahan di atas, icefsih juga melakukan modifikasi dengan memiliki insang besar dan kulit scaleless berpori besar, sehingga meningkatkan penyerapan oksigen. Sedangkan inovasinya adalah pembentukan protein antibeku.
Adaptasi pada icefish menunjukkan bahwa sifat/bentuk yang dimilikinya bukanlah rancangan instant atau satu jalan proses progresif, melainkan serangkaian langkah yang terdiri dari : penemuan kode (DNA) baru, pemusnahan kode lama dan modifikasi lebih lanjut dari yang ada -> menegaskan prinsip evolusi, yaitu seleksi alam dan pelanjutan keturunan dengan modifikasi.

7. Penolakan terhadap teori evolusi terutama bukan disebabkan oleh alasan ilmiah, seperti kurangnya bukti atau lemahnya teori, namun lebih disebabkan karena alasan ideologi (misalnya komunis atau fundamentalis kanan) dan karena manusia tidak mampu membayangkan adanya waktu yang jauh melebihi usianya sendiri. Namun menolak teori ini akan mengakibatkan manusia tidak dapat mengerti cara bekerjanya alam, sehingga dapat mengakibatkan kehancuran yang lebih besar bagi bumi, yang pada akhirnya akan menghancurkan manusia sendiri. Contohnya: pengetahuan mengenai icefish dapat memprediksi bahwa pemanasan gobal akan berarti kepunahan mereka, karena icefish telah melepaskan semua kemampuan untuk hidup di iklim lebih hangat, kemampuan/sifat yang hilang tak dapat dimiliki kembali, dan adaptasi memerlukan waktu jutaan tahun. Hal ini dapat berlaku untuk semua jenis binatang.

Uraian dan contoh bukti-bukti terinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. MATEMATIKA Evolusi
Kekuatan seleksi alam dapat dianalogikan dengan perhitungan bunga, yaitu akumulasi dari jumlah kecil, jika bertahun-tahun dapat menjadi besar. Suku bunga dapat dianalogikan dengan koefisien seleksi. Koefisien seleksi ialah perbedaan dalam sukses reproduksi relatif dan survival antara individual yang memiliki suatu sifat (trait) dengan yang tidak. Contoh: jika individu dengan sifat tertentu memperoleh keuntungan sehingga dapat menghasilkan 101 keturunan dan individu yang tidak memiliki sifat tertentu hanya menghasilkan 100 keturunan, maka koefisien seleksi adalah positif 1%, dan sebaliknya. Jika hal ini terjadi selama puluhan, ratusan atau ribuan tahun, maka pemilik sifat tadi akan terakumulasi sehingga trait tersebut dapat dimiliki oleh sebagian besar (misanya 90%) populasi. Sebagai contoh adalah moth berwarna gelap, yang memiliki koefisien negatif 0,20%. Selama 50 tahun terakhir populasi moth warna gelap menurun dari 90% menjadi kurang 10% dari seluruh populasi, karena membaiknya kondisi lingkungan daerah industri di Inggris.

2. SELEKSI ALAM MENOLAK PERUBAHAN MERUGIKAN
Survival dari gen individual melalui periode geologi yang panjang menunjukkan:
a. kekuatan penjagaan dari seleksi alam
b. kunci evolusi kehidupan leluhur kuno
c. adanya gen abadi (immortal), yaitu gen yang telah ada sejak leluhur awal, yang dapat menujukkan derajat keterkaitan antar jenis makhluk hidup.
Selama miliaran tahun gen menghadapi mutasi, yang dapat mengubahnya ke arah merugikan. Namun seleksi alam menjaga gen dari perubahan yang merugikan dengan cara redundansi kode genetik. Yaitu sekuens kode asam amino dapat berbeda tetapi asam amino yang dihasilkan tetap sama. Contoh: sekuens DNA asli untuk menghasilkan asam amino leucine adalah TTA, namun mutasinya, yaitu TTG dan CTA, serta mutasi gandanya CTT dan CTC, tetap menghasilkan leucine. Perubahan yang tidak mengubah arti triplet ini disebut sinonim, yang mengubah arti disebut nonsinonim. Tanpa seleksi alam, maka rasio perubahan sinonim dengan nonsinonim adalah 1:3. Penjagaan seleksi alam tersebut memungkinkan adanya gen immortal.
Ditemukannya gen imortal pada manusia dan archaea yang berumur 3 miliar tahun menunjukkan keterkaitan leluhur manusia dengan archaea.

3. GEN BARU MODIFIKASI LAMA
Kemampuan melihat dan membedakan warna merupakan hasil modifikasi atas gen opsin, yang dapat dilihat buktinya pada monyet dan primata, ikan laut dalam, dan burung, sebagai upaya adaptasi terhadap habitat dan gaya hidup yang berbeda.
Warna dapat kita lihat karena satu set molekul dalam retina mendeteksi cahaya, kemudian disampaikan ke otak, tetapi warna yang dapat dideteksi setiap spesies berbeda. Cahaya putih adalah campuran warna dari ungu,biru,kuning,jingga,hijau dan merah, dengan panjang gelombang berbeda, dari 400 nanometer (nm) (ungu) ke 700 nm (merah). Warna suatu obyek adalah panjang gelombang cahaya yang diserap atau dipantulkan, dan hal ini tergantung molekulnya. Contohnya: rumput berwarna hijau karena ia menyerap semua panjang gelombang cahaya kecuali hijau; cahaya hijau dipantulkan. Cahaya matahari yang tidak dapat kita lihat ialah yang mengandung panjang gelombang lebih pendek (krg dr 400nm),ikan laut dalam hanya warna kebiruan (s.d. 485 nm), dan sebagian besar mamalia hanya sampai dengan warna hijau (520 nm). Mengapa? Karena susunan protein pigmen visual yang terdapat pada retina setiap spesies berbeda-beda. Pigmen visual ini terbuat dari protein opsin dan molekul kecil yang disebut chromophore. Sensitivitas cahaya dari pigmen visual ditentukan oleh sekuens tertentu dari protein opsin dan bagaimana chromophore berinteraksi dengannya. Manusia memiliki 3 pigmen visual berbeda, yang sensitif atas gelombang cahaya pendek, sedang dan panjang, yaitu opsin SWS (417 nm), MWS (530 nm) dan LWS (560 nm, merah). Pigmen keempat, rhodopsin (497 nm), digunakan untuk melihat dalam gelap atau cahaya redup. Makhluk yang dapat melihat ketiga gelombang chromophorenya disebut trichromatric. Setiap opsin disandi (encode) oleh gen terpisah. Ketiga gen opsin manusia juga terdapat pada primata lainnya, namun sebagian besar mamalia hanya memiliki dua gen opsin, atau dichromatic. Selain itu, pada mata terdapat dua jenis reseptor, yaitu cone (kerucut) dan rod. Cone dapat melihat warna, sedang rod tidak dapat membedakan panjang gelombang, sehingga tidak dapat membedakan warna dan digunakan untuk malam hari.
a.
Primata
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa burung dan ikan, yang leluhurnya muncul lebih dulu dari primata, memiliki 4 s.d. 5 gen opsin, namun mengapa mamalia pada umumnya hanya memiliki 2 gen opsin dan primata 3 gen opsin? Hal ini berarti terdapat gen opsin yang hilang pada mamalia dan primata. Dilihat dari sejarahnya, hal tersebut karena mamalia sempat menjadi nocturnal (binatang yang aktif pada malam hari), yaitu pada masa dinosaurus menguasai bumi, sehingga tidak terlalu memerlukan melihat warna. Kemudian, setelah leluhur mamalia dan primata berpisah, satu gen opsin muncul kembali pada primata. Namun mengapa 3 gen opsin didukung oleh seleksi alam? Dari penelitian terhadap monyet colobus dan simpanse di Uganda, lemur di Madagaskar dan monyet laba-laba di Costarica, kemampuan melihat warna merah diperlukan untuk mendapatkan makanan yang lebih baik, karena di hutan, daun muda yang tinggi nutrisinya dan lebih lembut berwarna merah, dan buah tidak selalu tersedia dengan cukup. Betapa seleksi alam mendukung hal ini dapat dilihat dari rendahnya tingkat buta warna pada monyet macaque (<1%).>

. b.Ikan laut dalam
Pada laut yang dalam, tidak banyak cahaya yang masuk dan hanya cahaya kebiruan yang tersedia. Adaptasi terhadap hal ini mengakibatkan rhodopsin dari ikan laut dalam dan lumba-lumba bergeser ke warna biru, dengan menyesuaikan ke 10 s.d. 20 nm ke akhir spektrum cahaya biru. Caranya dengan melakukan penggantian asam amino di satu spesies dengan asam amino yang lain.
c. Burung
Untuk dapat melihat kisaran warna ultraviolet, burung melakukan modifikasi dengan mengubah satu asam amino pada opsin SWS. Pada posisi 90, dengan asam amino serine dapat dilihat kisaran warna violet, namun jika pada posisi tersebut diganti dengan asam amino cystline, burung dapat melihat warna ultraviolet, dan sebaliknya. Dengan demikian tampak bahwa à satu langkah sederhana perubahan tunggal saja dapat mengubah fungsi opsin SWS.
Pada burung, modifikasi ini diperlukan untuk
· Seleksi seksual, misalnya pada starling, pemilihan pasangan oleh betina bergantung pada daya tarik warna bulu, yang hanya dapat dilihat dengan warna ultraviolet.
· Alat bagi induk burung untuk mengetahui sarang anaknya pada malam hari dari warna ultraviolet pada paruh anak.
· Membantu memburu mangsa, karena burung blue tits menggunakan penglihatan ultraviolet untuk mendeteksi ulat bulu yang tersamarkan jika dilihat dengan penglihatan biasa.
Kemampuan melihat ultraviolet juga terdapat pada ikan, amfibi, reptile dan kelelawar untuk berbagai keperluan, sehingga: satu inovasi dapat menciptakan kesempatan untuk mengembangkan berbagai inovasi tambahan.

4. GEN FOSIL
Gen dapat terfosilisasi atau hilang seluruhnya jika tidak diperlukan lagi oleh lingkungan (adanya relaksasi seleksi alam), sebagaimana terjadi pada icefish, ikan purba coelacanth, lumba-lumba, bunga yang berwarna-warni, ragi, bakteri pathogen, dan manusia. Hal ini dapat terlihat dari rusaknya teks gen fosil, sehingga kode genetiknya berantakan (decayed) dan terkikis seiring berjalannya waktu.
a. Coelacanth
Leluhur ikan purba coelacanth, memiliki gen opsin MWS dan LWS, namun coelacanth tidak memilikinya dan hanya memiliki rhodopsin untuk melihat dalam cahaya suram serta 1 gen opsin SWS yang telah mengalami banyak kekacauan dalam teksnya. Misalnya pada posisi 200-202 kode DNA tikus dan spesies lain basenya CGA, pada coelacanth TGA. Triplet ini merupakan tanda berhenti yang berfungsi untuk melenyapkan translasi dari sisa teks opsin SWS, yang berarti melenyapkan kemampuan coelacanth untuk membuat protein opsin SWS yang fungsional. Banyaknya kekacauan pada kode opsin SWS menunjukkan bahwa gen tersebut telah menjadi fosil, karena tidak dapat berfungsi lagi. Gen tersebut berfungsi pada leluhurnya, namun tidak lagi pada coelacanth saat ini. Karena tak berfungsi, maka akan terus mengakumulasi mutasi dan penghapusan tambahan sehingga pengikisan akan terus berlanjut sampai akhirnya akan terhapus dari DNA selamanya, sebagaimana opsin MWS dan LWS yang telah terhapus.
Paus dan lumba-lumba juga memiliki fosil SWS. Mengapa? Karena seluruh binatang tersebut benar-benar hidup di dalam laut sehingga tidak memerlukan penglihatan berwarna. Jika opsin tersebut tidak lagi dibutuhkan, maka seleksi alam akan direlaksasi, dan jika terjadi relaksasi, tidak ada mekanisme untuk menyingkirkan mutasi gen yang mengganggu fungsinya semula.
b. Binatang Nocturnal (Malam)
Satu-satunya primate nocturnal adalah monyet owl, yang juga memiliki fosil opsin SWS. Sedangkan diurnal monyet owl (aktif di siang hari) memiliki opsin SWS utuh.
Promisians, primate primitif yang terdiri dari lemur, tarsier, bush babies, lorises, juga memiliki gen fosil opsin SWS, terlihat dari adanya sepotong kode yang hilang di dekat awal gen yang menghilangkan kemampuan membuat opsin.
d. Tikus mondok
Tikus mondok yang hidup di bawah tanah memiliki gen opsin MWS dan LWS untuk mendeteksi cahaya guna menjalankan jam biologis, namun gen opsin SWSnya menjadi fosil dan matanya sangat kecil. Catatan fosil menunjukkan bahwa binatang ini berkembang dari leluhur yang hidup di atas tanah dan memiliki mata normal. Perubahan gaya hidup membuat banyak perubahan pada anatomi dan fisiologi.
e. Manusia
Gen pencium merupakan gen terbesar dalam genom mamalia, tampak dari adanya 1400 gen ini dalam 25.000 genom tikus. Gen ini berfungsi untuk mendeteksi bau/aroma yang berbeda; bagaimana aroma tersebut dirasakan tergantung dari reseptor yang mendeteksinya. Dibandingkan dengan tikus, maka setengah dari seluruh gen pencium manusia terfosilisasi. Hal ini tampak pada reseptor yang disandi gen V1R: tikus memiliki 160 reseptor fungsional, manusia hanya 5 reseptor. Mengapa? Manusia tidak lagi bergantung pada penciuman sebagaimana leluhurnya, hal ini berkaitan dengan evolusi pada penglihatan. Evolusi trichromatic vision memungkinkan primata untuk mendeteksi makanan, pasangan dan bahaya secara visual, sehingga mengurangi ketergantungan pada indra penciuman. Relaksasi pada gen pencium membuat kode gen tak beraturan. Hal ini diikuti perubahan fisikal, terlihat dari mengecilnya organ vomeronasal – yang digunakan untuk mendeteksi pheromones/aroma - pada manusia dan primata, dibandingkan dengan vertebrata darat lainnya.
Gen fosil lainnya adalah MYH16, dimana ada 2 penghapusan base dalam kode MYH16, sementara pada simpanse, gorilla, orangutan dan macaque gen ini utuh. Protein MYH16 dibuat dalam subset otot, yang terlibat dalam pergerakan rahang besar pada kera untuk mengunyah. Pada manusia, region temporalis dan otot telah sangat berkurang dibandingkan ketiga primata di atas.
e. Ragi roti
Semua spesies ragi roti dapat menggunakan galaktosa menjadi bentuk glukosa melalui serangkaian langkah pengenziman, dengan 4 enzim berbeda, yang disandi 4 gen berbeda, serta 3 protein lain, sehingga ada 7 gen untuk melakukannya. Namun satu spesies, yaitu S. kudriavzevlii tidak dapat melakukannya, karena tidak seperti ragi lainnya yang hidup di tempat yang kaya gula, spesies ini hidup di daun yang membusuk. Berdasarkan penelitian, setiap gen untuk mengubah galaktosa sudah tidak ada – ada bermacam potongan kode yang hilang dan memusnahkan kesatuan teksnya.
f. Bakteri lepra
Gen dari mikroba penyebab penyakit lepra, Mycrobacterium leprae mengandung 1600 gen fungsional dan 1100 gen fosil. Sementara itu, keluarga dekatnya, M. tuberculosis memiliki 4000 gen utuh dan hanya 6 fosil gen. Mengapa terjadi perbedaan begitu besar?
Hal ini disebabkan perbedaan gaya hidup. M. leprae hanya dapat hidup di dalam sel hostnya (tuan rumah/ makhluk yang didiaminya). Ia tinggal di dalam sel macrophages dan menginfeksi sel dari system syaraf peripheral. Hidup di dalam sel host membuat M. leprae mengandalkan banyak proses metabolisme pada hostnya, sehingga merelaksasi seleksi pada pemeliharaan banyak gen M. leprae. Peningkatan kekacauan gen (fosilisasi) seperti ini juga terjadi pada parasit dan pathogen intraselular lainnya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan:
· Fosilisasi dan hilangnya gen menimbulkan batasan pada arah masa depan evolusi dalam garis keturunan selanjutnya.
· Pengawasan oleh seleksi alam hanya bertindak pada saat ini – ia tidak dapat merencana masa depan.
· Jika kondisi berubah, bahkan dalam jangka panjang, spesies yang telah kehilangan gen tertentu tidak akan memiliki gen yang tersedia untuk beradaptasi dengan kondisi baru.
· Fosilisasi membuktikan bahwa pembuatan spesies tidak ada rancangan atau tujuan. Contohnya pada bakteri leprosy, tidak ada bukti bahwa bakteri tersebut dirancang sedemikian, tapi organisme ini adalah versi Mycrobacterium yang dilucuti, yang masih membawa lebih dari 1000 gen tak berguna, berantakan, bekas leluhurnya. Manusia juga masih membawa bekas genetik dari sistem penciuman yang dulu lebih kuat dari saat ini.

5. SELEKSI ALAM PADA MANUSIA
Gen manusia menunjukkan: perlombaan terus menerus dengan penyakit, adanya seleksi alam, dan bekerjanya seleksi alam dengan material yang tersedia (bukan dengan penyelesaian terbaik). Bukti-bukti ini meniadakan keyakinan kita akan adanya kemajuan dan rancangan, dan menegaskan bahwa keperluan akan suatu manfaat tertentu harus diperoleh dengan suatu biaya, bahkan jika biaya tersebut cukup besar.
a. Perbedaan warna kulit.
Terdapat korelasi antara tingkat radiasi ultraviolet pada lokasi berbeda di dunia dengan bervariasinya pigmen kulit. Pigmen (melanin) adalah tabir surya alami yang efisien dalam menyerap radiasi ultraviolet, yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel. Komponen utama pembentukan melanin adalah Melanocortin-1 receptor (MC1R), reseptor sama yang terdapat pada bulu dan warna kulit. Produksi melanin dikendalikan oleh hormone yang dibuat di suatu bagian kelenjar pitutary, αMSH, yang mengikat reseptor MCiR dan menstimulasi pembentukan melanin.
Pada orang Eropa yang berambut merah, terdapat mutasi MC1R yang menyebabkan penggantian satu asam amino dengan asam amino lainnya, sedang pada populasi Eropa dan Asia terdapat minimum 13 variasi berbeda dari gen MC1R, 10 diantaranya mengubah protein MC1R dan 3 tidak (sinonim substitusi). Pada populasi Afrika, ada 5 varian gen MC1R, semua sinonim dan tidak ada varian pada protein MC1R. Perbedaan rasio dari nonsinonim dan sinonim pada non Afrika (10:3) dan Afrika (3:10) sangat signifikan sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa seleksi alam telah mencegah terjadinya perubahan protein MC1R pada orang Afrika karena hidup di wilayah tersebut memerlukan produksi melanin yang tinggi untuk melindungi dari radiasi matahari dan ultraviolet yang tinggi.
b. Sickle cell (sel bentuk sabit)
Memiliki 2 mutasi sel darah merah berbentuk sabit (sickle cell) berdampak merugikan, namun mereka yang memiliki 1 mutasi relatif resisten terhadap infeksi malaria. Mereka ini tinggal di daerah malaria dan sekitarnya.
Mutasi sickle cell disebabkan perubahan tunggal dalam triplet ke enam dari gen (dari GAG ke GAT). Mutasi ini muncul ada 5 waktu berbeda, yaitu di Bantu, benin, Senegal, Kamerun dan India.
c. Mutasi enzim GGPD
Mutasi enzim GGPD mengakibatkan defisiensi, yang terjadi pada 400 juta orang. Namun mereka dengan defisiensi ini memiliki muatan parasit malaria yang lebih rendah, yang mengurangi risiko terjangkit malaria akut sebesar 46 – 58%.
Mutasi gen GGPD baru muncul pada masa sekitar 3200-7700 tahun terakhir. Masa ini bersamaan dengan masa munculnya pertanian, yang menimbulkan kemungkinan bahwa efek malaria pada evolusi adalah relatif baru. Ketika manusia membuka hutan untuk pertanian, hal itu meningkatkan kolam/genangan air tempat nyamuk berkembang biak. Meningkatnya jumlah nyamuk, kepadatan populasi manusia termauk pemukinan, mungkin menyebabkan malaria dan membentuk perlombaan evolusioner antara parasit, nyamuk dan manusia. Pengobatan malaria yang selalu menimbulkan resistensi pada obat-obat tersebut dengan mutasi gen menunjukkan adanya lingkaran berulang, sehingga digunakan kombinasi beberapa obat.
d. Mutasi protein Duffy
Selain itu, terdapat mutasi yang menghilangkan protein Duffy, yaitu tempat parasit memasuki sel darah merah, yang terjadi pada seluruh populasi (100%) Afrika, namun tidak terdapat di Asia/Kaukasia.

6. EVO DEVO dan Pembuatan serta Evolusi Kompleksitas
Bagaimana terbentuknya spesies dan evolusi feature kompleks di atas level spesies (makroevolusi)?
(1) Kesamaan Prinsip
Penemuan mengenai gen pembentuk mata Pax-6 menunjukkan bahwa terdapat kesamaan prinsip dalam pembuatan mata pada semua makhuk hidup, terlihat dari miripnya sekuens protein pembentuk Pax-6 antara lalat buah, tikus dan manusia, dan kesamaan antara tikus dan manusia. Berdasarkan penelitian, hal ini karena adanya hubungan dan kesamaan prinsip, terlihat dari:
a. Pax-6 tikus dan lalat dapat saling bertukar dalam pengembangan mata lalat.
Pengaktifan Pax-6 lalat di tempat-tempat lain (kaki dll) dapat menumbuhkan selaput mata, gen Pax-6 tikus dapat menumbuhkan selaput mata lalat.
b. Pax-6 yang diisolasi dari dari cumi, cacing pita dapat digunakan untuk pengembangan mata binatang tersebut.
Hal di atas menunjukkan: gen tersebut selain memiliki kesamaan sekuens juga kesamaan kemampuan, dan leluhur dari binatang-binatang tersebut menggunakan Pax-6 untuk pengembangan mata yang sangat primitif, dan keturunan leluhur ini mengembangkan mata yang lebih kompeks berdasarkan fondasi ini.
Fondasi dan bahan yang tersedia untuk ini adalah:
· Sel pendeteksi cahaya
· Sel pigmen yang mengatur angle cahaya yang mencapai sel fotoreseptor
Mata tersebut juga dibangun dengan menggunakan bahan lain, yaitu protein opsin.
Sebagaimana fotoreseptor adalah jenis sel purba, demikian pula jenis sel-sel yang membentuk banyak selaput dan organ lain. Penemuan evo devo menunjukkan bahwa pembangunan hati, otot, system syaraf, pencernaan dan anggota tubuh segala jenis binatang juga berdasarkan alat genetik (tool-kit) dan gen pembentuk organ yang mirip, yaitu tool kit purba dan telah terdapat juga pada leluhur awal (common ancestor) sebeum berkembangnya sebagian besar binatang.

(2) Keanekaragaman
Keanekaragaman makhluk hidup dapat dihasilkan dari penggunaan gen pembentukan tubuh yang mirip dengan cara berbeda. Mutasi tool kit fisiologi, seperti opsin, reseptor, dapat mempengaruhi berfungsinya organ, misalnya mempengaruhi kemampuan melihat. Oleh karena itu evolusi bentuk cenderung dengan mengubah cara penggunaan tool kit protein daripada mengubah tool kit protein itu sendiri, sebab tool kit pembentuk umumnya mengatur pembentukan beberapa bagian tubuh, sehingga jika terjadi mutasi pada satu bagian (misalnya mata) dapat menghilangkan mata seluruhnya atau mempengaruhi bagian tubuh lain.
Contoh perubahan cara penggunaan tool kit adalah perubahan bentuk pelvic pada ikan dan anggota badan pada mamalia. Perubahan gen Pitxl pada ikan stickleback di danau Amerika memperkecil tulang pelvic ikan di dasar danau, yang didorong oleh seleksi alam karena pelvic yang panjang merugikan, sebab larva dragonfly memangsa ikan stickleback muda dengan cara menangkap/grab spine mereka.
Pengecilan ukuran tulang pelvic dilakukan dengan pengaturan aktivasi dan non aktivasi switch yang terdapat pada sekuens DNA yang dapat diatur. Switch menentukan kapan dan dimana setiap gen digunakan atau tidak digunakan dengan cara mengaktifkan dan menonaktifkan sekuens tertentu. Jadi dengan sekuens yang sama namun penempatan pengaktifan dan penonaktifan switch yang berbeda saja, dapat dihasilkan variasi warna bulu, motif atau bentuk anggota tubuh sehingga menghasilkan keanekaragaman tak terbatas.

Uraian terinci mengenai pembentukan keanekaragaman dengan pengaturan switch terdapat dalam buku penulis sebelumnya Endless Forms Most Beautiful: The New Science of Evo Devo, finalis 2005 Los Angeles Times Book Prize.
Penulis buku ini, S.B. Carrol (46 tahun) adalah investigator pada Institut Medis Howard Hughes dan professor genetika di Univ. of Wisconsin, merupakan salah satu biologist terkemuka saat ini dan salah satu pendiri ilmu baru evolutionary developmental (evo devo) biology.

The Making of the Fittest merupakan buku terbaru yang terbaik mengenai evolusi, yang diuraikan dengan susunan dan bahasa Inggris yang relatif mudah dibandingkan buku sejenis, namun dengan lebih banyak informasi termutakhir.

Monday, October 22, 2007

An Illusion of Harmony



Judul : An Illusion of Harmony: Science and Religion in Islam
Pengarang : Taner Edis
Penerbit : Prometheus Books, NY
Tahun : 2007
Tebal : 251 hal

Buku ini hendak menjawab pertanyaan: mengapa setelah lebih dari seratus tahun, umat Islam tetap tidak mampu mengejar ketinggalannya dalam sains dengan bangsa Barat? Bukankah umat Islam selalu mengumandangkan hadis yang mendorong agar menuntut ilmu, bahkan hingga ke negeri Cina, dan umat Islam juga selalu mengenang kejayaan ilmuwan Islam pada zaman pertengahan (abad kegelapan di Eropa)? Apakah sebabnya hanya karena negara-negara Islam saat ini pada umumnya miskin dan korup, sehingga tidak memiliki dana untuk mengembangkan ilmu? Tapi mengapa di negara kaya – seperti Arab – sains juga tidak berkembang?
Penulis, fisikawan berdarah Turki-Amerika yang dibesarkan di Turki dan kini mengajar di universitas di Amerika, mencoba menguraikan permasalahan di atas terutama berdasarkan kondisi di Turki, yang cukup baik diketahuinya. Meskipun demikian, pembahasannya relevan untuk negara-negara mayoritas Islam lainnya, termasuk Indonesia. Turki adalah negara berkembang yang relatif miskin, korup, berusaha untuk sekuler namun kini mengalami kebangkitan agama, suatu kondisi yang tidak beda jauh dengan Indonesia atau negara Islam lainnya.
Menurut Taner Edis, anggapan umat Islam bahwa kejayaan ilmuwan Islam seperti zaman pertengahan dulu akan dapat dicapai adalah tidak relevan, karena sains di zaman tersebut sangat berbeda sifatnya dengan sains modern, sehingga apabila dibandingkan, hampir tidak ada yang tersisa dari “sains” di zaman tersebut. Sains modern sangat bersifat empiris, eksperimental, dan memerlukan peralatan yang mahal, disamping itu untuk melakukannya harus berada dalam kerangka teori yang mendasarinya. Hal ini tidak ada dalam zaman pertengahan dulu. Sayangnya, kerangka teori yang mendasari ilmu murni sebagian besar tidak dapat diterima oleh umat Isam, karena dianggap tidak sesuai dengan agama (Qur’an dan hadits). Sains modern berusaha menjelaskan segala sesuatu berdasarkan sebab alami, bersifat materialis dan reduksionis, sementara negara Islam selalu memberi batasan bahwa sains harus menunjukkan bahwa segala sesuatu adalah rancangan dan pemeliharaan Tuhan. Tidak heran bahwa aliran creationism dan intelligent design mendapat dukungan besar. Namun sebagai akibatnya, umat Islam tidak pernah melakukan penelitian ilmu-ilmu murni – seperti biologi, fisika, neuroscience – dan hanya bersedia mempelajari ilmu-ilmu terapan, misalnya teknik dan kedokteran. Selama hal ini terjadi, maka umat Islam akan harus mengimpor teknologi, karena tidak mengembangkan sendiri ilmu murninya.
Penulis mengambil contoh, bahwa teori evolusi tidak dapat diterima oleh umat Islam, padahal teori ini telah menjadi dasar untuk banyak ilmu-ilmu lain, tidak hanya terbatas pada biologi, sehingga mengabaikannya akan berakibat cukup fatal untuk mengembangkan sains. Demikian pula penelitian neuroscience dll untuk menyelidiki mengapa seseorang beragama tidak akan mungkin dilakukan di negara Islam, karena dianggap sudah seharusnya. Hal ini karena negara selalu membatasi sains yang dapat dilaksanakan oleh ilmuwan, dan karena negara Islam lebih bersifat komunal, maka ilmuwannya pun pada umumnya religius dan mendukung pembatasan yang diberikan. Mereka berusaha mencari sesuatu yang khas Islam, tapi selalu akhirnya kembali kepada doktrin tradisional yang penuh pembatasan. Hal ini berbeda dengan di negara Barat, dimana kaum beragama terdiri dari kaum konservatif dan liberal. Adanya penganut agama yang liberal memungkinkan pemisahan antara agama dan sains, sehingga tidak ada pembatasan terhadap penelitian yang dapat dilakukan, dan ilmuwan dapat berpikir merdeka tanpa harus mendukung agama tertentu. Oleh karena itu penulis menyarankan, jika umat Islam ingin memajukan sains, maka tumbuhkanlah kaum liberal di negara Islam agar ilmuwan memperoleh kebebasan. Namun jika umat Islam merasa harga yang harus dibayar untuk itu terlalu mahal dan tetap ingin mempertahankan komunalisme dan konservatisme, maka jangan berharap terlalu banyak untuk dapat mengembangkan ilmu murni, sehingga mungkin selamanya harus bergantung ke Barat, karena teknologi saja tidak dapat berkembang tanpa didukung ilmu-ilmu murni, dan ilmu-ilmu murni tak dapat dikembangkan tanpa kerangka teoritis - yang umat Islam tidak bersedia menerimanya.
Tampaknya analisis Taner Edis benar adanya, karena selama ini saya belum pernah melihat ilmuwan Indonesia yang tidak religius, bahkan ada biologist dan fisikawan yang menentang teori evolusi, dan buku-buku Harun Yahya bertebaran dimana-mana dan dipuji-puji di internet. Sementara buku penyeimbangnya... hanya satu dua dan tidak jelas ada di toko mana.

Friday, October 19, 2007

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur



Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - Memoar Luka Seorang Muslimah
Pengarang : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPta Manent
Tahun : 2007 (Cet. 11)
Tebal : 261 hal


Novel ini mengisahkan seorang mahasiswi alim dan cerdas bernama Kirani, yang kemudian tertarik dan masuk menjadi anggota Jemaah, yaitu suatu organisasi rahasia yang bertujuan menegakkan syariat Islam dengan mendirikan negara Islam di Indonesia.

Setelah menjadi anggota Jemaah, mula-mula Kirani bersemangat melakukan dakwah dan menyumbangkan dana secara teratur dalam jumlah cukup besar, sampai ia berani mengajak keluarga dan teman-teman sekampungnya untuk mengikuti jejaknya. Namun tindakannya ternyata diketahui oleh aparat keamanan yang kemudian memburunya, sehingga ia dibenci oleh orang sekampungnya dan harus bersembunyi di sebuah tempat kos selama beberapa bulan. Meskipun demikian, Kirani harus menghadapi kekecewaan yang semakin besar, karena ternyata anggota Jemaah lainnya tidak melakukan dakwah sebagaimana dirinya dan hanya bersantai. Sementara itu sebagai gadis yang cerdas dan bersemangat juang, upayanya untuk membahas strategi perjuangan, mengetahui luasnya jaringan dan arah serta kondisi organisasi selalu kandas karena ternyata tidak seorangpun diantara rekan-rekan anggota jemaah yang tinggal bersamanya atau dikenalnya mengetahui hal tersebut, bahkan mereka tidak berusaha untuk mengetahuinya serta menegurnya jika ia teralu banyak bertanya.

Setelah tiga tahun, keadaan di atas membuatnya frustrasi. Kirani merasa imannya, perjuangannya, pengorbanannya selama ini tidak dihargai dengan sepantasnya. Ia merasa berdosa kepada keluarganya karena selama ini – sesuai anjuran Jemaah – telah memberikan banyak dana yang seharusnya untuk hal lain kepada Jemaah. Ia telah dibenci orang sekampungnya karena mengajak mereka masuk Jemaah. Namun ia tetap tidak boleh mengetahui apapun tentang organisasi tersebut dan hanya diminta menjadi anggota dan menunggu serta menunggu tanpa berbuat apa-apa. Hal ini membuatnya merasa sia-sia menjadi anggota Jemaah, sehingga pada suatu hari, bersama dengan tiga orang sahabatnya anggota Jemaah, mereka melarikan diri. Setelah melarikan diri inilah Kirani kemudian mengalami kekecewaan yang sangat, sehingga ia berontak, dengan menolak semua hal yang dulu diperjuangkannya di Jemaah. Sebaliknya, kini ia mempertanyakan kembali semuanya: agama, Tuhan, standar moralitas yang diterima masyarakat sekelilingnya, dan status perempuan.
Pemberontakan Kirani yang menjadi pelacur mengingatkan pada novel Nawal El Sadaawi, Perempuan di Titik Nol. Namun dalam novel Sadaawi, pemberontakan tersebut terutama disebabkan kondisi masyarakat patriarki – dengan didukung oleh agama - yang terus-menerus menghinakan dan menindas tokoh perempuan di dalamnya. Meskipun demikian, dari profesi tersebut kesimpulan keduanya sama: masyarakat patriarki yang tampaknya religius sebenarnya penuh kemunafikan, dan korbannya adalah perempuan. Dengan demikian novel ini juga menyuarakan feminisme.
Hal yang menarik bagi saya adalah gambaran mengenai Jemaah. Kisah ini dapat mengingatkan kita untuk waspada, karena gerakan ini mungkin saja ada di sekitar kita namun kita tidak menyadarinya, karena saya pernah juga membaca tentang pengakuan seorang mantan anggota gerakan semacam ini, yang kemudian tersadar setelah membaca buku tulisan Nawal El Sadaawi dan kemudian beralih haluan menjadi feminis. Sama seperti digambarkan dalam novel ini, gerakan tersebut seperti sel-sel, anggota tidak mengetahui apa-apa tentang jaringan organisasi, strategi serta pemimpinnya, dan jika anggota tersebut keluar, segalanya terputus. Namun tidak masalah, karena anggota biasa tidak mengetahui apapun.

Selain gambaran mengenai Jemaah, bagian yang menarik adalah ketika Kirani telah memberontak dan kemudian mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterimanya begitu saja. Kirani kemudian mempertanyakan, untuk apa Tuhan menciptakan manusia? Mengapa Tuhan membuat ciptaanNya menderita? Mengapa Tuhan menciptakan manusia untuk saling bermusuhan karena itu merupakan kekejaman? Untuk apa manusia beribadah jika tidak tahu untuk apa ia diciptakan, untuk apa beribadah jika hanya karena takut, mengapa Tuhan senang menakuti manusia? Apa artinya orang-orang bertitel dan terpandang yang tak pernah berpikir dan melakukan pencarian makna hidup dan hanya beribadah saja?
Pertanyaan-pertanyaan di atas menarik, karena itulah yang selalu ditanyakan oleh mereka yang berpikiran bebas; hanya mereka yang berpikiran bebas yang berani bertanya seperti itu, dan di Indonesia, jumlahnya tidak banyak, kalau bisa dibilang hampir tidak ada. Mengapa? Karena setiap orang wajib beragama, dan jawaban semua itu ada di agama. Sehingga menanyakan hal-hal di atas akan dianggap tidak beragama. Tapi sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di atas adalah ungkapan seseorang yang jujur dan rasional. Tidak harus merupakan pertanyaan seorang perempuan yang kecewa dan marah. Namun agama memang selalu melarang pertanyaan yang terlalu jauh, karena kejujuran dan rasionalisme akan mengarah pada skeptisisme dan perlunya pembuktian. Itu sebabnya agama diajarkan sedini mungkin dalam bentuk indoktrinasi dan ancaman, karena jika tidak, dapat diruntuhkan oleh pikiran rasional, kritis, jujur dan bukti-bukti empiris. Itu sebabnya pula sebagian besar ilmuwan dan pemikir besar tak percaya agama.
Hal menarik lainnya adalah gambaran ketika Kirani mengingat-ingat hal yang membuatnya dulu taat beribadah. Ternyata hal itu disebabkan ketika ia kecil guru mengajinya menguraikan keadaan neraka yang sangat mengerikan – tentang api, pemotongan dan penusukan tubuh seperti sate, yang diperjelas dengan gambar-gambar – sesuatu yang tentu mengingatkan kita akan pendidikan agama di masa kecil kita sendiri. Ini mungkin menyadarkan pembaca: ternyata ketaatan itu bermula dari rasa takut akan neraka yang ditanamkan ketika masa kanak-kanak. Dan hal ini sangat efektif, terbukti setelah dewasa sebagian besar orang tidak lagi berani berpikir karena ingatan akan hal ini. Dan ini tidak hanya dialami penganut agama Islam.
Di tengah-tengah kebangkitan konservatisme agama, maka novel ini memberikan alternatif kepada pembaca untuk merenungkan kembali keyakinannya, meskipun harus melalui seorang pelacur, sehingga kisah mengenai hubungan bebas agak terlalu banyak terdapat dalam novel ini. Akan lebih baik jika tidak terlalu banyak, sehingga pertanyaan-pertanyaan di atas akan tampak lebih berarti dan wajar, tidak seperti pertanyaan yang hanya pantas disuarakan oleh seseorang yang terlalu putus asa dan merasa terpinggirkan.
Muhidin adalah penulis muda yang menjanjikan. Jika ia tetap berpikiran bebas dan terus belajar berbagai hal, tidak hanya yang berkaitan dengan agama, ia akan menjadi penulis yang dapat memberikan banyak hal kepada pembacanya.

Sunday, September 30, 2007

EVOLUTION FOR EVERYONE



Judul : Evolution for Everyone - How Darwin's Theory Can Change the Way We Think About
Our Lives
Pengarang : David Sloan Wilson
Penerbit : Bantam Dell, NY
Tahun : 2007
Tebal : 376 hal


Buku ini mencoba memperkenalkan teori evolusi kepada masyarakat awam dengan cara yang sederhana dan contoh konkrit, dipadu dengan kisah penulisnya dalam menekuni karir sebagai ilmuwan. Pada intinya penulis ingin mengemukakan bahwa mengenal prinsip teori evolusi adalah wajib jika kita ingin memahami kehidupan kita dengan lebih baik dan mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari semua kejadian yang kita alami atau alam sekitar kita. Untuk itu kita harus memahami prinsip dasar dari teori evolusi, yaitu seleksi alam. Seleksi alam berkaitan erat dengan adaptasi.

Uraian penulis dibagi dalam 35 bab pendek yang masing-masing tidak selalu berkaitan, namun sebaiknya dibaca berurut. Penulis antara lain menjelaskan mengenai perbedaan kemampuan adaptasi antara hewan dengan manusia, bagaimana homicide dan infantisida pada masyarakat manusia dapat dipahami jika kita mengerti bahwa hal tersebut juga terjadi pada makhluk lainnya, bahwa hewan juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda, seperti manusia, bagaimana satu kelemahan genetik dapat dipahami berdasarkan prinsip seleksi alam, dan seterusnya.

Dalam menjelaskan hal-hal di atas, penulis menggunakan contoh konkrit antara lain bagaimana ia meneliti kumbang untuk menemukan sebab perilaku mereka dengan menggunakan kerangka seleksi alam, bagaimana ia mengajarkan mahasiswanya untuk memahami evolusi, dan bagaimana berpikir secara evolusionis akan membuat seseorang semakin cerdas dan tidak ingin kembali, alias akan membuatnya ingin terus memperdalamnya karena demikian menarik.

Ditulis dengan bahasa yang segar dan tidak banyak menguraikan teori yang terinci, namun tetap menarik bagi yang telah sering membaca buku mengenai evolusi sekalipun, karena gaya penulisan dan sudut pandang yang berbeda.

OUR INNER APE






Judul : Our Inner Ape – A Leading Primaologist Explains Why We Are Who We Are
Pengarang : Frans de Waal
Penerbit : The Berkeley Publishing Group
Tahun : 2005
Tebal : 270 hal




Frans de Waal, psikolog sekaligus ahli primata Belanda terkemuka yang telah mempelajari perilaku simpanse dan bonobo selama lebih dari 30 tahun dan menulis beberapa buku tentang penelitiannya, menguraikan bagaimana pengetahuan tentang perilaku primata dapat membuat kita lebih memahami perilaku manusia, karena kedua jenis primata di atas paling dekat hubungannya dengan kita diantara mahkluk hidup lainnya. Apakah manusia pada dasarnya kejam dan kompetitif, seperti simpanse? Ataukah sebaliknya, kooperatif dan pencinta damai, seperti bonobo?
Selama ini simpanse lebih sering dihubungkan dengan manusia: masyarakat simpanse sangat hirarkis, kompetisi diantara jantan sangat ketat untuk menjadi alfa (pemimpin), mereka memiliki “politik” mirip manusia, setiap kelompok memiliki wilayah sendiri yang tidak boleh dilalui kelompok lainnya jika tidak ingin terjadi perang hingga pembunuhan, para jantan berburu monyet secara berkelompok dan membunuhnya dengan kejam, serta terdapat infanicide atau pembunuhan bayi jika jantan yang menang menggantikan kedudukan jantan yang kalah dan mengambil alih haremnya. Simpanse juga dapat menggunakan alat, misalnya menggunakan tongkat untuk mengeluarkan termite dari lubang pohon, batu untuk memecah kulit kacang, atau membersihkan kentang dengan air sebelum dimakan, yang dilakukan melalui belajar, artinya suatu kelompok yang tadinya tidak mengetahuinya kemudian dapat melakukannya setelah berinteraksi dengan kelompok lainnya yang telah melakukan lebih dulu.
Berlawanan dengan simpanse, kehidupan bonobo – yang baru belakangan diketahui ternyata berbeda spesies dengan simpanse - jauh lebih damai. Berbeda dengan lingkungan simpanse dimana jantan menjadi penguasa, kelmpok bonobo dipimpin oleh betina, yang cenderung kurang suka berebut kekuasaan dan menghargai senioritas, sehingga kehidupan kelompok bonobo lebih egaliter dan santai. Hasil penelitian menunjukkan, hal itu tampaknya berkaitan dengan lingkungan hidup mereka, yaitu lingkungan bonobo merupakan hutan yang menyediakan cukup banyak makanan, sehingga mereka tidak perlu mencari makan jauh-jauh dan merasa cukup dengan menjadi vegetarian. Hal ini memungkinkan para betina dapat berkumpul di satu tempat bersama-sama membesarkan keturunan mereka, dan dengan adanya kerjasama yang lebih baik diantara mereka, para jantan tidak memiliki banyak kekuasaan. Penulis mengemukakan bahwa perilaku seksual bonobo yang cenderung jauh lebih bebas dari simpanse merupakan strategi betina untuk mencegah infantisida, agar para jantan tidak dapat mengenali anak mereka masing-masing. Hal ini juga membuat mereka merasa tidak perlu berebut kekuasaan seperti simpanse, yang biasa menjatuhkan alfa jantannya setiap empat tahun sekali dan menyebabkan banyaknya infantisida pada kelompok simpanse. Melihat ke masyarakat manusia, penulis menyatakan bahwa ketika manusia masih berupa kelompok-kelompok kecil di hutan-hutan yang luas kehidupan cenderung egaliter, namun ketika kerjasama diantara para laki-laki semakin erat karena mereka harus menempuh bahaya berburu bersama-sama meninggalkan keluarga dalam jangka waktu lama, maka monogami menjadi penting untuk menjamin bahwa mereka memberi makan perempuan dan keturunan mereka sendiri. Selanjutnya ketika masyarakat mulai menetap dan memiliki kekayaan, hal ini semakin penting, agar kekayaan hanya diberikan kepada keturunannya sendiri, yang mengakibatkan pembatasan lebih ketat lagi kepada perempuan. Namun demikian, monogami memungkinkan manusia membangun kebudayaan dan menguasai dunia, karena dunia publik dan privat dipisahkan, tidak seperti bonobo.



Banyak hal menarik yang dikemukakan penulis dalam buku ini, yang merupakan salah satu hasil risetnya selama bertahun-tahun terhadap kedua jenis primata ini. Selain pengamatan mengenai sifat-sifat kedua jenis primata, juga renungan filosofis berdasarkan pengamatan tersebut. Menarik, karena mempelajari mereka dapat membantu kita untuk mencoba memahami bagaimana leluhur manusia berevolusi, yang berarti untuk lebih mengenal diri sendiri. Hal ini mungkin tidak banyak disadari banyak orang, karena banyak yang masih belum mengetahui atau dapat menerima evolusi, sehingga perburuan terhadap primata dan pembabatan hutan tempat mereka tinggal terus berlangsung, dan kepunahan mereka tinggal menunggu waktu. Jika demikian, maka manusia akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari sebagian evolusinya dan akan menjadi satu-satunya spesies yang tersisa.

Monday, August 27, 2007

THE VARIETIES OF SCIENTIFIC EXPERIENCE - A Personal View of the Search for God



Pengarang : Carl Sagan
Penerbit : The Penguin Press, NY
Tahun : 2006
Tebal : 273 halaman, hard cover

There is an enormous amount we do not know; there is a tiny amount that we do. But what we do understand brings us face-to-face with an awesome cosmos that is simply different from the cosmos of our pious ancestors.”

Buku ini adalah kumpulan kuliah Natural Theology yang diberikan Carl Sagan di Glasgow pada tahun 1985 atau Gifford Lectures, dan merupakan tradisi yang telah dimulai sejak ratusan tahun sebelumnya oleh para ilmuwan ternama lainnya seperti Niels Bohr dan lain-lain di tempat yang sama. Ann Druyan sebagai editor menyebutkan bahwa buku ini diterbitkan selain untuk memperingati 10 tahun berpulangnya Sagan juga karena pemikirannya dirasa relevan di tengah kondisi dunia yang semakin terancam oleh fundamentalisme.

Bagi penggemar Carl Sagan, membaca kembali tulisannya tetaplah mengesankan, meskipun itu hanya berupa kumpulan kuliah yang diberikan 22 tahun yang lalu. Menarik karena selain belum pernah diterbitkan, kumpulan kuliah ini menjelaskan lebih spesifik pandangan Sagan mengenai Tuhan beserta proses yang dilaluinya untuk sampai kesana. Kita telah mengetahui bahwa Sagan sangat rasional, anti superstition, mencintai sains dan menyebarkannya dengan semangat kepada sebanyak mungkin orang, namun mengapa Sagan bersikap demikian, baru secara rinci terdapat dalam buku ini.
Bagi yang belum pernah membaca tulisannya, buku ini dapat merupakan perkenalan yang baik karena mudah dibaca, disertai dengan banyak ilustrasi berupa foto-foto galaksi, bintang, planet dan lainnya, serta memberikan pengetahuan dan pencerahan dengan cara yang halus dan menawan.
Dalam bab pertama, Sagan menguraikan luasnya alam semesta dan tidak berartinya bumi di dalamnya dengan 15 gambar. Diuraikan bahwa di alam semesta terdapat paling sedikit miliaran dan mungkin ratusan miliar galaksi yang masing-masing berisi sejumlah bintang sebanyak di galaksi Bima Sakti, sedangkan di galaksi Bima Sakti sendiri terdapat 400 miliar bintang, dimana matahari hanya salah satunya, dan setiap bintang memiliki beberapa planet. Dengan demikian jumlah bintang adalah 100 miliar triliun. Pengetahuan ini, menurutnya, tidak pernah tergambarkan dalam semua kitab suci. Ini hanyalah sebagian penemuan ilmiah yang menurut Sagan sama sekali tidak pernah dapat kita ketahui dari kitab suci, bahkan dalam bentuk paling samar sekalipun. Sebaliknya, kitab-kitab itu menggambarkan alam semesta demikian kecil dan Tuhan demikian membumi, seolah-olah bumi demikian penting. Hal lain, alam semesta juga “hidup” dan berevolusi. Bintang-bintang lahir, mati, dan setiap kematian diiringi dengan ledakan yang menghancurkan planet-planet di sekitarnya, sehingga jika di planet tersebut terdapat kehidupan, maka setiap saat terjadi kehancuran atau kematian besar-besaran. Dengan demikian, sama seperti kehidupan di bumi, maka kehidupan di seluruh alam semesta adalah penuh penderitaan. Semua hal ini, menurut Sagan, tidak sesuai dengan konsep Tuhan dalam agama samawi yang disebutkan pemelihara dan penuh kasih. Selain itu, Tuhan yang digambarkan hanya mengurusi bumi menjadikan Tuhan tersebut tidak sesuai dengan luasnya alam semesta sebagaimana kini kita ketahui. Oleh karena itu, sulit bagi Sagan untuk menerima konsep tradisional tentang Tuhan sebagaimana terdapat dalam agama samawi.
Selanjutnya penulis menguraikan mengapa beberapa argumen yang mendasari keberadaan Tuhan sesuai gambaran agama samawi, yaitu argumen kosmologikal, argumen dari hukum kedua termodinamika, argumen atas dasar rancangan, argumen moral, argumen ontologikal, argumen atas dasar kesadaran, dan argumen berdasar pengalaman kurang meyakinkan. Demikian pula argumen berdasarkan anthropic principle. Anthropic principle adalah pendapat yang mengatakan bahwa semua hukum fisika dan kimia adalah demikian adanya karena untuk memungkinkan manusia dapat hidup dan memiliki intelegensi. Misalnya tingkat gravitasi adalah sebesar tertentu dan bukan besaran lain karena jika berbeda, alam semesta tidak seperti saat ini dan bumi serta makhluk hidup tidak akan pernah dapat exist dan berkembang.
Masalah di atas masih ditambah lagi dengan adanya problem of evil, masalah yang juga menjadi perhatian kaum agamawan sejak ratusan tahun lalu dan tidak terpecahkan dengan baik. Masalah lainnya adalah: mengapa tidak ada pembuktian yang lebih jelas, misalnya dalam kitab suci dituliskan,”Matahari adalah bintang”, atau “Thou shalt not travel faster than light.” Lebih jelasnya: mengapa kitab suci (Tuhan) dapat menguraikan tindakan yang harus dilakukan manusia – misalnya cara berdoa, bertindak kepada sesama - secara terinci (jelas) namun dalam hal pengetahuan mengenai alam semesta (fisika,biologi) demikian samar bahkan tidak sesuai dengan fakta ilmiah?

“ It is possible to design religions that are incapable of disproof. All they have to do is to make statements that cannot be validated or falsified. .. that means you cannot make any statements on how old the world is, ..about evolution, about the shape of earth, and so on. But it is a very rare religion that avoids the temptation to make pronouncements on matters astronomical and physical and biological.”

Membaca buku ini membuat kita memahami mengapa semakin berkualitas seorang ilmuwan semakin hilang kepercayaan kepada agama samawi. Namun kepercayaan tersebut digantikan dengan perasaan kekaguman kepada keluasan dan kompleksitas alam semesta disertai rasa rendah hati yang dalam dan kecintaan kepada bumi sebagai sesuatu yang sangat berarti sehingga harus dipelihara baik-baik dari kerusakan. Hal ini jugalah yang ditawarkan Sagan dalam buku ini; untuk memberikan perasaan yang sama kepada pembaca. Pengetahuan, daya kritis, itulah hal yang berharga. Meskipun sains membuat kita sulit mempercayai kepercayaan tradisional sepenuhnya, namun hal itu justru membuat kita semakin menyadari pentingnya kebersamaan untuk memelihara dan menyelamatkan bumi. Karena bumi dan manusia hanyalah satu titik kecil tak berarti yang hilang di tengah keluasan alam semesta!

HIS DARK MATERIALS TRILOGY


Judul : 1. Kompas Emas : 486 hal
            2. Pisau Gaib : 406 hal
            3. Teropong Cahaya: 619 hal
Pengarang : Philip Pullman (penerj. B.S. Tanuwidjaja)
Penerbit     : GPU
Tahun         : Nov. 2006, Jan dan Feb. 2007
Penghargaan: Whitbread Book of the Year



Buku ini mengisahkan petualangan seorang anak perempuan bernama Lyra dan temannya Will, dalam membantu membebaskan dunia dari tirani Otoritas. Sesuai teori kuantum yang mengatakan ada banyak dunia, Lord Asriel, yang semula dikira paman Lyra namun ternyata adalah ayahnya, berhasil menghubungkan dunia Lyra dengan dunia-dunia lain, sehingga mereka bisa bepergian antar dunia. Lord Asriel berhasil menghimpun kekuatan banyak dunia, namun upaya Lord Asriel dihalangi oleh Gereja, yang berusaha menghalangi adanya Debu. Apakah Debu itu, yang demikian ditakuti oleh Gereja? Debu adalah kesadaran untuk bekehendak bebas.

Dalam upaya membantu Lord Asriel, Lyra pergi ke utara dengan berpedoman pada alethiometer atau kompas emas, mula-mula untuk membantu membebaskan teman sepermainannya, Roger serta anak-anak kaum Gypsi yang diculik oleh Pengadilan Disiplin Agama. Mereka diculik untuk dipisahkan dari demonnya. Demon dalam dunia Lyra adalah seperti kesadaran dalam dunia kita, namun disana terpisah, yaitu berbentuk binatang yang selalu berdekatan dengan manusianya, sehingga orang lain dapat melihat sifat/kepribadian seseorang dari demonnya. Demon anak-anak akan diteliti dan dipisahkan, karena berbeda dengan demon orang dewasa.
Bersama orang Gypsi, Lyra berangkat ke Utara, kemudian dibantu oleh para penyihir, raja beruang dan aeronaut (pengendara balon terbang), ia membebaskan anak-anak yang disekap Pengadilan Disiplin Agama. Namun kemudian Roger digunakan Lord Asriel untuk menghubungkan dunia Lyra dengan dunia lain, karena itu Lyra pergi ke dunia lain untuk menemui Lord Asriel. Perjalanan ini berbahaya, oleh karena itu ia akan bertemu dengan Will yang akan membantunya, serta berjuang melawan hantu karang dan Spectre, kekuatan jahat yang memakan Debu atau demon. Demon atau Debu adalah kesadaran yang masih murni; penuh rasa ingin tahu, berani berpikir, tidak terobsesi oleh dosa. Karena itu demon anak-anak berbeda dengan orang dewasa.

Dalam perjuangan melawan Otoritas ini Lord Asriel mendapat bantuan dari John Parry, ayah Will, yang berasal dari dunia seperti kita. John Parry berhasil menyeberang ke dunia lain yaitu dunia Lyra dan menjadi Dr. Gruman. Sedangkan ibu Lyra, Mrs. Coultier semula membantu Gereja, namun ketika Gereja kemudian memutuskan akan membunuh Lyra karena ia diramalkan akan menjadi penyebab kejatuhan manusia yang kedua kalinya, seperti Eva, Mrs. Coultier berbalik dan membantu Lord Asriel untuk memberontak terhadap Otoritas. Akankah para pemberontak ini menang?

Trilogi ini mungkin menarik bagi anak-anak yang menjelang remaja (Lyra digambarkan berumur 12 tahun), karena berisi fantasi dan menggambarkan petualangan, kesetiaan serta keberanian yang bersifat kepahlawanan. Satu hal yang cukup mengejutkan barangkali adalah bagaimana penulis bersikap serius dalam menuangkan gagasan kepada anak-anak, karena dibalik kisah fantasi dan petualangan tersebut penulis sebenarnya ingin mengajak pembacanya untuk memikirkan hal-hal yang mendasar sifatnya, yaitu bahwa kebebasan berpikir adalah yang terpenting, dan agama adalah musuh utama dari hal penting tersebut, karena agama tidak bisa mengizinkan kebebasan. Mungkin disinilah letak nilai buku ini. Untuk membuka pikiran anak-anak yang menjelang remaja, agar tidak mudah diindoktrinasi oleh ajaran agama atau apapun yang bersifat dogmatis dan merendahkan serta menyangsikan rasionalitas dan sains.
Bagi saya sendiri, yang sudah jauh melewati masa anak-anak, membaca kisah petualangan anak-anak yang cukup panjang dalam buku ini terasa agak membosankan. Hal yang lebih menarik bagi saya dalam membaca buku ini adalah : apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulisnya? Mengapa dalam buku kisah fantasi anak-anak ada gereja, otoritas agama, malaikat, dunia kematian? Mengapa begitu serius, apakah anak-anak akan mengerti?

Jika di akhir buku penulis menggambarkan bahwa otoritas (Tuhan) tidak dapat melawan manusia yang memberontak, tentulah maksudnya bukan untuk mengajarkan anak muda untuk berbuat sesat atau jahat, seperti dituduhkan beberapa kritikus buku ini. Saya kira, Pullman hanya ingin agar generasi mendatang tidak mudah diindoktrinasi oleh ajaran yang membatasi kebebasan berpikir, ilmu pengetahuan dan kreativitas. Ia hanya ingin menebarkan keyakinannya yang agnostik. Dan di tengah dunia yang semakin dogmatis saat ini, hal itu merupakan sesuatu yang cukup berarti. Tidak mengherankan bahwa bukunya mendapatkan penghargaan.

THE FABRIC OF THE COSMOS - Space, Time, and the Texture of Reality



Pengarang : Brian Greene
Penerbit : Vintage Books, NY
Tahun : 2004 (1st ed 2003)
Tebal : 541 halaman

Yet, over the last three hundred years, as we’ve progresses from classical to relativistic and then to quantum reality, and have now moved on to explorations of unified reality, our minds and instruments have swept across the grand expanse of space and time, bringing us closer than ever to a world that has proved a deft master of disguise.”

Jika anda ingin mengetahui perkembangan fisika dan kosmologi terakhir dalam satu buku saja, bacalah buku ini. Dibandingkan dengan buku-buku sejenis lainnya yang ditulis untuk orang awam, ini adalah yang terbaik, karena uraiannya lebih jelas, dengan menggunakan berbagai analogi yang mudah dimengerti orang awam dan bahasa yang relatif mudah, gambar/ilustrasi yang tepat, cukup rinci, mencakup berbagai hal yang cukup luas, dan semua itu hanya dalam satu buku.
Penulis memulai uraiannya dengan pembahasan mengenai ruang, antara lain membahas apakah ruang itu absolut atau relatif? Apa artinya terpisah dalam alam kuantum? Selanjutnya pada bagian dua penulis membahas mengenai waktu, yaitu: apakah waktu mengalir? Apakah waktu memiliki arah? Bagaimana hubungannya dengan realias kuantum?
Bagian tiga membahas hubungan ruangwaktu (spacetime) dengan kosmologi. Dimulai dari penjelasan mengenai simetri dan evolusi kosmos, kemudian ruang hampa dan ledakan besar, yang berlanjut kepada timbulnya bintang-bintang.
Bagian empat mengarah kepada teori string, dan bagian lima mengenai kemungkinan atau prospek yang dapat diberikan ilmu fisika dan kosmologi yang dapat terjadi di masa mendatang berdasarkan pengetahuan dan teori yang diketahui saat ini.
Dengan penjelasan yang menarik, melalui bukunya ini dapat menumbuhkan antusiasme terhadap ilmu yang diuraikannya, sehingga pembaca turut tertular semangatnya menguak tabir alam semesta.

THE SACRED DEPTHS OF NATURE



Pengarang : Ursula Goodenough
Penerbit : Oxford Univ. Press
Tahun : 2000 (1st ed. 1998)
Tebal : 182 halaman

Humans need stories – grand, compelling stories – that help to orient us in our lives and in the cosmos. The Epic of Evolution is such a story, beautifully suited to anchor our search for planetary nsus, telling us of our nature, our place,our context. Moreover, responses to this story – what we are calling religious naturalism – can yield deep and abiding spiritual experiences .”

Tidak hanya kepercayaan akan adanya supernatural yang dapat menimbulkan perasaan religius, tetapi pemahaman yang sebenarnya akan alam juga mampu menimbulkan religiusitas, sebagaimana dialami para ilmuwan. Namun apabila sebagian ilmuwan jelas-jelas menyatakan bahwa religiusitas sebagaimana diajarkan tiga agama samawi (Yahudi-Kristen-Islam) tidak sesuai dengan sains dan harus ditolak, maka penulis buku ini – profesor biologi sel – berupaya mempertemukan kedua hal tersebut.

Ursula Goodenough memahami apa yang membuat manusia mencintai agama tradisional: yaitu adanya perasaan berarti, istimewa, tujuan hidup, kekaguman akan keajaiban atau keindahan alam semesta, dan perasaan senasib atau kasih sayang kepada sesama manusia serta makhluk hidup lainnya. Menurut penulis, pemahaman yang sungguh-sungguh akan cara bekerja alam semesta juga dapat menimbulkan perasaan yang sama, yaitu rasa religius. Membedakannya dengan agama tradisional, penulis menyebutnya naturalisme religious, yaitu religiusitas bukan karena kepercayaan akan adanya sesuatu yang supernatural, melainkan religiusitas yang timbul karena pemahaman akan cara bekerja alam yang menakjubkan dan penuh keajaiban. Karena penjelasan yang diberikan science bahkan lebih menakjubkan daripada penjelasan tradisional – biologist Richard Dawkins menyebutnya ‘stranger than fiction’ - hal yang membuat banyak ilmuwan meninggalkan kepercayaan tradisional.

Penulis mencoba mengajak pembaca untuk turut merasakan religiusitas tersebut dengan merangkainya dalam sebuah buku yang lebih mirip buku agama atau puisi. Maka buku ini dibagi dalam 12 bab pendek yang membahas hal-hal paling mendasar dalam kehidupan, a.l: asal mula bumi, asal mula kehidupan, bagaimana kehidupan bekerja, bagaimana organisme bekerja, bagaimana evolusi bekerja, evolusi dari keragaman kehidupan (biodiversity), kesadaran, emosi dan arti, multiselular dan kematian, speciation.
Setiap bab dibagi menjadi dua bagian, yaitu penjelasan mengenai pokok masalah (berdasarkan penemuan ilmiah terakhir), dan refleksi, yang kemudian dapat diakhiri dengan puisi atau potongan ayat dari kitab suci. Misalnya pada bab sebelas, penulis menjelaskan mengenai makna kematian berdasarkan biologi: makhluk hidup multicellular (multi sel) dapat menjadi makhluk yang kompleks karena terdapat pembagian kerja yang terjadi sejak masa embrio, yaitu adanya sel yang khusus bertugas menjadi pelanjut keturunan (germ line), dan sel yang bertugas menjaga kelangsungan soma (tubuh) sesuai kondisi lingkungan sekelilingnya untuk memastikan bahwa germ line atau generasi berikut dapat diteruskan. Hal ini memungkinkan berkembangnya kompleksitas bentuk tubuh binatang dan juga otak pada manusia. Namun, hal ini juga berarti bahwa tubuh hanyalah sarana bagi germ line, sehingga suatu waktu harus mati. Imortalitas tidak pada tubuh, tapi pada germ line (sel pelanjut keturunan, a.l. sel telur). Apabila seluruh sel juga harus ‘memikirkan’ regenerasi, sehingga tidak terdapat pembagian tugas, maka makhluk hidup akan menjadi seperti algae dan fungi satu sel, karena tidak ada spesialisasi yang dapat berkembang ke arah kompleksitas atau keanekaragaman. “And it is here that we arrive at one of the central ironies of human existence. Which is that our sentient brains are uniquely capable of experiencng deep regret and sorrow and fear at the prospect of our own death, yet it was the invention of death, the invention of germ/soma dichotomy, that made possible the existence of our brains.” Dengan mengerti akan hal ini, menurut penulis, kita dapat menghargai kehidupan yang kita peroleh dan kematian dapat dihadapi sebagai suatu kewajaran yang seharusnya, “Death is the price paid to have trees and clams and birds and grasshoppers, and death is the price paid to have human consciousness, to be aware of all that shimmering awareness and all that love.”

Buku ini indah seperti prosa liris atau puisi, dan sesuai bagi siapapun yang ingin mengerti tempatnya di dunia dalam satu buku ringkas. Namun bila ingin penjelasan ilmiah yang lebih terinci, perlu dilengkapi dengan membaca buku-buku lain.

Saturday, May 12, 2007

SEEDS OF CHANGE – Six Plants That Transformed Mankind



Pengarang : Henry Hobhouse
Tebal : 372 hal
Penerbit : Folio Society, London
Tahun : 2007 (1st ed. th 1985, revisi th. 1999)

Hampir seperti Guns, Germs and Steel dari Jared Diamond, buku ini hendak mengungkapkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk atau ditentukan oleh manusia, yaitu pahlawan dan tokoh-tokoh sejarah, tapi juga oleh hal-hal lain yang selama ini tidak dianggap penting. Beberapa jenis tanaman sangat menentukan jalannya sejarah.
Menurut penulis, terdapat 6 (enam) jenis tanaman yang sangat mempengaruhi sejarah, yaitu quinine (kina), gula, teh, katun, kentang dan koka. Tanam-tanaman ini, selain memberikan manfaat bagi umat manusia, ternyata juga menimbulkan sejarah yang cukup tragis bagi sejumlah bangsa.

Penemuan pohon quinine - yang berasal dari pegunungan Andes – sebagai obat malaria memungkinkan bangsa Eropa melakukan ekspansi dan membentuk koloni di negara-negara Asia dan Afrika yang sarat dengan penyakit tersebut.
Tanpa obat malaria, bangsa Eropa tidak dapat menembus pedalaman Afrika, yang sampai dengan pertengahan abad 19 masih merupakan misteri, atau membentuk koloni cukup berarti di Indocina. Tidak hanya itu, riset untuk untuk menemukan obat malaria yang lebih baik berupa perlombaan menciptakan quinine sintetis antar negara Eropa yang kemudian lebih ditekuni oleh Jerman membuat bangsa tersebut secara tidak sengaja menemukan pewarna tekstil sintetis dan selanjutnya menjadi pelopor dalam bidang kimia sintetik serta farmasi, yang memungkinkannya cukup memiliki dana untuk membiayai perang dunia II.

Kisah gula cukup tragis. Sebelum gula ditemukan, masyarakat Eropa cukup puas menggunakan madu untuk pemanis. Namun setelah mengenal gula, yang dianggap lebih sesuai untuk minum teh, kopi, coklat dan banyak makanan lainnya, permintaan akan tanaman tersebut meningkat sangat tinggi, terutama di Inggris.

Penanaman dan produksi untuk menghasilkan gula memerlukan banyak pekerjaan fisik yang bertahap-tahap di udara tropis, sehingga Hindia Barat yang terdiri dari kepulauan Karibia menjadi tempat penanaman dan produksi gula. Oleh karena orang kulit putih tidak bersedia melakukan pekerjaan tersebut, maka dilakukan impor budak besar-besaran dari Afrika Barat ke pulau penghasil gula, terutama Haiti, Barbados dan Jamaika.
Industri gula mengambil banyak nyawa penduduk Afrika barat, karena dalam proses menjadi budak, yaitu diburu di pedalaman Afrika, kemudian dibawa ke pantai, lalu naik kapal ke Hindia Barat, kemudian dijual di pasar budak di kota, dan terakhir dibawa ke perkebunan, hanya 50% yang selamat sampai hingga ke perkebunan, lainnya meninggal dalam perjalanan, terutama akibat kondisi kapal yang buruk dan perjalanan laut yang lama. Kondisi yang cukup buruk ini berlangsung selama sekitar dua ratus tahun, dan karena mayoritas penduduk merupakan budak maka selama waktu tersebut pendidikan dan kebudayaan tidak mendapat perhatian, sehingga ketika perbudakan dihapuskan pun, ketiga pulau di atas menjadi wilayah miskin tanpa budaya, bahkan erat dengan mistik, kekerasan dan kriminalitas. Hal ini masih meninggalkan bekas sampai saat ini. Dengan demikian, peningkatan konsumsi gula yang signifikan oleh Inggris – dan kemudian Eropa – dibayar sangat tinggi dengan nyawa para budak dari Afrika Barat.

Kisah mengenai tanaman teh tidak kalah tragis. Teh, yang berasal dari Cina, selama puluhan tahun diimpor Inggris dengan barter berupa ekspor tembaga dan perak, karena Cina tidak memerlukan barang lainnya, bahkan menganggap bangsa lain lebih rendah, sehingga menutup semua kotanya dari kapal asing kecuali Canton, khusus untuk perdagangan teh. Namun ketika Inggris mengalami inflasi sehingga harga perak menjadi mahal, Inggris mencari siasat baru untuk mendapatkan teh dengan harga murah, yaitu dengan menyelundupkan opium. Harga opium yang jauh lebih tinggi dari teh membuat Inggris meraih keuntungan cukup besar sementara secara perlahan opium merusak bangsa Cina. Hal ini pada akhirnya membuat Cina marah. Namun kemarahan Cina malah membuat Inggris bertekad untuk membuat Cina membuka kota-kota pelabuhannya untuk perdagangan dengan asing. Dengan kekuatan lautnya yang lebih baik, Inggris akhirnya berhasil membuat Cina membuka beberapa kota perdagangannya yang penting dan menguasainya, bahkan kemudian membuat Cina menjadi lemah.

Tanaman lain yang erat dengan perbudakan adalah katun. Membaiknya teknik penenunan dengan ditemukannya mesin-mesin tenun oleh bangsa Inggris pada pertengahan abad 18 mengakibatkan meningkatnya permintaan akan tanaman katun, yang hanya dapat dipenuhi Amerika Selatan, karena wilayahnya masih luas dengan iklim yang sesuai. Namun upaya memenuhi peningkatan permintaan ini kemudian mengakibatkan peningkatan jumlah budak di wilayah Amerika Selatan – dengan pusat perdagangan katun di New Orleans - yang selama 85 tahun (tahun 1765 – 1850) mengalami peningkatan dari sekitar lima ratus ribu menjadi empat juta budak. Sementara di Inggris, peningkatan jumlah pabrik teksil mengakibatkan buruh pabrik yang semula terdiri dari laki-laki menjadi didominasi oleh perempuan dan anak-anak dengan kondisi sangat menyedihkan. Meningkatnya jumlah budak di Amerika pada akhirnya menimbulkan pemikiran untuk mengakhirinya, yang mengakibatkan terjadinya perang sipil antara Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Bagaimana dengan kentang? Tanaman kentang mempengaruhi emigrasi bangsa Irlandia ke Amerika Serikat. Mudahnya bertanam kentang mengakibatkan populasi Irlandia meningkat pesat, sehingga ketika suatu ketika panen gagal, banyak yang kelaparan, yang menimbulkan gelombang emigrasi besar-besaran ke Amerika. Maka, karakter bangsa Irlandia memberi warna tersendiri pada bangsa Amerika.

Selama ini kita telah mengetahui dari pelajaran sejarah di sekolah bahwa penjajahan terhadap bangsa kita dimulai dari datangnya bangsa Eropa yang berebut ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Dari buku ini kita tahu bahwa tidak hanya tanaman rempah-rempah yang bisa mempengaruhi nasib suatu bangsa, tapi juga tanaman lainnya.
Menarik pula renungan penulis akan sejarah tersebut, misalnya perubahan ekonomi (sejarah) dapat membuat suatu kota yang tadinya berarti (misalnya Liverpool sebagai kota pelabuhan penting di Inggris pada abad 19, tempat ekspor 90% katun dunia) menjadi tidak berarti apa-apa bahkan menjadi beban biaya. Demikianlah nasib kota-kota atau bangsa yang tidak bisa mengikuti perubahan atau beradaptasi, karena sesuai hukum Darwin, hanya mereka yang mampu beradaptasi yang dapat survive.

THE NAKED FACE OF EVE



Judul : Wajah Telanjang Perempuan
Pengarang : Nawal El Saadawi
Penerjemah : H. Azhariah, Lc
Tebal : 346 hal
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun : 2003 (1st ed)

The Naked Face of Eve adalah buku klasik feminisme Islam yang penting, karena untuk pertama kalinya seorang wanita Arab dengan berani melakukan kritik terhadap filsafat Islam termasuk Al Qur’an secara obyektif. Buku ini seharusnya dibaca oleh setiap perempuan agar menyadari posisinya dalam masyarakat dengan benar.
Nawal adalah seorang Muslim, karena itu pada dasarnya ia tidak sepenuhnya menyalahkan agama atas penindasan dan pembatasan yang diterapkan masyarakat Arab kepada perempuan, karena bagi Nawal yang menjadi sumber permasalahan adalah sistem masyarakat yang bersifat patriarkis. Menurut penulis, semua agama samawi (Yahudi,Nasrani, Islam) merendahkan perempuan, karena semua berasal dari masyarakat patriarkat.
Berdasarkan sejarah zaman kuno dan penelitian antropologi, pada suku-suku primitif (suku pemburu pengumpul/hunter gatherer) yang belum mengenal kelas, masyarakat masih berdasarkan sistem matriarkat. Pada tahap ini kedudukan perempuan tinggi, karena dianggap sebagai yang melahirkan kehidupan, sehingga pada saat itu yang menjadi pemujaan adalah dewi-dewi. (Ingat kisah Dewi Sri di Jawa, istilah Mother Nature dalam bahasa Inggris?) Selanjutnya dengan berkembangnya masyarakat menjadi menetap, mulai timbul kepemilikan kekayaan dan kelas-kelas, dan laki-laki mulai berusaha menguasai kekayaan dengan menetapkan pembatasan terhadap perempuan sehingga perempuan mulai tersingkir serta kedudukannya menjadi rendah seperti barang. Sebagai akibatnya, kedudukan dewi-dewi sebagai sosok yang dipuja secara perlahan hilang dari masyarakat, digantikan oleh sosok maskulin sesuai dengan masyarakat patriarkat. Tidak mengherankan bahwa Tuhan dalam agama samawi sifatnya seperti laki-laki.
Menurut Nawal, agama samawi telah ditafsirkan sesuai sistem patriarkat, bukan sesuai ajaran itu sendiri, sehingga munculnya agama justru menurunkan posisi perempuan, baik itu dalam masyarakat Arab, Romawi maupun Yahudi. Namun masyarakat Barat telah dapat membebaskan diri dari kekuasaan gereja yang terlalu kuat sehingga memungkinkan munculnya pemisahan antara agama dan negara, yang memberi kontribusi pada peningkatan status perempuan. Sebaliknya dalam masyarakat Arab Islam, hal itu tidak pernah terjadi, sehingga agama justru dijadikan alat bagi sistem patriarkat untuk melanggengkan kekuasaannya yang merendahkan perempuan.
Nawal mengkritik pandangan Al Gazhali tentang kedudukan perempuan, dan menguraikan mengapa perempuan Arab setelah munculnya agama Islam harus dipisahkan dari laki-laki, dikurung di rumah, dianggap setan jika tampak di luar rumah sehingga harus ditutupi seluruh tubuhnya dengan hijab dan harus ditemani salah seorang keluarga berjenis laki-laki. Semua itu bukan untuk melindungi perempuan, namun untuk melindungi laki-laki agar tidak tergoda. Dalam sistem tersebut, perempuan tidak ada harganya, karena itu tindakan yang diberlakukan terhadap perempuan bukanlah untuk melindungi perempuan itu sendiri, tetapi untuk menjaga kehormatan laki-laki yang memiliki perempuan tersebut. Itulah sebab yang sebenarnya dari perintah mengenakan hijab.

Nawal el Sadaawi yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, adalah dokter, tokoh feminis Mesir yang telah menulis banyak novel yang menggambarkan penindasan terhadap perempuan di Mesir sehingga membuatnya memiliki banyak musuh di negerinya. Namun ia wanita yang pemberani dan konsisten terhadap perjuangannya. Ia tidak mengenakan kerudung maupun kosmetik (postmodern veil), karena menganggapnya sebagai salah satu bentuk penindasan perempuan. Buku-bukunya yng telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor antara lain Perempuan di Titik Nol dan Memoar Dari Penjara.
Buku klasik ini tidak hanya penting bagi perempuan Arab, tapi juga perempuan Islam pada umumnya untuk memahami asal mula ajaran-ajaran konservatif yang ditafsirkan oleh kaum ulama (pada umumnya laki-laki), agar tidak begitu saja menerimanya tanpa mengerti bahwa dibalik ajaran yang dibungkus kata-kata “untuk melindungi wanita” sebenarnya bersembunyi kepentingan melanggengkan kekuasaan patriarkat.

Friday, September 22, 2006

BURNED ALIVE



Pengarang : Souad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal : 296 halaman
Tahun : Juli 2006

Setelah My Hidden Face diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Burned Alive turut menambah pengetahuan kita tentang kehidupan perempuan di negara-negara Timur Tengah, yang selama ini tidak kita ketahui benar-benar.
Burned Alive merupakan sebuah kisah nyata seorang perempuan Arab di Tepi Barat (Palestina) yang terjadi pada akhir tahun 1970-an, namun tidak mustahil kejadian serupa masih terjadi pada hari-hari ini di pedesaan negara-negara Arab dan sekitarnya seperti Jordania, Pakistan, Afghanistan, Maroko, Sudan, dll, mengingat buku tulisan jurnalis-jurnalis Barat seperti Price of Honor (1995) masih menceritakan hal yang tidak jauh berbeda.
Membaca kisah perempuan dalam buku ini seperti kembali ke zaman 1400 tahun yang lalu, dan hampir sulit dipercaya bahwa masih ada kehidupan seperti itu di abad 20.
Pembunuhan karena kehormatan merupakan hal biasa di negara-negara Arab. Perempuan yang dianggap menimbulkan aib bagi keluarga karena berteman atau memiliki hubungan dengan seorang laki-laki, diperkosa, hamil di luar nikah, bahkan hanya digosipkan dengan disebut pelacur, akan dibunuh oleh keluarganya untuk mengembalikan kehormatan keluarga itu. Bentuk pembunuhan bermacam-macam; bisa dengan pukulan, cekikan, tabrakan seolah kecelakaan, atau seperti dalam buku ini.. dibakar hidup-hidup. Biasanya hal ini dilakukan oleh saudara laki-laki, sementara orang tua sengaja bepergian agar tidak berada di rumah pada saat pembunuhan terjadi dan berpura-pura tidak tahu, namun sebenarnya hal tersebut telah direncanakan dengan rapi oleh keluarga.
Dalam buku ini kita diberitahu kehidupan penulis sejak masa kanak-kanak, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, yang empat diantaranya adalah perempuan. Sebagai anak perempuan, ia tidak pernah bersekolah, harus bekerja keras sepanjang hari menggembalakan domba, memerah susu, membuat keju, memetik buah ara dan tomat, membersihkan rumah, mencuci dan memasak namun masih mendapatkan pukulan setiap hari dari ayahnya yang kejam. Sebaliknya saudara laki-lakinya tidak perlu bekerja di rumah, disekolahkan dan dapat pergi kemana saja.
Betapa rendahnya nilai perempuan banyak digambarkan dengan cukup mengerikan; misalnya bagaimana ibunya melahirkan sebanyak empat belas kali dan sembilan diantaranya langsung dibunuh sendiri ketika lahir karena berjenis perempuan, bagaimana adik perempuannya dibunuh oleh adik laki-lakinya sendiri dengan kabel telepon, serta penyiksaan dan hinaan yang pernah diterimanya dari ayahnya, misalnya diikat kedua tangan dan kakinya pada kandang kambing sepanjang malam, ditendang, dijambak dan digunting rambutnya dengan gunting bulu domba, dipaksa menelan tomat hingga isinya berlumuran di wajahnya hanya karena ia lalai memetik sebuah tomat yang masih terlalu muda, dan siksaan lainnya. Bahkan binatang ternak lebih dihargai daripada seorang perempuan.
Penghinaan dan siksaan yang diterima setiap hari membuat penulis bertekad untuk segera menikah agar lepas dari kekejaman ayahnya, meskipun hal itu berarti akan menerima kekejaman suami. Namun ia tertipu oleh laki-laki tetangganya yang berpura-pura akan melamarnya sehingga ia hamil. Kemudian datanglah hukuman itu.. saudara iparnya membakarnya di halaman rumah. Bahkan ketika di rumah sakit ibunya masih ingin membunuhnya, karena bagi mereka ia lebih baik mati. Beruntung kisahnya didengar oleh seorang pekerja sosial Prancis, yang kemudian menolongnya serta membawanya ke Eropa untuk berobat dan memulai hidup baru dengan identitas baru pada umur 19 tahun. Dengan susah payah ia kemudian belajar bahasa baru, membaca, menulis, ketrampilan sederhana dan bekerja.
Bahkan setelah bertahun-tahun di Eropa dan memiliki keluarga, Souad masih merasa depresi. Misalnya ketika musim panas dimana semua orang dapat berenang atau berjalan-jalan dengan pakaian ringkas, ia merasa depresi karena harus selalu berpakaian tertutup rapat untuk menutupi kulitnya yang rusak. Tidak mudah meneruskan hidup yang telah dirusak kekejaman di waktu muda.
Demikianlah, buku ini penuh dengan penderitaan kaum perempuan yang sungguh tak terbayangkan, yang juga menunjukkan betapa terbelakangnya adat istiadat negara-negara Arab dan sekitarnya, seolah selama ribuan tahun waktu tak bergerak. Sistem patriarki yang dalam, kebodohan, kemiskinan dan agama yang dikuasai dan ditafsirkan oleh sistem tersebut jalin menjalin menindas perempuan, sehingga buku ini perlu dibaca oleh kaum perempuan lainnya, agar mereka lebih menyadari keberuntungannya dan waspada akan penindasan yang mungkin secara tidak disadari ikut didukungnya.
Ketika membaca buku ini saya teringat pada perempuan-perempuan di tanah air, yang telah memiliki semua kebebasan namun secara perlahan-lahan, dengan suka rela memilih jalan untuk hidup seperti wanita zaman ribuan tahun yang lalu di Arab: menutup kembali tubuhnya rapat-rapat, membatasi diri, dan berpedoman erat-erat pada hukum yang dibuat sekitar dua ribu tahun yang lalu untuk masyarakat yang digambarkan dalam buku ini.

Thursday, September 21, 2006

SANG PEMIMPI

Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Tebal : 280 halaman
Tahun : 2006

Buku ini mungkin tidak hanya novel, tetapi juga memoir penulisnya, menceritakan masa sejak remaja hingga dewasa.

Bagian awal berkisah tentang perjuangan tiga orang sahabat, dua orang diantaranya anak seorang pegawai miskin di Belitung dalam usahanya agar dapat tetap bersekolah. Untuk itu Ikal, nama tokoh dalam buku ini, bersama dengan saudara angkatnya Arai dan temannya Jambrong melakukan bermacam pekerjaan, dari mencari akar purun di rawa yang penuh buaya, menjual kue hingga menjadi kuli angkut nelayan. Meskipun demikian, di tengah kemiskinan yang melilit mereka memiliki cita-cita yang sangat tinggi, yaitu bersekolah di Paris. Hal ini tidak terlepas dari dorongan guru sastra di SMA yang sangat memotivasi para siswanya, yaitu Pak Balia, selain kedisiplinan dan didikan keras dari kepala sekolah yang penuh integritas, serta ayah yang sangat baik. Tampaknya inilah kunci dari semangat dan optimisme yang dimiliki para tokoh dalam buku ini, yaitu para pendidik yang langka di zaman kini…
Setelah menamatkan SMA, Ikal dan Arai pergi ke Jakarta hanya dengan berbekal tabungan seadanya, sedangkan Jambrong yang tergila-gila kuda tetap tinggal di desa bekerja di peternakan kuda. Namun nasib baik menghampiri mereka. Setelah melakukan bermacam pekerjaan kasar, antara lain tukang fotokopi, salesman door to door, buruh pabrik tali, berkat perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya Ikal diterima menjadi juru sortir di kantor pos dan Arai bekerja di Kalimantan. Selanjutnya sambil bekerja mereka meneruskan kuliah hingga selesai, bahkan mendapatkan bea siswa ke Inggris dan Ikal bahkan melakukan riset ke Sorbonne. Tercapailah cita-cita yang tampaknya seperti mimpi bagi seorang remaja miskin Belitung.

Sampai disini kisah ini cukup bagus, karena dapat memberikan semangat bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi atau bercita-cita tinggi, bersikap optimis dan pantang menyerah atau tidak membatasi diri apapun kesulitan yang dihadapi. Ditambah humor disana-sini, maka kisah ini cukup menarik (ada beberapa halaman yang membuat saya tertawa sendiri). Hal ini merupakan sisi positif buku ini. Setiap orang yang cukup sukses tahu bahwa konsisten pada cita-cita dan pantang menyerah ditambah sedikit keberuntungan dapat membawa kesuksesan, dan buku ini salah satu contoh yang baik untuk menyatakan hal itu.

Di sisi lain, penulis rupanya seorang yang sangat religius, berkat pendidikan agama yang didapat sejak kecil, ditambah keberhasilan yang berhasil diraihnya. Hal ini tampak dari pendapatnya tentang wanita berjilbab dan kebenciannya terhadap teori evolusi Darwin, sebagaimana terdapat dalam halaman 261 dan 262. Kalau dialog yang terdapat dalam sebuah buku dapat dianggap mewakili pendapat penulisnya, maka dialog Arai – yang disini merupakan saudara sekaligus teman yang dikagumi Ikal - sebagai sarjana biologi cum laude yang memohon bea siswa dengan menyatakan bahwa teori evolusi sudah bangkrut, bahwa “Harun Yahya memiliki wewenang ilmiah untuk menjustifikasi bualan evolusionis”, dan karena itu ia mengajukan teori baru berdasarkan kisah penciptaan dalam kitab-kitab suci, sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang sarjana seni (HY) memiliki otoritas untuk menilai teori dalam biologi? Bagaimana mungkin kisah dalam kitab suci dijadikan dasar untuk membuat teori dalam sains? Bayangkan jika ilmuwan terus mencoba membuktikan bahwa bumi itu datar atau berumur 6000 tahun, meskipun fakta yang ada jelas-jelas menunjukkan bahwa bumi bulat dan berumur miliaran tahun, apakah akan tetap bertahan dengan menyatakan bahwa bumi itu datar dan masih muda, karena demikian yang tertulis di kitab suci? Bagian ini tidak seimbang dengan dialog Ikal dalam wawancara dengan professor ekonomi yang tidak asal-asalan. Mungkin penulis merupakan pengagum berat Harun Yahya sehingga tidak bersedia untuk mencari sedikit saja informasi mengenai biologi evolusioner dari sumber yang benar. Padahal jika penulis tidak membenci teori tersebut dan bersedia meluangkan waktu sedikit saja untuk menjelajah internet atau berkonsultasi dengan sarjana biologi, maka dialog di atas akan lebih bermutu (lihat situs talkorigin.org mengenai penjelasan bagaimana membuktikan kesalahan teori evolusi). Halaman 261 dan 262 adalah bagian yang merusakkan dan menjatuhkan nilai novel ini.

Dialog di atas juga menunjukkan bahwa memperbandingkan Andrea dengan Pram jelaslah tidak sebanding dan Andrea jelas tidak akan bisa menggantikan Pramoedya. Pram adalah seorang yang berpikiran merdeka dan rasional, seorang individualis, yang demi kebenaran tidak merasa perlu untuk menyamakan pikirannya dengan massa, dan realisme yang ditampilkannya adalah realisme yang pahit, yang mengkritisi kondisi sosial sekitarnya, seperti agama, gaya hidup, kekuasaan. Sedangkan Andrea meskipun telah bersekolah sampai ke Inggris dan Prancis ternyata masih belum dapat sepenuhnya bersikap rasional dan berpikiran bebas, karena keterikatannya yang demikian kuat pada tradisi lama, sehingga ia belum dapat menilai lingkungan sekelilingnya dengan kekritisan yang tinggi, bahkan mendukung status quo. Karena itu bukunya kurang mengundang perenungan, sebab tidak banyak pergulatan pemikiran yang mempertanyakan hal-hal eksistensial tentang penderitaan dan kehidupan manusia, atau menanyakan kembali nilai-nilai yang telah diterima umum.

THE HISTORY OF THE DECLINE AND FALL OF THE ROMAN EMPIRE



Judul: The History of the Decline and Fall of the Roman Empire
Pengarang : Edward Gibbon
Penerbit : Folio Society
Halaman : +/- 3100 halaman (8 jilid)

Buku ini adalah buku klasik tentang sejarah Romawi, yang meskipun ditulis +/- 200 tahun yang lalu namun masih patut dibaca sampai saat ini. Apa yang membuat buku ini masih menarik dan patut untuk dibaca?
The History mencakup waktu dari tahun 98 M s.d. keruntuhan Romawi yang ditandai dengan jatuhnya Constantinople pada tahun 1453 atau meliputi waktu selama 14 abad. Di masa kejayaannya, wilayah Romawi membentang dari Inggris hingga Persia dan Mesir, termasuk wilayah tempat munculnya agama yang kini dianut mayoritas penduduk dunia, dan kebudayaan Romawi yang berakar dari kebudayaan Yunani adalah dasar kebudayaan Barat, yang kini juga menguasai dunia. Dengan demikian banyak yang bisa dipelajari dari sejarah Romawi untuk memahami keadaan dunia masa kini.
Buku ini selain berisi narasi dan kronologi para kaisar Romawi juga berisi sejarah singkat bangsa-bangsa yang menyerang Romawi seperti bangsa Jerman dan Skandinavia, yang saat itu masih merupakan bangsa barbar. Selain itu terdapat pula sejarah asal mula dan perkembangan agama Yahudi, Kristen dan Islam serta pengaruh agama-agama tersebut pada penurunan dan kejatuhan Romawi. Selain narasi yang cukup detail tentang para kaisar, sistem politik Romawi dan perkembangan agama-agama Ibrahim, juga terdapat analisis penulis mengenai penyebab jatuhnya Romawi, yaitu : menurunnya moral para kaisar dan pemimpin, dengan tidak adanya kaisar yang bijaksana setelah kaisar Marcus Antonius Aurelius, munculnya agama-agama Ibrahim khususnya Kristen yang menyebabkan menurunnya semangat militer, dan serangan bangsa-bangsa barbar yang terus menerus.
Membaca buku ini mengingatkan saya akan sejarah kita sendiri. Meredupnya Majapahit antara lain disebabkan oleh masuknya agama Islam, sedangkan dalam kerajaan selalu terjadi perebutan kekuasaan dan banyak raja yang bersifat kejam.
Dari buku ini kita bisa mengetahui bahwa kehidupan di zaman dulu sangat keras dan kejam sehingga kita sepatutnya bersyukur karena hidup di zaman kini. Kekejaman tersebut tidak hanya disebabkan oleh kaisar, dominasi militer, serangan bangsa lain yang dapat datang tiba-tiba kapan saja atau ritual agama mereka yang menyembah dewa-dewa dengan persembahan kurban atau penyelenggaraan pertunjukan, namun juga oleh penyebaran dan fanatisme agama Kristen dan Islam, yang meskipun membawa ajaran tentang moral dan perdamaian namun disebarkan dengan pedang, peperangan dan perebutan kekuasaan yang kejam. Buku ini menceritakan bahwa paganisme yang menjadi agama Romawi menyebabkan tidak adanya standar moral tertentu sehingga para Kaisar bisa menjadi sangat kejam dan kehidupan sangat tidak stabil karena sewaktu-waktu bisa dikoyakkan oleh perang atau pergantian Kaisar yang diikuti dengan kekacauan dan kekejaman. Munculnya agama Ibrahim membawa moral tertentu seperti larangan bertindak kejam, perintah berbuat baik dan sejenisnya, yang mendukung penerimaan agama tersebut dengan cepat dan luas dalam masyarakat bahkan kemudian agama Kristen menjadi agama kerajaan Romawi. Namun demikian, penyebaran agama-agama tersebut tidak luput dari kekerasan. Peperangan untuk meluaskan wilayah dan memaksakan dianutnya suatu agama tetap disertai dengan pembunuhan dan penjarahan, bahkan pertikaian intern agama juga disertai dengan peperangan. Kita membaca bagaimana Cyril, Uskup Iskandariah yang kemudian diangkat menjadi Santo (orang suci), pada tahun 370 memerintahkan pembunuhan Hypathia, seorang perempuan filsuf dan ilmuwan terakhir di perpustakaan Iskandariah yang tidak menganut agama Kristen dengan kekejaman yang luar biasa (menyeret dan menganggalkan pakaiannya, kemudian dengan kulit tiram memisahkan dagingnya dari kulitnya). Perpustakaan Iskadariah, yang saat itu merupakan pusat ilmu pengetahuan Yunani dibakar dan isinya dihancurkan, dan setelah itu mulailah zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan digantikan dengan penindasan dogmatisme agama. Dunia baru bergerak kembali pada abad 15, setelah Constantinople jatuh, dan bangsa Eropa menggali kembali pemikiran-pemikiran ilmuwan Yunani yang tersisa serta mencari jalan baru untuk pelayaran tanpa melewati Laut Merah. Carl Sagan (astronom, penulis Cosmos) menulis bahwa masa antara tahun 500 sampai dengan 1500 M adalah masa yang terbuang sia-sia dari peradaban manusia, karena selama 1000 tahun tidak ada kemajuan barang sedikitpun dalam ilmu pengetahuan, padahal telah dimulai dengan baik oleh para pemikir Yunani. Membaca buku ini kita akan mengetahui mengapa : agama Kristen dan Islam sedang dalam tahap awal perkembangan, sehingga sangat dogmatis, menindas, serta saling bersaing berebut wilayah/pengikut (terwujud dalam Perang Salib). Kekuasaan agama menindas semua hal yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini pada waktu itu, termasuk gagasan/penemuan ilmu pengetahuan dan pemikiran bebas.
Kita juga membaca betapa kejamnya perlakuan terhadap jasad keponakan Nabi Muhammad setelah dibunuh dan mendapat pengetahuan bahwa beberapa ritual agama (misalnya haji) sebenarnya merupakan kelanjutan/modifikasi dari ritual sejenis yang sebelumnya telah dilakukan oleh kaum pagan selama beratus tahun.
Melihat sejarah tersebut setelah beberapa abad berlalu, maka tampak betapa banyaknya darah manusia yang telah ditumpahkan untuk berebut kekuasaan, daerah, kekayaan, atau penyebaran dan pertikaian agama. Sejarah manusia adalah sejarah yang kelam, penuh darah dan sifat-sifat rendah, meskipun manusia memiliki kemampuan dan perasaan hingga dapat menciptakan monumen-monumen indah dalam bentuk kuil, gereja maupun bangunan megah lainnya. Mengetahui hal-hal di atas akan membuat kita menyadari bahwa pada awalnya kebudayaan manusia adalah berdasarkan kekejaman, dan betapa besar kemajuan yang kita capai hari ini, betapa nyamannya zaman kini karena tidak ada lagi kekerasan dan kekejaman seperti zaman dulu, meskipun terdapat ketimpangan kekayaan yang besar antar negara atau penduduk.
Membaca buku ini sangat mengasyikkan karena banyak detil cerita menarik tentang kaisar-kaisar Romawi, tokoh bangsa-bangsa penyerang Romawi maupun kejadian-kejadian pada masa itu. Sebagai sejarawan Gibbon memiliki pengetahuan dan sumber-sumber yang banyak tentang sejarah yang ditulisnya, disamping pandangannya yang sangat rasional, yang membentuk analisisnya.
Buku ini terdiri dari 3,100 halaman, namun dapat dibaca secara tidak berurutan apabila di satu bagian terasa terlalu panjang dan kita ingin segera mengetahui sejarah yang terjadi berikutnya, setelah itu kita dapat kembali lagi. Beberapa bab yang menarik misalnya masa kejayaan Romawi (jilid 1), asal mula dan perkembangan agama Kristen dan Islam (jilid 6), perang salib dan perkembangan kesultanan Turki (jilid 7), kisah bangsa Tartar terutama pada masa Gengis Khan, Tamerlane dan Kubilai Khan (jilid 8), dan saat-saat kejatuhan Constantinople oleh sultan Mohammad II dari Turki (jilid 8).
Gaya penulisan yang bagus membuat pembaca seolah mengunjungi wilayah-wilayah Romawi, menyesali keruntuhan bangunan-bangunan indah, perginya kaisar yang baik, dan merasakan kesedihan dari kematian-kematian mengerikan yang diakibatkan kekejaman kaisar, penguasa militer atau agama. Seperti sebuah novel yang luar biasa, tapi ini adalah sejarah. Buku ini sangat bagus, dan rugi sekali jika tidak pernah membacanya.