Saturday, December 29, 2012

Jakarta!




Judul    :      Jakarta! Sebuah Novel
Pengarang:  Christophe Dorigne-Thomson
Penerjemah: Caecilia Krismariana
Penerbit:      GPU
Tahun   :       2012, Des
Tebal    :       367  hal



Ditulis dalam bentuk fiksi, Jakarta! menceritakan seorang pemuda Prancis lulusan sekolah bisnis elit yang mengalami shock setelah kematian adik laki-lakinya, sehingga kemudian mengubah haluan hidupnya, dengan melakukan profesi hampir seperti James Bond dan bertugas di Tokyo, California, Mumbai, Krakow, Marakesh, Johannesburg, Shanghai, Abu Dhabi, Rio de Janeiro, Aberdeen, Havana, berlibur di empat negara Asia Tenggara, dan akhirnya jatuh cinta pada Indonesia.
Meskipun demikian, mengharapkan novel Jakarta! mengisahkan banyak hal tentang kota Jakarta atau Indonesia akan berakibat pada kekecewaan, karena ternyata novel ini adalah tentang kritik kepada Prancis dan perjalanan seorang pemuda Prancis dalam mencoba menemukan jati dirinya.

Dari sisi fiksi, kisahnya agak membosankan, karena tidak ada dialog sama sekali dan batas antara pikiran tokoh utama (yang diceritakan sebagai pihak ketiga) dengan pengarang nyaris tidak ada, sehingga buku ini bisa dibilang setengah fiksi dan esai. Maksud pengarang sebenarnya adalah mengemukakan pendapat tentang keadaan di wilayah-wilayah di atas serta membandingkannya dengan benua Eropa, khususnya Prancis, yang baginya sangat mengecewakan karena tidak memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang dan membangun negerinya sebagaimana negeri-negeri lain, anti imigran sehingga menghambat kemajuannya sendiri, dan bersikap diskriminatif kepada kaum minoritas, yang sebenarnya adalah korban akibat penjajahan Prancis sendiri di masa lalu. Kritiknya yang cukup tajam terhadap generasi tua Prancis sangat terasa pada banyak bab.

Buku ini membuat pembaca lebih memahami kondisi Eropa saat ini, yang menghadapi masalah penuaan penduduk,  pengangguran generasi muda yang cukup tinggi, meningkatnya imigran, konflik nilai dan budaya dengan imigran muslim, disamping krisis ekonomi.  Khusus di Prancis, masalah tersebut ditambah dengan dominannya generasi tua, birokrasi, kurangnya keberpihakan pada kaum miskin dan diskriminasi ras. Negara Eropa lainnya seperti Inggris dan Jerman lebih baik, karena memberikan kesempatan dan kebebasan lebih besar kepada generasi muda serta kaum minoritas.

Tampaknya berdasarkan hal di atas maka pengarang merasa pesimis akan masa depan Eropa, apalagi Prancis, sebaliknya merasa sangat optimis bahwa Asialah yang akan menjadi harapan kemajuan di masa depan, disamping Amerika yang masih akan tetap penting. Dan salah satu negara Asia yang memiliki potensi untuk menjadi negara besar adalah Indonesia, karena orang Indonesia kreatif, memiliki kebebasan, dan suka teknologi.
Namun kisah tentang Jakarta dan Indonesia hanya terdapat dalam 14 halaman terakhir, lebih sedikit dari negara-negara lain yang berkisar antara 21 s.d 36 halaman.  

Seseorang yang jatuh cinta pada umumnya memang tidak begitu memperhatikan kekurangan pada apa yang dicintainya. Penulis menyatakan cinta pada Jakarta dan Indonesia. Mungkin itu pula sebabnya ia tidak membahas atau menganggap penting kekurangan-kekurangan atau masalah yang dimiliki Jakarta dan Indonesia (di dalam kisah fiksinya, tokoh utama tidak mendukung upaya pencegahan perusakan hutan) yang membuat penduduknya merasa pesimis, sebagaimana halnya kebanyakan orang Indonesia juga tidak dapat melihat kekurangan Prancis dengan jelas - yang membuat pengarang merasa pesimis akan negerinya.

Tuesday, December 25, 2012

The End of The Affair



Judul : The End of The Affair (Akhir Satu Cinta)
Pengarang: Graham Greene
Alih bahasa: Mala Suhendra & Rosi L. Simamora
Penerbit: GPU
Tahun : 2004, Sept
Tebal : 376 hal



Sudah lama saya memiliki buku ini, tapi belum sempat membacanya. Baru-baru ini, setelah tidak sengaja menonton filmnya, timbul keinginan untuk membandingkannya dengan bukunya, karena buku biasanya lebih lengkap dan lebih bagus. Benarkah?

The End Of The Affair adalah kisah seorang penulis novel yang menjalin hubungan cinta dengan istri seorang pegawai negeri yang memiliki jabatan cukup tinggi pada masa perang dunia kedua di London. Bendrix, seorang penulis yang kurang sukses, ingin menulis novel tentang kehidupan pegawai negeri, sehingga ia mewawancarai Sarah, yang kemudian menjadi hubungan cinta. Hubungan ini pada akhirnya putus karena tiba-tiba Sarah tidak ingin menemuinya lagi setelah terjadi sebuah peristiwa.
Setelah dua tahun tidak bertemu, Bendrix merasa marah dan cemburu, mengira Sarah memiliki kekasih lain, sehingga ia menawarkan Henry, suami Sarah, untuk menyewa detektif guna menyelidiki Sarah. Henry menolak tawarannya, sehingga kemudian ia menghubungi sendiri detektif tersebut.
Apa yang ditemukannya kemudian justru membuat Bendrix menyadari besarnya cinta Sarah – Sarah tidak meninggalkannya untuk orang lain tetapi untuk menepati janjinya kepada Tuhan, yang telah mengabulkan doanya.

Bagi Bendrix, tidak mungkin Sarah begitu mudah berubah, karena mereka berdua tidak percaya, dan tidak ada mujizat atau apapun yang cukup untuk membuat seseorang harus percaya pada Tuhan, oleh karena itu kebencian dan kecemburuannya demikian dalam kepada Tuhan, yang telah merenggut Sarah dari sisinya. Ketika semakin banyak mujizat yang ditemuinya, ia tetap tidak bersedia mengakuinya, sehingga berkata, ”Oh Tuhan, cukup sudah yang Engkau lakukan. Cukup sudah Engkau merampas dariku, aku terlalu lelah dan tua untuk belajar mencintai, jangan ganggu aku. Selamanya.”

Novel ini ditulis dari sisi Bendrix, sang penulis novel yang cemburu, pertama kepada suami Sarah, kemudian kepada Tuhan. Tidak hanya kisah cinta biasa, ada renungan mengenai perkawinan, kepercayaan kepada Tuhan, pergolakan jiwa seorang ateis, dan jiwa seorang perempuan yang terbelah antara cinta kepada kekasih, suami, dan perasaan berdosa kepada Tuhan.
Apakah perkawinan - yang membuat seseorang merasa aman – meskipun sangat membosankan atau mengecewakan jauh lebih baik daripada hubungan cinta yang membara namun penuh kecemburuan dan kekhawatiran karena tidak ada pengikat apapun selain cinta itu sendiri? Dapatkah perkawinan seperti itu membuat seseorang bahagia?

Membaca buku ini memang memberi kesan bahwa pengarang adalah seorang yang religius, yang percaya bahwa setiap orang akan memiliki perasaan berdosa jika melakukan hal-hal yang terlarang, dan pada saat krisis pasti akan kembali kepada Tuhan – disini adalah agama Katolik – dan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa yang sungguh-sungguh, termasuk memberi mujizat. Namun hal ini mungkin akan terlalu sulit bagi seorang ateis, karena hidup tidak selalu memberikan hal-hal yang baik atau kita inginkan.
Ketegangan antara kedua hal di atas digambarkan dalam karakter Sarah dan Bendrix, sedangkan Henry digambarkan sebagai orang yang pasrah, namun tidak religius.

Kecenderungan pengarang yang membela pentingnya keyakinan agama sebenarnya tidak menarik bagi saya, kalau saja tidak ada tokoh Bendrix, yang konsisten pada keyakinannya apapun yang terjadi.
Bahasa Indonesia mungkin kurang bagus dalam mengungkapkan perasaan Bendrix dalam buku ini, namun dalam film, aktor Ralph Fiennes dapat menampilkan perasaan cinta, kecemburuan, kemarahan dan kepedihan dengan sangat baik, sebagaimana penampilannya dalam The English Patient.

Ralph Fiennes
Buku ini sebagian mungkin berasal dari pengalaman pengarang sendiri, karena tokoh Bendrix adalah pengarang novel dan penulis review. Graham Greene adalah juga penulis novel dan review, yang semula agnostic kemudian menjadi Katolik setelah menikah, mengikuti keyakinan istrinya, Vivian. Ia juga pernah memiliki affair dengan seseorang yang tidak bersedia meninggalkan suaminya.

Novel ini tampaknya mewakili pandangan pengarang yang berpendapat bahwa kehidupan manusia hanya dapat berarti dengan adanya keyakinan kepada Tuhan, meskipun perjuangan untuk percaya adalah sesuatu yang berat.

Sebagian novel ini membuat saya teringat pada The English Patient: kekasih yang kehidupannya tampak agak menyedihkan namun sangat memikat, perempuan pelaku affair yang seolah mendapat hukuman dengan kematiannya, dan kekasih yang diliputi kesedihan dan kekecewaan.

Graham Greene yang berasal dari Inggris (1904-1990) dikenal dengan buku-bukunya yang banyak dijadikan film, antara lain Brighton Rock, The Quiet American, A Gun for Sale dan The Fallen Idol. Setelah pada awal karirnya ia banyak menulis mengenai hal yang berkaitan dengan keyakinan Katolik, tulisannya kemudian lebih bersifat humanis, dengan kisah berlatar negara-negara jajahan di daerah tropis.


Sang Guru Piano



Judul : Sang Guru Piano (Die Klavierspielerin)
Pengarang: Elfriede Jelinek
Penerjemah/Penyunting: Arpani Harun/ Ayu Utami
Penerbit: KPG
Tahun : 2006, Jan
Tebal : 293 hal



Banyak yang menganggap Sang Guru Piano adalah novel yang vulgar. Namun pengarang berhasil mengungkapkan keadaan jiwa-jiwa yang sakit, sehingga membaca novel ini seperti mengalami suatu penderitaan.

Novel ini mengisahkan Erika, seorang profesor di konservatori Wina, yang menjadi guru karena gagal menjadi pemain piano konser. Hidupnya dikendalikan oleh ibunya, meskipun ia telah berusia tiga puluh delapan tahun. Musik bukanlah kesenangan, tetapi kerja keras dan kewajiban, yang ditanamkan oleh ibunya sejak ia kecil. Dominasi ibu yang berlebihan membuat jiwa Erika tertekan dan sakit; ia menunjukkan kekuasaannya di kelas, ia terus membeli baju-baju baru hanya untuk dilihat-lihat, karena ibunya tidak mengizinkan ia memakainya, dan kerap mengunjungi tempat-tempat dimana seks dikomoditikan dan dilakukan secara brutal dan rendah. Erika adalah seorang perempuan yang malang; kesepian, sedih, dan tertindas, namun tidak mampu mengeluarkan diri dari situasi tersebut selain melakukan hal-hal yang semakin menjerumuskan dirinya: menyayat tubuhnya sendiri, menjalin hubungan dengan murid yang jauh lebih muda, dan menginginkan kesadisan dalam hubungan tersebut.

Semua hal di atas digambarkan pengarang secara rinci, tanpa perasaan, tanpa batas, membuat pembaca ikut merasa tertekan hingga jijik dan ingin melempar buku tersebut - terutama pada sepertiga bagian terakhir - karena bahasa yang digunakan tidak ada yang diperhalus, benar-benar seperti uraian tentang bagaimana suatu kegiatan dilakukan belaka dan tindakan para tokoh semakin berlebihan. Pembaca juga sulit untuk bersimpati kepada karakter di dalamnya: baik Erika, ibunya maupun murid Erika tidak memiliki cukup hal-hal baik yang mengundang simpati. Pembaca mungkin merasa kasihan pada nasib Erika yang tertindas, namun caranya mengatasi penindasan tersebut membuat pembaca sulit untuk memahaminya.

Hal menarik dari novel ini adalah tentang akibat kejiwaan dari dominasi ibu terhadap anak perempuannya, dan kontras antara keanggunan musik klasik dan kota Wina dengan kekelaman jiwa Erika sebagai pengajar konservatori serta sisi gelap kota Wina, yang menyimpan kemiskinan para pekerja imigran Turki beserta segala eksesnya yang menyedihkan.

Elfriede Jelinek memperoleh hadiah Nobel pada tahun 2004 untuk “suara dan kontrasuara di dalam novel dan dramanya yang mengalun bak musik, yang dengan semangat penjelajahan bahasanya yang luar biasa menyingkap kehampaan tata krama masyarakat beserta daya cengkeramnya.”
Berdasarkan penjelasan panitia Nobel, maka Sang Guru Piano, yang ditulis pada tahun 1983, dapat dipandang sebagai sebuah kritik terhadap kondisi masyarakat pengarang.
Buku ini juga telah difilmkan dan memperoleh tiga penghargaan dalam Festival Film Cannes 2001.

Tuesday, October 30, 2012

The Prospector



Judul : The Prospector
Pengarang: J.M.G. Le Clezio
Penerjemah: Carol Marks
Penerbit: David R. Godine, Publisher
Tahun : 1993
Tebal : 338 hal




Kenangan masa kecil yang tak terlupakan, keindahan dan kecintaan pada laut, kesetiaan pada keluarga, kemurnian cinta, kekerasan hidup, pencarian harta karun, kekuatan takdir, yang seringkali diluar kekuasaan siapapun, dan realitas yang berbaur dengan mitologi Yunani, adalah yang kita dapat dari buku ini.

Alexis selalu terkenang akan rumah masa kecilnya, ketika ayahnya belum bangkrut dan masih hidup, ketika badai siklon belum menghancurkan rumah mereka beserta seluruh usaha ayahnya,dan ibunya masih dapat memberi pelajaran kepada ia dan Laure, adik perempuannya setiap sore. Bersama Laure ia akan berlari melintasi ladang tebu, memandangi laut, menembus hutan, dan menatap bintang-bintang di malam hari. Khususnya laut. Laut adalah bagian dari dirinya,

As far back as I can remember I have listened to the sea: to the sound of it mingling with the wind in the filao needles, the wind that never stopped blowing…It is the sound that cradled my childhood…it will come with me wherever I go: the tireless lingering sound of waves breaking in the distance of coral reef… Every day I went to the beach…Here, the sound of the sea was like a beautiful music…I will never forget that day when I went to sea for the first time, a day that seemed to last months, or years. I wanted it never end, I wanted it to go on forever…”

Setelah ayahnya meninggal dan mereka jatuh miskin mereka harus tinggal di kota, dan Alexis harus bekerja di perusahaan milik pamannya, yang mengambil alih tanah dan rumah masa kecilnya untuk memperluas perkebunan dan pabrik gula, yang dikerjakan oleh para bekas budak dan pendatang dari India. Namun kenangan indah masa kecil dan ketakpedulian pamannya membuat ia berusaha meneruskan usaha terakhir ayahnya: mencoba menemukan harta karun yang tersimpan di pulau Rodriguez, untuk mengembalikan kejayaan keluarganya, untuk menyenangkan hati Laure dan ibunya.

Alexis meninggalkan semuanya, berteman dengan kapten Bradmer dalam kapal yang membawanya ke Rodriguez. Ia tidak menemukan harta karun, namun bertemu Ouma, gadis yang akan dicintainya, namun kemudian harus ia tinggalkan untuk pergi ke medan perang dunia pertama.

Ketika ia pulang kembali, semua sudah berubah. Pamannya semakin kejam, terdapat pemberontakan pekerja pabrik. Bagaimana dengan Laure, Ouma dan ibunya? Karena nasib akhirnya memisahkannya dengan mereka semua, juga dengan kapten Bradmer, yang tidak ditemukan setelah kapalnya tenggelam.

Akhir kisah memang terasa sedih, karena akhirnya ia sendiri dan tidak memiliki apa-apa, namun
I’ll go to the port to choose my ship. It is called the Argo….Soon it will be sailing under the stars, following its destiny written in the sky. I am on the deck…enveloped in wind, listening to the waves slapping against the hull and the wind cracking in the sails…We are the only ones on the sea, the only living beings. Ouma is with me again…to the place where we need fear neither signs in the sky nor the wars of men…Now night has fallen. To the depths of my being I hear the living sound of the rising sea.”

Pengarang seolah ingin mengatakan, kenangan masa kecil selalu mengikuti seseorang, dan keluarga, serta kekasih yang baik akan membuat seseorang berusaha melakukan apapun untuk mereka, namun kadang nasib tidak mengizinkan hal-hal baik terwujud, antara lain karena kejahatan, keserakahan berada di sekitar kita, bahkan sangat dekat, demikian pula kejadian buruk dapat datang tanpa diduga, sehingga nasib kadang begitu absurd. Namun alam yang masih terjaga keasliannya adalah sesuatu yang berarti.

Mungkin benar, bahwa kenangan masa kecil selalu mengikuti kita. Saya suka buku ini, yang hampir tiap halamannya ada gambaran mengenai pantai, laut, angin, langit, yang ditulis hampir seperti puisi, karena mengingatkan pada masa kecil saya sendiri yang pernah tinggal di tepi laut. Mungkin tidak mudah dimengerti orang lain, tetapi sampai sekarang bagi saya tempat yang paling menyenangkan adalah rumah di tepi laut.

The Prospector berlokasi di Mauritius pada tahun 1892 s.d. 1922. Mauritius, kepulauan yang terletak di dekat Madagaskar, Afrika Timur. pernah menjadi koloni Belanda pada tahun 1630-1710, kemudian diambil-alih Prancis pada tahun 1710-1810, sebelum akhirnya menjadi koloni Inggris s.d. tahun 1968. Belanda, yang juga membawa kepunahan burung dodo, membawa tanaman tebu dari Jawa. Prancis kemudian membawa budak untuk dipekerjakan di perkebunan. Pada tahun 1835 Inggris menghapus perbudakan di Mauritius dan pekerja diisi oleh para imigran, terbanyak dari India.

Tentang Penulis

Jean Marie Gustave Le Clezio yang berdarah Inggris dan Prancis adalah pengarang kelahiran Prancis tahun 1940. Ia mendapat hadiah Nobel pada tahun 2008 untuk “new departure, poetic adventure and sensual ecstasy, explorer of a humanity beyond and below the reigning of civilization.”
Bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris antara lain The Interrogation (1963), pemenang Prix Renaudot, War (1973), Desert (1980), dengan tema konflik kultural masyarakat asli  Afrika dengan peradaban Eropa, dan mendapat penghargaan dari Akademi Prancis, Onitsha (1992), The Wandering Star, dan karya non fiksi Mexican Dream. Karya-karya awalnya menunjukkan ia pengarang yang memperhatikan lingkungan hidup, jauh sebelum hal tersebut menjadi kesadaran umum.
Le Clezio merupakan pengarang terkemuka di Prancis dan telah menulis sekitar 40 buku, juga menjadi pengajar pada Universitas di New Mexico. Ia pernah tinggal di Prancis, Mauritius, Thailand, Meksiko dan Panama. Le Clezio disebut juga sebagai Steve McQueen sastra karena parasnya.

The Prospector adalah buku pertama karya Le Clezio yang saya baca. Dengan novel lirisnya yang halus dan mengharukan, tampaknya buku-bukunya yang lain cukup menarik untuk menjadi bacaan berikutnya.

Posting ini adalah untuk posting bersama Blogger Buku Indonesia, dengan tema buku karya pemenang Nobel.

Sunday, October 21, 2012

Amba - Sebuah Novel


Judul : Amba
Pengarang: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: GPU
Tahun : 2012
Tebal : 486 hal




Novel ini adalah kisah cinta sedih dengan latar belakang peristiwa 30 September 1965.
Amba adalah anak sulung seorang kepala sekolah di Kadipuro, sebuah kota kecil di Jawa, yang berbeda dari kedua saudara perempuannya karena banyak berpikir dan mendambakan kebebasan. Ayahnya yang sederhana dan menginginkan masa depan yang baik untuknya kemudian menperkenalkannya dengan Salwa, seorang pemuda dengan masa depan cerah yang menjadi dosen di Yogya. Amba yang cerdas kemudian kuliah sastra di Yogya pula, dan selanjutnya bertunangan dengan Salwa, karena ia seorang pemuda Jawa yang sopan, rajin dan penuh perhatian padanya.
Suatu ketika, Amba yang ingin mencari pengalaman baru melamar menjadi penerjemah di sebuah rumah sakit di Kediri. Tugasnya adalah merjemahkan jurnal kedokteran dari bahasa Inggris untuk Bhisma, seorang dokter tampan berdarah Sumatera lulusan Jerman Timur. Mereka saling jatuh cinta dan Amba melupakan Salwa, serta menuruti hasratnya mengikuti kehendak dan kehidupan Bhisma yang penuh bahaya sebagai seorang simpatisan gerakan kiri. Namun peristiwa 30 September 1965 memisahkan mereka.
Empat puluh satu tahun kemudian Amba mencari Bhisma ke Pulau Buru. Apakah yang ditemukannya?

Sebagai novel dengan latar belakang budaya Jawa, pengarang menggambarkan kejawaan keluarga Amba melalui keakraban ayah Amba dengan kisah Mahabarata, Centhini, keharusan belajar menari, dan bagaimana Amba selalu mengaitkan namanya serta kedua laki-laki dalam hidupnya – yang kebetulan sama dengan yang terdapat dalam kisah Mahabarata - dengan tokoh dalam kisah tersebut. Hal ini dapat dilukiskan pengarang dengan baik,
Namun sebagaimana novel lainnya yang ditulis perempuan, tokoh ayah selalu digambarkan lebih cerdas dan dekat dengan anak perempuannya, dan tokoh utama perempuan selalu bertemu dengan laki-laki yang bersedia mencintainya apapun yang terjadi.
Selain itu,seperlima bagian terakhir dari buku tampak terlalu panjang, dan sebenarnya dapat lebih ringkas. Novel ini juga mengingatkan pada novel Sang Penerjemah, yang tokoh utamanya juga jatuh cinta pada laki-laki yang menggunakan jasa terjemahannya. Perbedaannya, dalam Amba sang tokoh lebih berani menuruti perasannya.  

Diluar hal di atas, Amba adalah novel yang menarik dan indah, karena pembaca akan memperoleh sedikit pengetahuan mengenai kejadian-kejadian bersejarah pada masa itu, sekelumit kisah wayang, sifat keluarga Jawa, keadaan di pulau Buru, dan perasaan serta hasrat seorang perempuan yang jatuh cinta, yang semuanya ditulis secara lembut dan puitis.

Laksmi Pamuntjak sebelumnya telah menulis beberapa buku, antara lainJakarta Good Food Guide, telaah filosofis Perang, Langit dan Dua Perempuan (2006), dan dua kumpulan puisi yaitu Ellipsis (2005) dan The Anagram (2007).

Monday, October 08, 2012

When We Were Orphans


Judul : When We Were Orphans  (Masa-masa  Ketika Kita Yatim Piatu)
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Alih bahasa:Linda Boentaram
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun : 2012
Tebal : 414 hal



Christopher Banks, anak seorang pegawai perusahaan dagang Inggris di Shanghai tiba-tiba menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya diculik. Ia kemudian dikirim ke rumah bibinya di Inggris untuk melanjutkan sekolah. Selama itu ia merasa bangga kepada kedua orang tuanya, khususnya ibunya, yang memperjuangkan kebaikan bagi penduduk asli. Namun peristiwa itu juga mendorongnya untuk menjadi detektif, agar dapat membasmi kejahatan, termasuk menemukan kembali kedua orang tuanya. Setelah berhasil menjadi detektif terkenal - dan berkenalan dengan Sarah, seorang wanita ambisius yang juga yatim piatu - ia kembali ke Shanghai untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun perang sudah dimulai disana. Berhasilkah Banks menemukan orang tuanya? Bagaimana keadaan mereka? Apakah cita-cita Sarah juga tercapai?

Tidak seperti novel-novelnya yang lain, When We Were Orphans ditulis seperti buku detektif populer, yaitu banyak melukiskan tindakan tokoh-tokohnya namun kurang menampilkan pikiran atau perasaannya. Cara penulisan seperti ini membuatnya lebih mudah dibaca, namun membuat karakter tokohnya menjadi agak kurang jelas. Misalnya, pembaca tidak mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Banks terhadap Sarah,terhadap ibunya, hidupnya.
Apakah ia menyukai Sarah hanya karena sama-sama yatim piatu? Apakah ia dapat menerima pengorbanan ibunya tanpa merasa bersalah? Mengapa ia memutuskan hidup sendiri?

Bagian akhir tidak mudah ditebak bagi pembaca, karena tokohnya tidak seperti tokoh detektif dalam novel-novel biasa yang selalu mendapatkan keberhasilan. Seperti novel-novelnya yang lain, terasa ada kehampaan disana. Setelah menjalani kehidupan yang penuh semangat dan cita-cita di masa muda, atau misi - menurut pengarang, di usia senja hal itu tidak tampak lagi. Namun pembaca tidak tahu persis apa yang menyebabkannya. Sedikit petunjuk, mungkin karena latar belakangnya sebagai yatim piatu. “… bagi kami, takdir kami adalah menghadapi dunia sebagai yatim piatu, bertahun-tahun mengejar bayangan orang tua kami yang hilang. Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali berusaha menjalani misi kami hingga akhir, sebaik mungkin, karena sampai kita melakukannya, kita tidak akan pernah tenang.”


Novel ini berlatar belakang tahun tiga puluhan, sehingga pembaca bisa mengetahui bagaimana kehidupan di Inggris dan Shanghai pada masa tersebut, yang berada di tengah perjuangan kaum nasionalis Cina, tentara Merah, dan serangan Jepang.

Thursday, September 27, 2012

Nyanyian Kematian Sirenes

Judul : Nyanyian Kematian Sirenes –
Etnografi Kritis Manusia-manusia Starbucks
Pengarang: Eduardo Erlangga Destranta
Penerbit: Bidik Phronesis Publishing
Tahun : 2012
Tebal : 122 hal

Tidak semua orang muda memiliki daya kritis terhadap konsumerisme dan kapitalisme. Eduardo, dengan pengalamannya sebagai pelanggan setia hingga menjadi pekerja Starbucks, masih memiliki hal itu, sehingga pengalamannya menjadi sebuah kritik terhadap jaringan kedai kopi tersebut. Namun sebenarnya kritiknya dapat juga berlaku untuk semua jaringan toko atau fast food lainnya yang sejenis.

Sebagai mahasiswa, dengan lugu semula Eduardo mengira bahwa para pekerja disana sangat ramah dan perhatian terhadap dirinya, dan segala sesuatu yang berada disana demikian menyenangkan, sehingga kedai kopi tersebut menjadi favoritnya, atau rumah ketiga, menurut istilah Starbukcs. Namun setelah beberapa waktu menjadi pekerja disana, ia menemukan hal yang sebaliknya.

Bertolak dari logo Starbucks, yaitu Sirenes – makhluk laut dalam mitologi Yunani yang dengan nyanyiannya membawa para pelaut yang melewatinya kepada kematian – penulis menyimpulkan bahwa kedai kopi tersebut tidak ada bedanya dengan sirenes: tujuannya adalah menyeret para pelanggannya dalam ilusi kenyamanan dengan tujuan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Mengapa semua itu ilusi, karena keramahan para pekerja (barista) kepada pelanggan tidak tulus – semua hanya kewajiban dan hafalan, pembuatan kopi dirancang sangat mekanis sehingga pekerja tak ubahnya robot, balas jasa kepada pekerja sangat rendah dibandingkan keuntungan yang didapat, dan pelanggan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tanpa sadar mereka mengikuti kemauan Starbucks melayani diri sendiri, membayar mahal untuk hal-hal yang dapat dihemat, dan menuruti semua promosi dengan patuh, yang semuanya sebenarnya hanya bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan kedai. Untuk itu penulis memberikan saran bagaimana agar pembaca dapat tetap kritis menghadapi semua itu jika berada disana.

Saat ini jaringan Starbucks di Indonesia telah mencapai lebih dari 100 kedai, bahkan telah masuk kampus. Bagi saya dari generasi lama, yang ketika kuliah terbiasa hidup hemat dan sederhana, masuknya Starbucks ke kampus terasa kurang pas, bahkan sampai saat ini, saya tetap dapat mengambil jarak terhadap semua jaringan sejenis. Namun dari buku ini saya jadi mengetahui, bahwa tidak demikian halnya dengan generasi muda, yang rupanya lebih mudah terkesan dan mengikuti apapun yang disodorkan di depan mereka oleh jaringan kedai dan restoran asing dengan segala macam taktiknya, sehingga buku Eduardo ini tentunya cukup berguna untuk membuka kesadaran akan sisi buruk kapitalisme.

Monday, September 17, 2012

The Better Angels of Our Nature



Judul : The Better Angels of Our Nature – Why Violence Has Declined
Pengarang: Steven Pinker
Penerbit: Viking
Tahun : 2011
Tebal : 801 hal




Setiap kali habis membaca sejarah zaman dulu, saya selalu merasa sangat beruntung hidup di abad ke 20 dan 21. Mengapa? Karena kehidupan manusia di masa lalu penuh dengan kekejaman yang tak terperikan untuk ukuran manusia modern.

Pada tahap manusia masih menjadi pemburu peramu, kehidupan penuh kecemasan, karena setiap waktu dapat terjadi penyerangan mendadak secara diam-diam dan balas dendam.
Selanjutnya pada seribu tahun pertama Masehi kehidupan juga tidak lebih baik, karena sewaktu-waktu musuh dapat melakukan penyerangan, dan penjarahan, perbudakan perkosaan serta hukuman dengan penyaliban, mutilasi atau penyiksaan lainnya merupakan hal biasa yang menyertai penyerangan tersebut.

Keadaan ini berlanjut hingga zaman pertengahan. Pada zaman ini kekerasan dan kekejaman mencapai puncaknya, khususnya di Eropa. Selain perang terus menerus antara para ksatria juga terdapat perang agama yang berlangsung selama puluhan tahun tanpa henti, inkuisisi, dan pembakaran terhadap mereka yang dituduh sebagai tukang sihir. Menurut Pinker, zaman pertengahan merupakan zaman dimana seni penyiksaan mencapai puncaknya, dengan diciptakannya berbagai alat penyiksaan yang dapat memperlama dan memaksimalkan tingkat kesakitan para korbannya
Salah satu peninggalan kekejaman itu misalnya tampak pada kitab-kitab suci, yang menggambarkan hukuman dengan pembakaran, mutilasi, berbagai penyiksaan tiada akhir, genosida, dan mentolerir perbudakan. Bagi masyarakat zaman kini, hal-hal tersebut merupakan kekejaman dan tidak patut. Namun dahulu hal itu merupakan hal yang biasa.

Steven Pinker dalam bukunya yang terbaru mencoba menjelaskan hal-hal yang menyebabkan menurunnya kekerasan dalam peradaban manusia hingga sampai pada tahap seperti saat ini, yang bahkan tidak mentolerir kekejaman terhadap binatang, dan mencoba meyakinkan pembaca, bahwa kualitas dan kuantitas kekerasan menunjukkan tren semakin menurun, meskipun pada abad 20 terdapat dua perang dunia, gerakan komunisme, dan terorisme.

Dalam bab pertama, penulis menunjukkan contoh-contoh kekejaman di masa lalu, sejak dari zaman prasejarah, zaman Yunani, Romawi, abad pertengahan hingga awal Eropa modern, dan membandingkannya dengan kondisi abad 20 yang telah sangat jauh berbeda, hingga kehidupan di zaman dulu menurutnya tampak seperti “sebuah negara lain.”

Bab selanjutnya penulis mencoba untuk menemukan asal mula timbulnya kekerasan, baik dari sisi logika maupun sejarah. Dari sisi biologi, kekerasan adalah konsekuensi dari survival of the fittest dan manusia sebaga survival machine, yang dalam usahanya untuk bertahan selalu berusaha menggunakan survival machine lainnya semaksimal mungkin baik dari spesies yang sama maupun berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Hobbes yang menyatakan bahwa penyebab kekerasan terdiri dari kompetisi - untuk memperoleh milik orang lain, pertahanan, dan kemegahan.

Dari sisi sejarah, yang menentukan tingkat kekerasan adalah bentuk masyarakat. Semakin primitif suatu masyarakat, semakin tinggi tingkat kekerasan, karena tidak ada yang mengendalikan pertikaian di antara individu dan suku. Penulis menunjukkan data, bahwa tingkat kematian pria dewasa pada masyarakat pemburu peramu sebelum ada negara antara 0 - 60%, dengan rata-rata 15%, sedangkan pemburu peramu masa sesudahnya rata-rata 14% dan pemburu peramu yang berkebun, seperti di Amazon dan Papua Nugini 24%. Tingkat kematian menurun setelah negara muncul sebagai penguasa, misalnya pada masyarakat Inca dan Aztec menjadi 5%, Eropa pada masa perang agama 2%, masa dua perang dunia 3%, sedangkan pada empat dekade terakhir abad 20 menjadi kurang dari 1%.

Negara yang muncul mula-mula berupa teokrasi yang terstratifikasi, dan mengendalikan ekonomi dengan kekerasan, sehingga menurunnya kekerasan di antara individu dalam masyarakat menimbulkan masalah baru, yaitu pemimpin despotik yang memiliki kewenangan tanpa batas dan dapat menerapkan hukuman kejam. Mereka terdiri dari tiran, klerik dan kleptokrat. Oleh karena itu diperlukan sistem untuk membatasi kekuasaan mereka, yang baru muncul sekitar dua ratus tahun terakhir.

Bab selanjutnya menguraikan tentang hal-hal yang menyebabkan menurunnya kekerasan. Merujuk pada teori Norbert Elias, penulis berpendapat bahwa Civilizing Process memegang peranan penting sebagai faktor endogenous, sedangkan yang menjadi faktor exogenous adalah konsolidasi unit-unit politik menjadi negara dan revolusi ekonomi dari berbasis tanah dan petani (zero sum game) menjadi ekonomi yang bergeser ke perdagangan dengan penjualan surplus (positive sum game).

Civilizing Process adalah perubahan psikologis dan perilaku dari masyarakat. Elias melihat bahwa masyarakat Eropa abad pertengahan bersifat temperamental: impulsif, kekanakan, tidak beretika, kurang memiliki rasa malu, kejam, dan kotor, yang tampak dari buku-buku serta gambar yang dibuat pada zaman tersebut. Misalnya, para pengrajin berlomba membuat mesin penyiksa yang lebih kejam efeknya, penyiksaan terhadap binatang merupakan hiburan sehari-hari, para ksatria terus menerus melakukan peperangan tidak jelas yang merusak, dan perjalanan merupakan hal yang sangat berbahaya karena banyaknya perampok di jalan. Namun perlahan-lahan semua ini berubah. Mereka mulai mengendalikan perilaku impulsive, mengantisipasi akibat jangka panjang, dan mulai mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain.
Apa yang menyebabkan terjadinya proses ini?

Penulis mengemukakan tiga hal, yaitu: penurunan kekejaman di kalangan elit, yang kemudian diikuti oleh kelas-kelas di bawahnya, peningkatan kesempatan kerja di pabrik dan perdagangan, dan peningkatan sistem hukum.
Civilizing process berlanjut menuju revolusi kemanusiaan (humanitarian revolution), yang dimulai sejak Abad Akal Budi (The Age of Reason) pada abad 17 ke Abad Pencerahan (The Enlightenment) pada akhir abad 18, dengan lenyapnya hukuman badan dan hukuman mati.

Selama ribuan tahun, sejarah mencatat kekerasan berikut berlangsung di seluruh bagian dunia: pembunuhan karena takhyul – pengorbanan manusia, guna-guna atau sihir, pembunuhan terhadap kaum penghina agama, heretik dan murtad; hukuman mati, perbudakan, kekerasan politik dan pemimpin despot, serta peperangan besar.  Kini semua itu hampir tidak ada lagi. Apa yang menyebabkannya?

Menurut penulis, perang agama di Eropa yang berlangsung selama 30 tahun, adanya kebiasaan untuk mengidentifikasi keadaan pihak lain, dan perubahan moral dari menghargai jiwa menjadi lebih menghargai kehidupan, yang dipengaruhi oleh Abad Akal Budi - yang menekankan bahwa kepercayaan harus didasari oleh pengalaman dan logika, serta mulai berkembangnya sains yang membuktikan bahwa apa yang selama ini dipercaya ternyata dapat salah, membuat manusia menjadi lebih menghargai nyawa sesamanya

Selanjutnya para penulis Pencerahan yang memiliki motif kemanusiaan mendorong dilenyapkannya perbudakan. Sedangkan despotisme dan kekerasan negara diatasi oleh pemisahan tugas yang jelas, positive sum cooperation, dan demokrasi. Akhirnya peperangan besar tidak menarik lagi dan berubah menjadi perdagangan tanpa kekerasan, karena invasi lebih mahal daripada membeli barang dari negara lain.

Berdasarkan hal di atas, maka perdamaian tergantung pada: penyebaran demokrasi, ekspansi perdagangan dan niaga, serta pertumbuhan organisasi internasional.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang menyebabkan revolusi kemanusiaan tersebut?
Menurut Pinker ada tiga hal utama, yaitu:
1. Civilizing Process
Perubahan unit-unit politik menjadi negara dengan kerajaan sebagai pusat kekuasaan baru membuat semua pihak berupaya menampilkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan meningkatkan pengendalian diri, kebersihan dan tata krama. Meningkatnya kebersihan dan penampilan orang-orang membuat mereka tampak lebih baik sehingga lebih mudah untuk menghargai mereka. Peningkatan kemakmuran setelah revolusi industri juga membuat orang merasa bahwa kehidupan adalah sesuatu yang baik sehingga patut dihargai, sehingga mereka mulai menilai hidup orang lain lebih tinggi pula

2. Produksi Buku
Dua ratus tahun setelah ditemukannya mesin cetak pada tahun 1492, produksi buku meningkat lebih dari dua puluh kali lipat. Pada akhir abad 18 perpustakaan beredar telah meluas di Inggris dan pada awal abad 19 sebagian besar pria di Eropa Barat dapat membaca. Penulis menyebut hal ini sebagai revolusi membaca, karena bahan bacaan tidak lagi hanya buku-buku agama, tetapi juga bacaan sekuler, termasuk terbitan berkala. Masa ini adalah juga masa dimana penemuan-penemuan berarti di bidang sains dan penjelajahan ke Amerika, Afrika, India dan Asia dimulai, yang hasilnya dipublikasikan dan dibaca oleh masyarakat luas.

3. Meningkatnya Empati dan Perhatian terhadap Hidup Manusia
Sebagai akibat dari kemajuan percetakan, pada pertengahan abad 18, muncul penerbitan novel-novel yang kemudian dibaca dan mempengaruhi masyarakat luas. Masa ini adalah masa kejayaan epistolary novel, yaitu novel yang ditulis dalam bentuk surat, yang menggambarkan pikiran dan perasaan tokoh utama dari sudut pandangnya sendiri. Kebiasaan membaca novel seperti ini memungkinkan seseorang mampu menempatkan diri dari sudut pandang orang lain, sehingga dapat menimbulkan rasa empati. Dengan empati timbul pemahaman atau pengertian atas perasaan dan kondisi orang-orang lain.

Selain ketiga hal di atas, bangkitnya kota-kota dengan munculnya demokrasi liberal, fIlsafat yang koheren selama Abad Akal Budi dan Pencerahan, dimulai dengan skeptisisme, yang bermula dari sains, dan humanisme pencerahan juga berperan penting untuk mengubah perilaku dan psikologi masyarakat sehingga kekerasan dan kekejaman semakin menurun.

Pertanyaannya, mengapa pencerahan hanya muncul di Barat? Tidak di negara-negara Islam, misalnya? Berdasarkan hal di atas, menurut penulis kemungkinannya adalah karena penguasa Islam tidak segera mengambil teknologi percetakan dan menerbitkan buku-buku di luar bidang agama, yang dapat membangkitkan pemikiran bebas.

Bab selanjutnya mencoba untuk membuktikan bahwa abad 20 bukanlah abad terkejam, meskipun terdapat 70 juta korban perang dunia I dan II serta 60 juta korban rezim totaliter (komunis). Namun dengan membandingkan antara jumlah penduduk pada suatu masa dengan korban perang pada masa tersebut, Pinker menemukan bahwa perang yang memakan korban terbanyak sepanjang sejarah manusia adalah revolusi An Lushan yang terjadi pada abad 8 dengan 36 juta korban, disusul oleh penaklukan Mongol pada abad 13 dengan korban 40 juta orang, dan perdagangan budak Timur Tengah pada abad 7 s.d 19 dengan 19 juta korban. Selain itu, merujuk pada hasil penelitian Richardson, data statistik menunjukkan bahwa waktu perang terjadi secara acak, dan kekuatannya mengikuti power law.
Sementara itu semakin ke masa kini interval perang semakin jarang dan korbannya semakin sedikit, sehingga ia berani menyebutnya sebagai masa perdamaian yang panjang.

Setelah menguraikan sejarah kekerasan dan sebab penurunannya, penulis mencoba melihatnya dari sisi psikologi, yaitu mengapa kekerasan tidak dapat dipisahkah dari manusia. Penulis mencatat ada delapan motif yang membuat kekerasan tidak dapat begitu saja dilenyapkan, antara lain sisi gelap psikologi manusia, balas dendam, sadisme dan ideologi.

Buku ini sangat menarik karena Pinker adalah penulis yang memikat; referensinya luas dan tulisannya mengalir, sangat menyenangkan untuk dibaca. Kedua, argumennya dilengkapi dengan banyak data – ada lebih dari seratus tabel - yang banyak diantaranya merupakan pengetahuan baru bagi pembaca, karena berasal dari banyak sumber. Ketiga, uraian penulis membantu pembaca memahami lebih baik posisinya dalam sejarah dan kondisi dunia saat ini, bahwa baru pada zaman inilah kekerasan dan kekejaman benar-benar jauh berkurang sehingga kita patut bersyukur.

Pinker adalah ilmuwan yang optimis. Ia yakin bahwa pada akhirnya demokrasi liberal akan menyapu seluruh dunia, karena tidak akan ada masyarakat manapun yang mampu menolak teknologi, sains dan perdagangan yang dibawa bersamanya, termasuk masyarakat teokratis seperti negara-negara Timur Tengah. Ia yakin bahwa kaum ekstrim kiri maupun kanan pada akhirnya akan menerima liberalisme dan kapitalisme, termasuk Indonesia, yang menurutnya merupakan salah satu negara Islam yang mengarah pada demokrasi liberal.

Keyakinannya ini belum tentu disukai semua orang. Pembaca beraliran kiri menganggap bahwa kapitalisme adalah ketidakadilan dan kekerasan serta kekejaman bukan saja terjadi dalam bentuk perang tetapi juga kesusahan hidup buruh-buruh dan orang miskin di seluruh dunia. Pembaca beraliran kanan menganggap bahwa liberalisme merupakan ideologi yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga mereka akan tetap terus berjuang untuk meniadakannya.

Apakah kedua aliran ini akan hilang begitu saja? Ekstrim kiri mungkin kurang menarik lagi karena telah terbukti gagal, namun ekstrim kanan masih menarik. Sebagaimana kita lihat di Afrika, Eropa, Asia Tengah dan Indonesia, mereka tidak menyerah begitu saja. Sebaliknya, teknologi dan demokrasi digunakan untuk menyebarkan aliran ini. Apakah mereka akan berhasil, tergantung pada kekuatan pemerintah masing-masing negara mempertahankan nilai-nilai liberalisme. Bahkan di abad ke 21, liberalisme tetap harus diperjuangkan di banyak bagian dunia, karena jika tidak, ideologi lain yang bersifat totaliter masih mengancam dan menarik banyak pengikut dengan mudah.

Disamping hal-hal di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan. Penulis cenderung terlalu optimis, sehingga tidak memberi tempat untuk membahas hal-hal yang menjadi kelemahan sistem demokrasi di negara berkembang dan terbelakang dan sangat yakin bahwa demokrasi, pasar bebas, liberalisme murni, otomatis akan membawa kebaikan di segala tempat, budaya, tingkat ekonomi dan pendidikan, dan akan menurunkan kekerasan lebih jauh lagi. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar, karena untuk berhasil, sistem tersebut memerlukan beberapa prasyarat, yang tidak selalu dimiliki oleh suatu negara. Kedua, uraian mengenai sejarah kekerasan terlalu panjang sedangkan uraian dari sisi psikologi terlalu sedikit

Thursday, August 30, 2012

Keep the Aspidistra Flying


Judul : Keep the Aspidistra Flying
Pengarang: George Orwell
Penerbit: Folio Society
Tahun : 2001
Tebal : 272 hal


Dapatkah seseorang mempertahankan prinsip atau cita-cita jika hal itu membuatnya harus hidup miskin? Apakah pilihan tersebut bersifat mutlak ataukah dapat diambil jalan tengah?
Gordon Comstock,seorang laki-laki muda berumur tiga puluh tahun, bercita-cita menjadi penulis besar dan membenci pekerjaan yang hanya mengejar uang. Ia tidak mau bekerja di bank atau perusahaan periklanan, karena keduanya mendukung pemujaan terhadap uang, dunia Money-God. Sayangnya, ia miskin, dan keluarganya telah berkorban banyak untuk membiayai sekolahnya, sehingga Gordon terpaksa menerima tawaran bekerja di perusahaan periklanan. Namun setelah ibunya meninggal, ia bertekad meninggalkan dunia tersebut, sehingga menjadi penjaga toko buku kecil dan menulis puisi, meskipun akhirnya menjadi sangat miskin.
Buku puisi pertama Gordon berhasil terbit berkat bantuan Ravelston, sahabatnya yang kaya dan beraliran sosialis, dan kekasihnya, Rosemary tetap setia meskipun Gordon tidak mampu mengajaknya bepergian atau makan malam. Untuk mengajak Rosemary bepergian ia harus meminjam uang kepada kakak perempuannya yang juga pekerja miskin, untuk mentraktir Ravelston minuman murahan ia mengorbankan makan malamnya.



aspidistra

Gordon terus menerus berpikir bahwa ketiadaan uang tidak saja membuatnya kelaparan, namun juga tidak memungkinkan adanya cinta, persahabatan, kemampuan menulis, dan kehidupan sosial yang wajar.. Tanaman aspidistra, yang dapat ditemui di semua rumah kelas menengah, termasuk kamar kosnya, menjadi sasaran kebenciannya.

Namun Gordon tetap tidak mau bekerja di bidang yang menurutnya bersifat Money God, bahkan setelah jatuh lebih miskin lagi karena hanya menjadi penjaga penyewaan buku-buku picisan, sehingga Rosemary membujuknya untuk kembali bekerja di perusahaan periklanan. Berhasilkah upayanya membujuk Gordon?


Membaca novel ini tidak membosankan, meskipun tindakan dan pikiran tokoh utama ditulis dengan rinci,karena membuat pembaca mengetahui bagaimana rasanya hidup miskin membela suatu prinsip, selain suasana tahun tiga puluhan, dimana perang dunia pertama masih terasa dan bayang-bayang perang dunia kedua tengah menggantung. Bagian akhir novel juga akan membuat pembaca berpikir, apakah uang memang segala-galanya? Bagi yang telah lama bekerja, bagian ini mungkin akan mengingatkan akan masa lalunya: apakah pekerjaan yang dipilihnya memang benar-benar sesuai cita-cita atau minat ataukah karena bersifat realistis – artinya lebih mempertimbangkan sisi keuangan, atau tercapai keduanya?

Tidak mengherankan bahwa pengarang dapat menggambarkan tokohnya dengan baik, karena pengarang sendiri pernah mengalami kemiskinan parah ketika menjadi penulis lepas, yaitu setelah berhenti menjadi pegawai Indian Imperial Police selama 5 tahun di Burma (1922-1927), sehingga terpaksa menjadi pencuci piring di Paris dan tuna wisma di London, sebagaimana dikisahkan dalam Down and Out in Paris and London (1933). Dalam buku tersebut ia menceritakan, betapa rumit dan membosankannya menjadi orang miskin. Misalnya ketika di jalan mendadak bertemu seorang teman yang berada, ia terpaksa menghindar dengan memasuki sebuah kafe dan mengorbankan uang makannya untuk membeli kopi yang tidak dapat diminum karena dimasuki lalat, dan kejadian-kejadian kecil sejenis yang berakibat fatal jika seseorang miskin. Semua itu tampaknya menjadi dasar dari kejadian-kejadian yang terdapat dalam novel ini serta pikiran tokoh utama, yang kebencian sekaligus kebutuhannya akan uang diungkapkan secara berlebihan sehingga kadang terasa komikal.

Menceritakan pengalamannya, ia menulis,  You thought it (poverty) would be quite simple;it is extraordinary complicated. You thought it would be terrible; it is merely squalid and boring. It is the peculiar lowness of poverty that you discover first; the shifts that it puts to you, the complicated meanness, the crust-wiping.”    Pengalaman tersebut membuatnya lebih besimpati kepada para pekerja miskin dan tuna wisma. Orwell sendiri adalah seorang sosialis, mungkin itu sebabnya satu tokoh dalam novel ini juga seorang sosialis. Namun tidak seperti Gordon, ia menjadi penulis yang sukses.

Tampaknya empat novel yang ditulis sebelum dua novelnya yang terkenal semua berdasarkan pengalaman pribadinya, dimulai dari Burmese Days, yang ditulis berdasarkan pengalamannya sewaktu bekerja di Burma, kemudian Keep the Aspidistra Flying dan Coming Up for Air, yang keduanya tentang hidup dalam kesulitan keuangan, serta A Clergyman’s Daughter. Diantara keempat novel tersebut, yang terbaik adalah Burmese Days.
 




Sunday, August 12, 2012

The Geography of Bliss


Judul : The Geography of Bliss
Pengarang: Eric Weiner
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita
Tahun : 2012, Maret (Cet 2)
Tebal : 512 hal

Apakah yang membuat seseorang bahagia? Apakah kebahagiaan itu hanya tergantung pada cara seseorang menghadapi kehidupan saja ataukah juga tergantung kepada lingkungan atau budaya tempat ia tinggal?

Eric Weiner percaya bahwa lingkungan juga mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Oleh karena itu ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan penduduk suatu negara lebih bahagia dibanding tempat lain dan sebaliknya. Untuk itu ia mengunjungi sepuluh negara, yaitu Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Inggris, India, dan negerinya sendiri, AS.

Berdasarkan indeks kebahagiaan yang disusun oleh peneliti Belanda Ruut Veenhoven, dari sepuluh negara di atas, Islandia adalah yang negara yang penduduknya paling bahagia, dengan nilai 8.3, sedangkan Moldova adalah yang paling tidak bahagia, dengan nilai 4.9, disusul India (5.5).

Kebahagiaan rakyat Islandia agak mengherankan Weiner, karena negara tersebut bersuhu dingin yang langitnya hampir selalu gelap. Namun di Islandia orang tidak terlalu ditekan untuk selalu sukses, karena apabila kurang berhasil di satu bidang, mereka dapat berpindah ke bidang lainnya dengan mudah. Spesialisasi belum sepenuhnya berlaku disini. Selain itu, hubungan antar masyarakat cukup dekat karena negaranya sangat kecil.

Rakyat Moldova tidak bahagia karena mereka sangat miskin sepeninggal Soviet, tidak memiliki identitas dan budaya tersendiri yang jelas, dan memiliki sifat iri hati yang negatif. Qatar meskipun kaya raya namun kurang bahagia dibanding Singapura karena susunan masyarakatnya masih tradisional, yaitu sukuisme, hampir tidak memiliki kebebasan, tidak memiliki kebudayaan, dan hampir seluruh kegiatan kerja dilakukan orang asing. Sedangkan Thailand lumayan berbahagia karena bersikap santai dan tidak pernah berpikir berat.

Sepanjang buku Eric menulis dengan nada humor yang mengalir dengan lancar, sehingga tulisannya menyenangkan untuk dibaca. Di setiap negara Ia bertemu dan bertanya pada banyak orang untuk meminta pendapat mereka tentang arti kebahagiaan dan merasakan kehidupan di negara tersebut.

Indeks kebahagiaan yang dibuat Ruut Veenhoven disusun melalui survey dengan menanyakan kepada responden tingkat kebahagiaan mereka secara keseluruhan dalam nilai 0-10, sehingga memang jawaban menjadi bersifat subyektif dan tergantung keadaan responden pada saat survey. Namun demikian, data yang dihasilkan survey ini menunjukkan adanya korelasi positif antara kemakmuran, kebebasan dan kestabilan suatu negara dengan tingkat kebahagiaan penduduknya.

Berdasarkan hasil survey, negara-negara Afrika dan eks Soviet adalah yang paling tidak bahagia, disusul oleh negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan. Negara ASEAN berada di urutan selanjutnya dengan nilai 5.9 (Filipina) sampai 6.9 (Singapore), sedang Indonesia hanya 6.3. Yang paling bahagia adalah penduduk negara-negara Skandinavia – negara yang juga paling stabil dan sekuler – dan Amerika Latin, baru kemudian Eropa Barat, Kanada, Australia dan AS.

Melihat nilai indeks tersebut, disayangkan mengapa penulis tidak ke Amerika Latin, karena muncul pertanyaan, mengapa negara-negara tersebut lebih bahagia dibandingkan Eropa Barat, meskipun tidak semakmur Eropa. Selain itu, negara-negara bersuhu dingin tampaknya juga lebih bahagia.

Eric Weiner sendiri menulis bahwa untuk bahagia, suatu masyarakat perlu rasa saling percaya. Hal ini tentunya hanya bisa dimiliki oleh masyarakat di negara maju, bukan di negara-negara miskin yang pemerintahannya korup, seperti di Afrika atau sebagian Asia, misalnya.

Membaca buku ini seperti melakukan perjalanan yang menarik ke berbagai negara, sekaligus membuat kita menanyakan kembali arti kebahagiaan.

Perempuan Berbicara Kretek



    Judul:   Perempuan Berbicara Kretek
    Pengarang: Abmi Handayani dkk
    Penerbit: Indonesia Berdikari
    Tahun : 2012
    Tebal : 320 hal





Melengkapi novel Gadis Kretek, ada baiknya membaca Perempuan Berbicara Kretek dan Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek, sekaligus merayakan hari kemerdekaan yang sebentar lagi tiba, karena kedua buku ini akan mengingatkan kita tentang arti penjajahan, yang bisa dalam beragam bentuk tanpa sungguh-sungguh kita sadari.

Kampanye anti merokok dengan alasan kesehatan sudah menjadi hal sehari-hari, dan kini perokok, apalagi perokok kretek, telah menjadi kaum paria. Apalagi jika yang merokok adalah perempuan, maka semakin lengkaplah pandangan rendah itu. Tapi benarkah merokok sedemikian buruknya? Adakah sesuatu dibalik kampanye anti rokok yang demikian gencar? Diluar semua itu, mengapa masih ada diskrimasi terhadap perempuan – yang terlihat jelas kala perempuan merokok di tempat umum.
Ada dimensi feminisme, pembelaan terhadap budaya, ekonomi dan kemandirian bangsa disini.
Bagian pertama berisi argumen bahwa bahaya rokok terlalu dibesar-besarkan. Saya setuju bahwa merokok satu pak atau lebih setiap hari tidak baik. Namun apakah orang juga harus dilarang jika hanya merokok sedikit-sedikit atau sesekali - misalnya ketika bertemu teman-teman di tempat umum - sehingga semua tempat umum harus dibebaskan dari rokok? Hal ini tengah diupayakan oleh banyak pihak pendukung anti rokok untuk menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Bagian kedua membahas tentang pandangan rendah terhadap perempuan perokok. Mungkin kedengarannya seperti pembelaan. Namun saya setuju dengan para penulis dalam buku ini bahwa perempuan perokok adalah perempuan pemberani atau pemberontak, karena ia harus mengatasi stigma buruk yang melekat pada perempuan perokok, yaitu perempuan nakal dan sejenisnya. Saya memiliki teman-teman dekat (perempuan) yang perokok, bos perempuan saya dulu di kantor (di bidang yang bersifat sangat konservatif) juga perokok. Dan mereka adalah orang-orang baik yang paling menyenangkan, kompeten dalam pekerjaan, dan memiliki anak-anak yang sehat. Merokok atau tidak adalah pilihan. Dan perempuan memiliki hak yang sama untuk memilih apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya.

Bagian ketiga, dan ke empat tentang budaya dan kemandirian bangsa. Kretek adalah ciptaan asli bangsa Indonesia, ia telah menjadi bagian dari budaya. Kretek juga menjadi penopang hidup jutaan pekerja perempuan dan petani tembakau serta cengkeh dan penyumbang pajak yang sangat berarti. .

Mengenai hal yang terakhir ini, dibahas lebih baik dalam buku Membunuh Indonesia, karena disusun secara sistematis disertai data-data, sedangkan buku pertama berupa kumpulan 45 artikel yang seluruhnya ditulis oleh perempuan.

Membunuh Indonesia selain menguraikan sejarah kretek, juga menguraikan sejarah tersingkirnya produk-produk lokal Indonesia yang sebagian diantaranya dilakukan dengan menggunakan dalih kesehatan. Pertama yaitu minyak kelapa, yang wajib dilabeli “kaya akan lemak yang menyebabkan sumbatan pembuluh darah,” dan persyaratan menurunkan kadarnya lemaknya, kemudian industri garam, dengan alasan kurang yodium. Semua ini terjadi berdasarkan tekanan asing, yang langsung dituruti oleh pemerintah tanpa berusaha memperbaiki industri kecil dalam negeri, sehingga industri minyak kelapa mati dan kini 70% kebutuhan garam diimpor. Pelopor kampanye di atas adalah pemerintah asing dan perusahaan garam multinasional.

Kini yang menjadi sasaran adalah kretek. Dengan menggunakan isu kesehatan, pabrik-pabrik kretek diminta untuk menurunkan kadar nikotinnya hingga pada titik yang sulit dilakukan oleh pabrik kecil, kemudian peningkatan cukai, pembatasan ruang bagi perokok, dan kampanye anti rokok terus menerus. Namun itu hanyalah alasan, karena tujuan utamanya adalah penguasaan industri kretek oleh asing. Perusahaan asing yang telah mengakuisisi dua perusahaan kretek besar Indonesia, misalnya, juga telah mengakuisisi perusahaan-perusahaan rokok besar di negara-negara lain, dengan tujuan untuk menguasai pasar di seluruh negara tersebut. Sedangkan sponsor utama dari kampanye anti rokok adalah perusahaan farmasi asing. Nah, apakah pemerintah dan rakyat Indonesia sadar akan hal tersebut? Bersediakah kita dijajah kembali dengan cara yang lebih halus? Setelah seluruh kekayaan alam Indonesia dikeruk asing dengan murah, akankah industri kretek (dan tembakau) juga direlakan untuk dikuasai asing?

Saya suka kedua buku ini. Mungkin nadanya seperti propaganda, tetapi apa yang disampaikan penting untuk kita sadari. Setelah sekian puluh tahun merdeka, dan banyak hal tampak tidak berjalan baik, para penulis kedua buku ini membantu mengingatkan hal-hal tersebut.

Thursday, June 28, 2012

Fahrenheit 451


Judul    :       Fahrenheit 451
Pengarang:  Ray Bradbury
Penerbit:      Folio Society
Tahun   :       2011
Tebal    :       152  hal



It was a pleasure to burn.

Di tengah kemajuan teknologi modern, dimana informasi apapun bisa diperoleh dengan mudah dan murah melalui internet, masih perlukah pembakaran buku? Apakah esensi dari pembakaran buku?

Pertanyaan itu muncul begitu saja ketika baru-baru ini saya membaca tentang pembakaran ratusan buku terbitan GPU berdasarkan perintah MUI, dengan syarat harus dihadiri pula oleh MUI. Bahkan yang lebih lucu lagi, mereka yang telah memiliki buku tersebut diminta pula untuk mengembalikan dan menyerahkan bukunya untuk dibakar, dan penerbit serta penerjemahnya akan dituntut. Pembakaran itu sendiri dilakukan oleh GPU dengan patuh dan pasrah, mungkin karena tahu tidak seorang pun akan membelanya, termasuk negara, yang seharusnya menegakkan kebebasan berpendapat dan berpikir serta memiliki wawasan lebih luas dari kaum fundamentalis, yang jika dibiarkan bahkan akan mengatur apa yang boleh dipikirkan oleh setiap orang. Padahal buku tersebut hanya dicetak 3000 eksemplar, dan baru terjual sekitar 460 buku. Suatu jumlah yang sangat kecil untuk “mempengaruhi ketertiban umum”.

Fahrenheit 451 adalah novel dystopia tentang tiadanya lagi kebebasan berpikir dan bertindak, dimana semua orang diharapkan memiliki pikiran yang sama dan bahkan tidak boleh berpikir. Tokoh dalam novel adalah Montag, petugas pembakar buku. Petugas pemadam kebakaran, di masa mendatang tidak bertugas memadamkan api, namun meneliti semua rumah dan membakar semua buku yang dapat mereka temukan di setiap rumah, karena setiap buku harus dimusnahkan.

Suatu ketika Montag, petugas pembakar buku, terkesan dengan pertemuan dan pembicaraannya dengan Clarisse, gadis yang berbeda dengan orang-orang lain, karena ia masih berpikir. Pertanyaan-pertanyaan Clarisse membuatnya merenungkan kembali arti hidupnya, pekerjaannya, kehidupan di sekitarnya. Namun tidak lama kemudian Clarisse hilang. Demikianlah nasib mereka yang berbeda. Setelah kepergian Clarisse, Montag merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya, dan kehidupan orang-orang yang ditemuinya tampak dangkal. Dalam upayanya untuk menemukan kebenaran, Montag kemudian malah menyimpan sebuah buku – yang merupakan sebuah pelanggaran berat jika sampai diketahui. Bagaimanakah akhirnya?  

Seperti halnya 1984, Fahrenheit 451 adalah simbol hilangnya kebebasan berpikir, bertindak, dan direduksinya kehidupan massa menjadi kehidupan penuh hiburan dan tampak penuh kegiatan namun pada dasarnya dangkal, seragam, dan tanpa refleksi atau pertanyaan lagi. Seperti itukah kehidupan sebagian besar masyarakat saat ini? Seperti itukah yang diinginkan mereka yang ingin menguasai massa dengan ideologi mereka? Massa yang memiliki pikiran yang sama, menerima apapun yang diindoktrinasikan pada mereka, patuh dan tertib, yang tidak berani bertanya, melakukan kritik, dan berpikiran berbeda.

Novel ini, yang menurut penulisnya merupakan metafora, juga dapat merupakan gambaran masyarakat modern, dimana kelas menengah hanya menjadi kelas yang mengkonsumsi dan tidak memiliki peran yang berarti dalam sistem demokrasi dan kapitalistis. Pemikiran atau pikiran berbeda hanya tersisa pada segelintir orang. Tampaknya ini sesuai dengan hasil survey terakhir Kompas terhadap kelas menengah Indonesia (8 Juni 2012), yang menunjukkan bahwa kelas ini bersifat konsumtif dan konservatif, sifat yang tentu akan menggembirakan kaum fundamentalis. Ironis memang, di era demokrasi, nilai-nilai liberalisme justru terkikis oleh fundamentalisme.  

Novel ini ditulis 59 tahun yang lalu dalam waktu sembilan hari oleh Ray Bradburry (1920 – 5 Juni 2012) ketika masih muda, namun kisahnya yang masih relevan sampai kini membuat Fahrenheit 451 novel klasik modern.