Thursday, September 21, 2006

RIVER OUT OF EDEN



Pengarang : Richard Dawkins
Tebal : 332 halaman
Tahun : 1996
Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia : Sungai dari Firdaus, 2006

Meskipun teori evolusi telah berumur 150 tahun dan diterima oleh para ahli biologi sebagai suatu fakta, namun terdapat beberapa perbedaan pandangan diantara para ilmuwan sendiri. Sebagian berpendapat bahwa teori evolusi bisa berdampingan dengan kepercayaan akan adanya Tuhan, sebagian bersikap netral, yaitu bahwa ada tidaknya Tuhan tidak dapat dibuktikan dan karenanya tidak dapat diambil kesimpulan apa-apa tentang hal itu, dan sebagian lagi berpendapat bahwa teori evolusi membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Penulis buku ini, Dawkins, termasuk golongan ketiga. Selain itu juga tergolong reduksionis, karena berusaha menerangkan seluruh fenomena evolusi hanya berdasarkan seleksi alam. Sementara itu terdapat sejumlah ilmuwan yang melihatnya tidak saja berdasarkan seleksi alam namun berusaha pula melihat pola-pola lainnya yang lebih kompleks.
Dalam bab pertama penulis menjelaskan bahwa seleksi alam berlangsung pada tingkat gen. Gen yang baik akan diteruskan pada keturunan dibawahnya demikian seterusnya, seperti sebuah sungai yang terus mengalir. Namun yang dialirkan adalah informasi (DNA)melalui waktu. Dalam jangka panjang, gen yang bertahan adalah yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempatnya hidup.
Bab kedua berisi penjelasan tentang DNA mitochondria, yang hanya terdapat dalam sel telur, karena itu garis keturunan dapat diurutkan keatas melalui pihak ibu, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika, disebut “African Eve”.
Bab ketiga menjelaskan bagaimana evolusi berlangsung secara gradual, dengan mengambil contoh-contoh dari dunia binatang. Bagian ini sekaligus sebagai jawaban terhadap kaum “Creationism”, yang mempercayai adanya penciptaan makhluk dan alam secara sempurna dalam sekali jadi berdasarkan rancangan Tuhan.
Bab keempat dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari buku ini, bahwa dengan melihat kejadian-kejadian di alam dan dunia binatang, alam tampaknya kejam. Namun sebenarnya tidak, karena jika kita mengerti mekanisme evolusi, maka alam hanyalah tidak peduli. Sebagaimana dinyatakan oleh Dawkins, “We cannot admit that things might be neither good nor evil,neither cruel nor kind,but simply callous – indifferent to all suffering, lacking all purpose.” (hal. 112) yang ditegaskan lagi pada hal. 155, ” The universe we observe has precisely the properties we should expect if there is, at bottom, no design,no purpose, no evil and no good, nothing but blind, pitiless indifference.”
Buku ini ditulis dengan jernih, mengalir dan sangat bagus, sehingga meskipun anda mungkin tidak setuju dengan kesimpulan akhirnya, tetap patut dibaca, untuk mengetahui perkembangan science mutakhir.

THE SELFISH GENE




Pengarang : Richard Dawkins
Tebal : 343 halaman
Tahun : 1989 (cet.I th 1976)
Penerbit : Cox & Wyman Ltd, Berkshire

Apa artinya memahami teori evolusi ? Apakah pemahaman akan teori tersebut dapat membuat kita lebih mengerti peril
aku makhluk hidup, termasuk lingkungan sosial kita ?
Dalam bab satu, penulis menyatakan bahwa teori evolusi mempengaruhi seluru
h aspek kehidupan manusia. Mengapa ? Karena perilaku mementingkan diri sendiri (selfish) dan perilaku baik (altruism) memiliki akar dalam biologi, lebih tepatnya dalam gen. Sifat-sifat tersebut akan sangat mempengaruhi relasi antar makhluk hidup dan selanjutnya kehidupan sosial. Contoh dari sifat mementingkan diri sendiri antara lain perilaku menolak membagi sumberdaya yang berharga seperti makanan, daerah atau pasangan, yang mencapai titik ekstrim pada kanibalisme atau mengorbankan orang lain untuk keperntingan sendiri. Sedangkan sifat altruisme misalnya tampak pada lebah yang mengorbankan nyawa untuk membela sarangnya, karena sesudah menyengat musuh lebah akan mati. Menurut Dawkins, adanya sifat-sifat di atas dapat diterangkan dengan hukum dasar yang disebut “gene selfishness”, atau sifat mementingkan diri sendiri gen.

Sifat mementingkan diri sendiri timbul karena evolusi bekerja
melalui seleksi alam. Hal ini berarti hanya yang paling fit yang akan dapat bertahan hidup. Namun apa yang menjadi dasar seleksi ? Untuk menjelaskan hal ini penulis mengajak kembali ke asal mula terciptanya kehidupan di bumi. Bumi memiliki bahan mentah kimia yang melimpah, antara lain air,karbondioksida,methane, amonia dan energy, namun melalui seleksi alam akhirnya tercipta sejumlah molekul yang lebih kompleks dan lebih stabil dibandingkan lainnya, dalam bentu sup yang berisi asam amino, yaitu blok pembangun protein. Kemudian secara kebetulan tercipta replicator (penyalin), yang dapat menyalin dirinya sendiri. Ini adalah gen. (DNA). Selanjutnya gen mencari wadah untuk memperbanyak dirinya. Wadah tersebut bisa bermacam bentuk, baik berupa tanaman, binatang maupun manusia, asalkan bisa memenuhi tujuan gen, yaitu membuat salinan diri sebanyak-banyaknya.
Molekul DNA adalah rantai panjang dari blok pembangun, molekul kecil yang disebut nucleotides, sedangkan molekul protein adalah asam amino. Molekul DNA terdiri dari sepasang rantai nucleotides yang bertautan dalam bentuk spiral; double helix. Blok pembangun nucleotides hanya terdiri dari 4 jenis, yang namanya disingkat A,T,C dan G. Semua ini sama baik dalam binatang maupun tanaman. Yang berbe
da hanyalah susunan atau urutan pertautan mereka. Sebuah blok pembangun G dalam seekor siput sama dengan yang terdapat dalam manusia. Yang berbeda hanya urutannya (sekuens).
Itu sebabnya menurut Dawkins, semua makhluk hidup hanyalah alat bagi gen untuk terus hidup. Bahwa makhluk hidup hanya merupakan “mesin survival”, “robot yang diprogram secara buta untuk mempertahankan gen” terlihat dari struktur dasar kimiawi yang hampir sama pada seluruh makhluk hidup. Betapapun berbedanya bentuk antara satu makhluk hidup dengan lainnya, antara tanaman dan binatang dan manusia, namun mereka sem
ua memiliki strukur kimiawi yang hampir sama, dan gen, DNA, pada dasarnya adalah sejenis molekul yang sama pada semua makhluk hidup. DNA dapat dianggap sebagai “sekumpulan instruksi tentang bagaimana membuat sebuah tubuh”, sebuah resep, blueprint.
Apakah yang dilakukan DNA ? Yang dilakukan DNA adalah memperbanyak diri dan mengawasi pembuatan bermacam molekul protein secara tidak langsung, dengan cara menerjemahkan DNA tersebut dalam abjad asam amino yang menentukan molekul protein. Oleh karena tujuan utama gen adalah untuk hidup terus dan memperbanyak diri
sebanyak-banyaknya, maka gen akan berupaya agar tubuh (makhluk hidup) yang didiaminya cukup efisien guna mencapai tujuan tersebut. Bagaimana mendapatkan efisiensi ? Seperti halnya dengan ilmu ekonomi, dimana efisiensi tercapai melalui kompetisi dan selfishness, maka demikian pula di dalam alam, sehingga penulis menyebut gen sebagai “the selfish gene”.
Berdasarkan argumen dasar di atas, maka menurut penulis setiap perilaku makhluk hidup pada dasarnya adalah mementingkan diri sendiri, bahkan sifat altruism (perbuatan baik, pengorbanan diri untuk kepentingan keluarga, masyarakat) sebenarnya juga mementingkan diri sendiri. Sebagai contoh, mengapa makhluk hidup bersedia meng
orbankan diri untuk kelangsungan hidup anak atau kerabat dekatnya ? Karena mereka berbagi gen yang sama. Mengapa laki-laki selalu mencari perempuan yang jauh lebih muda ? Mengapa laki-laki bersifat agresif ? Semua itu bisa dikembalikan kepada hukum dasar di atas. Namun hal ini tidak berarti pembenaran terhadap perilaku mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, apabila kita mengetahui sifat atau perilaku buruk yang disebabkan oleh gen, maka kita dapat melawannya, antara lain dengan berbuat baik atau dengan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan.
Pendapat Dawkins disebut reductionist, karena mereduksi proses evolusi pada tingkat gen dan hampir mengabai
kan faktor-faktor lainnya. Namun bukunya telah menjadi buku klasik sains populer yang cukup berpengaruh.





Richard Dawkins

DARWIN'S DANGEROUS IDEA - Evolution and the Meanings of Life



Pengarang : Daniel C. Dennet
Tebal : 521 halaman
Tahun : 1995

Mengapa setelah lebih dari seratus tahun, masih banyak orang yang merasa terganggu dan tidak bisa menerima teori evolusi ? Menurut penulis buku ini,
Dennet, hal itu karena akibat dari teori tersebut jauh melampaui biologi, dan menghancurkan kepercayaan yang kita anggap suci, sehingga membuat kita merasa tidak aman dan tidak berarti.
Untuk menerangkan hal di atas, penulis menguraikan apa artinya seleksi alam, bahwa seleksi alam sebenarnya merupakan proses algoritma yang berjalan secara buta dan tidak diprogram untuk suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, bahwa semua itu melalui proses secara gradual dan mekanistik, bahwa kebetulan saja akhirnya dari proses tersebut tercipta manusia, karena apabila proses tersebut diulang, belum tentu hasilnya sama. Selanjutnya karena proses evolusi tidak mempunyai tujuan tertentu, hal itu berarti kepercayaan yang kita anut selama ini bahwa manusia diciptakan dengan tujuan tertentu oleh Pencipta menjadi buyar. Hal inilah yang membuat sebagian besar dari kita tidak dapat menerimanya, karena apabila manusia tidak berada pada tangga paling atas dari hirarki makhluk hidup dan diciptakan dengan suatu tujuan tertentu yang mulia, sebagian besar dari kita akan merasa kehilangan arti hidupnya. Hal ini juga akan mengubah cara kita hidup dan memandang kehidupan ini. Namun, meskipun tidak ada lagi tujuan seperti dulu, manusia tetap harus menjaga prinsip-prinsip moral agar kehidupan sosial tetap berjalan dengan baik serta adil.
Dennet adalah seorang filsuf dan atheis sejati serta sealiran dengan Dawkins, karena itu sebagian uraian dalam bukunya merupakan serangan terhadap sebagian ilmuwan yang kurang sependapat dengan Dawkins dan pembelaan yang sangat terhadap Darwinisme. Hal ini sedikit menjadi kelemahan buku ini, karena pembahasan menjadi sedikit teknis dan mengandaikan pembaca telah menguasai dengan baik perdebatan dalam teori evolusi. Meskipun demikian, argumen-argumen yang dikemukakannya untuk meyakinkan pendapatnya sangat menarik untuk diikuti, karena meliputi topik yang luas disertai serangkaian bukti dan argumen yang cukup kuat, sehingga bahkan meskipun pembaca tidak memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai evolusi dan tidak setuju dengan pendapatnya, penulis dapat mengajak pembaca untuk berpikir dan merenungkan kembali pengetahuan dan keyakinannya secara rasional. Hal ini sebagian karena buku ini - tidak seperti yang lainnya - bukan penjelasan tentang suatu teori atau fakta ilmiah, tetapi lebih kepada konsekuensi filosofisnya. Filsafat mengajak kita untuk selalu bertanya dan merenungkan kembali nilai-nilai yang telah kita yakini dengan mempertanyakan kembali semuanya dari sudut pandang yang baru. Inilah yang diberikan oleh penulis.
Buku ini tidak begitu mudah, namun upaya membacanya akan sebanding dengan apa yang akan didapatkan. Mungkin ini akan menjadi buku favorit anda. .

COSMOS




Pengarang : Carl Sagan
Tebal : 450 halaman
Tahun : 1997
Penerbit : YOI (edisi terjemahan bhs Indonesia)
Penerjemah : Prof. Bambang Hidayat dkk

Pendapat Dr. Carl Sagan bahwa seluruh masyarakat harus memiliki pengetahuan dasar tentang sains mutakhir dilaksanakan dengan membuat serial televisi "Cosmos" beserta buku berjudul sama, yang lebih rinci dari serial televisi. Meskipun serial televisinya tidak pernah diputar di Indonesia, namun bukunya telah diterjemahkan, meski hampir tidak tampak di toko buku. Buku asli edisi hardcover dilengkapi dengan 250 ilustrasi berwarna, sehingga sangat menarik. Buku terjemahan berbahasa Indonesia dilengkapi 14 halaman ilustrasi berwarna.
Dalam Cosmos, penulis menguraikan bahwa alam semesta sangatlah luas, dan bumi hanyalah satu titik kecil yang tidak berarti diantara ratusan milyar galaksi yang setiap galaksinya terdiri dari rata-rata seratus milyar bintang, dan sejumlah planet sebanyak bintangnya atau seluruhnya 10 miliar triliun. Bumi terletak di titik terjauh sebuah galaksi yang redup. Selain hanya bagai setitik debu, umur bumi (empat milyar tahun) dan matahari juga hanya sekejap mata, karena alam semesta telah berumur sekitar lima belas sampai dengan dua puluh milyar tahun.
Buku ini tidak hanya menjelaskan tentang astronomi, namun sekilas secara sederhana juga menerangkan tentang proses seleksi alam, yaitu bahwa makhluk hidup yang ada di bumi telah melalui proses evolusi melalui seleksi alam. Hal ini antara lain terbukti dari data fosil yang menunjukkan bahwa lebih banyak makhluk hidup yang telah punah dari pada yang kini hidup, bahwa data fosil tidak menunjukkan arah tertentu serta seperti bersifat coba-coba, dan fakta bahwa manusia dapat mengarahkan sifat dan bentuk tumbuhan maupun binatang sehingga menjadi species baru hanya dalam beberapa ribu tahun, tidakkah dalam jutaan tahun evolusi dapat mengubah lebih banyak lagi, yang tidak terbayangkan oleh manusia ? Sehingga evolusi adalah fakta. Selanjutnya diuraikan pula mengenai asal mula kehiupan di bumi, DNA, dan lain-lain.
Usaha manusia untuk mengenal alam semesta tidaklah mudah. Sejarah menunjukkan, bahwa sampai dengan abad 16 bumi masih dianggap sebagai pusat alam semesta, sampai Copernicus dan Keppler menyatakan bahwa bumilah yang bergerak mengelilingi matahari. Namun untuk itu mereka harus berjuang melawan pendapat pada saat itu yang menyatakan sebaliknya, sampai Newton mempertegas kesimpulan mereka dengan teori gravitasinya. Hal ini menunjukkan, bahwa dengan usaha keras manusia dapat mengerti hukum alam semesta.
Selain hal-hal di atas, diuraikan pula tentang komet, planet Mars, perjalanan Voyager ke planet Yupiter, bintang-bintang, galaksi dan kisah ilmuwan Yunani pertama.
Membaca buku ini akan menyadarkan kita akan betapa luas dan menakjubkannya alam semesta, dan betapa berharganya bumi meskipun di alam semesta bumi hanya bagaikan setitik debu.
Sayang sekali bahwa terjemahan buku ini yang seharusnya dapat dibaca oleh seluas mungkin masyarakat dicetak dalam bentuk yang kurang menarik, tidak dipromosikan, dan sulit didapat di toko buku.

THE DEMON HAUNTED WORLD - Science As A Candle In The Dark

Pengarang : Carl Sagan


Tebal : 250 halaman
Tahun : 1980
Penerbit : Vintage

Buku ini dibuka dengan pengalaman penulis ketika menumpang sebuah taksi dan berbincang dengan pengemudinya, yang setelah mengetahui bahwa penumpangnya adalah saintis terkenal, kemudian menanyakan beberapa hal tentang "sains" kepadanya. Namun meskipun pengemudi tersebut cukup membaca, ternyata tidak satupun pertanyaan yang diajukannya bersifat ilmiah, melainkan pseudoscience, karena pertanyaannya adalah tentang tenggelamnya benua Atlantis, ramalan Nostradamus, astrologi, dan kristal. Sedangkan pengetahuan dasar tentang sains sama sekali tidak dimiliki oleh pengemudi tersebut. Mengapa ? Pseudoscience dan superstition (astrologi, segitiga Bermuda, hantu, aura, telepati, ramalan, patung berdarah, penculikan oleh UFO, klaim tentang adanya reruntuhan kapal Nabi Nuh, dll) berada dimana-mana, sedangkan sains yang sebenarnya tidak sampai ke masyarakat, sehingga 95% masyarakat buta akan sains.
Carl Sagan, yang giat mempromosikan sains melalui televisi (serial Cosmos) dan buku untuk masyarakat luas, dalam buku ini memberikan penjelasan untuk menunjukkan bahwa kurangnya publikasi akan sains di seluruh media baik surat kabar, majalah maupun televisi menimbulkan suburnya pseudoscience dan takhayul di tengah masyarakat, sehingga meskipun dalam masyarakat banyak orang yang penuh rasa ingin tahu namun mereka tidak pernah mendapatkan informasi yang memadai, sehingga tidak mengetahui betapa menariknya sains dan betapa besar kemajuannya saat ini.
Penulis memberikan bukti-bukti, bahwa sains telah memberikan banyak kebahagiaan bagi umat manusia, antara lain dalam bidang kesehatan, produksi pangan, sehingga dibandingkan beberapa ribu tahun lalu, bumi bisa dihuni oleh seratus kali lebih banyak manusia dengan harapan hidup 4 kali lebih lama dan kualitas lebih tinggi. Semua itu tidak dapat dicapai tanpa sains. Mengambil contoh ekstrim, Sagan menyatakan, anda dapat mengobati penyakit kolera dengan berdoa atau memberi si sakit tetracyclin setiap 12 jam, anda dapat mengobati pasien schizophernia dengan terapi psikoanalisa atau memberinya 300-500 gram clozapine. Alternatif kedua adalah berdasarkan sains, sedangkan alternatif pertama tidak. Namun mengapa masyarakat tidak tertarik dengan sains dan lebih tertarik dengan pseudoscience atau takhyul ?
Pseudoscience dan takhyul selain lebih mudah dicerna juga dapat memenuhi kebutuhan emosional manusia akan hal-hal yang bersifat spiritual, penyembuhan, atau harapan bahwa kematian bukanlah akhir segalanya.Sedangkan metode sains lebih sulit dimengerti masyarakat awam dan bersifat rasional. Selain itu mass media tidak banyak memberi informasi yang memadai tentang sains dasar yang sebenarnya perlu diketahui semua orang, sehingga masyarakat tidak biasa mempertanyakan segala sesuatu serta berpikir secara rasional atau berpikir skeptis, dan percaya begitu saja kepada doktrin-doktrin agama atau takhyul yang tidak jelas kebenarannya. Padahal, pemahaman tentang sains dasar bagi seluruh masyarakat penting, agar mereka mengerti tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, pengendalian jumlah penduduk, atau mengurangi polusi udara.
Banyak contoh-contoh tentang pseudoscience yang diuraikan dalam buku ini dan kemudian diterangkan secara ilmiah, sehingga kesimpulannya adalah bahwa hanya sainslah yang sebaiknya kita gunakan, karena hanya sains yang memiliki metode yang teruji. Sains tidak pernah menyatakan bahwa suatu teori akan benar selamanya, karena penemuan baru dapat membuat teori lama harus diganti, namun suatu teori yang telah diterima luas berarti telah melewati suatu proses yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebaliknya pseudoscience atau takhyul tidak pernah dapat diverifikasi atau dibuktikan.
Di akhir buku, penulis menyatakan, bahwa demokrasi akan mendukung perkembangan sains, karena demokrasi memungkinkan adanya perbedaan pendapat, penemuan dan kebebasan berpikir, sebaliknya, sains akan menunjang demokrasi karena sains mendorong pemikiran rasional dan kritis.

Monday, September 04, 2006

GADIS PANTAI



Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, 1997
Tebal : 221 halaman

Gadis Pantai adalah novel terbaik Pramoedya. Novel dengan setting daerah Lasem (Jepara) awal abad 19 ini berkisah tentang seorang gadis nelayan berumur 14 tahun yang dibawa orangtuanya untuk dijadikan “wanita utama” seorang “Bendoro” atau priyayi yang masih bangsawan. Di rumah tersebut, yang juga dihuni oleh para agus atau anak-anak lelaki dari para wanita utama sebelumnya (yang telah tidak ada lagi), gadis pantai dilayani oleh seorang wanita pelayan tua, yaitu mbok, yang menghibur kesedihannya karena jauh dari orang tua. Kemudian pada suatu hari uang gadis pantai hilang, sehingga mbok meminta para agus tersebut untuk mengakui bila telah mencuri uang gadis pantai yang hilang. Namun sebagai akibatnya mbok tersebut diusir, meskipun agus yang terbukti mencuri pun diusir pula.
Pengganti si mbok adalah seorang perempuan muda, Mardinah, anak seorang juru tulis, yang disini disebut tergolong priyayi. Pada suatu hari ketika menjenguk orang tuanya di desa nelayan, Mardinah yang mengantarkan gadis pantai ke desanya beberapa waktu kemudian kembali lagi dengan empat orang laki-laki dan memaksa gadis pantai untuk ikut, seolah-olah diminta pulang oleh Bendoro. Namun orangtua gadis pantai yang curiga kemudian berpura-pura seolah kampung nelayan tersebut sedang diserang bajak laut dan Mardinah dan pengikutnya dibawa mengungsi ke tengah laut dengan perahu. Disana pengikutnya dibunuh dan Mardinah tidak diberi tempat tinggal sehingga terpaksa menikah dengan salah seorang penduduk yang dianggap tidak waras. Ternyata Mardinah bermaksud melenyapkan gadis pantai karena ia telah berjanji kepada bangsawan lain untuk menjodohkan sang Bendoro suami gadis pantai dengan putrinya, dengan imbalan ia menjadi istri kelima bangsawan tersebut. Selanjutnya gadis pantai yang kembali ke rumah Bendoro melahirkan seorang bayi. Namun setelah tiga bulan gadis pantai dipaksa pergi meninggalkan bayinya setelah ayahnya yang terkejut atas keputusan Bendoro tersebut diberi sejumlah uang pembeli perahu. Gadis pantai yang hancur hatinya akhirnya tidak bersedia pulang dan memilih untuk berpisah dengan ayahnya yang menjemputnya pulang. Ia ingin membawa dirinya sendiri, dan pergi ke kota mbok pelayannya dulu.
Perjalanan hidup gadis pantai selanjutnya tentu akan sangat menarik. Sayangnya kita tidak akan pernah tahu kisah selanjutnya, karena naskah buku ke dua dan ke tiga novel ini telah dibakar oleh Orde Baru. Sayang sekali, karena pengungkapan kisah gadis pantai dalam buku ini sangat indah dan mengharukan. Namun Pramoedya pernah menyatakan tidak mungkin akan menulis lanjutan novel ini, antara lain karena faktor usia.
Keberpihakan Pram pada masyarakat kecil dan sinisme pada kaum feodal memang sangat nyata dalam novel ini. Sang bangsawan digambarkan rajin beribadah, pencinta kebersihan, bahkan menyatakan bahwa kaum nelayan kurang beriman, kotor, sehingga miskin, dan berdosa karena tidak beribadah. Namun di sisi lain digambarkan bahwa di balik kesalehannya berupa kerajinan bersembahyang, menunaikan haji sebanyak dua kali dan menyumbang pembangunan mesjid atau pengajian, sang Bendoro adalah lelaki kejam yang gemar mempermainkan perempuan muda golongan miskin untuk kesenangannya sendiri, yaitu mengambilnya sebagai istri, mengusirnya begitu saja jika sudah bosan, dan mengambil anaknya dari ibunya tanpa belas kasihan,. Lebih buruk lagi, perempuan golongan ini pun (priyayi) ikut mendukung sistem yang merendahkan perempuan itu sendiri. Selain itu, golongan feodal dan priyayi ikut membantu penjajah dalam menindas rakyatnya sendiri. Demikian buruknya gambaran kaum feodal dan priyayi dalam novel ini, serta betapa sia-sianya ritual agama karena toh tidak mempengaruhi pembentukan moral yang baik, sebaliknya rakyat miskin tidak bersalah apa-apa. Bahkan beranak banyak pun dianggap wajar saja, karena nasibnya sudah demikian buruk sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk keluar dari nasib buruk tersebut.
Bagi mereka yang merasa tertindas, selalu bekerja keras namun tetap miskin, mengalami diperlakukan tidak adil, novel ini mungkin akan semakin menyadarkan ketidakberuntungan mereka dan dapat menimbulkan kebencian terhadap kaum priyayi atau golongan yang lebih beruntung. Namun di Indonesia kini, bukan hanya rakyat miskin yang merasa bernasib sial (terkutuk menurut istilah dalam novel ini), priyayi dan kaum terpelajar serta berada pun merasa terkutuk memiliki pemimpin dan pemerintahan yang luar biasa korup dan tak bermoral serta rakyat kebanyakan yang kepasrahan dan ketidakpeduliannya tak terkira (yang dalam kemiskinan parah tetap bereproduksi tanpa batas namun mengharapkan pemerintah menanggung kesehatan, pendidikan dan pekerjaan anak-anak yang sebenarnya sebagian bisa dicegah kelahirannya) sehingga negeri ini tidak henti dirundung berbagai permasalahan berat.
Di luar hal-hal di atas, novel ini mampu menggambarkan kehidupan rakyat jelata dan kondisi sosial pada awal abad 20 dengan sangat menarik, lancar dan mengharukan. Gaya penuturan Pram yang wajar, realistis dan mengalir menghidupkan novel ini dan mengesankan pembacanya. Saya sungguh sedih dan menyesal harus mengakhiri membaca novel ini tanpa bisa mengetahui kelanjutan kisahnya