Tuesday, August 28, 2018

Homo Deus





Judul                     :   Homo Deus – A Brief History of Tomorrow
Pengarang          :    Yuval Noah Harari
Penerbit              :    Vintage, UK
Tebal                     :   513 halaman
Tahun                   :   2017






Sebagaimana sedang kita alami saat ini, dunia mengalami perubahan yang  sangat cepat  karena  pesatnya   kemajuan sains dan teknologi, sehingga banyak orang tidak mampu lagi mengikuti perkembangannya. Bahkan  sejumlah   ilmuwan   mengungkapkan  kekhawatiran   akan ketidakmampuan manusia melawan kekuasaan artificial intelligence di masa depan.

Melalui Homodeus, Harari mencoba untuk melihat arah yang akan dituju manusia di masa depan, dengan berdasarkan pada sejarah di masa lalu dan perkembangan ilmu pengetahuan di saat ini. Pokok yang hendak disampaikan oleh penulis adalah, tujuan manusia atau homo sapiens di masa mendatang ialah untuk meraih imortalitas dan kesempurnaan.. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu secara organik, misalnya dengan modifikasi DNA sehingga sangat cerdas dan selalu muda; menggabungkan mesin dengan tubuh, misalnya pemasangan implan yang meningkatkan kemampuan penglihatan, dan penggunaan mesin sebagai kepanjangan dari fungsi tubuh, misalnya melakukan operasi dari jarak jauh. Hal-hal tersebut, ditambah penggunaan robot dan artificial  intelligence yang menggantikan jutaan pekerja, akan memperlebar kesenjangan antara elit dengan massa lebih daripada masa-masa sebelumnya, sehingga muncul superhuman dan useless society.   Perubahan yang dibawa oleh teknologi ini merupakan tantangan bagi aliran humanisme, yang selama ini mendasari tercapainya peningkatan kesejahteraan manusia di seluruh dunia.

Pembahasan dibagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama mencoba menjawab pertanyaan mengapa homo sapiens (manusia) dapat menguasai dan mengubah dunia dan apakah hal tersebut karena homo sapiens mempunyai keistimewaan yaitu memiliki jiwa. Berdasarkan sejarah, homo sapiens ketika masih menjadi pemburu peramu memandang dan memperlakukan hewan hampir sebagai makhluk yang setara, karena kehidupan mereka tergantung pada kemurahan alam. Namun munculnya kemampuan bertani atau revolusi pertanian mengubah hubungan tersebut, karena homo sapiens telah mampu mengendalikan pertumbuhan tanaman dan menjinakkan binatang untuk kepentingannya. Seiring dengan itu animisme digantikan oleh agama yang bersifat vertikal: homo sapiens memuja dewa-dewa atau Tuhan agar hasil pertanian melimpah dan  agama digunakan untuk mensahkan eksploitasi hewan guna kepentingan homo sapiens. Namun ketika perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan homo sapiens memproduksi hasil pertanian dan peternakan secara lebih efisien, pemujaan kepada dewa dewa atau Tuhan tidak lagi diperlukan. Homo sapiens menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.  
Mengapa homo sapiens dapat menguasai dan mengubah dunia? Apa yang membedakannya dari hewan? Apakah jiwa, sebagaimana masih dipercaya sebagian besar manusia? Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan adanya jiwa, tulis Harari. Homo sapiens dapat menaklukkan dunia karena ia memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah besar secara fleksibel, tidak seperti semut yang kemampuan kerjasamanya terbatas oleh instink. Hal yang mendasari kerjasama itu adalah imajinasi atau fiksi yang dipercaya bersama (inter subjective level) sebagai sesuatu yang nyata, yaitu agama, dewa atau tuhan, uang, korporasi, bangsa atau negara. Namun disini tampaknya penulis tidak membedakan fiksi murni dan fiksi, imajinasi atau kepercayaan yang harus didasari fakta tertentu. Agama atau dewa dapat diciptakan atau diimajinasikan sesuai kehendak pengikutnya tanpa berdasarkan fakta apapun, namun uang, korporasi dan bangsa harus didasari oleh fakta atau realitas tertentu untuk dapat dipercaya sebagai alat pembayaran, entitas usaha, dan bangsa, yaitu kekayaan yang dimiliki penerbit uang, aktivitas dan kemampuan ekonomi, sekelompok orang yang memiliki kepentingan atau tujuan bersama.

Bagian kedua menguraikan ideologi yang memungkinkan homo sapiens mencapai kemajuan sebagaimana saat ini. Menurut Harari, fiksi, yaitu agama, uang, korporasi dan negara, memiliki kemampuan untuk memaksa mayoritas tunduk, sehingga semua aktivitas dapat berjalan secara efisien. Efisiensi dicapai melalui algoritma, yaitu serangkaian tahapan tertentu yang harus dilakukan untuk setiap kegiatan.
Dalam perkembangannya, muncul konflik antara agama - yang berkepentingan dengan terpeliharanya keteraturan sosial melalui pengaturan moralitasnya - dengan ilmu pengetahuan, yang mementingkan kekuatan, yaitu kemampuan untuk memperbaiki kondisi manusia dan menaklukkan alam. Kekuatan ilmu pengetahuan membawa modernitas, yang memaksa seluruh homo sapiens tunduk pada system jika ingin hidup layak, antara lain dengan mengikuti pendidikan, tunduk pada hukum, dan seterusnya. Modernisme dibangun oleh kapitalisme, yang berjalan berdasarkan invisible hand and tidak peduli. Namun kapitalisme murni menuntut pertumbuhan terus menerus dan cenderung mendorong keserakahan, sementara dunia memerlukan kerjasama, sehingga muncul Humanisme.

Uraian tentang Humanisme cukup mendalam. Humanisme didasari oleh prinsip pengakuan atas individualisme,  kebebasan berekspresi, kepercayaan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan yang baik bagi dirinya maupun masyarakat tanpa bersandar pada perintah Tuhan atau agama, dan bahwa kemajuan dan kesejahteraan manusia dapat diperoleh dengan kerja sama, ilmu pengetahuan, dan partisipasi aktif setiap orang untuk kebaikan. Pandangan humanisme mendasari draft konvensi hak asasi manusia yang diratifikasi 130 negara anggota PBB tahun 1947.
Dominasi humanisme terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II membuat negara-negara di dunia memperbaiki kondisi rakyatnya dengan program-program pertanian, kesehatan, dan pendidikan, sehingga taraf hidup jauh meningkat. 
Humanisme tidak selalu sejalan dengan agama, yang meminta ketundukan total, namun meningkatnya radikalisme serta jumlah pemeluk agama tersebut tidak dianggap penting oleh penulis, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak mengerti sains dan teknologi, miskin dan terbelakang, sementara dunia masa depan akan dibentuk dan diubah oleh segelintir elit yang menguasai teknologi tersebut. Mungkin benar, tetapi jika segelintir militant dari mereka dapat merampas sistem teknologi tinggi, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih berbahaya. Sebagai liberal Harari juga tidak memperhitungkan bahaya dari meningkatnya jumlah imigran atau penduduk beraliran radikal pada negara-negara sekuler, yang dapat mengubah ideologi Humanisme menjadi teokrasi, apakah kemajuan teknologi dapat membuat mereka tidak berdaya, atau sebaliknya dapat menguasai negara-negara yang mereka tumpangi.

Bagian ketiga menguraikan efek dari kemajuan teknologi yang demikian pesat pada mayoritas homo sapiens.
Revolusi humanisme mendorong munculnya sifat-sifat baik homo sapiens, yaitu kebebasan individu, kerja sama, perhatian pada perasaan. Humanisme mendorong negara menyelenggarakan pendidikan massal, vaksinasi, pemeliharaan kesehatan, karena negara memerlukan pekerja dan tentara untuk memajukan negara. Hal ini mendorong meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin pada abad 20.  Namun hal ini belum tentu terjadi pada abad 21, karena pada masa mendatang robot dan mesin-mesin dapat melakukan jauh lebih baik dan murah hal-hal yang selama ini dilakukan oleh manusia, misalnya mobil tanpa pengemudi akan menghilangkan kebutuhan akan jutaan pekerja transportasi, drone dan pesawat tanpa awak akan mengurangi jumlah tentara secara signifikan. Hilangnya pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak akan dapat diimbangi dengan kemampuan pekerja untuk selalu belajar hal-hal baru, sehingga akan muncul segolongan pekerja yang tidak dapat dipekerjakan atau useless society. Sementara itu segolongan kecil elit menguasai mayoritas alat produksi, kekuasaan, dan kecerdasan serta fisik yang lebih baik. Perubahan ini dapat mengubah ideologi yang dianut homo sapiens. Humanisme memandang semua manusia sama dan memberi penghargaan terhadap hidup dan kontribusi yang diberikan setiap warga. Jika artificial intelligence telah demikian cerdas sehingga kontribusi manusia tidak diperlukan lagi karena kualitasnya di bawah AI, apakah humanisme akan tetap dianut? Apakah kaum elit tidak akan lebih mementingkan peningkatan performa kaumnya sendiri dan tidak mempedulikan lagi massa yang miskin atau tidak beruntung karena mereka tidak lagi diperlukan oleh negara? Hal ini terutama untuk negara-negara miskin berpenduduk ratusan juta atau miliar yang harus berkompetisi dengan negara-negara maju, mengingat biaya pendidikan dan kesehatan ratusan juta penduduk sangat besar.

Konsekuensi dari uraian mengenai perkembangan teknologi di masa depan terhadap homo sapiens mengingatkan pada novel Brave New World, dimana manusia direproduksi oleh mesin, dan segolongan elit superior merencanakan jumlah dan tingkat kecerdasan serta kondisi fisik untuk masing-masing kelas yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan. Manusia kembali dikuasai oleh segelintir elit yang kini merupakan superhuman hasil rekayasa biologi.

Alternatif lainnya adalah manusia terserap dalam Internet of All Things dan kehilangan arti. Humanisme yang mengutamakan perasaan, kebebasan, privacy, dan individualisme, di era Internet dan digitalisasi berubah menjadi Dataisme seiring dengan melimpahnya data dan informasi. Sebagaimana ekonomi liberal yang menekankan pentingnya informasi dan pergerakan barang secara bebas untuk kemajuan ekonomi, Dataisme berpendapat bahwa kemajuan akan berjalan secara optimal jika terdapat kemudahan akses terhadap informasi. Semakin banyak data yang terhubung dalam internet yang dapat diakses secara bebas, semakin bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, adanya informasi mengenai kendaraan yang tidak dipakai seseorang pada jam-jam tertentu dapat meningkatkan efisiensi karena di luar jam tersebut kendaraannya dapat digunakan oleh orang lain. Semakin pentingnya data dalam internet mendorong orang untuk berpartisipasi dengan membagikan informasi dan pengalaman pribadinya, sehingga berlawanan dengan humanisme yang menekankan privacy, penganut Dataisme merasa tidak berarti jika tidak membagikan informasi dan pengalamannya dalam internet.

Tujuan dari Dataisme adalah menggabungkan seluruh data dan informasi di dunia untuk diolah dalam internet guna memaksimalkan penggunaannya. Saat ini sistem tersebut masih memerlukan data dari manusia. Namun terdapat kemungkinan bahwa suatu hari nanti sistem tersebut menjadi demikian maju sehingga tidak lagi memerlukan data dari manusia dan berjalan sendiri. Pada saat itu maka manusia hanya akan menjadi chip atau komponen tak berarti dari Internet of All Things. 
Kesimpulan ini diperoleh Harari setelah melihat cara bekerja sistem informasi di internet. Sistem algoritma Google dibuat oleh sebuah tim besar yang masing-masing mengerjakan bagiannya sendiri. Setelah itu sistem berjalan sendiri namun masing-masing tim tidak tahu persis keterkaitan maupun hasil akhirnya karena sistem tersebut akhirnya demikian kompleks. Kecanggihan sistem dalam menghasilkan informasi juga dapat terlihat dari lengkapnya informasi yang dimiliki perusahaan-perusahaan financial technology yang menggabungkan semua data (data supplier, buyer, penjualan, dll), yang mampu menghasilkan informasi sangat rinci hingga jam terjadinya penjualan tertinggi, wilayah penjualan terbanyak, dan lain-lain secara otomatis.

Telah banyak buku yang mencoba menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan berdasarkan perkembangan teknologi saat ini.  Michiio Kaku menulis beberapa buku berdasarkan wawancara dengan puluhan ilmuwan yang sedang melakukan riset. Dalam The Future of the Mind, ia menceritakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian untuk mencatat mimpi, memindahkan pikiran ke dalam komputer, komunikasi melalui sejenis telepati, dan sebagainya.
Homodeus melangkah lebih jauh, yaitu mencoba membayangkan perubahan ideologi atau struktur masyarakat yang akan terjadi di masa depan sejalan dengan adanya perubahan teknologi.
Sebagian berpendapat, bahwa setiap terjadi revolusi teknologi manusia selalu merasa khawatir akan  hilangnya banyak pekerjaan dan meningkatnya pengangguran, namun kekhawatiran tersebut tidak pernah menjadi kenyataan, karena selalu ada pekerjaan-pekerjaan baru. Apakah perubahan yang terjadi saat ini tidak sama saja sehingga tidak perlu dikhawatirkan?  Namun banyak contoh dalam buku ini yang menunjukkan bahwa AI dapat bekerja jauh lebih baik dari manusia dalam banyak bidang, sehingga pada akhirnya kelebihan yang dimiliki manusia hanyalah perasaan. Kita juga dapat melihat hal-hal yang sedang terjadi pada saat ini: penutupan cabang-cabang bank dan pengurangan karyawan karena digitalisasi, toko-toko tanpa kasir, mobil tanpa pengemudi, diagnosa oleh AI yang lebih akurat dari dokter berpengalaman, drone yang sukses membunuhi para teroris. Apabila prediksi kemajuan teknologi terasa berlebihan, masa lalu mungkin perlu diingat. Dua puluh lima tahun yang lalu ponsel berukuran sebesar handy talky dan harganya seperlima sedan mahal, sedang kemampuannya hanya untuk menelpon. Saat ini seorang tukang kebun pun memiliki ponsel saku yang bisa digunakan untuk internet, foto, video, dan lain-lain. Siapa yang bisa meramalkan masa depan?

Homodeus jauh lebih menarik dari Sapiens, buku Harari sebelumnya. Namun untuk menyimpulkan apa yang hendak disampaikannya pembaca harus membaca dengan teliti, karena cara pembahasan yang meluas sehingga pokok yang hendak disampaikan tidak tertulis secara tegas.  Secara keseluruhan buku ini dapat meningkatkan kesadaran pembaca bahwa perubahan semakin cepat, sehingga kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja jika tidak ingin menjadi korban perubahan.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, begitu pula Sapiens, buku pertama Harari.