Sunday, March 17, 2019

The Future of the Mind



Judul                   :   The Future of the Mind
Pengarang          :   Michio Kaku
Penerbit              :   Anchor Books
Tebal                   :   376 halaman
Tahun                  :   2017


Sampai saat ini, pengetahuan manusia akan dirinya sendiri, khususnya pikiran (the mind) masih sangat terbatas dibandingkan pengetahuan tentang hal lainnya. Perkembangan cukup pesat baru terjadi setelah ditemukannya Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada pertengahan 1990-an dan 2000, yang memungkinkan kita dapat melihat aktivitas otak saat seseorang sedang berpikir secara real time. Selanjutnya sinergi pengetahuan mengenai cara bekerja otak dan ilmu komputer diprediksi akan memungkinkan manusia di masa depan dapat melakukan hal-hal yang di masa lalu hanya merupakan khayalan, seperti telepati, telekinesis, pembuatan pikiran dan memori sesuai pesanan, peningkatan kecerdasan, mengubah mimpi, mengendalikan pikiran orang lain, pikiran artifisial, dan pikiran sebagai energi murni.  Untuk melihat seberapa jauh perkembangan hal-hal tersebut, Michio Kaku mewawancarai ratusan ilmuwan serta mengunjungi laboratorium mereka dan menetapkan syarat sebagai berikut untuk prediksi dalam buku ini: (1) Prediksi harus mematuhi hukum fisika secara ketat, (2) Telah terdapat prototipe untuk menunjukkan secara prinsip  terbukti dan dapat direalisasikan.

Buku ini terbagi dalam 15 bab, terdiri dari 3 bagian.

Bagian pertama menjelaskan tentang sejarah singkat neuroscience, susunan otak (yang terdiri dari reptilian brain, mammalian brain dan human brain atau prefrontal cortex) dan fungsi masing-masing, jenis-jenis peralatan untuk meneliti aktivitas otak saat bekerja (MRI, EEG, PET Scans, TES, MEG, NIRS, Deep Brain Simulation, Optogenetics), serta model terakhir tentang cara bekerja otak, yang dapat dianalogikan seperti bekerjanya sebuah perusahaan, dengan prefrontal cortex sebagai CEO yang membuat keputusan-keputusan penting secara sadar, dan reptilian serta mammalian brain sebagai organisasi di bawahnya yang bekerja sendiri secara otomatis di bawah sadar (unconscious),  serta uraian mengenai teori kesadaran, yang membagi kesadaran dalam empat tingkat, terdiri dari tingkat tanaman, reptil, mamalia, dan manusia.

Bagian kedua  mengenai hubungan antara pikiran dan benda material, yaitu telepati, telekinesis, pikiran dan memori pesanan, dan peningkatan kecerdasan atau kemampuan otak manusia.

Telepati
Otak adalah listrik. Setiap kali electron dipercepat, ia menghasilkan radiasi elektromagnetik, demikian pula elektron yang melakukan pergerakan di otak, yang memancarkan gelombang radio. Sinyal ini tidak dapat ditangkap oleh manusia, namun komputer dapat menangkapnya. Ilmuwan dapat mengetahui apa yang dipikirkan seseorang melalui EEG scans. Dalam penelitian, subyek mengenakan helm dengan EEG sensor dan diminta berkonsentrasi memikirkan suatu gambar, misalnya mobil.  Sinyal EEG kemudian direkam untuk setiap gambar hingga tercipta kamus dasar pikiran, dengan hubungan one-to-one antara sinyal atau pikiran seseorang dan gambar EEG. Kelak, apabila seseorang ditunjukkan gambar mobil lain, komputer akan mengenali pola EEG sebagai mobil. Namun kekuatan gelombang elektromagnetik jauh menurun apabila melewati tulang tengkorak, sehingga meskipun komputer dapat mengenali bahwa seseorang memikirkan mobil, namun tidak dapat memunculkan gambar mobil.

Penelitian lain yang lebih maju dilakukan di Universitas California yaitu memindahkan pikiran seseorang ke dalam sebuah video. Untuk itu subyek direbahkan di atas tandu yang kemudian dimasukkan dalam mesin MRI, lalu ditunjukkan klip film selama beberapa jam. Ketika subyek menonton film, mesin MRI membuat gambar 3 dimensi aliran darah dalam otak. Gambar tersebut menyerupai tiga puluh ribu titik atau voxel, setiap voxel mewakili pinpoint energy neural, dan warna titik berhubungan dengan intensitas sinyal dan aliran darah. Setelah beberapa tahun penelitian, tim peneliti dapat mengembangkan formula matematis yang menemukan hubungan antara bentuk tertentu dari gambar dengan voxel MRI. Saat penelitian berlangsung, Kaku dapat melihat apa yang sedang dilihat oleh subyek maupun gambar yang sedang dipikirkan subyek, yang ditampilkan dalam bentuk video. Namun demikian tampilan video untuk benda atau gambar yang hanya dipikirkan tidak sejelas benda yang dilihat dalam bentuk film. Mungkin karena pikiran kita tidak pernah mengingat bentuk suatu benda sampai rinci, hanya garis besarnya saja.

Penelitian lain menggunakan ECOG (electrocorticogram) scan membuahkan hasil yang lebih akurat, karena alat dipasang langsung di atas otak melalui pembedahan, sehingga sinyal langsung direkam dari otak dan tidak melalui tengkorak, berupa 64 elektroda 8x8 grid. Ketika pasien mendengar kata-kata,  sinyal dari otak melewati  elektroda dan dicatat, hingga terbentuk kamus yang mencocokkan antara kata dengan sinyal yang terpancar dari otak. Nanti, jika suatu kata diucapkan, seseorang dapat melihat pola sinyal yang sama. Hubungan ini  berarti apabila seseorang memikirkan suatu kata, komputer dapat menangkap karakteristik sinyal dan mengidentifikasinya. Hal ini berarti adalah mungkin untuk melakukan percakapan secara telepati. Penemuan ini juga dapat membantu pasien stroke yang lumpuh total untuk berbicara melalui synthesizer suara yang dapat mengenali pola otak dari kata-kata individu dengan menggunakan teknik otak-ke-komputer.