Monday, October 08, 2012

When We Were Orphans


Judul : When We Were Orphans  (Masa-masa  Ketika Kita Yatim Piatu)
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Alih bahasa:Linda Boentaram
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun : 2012
Tebal : 414 hal



Christopher Banks, anak seorang pegawai perusahaan dagang Inggris di Shanghai tiba-tiba menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya diculik. Ia kemudian dikirim ke rumah bibinya di Inggris untuk melanjutkan sekolah. Selama itu ia merasa bangga kepada kedua orang tuanya, khususnya ibunya, yang memperjuangkan kebaikan bagi penduduk asli. Namun peristiwa itu juga mendorongnya untuk menjadi detektif, agar dapat membasmi kejahatan, termasuk menemukan kembali kedua orang tuanya. Setelah berhasil menjadi detektif terkenal - dan berkenalan dengan Sarah, seorang wanita ambisius yang juga yatim piatu - ia kembali ke Shanghai untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun perang sudah dimulai disana. Berhasilkah Banks menemukan orang tuanya? Bagaimana keadaan mereka? Apakah cita-cita Sarah juga tercapai?

Tidak seperti novel-novelnya yang lain, When We Were Orphans ditulis seperti buku detektif populer, yaitu banyak melukiskan tindakan tokoh-tokohnya namun kurang menampilkan pikiran atau perasaannya. Cara penulisan seperti ini membuatnya lebih mudah dibaca, namun membuat karakter tokohnya menjadi agak kurang jelas. Misalnya, pembaca tidak mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Banks terhadap Sarah,terhadap ibunya, hidupnya.
Apakah ia menyukai Sarah hanya karena sama-sama yatim piatu? Apakah ia dapat menerima pengorbanan ibunya tanpa merasa bersalah? Mengapa ia memutuskan hidup sendiri?

Bagian akhir tidak mudah ditebak bagi pembaca, karena tokohnya tidak seperti tokoh detektif dalam novel-novel biasa yang selalu mendapatkan keberhasilan. Seperti novel-novelnya yang lain, terasa ada kehampaan disana. Setelah menjalani kehidupan yang penuh semangat dan cita-cita di masa muda, atau misi - menurut pengarang, di usia senja hal itu tidak tampak lagi. Namun pembaca tidak tahu persis apa yang menyebabkannya. Sedikit petunjuk, mungkin karena latar belakangnya sebagai yatim piatu. “… bagi kami, takdir kami adalah menghadapi dunia sebagai yatim piatu, bertahun-tahun mengejar bayangan orang tua kami yang hilang. Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali berusaha menjalani misi kami hingga akhir, sebaik mungkin, karena sampai kita melakukannya, kita tidak akan pernah tenang.”


Novel ini berlatar belakang tahun tiga puluhan, sehingga pembaca bisa mengetahui bagaimana kehidupan di Inggris dan Shanghai pada masa tersebut, yang berada di tengah perjuangan kaum nasionalis Cina, tentara Merah, dan serangan Jepang.

2 comments:

Monica Ruliandri said...

Jadinya dikasih berapa bintang, kak?

Rati said...

3 bintang