Sunday, August 12, 2012

The Geography of Bliss


Judul : The Geography of Bliss
Pengarang: Eric Weiner
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita
Tahun : 2012, Maret (Cet 2)
Tebal : 512 hal

Apakah yang membuat seseorang bahagia? Apakah kebahagiaan itu hanya tergantung pada cara seseorang menghadapi kehidupan saja ataukah juga tergantung kepada lingkungan atau budaya tempat ia tinggal?

Eric Weiner percaya bahwa lingkungan juga mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Oleh karena itu ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan penduduk suatu negara lebih bahagia dibanding tempat lain dan sebaliknya. Untuk itu ia mengunjungi sepuluh negara, yaitu Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Inggris, India, dan negerinya sendiri, AS.

Berdasarkan indeks kebahagiaan yang disusun oleh peneliti Belanda Ruut Veenhoven, dari sepuluh negara di atas, Islandia adalah yang negara yang penduduknya paling bahagia, dengan nilai 8.3, sedangkan Moldova adalah yang paling tidak bahagia, dengan nilai 4.9, disusul India (5.5).

Kebahagiaan rakyat Islandia agak mengherankan Weiner, karena negara tersebut bersuhu dingin yang langitnya hampir selalu gelap. Namun di Islandia orang tidak terlalu ditekan untuk selalu sukses, karena apabila kurang berhasil di satu bidang, mereka dapat berpindah ke bidang lainnya dengan mudah. Spesialisasi belum sepenuhnya berlaku disini. Selain itu, hubungan antar masyarakat cukup dekat karena negaranya sangat kecil.

Rakyat Moldova tidak bahagia karena mereka sangat miskin sepeninggal Soviet, tidak memiliki identitas dan budaya tersendiri yang jelas, dan memiliki sifat iri hati yang negatif. Qatar meskipun kaya raya namun kurang bahagia dibanding Singapura karena susunan masyarakatnya masih tradisional, yaitu sukuisme, hampir tidak memiliki kebebasan, tidak memiliki kebudayaan, dan hampir seluruh kegiatan kerja dilakukan orang asing. Sedangkan Thailand lumayan berbahagia karena bersikap santai dan tidak pernah berpikir berat.

Sepanjang buku Eric menulis dengan nada humor yang mengalir dengan lancar, sehingga tulisannya menyenangkan untuk dibaca. Di setiap negara Ia bertemu dan bertanya pada banyak orang untuk meminta pendapat mereka tentang arti kebahagiaan dan merasakan kehidupan di negara tersebut.

Indeks kebahagiaan yang dibuat Ruut Veenhoven disusun melalui survey dengan menanyakan kepada responden tingkat kebahagiaan mereka secara keseluruhan dalam nilai 0-10, sehingga memang jawaban menjadi bersifat subyektif dan tergantung keadaan responden pada saat survey. Namun demikian, data yang dihasilkan survey ini menunjukkan adanya korelasi positif antara kemakmuran, kebebasan dan kestabilan suatu negara dengan tingkat kebahagiaan penduduknya.

Berdasarkan hasil survey, negara-negara Afrika dan eks Soviet adalah yang paling tidak bahagia, disusul oleh negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan. Negara ASEAN berada di urutan selanjutnya dengan nilai 5.9 (Filipina) sampai 6.9 (Singapore), sedang Indonesia hanya 6.3. Yang paling bahagia adalah penduduk negara-negara Skandinavia – negara yang juga paling stabil dan sekuler – dan Amerika Latin, baru kemudian Eropa Barat, Kanada, Australia dan AS.

Melihat nilai indeks tersebut, disayangkan mengapa penulis tidak ke Amerika Latin, karena muncul pertanyaan, mengapa negara-negara tersebut lebih bahagia dibandingkan Eropa Barat, meskipun tidak semakmur Eropa. Selain itu, negara-negara bersuhu dingin tampaknya juga lebih bahagia.

Eric Weiner sendiri menulis bahwa untuk bahagia, suatu masyarakat perlu rasa saling percaya. Hal ini tentunya hanya bisa dimiliki oleh masyarakat di negara maju, bukan di negara-negara miskin yang pemerintahannya korup, seperti di Afrika atau sebagian Asia, misalnya.

Membaca buku ini seperti melakukan perjalanan yang menarik ke berbagai negara, sekaligus membuat kita menanyakan kembali arti kebahagiaan.

3 comments:

Monica Ruliandri said...

Ini survey beneran?
Ih hebat banget...
Kenapa ga ke Indonesia ya? :P

Rati said...

Hasil survey dikutip dari website Veenhoven, Erasmus Univ Rotterdam, http://worlddatabaseofhappiness.eur.nl/hap_nat/nat_fp.php?mode=1
Sayang memang, ngga ke Indonesia, mungkin Thailand kelihatannya lebih menarik (lebih terkenal)?

Helvry Sinaga said...

sepertinya saya akan mencari buku ini
baca catatan perjalanan kadang lebih membuat kita bijak memaknai kehidupan.