Sunday, March 18, 2012

Maryam


Judul         
P   
 Pengarang: Okky Madasari
Penerbit:      GPU
Tahun  :       2012, Februari
Tebal   :       275 hal


Intoleransi, kekerasan karena agama, ketidakadilan, itulah tema novel ini. 
Kisahnya sederhana. Maryam, pengikut aliran Ahmadiyah yang telah turun temurun merasa heran ketika pulang ke kampungnya di Lombok, karena para tetangganya bersikap memusuhinya. Lebih mengejutkan lagi, ternyata keluarganya telah diusir dari rumah mereka karena menjadi pengikut Ahmadiyah. Ia sendiri baru bercerai, karena keluarga suaminya terus menerus menganggapnya sesat dan suaminya tak berani membela dirinya. Kesedihan akhirnya membuat Maryam tidak ingin bekerja di Jakarta lagi dan memutuskan untuk menetap di Lombok bersama orang tuanya dan menuruti nasihat mereka untuk menikah lagi dengan sesama pengikut Ahmadiyah. Sementara itu, orang tuanya membangun kembali hidup mereka dengan memulai usaha baru, sedangkan pengikut lainnya membangun hidup mereka di perumahan baru hasil sumbangan sesama pengikut Ahmadiyah. Namun rupanya semua itu belum berakhir. Perumahan baru tersebut diserang, dan mereka harus memilih: meninggalkan keyakinan mereka dan kembali ke rumah, atau kembali ke rumah namun tidak seorangpun dapat menjamin keselamatan mereka, termasuk pemerintah. Manakah yang mereka pilih?  
Fanatisme, kekerasan, intoleransi, seolah dilegalkan negara, yang tidak berani dan tidak bersedia melindungi warganya yang sedikit berbeda keyakinan.

Novel ini ditulis dengan bahasa yang ringan layaknya novel pop pada umumnya, meski kisahnya adalah tentang penderitaan yang dialami para pengikut Ahmadiyah dan ketidakpedulian negara. Dilihat dari temanya, merupakan sesuatu yang jarang ditulis pengarang lainnya, sehingga patut dihargai. Namun dari sisi lainnya seperti alur, gaya tulisan dan bahasa, tidak istimewa atau biasa saja bahkan cenderung klise, sehingga di beberapa bagian membuat saya ingin cepat-cepat melewatinya saja, khususnya di bagian cerita yang mengisahkan kehidupan pribadi Maryam. Meskipun demikian, pada bagian tertentu, misalnya saat menggambarkan kemarahan tokoh novel yang mempertanyakan keadilan atau ketidakpedulian negara, penulis berhasil menggambarkannya dengan baik. Sayangnya, cover buku ini seperti dibuat oleh orang yang baru belajar menggambar: sangat buruk.

Meningkatnya gerakan radikalisme di Indonesia (sehingga masyarakat menjadi semakin fanatik) merupakan salah satu hal yang membuat masyarakat tampak tidak peduli bahkan ketika terdapat pembunuhan keji terhadap pengikut Ahmadiyah tahun lalu. Suatu hal yang sangat disayangkan dapat terjadi di negeri ini, yang selama berpuluh tahun dikenal toleran dan bukan merupakan negara Islam. Apakah Indonesia telah mengikuti jejak negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Pakistan dan sejenisnya?

Hal ini mengingatkan saya pada riwayat Abdus Salam dari Pakistan, ilmuwan muslim pertama (dan satu2nya?) yang menerima Nobel  fisika pada tahun 1979 bersama Steven Weinberg dan Paul Matthews. Abdus Salam adalah seorang pengikut Ahmadiyah, sehingga ketika Pakistan pada tahun 1974 menyatakan bahwa pengikut Ahmadi adalah bukan muslim dan terjadi banyak pembunuhan terhadap pengikut Ahmadi, ia juga harus mengungsi dari rumahnya.  Meskipun demikian, dengan reputasi yang dimilikinya, sepanjang karirnya ia berusaha keras meningkatkan status sains di negara-negara Islam agar dapat mengejar ketertinggalan dari Barat, bangga akan kontribusi sains Islam di masa lalu, dan sepanjang hidupnya merupakan seorang pemeluk Islam yang taat, yang tidak pernah melewatkan berdoa dan mendengarkan Quran. Ia juga membantu pengembangan sains di Pakistan, meskipun tidak tinggal di negara tersebut, dan tidak pernah melepas kewarganegaraannya. Walaupun demikian, di negerinya ia tidak dihargai, hanya karena ia pengikut Ahmadi. Demikian pula usahanya untuk negara-negara Islam yang dicintainya, kurang berhasil karena sebagai pengikut  Ahmadi, dianggap bukan Islam, sehingga tidak dihargai. Tidak hanya ketika masih hidup, bahkan batu nisannya pun, yang bertuliskan, “…..,The First Muslim Nobel Laureate,” dirusak sehingga menjadi,”..The First…..Nobel Laureate.”

Demikianlah, agama, fanatisme, begitu dalam kekerasan dan kebencian yang bisa dibawanya…..

1 comment:

nannianest said...

tyzilytmisi numpang komen;

memang miris yah..