Sunday, October 30, 2011

THE MAGIC OF REALITY

                                        
  
  Judul : The Magic of Reality – How we
  know what’s really true
  Pengarang : Richard Dawkins
  Penerbit : Bantam Press, London
  Tahun : 2011
  Tebal : 272 hal




”I want to show you that the real world, as understood scientificaly, has magic of its own - the kind I call poetic magic, an inspiring beauty which is all the more magical because it is real and because we can understand how it works… The magic of reality is – quite simply – wonderful. Wonderful, and real. Wonderful, because real.”

“Science has its own magic: the magic of reality.”

Setelah ditunggu-tunggu para penggemarnya, akhirnya ahli biologi evolusioner  Richard Dawkins menulis buku sains untuk anak-anak dan remaja, yang mengajak mereka untuk berpikir secara rasional, melalui pemahaman akan sains dasar khususnya biologi dan kosmologi. Untuk menarik anak-anak, setiap halaman disertai ilustrasi dari Dave McKean, illustrator pemenang beberapa penghargaan yang juga menjadi illustrator buku Coraline.

Buku dibagi dalam 12 bab. Bab pertama yaitu What is reality? What is magic? menguraikan tentang perbedaan antara realitas dan magic dan cara membedakan keduanya.

Bab dua dan tiga yaitu Who was the first person? dan Why are there so many animals? menguraikan evolusi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bab empat yaitu What are things made of? menguraikan asal mula segala sesuatu yang berada di bumi, baik benda mati maupun makhluk hidup, dari partikel terkecil dan jenis zat. Sedangkan bab lima sampai sembilan adalah uraian tentang matahari, pelangi, asal mula alam semesta, dan gempa bumi; hal-hal yang sering menjadi pertanyaan anak-anak.

Khusus pada bab sebelas dan dua belas, yaitu Why do bad things happen? dan What is a miracle? mengajarkan anak-anak untuk menganalisis terjadinya hal-hal buruk dan penyataan akan suatu ”mujizat” atau keajaiban secara rasional, dengan mempertimbangkan berbagai fakta secara ilmiah, agar tidak mudah percaya begitu saja akan pendapat umum. 

Selain disertai gambar, setiap bab selalu diawali dengan beberapa mitos mengenai topik yang akan diuraikan, sehingga akan menarik anak-anak (atau siapapun) karena seperti dongeng. Dengan demikian uraian mengenai asal mula manusia, misalnya, diawali dengan cerita mengenai mitos suku Aborigin, Ibrani, dan Norse (Viking), baru kemudian uraian berdasarkan biologi. Dan seperti biasa, apabila perlu maka penjelasan disertai dengan metafor, agar lebih mudah dipahami pembaca.

Bagi yang biasa membaca tulisan Dawkins, maka bahasanya telah sangat disederhanakan dan uraiannya cukup singkat, sehingga gaya tulisannya tidak begitu tampak disini. Namun menurut anak saya yang berumur sepuluh tahun, buku ini menyenangkan untuk dibaca karena gambarnya bagus dan setiap topik diuraikan secara bertahap sehingga jelas dan mudah dimengerti.


Memang banyak sudah buku pengantar sains yang ditulis untuk anak-anak/ remaja, bahkan terdapat buku yang judulnya saja terdapat kata sains namun isinya bertolak belakang, sehingga diperlukan kehati-hatian orang tua.
Namun kelebihan buku Dawkins adalah, ia tidak hanya mengemukakan fakta-fakta atau penemuan sains terakhir, namun juga mengajarkan anak-anak atau siapapun pembacanya untuk menemukan magic, wonder atau ketakjuban pada penemuan-penemuan, realitas atau fakta yang dapat kita ketahui berkat sains, dan bahwa semua itu dapat dicapai hanya jika kita berpikir secara rasional dan ilmiah secara konsisten.
Mungkin inilah bagian yang tersulit, terutama jika lingkungan anak tidak mendukung, yaitu bagaimana mengajarkan cara berpikir kritis dan rasional secara konsisten. Sangat mudah untuk membuat anak percaya kepada magis, mujizat dan keajaiban, namun tidak mudah untuk melatih anak menganalisis dan menilai kebenaran banyaknya pernyataan atau kisah-kisah yang bersifat magic, agar ia dapat menjadi seorang yang berpikiran bebas dan rasional. Tidak banyak buku yang mengajarkan hal tersebut. Oleh karena itu buku ini sangat bagus untuk anak-anak atau siapapun yang belum pernah membaca sains dasar.

Meskipun baru dirilis pada bulan September dan Oktober, Richard Dawkins telah setuju untuk memberikan hak terjemahan buku ini kepada beberapa negara. Tentu akan baik juga jika terdapat penerbit Indonesia yang menerjemahkan buku ini. Mudah-mudahan Gramedia – yang pernah menerjemahkan buku River Out of Eden – bersedia menerjemahkannya dan mengundang penulisnya ke Indonesia. Dawkins adalah seorang tokoh yang memikat: seorang intelektual, penulis berbakat, and a very handsome man in his seventies.


R. Dawkins (guardian.co.uk)
Profesor Richard Dawkins telah menulis sepuluh buku sains populer dan essay yang sebagian besar menjadi best seller, dengan buku pertamanya The Selfish Gene (1976), dan terakhir The Greatest Show on Earth (2009), namun yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia hanya River Out of Eden.


Thursday, October 27, 2011

ALL THINGS MUST FIGHT TO LIVE


    
    Judul : All Things Must Fight To Live –  Kisah
    tentang perang  dan pembebasan di Kongo 
    Pengarang : Bryan Mealer
    Penerjemah: Utti Setiawati
    Penerbit : Elex Media Komputindo
    Tahun : 2011, Juli
    Tebal : 430 hal


Bagaimanakah kehidupan reporter di medan-medan perang yang jauh, brutal dan terlupakan oleh dunia? Apa yang menarik mereka menempuh bahaya tinggal berbulan-bulan di wilayah yang hanya bersedia dikunjungi oleh pengamat dan pasukan PBB? Bagaimana kondisi negara tersebut saat ini, masihkah diliputi kegelapan? Semua pertanyaan tersebut dikisahkan oleh reporter perang Bryan Mealer dengan sangat menarik dalam buku ini.

Mealer mengunjungi Kongo antara tahun 2003 hingga pertengahan 2007 untuk meliput perang saudara di negara tersebut yang terus menerus terjadi sejak kemerdekaannya pada tahun 1962 dan mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan korban jutaan jiwa. Negara dengan penduduk 72 juta jiwa dan luas 1,3 juta ha tersebut mewarisi kebrutalan perdagangan budak oleh Afro Arab serta penjajahan Raja Leopold dan Belgia dengan praktek perdagangan karet dan gading pada abad 19, kemudian perebutan pengaruh AS dan Soviet saat perang dingin, dan terakhir perebutan sumber daya alam berupa emas dan mineral lainnya disertai konflik antar etnis yang melibatkan beberapa negara tetangga seperti Uganda, Rwanda, Angola, serta korupsi akut yang menghancurkan negeri tersebut ke titik nadir.
Jumlah penduduk di wilayah Afrika lebih kurang satu miliar, sekitar seperempat hingga sepertiganya terlibat perang saudara berkepanjangan.  

Kisah dimulai dengan uraian Mealer saat meliput perang di timur Kongo (Bunia) pada tahun 2003 ketika terjadi pemberontakan suku Lendu melawan suku Hema. Ia mnguraikan dengan rinci kekejaman tak terperikan dari perang tersebut, namun tak pernah dapat memahami tujuannya. Apakah hanya untuk merebut emas yang tak seberapa? Mengapa tidak memerangi penguasa yang korup? Mengapa kelimpahan sumberdaya alam seolah selalu menjadi kutukan bagi pemiliknya? Mengapa manusia bisa demikian saling membenci? Darimana kekejaman dan kebrutalan yang demikian dalam itu muncul, bahkan pada anak-anak? Bagaimana manusia (para korban perang) bisa sedemikian menderita? Rincian liputannya tentang perang ini bisa membuat kita kembali teringat akan the problem of evil dalam filsafat.

Selanjutnya Mealer meliput wilayah barat, yaitu di ibukota, Kinshasha pada tahun 2004 untuk melihat pelaksanaan pemilu. Tahun 2006 ia kembali ke Bunia meliput upaya penyerahan diri pemmpin pemberontak terkejam bernama Cobra bersama pasukan perdamaian PBB dari Afrika Selatan dan Bangladesh.

Setelah perang mulai mereda, pada tahun itu juga bersama seorang pemuda Kinshasha dan reporter Italia ia naik kapal menyusuri sungai Kongo dari Kinshasha ke pedalaman sepanjang 1.734 kilometer hingga kota Kinsangani, tempat agen Crutz dalam novel Heart of Darkness (telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) mendirikan rumahnya yang dihiasi kepala manusia. Namun perjalanan 400 kilometer terakhir terpaksa dilalui dengan sepeda melewati desa-desa yang berada di dalam hutan.

Petualangan Mealer di Kongo diakhiri dengan naik kereta api di wilayah selatan menuju utara selama berhari-hari. Suatu perjalanan yang menimbulkan rasa frustrasi, karena hampir seluruh kereta tidak beroperasi disebabkan korupsi akut, demikian pula pabrik-pabrik tidak berjalan karena sebab yang sama, sehingga para pegawai mendambakan kembalinya orang kulit putih. Namun Mealer tidak hanya menceritakan kehancuran, pada akhir perjalanan ini ia mencoba untuk melihat harapan bagi negeri tersebut: dari para pedagang kecil yang gigih berusaha menembus pedalaman melalui sungai dengan kapal rakyat atau melalui jalan hutan, rakyat yang mulai pulang ke kampung halamannya setelah terpisah oleh perang, mulai dioperasikannya satu kereta penumpang, meskipun tersendat-sendat...

Tulisan Mealer mengesankan karena selain liputannya cukup rinci, ia juga melukiskan kehidupan sehari-hari para reporter di medan perang, dan bagaimana akhirnya kondisi tersebut mempengaruhi cara hidup dan perasaan penulis, seolah ia sendiri turut menjadi korban.
Hal menarik lainnya, entah kenapa, keruntuhan kondisi Kongo yang diuraikan penulis banyak mengingatkan saya pada negeri sendiri... seolah sedang menuju ke arah kehancuran yang sama, namun tanpa peperangan...

Thursday, October 20, 2011

Saya Nujood, Usia 10

Judul : Saya Nujood, Usia 10 dan Janda
Pengarang: Dalphine & Nujood
Penerbit: Alvabet, Jakarta
Tahun : 2011 (Cet.1 th 2010)
Tebal : 210 hal

Buku ini adalah kisah seorang gadis kecil dari Yaman korban perkawinan anak-anak yang berhasil membebaskan diri dari suaminya dengan usahanya sendirii.
 

Berlainan dengan gadis-gadis lain seusianya yang menerima nasibnya dengan pasrah di tangan suami, ayah atau keluarga yang kejam, Nujood berani melarikan diri dari rumah dua bulan setelah perkawinan dan pergi ke pengadilan sendirian untuk menuntut perceraian. Beruntung ia bertemu dengan hakim-hakim yang baik serta seorang pengacara perempuan dan feminis yang pernah menangani kasus perkawinan anak-anak, yaitu Shada Nasser, sehingga usahanya untuk mendapatkan kebebasan dan kembali ke sekolah dapat berhasil. Yang unik, ia mendapatkan ongkos taksi serta nasihat untuk pergi ke pengadilan dari isteri kedua ayahnya, yang mencari nafkah sendiri dengan cara mengemis, meskipun memperoleh lima anak dari ayahnya yang sangat miskin. Sementara itu ibunya  tidak berani berbuat apapun untuk membelanya.

Keberanian dan keberhasilannya kemudian memberi inspirasi bagi gadis-gadis lain seusianya di wilayah Arab yang bernasib sama untuk turut melawan, dan membuat Nujood serta pengacaranya mendapat penghargaan sebagai Women of the Year dari majalah Glamour pada tahun 2008, karena ia gadis pertama yang berani mengajukan haknya dengan meminta cerai ke pengadilan. Namun demikian perjuangan membebaskan perempuan Yaman dari penindasan tidak mudah, karena pengacara Nujood mendapat ancaman dari kaum konservatif yang berpendapat bahwa kemenangan Nujood merupakan pengaruh buruk dari dunia Barat yang merusak moral, “kehormatan” dan agama.

Di Yaman tidak ada pembatasan usia minimum untuk menikah. Pernikahan di bawah umur biasanya disertai perjanjian bahwa si gadis tidak akan disentuh sebelum usia pubertas. Namun dalam pelaksanaannya hal tersebut seringkali dilanggar, karena gadis-gadis tersebut tidak berdaya dan keluarga mereka umumnya mendukung suami si gadis, sebagaimana halnya yang terjadi pada Nujood. Dalam kasus Nujood, maka perceraian dimungkinkan karena suaminya telah melakukan tindakan seksual, yang seharusnya belum boleh dilakukan. Namun mahar yang telah diterima harus dikembalikan.

Pernikahan di bawah umur dan tindakan seksual serta kekerasan yang menyertainya masih banyak terjadi hari ini di pedesaan negara-negara seperti Yordania, Mesir, Libya, Syria, Palestina, Aljazair, Oman, Arab Saudi dan negara Arab lainnya Usaha untuk memberantasnya tidak mudah, karena selalu mendapat tantangan dari kaum konservatif yang berpikir masih seperti ratusan tahun lalu. Misalnya di Yaman, mereka berpendapat bahwa pernikahan di bawah umur wajar karena Nabi menikahi Aisyah ketika ia berumur sembilan tahun.


Yaman adalah salah satu negara Arab yang masih memegang tradisi dengan teguh. Negeri berpenduduk dua puluh tiga juta jiwa ini masih mewajibkan perempuan memakai cadar, disunat ketika kecil, dipisahkan di ruang publik, dan menganut hukum syariah yang menilai kesaksian dan warisan bagi perempuan setengah dari laki-laki. Selain itu, dengan system patriarkat yang menilai kehormatan suatu keluarga tergantung kepada adanya anak laki-laki dan nilai seorang perempuan hanya dari kemampuannya menghasilkan anak laki-laki, maka perempuan Arab akan berusaha sekuat tenaga untuk memiliki sebanyak mungkin anak lelaki serta mempertahankan hubungan dekatnya dengan anak lelakinya dengan menindas istrinya.
Kondisi di Yaman merupakan cermin kondisi negara-negara lain di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil survey Freedom House terhadap kondisi perempuan di 16 negara Arab dan Afrika Utara, yang diukur berdasarkan lima kategori antara lain non-diskriminasi dan akses terhadap hukum, otonomi, keamanan dan kebebasan, hak ekonomis dan persamaan kesempatan, yang terburuk dalam memberikan hak-hak kepada perempuan adalah Arab Saudi, Kuwait dan UEA, sedangkan yang terbaik adalah Tunisia dan Maroko disusul Aljazair dan Mesir, meskipun di keempat negara inipun kondisi perempuan tidak sebaik negara-negara lain di luar wilayah tersebut.

Kisah Nujood memberi informasi bahwa perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan, yang disebabkan oleh kemiskinan, kebodohan dan sistem patriarkat serta ideologi yang menyertainya masih jauh dari selesai dan tidak mudah, bahkan di abad ke dua puluh satu.

Wednesday, October 12, 2011

CONSTANT BATTLES

Judul : Constant Battles – The Myth of the Peaceful, Noble Savage
Pengarang: Steven LeBlanc
Penerbit: Harvard Univ. Press
Tahun : 2003
Tebal : 256 hal

Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan manusia sewaktu masih menjadi pemburu-pengumpul dan hidup dalam kelompok-kelompok kecil berjumlah sekitar 30-40 orang cukup damai dan selaras dengan alam, seperti kehidupan suku Bushman di Afrika masa kini.

Namun menurut LeBlanc, berdasarkan hasil penelitian arkeologi, gambaran di atas adalah mitos belaka, karena bahkan sejak zaman prasejarah manusia tidak pernah dapat menjaga alam lingkungan dan mengendalikan pertumbuhan populasinya, sehingga selalu terjadi peperangan untuk memperebutkan sumber daya alam yang terbatas. Dengan demikian, bukan manusia modern saja yang tidak bisa menjaga lingkungan, namun juga protohuman dan kaum pemburu-pengumpul.

Untuk membuktikan pernyataannya, LeBlanc menguraikan hasil-hasil penggalian terhadap fosil manusia purba dan tempat tinggalnya dalam jangka waktu hingga satu juta tahun yang lalu, terutama seratus ribu tahun ke belakang yang terdapat di berbagai belahan dunia.
Dalam setiap penggalian, selalu ditemukan tanda-tanda kekerasan yang menunjukkan konflik yang dapat disebut perang. Misalnya goresan pada tulang, sisa tulang manusia yang diambil sumsumnya (pertanda kanibalisme, yang biasanya dilakukan terhadap musuh), tumpukan batu runcing (untuk senjata) atau lembing serta perisai yang dibuat sangat teliti bahkan oleh kaum pemburu pengumpul seperti suku Aborigin. Selain itu, tempat tinggal yang dibuat di atas tebing terjal, bekas tempat tinggal yang terbakar dan tampak ditinggalkan terburu-buru, serta bermacam benteng semuanya menunjukkan bahwa peperangan merupakan bagian dari hidup sehari-hari.

Penemuan tersebut, dikaitkan dengan waktu perubahan iklim, jumlah penduduk, kebangkitan dan keruntuhan kota-kota serta penelitian terhadap suku pemburu-pengumpul dan masyarakat tradisional lainnya yang masih ada sampai dengan abad 19 dan 20 membawa penulis berkesimpulan bahwa peperangan telah melekat dalam kehidupan manusia, yang disebabkan oleh tidak terkontrolnya pertumbuhan populasi, sehingga wilayah mereka melebihi carrying capacity, meskipun masing-masing memiliki berbagai cara untuk menekan populasi, antara lain dengan infanticide (pembunuhan anak), penjarangan jarak kelahiran, selibat.

Untuk menelusuri penyebab agresivitas manusia ini, LeBlanc mencoba membandingkan dengan hasil penelitian terhadap primata lain yang terdekat, yaitu simpanse. Sudah lama diketahui para ahli bahwa simpanse memiliki banyak sifat yang mirip dengan manusia, antara lain simpanse adalah satu-satunya mamalia yang menyerang sesama spesiesnya untuk mengambil-alih wilayah kelompok lainnya, dengan membunuh semua anggota kelompok lain satu-persatu hingga habis secara bersama-sama, dengan cara yang mengingatkan pada cara manusia menghabisi musuhnya. Simpanse juga membunuh anak-anak musuhnya. Sebaliknya, bonobo memiliki cara hidup yang berbeda, yaitu jauh dari kekerasan. Mungkinkah agresivitas pada manusia dan simpanse terseleksi oleh gen?

Penulis membagi pembahasannya sesuai tahap perkembangan masyarakat. Pertama yaitu tahap pemburu-pengumpul (satu juta hingga seratus ribu tahun yang lalu), tahap pertanian (dimulai sepuluh ribu tahun yang lalu), tahap chiefdom, tahap state (dimulai tiga ribu tahun yang lalu di Mesir), dan tahap complex society.

Semakin tinggi tahap yang dilalui, semakin besar tekanan populasi, kerusakan alam dan intensitas peperangan. Namun frekuensi perperangan semakin menurun, karena masyarakat kompleks memiliki pemerintahan yang lebih efektif dan berkuasa, sehingga dapat menekan sebagian masyarakat – misalnya petani – yang ingin berontak dan membiarkan mereka kelaparan. Selain itu, dibandingkan kehidupan tahap pemburu pengumpul atau tahap pertanian dimana semua pria sewaktu-waktu harus berperang, dengan tingkat kematian rata-rata 25%, pada tahap state atau complex society tingkat kematian dan proporsi penduduk pria yang terlibat perang sangat kecil. Dengan demikian maka dibandingkan ribuan tahun lalu kekerasan di masa kini telah jauh menurun. Kekerasan hanya terjadi secara lokal di beberapa wilayah, yang apabila diteliti merupakan daerah yang mengalami krisis sumber daya atau terdapat permusuhan lama. Misalnya wilayah Afrika atau Timur Tengah. Wilayah Timur Tengah merupakan wilayah pertama yang mengenal pertanian yaitu sejak sepuluh ribu tahun yang lalu, sehingga tingkat kerusakan alamnya paling parah. Disamping itu terdapat permusuhan lama yang berkaitan dengan ideologi.

Memang, apabila kita membaca sejarah, maka yang terlihat hanyalah perang dan perang yang silih berganti dengan kekejaman yang tak terperi untuk ukuran saat ini. Juga apabila kita membaca kehidupan suku pemburu pengumpul yang masih ada, misalnya di Papua atau Amazon, maka kekerasan atau perang menjadi bagian hidup sehari-hari, kecuali setelah mereka bersentuhan dengan dunia luar.

Menurut LeBlanc, semua kekerasan atau perang pada dasarnya bersumber dari pertumbuhan populasi, yang membuat sumber daya yang ada (makanan, wilayah) tidak cukup. Namun pertumbuhan populasi tidak dapat dikendalikan oleh satu pihak saja, karena apabila pihak lain tidak menekan populasinya, maka pihak yang populasinya stabil tidak dapat menahan ekspansi pihak lain yang memiliki populasi lebih besar. Itu sebabnya hampir semua wilayah di dunia tidak dapat mengendalikan populasinya. Selain itu, manusia pada umumnya tidak memiliki kemampuan mengantisipasi masalah tekanan populasi atau kerusakan lingkungan jauh hari sebelumnya.

Uraian LeBlanc sepanjang buku mengingatkan pada Collapse oleh Jared Diamond, namun apabila menurut Diamond tekanan populasi dan kerusakan lingkungan mengakibatkan keruntuhan suatu bangsa, menurut LeBlanc hal tersebut mengakibatkan perang terus menerus.

Meskipun sepanjang buku tergambar sejarah manusia yang lekat dengan pertempuran terus menerus atau constant battles, pada bagian akhir penulis mencoba untuk bersikap optimis dengan menguraikan bahwa dengan teknologi yang dimiliki saat ini maka pengendalian populasi dan pelipatgandaan produksi dapat dilakukan, sehingga perang akan dapat diturunkan secara drastis dan kerusakan lingkungan lebih jauh dapat dihindarkan. Benarkah? Mungkin benar apabila semua negara di dunia telah mencapai tahap seperti Eropa, AS dan Jepang dimana jumlah populasi relatif stabil bahkan menurun, teknologi telah tinggi dan masyarakatnya terdidik, serta penyebab konflik hanya disebabkan oleh perebutan sumber daya. Namun masih banyak negara yang tidak bersedia mengendalikan populasinya, berteknologi rendah, dengan ideologi atau tahap masyarakat yang tidak mendukung konservasi alam atau perdamain, sehingga harapan penulis tampaknya terlalu optimis, dan perang tampaknya masih akan menjadi bagian dari kehidupan manusia di banyak wilayah.

Monday, October 10, 2011

MERABA INDONESIA

Judul : Meraba Indonesia – Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Pengarang : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi
Tahun : 2011, Juli
Tebal : 370 hal



Jika membaca surat kabar dan berlibur ke daerah-daerah di luar Jakarta belum cukup untuk membuat anda prihatin dengan kondisi Indonesia, bacalah buku ini, yang nyaris seluruhnya hanya laporan mengenai meratanya kemiskinan akut, korupsi, transportasi laut dan darat yang menyedihkan, kerusakan alam, perampokan kekayaan alam, pengabaian kepentingan rakyat oleh penyelenggara negara, keputus-asaan rakyat yang akhirnya berjuang sendiri untuk mengatasi kesulitan hidup, dan gugatan akan peristiwa tahun 1965.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah Redmond O’Hanlon menembus pedalaman Republik Kongo belasan tahun silam: tentang kapal rakyat yang tidak memenuhi syarat keselamatan dan kebersihan, korupsi yang tertanam demikian dalam, penyelenggara negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, sumber daya alam yang dirusak dan dijual murah untuk kepentingan segelintir orang. Tidak heran jika ada yang menyamakan Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan buku Tepian Tanah Air yang menceritakan kondisi pulau-pulau terluar Indonesia dengan nada optimis dan gambar-gambar indah, penulis Meraba Indonesia lebih menekankan pada permasalahan yang dihadapi di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya. Selain itu, disamping pulau-pulau terluar, penulis, yaitu Ahmad Yunus dan rekannya sesama wartawan Farid Gaban juga menyusuri pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, baik dengan motor maupun mobil. Perjalanan dilakukan berdua pada tahun 2009 selama hampir setahun dengan menggunakan motor bekas.

Buku ini seperti penegasan akan hal-hal buruk yang selama ini telah kita lihat atau rasakan di Indonesia. Misalnya, jika anda sering berlibur ke pulau atau pantai, tentu sering mengalami bahwa tidak ada kapal yang bisa disewa selain kapal nelayan, bahwa liburan selalu membawa sedikit aura kesedihan karena dimana-mana kita akan menemukan rakyat miskin yang hidupnya seperti tersia-sia, bahwa kadang tempat ibadah dibangun terlalu megah dibandingkan kondisi penduduk sekitarnya, atau bahwa alam yang dulu indah kini telah rusak atau direncanakan akan dibuat pertambangan. Uraian Ahmad Yunus naik kapal perintis yang tidak layak dan tidak tentu jadwalnya menegaskan pengalaman kita akan sulitnya menemukan kapal yang layak di Indonesia. Demikian pula pengalamannya bertemu dengan rakyat yang harus bersusah payah mencari nafkah dengan merusak alam atau tubuh mereka sendiri seolah tidak ada penyelenggara negara menegaskan apa yang selama ini telah kita lihat dan rasakan.

Kelemahan dari buku ini ialah tidak adanya peta rinci perjalanan mereka dan foto-foto yang minim serta tidak menarik. CD yang merupakan lampiran dari buku juga tidak menolong, karena sama tidak menariknya; keduanya terlalu sering muncul (dengan latar belakang sebuah ruangan) untuk menguraikan apa yang sudah tertulis di buku, sedangkan pulau-pulau atau wilayah yang mereka kunjungi hanya ditampilkan sekilas dengan sudut pengambilan yang buruk dan tidak lengkap.

Memandang Indonesia memang bisa dari berbagai sisi, tergantung mana yang lebih disukai. Tepian Tanah Air cenderung melihat sisi positif sehingga bernada optimis, Meraba Indonesia cenderung melihat hanya sisi negatif, sampai-sampai pengarang menulis,”Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi samudera Pasifik yang bergemuruh.”
Mungkin harus ditulis buku lain yang bisa melihat kedua sisi secara seimbang?