Sunday, January 13, 2008

Laut dan Kupu-Kupu



Judul : Laut dan Kupu-Kupu – Kumpulan Cerpen Korea
Penerjemah : Koh Young Hun & Tommy Christomy, editor Hamsad Rangkuti
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2007, Desember
Tebal : 359 hal

Dua belas cerpen dalam buku ini ditulis oleh 12 penulis Korea, dibagi dalam 6 (enam) tema dan periode, yaitu periode tahun 1950-an, 1960-an, dst sampai dengan tahun 2000-an. Periode pertama tahun 1950-an bertema Perang Korea, berikutnya periode tahun 1960-an bertema Generasi Baru, 1970-an Zaman Industrialisasi, 1980-an Gerakan Rakyat Nasionalis, 1990-an Dekonstruksi Wacana Besar, dan terakhir periode 2000-an bertema Imajinasi Baru Abad ke 21.
Cerpen pertama, Dua Generasi Teraniaya menceritakan kesedihan seorang ayah cacat yang menjemput putranya yang juga menjadi cacat akibat perang. Seoul Musim Dingin 1964 menceritakan seorang laki-laki yang putus asa.
Jalan ke Shampo adalah cerpen yang terbaik dalam novel ini, mengisahkan kehidupan dua orang laki-laki miskin yang mencari pekerjaan, yang kehilangan kampung halaman atau desanya karena telah berubah menjadi daerah industri yang tak dikenalinya lagi, namun meski dalam kesusahan, masih bersedia menolong pelarian seorang gadis desa yang dikejar pemilik warung remang-remang. Kisah ini mengingatkan pada kondisi yang terjadi di desa-desa di tanah air. Namun bukan itu saja, pengarang dapat menuliskannya dengan sangat baik untuk menimbulkan simpati pembaca.
Dinihari ke Garis Depan mengisahkan penderitaan dan perjuangan kaum buruh dalam menghadapi pemilik modal yang selalu ingin menindas buruh dengan upah rendah dan perlakuan tidak manusiawi. Lagi-lagi mengingatkan kondisi disini.
Sungai Dalam Mengalir Jauh bercerita tentang konflik keluarga karena adanya anak dari dua wanita. Sementara itu Betulkah? Saya Jerapah mengisahkan kehidupan penuh perjuangan seorang petugas kereta bawah tanah, sedangkan Kupu-Kupu dan Laut, yang menjadi judul buku ini, berisi pikiran seorang perempuan bekerja tentang berbagai masalah yang dihadapinya. Dua cerpen terakhir ini ditulis dengan gaya modern – tidak selalu runtut dan realis, namun masih cukup menarik karena masih mengisahkan perjuangan dan penderitaan menghadapi hidup. Sedangkan Pewarisan, yang juga mengisahkan konflik dalam keluarga, ditulis dengan gaya seperti reportase sehingga cukup membosankan.
Secara keseluruhan, sebagian besar cerpen dalam buku ini cukup bagus, antara lain karena penggambaran pikiran dan tindakan tokoh-tokohnya cukup terinci, sehingga mampu membawa pada suasana yang dikehendaki. Namun, untuk mencapai hal ini maka sebagian cerpen tersebut menjadi lumayan panjang. Selain itu, penceritaan yang realis dan muram juga mendominasi kumpulan cerpen ini.


Friday, January 11, 2008

Catatan Harian Orang Gila – Kumpulan Cerpen



Judul : Catatan Harian Orang Gila – Kumpulan Cerpen
Pengarang : Lu Xun (diterjemahkan oleh Pipit Maizier)
Penerbit : Jalasutra
Tahun : 2007, Desember
Tebal : 448 hal + xxiv

Saya suka membaca kumpulan cerpen dari negara-negara lain, karena memberikan gambaran kehidupan sehari-hari bangsa tersebut. Khususnya cerpen yang menggambarkan kehidupan di negeri Cina, biasanya cukup menarik.

Delapan belas cerpen yang terdapat dalam kumpulan ini merupakan karya terpilih Lu Xun yang diterjemahkan dari buku Lu Hsun Selected Stories dari penerbit W.W. Norton, menggambarkan kehidupan di Cina pada masa lalu, ditulis dalam rentang waktu antara tahun 1918 sampai dengan 1926.

Sebagian besar kisah dalam kumpulan ini ditulis dengan gaya realis, menceritakan orang-orang yang malang, kemiskinan, korban revolusi, selain mengejek beberapa jenis karakter yang terdapat pada masa itu.

Kung I-Chi menceritakan kisah seorang pelanggan kedai minum yang gagal menjadi pegawai negeri dan kemudian menjadi pencuri untuk menyambung hidup, berdasarkan pandangan seorang pelayan anak-anak yang bekerja di kedai tersebut.
Obat dan Besok menceritakan kesedihan seorang ibu karena kematian putranya, menggambarkan betapa kemiskinan dan tiadanya pengobatan modern mengakibatkan kematian sia-sia karena penyakit TBC dan tifus, sedangkan Persembahan Tahun Baru mengisahkan kesedihan seorang ibu yang putranya tewas secara tragis sehingga membawanya pada kelainan jiwa dan kematian.

Kisah Nyata Ah-Q mengisahkan kehidupan seorang miskin tak berpendidikan yang tak dianggap masyarakat dan kemudian menjadi korban revolusi. Kampung Halamanku menceritakan perbedaan kehidupan antara kaum terpelajar dan petani – yang diliputi kesengsaraan - yang memisahkan rasa persahabatan masa kecil ketika kedua tokoh menjadi dewasa, sedangkan Opera Desa menceritakan kenangan indah di masa kecil.

Cerpen lainnya, Menyesali Masa Lalu menceritakan seorang laki-laki yang karena mengambil sikap tertentu kehilangan pekerjaan, cinta dan jatuh dalam kemiskinan, demikian pula cerpen Manusia Dalam Kesunyian menceritakan perjuangan antara mempertahankan idealisme dengan melawan kemiskinan, yang berakhir dengan muram.
Badai dalam Secangkir Teh mengisahkan bagaimana pergantian kaisar membuat kepang menjadi sangat penting dan tidak memilikinya dapat menjadi masalah bagi keluarga dan menimbulkan sikap yang tidak terpuji demi menyelamatkan reputasi.
Sementara itu, terdapat dua cerpen lain yang diambil dari dongeng kuno. Sedangkan Catatan Harian Orang Gila, yang menjadi judul buku ini, konon merupakan cerpen pertama yang ditulis Lu Xun.

Secara keseluruhan, cerpen yang terdapat dalam buku ini memikat untuk dibaca. Ditulis dengan indah, mampu membawa kita pada suasana jiwa maupun keadaan alam yang digambarkan oleh kisah-kisah tersebut sehingga membawa rasa haru.

Lu Xun adalah sastrawan Cina yang hidup pada 1881-1936. Ia disebut sebagai bapak sastra Cina modern, karena ialah yang pertama kali menulis sastra dengan bahasa sehari-hari. Nama sebenarnya adalah Zhou Shuren. Ia pernah belajar kedokteran di Jepang, namun kemudian beralih haluan menjadi penulis karena ingin mengubah masyarakat Cina yang feodal. Hal ini tampak dari tulisan-tulisannya yang mengisahkan dan berpihak kepada kehidupan rakyat biasa yang miskin dan menderita.

Sayangnya, penerbitan buku ini tampaknya kurang dipersiapkan dengan baik, sehingga terdapat kekurangan yang lumayan mengganggu, yaitu adanya 222 (dua ratus dua puluh dua) kesalahan cetak berupa salah penulisan kata, pengulangan penulisan kata yang sama, belum termasuk beberapa kata atau kalimat terjemahan yang sepertinya kurang tepat. Kesalahan tersebut misalnya kata tengah ditulis te-ngah, kemudian kata pulang, diam, haru, rumah, siang ditulis piling, diarn, ham, njmah, slang dan seterusnya.
Selain itu terdapat beberapa kata terjemahan yang kurang tepat, yang lebih cocok untuk ucapan lisan sehari-hari, yang dapat diperhalus, misalnya kata nunggak, telat, dapat diperhalus menjadi menunggak, terlambat, dan adanya kata-kata yang kekurangan awalan, misalnya seharusnya berguna, memberi, ditulis guna, beri, dst.
Kekurangan lain, terdapat 2 (dua) halaman yang tidak tercetak alias putih polos, yaitu pada halaman 328 dan 333.
Dengan banyaknya kekurangan tersebut maka di masa mendatang sebaiknya penerbit Jalasutra meningkatkan pengawasan terhadap penyuntingan, agar buku yang diterbitkan bebas dari kesalahan cetak maupun kelemahan penerjemahan. Lebih baik lagi jika diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, bukan dari bahasa Inggris.
Selain dalam bentuk buku, kumpulan cerpen ini dalam bahasa Inggris juga dapat dibaca di website. Yayasan Obor juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen Lu Xun, terdiri dari 12 cerpen.