Sunday, April 13, 2008

Terbenamnya Iman - Agama, Teror dan Masa Depan Nalar



Judul : Terbenamnya Iman – Agama, Teror dan Masa Depan Nalar
terjemahan dari The End of Faith
Pengarang : Sam Harris
Penerbit : Abdi Tandur
Tahun : 2007
Tebal : 310 hal


Ini adalah terjemahan buku The End of Faith tahun 2005 yang cukup terkenal itu. Cukup mengejutkan bahwa ada penerbit yang berani menerjemahkan buku ini di Indonesia, meski saya tidak menemukannya di toko-toko buku besar.

Seperti buku The God Delusion dari Richard Dawkins dan God Is Not Great dari Christopher Hitchins, Harris juga mengkritik agama.
Di bagian awal, Harris menguraikan mengapa agama Kristen harus ditolak, dengan menguraikan rincian kejahatan inkuisisi yang berlangsung pada zaman pertengahan sampai awal abad 19 hingga pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi, serta teks Injil yang mendukung semua kejahatan tersebut.
Pada bagian berikutnya, dengan mengutip teks Qur’an sebanyak 3 halaman Harris menguraikan mengapa agama Islam tidak dapat ditolerir karena mendukung kekerasan, anti toleransi dan mempunyai tujuan akhir menaklukkan dan menguasai dunia – jika perlu dengan kekerasan.
Berdasarkan hal di atas, dan perkembangan teknologi senjata masa kini, Harris berkesimpulan bahwa sudah waktunya kita menghentikan sekat-sekat berdasarkan agama atau penghormatan yang berlebihan terhadap agama, karena jika teknologi senjata mutakhir dikuasai oleh kaum fundamentalis yang ingin menguasai dunia, maka hancurlah dunia ini, tidak hanya secara fisik, tapi juga budaya – sains dan demokrasi – karena kaum fundamentalis (Islam) adalah seperti agamawan Kristen pada abad kegelapan (zaman pertengahan).
Bagi Harris, tidak ada yang namanya penganut agama moderat. Yang ada adalah mereka yang patuh pada agamanya (berarti fundamentalis), atau mereka yang tidak konsisten karena hanya mengambil sebagian saja dari perintah (yang tertulis dalam kitab suci) agamanya (kaum moderat) dan tidak mempedulikan/mengabaikan hal-hal yang mengerikan yang sesungguhnya ada dalam setiap agama. Baginya tidak ada jalan tengah.

Memang, sejak peristiwa 9 September 2001, timbul kesadaran baru akan bahaya fundamentalisme agama sehingga memunculkan buku-buku yang mencoba menyadarkan masyarakat dunia akan bahaya tersebut, dan menolak semua agama. Buku ini salah satunya. Namun jika sasaran buku Dawkins adalah penyadaran kepada individu untuk bersikap kritis dan menolak semua hal yang tidak rasional dengan penekanan kepada pemahaman akan sains, dan Hitchins penolakan terhadap semua agama formal termasuk Budha dan Hindu, Harris lebih menekankan uraiannya kepada bahaya yang akan timbul apabila agama menguasai suatu negara atau dunia, sehingga ia masih menganggap meditasi atau pengalaman sejenis yang bersifat spiritual – asal tidak berkaitan dengan agama formal tertentu – tidak bertentangan dengan rasionalitas, selama hal itu membahagiakan pelakunya.

Terjemahan buku ini lumayan cepat, hanya dua tahun setelah buku aslinya. Sayangnya penerjemahannya masih agak kaku, sehingga agak kurang enak dibaca, dan tidak mudah ditemukan di toko buku atau toko online. Meskipun demikian, ini merupakan usaha yang patut dihargai, mengingat jarangnya buku sejenis ini diterbitkan di Indonesia. Saya menemukan buku ini terselip di toko buku berbahasa Inggris/Jepang, Kinokuniya Plaza Indonesia.

4 comments:

Anonymous said...

Maaf, buku ini masih ada? Terimakasih

Rati said...

Saya punya buku ini dobel, kalau anda berminat.

Anonymous said...

Saya minat dan penasaran ingin membacanya, boleh saya order?

Rati said...

Kirim alamat pengirman buku ke raticf@gmail.com atau sms ke 081388515160 ya