Monday, February 11, 2008

SALI - Kisah Wanita Suku Dani



Judul : SalI- Kisah Seorang Wanita Suku Dani
Sebuah Novel Etnografi
Pengarang : Dewi Linggasari
Penerbit : Kunci Ilmu, Yogyakarta
Tahun : 2007, Oktober
Tebal : 249 hal

Penindasan terhadap perempuan ternyata tidak hanya terjadi ketika masyarakat telah memiliki kekayaan yang cukup berarti, tetapi bahkan telah dimulai ketika masyarakat mulai mengenal arti kekayaan, meskipun kekayaan itu hanya berupa binatang ternak yang bernama babi. Demikianlah yang hendak dikisahkan oleh novel ini.
Jauh di Irian Jaya, di lembah Baliem, yang terletak dekat kota Wamena, terdapat suku Dani. Suku Dani adalah suku yang dominan di lembah tersebut. Mereka masih melakukan perang suku, mengenakan koteka yang terbuat dari labu, dan hidup dari berladang, beternak babi dan berburu. Makanan pokok mereka adalah ubi, sayur dan babi, yang dimasak dengan cara ditimbun dengan batu panas. Banyak dari mereka yang belum berpendidikan dan kedudukan perempuan relatif rendah, terlihat antara lain dari adat yang mengharuskan perempuan melahirkan seorang diri di hutan. Maka buku ini menjadi menarik karena memberikan pengetahuan lebih banyak tentang status perempuan dalam masyarakat suku Dani.
Tersebutlah seorang perempuan suku Dani bernama Aburah. Sebagai seorang istri yang ketika pernikahan telah dibeli dengan dua puluh ekor babi, maka suaminya, Kugara, berhak memperlakukannya seperti budak. Ia harus berladang, menyediakan makanan berupa ubi dan sayuran bagi seluruh keluarga, membelah kayu bakar, memberi makan babi, dan menjaga anak-anak setiap hari, baik dalam keadaan sehat maupun ketika mengandung atau sakit. Jika tidak, suaminya akan marah dan memukulnya. Akibat tak mampu menanggung semua itu akhirnya Aburah meninggal, dan anak perempuannya, Liwa dirawat oleh adiknya, yaitu Lapina, yang sesuai dengan adat harus menikah dengan suami kakaknya, yaitu Kugara. Beruntung Kugara tidak lama kemudian tewas dalam perang suku, sehingga Lapina terbebas dari penderitaan seperti yang dialami Aburah. Ia juga memutuskan untuk tidak menikah lagi, agar tidak mengalami penindasan.
Lapina merawat Liwa dengan baik hingga gadis itu bertemu dengan Ibarak dan jatuh cinta kepadanya. Sesuai adat, maka Lapina meminta Ibarak menikahi Liwa dengan pantas, yaitu dengan memberi dua puluh ekor babi. Babi dalam masyarakat Dani adalah lambing kekayaan, dan dua puluh ekor babi bukan jumlah sedikit. Mungkin karena itu laki-laki Dani merasa berhak melakukan apapun terhadap istrinya jika telah memberikan dua puluh ekor babi. Maka Liwa pun mengulang penderitaan ibunya, Lapina, dan perempuan Dani lain yang pernah menikah. Setiap hari ia harus bekerja keras sendirian mencari makan untuk seluruh keluarga tanpa pernah beristirahat, dan tak pernah dapat menolak suaminya, sampai akhirnya memiliki enam orang anak. Ketika mengandung anak ketujuh, ia telah menjadi seorang perempuan putus asa dan lemah yang tidak mungkin dapat melahirkan dengan selamat tanpa pertolongan dokter Gayatri, seorang dokter muda yang masih memiliki idealisme tinggi dan bersedia menempuh bahaya menembus hutan dari pedalaman untuk menyelamatkannya. Tidak hanya itu, Gayatri juga bersedia mengambil satu bayi kembarnya, karena sesuai adat suku Dani, salah satu anak kembar adalah anak setan, sehingga harus dibuang.
Namun penderitaan Liwa tidak hanya sampai disitu. Ibarak ingin lebih kaya, yang berarti memiliki lebih banyak babi. Hal itu dapat tercapai jika Liwa tertangkap basah berzina dengan laki-laki lain, yang kemudian harus membayar denda kepada Ibarak. Ibarak tahu bahwa Lopes tertarik kepada Liwa, dan meminta Liwa mendekati laki-laki tersebut. Liwa merasa penindasan suaminya telah lebih dari cukup, dan menolak permintaan tersebut. Penolakan ini membuat suaminya marah, sehingga menikah lagi dengan perempuan lain, Jija.
Dalam adat suku Dani, tempat tinggal yang disebut honai dibagi atas honai untuk laki-laki dan honai perempuan. Maka seorang suami tinggal di honai laki-laki bersama kerabatnya dan pada malam hari mungkin mengunjungi honai perempuan tempat istrinya tinggal. Dengan adanya istri baru, maka Ibarak tidak selalu bermalam bersama para anak laki-lakinya. Sehingga pada suatu hari yang dingin, mereka lengah dan lupa memadamkan api, yang mengakibatkan kebakaran dan tewasnya anak-anak Ibarak. Liwa, yang selama bertahun-tahun bekerja keras membesarkan anak-anaknya merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Harapannya lenyap bersama kematian para anak lelakinya. Namun Ibarak tak begtu peduli. Ia yang telah kehilangan sebagian kekayaan karena menikahi Jija, kembali meminta Liwa untuk mendekati Lopes. Bagi Liwa ini adalah akhir dari segala-galanya. Ia tak sanggup lagi meneruskan semua ini.
Sali adalah rok penutup bagian bawah perempuan Dani. “Di Fugima, ada sebuah sungai yang amat dalam, wanita yang sudah tidak mampu menanggung beban hidup akan datang ke tempat itu, meninggalkan Sali pada bebatuan, memberati tubuhnya dengan batu, kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.” Dokter Gayatri pergi ke Fugima mencari Liwa, dan hanya menemukan Sali.
Pengarang cukup berhasil menjalin cerita kehidupan perempuan suku Dani dan latar belakang yang memotivasi dua dokter perempuan yang bertugas di Wamena. Juga terdapat sedikit gambaran mengenai perubahan yang terjadi di Wamena dan Jakarta terhadap kehidupan suku Dani. Misalnya adanya pemerintah, pasar dan datangnya para turis membuat suku Dani mengenal uang, tembakau serta mengurangi peran lelaki sebagai ksatria perang (suku). Secara tradisional peran laki-laki suku Dani adalah berperang, berburu, membangun honai dan menjaga keamanan sukunya. Namun pelarangan perang suku mungkin membuat peran mereka menurun sehingga sebagai kompensasi perempuan semakin ditindas, dan dengan adanya ekonomi pasar, beban perempuan bertambah karena harus menjual hasil ladang ke pasar untuk membeli tembakau bagi suaminya. Sementara itu dalam novel ini tidak tampak peran laki-laki sebagai pemburu yang menyediakan makanan tambahan bagi keluarga, sehingga seluruh beban hidup jatuh pada perempuan. Menjadi pertanyaan, mengapa para lelaki tidak sering berburu? Hal ini kurang dijelaskan dalam buku, sehingga pembaca tidak mengetahui pekerjaan laki-laki suku Dani selain berperang.
Dalam novel ini kita juga dapat melihat kesamaan pandangan suku primitif di seluruh dunia, antara lain ketakutan terhadap darah perempuan, yang menyebabkan perempuan dilarang mendekati peralatan perang karena dianggap akan membawa kekalahan, harus melahirkan sendiri jauh di hutan, dan seterusnya.
Sali cukup berhasil mengungkapkan kehidupan suku Dani yang selama ini kurang kita ketahui dengan baik, selain itu dapat memberikan gambaran bagaimana asal mula penindasan perempuan dalam masyarakat.
Penulis buku ini, Dewi Linggasari adalah antropolog yang telah bertahun-tahun tinggal di Irian Jaya.

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih resensinya,
Sali mulai saya tulis pada tahun 1994 setelah sebulan penggalian data di Wamena. Liwa, Gayatri, dan tokoh yang lain adalah sosok imajiner. akan tetapi setting budaya dan tempat riel adanya. Kasus bunuh diri adalah informasi dari Bp. JB. Wenas, Bupati Jayawijaya pada waktu itu. Sekali lagi terima kasih.

Salam,

Dewi Linggasari
Agats - Asmat - Papua