Wednesday, October 24, 2007

Peri Kecil di Sungai Nipah

Judul : Peri Kecil di Sungai Nipah
Pengarang : Dyah Merta
Penerbit : Koekoesan
Tahun : 2007, Sept.
Tebal : 292 hal

Saya tertarik membeli novel ini karena covernya yang artistik, adanya komentar dari Prof. Melani Budianta, guru besar Susastra UI bahwa novel ini mengingatkan pada buku House of the Spirit dan The God of Small Things, dan adanya setengah halaman potongan novel di belakang buku. Ternyata novel ini sangat kelam dan sedih.
Novel ini mengisahkan sebuah keluarga pemilik tanah luas yang tinggal di tepi sungai Nipah, suatu wilayah yang baru dibuka dimana penduduknya mengusahakan perkebunan tebu.
Tokoh dalam novel ini, keluarga Karyo Petir, memiliki dua orang anak, yaitu Dagu dan Gora. Masalah mulai muncul ketika seorang wanita tua mengantar Kulung, anak laki-laki Karyo Petir dari hubungannya di luar pernikahan ke rumah, karena ibu anak tersebut meninggal. Istri Karyo Petir sangat marah, dan melampiaskan kemarahannya kepada Kulung setiap hari. Hal ini, ditambah disia-siakannya almarhum ibunya oleh Karyo Petir, membuat Kulung dendam pada keluarga tersebut.
Cerita kemudian menjadi rumit karena terdapat pengambilalihan lahan tebu milik penduduk secara paksa untuk perkebunan dan pabrik gula yang akan dibangun. Muncul terror kepada penduduk desa. Dagu, yang memimpin perlawanan penduduk, ditangkap oleh aparat dengan bantuan Kulung. Di lain pihak, untuk menghancurkan hati Karyo Petir, Kulung menjalin cinta dengan Gora, anak kesayangan Karyo yang disekolahkannya di kota. Dendam dan pengkhianatan Kulung membawa kehancuran bagi keluarga Karyo Petir, khususnya ketika Dagu tewas dengan tragis karena siksaan aparat, yaitu dipancang di alun-alun. Maka istri Karyo Petir meninggal karena kesedihan tak tertahankan, dan Gora harus pergi untuk melupakan kehancuran keluarganya.
Sampai disini novel ini agak berlebihan, karena penggambaran kematian Dagu. Mungkinkah di zaman ini ada aktivis pelawan pemerintah yang dipancang di alun-alun – untuk dipamerkan kepada rakyat - dengan tubuh penuh siksaan? Gambaran ini agak mengingatkan pada represi di zaman Orde Baru, tapi di zaman itupun kekejaman tidak dipamerkan terang-terangan di tengah kota, sehingga tampaknya gambaran tersebut dibuat penulis untuk membangkitkan kekelaman dan kesedihan novel ini yang semakin dalam pada akhir cerita, khususnya untuk memberi alasan terganggunya kesehatan jiwa ibu Dagu.

Dendam dan pengkhianatan Kulung sebagai anak haram juga agak berlebihan. Memang ia disia-siakan oleh Karyo Petir, tetapi ia bukan hasil perkosaan. Ibunya tahu bahwa Karyo Petir telah berkeluarga, dan tidak berkeberatan berhubungan dengannya tanpa status yang jelas, sehingga sebenarnya ibunya juga tidak tanpa kesalahan. Mengapa Kulung menimpakan semua dendam kepada keluarga ayahnya?
Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan tertutup dan pemurung. Karyo Petir menjadi penyendiri dan tidak bersedia bicara pada siapapun sejak mengetahui Kulung merusak Gora, anak-anak kehilangan keceriaan sejak Kulung menetap di rumah, Gora yang kesepian menemukan Kulung, ibunya tidak lagi mempedulikan orang lain sejak kedatangan Kulung, dan menarik diri dari kehidupan sejak kematian Dagu.
Sejak awal, karakter para tokoh dan jalinan peristiwa dilukiskan dengan misteri, suasana menyedihkan dan gelap lapis demi lapis. Cerita tidak selalu berurut dari awal sampai akhir, terkadang melompat sesuai pikiran Gora, tapi tetap teratur, diselingi dengan perkembangan karakter Karyo Petir sejak kedatangan Kulung, disusul adanya teror di desa oleh aparat, kemudian oleh Kulung. Tokoh-tokoh utamanya digambarkan semakin hancur kemudian semakin mengasingkan diri menghadapi takdir atau nasib buruk. Digambarkan dengan adanya burung-burung gagak, ditutupnya rumah dari cahaya, perjumpaan dengan tokoh-tokoh lain yang bernasib malang, maka lengkaplah kekelaman novel ini.
Kisah yang dituturkan penulis cukup aktual, mengenai kehancuran keluarga akibat perselingkuhan, dampak “pembangunan” yang merusak kehidupan masyarakat desa dengan terampasnya tanah dan usaha kecil, kekerasan negara, yang semuanya dijalin dalam bentuk yang tidak biasa: agak berlebihan, kelam dan sangat menyedihkan.
Buku ini merupakan novel pertama dari penulis muda (29 tahun) Dyah Merta, namun novel ini telah membuktikan bahwa Dyah adalah penulis yang cukup mengesankan.

2 comments:

kw said...

hi rati, terimakaisih ya sudah mengunjungi blog saya. salam kenal nice to meet u.

saya juga telah mereview glonggong (jaura keemapt) dan sekarang lagi baca Jukstaposisi (juara tiga).

ohy asilakan mampir di http://bloggersforbangsari.blogspot.com
:)

kw said...

hi rati, salam kenal. terimakasih telah mengunjungi blog saya. saya juga sudah pernah nulis ttg glonggong (juara 4) dan sekarang lagi abca jukstaposisi (juara 3)

nice to meet u
eniwe silaakn mampir di http://bloggersforbangsari.blogspot.com

:)

Free Hit Counter
stats counter