Monday, August 27, 2007

HIS DARK MATERIALS TRILOGY

Judul : 1. Kompas Emas : 486 hal
2. Pisau Gaib : 406 hal
3. Teropong Cahaya: 619 hal
Pengarang : Philip Pullman (penerj. B.S. Tanuwidjaja)
Penerbit : GPU
Tahun : Nov. 2006, Jan dan Feb. 2007
Penghargaan: Whitbread Book of the Year

Buku ini mengisahkan petualangan seorang anak perempuan bernama Lyra dan temannya Will, dalam membantu membebaskan dunia dari tirani Otoritas. Sesuai teori kuantum yang mengatakan ada banyak dunia, Lord Asriel, yang semula dikira paman Lyra namun ternyata adalah ayahnya, berhasil menghubungkan dunia Lyra dengan dunia-dunia lain, sehingga mereka bisa bepergian antar dunia. Lord Asriel berhasil menghimpun kekuatan banyak dunia, namun upaya Lord Asriel dihalangi oleh Gereja, yang berusaha menghalangi adanya Debu. Apakah Debu itu, yang demikian ditakuti oleh Gereja? Debu adalah kesadaran untuk bekehendak bebas.
Dalam upaya membantu Lord Asriel, Lyra pergi ke utara dengan berpedoman pada alethiometer atau kompas emas, mula-mula untuk membantu membebaskan teman sepermainannya, Roger serta anak-anak kamu Gypsi yang diculik oleh Pengadilan Disiplin Agama. Mereka diculik untuk dipisahkan dari demonnya. Demon dalam dunia Lyra adalah seperti kesadaran dalam dunia kita, namun disana terpisah, yaitu berbentuk binatang yang selalu berdekatan dengan manusianya, sehingga orang lain dapat melihat sifat/kepribadian seseorang dari demonnya. Demon anak-anak akan diteliti dan dipisahkan, karena berbeda dengan demon orang dewasa.
Bersama orang Gypsi, Lyra berangkat ke Utara, kemudian dibantu oleh para penyihir, raja beruang dan aeronaut (pengendara balon terbang), ia membebaskan anak-anak yang disekap Pengadilan Disiplin Agama. Namun kemudian Roger digunakan Lord Asriel untuk menghubungkan dunia Lyra dengan dunia lain, karena itu Lyra pergi ke dunia lain untuk menemui Lord Asriel. Perjalanan ini berbahaya, oleh karena itu ia akan bertemu dengan Will yang akan membantunya, serta berjuang melawan hantu karang dan Spectre, kekuatan jahat yang memakan Debu atau demon. Demon atau Debu adalah kesadaran yang masih murni; penuh rasa ingin tahu, berani berpikir, tidak terobsesi oleh dosa. Karena itu demon anak-anak berbeda dengan orang dewasa.
Dalam perjuangan melawan Otoritas ini Lord Asriel mendapat bantuan dari John Parry, ayah Will, yang berasal dari dunia seperti kita. John Parry berhasil menyeberang ke dunia lain yaitu dunia Lyra dan menjadi Dr. Gruman. Sedangkan ibu Lyra, Mrs. Coultier semula membantu Gereja, namun ketika Gereja kemudian memutuskan akan membunuh Lyra karena ia diramalkan akan menjadi penyebab kejatuhan manusia yang kedua kalinya, seperti Eva, Mrs. Coultier berbalik dan membantu Lord Asriel untuk memberontak terhadap Otoritas. Akankah para pemberontak ini menang?
Trilogi ini mungkin menarik bagi anak-anak yang menjelang remaja (Lyra digambarkan berumur 12 tahun), karena berisi fantasi dan menggambarkan petualangan, kesetiaan serta keberanian yang bersifat kepahlawanan. Satu hal yang cukup mengejutkan barangkali adalah bagaimana penulis bersikap serius dalam menuangkan gagasan kepada anak-anak, karena dibalik kisah fantasi dan petualangan tersebut penulis sebenarnya ingin mengajak pembacanya untuk memikirkan hal-hal yang mendasar sifatnya, yaitu bahwa kebebasan berpikir adalah yang terpenting, dan agama adalah musuh utama dari hal penting tersebut, karena agama tidak bisa mengizinkan kebebasan. Mungkin disinilah letak nilai buku ini. Untuk membuka pikiran anak-anak yang menjelang remaja, agar tidak mudah diindoktrinasi oleh ajaran agama atau apapun yang bersifat dogmatis dan merendahkan serta menyangsikan rasionalitas dan sains.
Bagi saya sendiri, yang sudah jauh melewati masa anak-anak, membaca kisah petualangan anak-anak yang cukup panjang dalam buku ini terasa agak membosankan. Hal yang lebih menarik bagi saya dalam membaca buku ini adalah : apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulisnya? Mengapa dalam buku kisah fantasi anak-anak ada gereja, otoritas agama, malaikat, dunia kematian? Mengapa begitu serius, apakah anak-anak akan mengerti?
Jika di akhir buku penulis menggambarkan bahwa otoritas (Tuhan) tidak dapat melawan manusia yang memberontak, tentulah maksudnya bukan untuk mengajarkan anak muda untuk berbuat sesat atau jahat, seperti dituduhkan beberapa kritikus buku ini. Saya kira, Pullman hanya ingin agar generasi mendatang tidak mudah diindoktrinasi oleh ajaran yang membatasi kebebasan berpikir, ilmu pengetahuan dan kreativitas. Ia hanya ingin menebarkan keyakinannya yang agnostik. Dan di tengah dunia yang semakin dogmatis saat ini, hal itu merupakan sesuatu yang cukup berarti. Tidak mengherankan bahwa bukunya mendapatkan penghargaan.

No comments: