Friday, September 22, 2006

BURNED ALIVE



Pengarang : Souad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal : 296 halaman
Tahun : Juli 2006

Setelah My Hidden Face diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Burned Alive turut menambah pengetahuan kita tentang kehidupan perempuan di negara-negara Timur Tengah, yang selama ini tidak kita ketahui benar-benar.
Burned Alive merupakan sebuah kisah nyata seorang perempuan Arab di Tepi Barat (Palestina) yang terjadi pada akhir tahun 1970-an, namun tidak mustahil kejadian serupa masih terjadi pada hari-hari ini di pedesaan negara-negara Arab dan sekitarnya seperti Jordania, Pakistan, Afghanistan, Maroko, Sudan, dll, mengingat buku tulisan jurnalis-jurnalis Barat seperti Price of Honor (1995) masih menceritakan hal yang tidak jauh berbeda.
Membaca kisah perempuan dalam buku ini seperti kembali ke zaman 1400 tahun yang lalu, dan hampir sulit dipercaya bahwa masih ada kehidupan seperti itu di abad 20.
Pembunuhan karena kehormatan merupakan hal biasa di negara-negara Arab. Perempuan yang dianggap menimbulkan aib bagi keluarga karena berteman atau memiliki hubungan dengan seorang laki-laki, diperkosa, hamil di luar nikah, bahkan hanya digosipkan dengan disebut pelacur, akan dibunuh oleh keluarganya untuk mengembalikan kehormatan keluarga itu. Bentuk pembunuhan bermacam-macam; bisa dengan pukulan, cekikan, tabrakan seolah kecelakaan, atau seperti dalam buku ini.. dibakar hidup-hidup. Biasanya hal ini dilakukan oleh saudara laki-laki, sementara orang tua sengaja bepergian agar tidak berada di rumah pada saat pembunuhan terjadi dan berpura-pura tidak tahu, namun sebenarnya hal tersebut telah direncanakan dengan rapi oleh keluarga.
Dalam buku ini kita diberitahu kehidupan penulis sejak masa kanak-kanak, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, yang empat diantaranya adalah perempuan. Sebagai anak perempuan, ia tidak pernah bersekolah, harus bekerja keras sepanjang hari menggembalakan domba, memerah susu, membuat keju, memetik buah ara dan tomat, membersihkan rumah, mencuci dan memasak namun masih mendapatkan pukulan setiap hari dari ayahnya yang kejam. Sebaliknya saudara laki-lakinya tidak perlu bekerja di rumah, disekolahkan dan dapat pergi kemana saja.
Betapa rendahnya nilai perempuan banyak digambarkan dengan cukup mengerikan; misalnya bagaimana ibunya melahirkan sebanyak empat belas kali dan sembilan diantaranya langsung dibunuh sendiri ketika lahir karena berjenis perempuan, bagaimana adik perempuannya dibunuh oleh adik laki-lakinya sendiri dengan kabel telepon, serta penyiksaan dan hinaan yang pernah diterimanya dari ayahnya, misalnya diikat kedua tangan dan kakinya pada kandang kambing sepanjang malam, ditendang, dijambak dan digunting rambutnya dengan gunting bulu domba, dipaksa menelan tomat hingga isinya berlumuran di wajahnya hanya karena ia lalai memetik sebuah tomat yang masih terlalu muda, dan siksaan lainnya. Bahkan binatang ternak lebih dihargai daripada seorang perempuan.
Penghinaan dan siksaan yang diterima setiap hari membuat penulis bertekad untuk segera menikah agar lepas dari kekejaman ayahnya, meskipun hal itu berarti akan menerima kekejaman suami. Namun ia tertipu oleh laki-laki tetangganya yang berpura-pura akan melamarnya sehingga ia hamil. Kemudian datanglah hukuman itu.. saudara iparnya membakarnya di halaman rumah. Bahkan ketika di rumah sakit ibunya masih ingin membunuhnya, karena bagi mereka ia lebih baik mati. Beruntung kisahnya didengar oleh seorang pekerja sosial Prancis, yang kemudian menolongnya serta membawanya ke Eropa untuk berobat dan memulai hidup baru dengan identitas baru pada umur 19 tahun. Dengan susah payah ia kemudian belajar bahasa baru, membaca, menulis, ketrampilan sederhana dan bekerja.
Bahkan setelah bertahun-tahun di Eropa dan memiliki keluarga, Souad masih merasa depresi. Misalnya ketika musim panas dimana semua orang dapat berenang atau berjalan-jalan dengan pakaian ringkas, ia merasa depresi karena harus selalu berpakaian tertutup rapat untuk menutupi kulitnya yang rusak. Tidak mudah meneruskan hidup yang telah dirusak kekejaman di waktu muda.
Demikianlah, buku ini penuh dengan penderitaan kaum perempuan yang sungguh tak terbayangkan, yang juga menunjukkan betapa terbelakangnya adat istiadat negara-negara Arab dan sekitarnya, seolah selama ribuan tahun waktu tak bergerak. Sistem patriarki yang dalam, kebodohan, kemiskinan dan agama yang dikuasai dan ditafsirkan oleh sistem tersebut jalin menjalin menindas perempuan, sehingga buku ini perlu dibaca oleh kaum perempuan lainnya, agar mereka lebih menyadari keberuntungannya dan waspada akan penindasan yang mungkin secara tidak disadari ikut didukungnya.
Ketika membaca buku ini saya teringat pada perempuan-perempuan di tanah air, yang telah memiliki semua kebebasan namun secara perlahan-lahan, dengan suka rela memilih jalan untuk hidup seperti wanita zaman ribuan tahun yang lalu di Arab: menutup kembali tubuhnya rapat-rapat, membatasi diri, dan berpedoman erat-erat pada hukum yang dibuat sekitar dua ribu tahun yang lalu untuk masyarakat yang digambarkan dalam buku ini.

Thursday, September 21, 2006

SANG PEMIMPI

Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Tebal : 280 halaman
Tahun : 2006

Buku ini mungkin tidak hanya novel, tetapi juga memoir penulisnya, menceritakan masa sejak remaja hingga dewasa.

Bagian awal berkisah tentang perjuangan tiga orang sahabat, dua orang diantaranya anak seorang pegawai miskin di Belitung dalam usahanya agar dapat tetap bersekolah. Untuk itu Ikal, nama tokoh dalam buku ini, bersama dengan saudara angkatnya Arai dan temannya Jambrong melakukan bermacam pekerjaan, dari mencari akar purun di rawa yang penuh buaya, menjual kue hingga menjadi kuli angkut nelayan. Meskipun demikian, di tengah kemiskinan yang melilit mereka memiliki cita-cita yang sangat tinggi, yaitu bersekolah di Paris. Hal ini tidak terlepas dari dorongan guru sastra di SMA yang sangat memotivasi para siswanya, yaitu Pak Balia, selain kedisiplinan dan didikan keras dari kepala sekolah yang penuh integritas, serta ayah yang sangat baik. Tampaknya inilah kunci dari semangat dan optimisme yang dimiliki para tokoh dalam buku ini, yaitu para pendidik yang langka di zaman kini…
Setelah menamatkan SMA, Ikal dan Arai pergi ke Jakarta hanya dengan berbekal tabungan seadanya, sedangkan Jambrong yang tergila-gila kuda tetap tinggal di desa bekerja di peternakan kuda. Namun nasib baik menghampiri mereka. Setelah melakukan bermacam pekerjaan kasar, antara lain tukang fotokopi, salesman door to door, buruh pabrik tali, berkat perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya Ikal diterima menjadi juru sortir di kantor pos dan Arai bekerja di Kalimantan. Selanjutnya sambil bekerja mereka meneruskan kuliah hingga selesai, bahkan mendapatkan bea siswa ke Inggris dan Ikal bahkan melakukan riset ke Sorbonne. Tercapailah cita-cita yang tampaknya seperti mimpi bagi seorang remaja miskin Belitung.

Sampai disini kisah ini cukup bagus, karena dapat memberikan semangat bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi atau bercita-cita tinggi, bersikap optimis dan pantang menyerah atau tidak membatasi diri apapun kesulitan yang dihadapi. Ditambah humor disana-sini, maka kisah ini cukup menarik (ada beberapa halaman yang membuat saya tertawa sendiri). Hal ini merupakan sisi positif buku ini. Setiap orang yang cukup sukses tahu bahwa konsisten pada cita-cita dan pantang menyerah ditambah sedikit keberuntungan dapat membawa kesuksesan, dan buku ini salah satu contoh yang baik untuk menyatakan hal itu.

Di sisi lain, penulis rupanya seorang yang sangat religius, berkat pendidikan agama yang didapat sejak kecil, ditambah keberhasilan yang berhasil diraihnya. Hal ini tampak dari pendapatnya tentang wanita berjilbab dan kebenciannya terhadap teori evolusi Darwin, sebagaimana terdapat dalam halaman 261 dan 262. Kalau dialog yang terdapat dalam sebuah buku dapat dianggap mewakili pendapat penulisnya, maka dialog Arai – yang disini merupakan saudara sekaligus teman yang dikagumi Ikal - sebagai sarjana biologi cum laude yang memohon bea siswa dengan menyatakan bahwa teori evolusi sudah bangkrut, bahwa “Harun Yahya memiliki wewenang ilmiah untuk menjustifikasi bualan evolusionis”, dan karena itu ia mengajukan teori baru berdasarkan kisah penciptaan dalam kitab-kitab suci, sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang sarjana seni (HY) memiliki otoritas untuk menilai teori dalam biologi? Bagaimana mungkin kisah dalam kitab suci dijadikan dasar untuk membuat teori dalam sains? Bayangkan jika ilmuwan terus mencoba membuktikan bahwa bumi itu datar atau berumur 6000 tahun, meskipun fakta yang ada jelas-jelas menunjukkan bahwa bumi bulat dan berumur miliaran tahun, apakah akan tetap bertahan dengan menyatakan bahwa bumi itu datar dan masih muda, karena demikian yang tertulis di kitab suci? Bagian ini tidak seimbang dengan dialog Ikal dalam wawancara dengan professor ekonomi yang tidak asal-asalan. Mungkin penulis merupakan pengagum berat Harun Yahya sehingga tidak bersedia untuk mencari sedikit saja informasi mengenai biologi evolusioner dari sumber yang benar. Padahal jika penulis tidak membenci teori tersebut dan bersedia meluangkan waktu sedikit saja untuk menjelajah internet atau berkonsultasi dengan sarjana biologi, maka dialog di atas akan lebih bermutu (lihat situs talkorigin.org mengenai penjelasan bagaimana membuktikan kesalahan teori evolusi). Halaman 261 dan 262 adalah bagian yang merusakkan dan menjatuhkan nilai novel ini.

Dialog di atas juga menunjukkan bahwa memperbandingkan Andrea dengan Pram jelaslah tidak sebanding dan Andrea jelas tidak akan bisa menggantikan Pramoedya. Pram adalah seorang yang berpikiran merdeka dan rasional, seorang individualis, yang demi kebenaran tidak merasa perlu untuk menyamakan pikirannya dengan massa, dan realisme yang ditampilkannya adalah realisme yang pahit, yang mengkritisi kondisi sosial sekitarnya, seperti agama, gaya hidup, kekuasaan. Sedangkan Andrea meskipun telah bersekolah sampai ke Inggris dan Prancis ternyata masih belum dapat sepenuhnya bersikap rasional dan berpikiran bebas, karena keterikatannya yang demikian kuat pada tradisi lama, sehingga ia belum dapat menilai lingkungan sekelilingnya dengan kekritisan yang tinggi, bahkan mendukung status quo. Karena itu bukunya kurang mengundang perenungan, sebab tidak banyak pergulatan pemikiran yang mempertanyakan hal-hal eksistensial tentang penderitaan dan kehidupan manusia, atau menanyakan kembali nilai-nilai yang telah diterima umum.

THE HISTORY OF THE DECLINE AND FALL OF THE ROMAN EMPIRE



Judul: The History of the Decline and Fall of the Roman Empire
Pengarang : Edward Gibbon
Penerbit : Folio Society
Halaman : +/- 3100 halaman (8 jilid)

Buku ini adalah buku klasik tentang sejarah Romawi, yang meskipun ditulis +/- 200 tahun yang lalu namun masih patut dibaca sampai saat ini. Apa yang membuat buku ini masih menarik dan patut untuk dibaca?
The History mencakup waktu dari tahun 98 M s.d. keruntuhan Romawi yang ditandai dengan jatuhnya Constantinople pada tahun 1453 atau meliputi waktu selama 14 abad. Di masa kejayaannya, wilayah Romawi membentang dari Inggris hingga Persia dan Mesir, termasuk wilayah tempat munculnya agama yang kini dianut mayoritas penduduk dunia, dan kebudayaan Romawi yang berakar dari kebudayaan Yunani adalah dasar kebudayaan Barat, yang kini juga menguasai dunia. Dengan demikian banyak yang bisa dipelajari dari sejarah Romawi untuk memahami keadaan dunia masa kini.
Buku ini selain berisi narasi dan kronologi para kaisar Romawi juga berisi sejarah singkat bangsa-bangsa yang menyerang Romawi seperti bangsa Jerman dan Skandinavia, yang saat itu masih merupakan bangsa barbar. Selain itu terdapat pula sejarah asal mula dan perkembangan agama Yahudi, Kristen dan Islam serta pengaruh agama-agama tersebut pada penurunan dan kejatuhan Romawi. Selain narasi yang cukup detail tentang para kaisar, sistem politik Romawi dan perkembangan agama-agama Ibrahim, juga terdapat analisis penulis mengenai penyebab jatuhnya Romawi, yaitu : menurunnya moral para kaisar dan pemimpin, dengan tidak adanya kaisar yang bijaksana setelah kaisar Marcus Antonius Aurelius, munculnya agama-agama Ibrahim khususnya Kristen yang menyebabkan menurunnya semangat militer, dan serangan bangsa-bangsa barbar yang terus menerus.
Membaca buku ini mengingatkan saya akan sejarah kita sendiri. Meredupnya Majapahit antara lain disebabkan oleh masuknya agama Islam, sedangkan dalam kerajaan selalu terjadi perebutan kekuasaan dan banyak raja yang bersifat kejam.
Dari buku ini kita bisa mengetahui bahwa kehidupan di zaman dulu sangat keras dan kejam sehingga kita sepatutnya bersyukur karena hidup di zaman kini. Kekejaman tersebut tidak hanya disebabkan oleh kaisar, dominasi militer, serangan bangsa lain yang dapat datang tiba-tiba kapan saja atau ritual agama mereka yang menyembah dewa-dewa dengan persembahan kurban atau penyelenggaraan pertunjukan, namun juga oleh penyebaran dan fanatisme agama Kristen dan Islam, yang meskipun membawa ajaran tentang moral dan perdamaian namun disebarkan dengan pedang, peperangan dan perebutan kekuasaan yang kejam. Buku ini menceritakan bahwa paganisme yang menjadi agama Romawi menyebabkan tidak adanya standar moral tertentu sehingga para Kaisar bisa menjadi sangat kejam dan kehidupan sangat tidak stabil karena sewaktu-waktu bisa dikoyakkan oleh perang atau pergantian Kaisar yang diikuti dengan kekacauan dan kekejaman. Munculnya agama Ibrahim membawa moral tertentu seperti larangan bertindak kejam, perintah berbuat baik dan sejenisnya, yang mendukung penerimaan agama tersebut dengan cepat dan luas dalam masyarakat bahkan kemudian agama Kristen menjadi agama kerajaan Romawi. Namun demikian, penyebaran agama-agama tersebut tidak luput dari kekerasan. Peperangan untuk meluaskan wilayah dan memaksakan dianutnya suatu agama tetap disertai dengan pembunuhan dan penjarahan, bahkan pertikaian intern agama juga disertai dengan peperangan. Kita membaca bagaimana Cyril, Uskup Iskandariah yang kemudian diangkat menjadi Santo (orang suci), pada tahun 370 memerintahkan pembunuhan Hypathia, seorang perempuan filsuf dan ilmuwan terakhir di perpustakaan Iskandariah yang tidak menganut agama Kristen dengan kekejaman yang luar biasa (menyeret dan menganggalkan pakaiannya, kemudian dengan kulit tiram memisahkan dagingnya dari kulitnya). Perpustakaan Iskadariah, yang saat itu merupakan pusat ilmu pengetahuan Yunani dibakar dan isinya dihancurkan, dan setelah itu mulailah zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan digantikan dengan penindasan dogmatisme agama. Dunia baru bergerak kembali pada abad 15, setelah Constantinople jatuh, dan bangsa Eropa menggali kembali pemikiran-pemikiran ilmuwan Yunani yang tersisa serta mencari jalan baru untuk pelayaran tanpa melewati Laut Merah. Carl Sagan (astronom, penulis Cosmos) menulis bahwa masa antara tahun 500 sampai dengan 1500 M adalah masa yang terbuang sia-sia dari peradaban manusia, karena selama 1000 tahun tidak ada kemajuan barang sedikitpun dalam ilmu pengetahuan, padahal telah dimulai dengan baik oleh para pemikir Yunani. Membaca buku ini kita akan mengetahui mengapa : agama Kristen dan Islam sedang dalam tahap awal perkembangan, sehingga sangat dogmatis, menindas, serta saling bersaing berebut wilayah/pengikut (terwujud dalam Perang Salib). Kekuasaan agama menindas semua hal yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini pada waktu itu, termasuk gagasan/penemuan ilmu pengetahuan dan pemikiran bebas.
Kita juga membaca betapa kejamnya perlakuan terhadap jasad keponakan Nabi Muhammad setelah dibunuh dan mendapat pengetahuan bahwa beberapa ritual agama (misalnya haji) sebenarnya merupakan kelanjutan/modifikasi dari ritual sejenis yang sebelumnya telah dilakukan oleh kaum pagan selama beratus tahun.
Melihat sejarah tersebut setelah beberapa abad berlalu, maka tampak betapa banyaknya darah manusia yang telah ditumpahkan untuk berebut kekuasaan, daerah, kekayaan, atau penyebaran dan pertikaian agama. Sejarah manusia adalah sejarah yang kelam, penuh darah dan sifat-sifat rendah, meskipun manusia memiliki kemampuan dan perasaan hingga dapat menciptakan monumen-monumen indah dalam bentuk kuil, gereja maupun bangunan megah lainnya. Mengetahui hal-hal di atas akan membuat kita menyadari bahwa pada awalnya kebudayaan manusia adalah berdasarkan kekejaman, dan betapa besar kemajuan yang kita capai hari ini, betapa nyamannya zaman kini karena tidak ada lagi kekerasan dan kekejaman seperti zaman dulu, meskipun terdapat ketimpangan kekayaan yang besar antar negara atau penduduk.
Membaca buku ini sangat mengasyikkan karena banyak detil cerita menarik tentang kaisar-kaisar Romawi, tokoh bangsa-bangsa penyerang Romawi maupun kejadian-kejadian pada masa itu. Sebagai sejarawan Gibbon memiliki pengetahuan dan sumber-sumber yang banyak tentang sejarah yang ditulisnya, disamping pandangannya yang sangat rasional, yang membentuk analisisnya.
Buku ini terdiri dari 3,100 halaman, namun dapat dibaca secara tidak berurutan apabila di satu bagian terasa terlalu panjang dan kita ingin segera mengetahui sejarah yang terjadi berikutnya, setelah itu kita dapat kembali lagi. Beberapa bab yang menarik misalnya masa kejayaan Romawi (jilid 1), asal mula dan perkembangan agama Kristen dan Islam (jilid 6), perang salib dan perkembangan kesultanan Turki (jilid 7), kisah bangsa Tartar terutama pada masa Gengis Khan, Tamerlane dan Kubilai Khan (jilid 8), dan saat-saat kejatuhan Constantinople oleh sultan Mohammad II dari Turki (jilid 8).
Gaya penulisan yang bagus membuat pembaca seolah mengunjungi wilayah-wilayah Romawi, menyesali keruntuhan bangunan-bangunan indah, perginya kaisar yang baik, dan merasakan kesedihan dari kematian-kematian mengerikan yang diakibatkan kekejaman kaisar, penguasa militer atau agama. Seperti sebuah novel yang luar biasa, tapi ini adalah sejarah. Buku ini sangat bagus, dan rugi sekali jika tidak pernah membacanya.



ARABIAN SANDS AND THE MARSH ARAB



Pengarang : Wilfred Thesiger
Tebal : 325 hal dan 250 hal
Penerbit : Folio Society, London
Tahun : 2005
Edisi : Hardcover dengan slipcase, ilustrasi foto hitam putih 10 halaman

Ini adalah kisah Thesiger - penjelajah (eksplorer) Inggris terkenal terakhir yang menjelajahi tanah Arab – di Arab Saudi dan Irak. Penjelajah sebelumnya seperti Richard Burton – yang menerjemahkan buku 1001 Malam – melakukan perjalanannya pada abad 19. Wilfred Thesiger melakukannya pada abad 20, yaitu antara tahun 1950 – 1955 di gurun pasir Arab, khususnya di Empty Quarter, bagian selatan Arab Saudi, hingga wilayah Uni Emirat Arab. Selain itu ia menjelajahi bagian selatan wilayah Irak, suatu daerah rawa tempat tinggal kaum Kurdi. Dalam kedua penjelajahan tersebut ia tinggal dan hidup seperti penduduk asli Arab (bangsa Bedui) dan Irak serta mengabadikannya dalam sekitar 30 ribu foto selain buku, yang sangat berharga saat ini, karena setelah itu modernisasi mengubah semuanya, baik gaya hidup penduduknya maupun alam gurun pasir dan rawa. Gurun pasir Arab sebagian menjadi ladang minyak, jalan raya dan kota-kota modern, dan penduduk daerah rawa Irak telah jauh menyusut jumlahnya dengan lingkungan yang rusak setelah terus menerus diserang semasa pemerintahan Saddam Husein.
Menurut Tim, penulis kata pengantar buku ini, Thesiger adalah seorang romantis yang mengagumi suku-suku yang hidup dengan penuh keterbatasan di wilayah yang keras, khususnya suku Bedui, yang mampu bertahan hidup di wilayah gurun pasir yang kejam dengan segala keterbatasannya. Oleh karena itu dalam buku ini kita akan membaca bagaimana Thesiger melakukan perjalanan bersama mereka dengan menggunakan unta, berlayar dengan kapal bora terakhir yang masih ada di abad 20, memakai pakaian dan sepatu Arab, membawa bahan makanan secukupnya yang dimasak di perjalanan ditambah berburu binatang setempat jika ada, minum air yang pahit dari oase, memberi minum unta dari sumur dengan susah payah, mengalami kelaparan, kehausan dan kedinginan. Penderitaan ini biasa bagi suku Bedui. Namun mereka tidak mengeluh dan lebih mencintai gurun pasir daripada kota, karena di gurun pasir terdapat kebebasan.
Buku Arabian Sands adalah buku yang paling terkenal dari penjelajahannya. Dalam buku ini Thesiger banyak menggambarkan kebaikan sifat-sifat suku Bedui - antara lain teman seperjalanannya - yang bersifat pemberani, bebas, tangguh menghadapi keganasan alam dan tidak fanatik, sekalipun mereka sangat miskin dan bahkan buta huruf. Bagi Thesiger gurun pasir yang sepi dan luas adalah tempat paling ideal dimana seseorang dapat menemukan kebebasan sejati dan tempat yang memungkinkan munculnya sifat-sifat baik penduduknya, karena hanya mereka yang tahan menderita dan mengatasi keganasan alam yang dapat bertahan.
Buku lainnya, The Marsh Arab mengisahkan perjalanan Thesiger ke wilayah selatan Irak pada tahun 1955. Wilayah tersebut terdiri dari rawa dengan rumah-rumah sederhana yang didirikan mengapung di atasnya, terdiri dari berbagai macam suku yang dipimpin oleh para sheikh, yang mengatur irigasi, perdagangan, dan menangani perselisihan atau masalah hukum lain dari warganya. Rumah-rumah di wilayah ini terbuat dari sejenis alang-alang yang tumbuh di rawa tersebut, dengan ternak utama kerbau, yang selain berfungsi untuk diambil susunya juga dapat dipekerjakan di sawah. Penduduk sangat miskin dan sederhana, namun Thesiger tinggal disana selama delapan tahun, makan bersama mereka, bahkan memberikan pengobatan dan sunatan bagi para anak laki-laki secara cuma-cuma. Perubahan politiklah yang membuat Thesiger tidak dapat kembali.
Membaca buku-buku Thesiger sangat menarik namun juga agak menyedihkan bagi saya. Thesiger mungkin terlalu ekstrim karena ia membenci semua teknologi termasuk kendaraan bermotor dan sangat pesimis karena tidak yakin dalam 100 tahun mendatang manusia masih dapat bertahan di planet bumi. Namun membaca bukunya dapat mengingatkan kita akan betapa banyaknya yang telah hilang dan rusak selama 30 tahun terakhir di alam sekeliling kita dan betapa sayangnya semua itu terjadi.
Saya jadi ingat kota-kota tempat saya tinggal sewaktu kecil dulu dan suasananya… betapa berbedanya dengan saat ini. Ketika saya ke Balikpapan, Puncak, Bandung, Malang, dan melihat Jakarta kini, seperti Thesiger, saya tidak merasa senang. Kesedihan itu mungkin karena banyak hal yang menurut saya seharusnya dipelihara atau dipertahankan telah hilang, khususnya keindahan alam, kesederhanaan kota-kota. Sehingga saya merasa sedih ketika melihat pohon bakau di pantai Balikpapan telah hilang, pohon pinus di Puncak hampir lenyap, Bandung menjadi macet, panas dan penuh toko, Malang semakin banyak mall, jalanan di Jakarta semakin padat dan kotor oleh kendaraan serta tepinya semakin penuh dengan bangunan kumuh, dan penduduk Indonesia semakin materialistis..
Hal lainnya yang dapat diambil dari buku Thesiger, mungkin kita perlu juga membuat dokumentasi alam dan kebudayaan suku-suku di Indonesia dengan rinci, sebelum mereka rusak atau punah ditelan modernisasi dan keserakahan masyarakat lainnya…
Sebagai penjelajah terkenal,Thesiger yang meninggal pada tahun 2003 dalam usia 93 tahun mendapakan gelar ksatria (Sir) dan pada tahun 1997 pernah berkunjung ke Abu Dhabi atas undangan raja Uni Emirat Arab serta bertemu kembali dengan teman-teman seperjalanannya selama di gurun Arab. Namun seperti ditulisnya, kesan yang diperoleh empat puluh tahun yang lalu tersebut tidak mungkin bisa kembali lagi, karena segalanya telah berubah… Teman suku Bedui tersebut dan gurun pasir Arab tidak sama lagi seperti dulu, mereka telah menjadi modern. Thesiger di masa tua juga tidak menjelajah lagi dan hidup tenang di sebuah kota suburb di Inggris.
Terlepas apakah Thesiger mendramatisir kesannya atas suku Bedui atau bangsa Irak selatan, seperti kita mendramatisir tenangnya hidup masyarakat desa pada zaman dahulu, buku ini tetaplah mengesankan.
Bacalah bukunya, buku kisah penjelajahan ini rasanya seperti puisi, karena menimbulkan banyak perasaan kehilangan bagi pembacanya.



THE BIQ QUESTIONS - Probing the Promise and Limits of Science



Pengarang : Richard Morris
Penerbit : Henry Holt, NY, 2002
Tebal : 251 halaman


Zaman dahulu, filsafat memegang peranan penting karena didalamnya tercakup hampir semua ilmu termasuk fisika, biologi dan astronomi, dan banyak pertanyaan besar/filosofis dianggap tidak akan dapat terpecahkan dan merupakan domain diluar sains. Saat ini filsafat masih menanyakan hal yang sama, namun perkembangan sains demikian pesat sehingga pertanyaan-pertanyaan yang bersifat filosofis kini menjadi obyek penelitian para ilmuwan. Ilmu-ilmu kognitif seperti kognitif psikologi, neurofisiologi dan artificial intelligence (kecerdasan buatan) mulai mengungkapkan tentang apa sebenarnya pikiran (mind), biologi dan evolutionary psikologi mulai menguakkan bagaimana sebenarnya kondisi manusia, dan fisika serta kosmologi memiliki jawaban apa yang terjadi ketika alam semesta baru terbentuk.
Berdasarkan hal-hal di atas, penulis buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang tampaknya diluar sains dan tidak mungkin akan terjawab secara final : apakah waktu, apakah dunia ada jika kita tidak melihatnya, mengapa ada sesuatu dan bukannya ketiadaan, apakah dunia bisa selain dari pada ini, apa yang terjadi sebelum permulaan, apakah ada Tuhan, apakah arti/tujuan semua ini, apakah pikiran, bagaimana kondisi manusia, apakah kebenaran ? Semua pertanyaan di atas adalah sebagian dari judul yang terdapat pada dua belas bab dalam buku ini.
Misteri mengenai waktu belum sepenuhnya terpecahkan, karena hukum fisika menyatakan bahwa waktu adalah simetris, di lain pihak kita mengetahui bahwa waktu memiliki arah, ada masa lalu dan masa depan. Ilmuwan mengetahui bahwa alam semesta akan semakin memuai di masa mendatang, akan tetapi tidak diketahui apakah waktu juga akan mundur jika alam semesta menyusut (kontraksi). Mengenai realitas dunia material, mekanika kuantum menunjukkan bahwa benda berukuran makroskopik kemungkinan tidak memiliki realitas obyektif, kecuali jika terdapat alam semesta paralel. Akan tetapi belum ada yang dapat membuktikan bahwa terdapat paralel universe. Demikian pula teori mengenai asal usul alam semesta masih bersifat spekulatif, karena dua teori yang ada saat ini (relativitas umum dan mekanika kuantum) tidak bersesuaian, sehingga ilmuwan berharap bahwa kelima teori superstring yang bertalian dengan teori M dapat memberikan jawaban final. Namun hal ini pun masih sangat jauh, karena teori string masih dalam tahap awal sedangkan teori M sendiri belum ada yang mengetahui. Teori ini diharapkan dapat menjelaskan asal usul alam semesta dan mengapa hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana saat ini.
Banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab secara final oleh sains dan tidak ada kepastian bahwa jawabannya kelak akan diperoleh. Namun dari astronomi diketahui bahwa alam semesta tunduk pada hukum-hukum alam yang bersifat impersonal dan tidak peduli (indifferent) dan galaksi tempat bumi berada hanya merupakan titik kecil tidak berarti diantara sekitar seratus miliar galaksi, dan lima milyar tahun lagi matahari akan mendingin dan menelan bumi. Evolutionary biologi menunjukkan bahwa evolusi yang terjadi di bumi selama milyaran tahun adalah hasil dari mutasi random melalui mekanisme seleksi alam yang berjalan secara buta tanpa ada tujuan sebelumnya, dan bahwa manusia bukanlah produk akhir evolusi yang lebih tinggi dari yang lain. Sementara itu survival dari makhluk hidup sebagian adalah hasil dari keberuntungan, karena 99% dari seluruh makhluk hidup yang pernah mendiami bumi telah punah. Dengan demikian, semakin dalam pemahaman para ilmuwan akan hal-hal tersebut, semakin sulit untuk menerima bahwa manusia dan bumi memiliki posisi yang istimewa di alam semesta dan diciptakan dengan tujuan tertentu. Sains tidak bisa menunjukkan bahwa ada tujuan, arti atau rancangan dari semua ini, sebagaimana dinyatakan penulis, “ We exist by chance in a universe that created by chance”.
Sains yang memberikan informasi seperti di atas tentu sangat sulit diterima, karena manusia tidak bisa hidup tanpa tujuan atau arti. Namun kebenaran ilmiah tidak harus sesuai dengan keyakinan atau perasaan manusia. Sejarah menunjukkan, pendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dapat bertahan ratusan tahun karena mendapat dukungan kuat dari kepercayaan yang dianut masyarakat, sehingga untuk mengubahnya memerlukan keberanian dalam menghadapi kecaman dan hukuman, karena dianggap menentang kepercayaan yang dianut pada masa itu. Dengan demikian penolakan terhadap teori dan bukti ilmiah yang tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat (misalnya teori evolusi yang baru berumur 150 tahun) adalah lumrah. Sehingga tidak mengherankan bahwa jarak antara sains dan masyarakat semakin jauh, sementara pseudoscience semakin berkembang. Dalam buku ini penulis cukup obyektif dengan mengemukakan pandangan dari para filsuf/ilmuwan yang religius seperti Swinburne maupun Stephen Jay Gould yang memisahkan agama dengan sains, hingga mereka yang tegas-tegas menyatakan bahwa konsekuensi pemahaman akan sains modern adalah atheisme, sebagaimana dianut oleh Richard Dawkins, Stephen Hawking, dan banyak lagi lainnya. Bagi masyarakat awam pendapat terakhir mungkin sulit diterima, namun survey (di AS) menunjukkan bahwa 60% ilmuwan tergolong agnostic atau atheis. Meskipun demikian, para ilmuwan tersebut berpendapat, ketidak percayaan kepada keyakinan lama tidak berarti manusia dapat melepaskan nilai-nilai moral. Sebaliknya moralitas tetap harus dijaga dengan berlandaskan nilai-nilai universal.
Pembaca dapat saja tidak sependapat dengan kesimpulan Richard Morris dan para ilmuwan di atas, namun buku ini bermanfaat karena memberikan garis besar perkembangan sains mutakhir secara menyeluruh dikaitkan dengan pertanyaan besar dan mendasar yang selalu menjadi pertanyaan kita serta menggambarkan pandangan sebagian besar ilmuwan pada saat ini. Meskipun demikian untuk mengetahui rincian dari setiap teori dan penemuan yang diuraikan oleh penulis, lebih baik apabila membaca pula buku-buku sains populer lain seperti yang ditulis oleh Richard Dawkins, Carl Sagan, Gould dll. Sayangnya, buku-buku tersebut belum ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (kecuali Cosmos karya Carl Sagan). Padahal apabila diterjemahkan, publik Indonesia dapat memiliki informasi yang berimbang, sehingga ketika buku-buku “sains” Harun Yahya membanjiri pasaran dapat menilai kualitas buku dan tujuan penulisnya serta tidak menganggapnya sebagai sains.



Catatan:
Richard Morris, PhD yang berpendidikan fisika adalah penulis belasan buku sains populer, antara lain The Evolutionists, The Arrows of Time, Archilles in the Quantum Universe, dll. Ciri bukunya adalah menggunakan uraian dan bahasa Inggris yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca yang bukan pemakai bahasa tersebut.

THE BEAK OF THE FINCH - A Story of Evolution



Pengarang : Jonathan Weiner
Penerbit : Knopf, NY, 1996
Tebal : 300 hal

Teori evolusi menyatakan bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alam, sehingga hanya yang paling fit yang akan bertahan (survive). Selanjutnya gen dari mereka yang survive inilah yang akan diteruskan dan membentuk generasi berikutnya, sehingga dalam jangka panjang yang tinggal adalah gen dari mereka yang paling fit, atau paling mampu beradaptasi dengan lingkungan alam tempat mereka hidup. Sifat atau karakteristik (misalnya kaki yang mampu berlari cepat, leher yang panjang dst) mereka yang survive akan semakin berkembang (disempurnakan) dan diteruskan ke generasi di bawahnya. Itu sebabnya gen yang sukses adalah yang mampu menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya dengan kemampuan adaptasi semakin baik, sedangkan yang gagal adalah yang menjadi punah. Namun bagaimana sebenarnya mekanisme tersebut berjalan ?

Buku ini menguraikan penelitian yang dilakukan oleh sepasang ilmuwan dari Universitas Princeton, yaitu Rosemary dan Peter Grant selama 21 tahun (1973-1994) di salah satu kepulauan Galapagos terhadap enam spesies burung kutilang (finch). Hal yang diteliti adalah proses seleksi alam yang terjadi. Pulau tersebut dipilih karena cukup kecil untuk dapat menjangkau seluruh kutilang yang ada dan cukup terisolasi dari pengaruh luar.

Kisah dimulai pada tahun 1976 di pulau Daphne. Pada bulan Maret tahun tersebut terdapat 1400 burung kutilang fortis, kemudian pada Januari 1977 terdapat 1300 fortis, 1200 daphne, dan 280 kaktus kutilang. Awal tahun tersebut cuaca baik, namun kemudian tiba musim kering yang buruk dan lama sehingga biji-bijian yang menjadi makanan burung-burung tersebut jauh menurun jumlahnya dan pada akhirnya hanya terdapat biji-bijian yang besar dan keras, seperti Tribulus. Tribulus tidak dapat dimakan oleh kutilang yang bertubuh dan berparuh kecil, dengan demikian hanya kutilang yang memiliki tubuh dan paruh yang besar yang dapat memanfaatkan Tribulus sebagai makanan.
Setelah musim kering, yaitu bulan Desember 1977, jumlah kutilang fortis menurun menjadi hanya kurang dari 300 ekor, sedangkan Daphne dan kutilang kaktus masing-masing 180 dan 110 ekor, atau terjadi penurunan sebesar 85% dan 60% dari jumlah semula.
Dari data yang diperoleh, diketahui bahwa kutilang yang dapat melalui musim kering dan bertahan hidup memiliki besar tubuh rata-rata lebih 5% -6% dari yang tidak dapat bertahan, dan panjang serta dalam paruh rata-rata 11,07 mm dan 9,96 mm, sedangkan sebelum musim kering, panjang dan dalam paruh rata-rata kutilang adalah 10,68 mm dan 9,42 mm. Oleh karena kutilang yang bertubuh lebih besar adalah kutilang jantan, maka lebih banyak kutilang jantan yang hidup dari pada betina, sehingga rasio jenis kel. pun berubah menjadi 6 : 1 untuk kutilang jantan dan betina.

Berdasarkan kejadian di atas diketahui pula bahwa perbedaan ukuran paruh sebesar 1,5 mm dapat menentukan kemampuan bertahan hidup kutilang atau menentukan mana yang fit dan tidak. Dengan demikian yang membuat perbedaan antara hidup dan mati adalah “variasi yang terkecil” (the slightest variation), sesuai dengan prediksi teori Darwin, dalam hal ini adalah perbedaan ukuran kedalaman paruh yang bahkan tidak tampak oleh mata.

Selanjutnya pada tahun 1978 terjadi musim hujan, yang juga merupakan musim kawin bagi kutilang. Oleh karena rasio jenis kel. tidak seimbang, tidak semua kutilang jantan memperoleh pasangan, dan yang paling berhasil adalah yang memiliki tubuh dan paruh terbesar, sehingga keturunan yang dihasilkan pun akhirnya memiliki paruh 4%-5% lebih besar dari kutilang yang terdapat pada masa sebelum musim kering. Dari sini tampak bahwa seleksi alam sedang terjadi. Seleksi alam memilih kutilang yang berparuh lebih besar.

Tahun 1982 terjadi musim hujan yang panjang disertai banjir. Musim hujan yang panjang berarti banyak kutilang yang bertelur sehingga jumlah kutilang kaktus dan fortis meningkat 400%. Namun tahun berikutnya tingkat hujan menurun, dari 53 mm menjadi 4 mm, sehingga makanan pun semakin sulit didapat, sedangkan jumlah kutilang telah meningkat pesat. Akibatnya daya dukung alam tidak mampu menanggung peningkatan jumlah kutilang, sehingga banyak kutilang muda yang mati.
Sementara itu pada tahun 1985 banyak kutilang yang tubuh dan paruhnya besar mati. Hal ini karena biji-bijian besar jauh lebih sedikit jumlahnya sedangkan bijian kecil kini berjumlah 10 kali lipat. Kutilang berparuh besar mengalami kesulitan untuk makan biji-bijian kecil, sehingga kekurangan makanan dan mati. Kini alam menguntungkan kutilang kecil dan sedang. Dengan demikian seleksi alam dapat mendorong spesies ke satu arah dan kemudian mendorongnya ke arah yang berlawanan dalam waktu relatif singkat.

Hal menarik lainnya adalah ditemukannya hybrid antara spesies kutilang fortis dengan fuliginosa pada tahun 1987, yang dapat berkembang biak dengan baik, melebihi fortis murni, sehingga jumlahnya menjadi 1,3 kalinya. Pertanyaan yang timbul kemudian, apakah hal seperti ini yang menjadi asal mula dari munculnya spesies baru ? Karena biasanya hybrid (seperti kuda dengan keledai) steril. Penemuan ini berarti pula bahwa perkawinan antar spesies tidaklah demikian kaku, dan dapat terjadi apabila dapat bereproduksi lebih baik.

Selain hasil penelitian di atas, diuraikan pula penelitian terhadap seleksi alam yang terjadi pada ikan guppy yang terdapat di Amazon dan Trinidad oleh John Endler. Ikan ini terdapat di sungai jernih sepanjang pegunungan, dari bagian hulu di bagian atas gunung sampai di sungai yang terletak di dasar gunung, di antara hutan dan air terjun. Dasar sungai merupakan batu kerikil berwarna-warni, sedangkan ikan guppy sendiri memiliki motif bintik tidak beraturan yang berwarna-warni pula, terutama warna biru.
Lingkungan ikan guppy berbeda tingkat keamanannya. Bagian hulu merupakan bagian teraman, karena hanya terdapat satu pemangsa (predator) ikan guppy, yaitu Rivulus Hartii, yang memangsa satu guppy setiap lima jam. Semakin ke bawah, semakin banyak predatornya, sehingga di sungai yang terletak di dasar gunung ikan guppy hidup bersama seluruh pemangsanya, yaitu enam jenis ikan dan satu jenis udang. Yang terganas adalah Cichlids ., yang memangsa tiga guppy setiap jam.
Dari penelitian, ditemukan bahwa meskipun tampaknya bintik ikan guppy tidak beraturan polanya, terdapat suatu keteraturan tertentu. Bintik pada setiap populasi guppy memiliki hubungan dengan jumlah pemangsa yang terdapat di lingkungan tempat ikan tersebut hidup. Semakin banyak pemangsanya di suatu sungai, bintik ikan guppy semakin kecil dan warnanya semakin samar, sebaliknya, semakin sedikit musuh yang terdapat di sekelilingnya semakin besar dan terang bintiknya. Guppy yang hidup di bagian hulu memiliki warna menyolok, sebagian besar biru dan bercahaya serta mudah terlihat, sedangkan guppy yang hidup di dasar gunung bintiknya kecil dan cenderung berwarna merah dan hitam, semakin mirip dengan kerikil di dasar sungai. Endler berkesimpulan bahwa seleksi alam sedang bekerja, yaitu semakin besar tekanan pemangsa, semakin kuat penyamaran yang dilakukan.
Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa harus berwarna-warni dan tidak samar sama sekali. Hal ini karena ikan tersebut juga harus dapat menarik perhatian betina, agar dapat bereproduksi. Apabila ikan guppy tidak menarik sama sekali atau tidak terlihat sama sekali diantara kerikil dasar sungai maupun kelompoknya, betina guppy tidak akan tertarik untuk berpasangan dan bereproduksi. Dengan demikian bintik ikan guppy juga dibentuk oleh seleksi seksual.
Pada bagian hulu ikan guppy yang bermotif menyolok lebih banyak, karena mereka memiliki cukup waktu untuk berkembang biak sebelum dimakan pemangsanya, sebaliknya di bagian bawah ikan yang menyolok segera dimangsa sebelum sempat bereproduksi, sehingga jumlahnya dikalahkan oleh ikan yang bermotif lebih samar. Dengan demikian ikan di bagian tersebut bintiknya cenderung semakin samar, demikian pula sebaliknya di bagian hulu sungai. Selain itu terdapat pula kekhususan, misalnya di bagian hulu sungai terdapat udang, di lingkungan ini bintik guppy banyak berwarna merah. Hal ini ternyata karena udang buta akan warna merah, sehingga memiliki banyak warna merah berarti mengurangi risiko terlihat oleh pemangsa.
Untuk membuktikan lebih lanjut teorinya, Endler melakukan penelitian laboratorium. Ia membuat sepuluh buah kolam, 4 buah kolam dibuat seperti lingkungan hidup tempat pemangsa guppy Crenicichla alta, dan 6 buah kolam seperti lingkungan Rivulus hartii. Dasar sungai dibuat sama dengan di alam, dengan kerikil berwarna hitam, putih,biru,hijau,merah dan kuning.
Sementara itu di beberapa akuarium terpisah dikembangbiakkan seluruh jenis guppy dari Venezuela dan Trinidad. Di setiap akuarium ditempatkan guppy dengan setiap pemangsanya, dari hanya satu sampai dengan tujuh pemangsa dalam satu lingkungan. Selanjutnya Endler mengambil lima pasang secara acak dari setiap akuarium dan menempatkannya menjadi satu dalam dua kolam serta membiarkan mereka berkembang biak dan berbaur. Tidak lama kemudian jumlahnya telah berlipat dua, karena guppy bertelur pada umur 5-6 minggu. Setelah dua bulan ia menggunakan guppy dari dua kolam tersebut dan menggunakannya untuk mengisi dua kolam lainnya, sehingga setelah sebulan ia dapat mengisi sepuluh kolamnya dengan masing-masing 200 ikan. Dengan demikian dalam setiap kolam terdapat bermacam jenis ikan guppy yang heterogen, dengan bermacam pola bintik. Setelah cukup waktu bagi mereka untuk berkembang biak lagi, ia memasukkan pemangsa ikan guppy tersebut satu persatu sebagaimana di alam bebas. Apabila perkiraannya benar, motif guppy seharusnya akan terpola seperti di alam, yaitu di lingkungan yang banyak pemangsa, bintiknya akan mirip dengan dasar kolam yaitu merah keabu-abuan atau kehitaman, sedangkan di lingkungan yang lebih aman dengan hanya satu atau dua pemangsa bintik guppy akan menyolok, banyak warna biru dan bercahaya.
Untuk meneliti hal di atas, setelah lima bulan Endler melakukan sensus yang pertama untuk meneliti pola dan warna bintik yang terdapat pada ikan guppy. Sensus kedua dilakukan 9 bulan kemudian atau setelah sepuluh generasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa guppy yang hidup dengan satu atau dua pemangsa bintiknya semakin besar dan warnanya menyolok, sedangkan guppy yang hidup dengan pemangsa terganas bintiknya semakin sedikit dan samar yaitu semakin mirip dengan warna kerikil di dasar kolam, sehingga semakin sulit terlihat oleh cichlids yang menyerang pada jarak 20-40 cm, namun masih dapat terlihat oleh betinanya. Warna biru yang bercahaya tidak tampak lagi, sama seperti yang terjadi di alam bebas, demikian pula bentuk ikan semakin mengecil. Sementara itu guppy yang hidup tanpa pemangsa warna bintiknya tidak berubah menjadi seperti warna kerikil.

Penelitian-penelitian yang dilakukan di atas menjelaskan bahwa meskipun tampaknya alam tidak berubah (konstan), namun sebenarnya seleksi alam terjadi setiap jam, setiap hari. Hasil penelitian-penelitian ini juga menambah bukti teori evolusi.
Selain seleksi alam dan seleksi seksual, dibahas pula mengenai asal mula (origin) spesies dan bagaimana adaptasi terjadi berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh para evolusionis untuk menjawab pertanyaan : apakah mungkin suatu spesies baru muncul dari spesies yang telah ada ? apa yang menyebabkan terjadinya pencabangan sehingga muncul suatu spesies baru ? faktor apa yang menyebabkan suatu spesies tetap terpisah ? bagaimana adaptasi terjadi ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku ini dijawab dengan menunjuk pada hasil-hasil penelitian yang membuktikan bagaimana hal-hal di atas dapat terjadi.

Buku ini sangat bagus karena dapat memberi gambaran kepada pembaca mengenai mekanisme seleksi alam dan evolusi melalui kejadian konkrit, baik berdasarkan kejadian di alam maupun berdasarkan eksperimen, sehingga dapat membantu pemahaman atas teori yang bagi banyak orang sulit dimengerti tersebut. Selain itu buku ini bahasanya indah, sehingga menyenangkan untuk dibaca.

THE DA VINCI CODE

Pengarang : Dan Brown (penerjemah Isma B. Koesalamwardi)
Penerbit : Serambi
Tebal : 624 halaman
Tahun : 2006 (cet. Ke 24)

Buku yang menghebohkan ini ternyata adalah sebuah kisah detektif yang dibalut dengan cerita mengenai sejarah kepercayaan kuno dan hubungannya dengan agama Kristen, dengan memberikan informasi yang menyangsikan hal-hal yang selama ini telah diterima secara luas, dan menyatakan bahwa agama Kristen masih banyak terpengaruh oleh kepercayaan kuno, sistem patriarki yang membenci perempuan meniadakan pemujaan terhadap dewi-dewi dan menggantinya dengan pemujaan terhadap Tuhan yang digambarkan sebagai laki-laki, dan seterusnya. Fiksi dan fakta bercampur menjadi satu, sehingga bagi pembaca yang tidak memahami sejarah agak sulit membedakan antara keduanya.
Kisahnya sendiri seperti cerita petualangan seru biasa. Langdon, seorang ahli simbologi suatu malam diminta datang karena adanya pembunuhan terhadap kurator museum terkenal di Paris, antara lain karena sebelum tewas korban menuliskan namanya. Selain itu terdapat symbol dan kode-kode yang dibuat oleh korban, yang ternyata adalah anggota Persaudaraan, suatu aliran yang memelihara dan menyembunyikan dokumen tentang sejarah Yesus yang sebenarnya secara rahasia. Seluruh anggota kelompok ini telah dibunuh oleh kelompok Kristen aliran keras, namun mereka ternyata hanya diperdaya oleh fihak lain yang lebih pintar. Mereka ini memburu Langdon dan Sophie, anak korban pembunuhan, agar menyerahkan batu kunci, agar mereka bisa menghancurkan dokumen kuno yang membahayakan tersebut, supaya ajaran Kristen sebagaimana selama ini dipercayai tetap terjaga.
Sulit dibayangkan jika ada novel seperti ini tentang agama Islam. Untunglah penganut Kristen telah cukup berbudaya untuk tidak menjatuhkan fatwa hukuman mati kepada penulisnya.
Buku ini menarik dan bermanfaat karena memberikan pengetahuan kepada pembaca yang tidak mengetahui sejarah kepercayaan kuno dan agama Ibrahim sambil memberikan hiburan cerita seru seperti film-film. Namun jika tidak suka membaca fiksi jenis ini dan ingin mengetahui sejarah yang sebenarnya, bacalah buku Man and His Gods yang memberikan lebih banyak informasi.

MAN AND HIS GODS

Pengarang : Homer W. Smith, dengan kata pengantar oleh Albert Einstein
Tebal : 624 halaman

Banyak dari kita hanya menerima informasi dari satu sisi, dan hanya mengetahui apa yang terjadi dan dipercaya pada saat ini. Pengetahuan kita akan sejarah seringkali sangat minim, sehingga kita percaya saja apapun yang diajarkan tanpa mengetahui fakta sebenarnya.
Munculnya buku-buku fiksi ala Da Vinci Code yang memberikan sedikit informasi sejarah, cukup baik untuk menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat, namun mungkin membingungkan pembaca, karena batasan antara fiksi dan fakta tidak jelas.
Buku Man and His Gods, sebaliknya, adalah sejarah, yang datanya berasal dari tulisan-tulisan kuno yang diperoleh para arkeolog dari penggalian-penggalian di wilayah Mesir, Mesopotamia, Babilonia, Jerusalem dan wilayah sekitarnya. Buku ini menguraikan latar belakang dan perkembangan kepercayaan manusia sejak zaman 10.000 ribu tahun sebelum Masehi (S.M) sampai awal abad 20, dan menunjukkan bahwa agama-agama saat ini pun sebenarnya masih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan kuno tersebut. Saya akan menguraikan tentang kepercayaan dan mitologi yang mendasari tiga kebudayaan kuno saja.
1. MESIR
Peradaban kuno Mesir, Mesopotamia dan Babilonia berkembang antara lain karena kepercayaan mereka, yang didasari mitologi. Pada zaman tersebut, agama memegang peranan sentral, sehingga posisi kuil dan pendeta sangat penting.
Di Mesir, pendeta (shaman) menyelenggarakan ritual di kuil, memimpin umat, membuat persembahan, menginterpretasikan keinginan Dewa berdasarkan gerakan lembu suci Apis yang terdapat di kuil, menentukan saat musim tanam dengan menghitung tibanya musim banjir sungai Nil dengan melihat pergerakan bintang-bintang, dan dari kegiatan ini memunculkan kalender pertama di dunia.
Pada awalnya bangsa Mesir percaya kepada Dewa Pthah sebagai Cause of Causes dan Pencipta semua hal: bumi, binatang, manusia dan dewa-dewa lain, yang tercipta hanya dengan memikirkannya saja. Pthat terdiri dari Horus (hati, pikiran) dan Thoth (kata), sebagai pengatur kosmos, sumber kebijaksanaan dan pengetahuan, dan pemberi mantra bagi peyihir untuk menguasai alam dan dunia supra natural. Namun kepercayaan ini terlalu abstrak bagi rakyat kebanyakan, sehingga kemudian muncul dewa-dewa lain yang lebih populer.
Dewa tersebut adalah empat bersaudara, yaitu Osiris dan istrinya Isis (dewi cinta, kelahiran dan kesuburan tanah), Set (dewa pembunuh, pemburu) , Horus (dewa langit, terdiri dari Ra (matahari) dan Thoth (bulan) yang masing-masing menjadi mata kanan dan kirinya) dan Nephty. Osiris dan Isis memiliki anak yaitu Horus si anak, yang merupakan reinkarnasi Osiris.
Dewa-dewa lainnya yaitu Hathor (dewi langit), Apis (reinkarnasi Osiris), Anubis, penjaga orang mati dan pemandu ke pengadilan Osiris, dan Atum.

2. MESOPOTAMIA
Mesopotamia yang terletak di sungai Tigris dan Eufrat, Irak, dahulu adalah daerah yang subur dengan kanal-kanal irigasi, sehingga disini terdapat taman yang kemudian dikenal dengan nama Taman Eden. Daerah ini menjadi padang pasir setelah banjir merusakkan kanal-kanal buatan tersebut, sehingga tanah tidak terairi, tumbuhan hilang dan soil mengering.
Dasar dari pemujaan disini adalah pemberian kurban. Semua memberikan kurban masing-masing, berupa budak, hasil pertanian, ternak, kain, rempah-rempah, emas; budak antara lain untuk dipekerjakan di kebun, peternakan dan industri milik kuil, sedang hasil pertanian untuk dipinjamkan oleh pendeta dengan bunga tinggi. Selain mengendalikan ekonomi, pendeta juga mengatur hukum perkawinan, perbudakan, kepemilikan, dan lain-lain. Dari kisah (lore) Babilonia dan Semit diketahui bahwa banjir besar terjadi pada sekitar tahun 4200 sebelum Masehi yang menutup dataran rendah setinggi 20 kaki, kemudian pada tahun 2500 S.M bangsa Sumeria dan Semit bersatu di bawah pimpinan Sargon membentuk kerajaan. Sargon dilahirkan dalam kerahasiaan, dilarutkan dalam keranjang di sungai Eufrat, diselamatkan dan dibesarkan oleh Akki si peternak, kemudian Dewi Ishtar jatuh cinta, asal muasal Sargon terbuka, dan ia dinobatkan menjadi raja. Di kemudian hari kerajaan ini menjadi besar di bawah Hammurabi.
Berdasarkan 30.000 ribu clay berasal dari tahun 2.000 S.M. yang ditemukan di reruntuhan perpustakaan raja Ashurbanipal pada tahun 1845, diperoleh pengetahuan mengenai kepercayaan bangsa Sumeria, yang dikenal dengan Seven Tablets of Creation, sebagai berikut :
Pada mulanya adalah Tiamat, yaitu substansi primordial, dan Apsu, atau benda (matter) yaitu orang tua segala hal. Dari keduanya muncul Mummu atau chaos, yang mingled dalam massa tunggal tak berbentuk, dan melahirkan dewa-dewa. Namun adanya dewa-dewa mengganggu ketenangan Tiamat dan Apsu, sehingga Mummu menawarkan diri untuk menghancurkan mereka untuk Tiamat. Sebelum hal itu terjadi, dewa-dewa antara lain Ea dan Marduk telah mengetahuinya, sehingga Ea segera melakukan tipu muslihat dengan menjadikan Apsu tertidur kemudian membunuhnya, demikian pula Mummu dipotong bagian penting tubuhnya dan dilenyapkan cahayanya. Sementara itu Marduk membunuh Tiamat, dan mengurung Kingu, suami kedua Apsu dalam tempat gelap serta mengurbankannya. Darah Kingu membentuk fashioned manusia untuk pelayanan kepada dewa-dewa dan menjadikan dewa bebas. Kini dewa-dewa merasa bosan, karena tidak memiliki pemuja, sehingga Marduk, sebagai pemimpin dewa-dewa berkata,”Aku akan menciptakan manusia”. Darahnya berasal dari dewa sedangkan tulangnya dari bumi, dan nasibnya ditentukan oleh Marduk. Manusia, yang merasa bersyukur pada Marduk sebagai pahlawan dan pencipta mereka, membangun kuil untuknya, yaitu kuil Babel, atau The Gate of God.

Bangsa ini juga percaya kepada Dewa Bulan, Sin, dan hari ke tujuh adalah hari suci dewa ini, dimana mereka tidak berani memasak daging, mengganti pakaian atau memulai suatu kegiatan karena akan membawa nasib buruk.
Terdapat pula kepercayaan akan Aralu, yaitu tempat bagi orang mati, yang berada di bawah kekuasaan Dewi Allat, yang mudah melakukan kekerasan, dan Nergal, Dewa demam dan wabah; keduanya tinggal di sebelah barat dunia yang dikelilingi 7 dinding. Dewi Allat menghakimi orang-orang mati, yang nasibnya ditentukan oleh persembahan dan pengurbanan yang dibuat semasa hidup. Mereka yang kurang memenuhi syarat akan terkena lepra selama-lamanya, sedangkan yang cukup memenuhi syarat akan mengalami keadaan yang menyedihkan : memakan debu bumi, haus dan lapar, menggigil kedinginan, dan diganggu setan kegelapan. Dengan demikian kematian adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan.

3. BABILONIA
Mitologi lainnya adalah kisah Gilgamesh, yang berasal dari 12 tablet di perpustakaan kerajaan di Nineveh serta ditemukan pula di Ashur dan Asia Minor, dari masa sebelum 2500 S.M.
Kisah Gilgamesh berkaitan dengan pencarian Pohon Kehidupan, banjir besar, kapal dan kehancuran manusia, serta seorang yang diselamatkan dewa-dewa (Uta Napishtim) dan karenanya memperoleh keabadian. Dalam kisah ini tokoh sentralnya adalah Ishtar, dewi utama bangsa Mesopotomia yang dipuja tidak jauh berbeda dengan dewa Marduk. Para ahli memperkirakan bahwa asal muasal Ishtar adalah dewi bangsa Semit (Yahudi) Ashtar atau Astarte, karena bangsa ini semula merupakan masyarakat matriarkal. Pemujaan terhadap Ishtar atau dewi tampak dari temuan benda-benda berbentuk wanita hamil di wilayah yang luas, dari peninsula Italia, Nil, Tigris, Eufrat dan teluk Persia.
Dalam Gilgamesh, dikisahkan bahwa Gilgamesh adalah seorang muda yang kuat dan tampan sehingga mengalahkan semua orang di kota Erech. Hal ini meresahkan penduduk kota tersebut, sehingga mereka berdoa kepada dewa-dewa. Dewi Ishtar kemudian memerintahkan dewi Aruru untuk menciptakan pesaing Gilgamesh. Dari tanah liat, dengan tangannya Aruru membentuk makhluk laki-laki yang dinamakan Engidu, dan tinggal di hutan. Engidu seorang yang kuat, sehingga sebenarnya dapat mengalahkan Gilgamesh, namun dewa Shamash berkeinginan mengubah kedua prajurit tersebut menjadi sahabat. Untuk membujuk Engidu, Shamash mengirim seorang pemburu ke kuil Ishtar untuk mendapatkan seorang pendeta perempuan cantik. Pendeta ini berhasil membujuk Engidu untuk ke Erech, dan setelah perkelahian memperebutkan pendeta tersebut, keduanya menjadi sahabat. Selanjutnya Ishtar jatuh cinta kepada Gilgamesh, setelah diselamatkan dari penawanan Humbaba, namun Gilgamesh menolaknya, karena Ishtar sebelumnya telah mencintai elang, singa, stallion (kuda), gembala, tukang kebun, namun kemudian menyengsarakan mereka semua. Hal ini membuat Ishtar marah, dan mengadu kepada ayahnya dan membuat ayahnya menciptakan lembu khusus untuk menghancurkan Gilgamesh. Namun Gilgamesh dan Engidu dapat membunuh lembu tersebut, memotongnya dan melemparkan pallusnya ke Ishtar.
Kisah selanjutnya adalah Gilgamesh menemani Engidu berhari-hari dalam keadaan sekarat. Untuk menyelamatkan sahabatnya, Gilgamesh kemudian pergi mencari Pohon Kehidupan, yang dapat menghindarkan kematian sahabatnya. Setelah melalui perjalanan berat, mendapatkan Tree of Life yang kemudian hilang dicuri serpent, Gilgamesh akhirnya mencapai tanah leluhurnya, Uta Napistim, yang telah menjadi imortal, dan menceritakan tentang banjir besar, kapal dan pengangkutan seluruh binatang.
Kisah penting tentang Ishtar adalah yang berikut. Di masa mudanya Ishtar memiliki kekasih bernama Tammuz, kemudian Tammuz terluka parah dan dibawa ke kerajaan Allat. Ia dapat diselamatkan jika lukanya dibersihkan dengan air dari air mancur kemudaan, yang mengalir di tanah kematian. Ishtar kemudian pergi ke wilayah tersebut dengan sedih, namun dewi Allat tidak berkenan. Sementara itu dunia berduka karena kematian Ishtar. Kemudian dewa Ea akhirnya memutuskan perkecualian atas hukum kematian, sehingga ia mengirim utusan kepada Allat memerintahkan dilepaskannya Ishtar dan Tammuz. Keduanya kembali ke bumi. Selanjutnya setiap tahun Ishtar harus memandikan Tammuz dalam air suci, memberinya pakaian duka dan memainkan nyanyian duka. Dalam kisah ini terdapat kebangkitan dari kematian.
Disebutkan dalam buku ini, “Di Babilonia kuil Ishtar dipelihara oleh para perempuan, orang kasim dan laki-laki yang berpakaian sebagai perempuan, dan kaum pria yang bertemu dengan kependetaannya mengalami komunion dengan Dewi Keberkahan, The Divine Mother. Di kemudian hari kaum pria menganggap pemujaan terhadapnya hal yang buruk, namun mereka melanjutkannya dengan puasa, penyiksaan diri, menari, menyanyi, pengurbanan darah dan bentuk lainnya untuk membangun komunion dengan deity.”
Dewi Ishtar adalah dewi yang memiliki sifat-sifat kontradiktif, ia dapat bersikap baik, dapat dipercaya, dingin, namun juga dapat bersikap kejam, berkhianat, pemarah, namun tetap dipuja sebagai Mother of All Living. Dengan demikian, sejak zaman kuno manusia sudah terbiasa dengan sifat dewa yang kontradiktif; pengasih, pemurah, namun juga kejam, pemarah dan memberikan kesengsaraan.

Bagian selanjutnya dari buku ini membahas pengaruh mitologi di atas terhadap agama Yahudi, yang menjadi dasar agama Kristen dan Islam; perkembangan agama Kristen, asal mula konsep setan dan permasalahannya, serta kondisi kepercayaan manusia saat ini. Inti dari buku ini adalah, semua yang kita percayai saat ini berawal jauh sekali, dimulai dari mitologi yang diciptakan bangsa-bangsa kuno di atas, mungkin sejak 5.000 tahun S.M. atau sebelumnya. Apakah kita akan bersedia menelitinya kembali, ataukah akan melanjutkan saja terus modifikasi mitologi-mitologi kuno tersebut tanpa melihat sejarah, tanpa berpikir?
Buku ini sangat bagus, karena memberikan pengetahuan dari sisi lain, yang tidak mudah kita dapatkan. Mungkin karena dalam hal kepercayaan definisi dari kebaikan adalah “percaya, dan jangan sangsikan atau selidiki apapun”.

THE HISTORY OF JAVA



Penulis : Thomas S. Raffles
Jml hal. : 767 halaman (2 jilid)
Penerbit : Oxford University Press
Tahun : 1988

Bagaimana keadaan Indonesia, khususnya Jawa, pada awal abad 19 ? Berapa jumlah penduduknya, bagaimana keadaan sehari-harinya ? Raffles, yang menjadi gubernur jenderal di Indonesia selama pendudukan Inggris tahun 1811 - 1816, berusaha membuat sebuah buku tentang sejarah Jawa, yang selain berisi deskripsi tentang alam,kebudayaan dan masyarakat juga bermaksud menunjukkan bahwa pemerintah kolonial Inggris jauh lebih baik dari pada Belanda. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia bekerja sama dan mendapat bantuan dari para pangeran dan bangsawan Jawa serta mengumpulkan sumber antara lain dari babad-babad Jawa.
Buku ini dibagi dalam 8 bab, yang membahas mengenai geografi, asal-usul penduduk, pertanian, industri,perdagangan, karakter penduduk, kebudayaan, dan bahasa. Dalam jilid 2 bahkan terdapat apendix yang berisi kamus Jawa-Inggris dan uraian singkat mengenai Sulawesi dan Maluku.
Bab pertama menguraikan keadaan alam pulau Jawa, antara lain tentang sungai, gunung, hutan dan lmengelilinginy serta tidak adanya danau yang cukup besar.
Bab kedua menguraikan tentang penduduk. Jumlah penduduk pulau Jawa pada tahun 1815 adalah sekitar 4,5 juta orang, sedangkan penduduk Jakarta dan sekitarnya berjumlah 332 ribu. Penyebaran penduduk tidak merata, karena sering terjadi perpindahan penduduk ke bagian lain pulau apabila di suatu tempat kebijakan pemerintah kolonial Belanda menekan penduduk asli. Misalnya pada masa pemerintahan Daendels, hampir semua penduduk di daerah Demak pindah ke Surakarta atau Yogya. Meskipun demikian, secara total jumlah penduduk meningkat cukup tinggi. Menurut Raffles hal yang mendorong tingginya pertumbuhan penduduk adalah :
1. Tanah yang subur dan kehidupan pertanian yang baik
2. Persyaratan untuk menikah sedikit dan sangat mudah, karena untuk mempertahankan kehidupan subsisten (pemenuhan kebutuhan dasar) dapat dilakukan dengan mudah disebabkan kebutuhan yang sangat sederhana dan anak-anak menjadi beban orang tua dalam waktu sangat pendek, karena segera dapat membantu di sawah atau ladang. Hal lain yang mendukung adalah kematangan yang dini, adat dan iklim yang ramah.
3. Biaya membesarkan anak sangat murah karena tidak ada biaya untuk pendidikan atau jika ada sangat sedikit, sedangkan pakaian atau rumah sangat sederhana, disebabkan umumnya anak-anak umur 1,5 tahun s.d 7 tahun tidak mengenakan pakaian.
4. Perempuan umumnya menikah muda (13-14 tahun) dan melahirkan sejak menikah sampai dengan setengah baya, sedangkan laki-laki menikah sebelum usia 20 tahun.
5. Karakter penduduk yang tenang sehingga jarang terjadi pertumpahan darah.
6. Praktek poligami pada kalangan atas.
7. Imigrasi orang-orang Cina.
Mengenai butir nomor 2 di atas ia menulis, “The impulse of nature is seldom checked by the experience of present deficiencies or the fear of future poverty” (hal.70). Menarik apabila kita amati bahwa 200 tahun kemudian atau saat ini pendapat tersebut masih bisa berlaku pada sebagian besar penduduk Indonesia. Tidak ada rasa takut akan kemiskinan di masa depan, karena itu meskipun sangat miskin sampai saat ini orang Indonesia (tidak hanya Jawa) tidak pernah takut menikah di usia muda dan segera mempunyai banyak anak. Apabila kita amati, sebagian besar penduduk ketika memutuskan untuk memiliki anak juga tidak pernah memikirkan sebelumnya bagaimana akan membiayai pendidikan anaknya dan tidak merasa bersalah jika tidak mampu memberi pendidikan yang layak.
Bab 3 menguraikan tentang pentingnya bidang pertanian di Jawa. Tanah pertanian di Jawa hanya meliputi 1/8 dari luas pulau, namun bidang pertanian merupakan kegiatan 90% penduduk dan beras yang dihasilkan dapat diekspor ke Sumatera,Kalimantan,Maluku serta daerah jajahan Belanda lainnya di seluruh dunia dan menghasilkan 500 ribu Poundsterling per tahun bagi pemerintah Belanda. Melimpahnya hasil pertanian menyebabkan hampir seluruh penduduk dapat memperoleh cukup makan yang minimal terdiri dari nasi 1,25 pon/hari, ikan,sayur dan gram, dan kelaparan tidak dikenal, yang digambarkan dalam halaman 99,”There are few countries where the mass of the population are so well fed as on Java.”
Pentingnya kegiatan pertanian digambarkan dengan rendahnya kemampuan penduduk dalam bidang-bidang lain di luar pertanian, sehingga industri hampir tidak ada dan kualitas barang-barang yang dihasilkan sangat rendah karena kebutuhan akan barang juga sangat sederhana. Mengambil perbandingan dengan Inggris, jumlah penduduk yang bergerak di bidang pertanian dibandingkan di bidang industri di Jawa adalah 3,5-4 : 1, sedangkan di Inggris 1 : 2,5-3.
Jika hasil pertanian melimpah, mengapa tidak ada akumulasi kekayaan ? Karena di Jawa tidak ada orang kaya, tidak ada industri, tapi juga tidak ada para pengemis. Menurut Raffles, hal ini disebabkan tidak adanya hak kepemilikan atas tanah yang diciptakan oleh hukum dan dilindungi oleh pemerintah, karena seluruh tanah dianggap milik penguasa (raja/kerajaan). Dengan demikian, selain petani dikenakan pajak atas tanah sebesar 20%-40% dari hasil pertanian, tanah mereka juga sewaktu-waktu dapat diambil. Petani hanya memiliki kepastian memiliki tanahnya selama dua kali masa tanam, setelah itu tanahnya dapat dikerjakan oleh orang lain dan ia mengerjakan tanah lain pula; tanah tersebut dapat pula sewaktu-waktu diambil oleh kerajaan untuk diberikan kepada penguasa setempat atau keluarganya. Selanjutnya, pajak hasil pertanian tersebut akan dipungut oleh setiap penguasa dari tingkat terbawah sampai seluruh tingkat di atasnya, karena hampir tidak ada sumber perekonomian lain selain pertanian.
Tidak adanya kepastian hak atas tanah dan kemudahan dalam memperoleh makanan membuat penduduk tidak berhasrat untuk melakukan pemupukan kekayaan dan bekerja keras, ditambah dengan tidak adanya para orang kaya yang dapat menimbulkan rasa iri hati dan hasrat ingin memupuk kekayaan. Namun sebagai akibatnya, tidak ada industri yang dapat maju di pulau Jawa karena kekurangan pasar.
Keadaan di atas mendorong Raffles untuk membuat perubahan dalam undang-undang kepemilikan, agar penduduk terpacu untuk bekerja keras dan memupuk modal atau kekayaan, sehingga diharapkan akan menumbuhkan industri.
Bab 4 menguraikan tentang industri yang terdapat di pulau Jawa, yang meliputi kerajinan tangan, batu bata, kain katun, tali, besi, pembuatan kapal, kertas, garam, mesiu, pengangkutan hasil hutan berupa kayu, dan perikanan.
Bab 5 adalah tentang perdagangan. Diterangkan mengenai keuntungan dari lokasi pulau Jawa dalam bidang perdagangan, perdagangan oleh penduduk asli, pengaruh pedagang Cina, ekspor impor, peraturan perdagangan yang ditetapkan oleh Belanda, perdagangan Jepang, dan sebab kemunduran penduduk asli.
Bab 6 menguraikan tentang watak penduduk Jawa, antara lain dengan membandingkannya dengan suku Sunda dan penjelasan rinci mengenai karakter penduduk yang dibagi berdasarkan golongan/ kelasnya.
Bab 7 menguraikan mengenai kebudayaan Jawa, yang meliputi adat istiadat keraton, upacara-upacara penting kelahiran dan pernikahan, seni budaya, pertandingan, dan lain-lain.
Bab 8 berisi penjelasan mengenai bahasa, dibandingkan dengan bahasa yang digunakan di kepulauan sekitar Jawa, pengaruh kebudayaan Hindu dan bahasa Arab terhadap bahasa dan sastra Jawa, dan bidang-bidang seni lainnya.
Bab 9 adalah tentang agama di pulau Jawa.
Bab 10 dan 11 mengenai sejarah Jawa sejak awal sampai dengan kedatangan Inggris pada tahun 1811.
Buku ini cukup rinci dalam memberikan informasi mengenai keadaan di pulau Jawa pada awal abad 19. Dari sini kita dapat melihat sejauh mana kemajuan yang telah kita capai setelah 200 tahun kemudian. Apakah cara berpikir dan kebudayaan kita masih sama atau telah jauh lebih maju dari sekitar 200 tahun yang lalu ? Atau yang berubah (semakin banyak) hanya jumlah penduduknya saja ?

THE HISTORY OF WESTERN PHILOSOPHY

Pengarang : Bertrand Russel
Penerbit : Folio Society
Jml hal. : 833 halaman
Tahun : 2004 (edisi pertama th. 1946)
Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : Sejarah Filsafat Barat

Buku ini berisi sejarah lengkap filsafat Barat sejak zaman Yunani kuno, yang dimulai dengan penjelasan mengenai filsafat Pythagoras pada tahun 532 sebelum Masehi (SM) sampai dengan filsafat John Dewey, yang diakhiri dengan penjelasan mengenai filsafat analisis logika (awal tahun 1900-an).
Uraian dibagi menjadi 3 buku yang terdiri dari 5 bagian, berdasarkan urutan kronologis atau masanya. Buku pertama, yaitu filsafat kuno terbagi atas filsafat sebelum Socrates, masa Socrates sampai Aristotle, dan masa sesudah Aristotle. Buku kedua dibagi dalam 2 bagian yaitu filsafat Katolik dan aliran lainnya sampai dengan abad 13, termasuk diantaranya filsafat Nabi Muhammad dan Thomas Aquinas. Buku ketiga terdiri dari Renaissance sampai dengan Hume, dan Rousseau sampai dengan John Dewey. Seluruhnya terdapat 40 filsuf yang pemikirannya diuraikan tersendiri masing-masing sekitar 10 halaman.
Hal yang menarik dari buku ini, selain penjelasan mengenai masing-masing aliran diuraikan secara kronologis, pada bagian awal setiap masa yang berbeda diuraikan pula kondisi atau latar belakang sejarah pada masa tersebut, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai keadaan yang melatarbelakangi filsafat tersebut. Dengan demikian pembaca tidak saja mendapatkan pengetahuan mengenai pemikiran filsafat, namun juga pengetahuan mengenai sejarah pada masa-masa tersebut, sehingga dapat diperoleh pengertian yang lebih mendalam. Sebagai contoh, sebelum membahas mengenai filsafat Yunani kuno, diuraikan terlebih dulu mengenai kemunculan dan berkembangan kebudayaan Yunani secara singkat, demikian pula sebelum pembahasan mengenai filsafat yang muncul pada era Renaisans, diuraikan terlebih dulu kondisi umum dan sejarah singkat munculnya Renaisans di Italia.
Secara umum buku ini cukup lengkap dan menyenangkan untuk dibaca serta dapat dibaca perlahan-lahan sesuai waktu yang tersedia, karena sistimatikanya sangat bagus, sehingga pembaca dapat memilih mana yang akan dibacanya terlebih dulu tanpa harus berurutan. Namun nyaris semua filsuf dan aliran filsafat telah tercakup disini, sehingga jika anda tidak punya banyak waktu untuk mempelajari filsafat, satu buku ini saja cukup memadai untuk mendapatkan pengetahuan filsafat secara menyeluruh karena sudah mencakup semuanya meskipun masing-masing hanya secara singkat. Namun jika ingin memperdalam atau untuk kepentingan akadmik tentu harus membaca lebih lanjut buku-buku asli dan pembahasan masing-masing filsuf/aliran filsafat.
Penulis buku ini sendiri, Bertrand Russel adalah filsuf sekaligus matematikawan yang cukup berpengaruh. Russel adalah filsuf yang sangat rasional, mengutamakan logika dan kebenaran ilmiah, sebagaimana tulisnya,
"In the welter of conflicting fanaticism, one of the few unifying forces is scientific truthfulness, by which I mean the habit of basing our beliefs upon temperamental bias, as is possible for human beings.."


WAJAH LIBERAL ISLAM DI INDONESIA

Penyunting : Luthfi Assyaukanie
Penerbit : Jaringan Islam Liberal (JIL)
Jml hal. : 309 halaman
Tahun : 2002

Di tengah kecenderungan meningkatnya radikalisme dan pemahaman Islam yang lebih keras yang antara lain ditandai dengan semakin banyaknya pemakaian baju muslim, penafsiran literal atas Al Qur'an, dan kecenderungan untuk membagi masyarakat dalam kotak-kotak agama serta menyalahkan segala kegagalan bangsa ini karena tidak menerapkan syariat, buku ini menjadi penting karena menyuarakan Islam yang lain, yang berlawanan dengan kecenderungan di atas. Islam liberal mengajak umat Islam untuk menafsirkan kembali teks kitab suci secara kontekstual, mendorong emansipasi perempuan, dan mendukung sekularisme serta toleransi beragama yang lebih besar.
Buku ini merupakan kumpulan artikel yang pernah dimuat di Jawa Pos dan diskusi Jaringan Islam Liberal (JIL), terdiri dari 27 artikel, tiga wawancara dan 6 topik diskusi, baik off-line maupun on-line. Tema artikel terdiri dari : Wacana Islam liberal, Syariat Islam dan demokrasi, emansipasi perempuan, dan pluralitas agama, Konsep Tuhan, agama dan kitab suci. Topik wawancara antara lain mengenai Penerapan Syariat Islam di Indonesia, Emansipasi dan Hak-hak Perempuan, dan Pluralitas dan hubungan antar agama.
Apakah yang dimaksud dengan Islam liberal ? Menurut penyunting buku ini, Islam liberal adalah Islam yang mengutamakan semangat dasar Islam tentang keadilan dan persamaan, oleh karena itu penafsiran sebagian ulama klasik yang tidak sejalan dengan semangat dasar di atas wajib ditinjau ulang, dalam hal ini termasuk mengenai konsep negara Islam dan hak-hak perempuan. Selain itu kitab suci tidak dapat ditafsirkan secara literal, karena turunnya Alquran berlangsung secara bertahap selama 23 tahun dan sebagian merupakan jawaban atas permasalahan pada zaman tersebut, sehingga tidak dapat dilepaskan dari unsur sejarah pada masa itu bahkan kondisi lingkungan (tempat) diturunkannya, oleh karena itu tidak dapat begitu saja diterapkan untuk masa kini tanpa penafsiran ulang karena kondisinya telah sangat jauh berbeda. Kitab suci lebih bermakna sebagai kitab moral.
Pendapat di atas tentu saja tidak menyenangkan bagi mereka yang bermaksud mendirikan negara Islam dengan menerapkan syariat Islam berdasarkan kitab suci Alquran, yang dianggap telah lengkap dan dapat menjawab seluruh aspek permasalahan kehidupan manusia sepanjang zaman. Islam liberal menganggap Alquran saja – apalagi ditafsirkan secara literal – tidak memadai untuk menjawab kompleksitas kehidupan di zaman modern, karena itu urusan negara harus dipisahkan dari agama.
Dalam bagian pertama mengenai wacana Islam liberal, diuraikan permasalahan yang dihadapi umat Islam masa kini yang mendorong perlunya penafsiran terus menerus terhadap kitab suci. Permasalahan tersebut antara lain kondisi masyarakat yang bersifat heterogen (pluralis), timbulnya emansipasi perempuan, dll. Penafsiran kembali terhadap Alquran meliputi meneliti kembali konteks sejarah saat diturunkannya, sehingga dapat diketahui mana ajaran-ajaran yang bersifat lokal (tradisi Arab) dan yang bersifat universal.
Sejalan dengan hal di atas, pada bab berikutnya yang membahas mengenai syariat Islam dan demokrasi maka Islam liberal (Saiful Muljani) berpendapat bahwa penerapan syariat Islam tidak sejalan dengan demokrasi, karena dalam masyarakat demokrasi tidak boleh ada kekuatan primordial (a.l. agama) yang memaksakan diri menjadi dominan terhadap kekuatan primordial lain di dalam wilayah publik. Penulis lainnya menyatakan, bahwa prinsip dan substansi demokrasi yang mensyaratkan adanya persamaan, non diskriminasi dan kebebasan individu, sulit diterapkan dalam negara yang menerapkan syariat Islam. Selain itu dalam demokrasi negara tidak boleh digunakan sebagai instrumen ajaran tertentu, karena akan melanggar netralitas negara dalam hal keharusan memberi perlakuan yang sama terhadap kemajemukan agama dan bermacam tafsiran dalam satu agama serta kebebasan setiap individu untuk mengikutinya. Masalah lainnya adalah beragamnya penafsiran akan syariat Islam, sehingga syariat Islam yang bagaimana yang akan diterapkan ?
Bagian berikutnya tentang emansipasi perempuan menguraikan secara singkat sejarah kondisi perempuan yang pada masa Nabi cukup aktif di bidang sosial, politik, agama namun setelah Nabi wafat berangsur-angsur semakin mundur yang mencapai puncaknya pada pertengahan abad 13 di zaman Abbasiyah dengan system haremnya. Pada masa inilah muncul tafsir-tafsir Alquran klasik yang mengabaikan kesetaraan gender dan merendahkan perempuan. Meskipun kemudian terdapat pemikir yang berupaya mengembalikan posisi perempuan seperti pada zaman Nabi, namun tafsir klasiklah yang umumnya digunakan oleh negara-negara yang menerapkan syariat Islam, seperti Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi, Sudan, dll, termasuk beberapa daerah di tanah air seperti Aceh. Bentuknya antara lain kewajiban pemakaian jilbab dan pembatasan ruang gerak.
Artikel lainnya mengenai konsep Tuhan dan kitab suci menekankan kembali perlunya penafsiran atas Alquran dengan mempelajari konteks kesejarahan turunnya Alquran serta pentingnya menjaga toleransi antar agama.
Hal yang cukup menarik dari buku ini adalah wawancara dan diskusi antara para anggota Islam liberal. Wawancara dan diskusi ini mampu memberikan gambaran yang lebih mendalam kepada pembaca mengenai para pendiri dan anggota Jaringan Islam Liberal, sehingga kita mengetahui bahwa diantara mereka terdapat yang sangat rasional dan liberal namun ada pula yang masih sedikit konservatif.
Buku ini akan sangat menarik bagi mereka yang mampu bersikap rasional dan terbuka. Namun pemikiran Islam liberal tidak disukai oleh mereka yang bersifat dogmatis dan beranggapan bahwa Alquran sangat suci sehingga tidak dapat ditafsirkan lagi, atau bahwa penerapan syariat Islam merupakan satu-satunya cara membangun negara dan umat yang baik. Tidak mengherankan, artikel pendiri JIL yaitu Ulil Abshar-Abdalla di suatu harian beberapa waktu yang lalu sempat menimbulkan reaksi keras bahkan ancaman hukuman dari Islam garis keras. Tampaknya memang demikianlah nasib bagi umat Islam yang mencoba bersikap rasional. Hal ini pernah pula menimpa Ahmad Wahib, penulis buku Pergolakan Pemikiran Islam. Yang menjadi pertanyaan, apakah memang sebagian besar umat Islam sama sekali tidak bersedia menggunakan rasio sedikit pun dalam beragama ? Menurut saya, bagi negara seperti Indonesia yang bersifat heterogen baik dari segi suku bangsa, agama dan adat istiadat, pemahaman Islam seperti JIL adalah yang paling sesuai, karena memberikan kebebasan berpikir dan bertindak bagi setiap warga negara tanpa kehilangan agama yaitu Islam. Kebebasan berpikir adalah syarat pertama untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagaimana telah dibuktikan oleh negara-negara Barat.

THE GHOST IN THE UNIVERSE



Judul : The Ghost in the Universe - God in the Light of Modern Science
Pengarang : Taner Edis
Tebal : 325 halaman
Tahun : 2002
Penerbit : Prometheus Books, NY

Apabila anda pernah sedikit saja meragukan keyakinan anda, karena merasa apa yang diajarkan sebagai kebenaran dan suci tidak pas atau kontradiktif dengan logika, tapi kemudian akhirnya anda berkata, “Baiklah, mungkin rasio saya memang tidak akan pernah menjangkaunya. Untuk hal ini saya akan percaya saja (namun sebenarnya tetap bertanya-tanya), meskipun banyak yang tetap tidak bisa saya mengerti,” maka buku ini adalah buku yang sangat bagus. Mungkin anda akan ingat kembali pertanyaan-pertanyaan lama yang anda simpan karena menurut guru agama hal tersebut tidak patut ditanyakan.

Penulis buku ini, ilmuwan fisika yang menyatakan dirinya seorang skeptis (dan dengan demikian adalah penganut scientific materialism), berusaha menunjukkan bahwa sains modern, antara lain fisika, kosmologi, biologi dan neuroscience (ilmu syaraf ) tidak memberi petunjuk akan adanya dunia lain di luar dunia material yang kita hadapi, dan tidak ada tanda-tanda bahwa alam dirancang dan dikendalikan oleh sosok yang kita sebut Tuhan. Sebaliknya, sains menunjukkan bahwa alam semesta bersifat kebetulan, impersonal, kejam dan tidak peduli (indifferent). Oleh karena itu semua agama adalah mitos, demikian pula dunia gaib. Namun manusia tidak dapat melepaskan agama dan kepercayaan kepada Tuhan, karena agama memberikan rasa aman, arti hidup, harapan, perasaan keadilan, keabadian, dan stabilitas sosial yang dibangun dari aturan mengenai moralitas yang legitimasinya berasal dari Tuhan, sehingga kebenaran agama/kepercayaan lainnya yang sejenis dibela dengan segala cara meskipun bertentangan dengan logika. Hal ini karena menjadi seorang skeptis berarti kehilangan semua perasaan nyaman tersebut, sehingga apabila tidak siap dapat merupakan suatu kehidupan yang sepi dan menyedihkan. Selain itu menentukan moral bagi masyarakat banyak tanpa dasar yang berasal dari Tuhan akan menjadi masalah tersendiri. Dengan demikian meskipun perkembangan sains semakin menunjukkan tidak adanya Tuhan, agama akan terus hidup karena manusia memerlukannya. Disini penulis mengajukan bahwa bersikap skeptis adalah perlu, karena bukti-bukti tidak cukup untuk mempercayai agama dan Tuhan. Namun penulis tidak sampai kepada pembahasan bagaimana menangani dunia yang penuh ketidakadilan jika tidak ada agama, terutama bagi mereka yang tidak beruntung. Seseorang yang sukses mungkin tidak memerlukan Tuhan dan surga, tapi bagi mereka yang sepanjang waktu dilingkupi kemiskinan dan kemalangan, hidup tanpa Tuhan dan agama akan menjadi benar-benar tanpa harapan dan tidak berarti.

Hal yang menarik dari buku ini adalah penulisnya memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang agama Kristen, Islam dan Yahudi. Selain itu setiap kritik terhadap agama atau keyakinan tradisional lain selalu dimulai dari sudut pandang penganut agama tersebut. Misalnya dalam melakukan kritik terhadap agama Islam, penulis mengemukakan terlebih dulu hal-hal yang menjadi keyakinan umat Islam, seperti bahwa Tuhan itu satu, Muhammad adalah rasul terakhir yang mendapat firman langsung dari Allah, dan seterusnya, kemudian membedah hal di atas satu persatu dengan berdasarkan logika, bukti-bukti sejarah, dan fakta yang berhasil diperoleh dari sains. Karena itu untuk dapat memahami buku ini dengan baik diperlukan pula pengetahuan dasar yang cukup memadai tentang fisika, kosmologi dan teori evolusi.

Buku ini tidak memberi informasi baru mengenai kemajuan sains, namun memberikan pandangan dan pengetahuan untuk bersikap kritis terhadap hal-hal yang bersifat atau tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dengan membedah keyakinan-keyakinan tradisional berdasarkan rasio dan sains. Dengan demikian pada setiap bab pembahasan berpijak dari pendapat dan pembelaan kaum beragama/penganut kepercayaan dunia gaib yang berlanjut kepada argumen penulis yang berdasarkan logika, sejarah, dan penemuan sains terakhir, sehingga pembahasan yang diberikan dalam buku ini menjadi lengkap dan cukup meyakinkan, tanpa kesan yang bersifat memaksa atau emosional seperti penulis atheis lainnya.

Bagi umat beragama yang berpikiran terbuka (yang tentunya tidak mudah begitu saja kehilangan kepercayaan) buku ini patut dibaca, karena dapat mengingatkan untuk lebih menghargai rasio yang dimiliki dan bersikap lebih kritis dalam beragama. Buku ini tidak untuk mereka bersifat dogmatis.

What Evolution Is

Judul : What Evolution Is
Pengarang : Ernst Mayr
Tebal : 332 halaman
Tahun : 2003
Penerbit : Knopf, NY

Buku ini merupakan buku pengantar mengenai evolusi yang ditulis untuk masyarakat luas. Ditulis oleh Ernst Mayr, ahli biologi terkemuka dari Harvard, penjelasannya cukup menyeluruh namun mudah diikuti.

Bagian pertama membahas mengenai definisi evolusi. Untuk menjelaskan hal tersebut, pertama penulis membagi pandangan manusia akan dunia dalam tiga bagian, yaitu : dunia dengan waktu tak terbatas, tak bermula dan tak berakhir; dunia dengan waktu tertentu dan singkat, dan diciptakan oleh Pencipta sebagaimana dipercaya oleh penganut Kristen; dan dunia yang berjangka waktu lama dan selalu berubah, atau berkembang. Dalam dua pandangan pertama dunia tidak berubah, atau alam saat ini (tumbuhan,binatang dan manusia)sama dengan pada saat diciptakan pertama kali.
Pandangan terakhir adalah evolusi, yaitu bahwa dunia telah berumur sangat lama (miliaran tahun) dan makhluk hidup di dalamnya selama jangka waktu tersebut tidak sama atau terus mengalami perubahan,bermula dari makhluk yang sangat sederhana hingga menjadi makhluk yang kompleks seperti manusia. Pandangan ini asing bagi masyarakat, sehingga tidak mudah diterima oleh masyarakat luas.

Munculnya pandangan evolusionis bermula dari penemuan dalam bidang geologi. Penelitian geologi menunjukkan bahwa umur bumi jauh lebih tua dari yang diperkirakan semula, dan data fosil menunjukkan bahwa hewan-hewan yang hidup saat ini tidak sama dengan di masa lalu, atau selalu mengalami perubahan. Dengan demikian maka timbul istilah evolusi. Evolusi ialah "perubahan-perubahan properti dalam populasi organisme sepanjang waktu".

Selanjutnya penulis menguraikan mengenai bukti-bukti evolusi di bumi, yaitu data fosil, pencabangan evolusi dan nenek moyang yang sama, embryologi, struktur vestigial, biogeografi dan bukti molekuler sebagai berikut :

1. Data fosil :
Tidak semua makhluk hidup dapat ditemukan fosilnya secara lengkap, namun fosil kuda,paus dan reptil cynodont menunjukkan bahwa mereka mengalami perubahan secara bertahap. Misalnya paus bermula dari mamalia yang hidup di darat pada sekitar 60 juta tahun yang lalu.

2. Branching evolution and common descent :
Satu spesies makhluk hidup dapat bercabang menjadi beberapa spesies apabila terletak di tempat yang terpisah atau berbeda kondisinya selama jangka waktu lama. Hal ini tampak di tiga pulau Galapagos dimana di setiap pulau terdapat spesies burung mocking yang berbeda sehingga terdapat tiga spesies, sedangkan di Amerika Selatan hanya terdapat satu spesies. Mengingat daratan terdekat adalah Amerika Selatan, diperoleh kesimpulan bahwa ketiga spesies tersebut berasal dari satu spesies burung mocking yang terdapat di Amerika Selatan. Berdasarkan hal tersebut, selanjutnya didapat kesimpulan bahwa burung mocking di seluruh dunia juga berasal dari satu nenek moyang yang sama (common descent), sedangkan burung mocking sendiri kemungkinan memiliki nenek moyang yang sama dengan trashers dan catbirds. Hal ini mendorong Darwin pada satu kesimpulan bahwa semua organisme di dunia memiliki nenek moyang yang sama dan mungkin semua kehidupan di dunia dimulai dari satu kehidupan tunggal. Berdasarkan banyak penelitian yang dilakukan kemudian, kesimpulan Darwin tersebut semakin diperkuat, sehingga timbul teori common descent (hal.21), yang didukung oleh bukti sebagai berikut :
a. Persamaan morfologi
Klasifikasi makhluk hidup yang terdiri atas sub spesies, spesies, genus dst selama ini dibuat berdasarkan persamaan anatomi. Darwin menunjukkan bahwa setiap taxon terdiri dari keturunan yang berasal dari nenek moyang terdekat, yang prosesnya memerlukan evolusi.

b. Embryologi :
Seluruh makhluk hidup termasuk manusia memiliki bentuk embryo yang sama pada tahap-tahap awal, baru pada tahap berikutnya bentuk embryo menunjukkan perbedaan.

c. Rekapitulasi
Terdapat suatu struktur yang muncul pada tahap awal pertumbuhan suatu organisme untuk kemudian hilang pada saat dewasa. Misalnya embryo paus baleen memiliki gigi pada tahap tertentu embryo, tetapi kemudian hilang setelah dewasa.Hal ini menunjukkan bahwa sifat asli yang berasal dari nenek moyang asal tidak mudah hilang begitu saja.

d. Struktur vestigials :
Banyak makhluk hidup yang memiliki struktur yang kurang atau bahkan tidak berfungsi, misalnya mata pada binatang gua atau tulang ekor pada manusia. Ini adalah sisa dari struktur yang pada nenek moyangnya dahulu berfungsi namun kini tidak lagi karena adanya perubahan gaya hidup (misalnya perubahan tempat tinggal).

. e. Biogeografi :
Distribusi jenis flora dan fauna di seluruh dunia tidak merata. Fauna di Eropa dan Amerika Utara hampir sama, akan tetapi di Afrika dan Amerika Selatan sangat berbeda, sedangkan di Australia sangat berbeda dengan benua-benua lainnya. Perbedaan ini berkaitan dengan sejarah terpisahnya benua-benua tersebut. Semakin lama benua tersebut terpisah dari lainnya, flora fauna di dalamnya akan semakin berbeda.

f. Bukti molekuler
Bukti molekuler menunjukkan bahwa semakin mirip morfologi suatu makhluk hidup, semakin mirip pula struktur molekulnya.

Bagian kedua menjelaskan bagaimana evolusi berjalan, yaitu melalui evolusi variasional, seleksi alam, dan penyesuaian dan seleksi alam atau anagenesis.
Variasi dan Populasi
Mayr membagi teori evolusi Darwin dalam 5 bagian, yaitu :
1. Ketidak konstanan spesies (teori dasar evolusi)
2. Keturunan semua organisme dari nenek moyang yang sama (branching evolution)
3. Evolusi secara gradual
4. Multiplikasi spesies (asal mula keaneka ragaman)
5. Seleksi alam

Menurut Mayr, seseorang tidak dapat mengerti proses evolusi tanpa mengerti fakta dasar penerusan keturunan, yang menerangkan variasi, sehingga pengetahuan mengenai genetika sangat perlu.Terdapat 17 prinsip dasar yang perlu diketahui yaitu:
1. Materi genetik adalah konstan, tidak dapat diubah oleh lingkungan atau phenotype.
2. Materi genetik terdiri dari DNA, yang memiliki struktur spiral ganda.
3. DNA berisi informasi yang memungkinkan produksi protein yang membuat phenotype setiap organisme serta mengendalikan pembuatan asam amino yang diubah menjadi protein .
4. Sebagian besar DNA terletak di nuklei di setiap sel dan terbentuk di sejumlah badan yang disebut kromoson.
5. Organisme yang bereproduksi secara seksual umumnya diploid, yaitu memiliki dua set kromosom homologous, masing-masing diwarisi dari orang tua laki dan perempuan.
6. Setiap gamet laki-laki dan perempuan hanya memiliki satu set kromosom (haploid) ketika fertilisasi, menjadi organisme baru (zigot), karena kromosom dari dua orang tua tidak bercampur tetapi diskrit.
7. Selama fertilisasi sel telur oleh spermatozoa, kromosom dari pria tidak bercampur dengan kromosom wanita, tapi berdampingan di zigot, dengan demikian materi genetik diteruskan tanpa perubahan dari generasi ke generasi, kecuali jika terdapat mutasi.
8. Karakteristik organisme dikendalikan oleh gen, yang terletak di kromosom.
9. Gen adalah sekuens dari pasangan asam nuklei yang mengartikan program dengan fungsi tertentu.
10.Nuklei dari semua sel sebuah badan berisi gen yang sama.
11. Gen memiliki kemampuan untuk bermutasi sesekali ke bentuk yang berbeda.
12. Totalitas gen dari individual adalah genotipe.
13. Setiap gen memiliki sejumlah bentuk berbeda, disebut allele, yang bertanggung jawab atas sebagian besar perbedaan diantara individual berbeda.

Gen dalam suatu populasi akan tetap sama jika tidak terdapat proses yang mengakibatkan hilang atau timbulnya gen baru. Proses ini terdiri dari :

1. Mutasi
Mutasi adalah perubahan spontan dari genotipe, karena adanya kesalahan selama penggandaan sel. Mutasi dapat menguntungkan, netral atau merugikan. Mutasi yang menguntungkan akan terus bertahan, sedangkan yang bersifat merugikan akan diseleksi dan kemungkinan besar akan hilang.

2. Gene flow
Gen dalam suatu populasi dipengaruhi oleh imigrasi dan emigrasi gen tersebut di suatu tempat, sehingga spesies yang daerah jangkauannya luas akan mengalirkan gennya ke tempat-tempat baru yang jauh, dan jika sesuai kemudian beradaptasi dengan lingkungan baru dapat kemungkinan dapat menjadi pendiri populasi.

3. Genetic drift
Pada populasi kecil beberapa karakteristik (alleles) dapat hilang melalui kesalahan sampling.
Namun demikian sumber terbesar dari variasi yang tersedia untuk seleksi alam adalah melalui rekombinasi. Untuk mengerti rekombinasi perlu diketahui dahulu bagaimana proses reproduksi seksual terjadi. Ingat bahwa setiap organisme memiliki 2 set kromosom yang diwarisi dari orang tua laki (L) dan perempuan (P). Sebelum gamet (hasil pembuahan) terbentuk, terjadi dua pembelahan sel. Pada pembelahan pertama kromosom dari orang tua L dan P melekat satu sama lain dan kemudian berpisah pada satu atau beberapa tempat. Hal ini disebut crossing over. Kromosom yang terpisah bertukar bagian satu dengan lain sehingga kini mereka terdiri dari campuran kromosom L dan P. Dengan demikian kini setiap kromosom merupakan kombinasi yang baru sama sekali. Selanjutnya pada pembelahan sel kedua, kromosom tidak membelah, tetapi setiap pasang dari kromosom homolog (sejenis) secara random ke sel anak demikian pula lainnya. Hal ini menyediakan material yang tak terbatas untuk seleksi alam.

Seleksi Alam
Seleksi alam adalah teori yang sulit dimengerti dan diterima banyak orang. Teori ini berdasarkan pada lima observasi (fakta) dan tiga inferens sebagai berikut :
1. Setiap populasi memiliki fertilitas yang tinggi yang jumlah akan meningkat secara eksponensial jika tidak dibatasi (Malthus).
2. Jumlah populasi, kecuali terdapat fluktuasi temporal, tetap stabil sepanjang waktu.
3. Sumberdaya yang tersedia untuk setiap spesies adalah terbatas.
Inferens 1. Terdapat persaingan ketat (struggle for existence) diantara anggota spesies.
4. Tidak ada dua individu dalam populasi yang sama persis.
Inferens 2. Individu dalam populasi berbeda satu sama lain dalam hal kemungkinan bertahan hidup.
5. Banyak dari perbedaan diantara individu dalam populasi , paling tidak sebagian, dapat diwarisi.
Inferens 3. Seleksi alam, berlanjut selama banyak generasi , menimbulkan evolusi.

Konsep di atas diambil dari pengamatan terhadap alam. Dari alam diketahui, bahwa setiap individu memiliki keturunan yang banyak, namun menghadapi kekejaman alam, hanya sedikit (sebagian kecil) yang akan bertahan hidup hingga dewasa dan memiliki keturunan, dengan demikian terjadi seleksi. Namun seleksi tersebut tidak acak, karena mereka yang bertahan memiliki sejumlah atribut yang memungkinkan mereka bertahan hidup. Dengan melihat proses ini dapat pula dikatakan bahwa seleksi alam adalah pemusnahan (eliminasi) mereka yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan alam tempat hidup.
Menjawab pertanyaan apakah seleksi alam bersifat kebetulan atau sebaliknya, penulis menguraikan bahwa pada tahap pembuahan unsur kebetulan banyak berperan, namun pada tahap bertahan dan reproduksi, kedua unsur memiliki peran, karena setiap makhluk hidup harus berusaha keras dengan segala kemampuannya agar bisa bertahan hidup (beradaptasi),yang tidak dapat dicapai dengan cara kebetulan, namun usaha tersebut dapat pula dipatahkan oleh adanya bencana alam atau musibah lainnya.
Hal lain yang diuraikan adalah bahwa seleksi alam tidak memiliki tujuan jangka panjang, karena seleksi alam pada dasarnya proses eliminasi. Hal ini terlihat dari banyaknya spesies yang telah musnah (99%) sepanjang sejarah bumi.
Bukti dari seleksi alam antara lain mutasi gen sel sickle pada penduduk di daerah malaria di Afrika. Gen tersebut melindungi pemiliknya dari penyakit malaria. Namun jika pembawa gen tersebut pindah dari Afrika, gen tersebut menghilang.

Evolusi Manusia
Bagian terakhir menjelaskan mengenai evolusi manusia. Disini penulis memberikan bukti-bukti yang mendukung asal mula manusia sebagai primata, yaitu :
1. Bukti anatomi
2. Bukti fosil
3. Evolusi molekuler
Selain hal-hal di atas, buku ini dilengkapi dengan kamus istilah biologi yang digunakan dalam buku serta penjelasan penulis atas 24 hal yang paling sering ditanyakan mengenai evolusi, seperti : apakah evolusi itu fakta, mengapa evolusi tidak dapat diramalkan, bagaimana fakta dalam evolusi berbeda dengan di fisika, bagaimana teori evolusi dibangun, apakah Darwinisme dogma yang tidak dapat diubah, dan seterusnya.

Apabila dibandingkan dengan buku populer sejenis, buku ini jauh lebih sistematis, jelas dan menyeluruh, sehingga pembaca dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai proses evolusi. Apabila terdapat kekurangan adalah tidak adanya gambar untuk menerangkan proses crossing over, yang akan sangat berguna bagi pembaca awam untuk memahami proses tersebut lebih jelas.

Berbeda dengan buku Dawkins yang berisi banyak kalimat indah untuk menyatakan bahwa evolusi membuktikan bahwa dunia tidak diciptakan dengan suatu tujuan tertentu, Mayr lebih banyak menerangkan dengan dingin fakta-fakta dan teori yang ada dan selanjutnya menyerahkan kepada pembaca untuk menyimpulkan sendiri apa arti semua itu. Oleh karena itu, sebaiknya buku ini dibaca lebih dahulu sebelum buku lain tentang evolusi.

RIVER OUT OF EDEN



Pengarang : Richard Dawkins
Tebal : 332 halaman
Tahun : 1996
Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia : Sungai dari Firdaus, 2006

Meskipun teori evolusi telah berumur 150 tahun dan diterima oleh para ahli biologi sebagai suatu fakta, namun terdapat beberapa perbedaan pandangan diantara para ilmuwan sendiri. Sebagian berpendapat bahwa teori evolusi bisa berdampingan dengan kepercayaan akan adanya Tuhan, sebagian bersikap netral, yaitu bahwa ada tidaknya Tuhan tidak dapat dibuktikan dan karenanya tidak dapat diambil kesimpulan apa-apa tentang hal itu, dan sebagian lagi berpendapat bahwa teori evolusi membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Penulis buku ini, Dawkins, termasuk golongan ketiga. Selain itu juga tergolong reduksionis, karena berusaha menerangkan seluruh fenomena evolusi hanya berdasarkan seleksi alam. Sementara itu terdapat sejumlah ilmuwan yang melihatnya tidak saja berdasarkan seleksi alam namun berusaha pula melihat pola-pola lainnya yang lebih kompleks.
Dalam bab pertama penulis menjelaskan bahwa seleksi alam berlangsung pada tingkat gen. Gen yang baik akan diteruskan pada keturunan dibawahnya demikian seterusnya, seperti sebuah sungai yang terus mengalir. Namun yang dialirkan adalah informasi (DNA)melalui waktu. Dalam jangka panjang, gen yang bertahan adalah yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempatnya hidup.
Bab kedua berisi penjelasan tentang DNA mitochondria, yang hanya terdapat dalam sel telur, karena itu garis keturunan dapat diurutkan keatas melalui pihak ibu, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika, disebut “African Eve”.
Bab ketiga menjelaskan bagaimana evolusi berlangsung secara gradual, dengan mengambil contoh-contoh dari dunia binatang. Bagian ini sekaligus sebagai jawaban terhadap kaum “Creationism”, yang mempercayai adanya penciptaan makhluk dan alam secara sempurna dalam sekali jadi berdasarkan rancangan Tuhan.
Bab keempat dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari buku ini, bahwa dengan melihat kejadian-kejadian di alam dan dunia binatang, alam tampaknya kejam. Namun sebenarnya tidak, karena jika kita mengerti mekanisme evolusi, maka alam hanyalah tidak peduli. Sebagaimana dinyatakan oleh Dawkins, “We cannot admit that things might be neither good nor evil,neither cruel nor kind,but simply callous – indifferent to all suffering, lacking all purpose.” (hal. 112) yang ditegaskan lagi pada hal. 155, ” The universe we observe has precisely the properties we should expect if there is, at bottom, no design,no purpose, no evil and no good, nothing but blind, pitiless indifference.”
Buku ini ditulis dengan jernih, mengalir dan sangat bagus, sehingga meskipun anda mungkin tidak setuju dengan kesimpulan akhirnya, tetap patut dibaca, untuk mengetahui perkembangan science mutakhir.